PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dengan t elah selesainya pembangunan beberapa pelabuhan perikanan, diperlukan adanya suat u badan usaha unt uk menyelenggarakan pengurusan pelabuhan-pelabuhan perikanan t ersebut berdasarkan prinsip ekonomi sesuai perat uran perundang-undangan yang berlaku;
b. bahwa badan usaha yang dipandang sesuai unt uk mengurus pelabuhan perikanan t ersebut adalah bent uk Perusahaan Umum sebagaimana di maksud dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969;
c. bahwa berdasarkan pert imbangan t ersebut di at as, dipandang perlu membent uk Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana Perikanan Samudera dengan Perat uran Pemerint ah;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 19 Prp. Tahun 1960 t ent ang Perusahaan Negara (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1989);
3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 t ent ang Penet apan Perat uran Pemerint ah Penggant i Undang-undang Nomor 1 Tahun 1969 t ent ang Bent uk-bent uk Usaha Negara (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) menj adi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904);
Negara Tahun 1985 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299);
5. Perat uran Pemerint ah Nomor 3 Tahun 1983 t ent ang Tat a Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawat an (PERJAN), Perusahaan Umum (PERUM) dan Perusahaan Perseroan (PERSERO) (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3246) sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 28 Tahun 1983 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 37);
6. Perat uran Pemerint ah Nomor 11 Tahun 1983 t ent ang Pembinaan Kepelabuhanan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3251);
MEMUTUSKAN:
Menet apkan :
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PRASARANA PERIKANAN SAMUDERA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan :
1. Pemerint ah adalah Pemerint ah Republik Indonesia. 2. Presiden adalah Presiden Republik Indonesia.
3. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab di bidang perikanan.
5. Perusahaan adalah Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana Perikanan Samudera. 6. Direksi adalah Direksi Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana Perikanan Samudera. 7. Direkt ur Ut ama adalah Direkt ur Ut ama Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana
Perikanan Samudera.
8. Dewan Pengawas adalah Dewan Pengawas Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana Perikanan Samudera.
9. Pegawai adalah pegawai pada Perusahaan Umum (PERUM) Prasarana Perikanan Samudera.
10. Pembinaan adalah kegiat an unt uk memberikan pedoman bagi Perusahaan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dengan maksud agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya secara berdaya guna dan berhasil guna sert a dapat berkembang dengan baik.
11. Pengawasan adalah seluruh proses kegiat an penilaian t erhadap Perusaha an dengan t uj uan agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya dengan baik, dan berhasil mencapai t uj uan yang t elah dit et apkan.
12. Pemeriksaan adalah kegiat an unt uk menilai Perusahaan dengan cara membandingkan ant ara keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya dilakukan, baik dalam bidang keuangan maupun dalam bidang t eknis operasional.
13. Pengelolaan Perusahaan adalah kegiat an perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian Perusahaan sesuai dengan pembinaan yang digariskan oleh Ment eri.
BAB II
PENDIRIAN PERUSAHAAN
Pasal 2
BAB III
ANGGARAN DASAR PERUSAHAAN
Bagian Pert ama
Umum
Pasal 3
(1) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah badan usaha yang diberi t ugas dan wewenang unt uk menyelenggarakan pengusahaan pelabuhan-pelabuhan perikanan :
a. Pelabuhan Perikanan Samudera di Jakart a.
b. Pelabuhan Perikanan Nusant ara di Pekalongan - Jawa Tengah. c. Pelabuhan Perikanan Nusant ara di Belawan - Sumat era Ut ara. d. Pelabuhan Perikanan Nusant ara di Brondong - Jawa Timur. e. Pelabuhan Perikanan Pant ai di Lampulo - Daerah Ist imewa Aceh. f . Pelabuhan Perikanan Pant ai di Pemangkat - Kalimant an Barat . g. Pelabuhan Perikanan Pant ai di Banj armasin - Kalimant an Selat an. h. Pelabuhan Perikanan Pant ai di Tarakan - Kalimant an Timur.
i. Pelabuhan Perikanan Pant ai di Prigi - Jawa Timur.
j . Pelabuhan-pelabuhan Perikanan lainnya yang akan dit et apkan kemudian dengan Keput usan Presiden.
(2) Perusahaan melakukan usaha-usahanya berdasarkan ket ent uan-ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini dan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Bagian Kedua
Tempat Kedudukan
Pasal 4
(1) Perusahaan bert empat kedudukan dan berkant or pusat di Jakart a.
(2) Perubahan t empat kedudukan dan kant or pusat Perusahaan dit et apkan oleh Presiden at as usul Ment eri.
(3) Dalam rangka pengembangan Perusahaan dapat mengadakan sat uan organisasi pelaksana yang dit et apkan Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.
Bagian Ket iga
Sif at , Maksud dan Tuj uan
Pasal 5
(1) Sif at usaha dari Perusahaan yait u menyediakan pelayanan bagi kemanf aat an umum dan sekaligus memupuk keunt ungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perusahaan.
(2) Maksud dan t uj uan Perusahaan adalah :
a. unt uk meningkat kan pendapat an masyarakat nelayan melalui penyediaan dan perbaikan sarana dan/ at au prasarana pelabuhan perikanan;
b. unt uk mengembangkan wiraswast a perikanan sert a unt uk merangsang dan/ at au mendorong usaha indust ri perikanan dan pemasaran hasil perikanan,
Bagian Keempat
Lapangan Usaha
Pasal 6
Dengan mengindahkan prinsip-prinsip ekonomi dan t erj aminnya keselamat an kekayaan negara, Perusahaan menyelenggarakan usaha-usaha sebagai berikut :
a. melaksanakan usaha pelayanan umum bidang kegiat an prasarana perikanan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ekonomi dan mengindahkan kepent ingan-kepent ingan masyarakat dan negara;
b. menyediakan f asif it as-f asilit as yang ada kait annya dengan program pemerint ah dalam mengembangkan indust ri perikanan di Indonesia;
c. membangun, memelihara dan mengusahakan dermaga unt uk bert ambat , bongkar muat ikan;
d. j asa t erminal;
c. membant u mengat asi masalah-masalah yang dihadapi nelayan/ kapal yang berkait an dengan sarana at au prasarana pelabuhan perikanan;
f . melakukan kegiat an lain yang dapat menunj ang t ercapainya maksud dan t uj uan Perusahaan yang dit et apkan dengan perset uj uan Ment eri.
Bagian Kelima
Modal
Pasal 7
(1) Modal perusahaan adalah kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara dan t idak t erbagi at as saham-saham.
yang dilakukan bersama oleh Depart emen Pert anian dan Depart emen Keuangan.
(3) Set iap penambahan modal yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan, dilakukan dengan Perat uran Pemerint ah.
(4) Perusahaan dapat menambah modalnya dengan dana yang dibent uk dan dipupuk secara int ern menurut ket ent uan dalam Pasal 53.
(5) Perusahaan t idak mengadakan cadangan diam at au cadangan rahasia.
(6) Semua alat -alat liquid (liquide) yang t idak segera diperlukan oleh Perusahaan disimpan dalam bank milik Negara yang diset uj ui oleh Ment eri.
Pasal 8
(1) Pembelanj aan unt uk invest asi yang dilaksanakan Perusahaan dapat berasal dari : a. dana int ern Perusahaan;
b. penyert aan Negara melalui Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara; c. pinj aman dari dalam dan/ at au luar negeri;
d. sumber-sumber lainnya yang sah.
(2) Anggaran invest asi diaj ukan dalun anggaran Perusahaan, sedangkan apabila anggaran invest asi diaj ukan pada masa t ahun buku yang bersangkut an, maka anggaran invest asi diaj ukan bersamaan dengan anggaran t ahunan at au perubahan anggaran Perusahaan yang pengaj uannya dilakukan sesuai dengan t at a cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19.
Pasal 9
(2) Pengeluaran obligasi at au alat -alat yang sah lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), t ermasuk ket ent uan-ket ent uan yang berhubungan dengan it u, diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.
Pasal 10
Set iap kegiat an penyerahan, pemindaht anganan, pembebanan, penghapusan akt iva t et ap, penerimaan pinj aman j angka menengah/ panj ang, pemberian pinj aman dalam bent uk dan cara apapun, t idak menagih lagi, menghapuskan dari pembukuan piut ang dan persediaan barang dapat dilakukan oleh Direksi at as izin Ment eri, set elah Ment eri mendapat perset uj uan t erlebih dahulu dari Ment eri Keuangan.
Pasal 11
Pembebanan t ugas t ambahan kepada Perusahaan diluar t ugas pokoknya yang menimbulkan akibat keuangan t erhadap anggaran Perusahaan dit et apkan oleh Ment eri set elah mendapat perset uj uan dari Ment eri Keuangan.
Bagian Keenam
Pimpinan, Pembinaan dan Pengelolaan
Pasal 12
Perusahaan dipimpin dan dikelola oleh Direksi yang t erdiri dari seorang Direkt ur Ut ama dan sebanyak-banyaknya 4 (empat ) orang Direkt ur sesuai dengan bidangnya.
Pasal 13
(1) Pembinaan t erhadap Perusahaan di lakukan oleh Ment eri, yang dalam pelaksanaannya dibant u oleh Direkt ur Jenderal berdasarkan ket ent uan yang dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.
pet unj uk-pet unj uk dari dan bert anggung j awab kepada Ment eri t ent ang kebij aksanaan umum unt uk menj alankan t ugas-t ugas pokok perusahaan dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
(3) Pelaksanaan t anggung j awab administ rat if f ungsional Perusahaan sebagai Badan Usaha Milik Negara t erhadap pemerint ah, dalam hal ini Ment eri dan Ment eri Keuangan, dilakukan oleh Direkt ur Ut ama at as nama Direksi.
Pasal 14
Tugas dan wewenang Direksi adalah sebagai berikut :
a. memimpin, mengurus, dan mengelola Perusahaan sesuai dengan maksud dan t uj uan dengan senant iasa berusaha meningkat kan daya guna dan hasil guna dari Perusahaan;
b. menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan Perusahaan; c. mewakili Perusahaan di dalam dan di luar pengadilan;
d. melaksanakan kebij aksanaan umum dalam mengurus Perusahaan yang t elah digariskan oleh Ment eri;
e. menet apkan kebij aksanaan Perusahaan sesuai dengan kebij aksanaan umum yang dit et apkan oleh Ment eri;
f . menyiapkan pada wakt unya rencana kerj a t ahunan Perusahaan lengkap dengan anggaran keuangan;
g. mengadakan dan memelihara t at a buku dan administ rasi Perusahaan sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi suat u Perusahaan;
h. menyiapkan susunan organisasi Perusahaan lengkap dengan perincian t ugasnya; i. mengangkat dan memberhent ikan pegawai sesuai dengan perat uran kepegawaian
yang berlaku bagi Perusahaan;
k. memberikan segala ket erangan t ent ang keadaan dan j alannya Perusahaan baik dalam bent uk laporan t ahunan, maupun laporan berkala menurut cara dan wakt u yang dit ent ukan dalam Perat uran Pemerint ah ini sert a set iap kali dimint a oleh Ment eri;
l. menj alankan kewaj iban-kewaj iban lainnya berdasarkan pet unj uk Ment eri.
Pasal 15
(1) Dalam menj alankan t ugas-t ugas pokok Perusahaan :
a. Direkt ur Ut ama berhak dan berwenang bert indak at as nama Direksi;
b. Para Direkt ur berhak dan berwenang bert indak at as nama Direksi masing-masing unt uk bidangnya dalam bat as-bat as yang dit ent ukan dalam perat uran t at a t ert ib dan t at a cara menj alankan pekerj aan Direksi.
(2) Apabila Direkt ur Ut ama berhalangan t et ap menj alankan pekerj aannya at au apabila j abat an it u t erluang dan penggant inya belum diangkat at au belum memangku j abat annya, maka j abat an Direkt ur Ut ama dipangku oleh Direkt ur yang t ert ua dalam masa j abat an berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri, dan apabila Direkt ur dimaksud t idak ada at au berhalangan t et ap, maka j abat an t ersebut dipangku oleh Direkt ur lain berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri, keduanya dengan kekuasaan dan wewenang Direkt ur Ut ama.
(3) Apabila semua anggot a Direksi berhalangan t et ap menj alankan pekerj aannya at au j abat an Direksi t erluang seluruhnya dan belum diangkat penggant inya at au belum memangku j abat annya, maka unt uk sement ara wakt u pimpinan dan pengurusan Perusahaan dij alankan oleh seorang Pej abat Direksi yang dit unj uk oleh Ment eri.
(4) Dalam menj alankan t ugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c, Direksi dapat melaksanakannya sendiri at au menyerahkan kekuasaan t ersebut kepada :
a. Seorang at au beberapa orang anggot a Direksi, at au;
at au;
c. Orang at au badan lain, yang khusus dit unj uk unt uk hal t ersebut .
(5) Tat a t ert ib dan t at a cara menj alankan pekerj aan Direksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diat ur dalam perat uran yang dit et apkan oleh Direksi dengan perset uj uan Ment eri.
(6) Gaj i, t unj angan, emolumen dan penghasilan lain dari para anggot a Direksi, dit et apkan oleh Ment eri, dengan memperhat ikan ket ent uan-ket ent uan yang berlaku.
Pasal 16
(1) Anggot a Direksi diangkat dan diberhent ikan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Anggot a Direksi diangkat unt uk masa 5 (lima) t ahun dan set elah masa j abat annya berakhir dapat diangkat kembali.
(3) Dalam hal-hal t ersebut dibawah ini, Presiden at as usul Ment eri dapat memberhent ikan seluruh at au salah seorang anggot a Direksi meskipun masa j abat annya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum berakhir karena :
a. mut asi j abat an unt uk kepent ingan Perusahaan dan Negara; b. at as permint aan sendiri;
c. melakukan perbuat an at au sikap yang merugikan Perusahaan;
d. melakukan t indakan at au sikap yang bert ent angan dengan kepent ingan Negara, e. cacat f isik at au ment al yang mengakibat kan t idak dapat melaksanakan
t ugasnya;
f . meninggal dunia;
(4) Pemberhent ian karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c dan huruf d, j ika merupakan suat u pelanggaran t erhadap perat uran hukum pidana, merupakan pemberhent ian t idak dengan hormat .
(5) Sebelum pemberhent ian karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c dan huruf d dilakukan, kepada anggot a Direksi yang bersangkut an diberi kesempat an unt uk membela diri secara t ert ulis yang dit uj ukan kepada Ment eri, yang harus dilaksanakan dalam wakt u 1 (sat u) bulan set elah anggot a Direksi yang bersangkut an diberit ahukan oleh Ment eri t ent ang rencana pemberhent ian it u.
(6) Selama persoalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) belum diput us, maka Ment eri dapat memberhent ikan unt uk sement ara wakt u anggot a Direksi yang bersangkut an.
(7) Jika dalam wakt u 2 (dua) bulan set elah memberhent ikan anggot a Direksi yang bersangkut an berdasarkan ket ent uan ayat (4) belum diperoleh keput usan mengenai pemberhent ian anggot a Direksi t ersebut , maka pemberhent ian sement ara it u menj adi bat al dan anggot a Direksi bersangkut an dapat segera menj alankan j abat annya lagi, kecuali bilamana unt uk keput usan pemberhent ian t ersebut diperlukan keput usan pengadilan dalam hal it u harus diberit ahukan kepada yang bersangkut an.
Pasal 17
(1) Anggot a Direksi adalah Warga Negara Indonesia.
(2) Anggot a Direksi diangkat berdasarkan syarat -syarat kemampuan dan keahlian dalam bidang pengelolaan Perusahaan, memiliki penget ahuan dan pengalaman yang diperlukan unt uk memimpin suat u Perusahaan yang bergerak dalam bidang prasarana perikanan, mempunyai akhlak dan moral yang baik sert a memenuhi syarat -syarat lainnya yang diperlukan unt uk menunj ang kemaj uan Perusahaan yang dipimpinnya.
kewaj iban dan pencapaian t uj uan diadakannya Perusahaan.
Pasal 18
(1) Ant ara para anggot a Direksi t idak boleh ada hubungan keluarga sampai deraj at ket iga baik menurut garis lurus maupun garis kesamping t ermasuk menant u dan ipar, kecuali j ika diizinkan Presiden.
(2) Jika sesudah pengangkat an, mereka memasuki hubungan kekeluargaan yang t erlarang it u, maka unt uk dapat melanj ut kan j abat annya, diperlukan izin t ert ulis dari Presiden.
(3) Anggot a Direksi t idak boleh mempunyai kepent ingan pribadi, baik langsung maupun t idak langsung dalam suat u perkumpulan/ Perusahaan lain yang berusaha/ bert uj uan mencari laba.
(4) Anggot a Direksi t idak dibenarkan memangku j abat an rangkap sebagaimana t ersebut dibawah ini :
a. Direkt ur Ut ama dan Direkt ur pada badan usaha milik negara lainnya at au perusahaan swast a, at au j abat an lain yang berhubungan dengan pengelolaan Perusahaan;
b. Jabat an st rukt ural dan f ungsional lainnya dalam Inst ansi/ Lembaga Pemerint ah Pusat / Daerah;
c. Jabat an-j abat an lainnya, berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Bagian Ket uj uh
Rencana Kerj a dan Anggaran Perusahaan
Pasal 19
mengirimkan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan yang meliput i anggaran invest asi dan anggaran eksploit asi kepada Ment eri unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.
(2) Kecuali apabila Ment eri secara t ert ul is mengemukakan keberat an at au menolak kegiat an yang dimuat dalam rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sebelum menginj ak t ahun buku baru, maka anggaran t ersebut berlaku sepenuhnya.
(3) Rencana kerj a dan/ at au anggaran t ambahan at au perubahan anggaran yang t ert era didalam t ahun buku yang bersangkut an harus diaj ukan t erlebih dahulu kepada Ment eri, menurut cara dan wakt u yang dit et apkan oleh Ment eri, unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.
(4) Apabila dalam wakt u 3 (t iga) bulan sesudah permint aan perset uj uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diaj ukan, oleh Ment eri t idak diberikan keberat an secara t ert ulis, maka perubahan rencana kerj a dan anggaran t ersebut dianggap t elah disahkan.
(5) Rencana kerj a dan/ at au anggaran Perusahaan yang t elah disahkan merupakan landasan kerj a dan menj adi t ugas bagi Direksi unt uk melaksanakan kegiat an yang t ercant um didalamnya.
Pasal 20
(1) Semua pembiayaan dalam rangka pelaksanaan t ugas Sat uan Pengawasan Int ern, Dewan Pengawas sert a t enaga ahli, dibebankan kepada Perusahaan dan secara j elas dianggarkan dalam anggaran Perusahaan.
Bagian Kedelapan
T a r i f
Pasal 21
At as usul Direksi, Ment eri menet apkan t arif bagi j asa dan f asilit as-f asilit as t ert ent u sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Bagian Kesembilan
Sist em Akunt ansi
Pasal 22
Tahun Buku Perusahaan adalah t ahun t akwim, kecuali j ika dit et apkan lain oleh Ment eri.
Pasal 23
(1) Set iap perubahan baik yang diakibat kan oleh t ransaksi maupun oleh kej adian lain dalam Perusahaan yang mempengaruhi akt iva, hut ang, modal, biaya, dan pendapat an harus dibukukan at as dasar sat u sist em akunt ansi yang dapat dipert anggungj awabkan.
(2) Sist em akunt ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun dan dilaksanakan oleh Direksi agar dapat berj alan dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian int ern, t erut ama pemisahan f ungsi pengurusan, pencat at an, penyimpanan dan pengawasan.
Bagian Kesepuluh
Pengawasan
Pasal 24
(1) Ment eri melakukan pengawasan umum at as j alannya Perusahaan.
(2) Pada Perusahaan dibent uk Dewan Pengawas yang bert anggung j awab kepada Ment eri.
(3) Dewan Pengawas bert ugas unt uk melaksanakan pengawasan t erhadap pengelolaan Perusahaan t ermasuk pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan.
(4) Dewan Pengawas melaksanakan t ugas, wewenang dan t anggung j awabnya sesuai dengan ket ent uan-ket ent uan yang berlaku t erhadap Perusahaan dan menj alankan keput usan-keput usan dan pet unj uk-pet unj uk dari Ment eri.
Pasal 25
Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya berkewaj iban :
a. memberikan pendapat dan saran kepada Ment eri melalui Direkt ur Jenderal mengenai rancangan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan, sert a perubahan/ t ambahannya, laporan-laporan lainnya dari Direksi;
b. mengawasi pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sert a menyampaikan hasil penilainnya kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direksi dan Direkt ur Jenderal;
d. memberikan pendapat dan saran kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direkt ur Jenderal dan kepada Direksi mengenai set iap masalah lainnya yang dianggap pent ing bagi pengelolaan Perusahaan;
e. memberikan laporan kepada Ment eri dan Ment eri Keuangan secara berkala (t riwulan dan t ahunan) sert a pada set i ap wakt u yang diperlukan mengenai perkembangan Perusahaan dan hasil pelaksanaan t ugas Dewan Pengawas;
f . melakukan t ugas-t ugas pengawasan lain yang dit ent ukan oleh Ment eri.
Pasal 26
Dalam pelaksanaan t ugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, Dewan Pengawas waj ib memperhat ikan :
a. pedoman dan pet unj uk-pet unj uk Ment eri dengan senant iasa memperhat ikan ef isiensi Perusahaan;
b. ket ent uan dalam perat uran pendirian Perusahaan sert a ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku;
c. pemisahan t ugas pengawasan dengan t ugas pengurusan Perusahaan yang merupakan t ugas dan t anggung j awab Direksi.
Pasal 27
Dalam melaksanakan t ugas dan kewaj iban Dewan Pengawas mempunyai wewenang sebagai berikut :
a. melihat buku-buku dan surat -surat sert a dokumen-dokumen lainnya, memeriksa keadaan kas (unt uk keperluan verif ikasi) dan memeriksa kekayaan Perusahaan;
dipergunakan oleh Perusahaan;
c. memint a penj elasan-penj elasan dari pimpinan Perusahaan mengenai persoalan yang menyangkut pengelolaan Perusahaan;
d. memint a Direksi dan/ at au pej abat lainnya dengan sepenget ahuan Direksi unt uk menghadiri rapat Dewan Pengawas;
e. menghadiri rapat Direksi dan memberikan pandangan-pandangan t erhadap hal-hal yang dibicarakan;
f . melakukan hal-hal lain yang dianggap perlu sebagaimana diat ur dalam perat uran pendirian Perusahaan.
Pasal 28
(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnya 3 (t iga) bulan sekali dan sewakt u-wakt u apabila diperlukan.
(2) Dalam rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Perusahaan sesuai dengan t ugas pokok, f ungsi dan hak sert a kewaj ibannya.
(3) Keput usan rapat Dewan Pengawas diambil at as dasar musyawarah unt uk muf akat .
(4) Unt uk set iap rapat dibuat risalah rapat .
Pasal 29
Pasal 30
(1) Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 t erdiri dari unsur-unsur Pej abat Depart emen Pert anian, Depart emen Keuangan dan Depart emen/ Inst ansi lain yangkegiat annya berhubungan dengan Perusahaan at au pej abat lain yang diusulkan oleh Ment eri dengan memperhat ikan pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Salah seorang anggot a Dewan Pengawas diangkat sebagai Ket ua Dewan t ersebut .
Pasal 31
(1) Anggot a Dewan Pengawas diangkat dari t enaga yang mempunyai dedikasi, dipandang cakap, dan mempunyai kemampuan unt uk menj alankan kebij aksanaan Ment eri mengenai pembinaan dan pengawasan Perusahaan.
(2) Disamping syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan memiliki kepent ingan yang bert ent angan dengan at au mengganggu kepent ingan Perusahaan.
Pasal 32
(1) Anggot a Dewan Pengawas berj umlah sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang yang t erdiri dari Ket ua dan anggot a Dewan.
(2) Ket ua Dewan Pengawas yang mengkoordinasikan anggot a Dewan Pengawas bert anggung j awab at as pelaksanaan pengawasan kepada Ment eri dan/ at au Ment eri Keuangan.
Pasal 33
(1) Masa j abat an Ket ua dan anggot a Dewan Pengawas ialah 3 (t iga) t ahun.
dalam ayat (1) dapat diangkat kembali dengan t et ap memperhat ikan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31.
Pasal 34
(1) Pengangkat an dan pemberhent ian anggot a Dewan Pengawas dilakukan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Apabila Ment eri berpendapat bahwa anggot a-anggot a at au salah seorang anggot a Dewan Pengawas set elah menj abat beberapa wakt u t ernyat a t idak at au t idak dapat menj alankan t ugasnya dengan baik, maka Ment eri dapat mengusulkan pemberhent iannya kepada Presiden.
Pasal 35
Jika dianggap perlu Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.
Pasal 36
Anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan merangkap j abat an lain pada badan usaha swast a yang dapat menimbulkan pert ent angan kepent ingan secara langsung maupun t idak langsung dengan kepent ingan Perusahaan.
Pasal 37
(1) Pengawasan Int ern Perusahaan dilakukan oleh Sat uan Pengawasan Int ern.
(2) Sat uan Pengawasan Int ern dipimpin oleh seorang kepala yang bert anggungj awab kepada Direkt ur Ut ama.
Pasal 38
penilaian at as sist em pengendalian pengelolaan (manaj emen) dan pelaksanaannya pada Perusahaan dan memberikan saran-saran perbaikannya.
(2) Direksi menggunakan pendapat dan saran Sat uan Pengawasan Int ern sebagai bahan unt uk melaksanakan penyempurnaan pengelolaan (manaj emen) Perusahaan yang baik dan dapat dipert anggungj awabkan.
Pasal 39
Dalam pelaksanaan t ugasnya, Sat uan Pengawasan Int ern waj ib menj aga kelancaran pelaksanaan t ugas sat uan organisasi lainnya dalam Perusahaan sesuai dengan t ugas dan t anggungj awab masing-masing.
Pasal 40
Sat uan Pengawasan Int ern dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.
Pasal 41
Pimpinan Sat uan Pengawasan Int ern harus memiliki pendidikan dan/ at au keahlian yang cukup memenuhi persyarat an sebagai pengawas int ern, obyekt if dan berdedikasi t inggi.
Pasal 42
Kepala Sat uan Pengawasan Int ern diangkat dan diberhent ikan oleh Direksi.
Pasal 43
(1) Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan melakukan pemeriksaan akunt ansi at as laporan keuangan t ahunan Perusahaan.
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
(3) Dalam melaksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat pula dilakukan pemeriksaan operasional t erhadap Perusahaan.
Pasal 44
Hasil pemeriksaan t ugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 disampaikan pula kepada Ment eri, Ment eri Keuangan, Direksi dan Dewan Pengawas.
Pasal 45
Dengan t idak mengurangi wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal pada Bagian ini, set iap Kepala Unit Organisasi dalam Perusahaan bert anggung j awab melakukan pengawasan melekat dalam lingkungan t ugasnya masing-masing.
Bagian Kesebelas
Kepegawaian
Pasal 46
(1) Unt uk memperlancar t uj uan Perusahaan, perlu dicipt akan adanya ket ent raman, ket enangan dan kegairahan kerj a dalam Perusahaan dengan memberikan penghargaan yang layak kepada semua pegawai sesuai dengan prest asinya.
(2) Kedudukan hukum, susunan j abat an, kepangkat an, pemberhent ian, gaj i, pensiun dan t unj angan bagi pegawai Perusahaan, diat ur berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 47
Direksi mengangkat dan memberhent ikan Pegawai/ pekerj a Perusahaan berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 48
(1) Kepada pegawai Perusahaan diberikan pensiun berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai.
(2) Disamping pensiun kepada Pegawai dapat diberikan j aminan hari t ua lainnya yang diat ur oleh Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.
Bagian Keduabelas
Tanggungj awab Pegawai dan Tunt ut an Gant i Rugi
Pasal 49
(1) Semua pegawai t ermasuk anggot a Direksi dalam kedudukan selaku demikian yang t idak dibebani t ugas penyimpanan uang, surat -surat berharga, dan barang-barang persediaan, yang karena t indakan-t indakan melawan hukum at au karena melalaikan kewaj iban dan t ugas yang dibebankan kepada mereka dengan langsung at au t idak langsung t elah menimbulkan kerugian bagi Perusahaan, diwaj ibkan menggant i kerugian t ersebut .
(2) Ket ent uan-ket ent uan t ent ang gant i rugi t erhadap pegawai negeri berlaku sepenuhnya t erhadap pegawai.
(4) Pegawai sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) t idak perlu mengirimkan pert anggungj awaban mengenai cara mengurusnya kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
(5) Tunt ut an t erhadap pegawai t ersebut dilakukan menurut ket ent uan yang dit et apkan bagi bendaharawan yang oleh Badan Pemeriksa Keuangan dibebaskan dari kewaj iban pert anggungj awaban mengenai cara pengurusannya.
(6) Semua surat bukt i dan surat lainnya bagaimanapun sif at nya, yang t ermasuk bilangan t at a buku dan administ rasi Perusahaan, disimpan di t empat Perusahaan at au t empat lain yang dit unj uk oleh Ment eri, kecuali j ika unt uk sement ara dipindahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan dalam hal dianggapnya perlu unt uk kepent ingan sesuat u pemeriksaan
(7) Unt uk keperluan pemeriksaan yang bert alian dengan penet apan paj ak dan pemeriksaan akunt an, pada umumnya surat bukt i dan surat lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) unt uk sement ara dapat dipindahkan ke Depart emen Keuangan dan/ at au Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
Bagian Ket igabelas
Pelaporan
Pasal 50
(1) Unt uk t iap t ahun buku oleh Direksi disusun perhit ungan t ahunan yang t erdiri dari neraca perhit ungan laba rugi.
(3) Cara penilaian pos dalam perhit ungan t ahunan harus disebut kan.
(4) Jika dalam wakt u 3 (t iga) bulan sesudah menerima perhit ungan t ahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh Ment eri t idak diaj ukan keberat an t ert ulis, maka perhit ungan t ahunan it u dianggap t elah disahkan.
(5) Perhit ungan t ahunan disahkan oleh Ment eri set elah dinilai bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan at au Badan yang dit unj uknya.
(6) Pengesahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memberi pembebasan kepada Direksi t erhadap segala sesuat unya yang t ermuat dalam perhit ungan t ahunan t ersebut .
(7) Direkt ur Ut ama diwaj ibkan menyampaikan laporan t riwulanan dan laporan berkala lainnya sesuai dengan bat as-bat as j angka wakt u yang dit et apkan besert a laporan lainnya menurut ket ent uan Anggaran Dasar ini dan ket ent uan perat uran perundang-undangan, kepada pej abat inst ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).
Pasal 51
Hasil penilaian at as laporan keuangan t riwulan dan t ahunan sert a laporan lainnya dari Perusahaan yang dilakukan oleh Direkt ur Jenderal disampaikan kepada Ment eri dan Ment eri Keuangan dalam bat as wakt u selambat -lambat nya 2 (dua) bulan set elah menerima laporan dari Direkt ur Ut ama.
Pasal 52
(1) Laporan-laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 dan Pasal 51 disampaikan t epat pada wakt unya.
dit et apkan oleh Ment eri Keuangan set elah mendengar pert imbangan Ment eri.
Bagian Keempat belas
Penggunaan Laba
Pasal 53
(1) Dari laba bersih yang t elah disahkan menurut Pasal 50 disisihkan unt uk :
a. Dana Pembangunan Semest a sebesar 55% (lima puluh lima persen);
b. Cadangan Umum sebesar 20% (dua puluh persen), hingga cadangan umum t ersebut mencapai j umlah dua kali modal Perusahaan;
c. Cadangan t uj uan sebesar 5% (lima persen);
d. Sisanya sebesar 20% (dua puluh persen) dipergunakan unt uk dana sosial, pendidikan, j asa produksi dan sumbangan dana pensiun yang perincian perbandingan pembagiannya dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.
(2) Apabila j umlah cadangan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b t elah t ercapai, j umlah dari bagian laba bersih yang diperunt ukkan unt uk pemupukan cadangan umum t ersebut , selanj ut nya dapat dipergunakan unt uk pemupukan dana bagi perbelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.
(3) Sebelum cadangan umum t ersebut mencapai j umlah 2 (dua) kali modal Perusahaan, dengan perset uj uan Ment eri Keuangan at as usul Ment eri, Direksi dapat menggunakan dana cadangan umum t ersebut unt uk kepent ingan perbelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.
Bagian Kelimabelas
Pembubaran Perusahaan
Pasal 54
(1) Pembubaran Perusahaan dan penunj ukan likuidat urnya dit et apkan dengan Perat uran Pemerint ah.
(2) Semua kekayaan Perusahaan, set elah diadakan likuidasi menj adi milik Negara.
(3) Pert anggungj awaban likuidasi oleh likuidat ur dilakukan kepada Ment eri yang memberi pembebasan t anggung j awab t ent ang pekerj aan yang t elah diselesaikan olehnya.
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 55
Dengan berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, maka ket ent uan-ket ent uan pelaksanaan mengenai prasarana perikanan masih t et ap berlaku, sepanj ang t idak bert ent angan dan belum digant i dengan ket ent uan baru yang dikeluarkan berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 56
Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Perat uran Pemerint ah ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Dit et apkan di Jakart a
pada t anggal 20 Januari 1990
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA t t d
SOEHARTO
Diundangkan di Jakart a pada t anggal 20 Januari 1990
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA