BAB III
AKIBAT HUKUM DARI PENGALIHAN HAK ASUH ANAK AKIBAT PUTUSAN PENGADILAN AGAMA No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn
A. Kasus Posisi Putusan Pengadilam Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn
1. Bahwa Penggugat adalah ibu kandung dari KC yang telah meninggal dunia pada tanggal 22 Agustus 1997, atau nenek kandung dari ketiga orang anak-anak KC
2. Bahwa semasa hidupnya KC telah menikah dengan seorang laki-laki bernama MI yang juga telah meninggal dunia pada tanggal 9 Agustus 2004 di Kabupaten Pidie dan selamamasa perkawinan mereka telah dikaruniai anak 3 (tiga) orang masing-masing bernama: NR binti MI, Perempuan, Lahir tanggal 13 Nopember 1992, serta MRM bin MI., Laki-laki, Lahir tanggal 22 Pebruari 1994, dan MF Idris bin MI, Laki-laki, Lahir tanggal 22 Agustus 1997
3. Bahwa KC semasa hidupnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada SMA Negeri II Meulaboh, sedangkan MI semasa hidupnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Departemen Pertanian di Meulaboh
4. Bahwa setelah KC dan MI, meninggal dunia, maka seyogyanya tanggungjawab atas pengasuhan dan pemeliharaan anak-anak tersebut berpindah kepada Penggugat sebagai nenek kandungnya, sekaligus bertanggungjawab pula atas pengurusan pensiunan dan harta-harta yang ditinggalkan oleh KC dan MI
diperiukan adanya wali yang akan bertanggungjawab mengurus diri dan hartanya;
6. Bahwa demi untuk kepentingan pengurusan harta-harta dan pengurusan TASPEN dan Pensiunan yang ditinggalkan oleh Almarhumah KC binti MC dan Almarhum MI bin MG tersebut, maka Penggugat memohon agar Penggugat ditetapkan dan ditunjuk sebagai wali dari tiga anak KC dan MI yang masing-masing bernama: NR binti MI, Perempuan, Lahir tanggal 13 Nopember 1992, dan MRM bin MI, Laki-laki, Lahir tanggal 22Pebruari 1994, serta MFI dris bin MI, Laki-laki Lahir tanggal 22 Agustus 1997
7. Bahwa ternyata Tergugat telah bermohon ke Mahkamah Syar'iyah Meulaboh untuk ditetapkan sebagai pemegang hak perwalian atas anak-anak KC dan MI. Dan Mahkamah Syar'iyah Meulaboh telah mengabulkan permohonan Penggugat dan mengeluarkan Penetapan Nomor: 25/ Pdt.P / 2005 / M.Sy-Mbo tanggal 5 September 2005
Penggugat sebagai pemegang hak perwalian dari 3 (tiga) orang anak KC dan MI tersebut
9. Bahwa berdasarkan dalil-dalil dan alasan tersebut di atas, maka Penggugat memohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Agama Medan cq. Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk berkenan menetapkan hari sidang, memanggil Penggugat dan Tergugat guna disidangkan dan seianjutnya menjatuhkan Putusan yang bunyi sebagai berikut:
a. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya
b. Mencabut hak perwalian Tergugat (BG ) terhadap anak-anak KCdan MI . yang masing-masing bernama NR binti MI, Perempuan, Lahir tanggal 13 Nopember 1992, MRM bin MI. Laki-laki. Lahir tanggal 22 Pebruari 1994, dan MFI dris bin MI. Laki-laki, Lahir tanggal 22 Agustus 1997 sesuai dengan Penetapan Mahkamah Syar'iyah Meulaboh Nomor: 25/Pdt.P/2005WI.Sy-Mbo tanggal 5 September 2005
Menimbang, bahwa pada hari-hari sidang yang telah ditetapkan untuk memeriksa perkara ini para pihak telah sama-sama dipanggil secara resmi dan patut, terhadap panggilan tersebut Penggugat hadir inperson, sedangkan Tergugat tidak pernah hadir meskipun telah dipanggil 3 (tiga) kali melalui Mahkamah Syar'iyah Meulaboh masing-masing untuk sidang tanggal 23 Pebruari 2006, tanggal 29 Maret 2006, dan tanggal 19 April 2006, dan tidak pula mewakilkan kepada orang lain sebagai kuasanya untuk menghadap di persidangan, dan ternyata Tergugat ada mengirimkan surat dari Meulaboh tanggal 1 Pebruari 2006 yang menyatakan bahwa Tergugat tidak keberatan dan menyetujui gugatan Penggugat serta menyatakan dalam berita acara kelas panggilan tanggal 8 Maret 2006 bahwa Tergugat tidak dapat nadir di persidangan dan mohon agar perkara ini segera dapat diputus.
Menimbang, bahwa, setelah surat gugatan tersebut dibacakan yang isinya sebagaimana tersebut di atas dengan penjelasan secara lisan secukupnya yang telah dimuat dalam Berita Acara Sidang. Penggugat menyatakan tetap mempertahankan gugatannya.
Dasar gugatan dari NS adalah bahwa ketiga anak-anak dari KC dan MD tidak pernah ikut bersama Tergugat BG, sehingga tergugat BG tidak mungkin dapat melaksanakan kewajibannya dan bahkan sampai saat gugatan ini diajukan tiga anak tersebut tinggal bersama penggugat NS, dan kelangsungan pendidikan serta pengasuhannya berada dibawah pengasuhan Penggugat NS. Maka menurut penggugat NS wajar jika Penggugat bermohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Agama Medan kiranya dapat mencabut hak perwalian Tergugat BG dan selanjutnya menetapkan penggugat NS sebagai pemegang hak perwalian dari tiga orang anak-anak dari KC dan MI tersebut.
Pada prinsipnya posita atau petitum (putusan yang dikehendaki) dari penggugat NS dapat dirangkumkan sebagai berikut :
2. Menetapkan dan menunjuk Penggugat NS sebagai wali dari anak-anak KC dan MI yang masing-masing bernama MR binti MI, MRM bin MI dan MFI bin MI.
memberikan penjelasan tentang konsekuensi penetapan wali sesuai ajaran Islam, dan atas penjelasan tersebut penggugat telah menyatakan kesanggupannya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai pemegang hak perwalian terhadap tiga orang anak yang dimohonkan hak kewaliannya tersebut di atas.
B. Akibat Hukum Dari Pengalihan Hak Asuh Anak Akibat Putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara umat Islam dalam bidang perkawinan, kewarisan dan perwakafan.56
Putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn mengabulkan gugatan tentang pencabutan hak perwalian yang pada awalnya berada di tangan Tergugat BG kepada Penggugat NS dan ditetapkannya penggugat NS sebagai wali dari anak-anak KC dan MI melalui Keputusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn maka sejak tanggal keluarnya keputusan tersebut maka hak pengasuhan atas anak-anak bernama MR binti MI, MRM bin MI dan MFI bin MI dari orangtua bernama KC dan MI beralih dari tangan BG menjadi hak pengasuhan dari NS. Keputusan tersebut telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap(incracht van gewijsde) karena Tergugat BG tidak melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan yang lebih tinggi dalam hal ini adalah Pengadilan Tinggi Agama. Oleh karena itu sejak tanggal dikeluarkannya putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn maka hak perwalian (hadhanah) dari anak-anak KC dan MI yang masing-masing bernama MR binti MI, MRM bin MI dan MFI bin MI menjadi tanggung jawab dari NS selaku ibu dari KC sekaligus nenek dari ketiga anak-anak tersebut.
Keputusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn sekaligus juga membatalkan penetapan Tergugat BG melalui putusan Mahkamah Syariah Meulaboh Nomor 25/Pdt.P/2005/M.Sy-Mbo tanggal 5 September 2005. Disamping itu putusan
56Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqh, Munakahat dan
pengadilan agama tersebut di atas juga mengalihkan hak-hak pengurusan harta-harta dari anak-anak KC dan MI yang antara lain bernama MR binti MI, MRM bin MI dan MFI bin MI dari Tergugat BG kepada Penggugat NS. Harta-harta tersebut antara lain adalah pengurusan Tabungan Asuransi Pensiun (Taspen) dan pensiunan yang ditinggalkan oleh KC dan MI yang sebelumnya berada di bawah pengurusan Tergugat BG.
Putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn dikatakan telah memiliki kekuatan hukum yang tetap (incracht van gewijsde) karena dalam perkara perebutan hak asuh anak tersebut Tergugat BG tidak melakukan upaya hukum banding atas putusan Pengadilan Agama Medan tersebut. Putusan yang berkekuatan hukum tetap adalah putusan pengadilan agama yang diterima oleh kedua belah pihak yang berperkara, putusan perdamaian, putusan verstek yang terhadapnya tidak diajukan verzet atau banding; putusan pengadilan tinggi agama yang diterima oleh kedua belah pihak dan tidak dimohonkan kasasi; dan Putusan Mahkamah Agung dalam hal kasasi.
Menurut sifatnya ada 3 (tiga) macam putusan yang dikeluarkan oleh pengadilan agama yaitu :
2. Putusan konstitutif, adalah putusan yang bersifat menghentikan atau menimbulkan hukum baru yang tidak memerlukan pelaksanaan dengan paksa, misalnya memutuskan suatu ikatan perkawinan.
3. Putusan kondemnatoir, adalah putusan yang bersifat menghukum pihak yang kalah untuk memenuhi suatu prestasi yang ditetapkan oleh hakim. Dalam putusan yang bersifat kondemnatoir amar putusan harus mengandung kalimat “menghukum tergugat (berbuat sesuatu, tidak berbuat sesuatu, menyerahkan sesuatu, membongkar sesuatu, menyerahkan sejumlah uang, membagi dan mengosongkan).57
Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn merupakan suatu keputusan yang bersifat kondemnatoir yang membutuhkan pelaksanaan putusan (eksekusi) untuk dapat menegakkan keputusan majelis hakim yang telah diputuskan dalam sidang terbuka untuk umum. Eksekusi putusan hadhanah tidak diatur secara tegas dalam HIR dan RBg, atau peraturan perundang lainnya yang berlaku khusus bagi pengadilan agama. Belum adanya hukum yang mengatur secara jelas mengenai eksekusi putusan hadhanah, tidak berarti bahwa putusan hadhanah tidak bisa dijalankan melainkan harus dapat dilaksanakan berdasarkan aturan hukum yang berlaku secara umum.
Menurut M. Yahya Harahap dalamm praktek peradilan agama dikenal dua macam eksekusi yaitu :
1. Eksekusirillatau nyata sebagaimana yang diatur dalam Pasal 200 ayat (11) HIR, Pasal 218 ayat (2) RBg dan pasal 1033 Rv yang meliputi penyerahan, pengosongan, pembongkaran, pembagian dan melakukan sesuatu.
2. Eksekusi pembayaran sejumlah uang melalui lelang atau executorialverkoop sebagaimana tersebut dalam Pasal 200 HIR dan Pasal 215 RBg.
Eksekusi yang terakhir ini dilakukan dengan menjual lelang barang-barang debitur, atau juga dilakukan dalam pembahagian harta bila membahagian ini in naturatidak disetujui oleh para pihak atau tidak mungkin dilakukan pembahagian in antura dalam sengketa warisan atau harta bersama. Sejalan dengan perkembangan kebutuhan praktek peradilan, eksekusi putusan di Pengadilan Agama tidak hanya terbatas dalam bidang hukum benda. Dalam prakteknya sampai saat ini, eksekusi putusan Pengadilan Agama juga telah merambah dalam eksekusi putusann hak pemeliharaan atau penguasaan atas atau (hadhanah). Kalau boleh dikatakan nampaknya eksekusi putusan hadhanah dapat digolongkan ke dalam jenis eksekusi pertama (eksekusi rill : melakukan sesuatu). Namun demikian, eksekusi putusan hadhanah seringkali mengalami kendala yang cukup signifikan karena objek perkaranya mengenai orang, sehingga tingkat keberhasilannya terbilang cukup rendah bila dibandingkan dengan eksekusi di bidang hukum kebendaaan.58
58Abdul Manan, Penerpan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Edisi
Sampai saat ini eksekusi putusan hadhanah masih diperselisihkan. Sebagian para ahli hukum yang mengatakan bahwa anak tidak dapat dieksekusi, sedangkan sebagian lagi yang lain mengatakan bahwa putusanhadhanahdapat dieksekusi. Para ahli hukum yang mengatakan bahwa eksekusi anak tidak boleh dilaksanakan berlandaskan bahwa selama ini yurisprudensi yang ada tentang eksekusi semuanya hanya dalam bidang hukum benda, bukan terhadap orang. Oleh karena itu, eksekusi terhadap anak sesuai dengan kelazimannya yang ada maka tidak ada eksekusinya, apalagi putusannya bersifat deklaratoir. Kenyataan yang ada selama ini, pelaksanaan eksekusi anak yang bersifat sukarela, maksudnya tidak merupakan upaya paksa. 59
Sedangkan para ahli hukum yang memperbolehkan eksekusi terhadap anak dapat dijalankan mengatakan bahwa perkembangan hukum yang dianut akhir-akhir ini menetapkan bahwa masalah penguasaan anak yang putusannya bersifat condemnatoir, jika sudah berkekuatan hukum tetap, maka putusan tersebut dapat dieksekusi. Pengadilan mempunyai wewenang untuk menempuh upaya paksa dalam melakukan putusan ini. Jadi, seorang anak yang dikuasai oleh salah satu orangtuanya/ keluarganya yang tidak berhak sebagai akibat putusan pengadilan agama karena pengajuan gugatan dari salah satu pihak keluarga yang dinyatakan lebih berhak oleh Pengadilan Agama melalui putusannya, maka Pengadilan Agama dapat mengambil anak tersebut dengan upaya paksa dan menyerahkan kepada salah satu orangtua / keluarga yang berhak untuk mengasuhnya. Pendapat para ahli hukum yang terakhir
59H.S.A AL Hamdani, Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam, Jakarta, Pustaka Amani,
adalah yang paling sesuai dengan kondisi kekinian karena lebih menjamin adanya kepastian hukum, rasa keadilan dan kemanfaatan. Terlepas dari pendapat pro dan kontra praktisi hukum, dicermati dengan seksama sebenarnya eksekusi putusan hadhanahsudah sejalan dengan ketentuan Pasal 319 KUH Perdata alinea kedua yang berbunyi bahwa jika pihak yang senyatanya menguasai anak-anak yang belum dewasa itu menolak menyerahkan anak-anak itu, maka para pihak yang menurut keputusan pengadilan harus menguasai anak tersebut, mereka boleh meminta melalui juru sita dan menyuruh kepadanya melaksanakan keputusan ini.60
Prosedur hukum untuk menjamin keabsahan eksekusi putusan hadhanah tersebut, maka eksekusi itu harus melalui prosedur hukum yang berlaku dan harus pula memenuhi syarat-syarat eksekusi. Apabila eksekusi tidak dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang ditetapkan, maka eksekusi tidak sah dan harus diulang.
Adapun prosedur dan persyaratan eksekusi putusan hadhanah secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut :
1. Amar putusanhadhanahtersebut bersifat penetapan(condemnatoir) 2. Putusanhadhanahtersebut telah berkekuatan hukum tetap
3. Pihak yang kalah tidak bersedia untuk melaksanakan putusan dengan sukarela 4. Pihak yang menang mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan
Agama yang memutus perkarahadhanah
60 Masdoeki Arif dan M.H Tirta Hamidjaja, Masalah Perlindungan Anak, Akademika
5. Pengadilan Agama telah menetapkan sidang anmaning
6. Telah dilampaui tenggang waktu atau teguran sesuai dengan Pasal 207 RBg 7. Ketua Pengadilan Agama mengeluarkan surat perintah eksekusi
8. Pelaksanaan eksekusi di tempat termohon eksekusi yang dihukum untuk menyerahkan anak
9. Pelaksanaan eksekusi dibantu oleh dua orang saksi yang memenuhi unsur sebagaimana tersebut dalam Pasal 201 ayat (2) RBg
10. Jurusita mengambil anak tersebut secara baik-baik, sopan dan tetap berpegang pada adat istiadat yang berlaku, kalau tidak diserahkan secara sukarela maka diserahkan secara paksa.
11. Jurisita membuat berita acara eksekusi yang ditandatangani oleh jurusita beserta dua orang saksi sebanyak rangkap lima.61
Dalam perkara gugatan yang diajukan oleh NS terhadap Tergugat BG anak-anak yang diperebutkan hak asuhnya tersebut tidak berada di bawah penguasaan Tergugat BG tetapi berada dibawah pengawasan Penggugat NS dan dalam perkara gugatan hak hadhanah tersebut Tergugat BG juga telah menyampaikan pernyataan tertulis tentang persetujuannya (pernyataan tertulis tidak keberatan) atas pengalihan hak asuh anak-anak dari KC dan MI tersebut dari Tergugat BG kepada Penggugat NS.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam eksekusi putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn dalam pelaksanaanya tidak banyak menemui
BAB IV
DASAR PERTIMBANGAN HUKUM MAJELIS HAKIM DALAM MENETAPKAN HAK ASUH ANAK PADA PUTUSAN PENGADILAN
AGAMA NOMOR 50/PDT.G/2006/PA.MDN
A. Kedudukan dan Kewenangan Pengadilan Agama dalam Memeriksa Perkara Perdata Berdasarkan Hukum Islam
Pengadilan Agama sebagai peradilan khusus, mempunyai tugas dan kewenangan tertentu seperti tersebut pada Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, Pasal 2 menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang :
9. Ekonomi Syari’ah62
Jenis-jenis perkara yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama 1. Perkawinan
Bidang hukum perkawinan atau hukum keluarga meliputi perkara-perkara : a. Ijin poligami beserta penetapan harta dalam perkawinan poligami
b. Ijin kawin apabila orangtua calon suami / istri tidak mengijinkan sementara calon suami / istri di bawah usia 21 tahun
c. Dispensasi kawin bagi calon suami / isteri yang beragama Islam dan belum mencapai usia 19 dan 16 tahun
d. Penetapan wali adlol jika wali calon isteri menolak menikahkannya e. Permohonan pencabutan penolakan perkawinan oleh KUA
f. Permohonan pencegahan perkawinan g. Pembatalan perkawinan
h. Permohonan pengesahan nikah / istibat nikah
i. Pembatalan penolakan perkawinan campuran (perkawinan antar warga Negara yang berbeda)
j. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami isteri k. Cerai talak (perceraian yang diajukan suami) l. Cerai gugat (perceraian yang diajukan isteri)
m. Talak khuluk (perceraian yang diajukan oleh isteri dengan membayar tebusan kepada suami)
n. Li’an yaitu cerai talak atas dasar alasan isteri berzina dengan pembuktian beradu sumpah antara suami isteri
o. Syiqaq yaitu cerai gugat atas dasar alasan perselisihan suami isteri dengan penunjukan hakam (juru damai) dari keluarga kedua belah pihak
p. Kewajiban nafkah dan mut’ah bagi bekas isteri
q. Gugatan harta bersama termasuk hutang untuk kepentingan keluarga r. Gugatan penyangkalan anak
s. Permohonan / gugatan pengakuan anak t. Gugatan hak pemeliharaan anak u. Gugatan nafkah anak
v. Permohonan pencabutan kekuasaan orangtua terhadap pemeliharaan anak w. Permohonan perwalian
x. Gugatan pencabutan kekuasaan wali
y. Pembebasan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang dibawah kekuasaanya
z. Pengangkatan anak oleh WNI yang beragama Islam terhadap anak WNI yang beragama Islam63
2. Kewarisan
a. Permohonan penetapan ahli waris dan bagiannya masing-masing b. Gugatan waris
c. Akta dibawah tangan mengenai keahli warisan
d. Akta komparasi tentang pembagian harta waris di luar sengketa 3. Wasiat
a. Gugatan pengesahan wasiat b. Gugatan pelaksanaan wasiat c. Gugatan pembatalan wasiat 4. Hibah
a. Gugatan pengesahan hibah b. Gugatan pembatalan hibah 5. Wakaf
a. Sengketa sah tidaknya wakaf b. Sengketa pengelolaan harta wakaf
c. Sengketa keabsahan dan kewenangan nadilir wakaf d. Gugatan sengketa wakaf oleh kelompok(class action) 6. Zakat, infaq dan Shadaqah
a. Sengketa antara Muzakki dengan BAZIZ
b. Sengketa antara Pejabat pengawas dengan BAZIZ c. Sengketa antara Mustahik dengan BAZIZ
7. Ekonomi syariah
Yang dimaksud “Ekonomi Syariah” adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syaria’ah antara lain meliputi :
a. Bank Syaria’ah
b. Lembaga Keuangan Makro Syari’ah c. Asuransi Syari’ah
d. Reasuransi Syari’ah e. Reksadana Syari’ah f. Obligasi Syari’ah g. Sekuritas Syari’ah h. Pembiayaan Syari’ah i. Pegadaian Syari’ah j. Dana pension Syari’ah k. Bisnis Syari’ah
Perkara-perkara di bidang Ekonomi Syari’ah tersebut di atas meliputi sengketa-sengketa sebagai berikut :
a. Sengketa akibat beda menafsiri akad pernikahan b. Sengketa sah tidaknya akan perjanjian
1. Hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama
Pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan :
“Hukum acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan pengadilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”.
a. Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Keislaman
Arti asas personalitas keislaman adalah orang yang tunduk dan yang dapat ditunjukkan kepada kekuasaan lingkungan Peradilan Agama, hanya mereka yang mengaku dirinya pemeluk agama Islam. Penganut agama lain di luar Islam tidak tunduk kepada kekuasaan lingkungan Peradilan Agama.
bidang hukum perdata, tetapi ketundukan personalitas muslim kepadanya, hanya bersifat “khusus” sepanjang bidang hukum “tertentu”.
Dalam asas personalitas keislaman yang melekat pada Undang-Undang Peradilan Agama tersebut, dijumpai beberapa penegasan yang melekat membarengi asas dimaksud :
a) Pihak-pihak yang bersengketa harus sama-sama pemeluk agama Islam b) Perkara perdata yang disengketakan harus mengenai perkara-perkara
di bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, shadaqah dan ekonomi syari’ah
c) Hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam
2) Asas Wajib Mendamaikan Terutama dalam Perkara Perceraian
Asas kewajiban hakim untuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara, sangat sejalan dengan tuntutan dan ajaran Islam. Islam selalu menyuruh menyelesaikan setiap perselisihan dan persengketaan melalui pendekatan Islam(fa aslihu baina akhwaikum). Sebab sebagaimanapun adilnya suatu putusan, namun akan tetap lebih baik dan lebih adil hasil perdamaian. Dalam suatu putusan yang bagaimanapun adilnya, harus ada pihak yang “dikalahkan” dan “dimenangkan”. Tidak mungkin kedua pihak sama-sama dimenangkan atau sama-sama dikalahkan. Seadil-adilnya putusan yang dijatuhkan Hakim, akan tetap dirasa tidak adil oleh pihak yang kalah. bagaimanapun zalimnya putusan yang dijatuhkan, akan dianggap dan dirasa adil oleh pihak yang menang. Lain halnya dengan perdamaian, hasil perdamaian yang tulus berdasar kesadaran bersama dari pihak yang bersengket, terbebas dari kualifikasi “menang” dan “kalah”. Mereka sama-sama menang dan sama-sama-sama-sama kalah. Sehingga kedua belah pihak pulih dalam suasana rukun dan persaudaraan, tidak dibebani dendam kesumat yang berkepanjangan.
Berdasarkan Pasal 130 HIR, Majelis Hakim bahwa berusaha mendamaikan kedua belah pihak yang berperkara sebelum memulai pemeriksaan perkara. Untuk mengimplementasikan pasal ini, para pihak diwajibkan menempuh proses mediasi di luar siding yang teknik pelaksanaanya diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Mediasi.
Dalam perkara perceraian (tentang status), jika mediasi berhasil dan para pihak telah damai, maka pihak penggugat atau pemohon harus mencabut perkaranya. Dalam perkara sengketa harta benda, jika mediasi berhasil dan para pihak mencapai perdamaian, maka dibuatlah akta banding dan Majelis menjatuhkan putusan perdamaian.
perceraian, merupakan kegiatan yang terpuji dan lebih diutamakan dibanding dengan upaya mendamaikan persengketaan di bidang yang lain.
3) Asas Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan
Asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, datur pada Pasal 57 ayat 3 jo. Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman : “Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan”.
berbagai bentuk putusan sela atau interiocuter vonnis. Tanpa bantuan advokat atau pengacara, tidak mungkin seorang dapat membela dan mempertahankan hak dan kepentingannya. Semua proses pemeriksaan mesti secara tertulis. Lain halnya dengan hukum acara perdata yang diatur dalam HIR atau RBG Prosedur dan prosesnya sangat sederhana dengan sistem langsung secara lisan atau “mondelinge procedur” dan “onmiddlelijkeheid van procedure” di persidangan. Tahap pemeriksaan pembuktian tidak memerlukan bentuk-bentuk putusan sela. Kesederhanaan ini yang dipertahankan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Demikian pula hukum acara mufakat dalam fiqih Islam. Penerapan asas ini tidak boleh mengurangi ketepatan pemeriksaan dan penilaian menurut hukum dan keadilan. Kesederhanaan, kecepatan pemeriksaan, jangan dimanipulasi untuk membelokkan hukum, kebenaran dan keadilan. Semua harus “tepat” menurut hukum(due to law).
4) Asas Persidangan Terbuka Untuk Umum Kecuali Pemeriksaan Perkara Perceraian
a) Sidang pemeriksaan Pengadilan Terbuka untuk umum, kecuali apabila undang-undang menentukan lain dan jika hakim dengan alasan-alasan penting yang dicatat dalam berita acara persidangan, memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagian akan dilakukan dengan sidang tertutup
b) Tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) mengakibatkan seluruh pemeriksaan secara keseluruhan pemeriksaan beserta penetapan atau putusannya batal demi hukum c) Rapat permusyawaratan hakim bersifat rahasia
Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang 04 Tahun 2004 yang berbunyi : “Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup”. Pelanggaran atas Pasal 33 PP Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 80 ayat 2 Peradilan Agama mengakibatkan pemeriksaan batal demi hukum. Sebab nilai yang terkandung dalam ketentuan itu menyangkut asas ketertiban umum atau orde publik, oleh karena itu dia mutlak bersifat “imperatif”. Satu-satunya cara yang dapat dibenarkan hukum untuk pemeriksaan sidang tertutup dalam perkara perceraian, hanya menjangkau selama proses pemeriksaan saja. Penerapannya, hanya meliputi proses pemeriksaan jawab-menjawab, pemeriksaan pembuktian jangkauan tertentu pemeriksaan sidang tertutup dalam perkara perceraian, tidak meliputi pengucapan putusan. Apabila sudah tidak saat proses pemeriksaan sidang pada tahap pengucapan putusan kembali ditegakkan asas persidangan terbuka yang tercantum dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 jo. Pasal 34 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang berbunyi : “Putusan Pengadilan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum”.
b. Tahap-tahap Pemeriksaan Perkara
dan tidak berhasil mendamaikan para pihak yang bersengketa, maka tahap-tahap pemeriksaan tersebut ialah :
1) Pembacaan Gugatan
Pada tahap pembacaan gugatan ini terdapat 3 kemungkinan dari Penggugat / Pemohon :
a) Mencabut gugatan b) Mengubah gugatan c) Mempertahankan gugatan 2) Jawaban Tergugat
Pada tahap ini ada beberapa kemungkinan dari Tergugat, yaitu : a) Eksepsi / tangkisan
b) Mengaku bulat-bulat c) Mungkin mutlak
d) Mengaku dengan klausula e) Referte
f) Rekonpensi (gugat balik) 3) Replik (dari Penggugat)
4) Duplik Tergugat
Setelah menyampaikan repliknya, kenudian Tergugat diberi kesempatan untuk menanggapi pula. Dalam tahap ini, mungkin Tergugat bersikap seperti Penggugat dalam replik tersebut
5) Pembuktian
Pada tahap ini baik Penggugat maupun Tergugat diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan bukti-bukti, baik berupa saksi-saksi maupun alat bukti lainnya secara bergantian yang diatur oleh Hakim. Macam-macam alat bukti dalam perkara perdata, yaitu :
a) Alat bukti surat b) Alat bukti saksi
c) Alat bukti persangkaan d) Alat bukti pengakuan e) Alat bukti sumpah
f) Alat bukti pemeriksaan setempat 6) Kesimpulan pada Pihak
7) Putusan Hakim
Pada tahap ini, Hakim merumuskan duduk perkaranya dan pertimbangan hukum mengenai perkara tersebut disertai dengan alasan-alasan dan dasar-dasar hukumnya, yang akhirnya dengan putusan Hakim mengenai perkara yang diperiksanya itu. Putusan dilihat dari fungsinya dalam mengakhiri sengketa ada 2 macam :
a. Putusan akhir(eind vonnis) b. Putusan sela(tussen vonis)
c. Hukum acara khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 200964
Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Bagian Kedua, Bidang Terknis Peradilan, Peradilan Agama, halaman 216-234 diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut :65
1. Dalam bidang Perkawinan
Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir, maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Padahal menurut asasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contentiosa. Perkaravoluntoirtersebut adalah :
64 Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Jakarta,
Encana, 2005, hal. 172
a. Permohonan dispensasi umur kawin b. Permohonan izin kawin
c. Permohonan penetapan waliadhol d. Permohonan penetapan perwalian e. Permohonan penetapan asal-usul anak 2. Bidang Perceraian
a. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-Undang Nomor 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan Agama mana perceraian diajukan
1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). 2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah
hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (Pasal 73 (2)). b. Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang, sehingga
biaya perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) c. Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup Pasal 68 (2) dan 80).
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak
e. Untuk melindungi isteri maupun anak, Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak, dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 78 a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Pasal 45 ayat (2) dan Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 78 huruf b Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.
f. Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri, dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1989 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990).
3. Bidang Waris, Wasiat dan Hibah yang dilakukan berdasarkan Hukum Islam a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 menganut asas personalitas keislaman, oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris / wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. b. Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam lainnya apabila
c. Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil deposito di Bank dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian diminta pengesahan(gawaasmarker)kepada Ketua Pengadilan Agama. d. Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan
berdasarkan Pasal 107 Undang-Undang Peradilan Agama jo. 236 a HIR. 4. Sengketa Milik
Pasal 50 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 menyatakan :
a. Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
b. Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, obyek sengketa tersebut sengketa oleh Pengadilan Agama besama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.
5. Pemeriksaan dan Penyelesaian Perkara Perceraian Hak-hak Anak
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 serta Kompilasi Hukum Islam, dapat diringkas sebagai berikut :
a. Cerai talak
1) Cerai talak dijatuhkan oleh pihak suami yang petitumnya memohon untuk diizinkan menjatuhkan talak terhadap isterinya
2) Cerai talak yang dijatuhkan oleh suami yang telah riddah (keluar dari agama Islam), produk putusannya bukan memberikan izin kepada suami untuk mengikrarkan talak, akan tetapi talak dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.
3) Prosedur pengajuan permohonan dan proses pemeriksaan cerai talak agar dipedomani Pasal 66 s/d Pasal 72 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 jo. Pasal 14 s/d Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
4) Gugatan penguasaan anak dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak
5) Selama proses pemeriksaan cerai talak sebelum sidang pembuktian, isteri dapat mengajukan rekonvensi mengenai pengasuhan anak, nafkah anak, nafkah madhiyah, nafkah iddah, mut’ah dan harta bersama.
gugatan rekonvensinya dapat mengajukan permohonan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
7) Pengadilan Agama secara ex officio dapat menetapkan kewajiban nafkah iddah atas suami untuk isterinya, sepanjang isterinya tidak terbukti berbuat nusyuz, dan menetapkan kewajiban mufah (ex Pasal 41 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 149 huruf a dan Pasal 151 Kompilasi Hukum Islam)
8) Dalam pemeriksaan cerai talak, Pengadilan Agama sedapat mungkin berupaya mengetahui jenis pekerjaan suami yang jelas dan pasti dan mengetahui perkiraan pendapatan rata-rata perbulan untuk dijadikan dasar pertimbangan menetapkan nafkah anak, mut’ah, nafkah madhiyah dan nafkah iddah.
9) Agar memenuhi asas manfaat dan mudah dalam pelaksanaan putusan, penetapan mut’ah sebaiknya berupa benda bukan uang, misalkan rumah atau tanah atau benda lainnya
10) Dalam hal Termohon tidak hadir di persidangan dan perkara akan diputus verstek, Pengadilan harus melakukan sidang pembuktian mengenai kebenaran adanya alasan perceraian yang didalilkan oleh Pemohon.
“Memberi izin kepada pemohon (nama…..bin…..) untuk menjatuhkan talak satu raj’i terhadap Termohon (nama ...binti….) di depan sidang Pengadilan Agama….”.
12) untuk menghindari terjadinya talak bid’i, Pengadilan Agama sebaiknya menunda sidang ikrar talak, apabila si isteri dalam keadaan haid kecuali bila isteri rela dijatuhi talak.
13) Untuk keseragaman amar putusan cerai talak yang diajukan oleh suami yang riddah (keluar dari agama Islam) sebagaimana tersebut dalam huruf b)
b. Cerai gugat
1) Cerai gugat diajukan oleh isteri yang petitumnya memohon agar Pengadilan Agama memutuskan perkawinan Penggugat dengan Tergugat 2) Prosedur pengajuan gugatan dan pemeriksaan cerai gugat agar dipedomani
Pasal 73 s/d Pasal 86 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 jo. Pasal 14 s/d Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
3) Gugatan hadhanah, nafkah anak, nafkah isteri, mufah, nafkah iddah dan harta bersama.
rekonvensi dapat pula mengajukan gugatan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975
5) Pengadilan agama secara ex officio dapat menetapkan kewajiban nafkah iddah terhadap suami, sepanjang isterinya tidak terbukti telah berbuat nusyuz (ex Pasal 41 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974) 6) Dalam pemeriksaan cerati gugat, Pengadilan Agama sedapat mungkin
berupaya untuk mengetahui jenis pekerjaan dan pendidikan suami yang jelas dan pasti dan mengetahui perkiraan pendapatan rata-rata per bulan, untuk dijadikan dasar pertimmbangan dalam menetapkan nafkah madhiah, nafkah iddah dan nafkah anak.
7) Cerai gugat atas alasan taklik talak harus dibuat sejak awal bahwa perkara tersebut perkara gugat cerai atas alasan taklik talak, agar selaras dengan format laporan perkara.
8) Dalam hal Tergugat tidak hadir di persidangan dan perkara akan diputus dengan verstek, Pengadilan harus melakukan sidang pembuktian mengenai kebenaran alasan perceraian yang didalilkan oleh Penggugat. c. Talak Khuluk
d. Syiqaq
1) Dalam proses pemeriksaan dan penyelesaian gugat cerai atas dasar alasan pertengkaran terus menerus ex Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 ditambah Pasal 116 KHI, Pengadilan Agama harus memedomani Pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, dilakukan pembuktian saksi kemudian didengar keterangan keluarga atau orang dekat suami isteri. Keterangan keluarga atau orang dekat dari suami dan isteri bila difungsikan sebagai bukti, harus disumpah.
2) Gugatan atas alasan syiqaq harus dibuat sejak awal bahwa perkara tersebut perkara syiqaq, bukan perubahan dari gugat cerai atas dasar pertengkaran terus menerus yang kemudian dijadikan perkara syiqaq.
3) Pemeriksaan dan penyelesaian gugat cerai atas dasar syiqaq harus berpedoman pada Pasal 76 Undang-Undang Peradilan Agama yaitu memeriksa saksi-saksi dari keluarga atau orang-orang dekat dengan suami isteri, setelah itu Pengadilan Agama mengangkat keluarga suami atau isteri atau orang lain sebagai hakam. Hakam merupakan musyawarah, hasilnya diserahkan kepada Pengadilan Agama sebagai dasar putusan. 4) Hasil musyawarah hakam dapat dijadikan bukti awal oleh Majelis Hakim
e. Li’an
1) Pemeriksaan dan penyelesaian cerai gugat yang diajukan isteri atas dasar alasan suami zina, dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku pada gugat cerai biasa, yaitu dilakukan pembuktian dengan saksi atau sumpah pemutus, atau atas dasar putusan pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap bahwa suaminya melakukan tindak pidana zina.
2) Pemeriksaan dan penyelesaian cerai talak yang diajukan suami atas dasar alasan isteri berzina, dapat dilakukan berdasar hukum acara sebagaimana tersebut dalam huruf a di atas atau dengan cara li’an (ex Pasal 87, 88 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009).
bila saya berdusta” setelah suami disumpah, Pengadilan Agama menanyakan kepada isteri apakah ia bersedia mengangkat sumpah nukul (sumpah balik), bila isteri bersedia mengangkat sumpah nukul (sumpah balik), Pengadilan Agama memerintahkan isteri untuk mengucapkan sumpah sebanyak empat kali yang berbunyi : “Demi Allah saya bersumpah bahwa saya tidak berbuat zina”, dan setelah itu dilanjutkan dengan ucapan : “Saya siap menerima laknat Allah apabila saya berdusta”. 6. Perkara Pengasuhan Anak (hadhanah)
a. Nafkah anak merupakan kewajiban ayah, dalam keadaan ayah tidak mampu, ibu dapat membantu memberi nafkah anak. Oleh karena nafkah anak merupakan kewajiban ayah dan ibu, maka nafkah lampau anak dapat dituntut oleh isteri sebagai hutang suami. Tegasnya tidak ada nafkah madhiyahuntuk anak
b. Pemeliharaan anak pada dasarnya untuk kepentingan anak, baik untuk pertumbuhan jasmani, rohani, kecerdasan intelektual dan agamanya. Oleh karenanya, ibu lebih layak dan lebih berhak untuk memelihara anak di bawah usia 12 tahun.
perilaku buruk yang akan menghambat pertumbuhan jasmani, rohani, kecerdasan intelektual dan agama si anak.66
d. Pengalihan pemeliharaan anak tersebut dalam huruf c di atas harus didasarkan atas putusan Pengadilan Agama dengan mengajukan permohonan pencabutan kekuasaan orangtua jika anak tersebut oleh Pengadilan Agama telah ditetapkan di bawah asuhan ibu.
e. Pencabutan kekuasaan orangtua dapat diajukan oleh orangtua yang lain, anak, keluarga dalam garis lurus ke atas, saudara kandung dan pejabat yang berwenang (jaksa).67
7. Masalah Pengasuhan Anak
a. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan pernikahan yang tidak berada di bawah kekuasaan wali yang ditunjuk dengan wasiat oleh orang tua, sebelum orang tua si anak tersebut meninggal, baik secara tertulis atau lisan yang disaksikan oleh dua orang saksi atau wali yang ditunjuk oleh Pengadilan Agama karena kekuasaan kedua orang tua dicabut b. Dalam hal wali melalaikan kewajibannya terhadap anak, atau berkelakuan
buruk sekali atau tidak cakap keluarga dalam garis lurus ke atas, saudara kandung, pejabat / kejaksaan dapat mengajukan pencabutan kekuasaan wali secara kontensius kepada Pengadilan Agama dalam daerah hukum dimana wlai melaksanakan kekuasaan wali.
c. Gugatan pencabutan wali dapat digabung dengan permohonan penetapan wali pengganti serta gugatan ganti rugi terhadap wali yang dalam melaksanakan kekuasaan wali menyebabkan kerugian terhadap harta benda anak di bawah perwalian (ex Pasal 53 ayat (2) dan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974).68
B. Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Pengadilan Agama Medan Dalam Putusan No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn Tentang Perkara Gugatan Hak Pengasuhan Anak
Majelis Hakim Pengadilan Agama Medan yang menyidangkan perkara gugatan hak pengasuhan anak antara BG dan Hj. NS atas anak-anak yang bernama MR binti MI, MRM bin MI dan MS bin MI dalam pertimbangan hukumnya pada awal persidangan telah berusaha secara optimal mendamaikan para pihak yang berperkara dengan memberikan pandangan dan saran kepada penggugat dan tergugat, namun upaya tersebut tidak mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan keduabelah pihak yang berperkara.
Pokok permasalahan dalam persidangan tersebut adalah Penggugat bermohon agar ditetapkan sebagai wali atas diri dan harta tiga orang anak dari almarhumah KC dan almarhum MI yang masing-masing bernama: NS Perempuan, Lahir tanggal 13 Nopember 1992, MRM, Laki-laki, Lahir tanggal 22Pebruari 1994, dan MFI, Laki-laki, Lahir tanggal 22 Agustus 1997; dengan alasan bahwa karena tiga anak tersebut tidak pernah ikut bersama Tergugat, sehingga Tergugat tidak mungkin
68Abdurrahman,Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta, Akademik Pressindo, 2007,
mengajukan gugatan ini yaitu bila wali yang telah ditetapkan ternyata tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwalian, maka Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali atas permohonan kerabat tersebut sebagaimana ditentukan Pasal 53 ayat (1) dan Pasal 107 Kompilasi Hukum Islam.
Penggugat menggugat agar Pengadilan Agama Medan mencabut hak perwalian Tergugat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Syar’iyah Meulaboh Nomor: 25/Pdt.P/2005/MSy-Mbo tanggal 5 Seotember 2005, dengan dalil pada pokoknya bahwa Tergugat tidak layak lagi ditetapkan sebagai wali karena jauhnya tempat tinggal Tergugat dengan anak-anak tersebut, dan Tergugat juga ada mengirimkan surat yang menyatakan tidak keberatan dan sangat setuju terhadap Penggugat ditetapkan sebagai wali dari tiga orang anak tersebut di atas. Sekalipun Tergugat tidak hadir tetapi karena perkara ini termasuk dalam bidang perkawinan, maka kepada Penggugat tetap dibebankan wajib bukti, dan untuk itu telah didengar keterangan saksi-saksi sebagaimana keterangan tersebut di atas. Untuk membuktikan kebenaran dalil-dalilnya, Penggugat telah mengajukan bukti-buktinya berupa bukti surat P.1 sampai dengan P. 13 dan menghadirkan dua orang saksi sebagaimana telah diuraikan pada bagian duduk perkara. Surat-surat bukti yang diajukan oleh Penggugat tersebut telah dinazegelen serta dilegalisir dan aslinya telah dapat diperlihatkan dipersidangan.69Dengan demikian surat-surat bukti tersebut telah memenuhi syarat
formil untuk dinilai sebagai alat bukti sedangkan secara materii surat-surat bukti tersebut dipertimbangkan sebagai berikut:
1. Bahwa berdasarkan bukti P. 7 (akta otentik) terbukti secara sah bahwa MI dan KC adalah suami isteri sah, dan setama perkawinannya tidak pernah bercerai hidup; 2. Bahwa berdasarkan bukti bukti P.6 dan P.5 serta bukti P.10, P.11 dan P. 12
terbukti bahwa NR, Perempuan, Lahir tanggal 13 Nopember 1992, serta M RM, Laki-laki, Lahir tanggal 22 Pebruari 1994, dan MFI, Laki-laki, Lahirtanggal 22 Agustus 1997 adalah anak-anak kandung dari MI. dan KC;
3. Bahwa berdasarkan bukti P. 4 dan P. 3 membuktikan hubungan keluarga bahwa Penggugat yang mengasuh dan menanggung Kelangsungan hidup 3 (tiga) orang cucunya yang telah yatim piatu tersebut yaitu NR, MRM dan MFI Idris dan juga membuktikan hubungan keluarga yang semuanya beragama Islam;
4. Bahwa bardasarkan bukti P. 9 (Surat Kematian), terbukti bahwa KC telah meninggal dunia karena sakit pada hari Jumat tanggal 22 Agustus 1997 di Belawan Medan dalam usia 36 tahun dan semasa hidupnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil
6. Bahwa berdasarkan bukti P. 13. terbukti bahwa BG (Tergugat) telah ditetapkan sebagai wali atas 3 (tiga) orang anak
Kesaksian 2 (dua) orang saksi yang dihadirkan oleh Penggugat tersebut, tidak ada larangan hukum untuk menjadi saksi dan saksi-saksi tersebut telah disumpah, maka secara formil dapat diterima. Sedangkan kesaksiannya secara materil. Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Bahwa keterangan dua orang saksi yang dihadirkan oleh Penggugat yang bernama WT dan MR, secara nyata intinya pernah melihat dan mendengar langsung Penggugat layak dan patut sebagai wali dari 3 orang anak tersebut sebagai pengganti wali yang bernama BG (Tergugat) keterangan tersebut telah sesuai dengan dalil dan alasan Penggugat, oleh karena itu keterangan para Saksi tersebut secara materil dapat diterima
2. Bahwa oleh karena telah memenuhi syarat materil sebagai saksi, maka Majelis Hakim menilai bahwa Keterangan dua orang saksi tersebut obyektif dan relevan dengan gugatan Penggugat, oleh karenanya keterangan para saksi tersebut dapat dipertimbangkan sebagai alat bukti sebagaimana dikehendaki ketentuan Pasal 308 ayat (1) R. Bg
1. Bahwa MI, dan KC adalah suami isteri yang sah dan selama dalam ikatan perkawinannya telah dikarunia snak 3 (tiga) orang masing-masing bernama NR, Perempuan. Lahir tanggal 13 Nopember 1992, serta MRM. Laki-laki, Lahir tanggal 22 Pebruari 1994. dan MFM, Laki-laki, Lahir tanggal 22 Agustus 1997 sekarang ikut tinggal bersama Penggugat
2. Bahwa KC telah meninggal dunia karena sakit pada tanggal 22 Agustus 1997 di Belawan Medan dalam usia 36 tahun dan pada masa akhir hayatnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil
3. Bahwa MI, telah meninggal dunia karena sakit pada tanggal 9 Agustus 2004 dalam usia 43 tahun, dan masa akhir hidupnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil
4. Bahwa Penggugat adalah ibu kandung dari almarhumah KC atau nenek dari tiga orang anak tersebut
5. Bahwa Tergugat (BG) telah ditetapkan sebagai wali atas 3 (tiga) orang anak tersebut
6. Bahwa setelah MI meninggal dunia, 3 orang anaknya tersebut tinggal bersama dan diasuh oleh Penggugat dalam kondisi baik
8. Bahwa Penggugat dianggap cakap, wajar dan mampu untuk menggantikan hak perwalian dan ditetapkan sebagai wali yang menggantikan Tergugat atas perwalian tiga orang anak yatim piatu tersebut sampai dengan anak-anak tersebut dewasa atau mandiri
Bila ternyata dalam Penetapan tersebut ditemukan adanya sengketa yaitu ketidaksepakatan baik mengenai siapa-siapa yang menjadi wali terlebih lagi ditemukan kemudian adanya kerabat yang dekat yang berhak sebagai wali yang tidak termasuk dalam Penetapan (bukti P.13) tersebut sehingga menimbulkan sengketa maka dengan diajukannya gugatan berarti perkara permohonantersebut telah mengandung sengketa
Berdasarkan ketentuan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 107 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam yang menegaskan bahwa batas umur anak di bawah perwalian hanya terhadap anak yang belum mencapai umur 21 tahun dan atau belum pemah melangsungkan perkawinan sedangkan anak-anak tersebut berdasarkan bukti P.6, P.10, P.11 dan P. 12 ternyata masih di bawah umur.
Sesuai dengan Pasal 107 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam yang menentukan bahwa substansi perwalian meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaannya. Sepanjang pemeriksaan perkara ini Hakim tidak menemukan sesuatu hal yang merupakan cacat halangan pada diri Penggugat untuk ditetapkan dan ditunjuk wali menggantikan Tergugat terhadap anak-anak yang hubungan keluarga sebagai nenek (ibunya ibu), hal mana dinilai telah sesuai dengan maksud Pasal 51 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 107 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam Tahun 1991. Berdasarkan bukti-bukti surat tersebut dihubungkan dengan keterangan Saksi-saksi Penggugat yang pada pokoknya menerangkan bahwa Penggugat adalah orang yang layak untuk ditetapkan sebagai pemegang hak perwalian terhadap tiga orang cucunya yang masih di bawah umur, serta tidak ada hal negatif pada Penggugat yang dikhawatirkan akan menimbulkan mudarat bagi tiga orang anak tersebut maupun hartanya, dengan demikian bukti-bukti tersebut dinilai telah sejalan dan mendukung permohonan Penggugat. Atas gugatannya tersebut Penggugat telah menyatakan kesanggupannya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai pemegang hak wali terhadap tiga orang anak yang dimohonkan hak kewaliannya atasnya.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik, maka Penggugat layak sebagai wali. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim berkesimpulan (dalam permusyawaratannya) bahwa telah cukup alasan menyatakan mencabut hak perwalian Tergugat sebagaimana telah ditetapkan dalam Penetapan Nomor 25/Pdt.P/2005/M,Sy-Mbo dan menunjuk Penggugat sebagai wali yang menggantikan posisi Tergugat, dan oleh karena Penggugat dapat membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatannya, maka petitum angka 1, 2 dan 3 dalam surat gugatan Penggugat tersebut dikabulkan.
anak-anak tersebut merasa aman dan nyaman bertempat tinggal bersamanya. Pertimbangan hukum lainnya adalah bahwa apabila ayah dan ibu dari anak-anak tersebut telah meninggal dunia maka pihak keluarga paling berhak untuk menjadi hadhniah (pengasuh) dari anak tersebut adalah ibu kandung dari ibu (nenek) dari anak-anak tersebut. Sehingga dalam hal ini Penggugat NS adalah merupakan nenek dari anak-anak KC dan MI, sehingga keputusan Majelis Hakim Pengadilan Agama Medan juga didasarkan kepada urusan keluarga yang paling berhak dalam memperoleh hak asuh atas anak-anak tersebut berdasarkan urutannya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Alasan-alasan pembatalan hak asuh atas anak-anak yang masih di bawah umur terjadi apabila :
Pertama : orang tua dipandang tidak cakap dimata hukum sehingga dicabut kekuasaan orang tua oleh hakim.
Kedua : penunjukan oleh hakim kepada keluarga prioritas yang mempunyai urutan hak dan pengasuhan anak di bawah umur.
Ketiga: pencabutan kekuasaan pengasuhan keluarga atas keputusan pengadilan. Keempat: faktor psikologis anak
2. Putusan Pengadilan Agama No. 50/Pdt.G/2006/PA.Mdn telah menimbulkan akibat hukum yaitu terjadinya pengalihan hak asuh anak-anak dari paman (pihak ayah) ke nenek (pihak ibu), termasuk pengalihan hak-hak keperdataan serta harta si anak.
3. Pertimbangan hukum Putusan Majelis Hakim Pengadilan didasarkan kepada asas bahwa hak pengasuhan (hadhanah)harus berada di tangan pengasuh (hadhniah) yang ditinggal atau bertempat tinggal bersama-sama dengan anak-anak yang diasuhnya :
Kedua : pertimbangan psikologis dimana anak-anak tersebut meraas aman dan nyaman karena telah bertempat tinggal bersama dengan penggungat NS, sedangkan Tergugat BG berada di Meulaboh Nanggoroe Aceh Darussalam (NAD).
B. Saran
1. Dalam pelaksanaan pembatalan hadhanah (hak asuh atas anak) perlu dipertimbangkan faktor psikologis anak dan faktor keamanan dan kenyamanan dari anak-anak tersebut yang berada dibawah pengsauhan dari pengasuhnya (hadhniah) sehingga anak-anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan kemanfaatan darihadhanah yang telah diberikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama terhadap pihak keluarga yang ditunjuk untuk melaksanakan pengasuhan atas anak-anak tersebut. Faktor psikologis, keamanan dan kenyamanan anak ditangan pengasuhnya menjadi faktor penting yang harus diutamakan ketimbang urutan pengasuhan anak yang paling berhak dalam memperoleh hak pengasuhan atas anak tersebut.
eksekusi putusan Pengadilan Agama atas pengalihan hak asuh anak tersebut. Pelaksanaan eksekusi putusan yang dilaksanakan oleh Pengadilan Agama hendaknya dilaksanakan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dengan mengedepankan prinsip musyawarah dan kekeluargaan dalam pengalihan hak asuh anak tersebut.