• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pemilikan Tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Buku Pemilikan Tanah"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

Lembaga Informasi dan Kajian Pembangunan Indonesia

PEMILIKAN TANAH

DAN KEMISKINAN PEDESAAN

Pengantar :

(2)

Drs. H. Rekson S. Limba, M.Si

Pengantar:

(3)
(4)

PEMILIKAN TANAH DAN KEMISKINAN PEDESAAN

Oleh: Drs. Rekson S. Limba, M.Si 87 halaman

Publikasi 2008 LiKPi Sulawesi Tenggara Cetakan Pertama, Juli 2008

Pengantar : Hasbullah Syaf, SP, M.Si Penyunting : Muhammad Zein Abdullah, S.IP

Diterbitkan dan dicetak oleh:

Lembaga Informasi dan Kajian Pembangunan Indonesia Sulawesi Tenggara

Jl. Y. WAYONG No. 02 Kota Kendari Sulawesi Tenggara 93117

Telp. (0401) 323557, email: [email protected]

Ketentuan dan Tanggungjawab Publikasi

(5)
(6)

PENGANTAR

Sebelum menimbang naskah tulisan Pemilikan Tanah dan Kemiskinan pedesaan (2008) ini, baiknya diutarakan suatu tulisan yang diangkat oleh Syaf dan Sjaf (2008) mengenai Potret Kondisi Agraria di Kabupaten Konawe Selatan dan Sjaf dkk. (2007) mengenai Potret Kedaulatan pangan Mamasa. Dua tulisan ini membuka konsep yang sama apa yang sedang dipikirkan oleh penulis dalam buku ini.

Kemiskinan dan ketidakberdayaan merupakan dua persoalan yang melekat dengan masyarakat pedesaan kita. Beberapa data menyebutkan bahwa dari 69.957 desa di Indonesia (Potensi Desa, 2006) hampir 45,2 % dinyatakan Kementerian Daerah Tertinggal masuk dalam kategori desa tertinggal. Demikian juga dicatat, bahwa 68,4% dari 42,4 juta penduduk miskin ada di pedesaan (BPS, 2006). Kondisi tersebut adalah akibat rendahnya tingkat produktivitas masyarakat. Seperti diungkap hasil Sakernas, 2005, angka pengangguran terbuka yang telah mencapai 11,10 juta jiwa (10,45% dari penduduk Indonesia), sekitar 5,28 juta jiwa (8,44%) tinggal di pedesaan dan di perkotaan 5,82 juta jiwa (13,32%). Angka setengah pengangguran yang mencapai 29,92 juta jiwa (28,16%), porsi terbesar terdapat di perdesaan sejumlah 23,00 juta jiwa (36,76%), dan perkotaan hanya mencapai 6,92 juta jiwa atau 15,83% (BPS,2006).

Setidaknya realita di atas, disebabkan 7 faktor, yakni: (1) infrastruktur ekonomi yang sangat minim; (2) ketimpangan kepemilikan lahan produktif; (3) kerentanan akan penyakit kekurangan gizi; (4) kapasitas kolektif masyarakat pedesaan yang sangat rendah; (5) keberadaan lembaga desa (seperti: BPD, Pemerintah Desa) yang belum dioptimalkan oleh daerah; (6) kerusakan lingkungan dan degradasi sumberdaya alam; dan (7) lemahnya desa sebagai sisitem komunitarian yang otonom (Kolopaking, 2006).

(7)

terjadinya ragam konflik yang berbeda-beda, seperti: konflik menyangkut pemaksaan penerapan program revolusi hijau, konflik antara petani dengan manajemen pemerintahan, konflik mengenai pengambil alihan tanah oleh pemerintah untuk “program pembangunan”, dan koflik menyangkut eksploitasi hutan. Berdasarkan catatan yang diperoleh, hingga saat ini (dari tahun 1979 s/d 2006) terdapat 1.000 kasus konflik agraria dan kekerasan terhadap petani yang berhasil di data.

Terkait dengan konflik tanah sering didengar baik antara pertani (warga) dengan pemerintah atau swasta, maka dimungkinkan akan terjadinya kerugian baik dari pihak warga maupun dari pihak pemerintah atau swasta. Adapun kerugian yang dimaksud, meliputi empat hal, yakni: (1) konflik yang berkepanjangan antara warga dengan pemerintah atau swasta akan berakibat terhadap ketidakpastian berusaha; (2) terjadinya kerugian investasi dari pihak swasta; (3) adanya “behaviour gap” warga

desa akibat dari “ketidakpahaman” terhadap berlangsungnya proses pembangunan; dan (4) kegagalan pembangunan ekonomi pedesaan. Terkait dengan hal ini maka tercatat sebanyak 16 – 24 kali per tahun konflik antara pemerintah atau swasta dengan masyarakat di Sulawesi Tenggara yang mana angka kerugiannya dapat mencapai 14 – 84 Milyar per tahunnya.

Jika kita cermati lebih jauh, konflik antara warga dengan pemerintah atau swasta tidak akan terjadi apabila adanya hubungan komunikasi yang baik dan melahirkan konsensus atas akses pemanfaatan, pengelolaan, dan penggunaan lahan secara bersama-sama. Atau dengan kata lain, keuntungan tidak hanya diperoleh pihak pemerintah atau swasta saja, melainkan juga diperoleh warga dalam bentuk peningkatan kesejahteraan.

Adapun hubungan komunikasi yang dimaksud di atas, sebenarnya sudah tertuang dalam konsep Coorperate Social Responsibility (CSR). Konsep ini memberikan ruang adanya hubungan kolaboratif antara pemerintah atau swasta dengan masyarakat dalam rangka peningkatan ekonomi warga pedesaan. Dalam pengimplementasiannya, CSR menekankan pada manajemen kolaboratif antara pihak pemerintah atau swasta dan masyarakat untuk menciptakan sistem kondusif berusaha bagi pihak pemerintah atau swasta disatu sisi, dan peningkatan ekonomi pedesaan pada sisi yang lain.

(8)

dipatuhi. Hal ini menjelaskan bahwa tanah mempunyai fungsi sosial, ketentuan-ketentuan pidana bagi mereka yang menelantarkan tanah, pemilik pertanian berkewajiban menggarap sendiri tanahnya, dan larangan untuk memiliki tanah bagi pertanian di beberapa daerah diluar dari daerah domisili pemiliknya. Ketentuan ini menegaskan bahwa tindakan-tindakan preventif agar manusia Indonesia termasuk masyarakat Hukaea tidak melakukan perlakuan-perlakuan dan perbuatan yang serampangan dan semau hatinya tanpa mau menyesuaikan diri pada hukum alam, perbuatan-perbuatan mana selain akan merugikan pemiliknya juga dapat menimbulkan bencana umum di mana rakyat banyak akan memilkul resiko-resikonya, seperti menjadi gersangnya tanah, rusaknya lapisan topsoil, dan juga banjir yang akan merusak lingkungan hidup. Jika terjadi kerusakan ini maka kemiskinan siap dihadapi dan imbas yang paling tinggi ada di masyarakat pedesaan.

Tulisan ini lebih menekankan pada aspek sosiologis, meskipun demikian aspek teknis dan beberapa nuansa budaya dipadukan sebagai ilustrasi yang memperkuat mengapa pemilikan tanah dan kemiskinan pedesaan mempunyai hubungan yang erat. Meskipun data yang dirunut dari hasil penelitian penulis ±13 tahun (1995), namun masih relevan dengan kondisi yang dihadapi saat ini. Dengan demikian dua buku terdahulu dan terbitnya buku ini menambah khasanah ilmu pengetahuan yang secara khusus berangkat dari kondisi desa dan ketidakberdayaan masyarakat pedesaan, yang jika dipadukan dengan hasil-hasil penelitian dibidang yang sama di seluruh Indonesia maka mungkin hasilnya akan sama dan dapat kita katakan dengan slogan kemiskinan sering didekatkan dengan ketidakberdayaan.

(9)
(10)

SAMBUTAN DIREKTUR

LEMBAGA INFORMASI DAN KAJIAN PEMBANGUNAN

INDONESIA

(LiKPi) SULAWESI TENGGARA

Sebagai upaya peningkatan dan pengembangan karya tulis para dosen Perguruan Tinggi di Sulawesi Tenggara, selaku Direktur LiKPi Sultra, saya menyambut baik upaya Saudara Drs. H. Rekson S. Limba, M.Si. yang berhasil melakukan penelitian dengan judul “Pemilikan Tanah dan Kemiskinan Pedesaan” yang selanjutnya dipublikasikan untuk menjadi bacaan ilmiah baik di kalangan mahasiswa, dosen, pemerintah, non-pemerintah (LSM, OKP, ORMAS, dll) maupun khalayak umum.

Penelitian ini berusaha menganalisis perbedaan karakter dan motivasi kerja serta kualitas keterampilan antara petani transmigran asal Jawa dengan petani luar Jawa (di desa penelitian) yang cenderung menjadi faktor pembeda dari fenomena kemiskinan yang terjadi di luar Jawa. Kalau petani di Jawa pada umumnya menjadi miskin karena ketiadaan lahan pertanian yang dapat digarap / diusahakan oleh petani. Sebaliknya, karakter petani di luar Jawa (di desa penelitian), di mana pada umumnya petani miskin di sini memiliki lahan pertanian yang relatif cukup luas, namun karena derajat keterampilan bertani yang sangat rendah, maka kemampuan menggarap lahan yang rendah telah mengakibatkan produktivitas yang amat rendah, sehingga mereka tidak dapat menabung untuk modal investasi selanjutnya. Akibatnya kemiskinan secara terus–menerus tetap terjadi di kalangan petani di pedesaan. Keadaan tersebut telah mendorong masyarakat (petani lokal) lebih suka mencari jalan pintas dengan cara menjual lahan– lahan kosong daripada menjual hasil pertaniannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang lebih bersifat konsmutif.

Semoga publikasi ini terus dapat berkembang di kalangan para dosen perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara pada masa mendatang.

Direktur

(11)
(12)

PENGANTAR PENULIS

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas

limpahan rahmat dan hidayah Nya sehingga karya tulis ini dapat

diselesaikan dengan bobot dan kapasitas seperti yang tertera dalam

buku ini.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan

memberikan gambaran perbedaan karakteristik masyarakat (tani) di

Jawa dengan masyarakat (tani) di luar Jawa, dengan judul Pemilikan

Tanah dan Kemiskinan Pedesaan (studi di salah satu desa di

Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara). Fenomena yang menarik

dalam studi ini adalah bahwa, petani di pedesaan Jawa menjadi

miskin karena ketiadaan lahan garapan oleh para petani. Sebaliknya,

petani di pedesaan luar Jawa (daerah penelitian), menjadi miskin

karena ketidakmampuan petani mengolah tanah yang tersedia cukup

luas.

Di samping perbedaan karakteristik petani tersebut, kondisi

wilayah pedesaan yang masih jauh ketinggalan karena ketiadaan

fasilitas berupa prasarana dan sarana pelayanan sosial ekonomi yang

dapat mendorong tumbuhnya ekonomi komersial yang produktif,

sehingga mengakibatkan kemiskinan yang amat parah masih di

jumpai di pedesaan Sulawesi Tenggara, khususnya di daerah

penelitian.

(13)

Ditemukan bahwa, proses penjualan tanah / lahan kosong

tersebut dilakukan secara ilegal

tanpa mengikuti petunjuk

sebagaimana ketentuan yang berlaku. Oknum

oknum penguasa

(dalam hal ini) Pemerintah Desa dan Pemerintah Kecamatan justru

bertindak sebagai calo dalam proses jual beli tanah yang lasim

disebut “jual beli di bawah tangan” tanpa dilengkapi dengan surat –

menyurat yang resmi. Dalam proses jual beli tanah secara demikian,

Camat selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), tidak

menerapkan peraturan sebagaimana mestinya.

Salah satu rekomendasi dari hasil penelitian ini, kepada

Pemerintah Daerah, segera menertibkan kegiatan penjualan tanah

tanah kosong yang ada di wilayah itu, sebab kebebasan masyarakat

lokal dalam memperjual belikan lahan

lahan kosong tersebut, akan

berdampak buruk terhadap pengembangan daerah selanjutnya, baik

untuk kepentingan pembangunan daerah maupun kepentingan

penduduk itu sendiri. Di samping itu penjualan tanah / lahan kosong

tersebut tanpa melalui mekanisme dan prosedur sebagaimana

mestinya, sangat berpotensi menimbulkan konflik, baik di antara

sesama anggota masyarakat maupun terhadap para pembeli ilegal

tersebut.

Demikian hal

hal yang digambarkan dan dianalisis dalam

buku ini, semoga ada manfaatnya.

Kendari, Juli 2008

(14)

DAFTAR ISI

PENGANTAR AHLI …….……….. v

KATA SAMBUTAN DIREKTUR LiKPi SULTRA ……… ix

PENGANTAR PENULIS ………. xi 1.2. Rua ng Lingkup dan Permasalahan ………. 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 1.4. Kajian Pustaka: Pemikiran Konseptual ……….. 1.4.1 Konsep Pemilikan dan Penguasaan Tanah ... 1.4.1. Bentuk dan Status Pemilikan Tanah …………. 1.4.2. Nilai dan Fungsi Tanah ……….. 1.4.3. Konsep - Ko nsep Ke misk ina n ……….. ( 1) K e m i s k i n a n M e n u r u t S i f a t n y a . .… ( 2) K e m i s k i n a n Me nu rut S u mbe r nya .... ( 3) Kemiskinan Menurut Dimensinya ………. 1.4.5 Studi - Studi Relevan ……….... ( 1) Distribusi Pemilikan Tanah dan Kemisk ina n……….. ( 2) Ciri-Ciri Kemiskinan ……….. ( 3) P o la d a n S t a t u s P e m i l ikan Tanah …... 1.5. Metodologi Penelitian ……… 1.5.1. Tipe Dan Lokasi Penelitian ………. 1.5.2. Variabel dan Definisi Operasional ………... 1.5.3. Jenis Data Penelitian ……….... 3.1. Asal-Usu l Pemilikan Tanah Penduduk Desa …………... 3.2. Resett le ment dan Masala h Pert anahan …………..

(15)

3.3. Pro fil Desa di Bida ng Pertanaha n ………..

4.2 Sistem Budaya Tani Morenene ……….... 4.3 Pergeseran Nilai Budaya Pertanian ………..

45

LAMPIRAN: DAFTAR INFORMAN ………...

(16)

DAFTAR TABEL

(17)
(18)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR Teks HAL

Gambar 1.1. Gambar 1.2.

Lingkaran Kemiskinan………. Posisi Kualitas Sumber Daya Pembangunan ………..

(19)
(20)

1.1.

Latar Belakang Masalah

Fenomena kemiskinan merupakan suatu masalah klasik yang pada umumnya banyak dialami oleh masyarakat di negara-negara Dunia Ketiga termasuk Indonesia. Pada awal pemerintahan Orde Baru masalah kemiskinan belum banyak mendapat perhatian untuk dibicarakan orang. Pembicaraan mengenai kemiskinan di Indonesia terutama di kalangan para ahli dan praktisi baru memasuki dua dasawarsa terakhir, yakni setelah Bapak Presiden Soeharto nenyampaikan pidato kenegaraan pada tahun 1975 yang secara eksplisit mengatakan bahwa "...persentase penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan masih cukup tinggi, karena perlu sungguh-sungguh nendapat perhatian dalam pembangunan..." (Mubyarto, 1979). Berawal dari perhatian itulah kemudian Sajogyo pada tahun 1977 mengadakan studi dan berhasil menghitung jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, baik di pedesaan maupun di perkotaan (Suproyo, 1979).

Kemiskinan pedesaan di Indonesia hingga tahun 1993 masih meliputi 19.625 desa atau (33,44 %) dari 58.689 desa, di antaranya 474 desa atau 0,81 % berada di daerah Sulawesi Tenggara. Secara nasional angka kemiskinan pedesaan tersebut justru menempati urutan teratas yakni (61,64 %) dari 769 desa di Sulawesi Tenggara pada tahun 1990, dan kemudian menurun menjadi 327 (39,16 %) dari 835 desa pada tahun 1993. Jumlah desa-desa miskin tersebut dihitung dengan menggunakan indikator ukuran kemiskinan yakni: "pembagian pendapatan yang menunjukkan ketidak-merataan pendapatan dalam masyarakat" (BPS,1990; 1993).

(21)

desa miskin di wilayah Kecamatan Rumbia Kabupaten Buton. Atau dengan perkataan lain, ingin mengetahui dimensi kemiskinan, ciri dan faktor yang mempengaruhi terjadinya kemiskinan yang banyak dialami oleh petani di pedesaan utamanya masyarakat di desa penelitian.

Ide dasar penelitian ini didorong oleh rasa kepedulian terhadap gejala kemiskinan di daerah pedesaan Sulawesi Tenggara pada umumnya, khususnya bagi desa-desa penerima bantuan dana Inpres Desa Tertinggal (IDT). Dengan jumlah desa miskin tersebut di muka, kiranya cukup memberi indikasi bahwa masih sedemikian banyak rakyat di desa, yang bergelut dengan berbagai bentuk kemiskinan yang cukup memprihatinkan itu. Karena gejala-gejala kemiskinan rakyat pedesaan seperti itu perlu ditelusuri, diidentifikasi dan dijelaskan faktor-faktor penyebabnya secara lebih cermat melalui suatu penelitian ilmiah.

Membicarakan kemiskinan dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, maka paling tidak tedapat dua pendapat yang saling berlawanan. Kedua pendapat tersebut mendasarkan diri pada hasil penelitian yang mereka lakukan di daerah pedesaan Jawa. Pendapat pertama dikemukakan oleh Boeke, bahwa petani di Jawa menjadi miskin karena mereka statis dalam sikap hidup mereka. Pendapat kedua dikemukakan Clifford Geertz, bahwa petani di Jawa menjadi statis disebabkan oleh kemiskinan sebagai akibat penjajahan (Sajogyo, 1982). Sementara dalam studi David Penny (1973 dan 1976) dilaporkan bahwa salah satu penyebab kemiskinan masyarakat di pedesaan Jawa adalah rasio penduduk dan tanah (man land ratio) yang menunjukkan bahwa bagian terbesar orang miskin di Jawa adalah mereka yang tidak memiliki tanah, mereka hanya sebagai buruh tani dan petani penggarap.

(22)

Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton

Luas (km)

Penduduk 1994 (Jiwa)

Kepadatan (per km)

Buton 6.463 412.572 64

Muna 4.887 242.256 50

Kendari 16.480 522.124 32

Kolaka 10.310 256.122 25

Sultra 38.140 1.433.074 38

Sumb er: B PS (Su ltra da lam Ang ka 1994)

Dengan melihat kelonggaran penduduk seperti tabel 1.1 di atas dan membandingkan dengan fenomena kemiskinan di daerah Jawa, telah mendorong ide penelitian ini dilaksanakan pada wilayah ini. Ada dua alasan dalam memilih Desa Hukaea menjadi lokasi penelitian ini. Pertama, orbitasi desa penelitian ini cukup mudah terjangkau oleh sarana-sarana transportasi darat dan laut, di mana desa ini terletak di ruas poros jalan lingkar bagian Selatan Sulawesi Tenggara yang menghubungkan ibukota provinsi dan dua ibukota Kabupaten Buton di wilayah daratan. Oleh karena itu transportasi perekonomian masyarakat selama kurun waktu ± 1 dasawarsa terakhir sudah tidak menjadi masalah. Kedua, mengenai tersedianya lahan usaha pertanian di daerah ini yang masih sangat terbuka luas bagi para petani pada umumnya, dan khususnya bagi penduduk di desa penelitian (Desa Hukaea).

1.2.

Rua ng Lingkup dan Permasalahan

(23)

Berangkat dari keadaan sosial yang berbeda tersebut, maka faktor penyebab kemiskinan pun juga berbeda. Dari studi-studi tentang kemiskinan yang dilakukan, pada umumnya menunjukkan bahwa fenomena kemiskinan di pedesaan Jawa, lebih disebabkan oleh faktor ketersediaan lahan garapan yang tidak memadai, sehingga sebagian besar petani Jawa menjadi miskin karena disebabkan oleh ketiadaan atau sempitnya areal tanah pertanian yang dapat diusahakan oleh petani. Sementara fenomena kemiskinan penduduk tani di luar Jawa memperlihatkan kondisi yang sebaliknya. Sebagian besar penduduk tani di pedesaan luar Jawa menjadi miskin pada umumnya disebabkan oleh faktor ketidakmampuan petani dalam menggarap lahan / tanah yang cukup luas tersedia milik mereka, baik dilihat dari segi kualitas keterampilan bertani maupun dari segi permodalan. Dari pengamatan di berbagai pedesaan di Sulawesi Tenggara, seperti di desa penelitian dan sekitarnya, di mana penduduk desa / petani pada umumnya memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan subur, akan tetapi kondisi sosial ekonominya masih sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, maka fenomena kemiskinan yang terjadi di 327 desa tertinggal di daerah Sulawesi Tenggara pada umumnya dan khususnya penduduk di desa penelitian perlu dianalisis faktor-faktor penyebabnya, -- bukan saja di dalam variabel pemilikan tanah, tetapi juga hendaknya dicari di dalam variabel ekonomi dan sosial budaya lainnya.

Kecuali itu, aspek lain yang perlu dicermati adalah pola pembangunan di bidang pertanahan, dimana daerah Kecamatan Rumbia merupakan salah satu daerah potensial, dan karenanya aspek pertanahan dengan segala atributnya, baik sebagai lingkungan alam sekitar (environment), sumber produksi ekonomi, maupun sebagai barang pusaka menurut dimensi kulturalnya menjadi sangat penting.

(24)

1.3.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dipaparkan di atas, penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk :

1. Mengetahui dimensi dan karateristik kemiskinan yang terjadi di daerah penelitian;

2. Mengetahui sejauhmana pengaruh luas pemilikan dan penguasaan tanah telah menimbulkan kemiskinan masyarakat di desa penelitian; 3. Mengetahui pola dan status pemilikan, penguasaan dan pengendalian

di bidang pertanahan di daerah pedesaan khususnya di desa penelitian;

4. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab yang dominan mempengaruhi kemiskinan di desa penelitian.

Di samping tujuan tersebut di atas, penelitian ini juga bermaksud menjelaskan fenomena lain dari tipe kemiskinan yang terjadi di daerah padat penduduk seperti di Jawa -- yang lebih disebabkan sempitnya lahan pertanian yang dapat digarap oleh para petani. Sehingga temuan temuan penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai masukan informasi ilmiah bagi studi-studi yang relevan di masa mendatang.

Penelusuran aspek-aspek kemiskinan dan faktor-faktor penyebabnya dinilai penting oleh karena kemiskinan itu tidak selamanya hanya ditemukan di dalam dimensinya yang absolut, tetapi juga pada dimensinya yang bersifat relatif, seperti pada kemiskinan non-moneteristik. Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini diharapkan sebagai indikasi yang kiranya bermanfaat bagi perumusan kebijaksanaan pemerintah daerah dalam upaya mengentaskan kemiskinan di pedesaan Sulawesi Tenggara, khususnya di desa penelitian.

1.4.

Kajian Pustaka : Pemikiran Konseptual

1.4.1.

Konsep Pemilikan dan Penguasaan Tanah

(25)

tenure” (dari bahasa Latin -- tenere) artinya, "memelihara, memegang, memiliki”. Dengan demikian, “land tenure” berarti "hak atas tanah" atau "penguasaan tanah”. Istilah “land tenure” ini biasanya digunakan dalam

hal-hal yang berhubungan dengan status hukum dari penguasaan tanah seperti : hak milik, hak gadai, bagi hasil, hak sewa, dan juga kedudukan buruh tani. Pendekatannya lebih bersifat yuridis untuk mengatur kemungkinan penggunaan, mengatur syarat-syarat untuk dapat menggarap tanah bagi si penggarapnya, dan berapa lama penggarapan itu dapat berlangsung.

Kata land tenancy, mempunyai arti yang hampir sama dengan land tenure, dimana kata tenant berarti: "orang yang memiliki, memegang, menempati, menduduki, menggunakan atau menyewa sebidang tanah tertentu”, Pendekatannya lebih bersifat ekonomis, yaitu menelaah hubungan penggarapan tanah yang menyangkut : (1) sistem “bagi hasil” antara pemilik dan penggarap tanah; (2) faktar-faktor tenaga kerja; (3) investasi-investasi; dan (4) besarnya nilai sewa dan sebagainya.

Selain kedua istilah tersebut, terdapat juga istilah seperti; “pemilikan tanah, penguasaan tanah, dan pengusahaan tanah”. Ketiga istilah yang disebut terakhir ini, mempunyai arti yang berbeda. Kalau istilah "pemilikan tanah" lebih menunjuk kepada "penguasaan formal", sedangkan kata penguasaan tanah menunjuk kepada penguasaan efektif. Misalnya jika sebidang tanah disewakan kepada orang lain, maka orang lain itulah yang secara efektif menguasainya. Dalam contoh lain, jika seseorang menggarap tanah miliknya sendiri, misalnya 2 hektar, dan bersamaan itu juga ia menyewa 3 hektar dari orang lain, maka ia termasuk menguasai tanah seluas 5 hektar. Sementara istilah "pengusahaan tanah" lebih menunjuk kepada bagaimana cara sebidang tanah itu diusahakan untuk mendapatkan hasil secara produktif .

1.4.2.

Bentuk dan Status Pemilikan Tanah

(26)

diperkenalkan”. Namun dalam kenyataannya hingga sekarang berbagai bentuk pemilikan tradisional masih tetap berjalan.

Sebagai acuan, beberapa bentuk / status penguasaan tanah tradisional yang dikenal di daerah pedesaan Jawa adalah sebagai berikut:

(a) Tanah yasan, yasa, atau yoso, yaitu tanah di mana hak seseorang atas tanah itu berasal dari leluhurnya yang pertama-tama membuka atau mengerjakan tanah tersebut. Hak atas tanah seperti ini memiliki status legal dalam UUPA-1960 sebagai “tanah milik” ;

(b) Tanah n o ro wito, gogolan, peku len, playangan, kesikepan, dan sejenisnya, adalah tanah pertanian milik bersama yang daripadanya para warga desa dapat memperoleh bagian untuk menggarapnya, baik secara bergilir maupun secara tetap dengan syarat-syarat tertentu. Untuk memperoleh hak garap itu umumnya diperlukan syarat bahwa si calon itu harus sudah kawin, mempunyai rumah dan pekarangan, serta bersedia melakukan kerja wajib pajak. Status tanah seperti ini dalam UUPA-1960 dapat diubah statusnya menjadi hak milik bagi penggarapnya yang terakhir;

(c) Tanah titisara, bendo deso, kas deso, adalah tanah milik desa yang biasanya disewakan, disakapkan, dengan cara dilelang kepada siapa yang mau menggarapnya. Hasilnya dipergunakan sebagai anggaran rutin ataupun pemeliharaan desa seperti memperbaiki jembatan, jalam, masjid dan sebaginya;

(d) Tanah bengkok, yaitu tanah milik desa yang diperuntukkan bagi pejabat desa terutama Lurah, yang hasilnya dianggap sebagai "gaji" selama mereka menduduki jabatan itu. Tanah bengkok dan titisara

ini dalam konsep Barat dapat digolongkan dalam kategori "tanah yang tunduk kepada pengawasan komunal”. Dalam UUPA-1960, kedua-duanya tetap diakui keberadaannya.

1.4.3.

Nilai dan Fungsi Tanah

(27)

Paul R. Ehrlich et.al, mengemukakan bahwa dalam pandangan sosial budaya "...tidak seorang pun yang dapat memungkiri bahwa kehidupan manusia sebagai bagian dari kehidupan organisme, -- tidak dapat dipisahkan dari tanah, baik sebagai lokasi (spatial location) dan tata ruang fisik (physical space), maupun sebagai lahan sumber daya vegetasi yang berguna bagi manusia" (Djoko Suryo, 1991).

Hampir sebagian besar dari kebutuhan kehidupan manusia, baik pangan, sandang, energi maupun kebutuhan lainnya bergantung pada sumber daya yang berhubungan dengan tanah. Karena itu tanah memiliki nilai dan fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia, baik dari perspektif politik, ekonomi, maupun sosial dan budaya.

Mangara Tambunan dan Tampubolon, mengatakan bahwa nilai dan fungsi tanah pada dasarnya berkaitan erat dengan berbagai atribut yang dimilikinya, misalnya sebagai: tata ruang (physical space), lingkungan alam sekitar (environment), sumber produksi, barang konsumsi, milik (property), sebagai barang modal, (capital) atau barang ekonomi, dan barang pusaka menurut dimensi kulturalnya. (Djoko Suryo, 1991). Sebagai tata ruang, tanah bersifat tetap dan tidak dapat berubah, dan sebagai lingkungan alamiah, tanah mengandung berbagai sumber daya alam yang dibutuhkan oleh manusia.

Dalam atributnya sebagai faktor produksi, tanah dapat didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan; sedangkan dalam atributnya sebagai barang konsumsi, tanah dapat berfungsi sebagai lokasi permukinan, pertamanan dan sebagainya. Demikian juga sebagai barang "milik" menurut wawasan hukum, dan sebagai barang "modal" dalam wawasan ekonomi kapitalistik. Dalam predikatnya yang demikian, maka tanah memiliki fungsi sebagai barang ekonomi. Sementara itu, dalam predikat sosial budaya, tanah sebagai "pusaka" memiliki sejumlah makna yaitu : sebagai tali pengikat solidaritas kolektif dalam ikatan suku, keluarga, lokasional, komunitas, baik dalam skope desa, kota maupun negara.

(28)

pra-kapitalis ke masyarakat pra-kapitalis. Bersamaan dengan transformasi sosial semacam itu dapat terjadi proses perubahan nilai dan norma-norma yang berkaitan dengan pengelolaan tanah (sumber daya alam) yang berlangsung dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih rumit.

1.4.4.

Konsep - Konsep Kemiskinan

( 1 )

K e mi s ki n a n M e n u r u t S i f a t n y a

Kemiskinan menurut sifatnya, dapat dibedakan antara "kemiskinan relatif" dan "kemiskinan absolut”. Kemiskinan "relatif" adalah kemiskinan yang dinyatakan dengan nilai persentase (%) dari pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok penduduk menurut kelas - kelas pendapatan tertentu dibandingkan dengan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok penduduk dengan kelas pendapatan lainnya. Sedangkan kemiskinan “absolut” adalah suatu keadaan di mana tingkat pendapatan absolut dari seseorang yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti; pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan pendidikan (Soemitro Djoyohadikusumo, 1980 : 147-148).

Dalam mengukur kemiskinan tersebut, Bank Dunia telah menetapkan tiga kriteria kemiskinan yang diukur dengan "berapa penduduk berpendapatan terendah menerima berapa pendapatan nasional" (The Kian Wie : 1981). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut.

(29)

kriteria Bank Dunia tersebut, rekomendasi WHO / FAO (1973) menetapkan garis kemiskinan berdasarkan jumlah kalori dan protein untuk penduduk Indonesia, yaitu : 1.900 kalori dan 40 gram protein per orang per hari. Sementara Sajogyo (1977) membuat klasifikasi kemiskinan petani pedesaan di Indonesia yang diukur berdasarkan nilai uang setara beras sebagai berikut :

2. Petani desa disebut “miskin“, apabila pengeluaran rumah tangga di bawah niIai tukar 320 kilogram beras per orang per tahun; dan 3. Petani desa disebut "miskin sekali" apabila pengeluaran rumah

tangga di bawah nilai tukar 240 kilogram beras per orang per tahun.

(2)

K e mi s ki n a n Menurut Sumbernya

Menurut sumbernya, konsep kemiskinan pada hakekatnya dapat dibedakan antara "kemiskinan alamiah" (natural poverty) dan "kemiskinan buatan" (artificial poverty). Kemiskinan "alamiah" diartikan sebagai kemiskinan yang timbul karena akibat dari sumber-sumber daya yang langka jumlahnya dan atau karena tingkat perkembangan teknologi yang sangat rendah. Sedangkan kemiskinan “buatan” adalah kemiskinan yang terjadi lebih karena kebijaksanaan dan perubahan-perubahan ekonomi, teknologi dan pembangunan itu sendiri, (bandingkan Selo Soemardjan (1980) tentang apa yang disebutnya sebagai "kemiskinan struktural”). Atau dengan perkataan lain kemiskinan yang disebabkan oleh sistem kelembagaan, kebijaksanaan yang telah membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak dapat menguasai sarana ekonomi dan fasilitas secara merata (Sinaga, dan White, 1979).

(30)

pembangunan secara lebih baik. Atau dengan perkataan lain menggalakkan pembangunan yang bersifat modernisasi komersial melalui pembangunan infrastruktur fisik berupa prasarana dan sarana sosial ekonomi komersial yang mendorong tumbuhnya sumber-sumber ekonomi dan motivasi masyarakat untuk berusaha dan berkembang, baik secara kooperatif maupun secara individual, terutama dalam usaha-usaha ekonomi yang lebih berorientasi pasar, daripada usaha-usaha yang bersifat konsumtif semata.

Sementara "kemiskinan buatan” atau "kemiskinan struktural" yang pada hakekatnya tampak pada dimensi "kemiskinan ekonomi dan sosial budaya”, dapat diatasi kecuali dengan cara-cara pengentasan kemiskinan alamiah tersebut di atas, adalah juga melalui usaha-usaha intensif secara institusional ke arah pemberdayaan masyarakat secara sungguh-sungguh dengan pendekatan perubahan kebijaksanaan yang memberi kesempatan dan peluang yang cukup luas kepada masyarakat untuk lebih berkembang, yaitu merubah pola budaya dari sistem berpikir tradisional kepada pola berpikir yang berwawasan jauh ke depan -- mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dan modern itu.

(3)

Kemiskinan Menurut Dimensinya

Dari sudut dimensinya, pengukuran kemiskinan meliputi fenonena yang pada dasarnya bersifat multi-faset atau multi-dimesional -- seperti yang disebut oleh Chambers (1980) sebagai "kemiskinan terpadu" (integrated poverty). Menurutnya, tolak ukur kemiskinan terpadu tidak hanya memiliki satu dimensi yang berbentuk "moneteristik" tetapi juga dalam dimensi "non – moneteristik”, yaitu "kemiskinan sosial budaya" yang lebih menekankan pada aspek keahlian individual atau keterampilan teknik (technical skill), dan permodalan. Aspek-aspek ini pada gilirannya membentuk suatu mata rantai kemiskinan yang disebutnya "jebakan penjarahan" (beprivation) yang terdiri atas aspek "ketidak-berdayaan, kerentanan / kerawanan, kelemahan fisik, kemiskinan, dan isolasi".

(31)

di dalam kepeduliannya mengungkapkan dimensi-dimensi kemiskinan masyarakat itu. Tolok ukur yang demikian, jelas memiliki kelemahan yang mendasar di dalam mengungkapkan dimensi-dimensi kemiskinan yang bersifat sosial budaya tersebut di atas. Karena itu untuk mengungkapkan fenonena kemiskinan secara komprehensif maka harus dikaji secara multi dimensional dan menyeluruh.

Demikian juga Sackrey (1973) mengatakan bahwa, "hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kondisi kekurangan pangan dan tingkat pendapatan yang rendah, tetapi kemiskinan itu meliputi juga tingkat kesehatan yang rendah, pendidikan yang rendah, perlakuan yang tidak adil di muka hukum, kerentanan terhadap ancaman tindakan kriminal, berdayaan menghadapi kekuasaan, dan di atas semuanya itu adalah ketidak-berdayaan mereka di dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Semuanya itu jalin-menjalin mengukuhkan satu sama lain dan menghasilkan siklus kemiskinan, yang bagi kebanyakan mereka mengalaminya dan sering kali tidak mungkin terlepaskan tanpa melibatkan campur tangan yang mendalam dari orang lain, utamanya dari pemerintah.

Masih menyangkut dimensi kemiskinan, Bank Dunia (1980) mengidentifikasi dua aspek kemiskinan yang utama dalam rangka menetapkan kebijaksanaan pembangunan, yakni: (a) aspek primer yang terdiri atas kemiskinan aset-aset ekonomi, organisasi sosial politik, dan pengetahuan serta keterampilan; (b) aspek sekunder, yang terdiri atas kemiskinan jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi - dimensi kemiskinan tersebut memanifestasikan dirinya dalam bentuk kekurangan gizi, kekurangan air bersih, perumahan yang tidak sehat, dan perawatan kesehatan yang kurang baik serta pendidikan yang juga kurang baik. Demikian banyaknya dimensi kemiskinan yang saling pengaruh - mempengaruhi sehingga terkesan bahwa proses terjadinya kemiskinan itu merupakan suatu garis yang membentuk lingkaran kemiskinan yang tidak berujung pangkal, atau lasim disebut "lingkaran kemiskinan”.

(32)

selanjutnya dapat menimbulkan aspek-aspek lain yang jalin-menjalin dan saling mempengaruhi satu sama lain, dan pada akhirnya mewujudkan kemiskinan.

(33)

Gambar 1.1. Siklus Kemiskinan Model Malasis

Sumber : Hadi Prayitno dan Arsyad Lincoln (1987) yang mengutip Malasis, Agriculture and The Development Process,The Unesco Press, 1975.

Sebagai contoh, Bintoro (1982:46) menunjukkan bentuk kemiskinan dalam bidang ekonomi, pertama-tama disebabkan oleh kekurangan dan

Investasi material rendah

Pengangguran tanpa kerja

Investasi pendidikan rendah

Tingkat teknologi

rendah

Tingkat investasi rendah

Produktivitas tenaga kerja rendah

Tingkat tabungan rendah Kekurangan

tenaga skill

Produksi rendah

Pendapatan rendah

Pendapatan per kapita

(34)

keterbatasan yang amat parah dalam hal modal dan keterampilan. Kekurangan modal untuk investasi disebabkan oleh tabungan masyarakat yang rendah. Tabungan masyarakat yang rendah adalah akibat dari pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan cermin dari tingkat produktivitas yang rendah. Sedang produktivitas yang rendah adalah akibat dari rendahnya keterampilan dan kekurangan modal. Rendahnya keterampilan menyebabkan rendahnya kualitas maupun kuantitas hasil produksi. Kurangnya modal untuk investasi menyebabkan tak dapatnya diusahakan pertumbuhan ekonomi.

Dalam hubungannya dengan upaya pembangunan, maka upaya pengentasan kemiskinan suatu masyarakat atan bangsa memiliki aspek-aspek strategis yang menjadi faktor penentu dalum membangun dirinya- Menurut Mokodompit (1987:9) ada 5 aspek kualitas yang menjadi faktor andalan strategis pembangunan suatu bangsa yaitu : (1) kualitas sumber daya manusia; (2) kualitas sumber daya alam; (3) kualitas sumber daya budaya; (4) kualitas sumber daya modal/dana; dan (5) kualitas sumber daya lembaga institusi/ pranata sosial.

Gambar 1.2. Posisi Kualitas Sumber Daya Pembangunan

Sumber : Diadaptasi dari Mokodompit, (1987 : 10)

Dari kelima sumber daya tersebut, faktor manusia menempati "posisi sentral dan berfungsi sebagai "motor pengelola" keempat sumber daya yang lain, dan kualitas sumber daya nanusia tidak dapat digantikan oleh keempat sumber daya lainnya, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Dari gambar 1.2 tersebut, menunjukkan betapapun tersedianya sumber daya alam (faktor ke-2); perencanaan dan program pembangunan sebagai perwujudan budaya dan pola pikir (faktor ke-3); seperangkat peraturan perundang-undangan sebagai produk institusi / kelembagaan yang cukup

1. manusia

2 alam 3 budaya

4 lembaga/pranata sosial

(35)

baik (faktor 4), dan permodalan / dana yang cukup tersedia (faktor ke-5), namun jika ditangani oleh kuallitas sumber daya nanusia yang rendah (faktor ke-1), maka hasil pembangunan yang diperoleh juga akan rendah kualitasnya.

Fenomena kemiskinan pada umumnya, termasuk di desa penelitian, adalah suatu fakta sosial yang bersifat eksternal. Dengan menggunakan metode sosiologi Durkheim, maka memahami kemiskinan sebagai fakta sosial yang bersifat eksternal harus dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial lainnya. Karena "sebab" yang menentukan dari suatu fakta sosial harus dicari di antara fakta sosial lainnya yang mendahuluinya (Johnson, 1988 : 179-180). Dengan mengacu pemikiran di atas, maka kemiskinan pedesaan pada hakekatnya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga merupakan akumulasi dari hal-hal negatif ke dalam gejala individu seperti kemauan, kesadaran, motivasi yang rendah dan lain-lain sebagai faktor internal dari masyarakat itu sendiri. Ketiadaan infrastruktur berupa prasarana dan sarana sosial ekonomi adalah sebagai faktor eksternal dari kebijaksanaan pemerintah. Sedangkan ketidak-berdayaan (powerlessness) masyarakat desa dalam melakukan penyesuaian diri (adjustment) untuk mengaktualisasikan dirinya terhadap perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan yang terjadi pada zamannya, juga termasuk faktor internal yang mempengaruhi terjadinya kemiskinan.

1.4.5.

Studi - Studi Relevan

(1)

Distribusi Pemilikan Tanah dan Kemis kinan

Kecuali studi Boeke dan Geertz yang disebut di muka, terdapat juga studi-studi lain yang dilakukan di pedesaan Jawa oleh beberapa ilmuwan sosial, misalnya, Yujiro Hayani dan Masao Kikuchi; Hiroyoshi Kano; dan SDP - SAE (1984) mengungkapkan bahwa, struktur agraris di pedesaan Jawa ditandai oleh ketimpangan distribusi penguasaan tanah yang cukup tajam. Hal ini memberi kesan seolah-olah di pedesaan Jawa terjadi suatu polarisasi ekonomi, dengan kecenderungan pengelompokan masyarakat menjadi dua golongan yakni “golongan kaya" dan "golongan miskin", sebagai akibat dari ketimpangan distribusi lahan pertanian.

(36)

adalah disebut sebagai "kemiskinan struktural". Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa, pada umumnya jarak ekonomi antar golongan sosial adalah sebanding dengan jarak sosial antar-mereka. Artinya, jika di dalam masyarakat terjadi suatu polarisasi ekonomi maka sangat berpotensi akan terjadi juga polarisasi sosial. Demikian juga pendapat Lyon dan Siahaan dalam Tjondronegoro (1984) mengatakan bahwa polarisasi ekonomi akan menimbulkan polarisasi sosial.

Mengenai hal yang disebut terakhir, masih terdapat perbedaan pendapat para ilmuwan sosial, misalnya Hayami d a n Kikuchi (1981); Geertz (1983); serta Penny d a n Ginting (1984) yang masing-masing melakukan studi di daerah pedesaan Jawa berkesimpulan bahwa, polarisasi ekonomi di pedesaan Jawa tidaklah menimbulkan polarisasi sosial.

Sementara untuk studi mengenai pola distribusi pemilikan tanah ditunjukkan oleh Soentoro (1981) dalam penelitiannya yang dilakukan di dua desa di Jawa Timur, bahwa distribusi dalam hal pemilikan tanah dewasa ini terjadi sangat tajam, baik di desa yang masih mengakui "hak milik" atas tanah berdasarkan "hukum adat" maupun di desa yang tidak mengakui lagi hak milik semacam itu. Ketimpangan pemilikan tanah yang terjadi di dua desa tersebut merupakan akibat dari adanya proses pemusatan pemilikan tanah melalui cara jual beli.

(2)

Ciri-Ciri Kemiskinan

Dari hasil studi Gunnar Myrdall (1980) yang dilakukan di negara-negara sedang berkembang mengemukakan ciri-ciri kemiskinan bahwa : (a) pada umumnya mereka tidak memiliki faktor produksi kecuali hanya sedikit, seperti tanah, modal ataupun keterampilan; (b) mereka pada umumnya tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri; (c) tingkat pendidikan mereka pada umumnya rendah, yaitu antara “tamat" dan "tidak tamat" sekolah dasar (SD).

(37)

kemiskinan pedesaan ditunjukkan oleh Boeke bahwa "kehausan masyarakat petani terhadap kredit”, hal ini merupakan indikator yang cukup nyata dalam kehidupan di pedesaan. Kesulitan petani memperoleh kredit untuk modal kerja, menyebabkan mereka tidak berpeluang untuk menggarap lahan pertanian yang tersedia.

(3)

P ol a da n S t at u s P e mi l ikan Tanah

Pada mulanya, di masa pemerintahan kerajaan-kerajaan di Indonesia, pola status pemilikan dan penguasaan tanah khususnya di daerah pedesaan tidaklah begitu jelas. Pada umunnya studi-studi historis menyangkut pertanahan hanya terfokus pada kehidupan istana, -- bukan pada konteks masyarakat pedesaan. Demikian juga beberapa studi mengenai "pertanahan" di Indonesia pada masa pemerintahan kolonial, umumnya tidak melihat pola pemilikan dan penguasaan tanah dalam konteks pedesaan, akan tetapi lebih menekankan pada kebijaksanaan pemerintah dilihat dari segi keuntungan pemerintah jajahan, atau secara abstrak untuk kesejahteraan pribumi. Salah satu petunjuk tentang peraturan penguasaan tanah, baik secara "internal desa" maupun secara "kolektif”, meski tidak begitu jelas, adalah pada masa kerajaan Majapahit, seperti yang ditulis Van Setten van der Meer, yang diterjemahkan sebagai berikut :

"'Hak penguasaan perorangan diberlakukan terhadap seorang petani pionir, apabila ia sudah membuka tanah baru, maka ia diberi waktu tiga tahun untuk membangun dan memetak sawah sebelum dikenakan sebagai wajib pajak. Pembukaan tanah dan pencetakkan sawah yang dilakukan oleh beberapa orang petani bersama-sama menjadikan tanah tersebut "milik gabungan". Jikalau seluruh penduduk desa bekerja bersama-sama membuka tanah bagi kepentingan semua orang, maka tanah tersebut menjadi milik kolektif sebagai sawah desa" (Gunawan Wiradi, 1986:9).

(38)

masyarakat desa". Dengan bentuk ini seorang warga desa dapat menggunakan terus-menerus sebidang tanah yang cukup luas untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. la pula dapat diperkenankan melimpahkan sebidang tanah tersebut kepada ahli warisnya untuk dimanfaatkan. Dengan demikian pemilikan pribadi di bawah pengawasan komunal pada zaman dulu berlaku secara umum. Akibatnya kemudian muncul sangat menonjol sistem pemilikan atas tanah dengan status hak-hak pribadi, dan telah mengakibatkan sistem pengawasan komunal semakin lemah (Sediono MP. Tjondroneoro dan Gunawan Wiradi, 1984 : 1 4 6 ).

Menurut Robert R. Jay (1956), bahwa sebuah studi kasus di Jawa Tengah tahun 1953 telah menunjukkan adanya dua bentuk pemilikan tanah, yakni; (1) bentuk pemilikan tanah bebas perorangan, di mana hak ulayat masyarakat desa tidak lagi berlaku atasnya; (2) penggarapan tanah yang dikuasai secara komunal dengan hak ulayat masyarakat desa yang terbatas; -- kedua bentuk pemilikan tanah tersebut dapat diwariskan (Sediono PIP. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi, 1984 : 149).

Walaupun sifat penguasaan tanah seseorang, termasuk yang melalui penjualan secara babas kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang dari luar desa, tetapi sistem pengawasan komunal secara tidak langsung tetap saja ada, yaitu dengan dibatasi oleh norma-norma kelompok itu sebagai gengsi tradisional. Namun kemudian setelah memasuki masa pendudukan Jepang di Jawa, dan zaman revolusi tepatnya di sekitar tahun 1949, norma-narma tersebut mulai melemah, dan sebaliknya meningkat sistem pemilikan tanah secara perorangan.

Pada dua dasawarsa terakhir masyarakat di pedesaan Jawa telah mengalami perubahan-perubahan struktural yang sangat menentukan. Hal ini tercermin di dalam berbagai pola penguasaan tanah yang telah melemahkan sistem kelas "horizontal" tradisional di desa yang menganut sistem pemilikan tanah dan solidaritas komunal. Kini terdapat pertumbuhan yang sejalan dengan struktur "vertikal baru” tentang afiliasi perorangan dan pengawasan sosial, berdasarkan keyakinan politik dan kepentingan sosial ekonomi fungsional. Fenomena semacam ini di masyarakat pedesaan Indonesia tampaknya menjadi semakin seragam.

(39)

moyangnya pada zaman dahulu sudah bermukim di situ, memiliki tanah, rumah, dan halaman / pekarangan sempit yang ditanami dengan tanaman kebutuhan dapur, atau kebun buah-buahan, mempunyai hak dan kewajiban penuh sebagai warga desa dalam pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan komunal; (2) kelompok penduduk yang disebut indung, memiliki sebidang tanah pertanian atau rumah dan halaman, mempunyai hak dan kewajiban komunal yang terbatas; dan (3) kelompok penduduk yang disebut nusup, tlosor, atau bujang, adalah kelompok penduduk yang tidak memiliki lahan, baik tanah pertanian maupun rumah dan halaman, tetapi bertempat tinggal di halaman orang lain, bekerja sebagai penyewa atau petani bagi hasil, atau hidup menumpang dan bekerja pada pemilik rumah di mana ia tinggal (Sediono MP. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi, 1984 : 160).

1.5.

Metodologi Penelitian

1.5.1.

Tipe dan Lokasi Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka tipe peelitian ini adalah studi kasus yang bermaksud mengidentifikasi masalah-masalah sosial ekonomi di pedesaan, dan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan tanah terhadap tingkat kemiskinan penduduk serta pola distribusi kepemilikan tanah di masyarakat pedesaan, khususnya di desa penelitian,

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Hukaea Kecamatan Rumbia Kabupaten Buton (yang selanjutnya disebut desa penelitian). Pertimbangan memilih desa ini sebagai lokasi penelitian, adalah indikator desa miskin yang ditandai dengan status “penerima bantuan dana Inpres Desa Tertinggal (IDT)”. Selain itu, desa ini cukup representatif dalam memberikan gambaran tentang pola pemilikan tanah dan karakteristik dan ciri.-ciri kemiskinan masyarakat dalam agregat yang lebih luas dalam wilayah Kecamatan Rumbia.

Persyaratan desa penelitian ditetapkan dalam dua kategori, yaitu kategori lokasi dan kategori penduduk. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa alasan memilih Desa Hukaea menjadi lokasi penelitian ini, karena, orbitasi desa yang cukup mudah terjangkau, baik dari ibukota kecamatan maupun ibukota provinsi dimana tempat peneliti berdomisili, sehingga memungkinkan peneliti dapat menjangkaunya.

(40)

pertama Desa Hukaea termasuk desa miskin dengan indikator sebagai desa penerima bantuan IDT. Dalam hal kondisi desa, maka Desa Hukaea merupakan salah satu wilayah yang mencerminkan kondisi desa-desa pada level kecamatan di Rarowatu, baik geografisnya maupun masyarakatnya. Kemudian dari aspek ketersediaan data, Desa Hukaea relative memiliki administrasi desa yang lebih lengkap dibandingkan dengan desa-desa lain di kecamatan tersebut, terutama tentang potensi desa, pertanahan dan registrasi penduduk cukup lengkap, sehingga dapat mendukung keperluan data untuk penelitian ini.

Pada kategori penduduk, penelitian dilakukan terhadap para petani etnis Moronene yang merupakan penduduk asli dan mayoritas yang telah cukup lama bermukim di desa ini, sehingga mereka diharapkan mampu memberikan keterangan yang dibutuhkan dalam analisis selanjutnya. Dari hasil observasi pendahuluan dapat pula diketahui bahwa tipe petani di desa penelitian memiliki ciri homogen dalam sistem pertanian yang diusahakan.

Mengingat tipe petani yang demikian, maka sebagai sumber data primer pada tingkat penduduk, ditetapkan unsur- unsur masyarakat seperti petani lokal dari etnis Moronene, para penyuluh pertanian, petugas kesehatan, guru-guru, dan tokoh masyarakat (tokoh adat, tokoh agama) serta unsur aparatur pemerintah, baik di tingkat desa maupun di tingkat kecamatan. Sebagai pelengkap informasi juga diperoleh dari beberapa petani transmigran (Jawa dan Bali) yang hidup berdampingan dengan penduduk lokal. Dari sumber-sumber itulah hasil penelitian ini dapat disusun sebagaimana laporan ini.

1.5.2.

Variabel dan Definisi Operasional

Dengan mengacu pada konsep-konsep kemiskinan yang telah dibahas sebelumnya, maka fenomena kemiskinan pedesaan dalam penelitian ini diartikan sebagai kemiskinan yang bersifat multi-dimensional, di mana kondisi sosial masyarakat bukan hanya dilihat dari ketiadaan harta yang bernilai ekonomis, tetapi juga kemiskinan dilihat dari berbagai aspek sosial budaya seperti kemiskinan dalam bidang pendidikan, teknologi, keterampilan / keahlian, kesehatan, dan keterisolasian dari jangkauan pelayanan sosial kemasyarakatan.

(41)

didefinisikan sebagai sistem kepemilikan dan atau penguasaan tanah bagi penduduk desa. Indikatornya ialah luas tanah yang dimiliki atau yang dikuasai, status kepemilikan (hak milik, hak pakai, hak sewa), sumber kepemilikan (warisan, pengolahan sendiri, pembelian, wakaf), yang diukur dengan satuan luas (hektar).

Kemiskinan pedesaan dalam studi ini meliputi pengertian dua dimensi. yaitu (1) "kemiskinan fisik desa" dalam arti ketiadaan prasarana dan sarana sosial ekonomi untuk pelayanan publik di desa; (2) kemiskinan yang dialami penduduk yang meliputi 5 (lima) dimensi kemiskinan : (a) miskin harta (property); (b) miskin pendidikan dan segala aspeknya; (c) miskin teknologi dan aspek-aspeknya; (d) miskin keterampilan dan aspek--aspeknya; serta (e) informasi (kehidupan yang terisolir).

Miskin harta (property) didefinisikan sebagai pemilikan aset (harta) yang relatif sangat kurang dan / atau akses yang rendah terhadap peredaran uang dan barang kebutuhan rumah tangga terutama pangan. Indikatornya adalah jenis kepemilikan, (luas kepemilikan tanah /penguasaan tanah), jenis makanan pokok, tipe rumah, jambanisasi, perabot rumah tangga, jenis lampu, jenis kebutuhan pakaian, jumlah ternak, sarana informasi dan hiburan, alat-alat pertanian, dan jenis kendaraan yang dimiliki.

Miskin pendidikan dimaksudkan adalah rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh para petani. Indikatornya adalah jenjang pendidikan yang pernah dialami. Demikian juga dalam hal kemiskinan informasi, adalah kurangnya kemampuan petani dalam menangkap dan menyimak berita-berita terutama menyangkut berbagai kiat petani dalam meningkatkan usaha-usaha ekonomi. Indikatornya ialah, pola pertanian yang diusahakan berorientasi pasar atau masih konsumtif. Kehidupan yang terisolasi jauh dari jangkauan informasi, merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Miskin teknolo gi, ialah keterbelakangan masyarakat dalam mengadopsi teknologi pertanian, baik menyangkut cara-cara menggunakan peralatan modern berupa alat mekanisasi pertanian maupun kemampuan dalam menjangkau sarana produksi dan obat-obatan dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi serta diversifikasi Pertanian.

(42)

usaha-usaha ekonomi lainnya. Indikatornya: di bidang pertanian ialah keahlian mengatur (manajemen usaha) yang meliputi : cara mengolah lahan, menanam, memelihara, (mengairi, memupuk, mengobati), memanen, mengelola hasil pasca panen dan memasarkan. Di bidang usaha-usaha lain, misalnya: ahli tukang kayu, beta dan lain-lain.

Hidup to risolasi, ialah keterbatasan informasi dan hubungan dengan posisi seseorang, keluarga, atau kelompok di dalam suatu spasial dan sosial yang diset oleh masyarakat di mana seseorang itu menjadi bagiannya. Secara spacial, seseorang yang mengalami isoIasi cenderung tersisih dari berbagai pusat kehidupan -- jauh dari perkotaan, hidup terpencil -- jauh dari jaringan jalan. Secara sosial, isolasi mengandung pengertian bahwa; seseorang, keluarga, atau kelompok, memiliki hubungan sosial yang terbatas, buta huruf, tidak memiliki sarana informasi, tidak banyak memiliki pengetahuan di luar lingkungan hidupnya yang paling dekat, jarang mengikuti pertemuan-pertemuan publik dan jarang menerina pelayanan dari kelembagaan yang ada.

1.5.3.

Jenis Data Penelitian

Berdasarkan konsep-konsep yang telah diuraikan sebelumnya, jenis data yang diperlukan untuk menjelaskan karakteristik pemilikan tanah dalam hubungannya kemiskinan pedesaan sebagaimana tujuan penelitian ini, maka data yang diperlukan meliputi dua kategori pokok yakni data tentang "pemilikan tanah" dan data tentang "kemiskinan pedesaan".

Pada kategori pertama, yaitu dimensi pemilikan tanah, maka data yang diperlukan adalah mengenai jumlah luas wilayah desa, jumlah kepemilikan tanah baik pada level penduduk maupun pada level desa. Pada level penduduk, data yang diperlukan meliputi pola dan status pemilikan tanah, yaitu berapa luas tanah yang dimiliki atau dikuasai masing-masing penduduk (rumah tangga). Apakah tanah tersebut adalah warisan orang tua, pengolahan sendiri, pembelian, dan atau melalui pemberian (wakaf). Sedang pada level desa, diperlukan data mengenai harta milik desa, seperti jumlah dan kondisi bangunan fisik sebagai fasilitas umum desa seperti : berapa luas tanah desa untuk prasarana perkantoran di tingkat desa, pendidikan, kesehatan, olah raga, tempat rekreasi, pasar, kebun PKK, dan tanah untuk pekuburan umum.

(43)

pendidikan dan informasi, kemiskinan teknologi, kemiskinan keterampilan, dan hidup terisolasi, dengan berbagai indikatornya sebagaimana yang diuraikan di atas.

1.5.4.

Teknik Pengumpulan Data

Semua data di tingkat desa yang dikumpulkan diperoleh melalui teknik-teknik observasi, kuesioner, dan wawancara. Teknik observasi dilakukan mulai pada saat sebelum penelitian dengan kunjungan lapangan beberapa kali sebelum menurunkan daftar pertanyaan atau kuesioner. Teknik observasi merupakan cara utama yang digunakan selama penelitian ini berlangsung di lapangan. Teknik kuesioner digunakan untuk memperoleh data, baik yang bersumber dari penduduk (data primer) maupun data sekunder tentang kondisi fisik desa dan masyarakatnya sendiri. Teknik kuesioner dengan demikian, terutama diperlukan untuk menjaring informasi individual secara terbuka dalam mengetahui kiat-kiat petani dan perrmasalahan sosial ekonomi keluarga masing-masing petani.

Teknik wawancara merupakan salah satu cara efektif yang digunakan untuk memperjelas tentang pengertian, baik terhadap jawaban-jawaban atas daftar pertanyaan maupun informasi lain-lain yang cukup penting tetapi belum dipertanyakan atau belum terjawab secara baik dan benar. Ketiga teknik yang digunakan tersebut, sifatnya saling melengkapi sehingga bias penelitian diharapkan dapat diperkecil -- kalau tidak dapat dihindari sama sekali.

Data yang diperlukan pada tingkat pemerintah desa seperti harta milik desa, jumlah penduduk, luas wilayah, jenis fasilitas umum desa, dan pemilikan tanah dan penggunaannya, diperoleh melalui data potensi desa (PODES), registrasi penduduk, buku daftar pajak bumi dan bangunan (PBB). Sementara untuk data agregat berbagai kondisi sasial ekonomi penduduk desa, terutama yang menyangkut permasalahan tanah mereka, dan kiat-kiat penanggulangannya, diperoleh secara langsung dari responden melalui ketiga teknik pengumpulan data tersebut di atas.

1.5.5 .

Pengolahan Da n Anali sis D ata

(44)

tabulasi dan teknik editing data. Dengan cara demikian, di samping data di desa penelitian, disajikan juga data untuk tingkat kecamatan. Hal ini dilakukan untuk menggambarkan keadaan populasi penelitian pada tingkat kecamatan.

Data kuantitatif dilakukan dengan teknik tabulasi dan persentase, sementara data kualitatif dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptive kualitatif, yaitu dengan menggambarkan keadaan nyata (sesuai temuan) di lapangan dan menjelaskan fenomena-fenomena sebagaimana tujuan penelitian ini.

(45)
(46)

2.1.

Letak Desa Penelitian

Seperti sudah dikemukakan dalam uraian terdahulu, desa lokasi penelitian ini terletak di wilayah Kecanatan Rumbia Kabupaten Buton Buton. Secara geografis desa tersebut berada di ujung Selatan wilayah daratan jazirah Sulawesi Tenggara. Namun secara administratif pemerintahan, wilayah Kecamatan Rumbia yang membawahi desa tersebut, masuk ke dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton Ibukota Kecamatan Rumbia terletak 167 kilometer di sebelah Selatan kota Kendari ibukota provinsi Sulawesi Tenggara, melalui Kecamatan Tinanggea

Letak desa penelitian ini berada di poros ruas jalan lingkar selatan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan kabupaten Kolaka yang berada di sebelah barat kota Kendari. Jarak desa penelitian (pusat desa) adalah masing-masing : 153 kilometer dari kota Kendari ke arah selatan, dan 14 kilometer dari Kasipute ibukota kecamatan Rumbia ke arah utara.

2.2.

Luas Wilayah Dan Jumlah Pendudu k

Menurut data statistik wilayah (Kecamatan Rumbia Dalam Angka Tahun 1995), luas wilayah Kecamatan Ruabia yang terdiri dari 20 desa mencapai kurang labih 1.000 km2 (100.000 hektar), atau kurang lebih 15.718 % dari luas wilayah Kabupaten Buton.

(47)

Tabel 2.1. Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Daerah Penelitian

Sumber: Kecamatan Rumbia dalam Angka Tahun 1995

Seperti tampak pada tabel di atas, Desa Hukaea merupakan desa yang memiliki wilayah terluas, tetapi jumlah penduduknya tergolong yang paling jarang, yaitu hanya rata-rata 5 orang per kilometer.

2 . 3 .

Mata Pencaharian

Seperti masyarakat di daerah-daerah lain pada umumnya, jenis mata pancaharian penduduk di Kecamatan Rumbia cukup bervariasi, yaitu terdiri dari petani, nelayan, pedagang kecil sampai menengah, pegawai dan guru-guru sekolah dasar (SD), demkian juga mata pencaharian di desa penelitian.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa tipe petani di desa-desa penelitian memiliki ciri homogen dalam artian mereka memiliki ciri pertaniannya yang sama, karena para petani di sini tidak dapat dikelompokkan secara tegas menurut jenis usaha tani yang ditekuninya. Pada umumnya petani di daerah penelitian ini nempunyai usaha tani (subsisten) yang beragam atau lebih dari satu jenis. Misalnya sebagai petani sawah, ia juga mengusahakan perkebunan dan berladang, berternak unggas, sapi dan kambing. Untuk usaha ternak tersebut hanya bersifat usaha sampingan. Demikian halnya, penduduk nelayan di desa Hukaea juga berusaha tani, baik tanaman pangan, perkebunan maupun ternak. Dengan ciri dan jenis usaha yang demikian, maka dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian pokok penduduk sebagian besar adalah petani, dan sebagian kecil sebagai guru Sekolah Dasar dan nelayan.

2.4.

Hubungan Transportasi

(48)

sudah dapat dikategorikan cukup lancar, di mana wilayah ini dapat dicapai melalui darat dan laut.

Seperti diketahui, daerah ini adalah bagian, dari wilayah pemerintahan Kabupaten Buton di mana dalam urusan pemerintahan lebih banyak berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah Tingkat II Buton di Bau-Bau, dan karenanya harus melalui transportasi laut yang ditempuh selama ± 12 jam. Pada kenyataannya bukan hanya urusan pemerintahan yang berhubungan dengan kota Bau-Bau tersebut tetapi juga urusan ekonomi dan pendidikan, di mana penduduk wilayah kecamatan ini lebih banyak berhubungan dengan ibukota Kabupaten Buton tersebut.

Kecuali melalui transportasi laut yang menghubungkan wilayah ini dengan kota-kota lain seperti Ujung Pandang, untuk urusan ekonomi dan pendidikan, maka hubungan transportasi darat kini cukup lancar terutama dengan daerah tujuan Kendari dan Kolaka, di mana setiap hari dilayani oleh sejumlah kendaraan umum seperti bis (DAMRI) dan mobil-mobil oplet yang ditempuh selama waktu 3,5 sampai 4 jam. Dengan demikian, kelancaran hubungan transportasi “dari dan ke” daerah ini sudah dapat dikatakan tidak masalah. Hingga saat penelitian, kondisi kenyamanan selama di perjalanan masih belum memadai, karena itu perlu adanya peningkatan secara kompetitif dari para pengusaha angkutan, baik dari kualitas sarana angkutan maupun pelayanan para konsumen. Demikian juga prasrana jalan masih perlu ditingkatkan kualitasnya.

2.5.

Hubungan Komunikasi dan Informasi

Menyangkut komunikasi dalam sistem pergaulan, masyarakat desa Hukaea pada umumnya menggunakan bahasa bahasa lokal. seperti Moronene, Bugis, dan bahasa Indonesia. Pada umumnya penduduk di sini dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia secara sederhana. Media informasi seperti radio transistor, televisi, masih sangat terbatas, dan media cetak seperti surat kabar, belum ada yang menjangkau masyarakat di desa ini.

(49)
(50)

Dalam mengungkapkan pola dan status pemilikan tanah di desa panelitian, maka terlebih dahulu akan diuraikan secara singkat situasi dan kondisi sosial serta masalah pertanahan di Kecamatan Rumbia pada masa "sebelum" dan "sesudah" pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Asal usul pemilikan tanah dan perpindahan penduduk, merupakan informasi penting yang perlu dipaparkan pada bagian ini. Pada masa pasca pemberontakan DI/TII, digambarkan tentang situasi pemukiman kembali (resettlement) penduduk di kampung halaman masing-masing, dan masalah pertanahan yang ditinggalkan penduduk.

3.1.

Asal-Usul Pemilikan Tanah Penduduk Desa

Sebagaimana dimaklumi, wilayah Kecamatan Rumbia di mana salah satu desanya dipilih sebagai desa penelitian ini, adalah bekas daerah sasaran penberontakan (DI/TII), di bawah pimpinan Letnan Kolonel (pemberontak) Kahar Muzakkar sejak awal tahun 1950-an.

Dalam kurun waktu tahun 1950 - 1957 di daerah ini seringkali senjadi sasaran teror dan perampokan, tetapi juga tidak jarang mengancam keselamatan jiwa penduduk. Untuk menghindari teror tersebut, penduduk seringkali mengungsi dari kampung satu ke kampung lain. Selama di pengungsian tersebut, penduduk terus berkebun, berladang, dengan cara tradisional dan berpindah-pindah, hingga pada puncak pemberontakan tahun 1957, tepatnya bulan Oktober yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar, dengan merebut desa Taubonto (pusat pemerintahan distrik), yang terletak 17 kilometer sebelah barat Kasipute, dan "membumihanguskan" seluruh kampung di wilayah distrik saat itu (Harvey, 1988 288). Akhirnya penduduk mengungsi ke Kasipute (ibukota Kecamatan Rumbia saat penelitian ini).

(51)

Selama di Kasipute dan di kampung-kampung permukiman tersebut, penduduk terus berkebun, berladang dan sebagian mulai bersawah. Dengan pola pertanian dan hidup berpindah-pindah tersebut, maka masyarakat Moronene pada umumnya termasuk penduduk desa Hukaea, mempunyai tanah bekas tapak pekarangan serta kebun atau sawah di beberapa tempat di Kasipute dan sekitarnya, yang menurut adat istiadat diakui keberadaannya. Atas dasar historis pengolahan dan perkampungan lama tersebut kemudian menjadi bukti bagi penduduk lama (para ahli waris) untuk mengakui tanah-tanah tersebut sebagai miliknya saat ini.

3.2.

Resettlement dan Masalah Pertanahan

Kebijaksanaan pemerintah dalam memukimkan kembali (resettlement) penduduk tersebut, telah mendukung pemekaran wilayah Pedesaan yang berdampak positif bagi penduduk pada umumnya, tetapi juga telah menyebabkan munculnya banyak permasalahan/sengketa tanah di Kecamatan Rumbia, termasuk di desa ini.

Munculnya masalah pertanahan tersebut berawal dari kebijaksanaan pemerintah dalam memukimkan kembali penduduk ke kampungnya masing-masing, tanpa adanya pengaturan yang menjamin hak-hak penduduk seperti tanah-tanah yang mereka tinggalkan di Kasipute dan sekitarnya. Menurut penuturan sumber, memang diakui bahwa pada tahun-tahun pertama, ketika mereka baru meninggalkan Kasipute, oleh camat setempat dengan paksa mengklaim tanah-tanah rakyat yang baru ditinggalkan itu sebagai dikuasai oleh pemerintah lokal, dan kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk baru yang datang dari Sulawesi Selatan dengan berbagai cara, ada yang secara cuma-cuma, tetapi ada juga dengan cara jual beli, walau bukan lagi pada orang pertama (penduduk lama) yang bersangkutan.

(52)

Karena ketidakberdayaan masyarakat lapisan bawah menghadapi pemerintah, maka kebanyakan dari mereka telah kehilangan tanah dan hak-haknya yang lain. Dengan klaim pemerintah sedemikian, secara ekonomi penduduk lama telah dirugikan, yang juga berarti hilangnya permodalam mereka untuk usaba-usaha pertanian selanjutnya. Akibat dari tindakan pemerintah seperti itu, secara tidak langsung telah ikut memberi andil dalam proses pemiskinan bagi sebagian besar penduduk saat ini. Dampak lain dari tindakan perampasan tanah-tanah penduduk tersebut, telah menanamkan benih-benih konflik di kalangan penduduk setempat, bahkan tidak jarang bentrok fisik yang pernah terjadi ada kaitannya dengan konflik terselubung yang bersumber dari masalah tanah. Keadaan seperti itu sering diperparah oleh cara-cara oknum aparat pemerintah atau pihak berwajib dalam menyelesaikan masalah antar penduduk yang terkesan berpihak. Dengan keberpihakan seperti itu telah mendorong pendatang baru terutama bagi kelompok pemuda yang cenderung memperlihatkan sifat arogansi yang sungguh-sungguh tidak disukai oleh penduduk lama.

Praktek-praktek keberpihakan dan diskriminasi seperti itu yang berlangsung sejak akhir periode tahun 1960-an telah menempatkan penduduk asli pada posisi marginal atau pinggiran (periphery) yang tak berdaya (powerless) di hadapan penguasa lokal. Keadaan seperti itu telah menciptakan suasana kecemburuan sosial, dan perasaan "antipati" antara kedua kelompok etnis di wilayah ini, dan karenanya sebagian dari penduduk lama masih mempunyai sikap apriori terselubung terhadap pemerintah yang memihak itu hingga sekarang (wawancara Desember 1996).

Hasil observasi cukup menjadi indikator yang aktual bahwa, mayoritas penduduk Moronene yang dahulu mendiami wilayah ibukota kecamatan di sepanjang 6 km yang merupakan wilayah persawahan sangat potensial dan sangat strategis itu, kini sudah digantikan oleh orang-orang Bugis. Keadaan seperti ini, disadari atau tidak disadari, sekali lagi telah menjadi salah satu sebab awal dari kondisi kemiskinan yang dialami sebagian penduduk lama dewasa ini.

3.3.

Profil Desa di Bidang Pertanahan

Gambar

Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Sulawesi Tenggara
Tabel 1.2. Klasifikasi Kemiskinan Menurut Bank Dunia
Gambar 1.1. Siklus Kemiskinan Model Malasis
Gambar 1.2. Posisi Kualitas Sumber Daya Pembangunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menggunakan ontologi yang sudah ada dapat diimport kedalam ontologi yang sedang dikembangkan.Dalam pembuatan aplikasi bibliografi pada sistem perpustakaan ini, diasumsikan

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Sesuai harapan Valid 5 Mengisi nama perusahaan, alamat, kontak personal, notelepon, tapi email, password, website, logo perusahaan tidak diisi kemudian klik

Penelitian Donri Toni (2006) tentang Persepsi Auditor yang Bekerja Di Kantor Akuntan Publik yang Berafiliasi dan Non – Afiliasi terhadap Efektivitas Metode – Metode

Sedangkan sistem drainase adalah serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/ atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan

Proyeksi PUS dimaksudkan untuk mengetahui jumlah penduduk usia sekolah dalam suatu kawasan, yang digunakan sebagai data dasar dalam menghitung kebutuhan ruang belajar atau

Partisipasi anggota dan pelayanan kredit berpengaruh secara simultan terhadap keberhasilan usaha Koperasi Unit Nagari (KUN) Talago II sebesar 36,7% dan sisanya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Pemerintah Kabupaten Kendal dalam menyelenggarakan pendidikan non formal sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya