• Tidak ada hasil yang ditemukan

Critical Review Kajian Perkembangan Perm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Critical Review Kajian Perkembangan Perm"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Critical Review Jurnal

͞

Kajian Perkembangan Permukiman Wilayah Peri Urban di Sebagian Wilayah

Kabupaten Sukoharjo Tahun 2001-2007

͟

(Disusun oleh : Virta Ihsanul Mustika Jati dan Joko Christanto)

A. Pendahuluan

Perkembangan suatu wilayah, ditandai dengan adanya perkembangan kota-kota

sebagai pusat konsentrasi penduduk dari segala aktivitas kegiatan. Menurut Charles Colby

(1993), mengemukakan bahwa dari waktu ke waktu kota berkembang secara dinamis dan

demikian pula pola penggunaan lahannya. Perkembangan ruang merupakan manifestasi

spasial dari pertambahan penduduk sebagai akibat dari meningkatnya proses urbanisasi

maupun proses alamiah, yang kemudian mendorong terjadinya peningkatan pemanfaatan

ruang serta perubahan fungsi lahan. Dikatakan oleh Yunus (1999:125) bahwa, oleh karena

ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan terbatas, maka secara alamiah terjadi pemilihan

alternatif dalam memenuhi kebutuhan ruang untuk tempat tinggal dan kedudukan

fungsi-fungsi selalu akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota (peri urban).

Salah satu wilayah peri urban yang terkena dampak dari pekembangan kota di

sekitarnya adalah sebagian Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Sukoharjo merupakan salah

satu kabupaten yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini terkena dampak dari

Kota Surakarta yang berada di bagian utara Kabupaten Sukoharjo tersebut. Dimana terjadi

interaksi antar wilayah peri urban dan urban, yang didominasi oleh besarnya pengaruh

wilayah urban tersebut terhadap daerah pinggirannya. Wilayah yang terkena dampak dari

Kota Surakarta antara lain Kecamatan Sukoharjo, Baki, Grogol dan Sukoharjo. Wilayah

tersebut dapat diteliti perkembangan permukimannya melalui salah satu teorilokasi yaitu

model gravitasi. Model ini digunakan untuk mengukur interaksi atau daya tarik suatu wilayah

terhadap wilayah lain. Oleh karena itu perlu adanya kajian terhadap perkembangan

permukiman di sebagian wilayah Kabupaten Sukoharjo khususnya dari tahun 2001-2007.

B. Konsep Dasar Teori Lokasi

Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang kegiatan

ekonomi. Selain itu juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara geografis dari

(2)

macam usaha atau kegiatan lain. Dalam jurnal berikut teori lokasi yang dipakai adalah

model gravitasi.

Model gravitasi merupakan perkembangan dari teori gravitasi oleh Isaac Newton.

Model ini dikembangkan oleh Hansen (1959). Model gravitasi adalah model yang paling

banyak digunakan untuk daya tarik suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. Model ini

sering melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi

tersebut. Konsep dasar dari analisis gravitasi adalah membahas mengenai ukuran dan jarak

antara pusat pertumbuhan dengan daerah sekitarnya. Menurut Blakely (1994: 105) bahwa

penggunaan teknik ini akan dapat menghitung kekuatan relatif dari hubungan komersial

antara pusat pertumbuhan yang satu dengan pusat pertumbuhan yang lainnya (Warpani,

1984: 111).

Rumus model gravitasi yaitu :

Keterangan :

I12 = interaksi (gaya tarik) antara wilayah 1 dan wilayah 2

P1 = jumlah penduduk wilayah 1

P2 = jumlah penduduk wilayah 2

= konstanta

J12 = jarak antara wilayah 1 dan 2

Dalam model ini, daerah dianggap sebagai suatu massa. Hubungan antar daerah

disamakan dengan hubungan antar massa. Massa wilayah juga mempunyai daya tarik,

sehingga terjadi pengaruh mempengaruhi antar daerah sebagai perwujudan kekuatan

tarik-menarik antar daerah. Karena kenyataan ini maka model gravitasi dapat diterapkan sebagai

salah satu model analisis. Sudah barang tentu dengan modifikasi tertentu sesuai dengan

karakter massa yang dihadapi. Model gravitasi diambil dari konsepsi fisika yang

menyatakan daya tarik-menarik antar dua kutub magnet. Dalam analisis daerah,

pengelompokan penduduk, pemusatan kegiatan, atau potensi sumberdaya alam, dianggap

mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan dengan daya tarik magnet.

Analisis model gravitasi ini masih berkaitan dengan analisis scalogram, setelah diketahui kota kecamatan yang dapat dikategorikan sebagai pusat pertumbuhan maka

I

12

=

�� �

(3)

langkah selanjutnya adalah menghitung indeks gravitasi pada masing-masing hinterland. Metode analisis model gravitasi ini digunakan untuk: (1) mengukur kekuatan keterkaitan

antara sentra komoditi dengan pusat pengembangan wilayah; (2) menentukan kekuatan

tempat kedudukan dari setiap pusat kegiatan ekonomi, produksi dan distribusi

(sentra-sentra komoditi) dalam sistem jaringan jasa, distribusi dan transportasi.

C. Alasan Pemilihan Lokasi

Bila melihat kembali pembahasan teori model gravitasi di atas, hal yang

dititikberatkan dalam teori tersebut yaitu adanya interaksi antara wilayah satu dengan

lainnya. Dalam jurnal yang diresensi ini, peneliti melakukan penelitian terhadap sebagian

wilayah di Kabupaten Sukoharjo dari tahun 2001-2007 atau dalam rentang waktu enam

tahun.

Gambar 1. Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah

Sumber : id.wikipedia.org

Kabupaten Sukoharjo merupakan kabupaten yang berada di propinsi Jawa Tengah.

Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surakarta di utara, Kabupaten Karanganyar di timur,

Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunung Kidul di selatan, serta Kabupaten Klaten di

barat. Dalam batas kota ini peneliti membandingkan dampak keberadaan Kota Surakarta

terhadap sebagian wilayah Kabupaten Sukoharjo dikarenakan hanya Surakarta yang

merupakan daerah urban sedangkan Kabupaten Sukoharjo merupakan wilayah peri urban.

Wilayah peri urban merupakan daerah peralihan dari wilayah kota dan wilayah desa

yang memiliki karakteristik berbeda. Daerah ini terbentuk karena adanya perembetan dan

perkembangan dari kota inti. Perkembangan ini akan semakin besar jika interaksi antar kota

inti dengan wilayah peri urban juga semakin besar.

Sebagian Kabupaten Sukoharjo yang menjadi sampel lokasi penelitian yaitu

Kecamatan Kartosuro, Grogol, Baki dan Sukoharjo. Lokasi yang dipilih peneliti ini terkena

(4)

Surakarta dilihat dari arah perkembangan Kabupaten Sukoharjo yang memadati jalan

propinsi dari selatan menuju ke utara (Kota Surakarta). Kedua wilayah ini sudah lama

mengalami complementarity dalam pertukaran barang dan jasa.

Interaksi keruangan yang terbentuk antara Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta

mengalami perkembangan permukiman yang cukup pesat. Kecamatan yang berada di

sekitar Surakarta dan Sukoharjo diasumsikan merupakan penyangga aktivitas dari kedua

wilayah ini. Keberadaan perumahan baru dalam skala besar menunjukkan bahwa

kecamatan disekitar Surakarta dan Sukoharjo merupakan wilayah peri urban yang cukup

dinamis.

Hal ini terbukti bahwa teori model gravitasi yang dipakai peneliti dalam penelitian

memiliki kecocokan atau hubungan dengan lokasi penelitian yang dipilih. Dimana adanya

interaksi keruangan antara wilayah satu dengan lainnya yaitu daerah peri urban yang

mendapat pengaruh dari kota inti (Kota Surakarta).

D. Faktor-faktor Lokasi

Dalam teori model gravitasi terdapat variabel-variabel yang mempengaruhi teori

tersebut. Berikut merupakan faktor-faktor lokasi yang terdapat dalam jurnal “Kajian Perkembangan Permukiman Wilayah Peri Urban di Sebagian Wilayah Kabupaten Sukoharjo

Tahun 2001-2007”. 1. Jarak

Model gravitasi menggunakan jarak antar pusat wilayah sebagai tolak ukur

interaksi antar wilayah. Variabel jarak ini juga digunakan dalam rumus gravita untuk

mengetahui intraksi atau daya tarik suatu wilayah terhadap wilayah lainnya.

Sebagian wilayah Kabupaten Sukoharjo yang menjadi pusat penelitian meliputi

Kecamatan Kartosuro, Grogol, Baki dan Sukoharjo. Tiap kecamatan tersebut

memiliki pusat wilayah. Misalnya untuk mengetahui jarak antara Kecamatan Baki

menuju Kecamatan Grogol, harus ditentukan dulu pusat wilayah di kedua kecamatan

tersebut, Yang kemudian di tarik garis untuk mengukur berapa jarak dari Kecamatan

Baki ke Kecamatan Grogol, dan seterusnya.

2. Jumlah penduduk

Disamping jarak antar pusat wilayah, model gravitasi ini juga menggunakan

(5)

penduduk berbanding lurus dengan interaksi antar wilayah. Semakin besar jumlah

penduduk di suatu wilayah, maka semakin besar pula interaksi wilayah tersebut

dengan wilayah lainnya, dan sebaliknya.

Tabel 1. Jumlah Penduduk di Sebagian Wilayah Sukoharjo Tahun 2007

Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)

Baki 51.513

Grogol 99.989

Kartosuro 88.348

Sukoharjo 83.224

Total 323.074

Sumber : Analisis peneliti, 2007

3. Interaksi antar wilayah

Interaksi wilayah adalah hubungan timbal balik antara dua wilayah yang

menimbulkan aktivitas baru. Wilayah-wilayah yang saling berinteraksi akan

membentuk lingkaran-lingkaran konsentris yang disebut dengan zona interaksi.

Urutan zona interaksi menurut R. Bintarto dari pusat lingkaran ke arah

lingkuran-lingkaran luar adalah sebagai berikut:

1. City = pusat kegiatan kota

2. Suburban = tempat tinggal para penglaju

3. Suburban fringe = wilayah peralihan dari kota dengan desa 4. Urban fringe = wilayah terluar dari kota

5. Rural urban fringe = wilayah dengan penggunaan lahan campuran 6. Rural = wilayah pedesaan

Dari urutan zona interaksi tersebut, interaksi terjadi di antara sebagian

Kabupaten Sukoharjo (suburban fringe) dengan Kota Surakarta (city). Menurut

Ullman (1980), ada tiga faktor yang mempengaruhi interaksi wilayah, yaitu :

1. Complementarity, yaitu interaksi antar wilayah yang dipengaruhi adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi.

2. Intervening Opportunity, yaitu adanya faktor yang menghambat interaksi antar wilayah,sehingga harus diisi wilayahlain untuk memenuhi

kebutuhannya.

(6)

Hubungan interaksi antar Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta yaitu adanya

proses complementarity dalam pertukaran barang dan jasa dikarenakan adanya akses jalan yang baik sehingga mendukung interaksi antar kedua wilayah tersebut.

4. Perembetan kota

Perembetan kota adalah akibat dari keterbatasan ruang dalam mewadahi

pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Dalam jurnal ini, dibahas adanya

perembetan dari wilayah kota ke wilayah peri urban atau biasa disebut dengan urban

sprawl.

Adapun macam urban sprawl menurut Yunus (2000), antara lain :

a. Perembetan memanjang, tipe ini menunjukkan ketidakmerataan perembetan

areal perkotaan di semua bagian sisi luar daripada daerah kota utama.

b. Perembetan konsentris, tipe perembetan paling lambat, berjalan

perlahan-lahan terbatas pada semua bagian-bagian luar kenampakkan fisik kota yang

sudah ada sehingga akan membentuk suatu kenampakan morfologi kota

yang kompak.

c. Perembetan meloncat, tipe ini dianggap paling merugikan oleh kebanyakan

pakar lingkungan, tidak efisien dan tidak menarik.

5. Perkembangan permukiman

Dengan melihat perkembangan permukiman di empat kecamatan Kabupaten

Sukoharjo (Kartosuro, Baki, Grogol, Sukoharjo) pada periode 2001-2007, akan dapat

menginterpretasikan seberapa besar pengaruh Kota Surakarta terhadap

perkembangan permukiman yang terjadi pada wilayah tersebut.

E. Implikasi Teori terhadap Lokasi yang dipilih

Adanya interaksi keruangan yang mempengaruhi perkembangan permukiman antar

wilayah kecamatan dengan kecamatan di Kabupaten Sukoharjo maupun pengaruh dari

Kota Surakarta antara tahun 2001-2007 dapat dibahas sebagai berikut.

a) Perubahan karakteristik permukiman

Perkembangan permukiman di Kabupaten Sukoharjo cenderung mengikuti jalan

(7)

Tabel 2. Perubahan Karakteristik permukiman

Sumber : Analisis peneliti, tahun 2007

Dari tabel di atas dapat dideskripsikan sebagai berikut.

1. Kecamatan Baki

Baki merupakan kecamatan dalam SWP II dengan pusat wilayah pengembang

Kecamatan Grogol. Pada tahun 2001 hingga 2007, kondisi kekotaannya cukup

terbangun dengan kepadatan sedang. Permukimannya di Baki terlihat menyebar

pada tahun 2001, tetapi pada tahun 2007 pola permukiman yang terbentuk adalah

linier. Hal ini dikarenakan munculnya permukiman yang mengelompok di sekitar

perbatasan dengan Grogol dan Kartosuro.

2. Kecamatan Grogol

Grogol adalah pusat SWP II yang dimana difokuskan sebagai wilayah

pengembangan permukiman skala besar dan menengah. Lokasinya yang terletak di

antara Kodya Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo, mengakibatkan timbulnya

pengaruh yang sangat besar dari kedua wilayah tersebut. Sehingga pada tahun

2007 munculnya permukiman baru yang terkonsentrasi di bagian utara Grogol

dimana merupakan kawasan Surakarta baru.

3. Kecamatan Kartosuro

Kartosuro merupakan wilayah SWP I yang salah satu fungsinya yaitu pusat

orientasi perdagangan tingkat kecamatan, kabupaten dan regional. Posisinya yang

berada dalam segitiga emas perdagangan (Yogyakarta, Surakarta, Semarang)

menjadikan wilayah ini intervening opportunity dari interaksi tersebut. Dalam hal ini peran transportasi sangat besar dan mengakibatkan terbentuknya pola permukiman

linier.

4. Kecamatan Sukoharjo

Sukoharjo merupakan wilayah SWP IV yang salah satu fungsinya sebagai pusat

pemerintahan kabupaten. Jarak Sukoharjo yang tidak terlalu berdekatan dengan

Kecamatan Persentase

permukiman

Klasifikasi kepadatan Pola permukiman

2001 2007 2001 2007 2001 2007 Sukoharjo 33% 34% Sedang Sedang Linier Linier Kartosuro 52% 60% Sedang Tinggi Linier Linier

(8)

Surakarta berdampak pada perkembangan Sukoharjo yang tidak begitu besar dan

pola permukiman yang tidak berubah.

Berikut merupakan perubahan lahan permukiman Kabupaten Sukoharjo dari tahun

2001-2007.

Tabel 3. Perubahan luas lahan permukiman Kabupaten Sukoharjo tahun 2001-2007

Nama Kecamatan

Luas Permukiman (m2)

Pertambahan/ th %/tahun

2001 2007

Baki 7.919.885,20 8.973.935,36 131.756,27 1,6

Grogol 11.020.912,00 14.081.521,15 382.576,14 3,5

Kartosuro 10.944.389,00 12.678.014,54 216.703,19 2,0

Sukoharjo 16.608.097,00 16.684.098,98 9.500,23 0,1 Sumber : Analisis peneliti, tahun 2007

Dari tabel tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah yang mengalami

pertambahan lahan paling banyak adalah Kecamatan Grogol dan yang paling sedikit

adalah Kecamatan Sukoharjo. Berarti Kecamatan Grogol akan lebih bercirikan kekotaan

di bandingkan Kecamatan Sukoharjo sebagai pusat pemerintahan tingkat kabupaten.

Perkembangan Kecamatan Baki juga melebihi Kecamatan Sukoharjo, padahal Baki

merupakan kecamatan kecil yang tidak memiliki obyek penarik kegiatan. Kemungkinan

besar wilayah ini akan terkena dampak perembetan kota dari perkembangan

permukiman di Kecamatan Grogoldan Kartosuro.

b) Interaksi antar wilayah penelitian

Hal lain yang dapat menentukan perkembangan suatu wilayah adalah interaksi

wilayah satu dengan wilayah sekitarnya. Untuk mengukur seberapa besar interaksi yang

terjadi, dapat digunakan model gravitasi. Model gravitasi memakai jarak antar pusat

(9)

Tabel 3. Hasil perhitungan Model Gravitasi

Sumber : Analisis peneliti, tahun 2007

karena merupakan pusat pemerintahan kabupaten. Interaksi karena fungsi wilayah pun

akan sangat berpengaruh pada nilai interaksi yang nyata selain yang berpotensi.

Interaksi potensial paling rendah adalah antara wilayah Kecamatan Sukoharjo

dan Kartosuro. Hal ini dikarenakan jarak yang terlalu jauh sehingga untuk mengadakan

interaksi dibutuhkan gaya pendorong dan penarik yang kuat.

F. Kritik terhadap Model Gravitasi

Model gravitasi yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kekurangan.

Kekurangannya terletak pada perhitungan jarak antar pusat yang dihitung dengan garis

lurus. Padahal untuk melakukan suatu interaksi antar wilayah sarana yang digunakan

adalah jalan, bukan garis maya. Sehingga nilai interaksi potensial dinilai kurang nyata. Hal

ini dikarenakan ketersediaan data jaringan jalan yang kurang baik sehingga dinilai kurang Interaksi Antar Wilayah Jarak (m) Gravitasi

Kartosuro-Sukoharjo 15770 30

Baki-Sukoharjo 9000 53

Kartosuro-Grogol 10227 84

Kartosuro-Baki 6781 99

Grogol-Sukoharjo 7643 142

Baki-Grogol 4331 275

Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa, interaksi potensial tersebar adalah antara Kecamatan Baki dengan Kecamatan Grogol. Hal ini dikarenakan lokasi yang berdekatan dan jumlah penduduk yang tinggi, kedua wilayah ini dapat berkembang dengan pesat. Selain itu didukung dengan sebaran permukiman Kecamatan Grogol yang merembet hingga ke Kecamatan Baki.

Sedangkan interaksi potensial tertinggi kedua yaitu antara Kecamatan Grogol dengan Kecamatan Sukoharjo. Hal ini diakibatkan jumlah penduduk kedua wilayah tinggi dan Sukoharjo memiliki gaya penarik yang besar

(10)

G. Lesson Learned

Berikut merupakan lesson learned yang didapat dari pembahasan di atas, antara lain :

1. Perkembangan suatu wilayah dari tahun ke tahun terjadi secara dinamis mengakibatkan

ketersediaan ruang yang semakin terbatas yang dapat menyebabkan perembetan kota

terutama dari kota inti ke daerah pinggiran (peri urban).

2. Kabupaten Sukoharjo (khususnya Kecamatan Baki, Grogol, Kartosuro dan Sukoharjo)

merupakan salah satu wilayah peri urban yang terkena pengaruh dari Kota Surakarta

karena adanya interaksi antar kota inti dengan peri urban. Interaksi yang terjadi adalah

proses complementarity dalam pertukaran barang dan jasa.

3. Untuk mengetahui seberapa besar interaksi antar wilayah tersebut dapat menggunakan

model gravitasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi model gravitasi dalam penelitian ini

meliputi jarak pusat wilayah satu dengan lainnya, jumlah penduduk, interaksi antar

wilayah, perembetan kota dan perkembangan permukiman.

4. Dalam perhitungan model gravitasi, faktor jarak berbanding terbalik dengan jumlah

penduduk. Semakin dekat jarak antar wilayah satu dengan lainnya maka semakin tinggi

interaksi yang dihasilkan dan sebaliknya.

5. Interaksi antar wilayah yang paling besar terjadi antara Kecamatan Baki dan Kecamatan

Grogol dikarenakan wilayah yang berdekatan dengan jumlah penduduk yang tinggi

mengakibatkan adanya daya tarik antar wilayah. Daya tarik tersebut dapat berupa

perkembangan permukiman di Kecamatan Grogol yang merembet ke Kecamatan Baki

dikarenakan luas lahan di Kecamatan Grogol yang semakin berkurang.

Daftar Pustaka

Purnomo, Donny . ”Teori Gravitasi untuk Mengukur Interaksi Keruangan”. 18 Maret 2015.

http://pinterdw.blogspot.com/2012/01/teori-gravitasi-untuk-mengukur.html.

Isnawi, Munira . “Model Gravitasi Wilayah”. 18 Maret 2015. https://www.scribd.com/doc/ 77422265/Model-GRAVITASI-an-Wilayah.

Hansen, W.G. (1959). How Accessibility Shapes Land Use. Journal of the American Institute of

Planners,25, 73-76.

Rodrigue, Jean-Paul (2006).The Geography Of Transport Systems. NewYork: Routledge.

Ullman, Edward (1980). Geography As Spatial Interaction. Washington: University of

Washington Press.

Gambar

Gambar 1. Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Sebagian Wilayah Sukoharjo Tahun 2007
Tabel 2. Perubahan Karakteristik permukiman
Tabel 3. Perubahan luas lahan permukiman Kabupaten Sukoharjo tahun 2001-2007
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis faktor yang menmpengaruhi perkembangan permukiman, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor lokasi tempat tinggal yang mendekati temapat

Faktor geografis (spasial) yang mempengaruhi penurunan jumlah pengadaan perumahan di wilayah peri urban Kota Surabaya, khususnya yang berada di Kabupaten Sidoarjo secara

Faktor geografis (spasial) yang mempengaruhi penurunan jumlah pengadaan perumahan di wilayah peri urban Kota Surabaya, khususnya yang berada di Kabupaten Sidoarjo secara

Berdasarkan pada jurnal yang ditinjau, penentuan faktor-faktor lokasi pada kawasan industri penggilingan padi di Kabupaten Lamongan, studi kasus kecamatan Sukodadi

Selain itu juga bila dilihat dari pemilihan lokasi perumahan di wilayah peri-urban oleh masyarakat yang didominasi oleh keterjangkauan harga rumah dan lokasi

Faktor geografis (spasial) yang mempengaruhi penurunan jumlah pengadaan perumahan di wilayah peri urban Kota Surabaya, khususnya yang berada di Kabupaten Sidoarjo secara

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keselarasan antara kemiskinan dengan perkembangan wilayah di Kabupaten purbalingga adalah masih rendahnya kesadaran pentingnya

Tabel 2.1 Kriteria Tipologi Wilayah Peri-Urban Tipologi Karakteristik Pinggiran Dominan kota permukiman kepadatan tinggi kawasan perdagangan dan jasa industri ringan/manufaktur