• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJASAMA AMERIKA SERIKAT DENGAN UNI ERO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KERJASAMA AMERIKA SERIKAT DENGAN UNI ERO"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KERJASAMA AMERIKA SERIKAT DENGAN UNI EROPA DALAM

MENANGANI & MENANGGULANGI CYBERCRIME

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Dalam

Mata Kuliah Analisa Politik Luar Negeri

oleh

Muhammad Darmawan Ardiansyah

NIM: 1112113000007

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

Pendahuluan

I. Latar Belakang Masalah.

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang menjadi kiblat teknologi dunia. Perkembangan dan kemajuan teknologi yang sangat signifikan membuatnya selalu menjadi negara yang terdepan dalam bidang apapun. Sejalan dengan perkembangan teknologinya, cybercrime-pun meningkat dengan sangat cepat tiap tahunnya. New York Times, salah satu media terbesar di AS melaporkan bahwa serangan malware jumlahnya terus mengalami peningkatan. Tercatat sejak tahun 2010 hingga tahun 2012 telah terjadi kenaikan serangan malware sebesar 17%.1 Washington Post, juga melaporkan bahwa telah terjadi sebuah

serangan hacker yang telah meng-hack twitter yang dimiliki oleh Associated Press. Serangan ini menyebabkan pasar saham AS merugi sebesar 136 miliar USD hanya dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit.

Symantec, perusahaan yang bergerak dibidang antivirus dan pengamanan sistem komputer melaporkan bahwa ada kenaikan pelaku kejahatan cybercrime yang sangat signifikan dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2013. Pada tahun 2012 AS menjadi negara kedua setelah China sebagai negara konsumen cybercrime terbesar yang menghabiskan total 21 miliar USD.2 Dan pada tahun 2013 AS menjadi negara pertama konsumen cybercrime

terbesar di dunia yang menghabiskan total 38 miliar USD dalam 12 bulan terakhir.3 Pada 15

November 2011 website facebook jatuh akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh pelaku cybercrime. Metro UK melaporkan bahwa serangan tersebut dilancarkan melalui “linkspam virus”. Apabila pengguna meng-klik website facebook maka yang muncul bukanlah halaman facebook, melainkan tampilan beberapa gambar perempuan yang sedang berbuat tidak senonoh.4

Apple yang disebut-sebut sebagai perusahaan gadget terbaik dalam mengatasi serangan-serangan hacker pun tidak mampu menahan serangan yang dilakukan terhadap produk buatannya. Dari laporan BBC menyebutkan bahwa ada sekitar 600 ribu unit komputer

1 David E. Sanger & Eric Schmitt,”Rise Is Seen Cyberattacks Targeting U.S. Infrastructure”,

http://www.nytimes.com/2012/07/27/us/cyberattacks-are-up-national-security-chief-says.html?_r=1&. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 06:09.

2 Paganinip,” 2012 Norton Cybercrime report, a worrying scenario”, http://securityaffairs.co/wordpress/8458/cyber-crime/2012-norton-cybercrime-report-a-worrying-scenario.html. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 06:46.

3 Symantec,”2013 Norton Report”, http://www.symantec.com/about/news/resources/press_kits/detail.jsp?pkid=norton-report-2013. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 06:47.

4 Metro UK Reporter,“Facebook investigates virus displaying hardcore porn on users’ newsfeeds”,

(3)

Macs yang telah terinfeksi virus. Virus yang menyerang komputer-komputer ini dikenal dengan Flashback Trojan. Dan diperkirakan bahwa jumlah komputer yang terinfeksi akan terus bertambah.5 Motif/tujuan dari serangan tersebut adalah sebagai aksi balas dendam,

perlawanan terhadap pemerintah, serta bentuk aksi protes terhadap sebuah perusahaan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Pada bulan Oktober 2012, Leon Panetta yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat memberikan pernyataan terkait tentang cybercrime. Pernyataannya adalah bahwa pembangkit listrik, pengolahan air bersih, dan sistem transportasi AS yang telah terintegrasi dengan jaringan komputer telah di-hack.6 Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa terdapat keresahan yang sangat mendalam bagi seorang Panetta akan ketidaksiapan AS dalam menghadapi serangan-serangan yang mungkin bisa saja terjadi setiap saat. Dia juga menyatakan bahwa serangan yang dilakukan oleh para hacker bisa menimbulkan kerusakan setara bahkan lebih parah dari apa yang telah terjadi di Pearl Harbour7.

Pernyataan Panetta menggambarkan bahwa cybercrime adalah ancaman yang sangat serius dan bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi AS. Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga mempunyai pendapat yang sama bahwa, infrastruktur di AS rawan sekali terhadap serangan cybercrime8. Kerawanan ini disebabkan oleh adanya indikasi bahwa sistem pengamanan yang dipakai telah usang dan ketinggalan zaman.

3) Bagaimana peran faktor internal dan eksternal dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri AS?

III. Manfaat Penelitian.

5 Katia Moskvitch,”The World’s Five Biggest Cyber Threats”, http://www.bbc.com/news/technology-17846185. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:08.

6 Tom Simonite,”Old-Fashioned Control Systems Make U.S. Power Grids, Water Plants a Hacking Target”,

http://www.technologyreview.com/news/429611/old-fashioned-control-systems-make-us-power-grids-water-plants-a-hacking-target/. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 20:58.

7 Daily Mail Reporter,”CIA chief Panetta warns cyber attack could be ‘next Pearl Harbour’”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2003160/CIA-chief-Panetta-warns-cyber-attack-Pearl-Harbor.html. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 21:07.

(4)

1) Memenuhi tugas yang telah diamanahkan dosen kepada mahasiswa. 2) Menambah wawasan dalam mata kuliah ini.

3) Sebagai latihan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari.

IV. Kerangka Teori.

Setiap penelitian yang dilakukan oleh akademisi memerlukan kerangka teori/pemikiran sebagai alat analisis dalam meneliti sebuah kasus. Hal ini sangat diperlukan bagi seorang akademisi untuk memudahkannya dalam meneliti kasus tersebut. Dalam sub-bab ini penulis akan memaparkan beberapa istilah dari teori-teori yang penulis gunakan. Yang pertama adalah kebijakan luar negeri, merupakan cara sebuah negara dalam memperoleh keuntungan dan usahanya untuk mengatasi lingkungan eksternalnya. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup negara tersebut.9

Ada berbagai unsur penting yang memberikan pengaruh bagi suatu negara dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Unsur-unsur tersebut dapat berupa faktor internal dan eksternal yang mempunyai pengaruh dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan luar negeri suatu negara. Faktor internal itu sendiri adalah, partai politik, kelompok penekan, organisasi birokrasi yang saling bersaing, media massa, opini publik, budaya politik dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal dapat dibagi menjadi negara superpower, organisasi internasional dan organisasi regional.10

Alex Mintz membagi faktor domestik menjadi 4 bagian:11Diversionary Tactics,

Economic Interests, The Role of Public Opinion, Electoral Cycles. Sedangkan Rosenau membaginya menjadi:12Societal Sources (Economic Development, Cultural and history,

Social Structure, and Moods of Opinion), Govermental Sources (Political Accountability and Governmental Structure). Faktor eksternal menurut Alex Mintz dibagi menjadi 4, yaitu:13Deterrence and Arm Races, Strategic Surprise, Alliances, Regime Type of the

Adversary. Rosenau membaginya dalam 5 bagian, yaitu:14Size, Geography, Great Power

Structure, Alliances, Technology. Kerangka pemikiran ini akan penulis kombinasikan satu dengan yang lain, dalam analisis yang penulis lakukan pada bab selanjutnya.

9 Rosenau, James N, Boyd Gavin, Thompson, Kenneth W,”World Politics: An Introduction”, The Free Press, New York: 1976, Hal 27-32. 10 VK Malhotra,”International Relations”, Anmol Publications Pvt Ltd, New Delhi: 2004, Hal 186.

11 Debbie Affianty,”Determinants of Foreign Policy Decision Making: Internal or Domestic Factors”, Presentasi disampaikan pada mata kuliah Analisa Politik Luar Negeri pertemuan ke-6.

12 Ibid.

13 Debbie Affianty,”Determinants of Foreign Policy Decision Making: International or External Factors”, Presentasi disampaikan pada mata kuliah Analisa Politik Luar Negeri pertemuan ke-10.

(5)

Pembahasan

I. Pengertian Cybercrime & Macam-Macam Serangannya.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kasus cybercrime yang terjadi di AS, terlebih dahulu penulis ingin menjelaskan mengenai definisi dari cybercrime serta menjelaskan macam-macam dari cybercrime itu sendiri yang penulis kutip dari beberapa sumber. Menurut The U.S. Department of Justice cybercrime adalah “Any illegal act requiring knowledge of computer technology for its perpetration, investigation, or prosecution.”15 Artinya sendiri kurang lebih adalah segala kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan computer, yang dimana membutuhkan keahlian dan komputer merupakan instrumen utama dari kejahatan tersebut. Dalam melakukan aksinya, pelaku kejahatan akan selalu terlibat kontak dengan jaringan internet. Karena instrumen utama kejahatan itu sendiri adalah jaringan internet.

Macam-macam cybercrime dapat berupa sebagai berikut, yaitu16:

a) Unauthorized Access to Computer System and Service: Kejahatan ini dilakukan dengan cara memasuki jaringan sistem komputer milik orang lain tanpa sepengetahuannya.

b) Illegal Contents: Kejahatan ini dapat berupa hoax atau penyeberan berita bohong, memuat konten pornografi tanpa seizin yang berwenang, pembocoran data, khususnya rahasia negara.

c) Data Forgery: Kejahatan yang berupa pemalsuan data yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Biasanya kejahatan ini berorientasi untuk profit seeking.

d) Cyber Espionage: Kejahatan ini dilakukan untuk memata-matai pihak tertentu yang dianggap mempunyai informasi-informasi penting.

e) Cyber Sabotage and Extortion: kejahatan ini dilakukan untuk menciptakan sebuah kerusakan pada sistem komputer yang dimiliki oleh pihak korban dengan virus.

f) Offense against Intellectual Property: kejahatan ini dilakukan untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual pihak lain tanpa melalui persetujuan dari pihak pemilik kekayaan tersebut.

g) Infringements of Privacy: Pencurian atau pembocoran data pribadi yang dimiliki oleh seseorang.

II. Data serangan Cybercrime di Amerika Serikat & Beberapa Negara Uni Eropa.

15Petrus Reinhard Golose,“Perkembangan Cybercrime & Upaya Penanganannya di Indonesia Oleh Polri”, Hal 34, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Mengenai “Penanganan Cybercrime di Indonesia ke arah Pengembangan Kebijakan yang Menyeluruh dan Terpadu”, 10 Agustus 2006.

(6)

a) Data Jumlah keluhan terhadap serangan cybercrime dari tahun 2000-2013 di AS.17

b) Daftar 5 negara terbesar penerima keluhan terhadap serangan cybercrime.18

c) 10 negara bagian AS penerima keluhan terbesar terhadap serangan cybercrime.19

17Federal Bureau of Investigation by Internet Crime Complaint Center,“2013 Internet Crime Report”, Hal 3

https://www.ic3.gov/media/2013.aspx. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 20:56. 18 Ibid, Hal 7.

(7)

d) Total Biaya Cybercrime di AS dan 24 Negara (Uni Eropa).20

e) Jumlah pengguna internet yang pernah mengalami cybercrime di AS dan 24 Negara (Uni Eropa).21

f) Tipe Cybercrime yang sering digunakan dalam penyerangan di AS dan 24 Negara (Uni Eropa).22

20Symantec,”Cybercrime Report 2011”, http://us.norton.com/content/en/us/home_homeoffice/html/cybercrimereport/. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 10:49.

(8)

g) Data cybercrime yang terjadi di lingkungan keluarga di AS dan 24 Negara (Uni Eropa).23

(9)

h) Negara dengan kerugian terbesar (sampel berasal dari organisasi/perusahaan yang ada di negara tersebut) akibat serangan cybercrime.24

(10)

Data statistik yang penulis paparkan di atas bermaksud untuk menggambarkan tentang cybercrime yang terjadi di AS. Apabila kita perhatikan secara seksama, AS benar-benar telah mengalami ancaman yang sangat serius akibat dari cybercrime ini. Kedigdayaan AS tidak berarti apa-apa, hal ini dapat kita lihat pada saat dilakukan simulasi serangan yang dinamai Cyber Shockwave.25 Serangan berlangsung selama 4 jam, yang diawali dengan penginfeksian program malware dalam aplikasi “March Madness” yang sedang naik daun pada saat itu dikalangan pengguna smartphone. Saat serangan dimulai, tiba-tiba saja 20 juta smartphone tidak dapat dioperasikan seperti sedia kala dan mengakibatkan kelumpuhan yang sangat serius pada sektor publik seperti, jaringan listrik, sistem perairan, dan transportasi.

Pemaparan data di atas juga sedikit menyinggung tentang kejahatan cyber yang terjadi di negara-negara Eropa. Sebagai rekan kerjasama AS dalam menangani kasus cybercrime. Wilayah Eropa juga tidak luput dari serangan-serangan cybercrime yang sangat mengancam stabilitas negara-negara di Eropa, khususnya negara-negara maju yang ada di wilayah tersebut. Adanya persamaan kasus ancaman cybercrime di antara kedua belah pihak menjadi pendorong utama bagi keduanya dalam melakukan kerjasama.

Untuk mengantisipasi serangan serupa di masa yang akan datang, AS membentuk sebuah lembaga khusus yang dibentuk secara resmi pada tanggal 21 Mei 2010 bernama US Cyber Command.26 Lembaga ini hanya berfokus pada kejahatan dunia maya, dengan harapan

25Eileen McMenamin,”Cyber ShockWave Shows U.S. Unprepared For Cyber Threats.” http://bipartisanpolicy.org/news/press-releases/2010/02/cyber-shockwave-shows-us-unprepared-cyber-threats. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 19:58. 26 Siobhan Gorman & Yochi Dreazen,”Military Command Is Created for Cyber Security”,

(11)

bahwa dibentuknya lembaga ini dapat mengurangi frekuensi tingginya intensitas kejahatan dunia maya.

III. Fact Sheet: U.S.-EU Cyber Cooperation

Dalam sub-bab ketiga ini penulis akan menjelaskan tentang apa saja poin-poin dan kesimpulan yang dihasilkan dari kerjasama ini. Kerjasama ini diselenggarakan di Brussels, Belgia pada tanggal 26 Maret 2014.27 Dalam pertemuan ini AS dan Uni Eropa banyak

menandatangani kontrak kerjasama, salah satunya adalah kerjasama dalam menangani kasus cybercrime dan membangun cybersecurity di dua wilayah tersebut.

Kerjasama AS-Uni Eropa dalam menangani dan menanggulangi cybercrime membicarakan tentang:

a) Perkembangan dunia maya internasional.

b) Promosi dan perlindungan Hak Asasi Manusia di dunia maya.

c) Masalah keamanan internasional, seperti norma-norma perilaku yang berlaku di dunia maya, membangun kepercayaan dengan peningkatan keamanan cyber, dan penerapan hukum internasional yang berlaku dalam dunia maya.

d) Peningkatan kapasitas cybersecurity di negara-negara ketiga.

IV. Analisis Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat.

1. Faktor Internal. a. Economic Interest.

Dalam faktor economic interest ini terlebih dahulu penulis akan mengutip pernyataan presiden AS, Barack Obama yaitu,” “Cyber threat is one of the most serious economic and national security challenges we face as a nation” and that “America's economic prosperity in the 21st century will depend on cybersecurity.”

Dari pernyataannya dapat kita simpulkan bahwa ekonomi menjadi faktor internal yang sangat penting bagi AS sebelum national security untuk dilindungi dari cybercrime. Dari contoh-contoh kasus yang telah saya paparkan di atas, sasaran dari cybercrime itu sering menargetkan sektor-sektor perekonomian, seperti sektor perbankan, pasar saham, dsb. Hal ini dikarenakan sektor-sektor tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kestabilitasan sebuah negara.

b. The Role of Public Opinion.

(12)

Peran opini publik dalam mempengaruhi kebijakan AS untuk menangani kasus cybercrime sangatlah besar sekali. Hal ini dapat kita lihat pada data statistik yang penulis paparkan di atas menunjukkan bahwa banyak sekali masyarakat AS yang mengeluhkan banyaknya serangan cybercrime yang ditujukan kepada mereka. Hal ini dapat kita lihat dari data keluhan yang penulis paparkan di atas. Terlihat bahwa dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2013 ada peningkatan yang sangat signifikan atas keluhan cybercrime yang terjadi di AS.

c. Economic Development.

Pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung berbasis pada sektor perindustrian yang terintegrasi dengan jaringan komputer menjadikan sektor perindustrian AS rawan akan serangan cybercrime. Seperti yang telah kita ketahui, banyak sekali industri-industri besar di AS yang diserang oleh para pelaku cybercrime. Google dan Apple adalah salah satu contoh industri yang menjadi target serangan cybercrime.

d. Political Accountability.

AS yang menganut sistem demokrasi mungkin akan lebih lama dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Akan tetapi, dalam kasus ini ada pengecualian tersendiri bagi kebijakan yang dihasilkan. Seluruh struktur birokrasi, baik pemerintahan maupun militer sepakat bahwa cybercrime adalah ancaman terbesar bagi seluruh sektor kehidupan masyarakat AS, khususnya sektor pemerintahan dan militer.

Adanya persamaan persepsi di antara seluruh birokrasi pemerintahan dan militer, menjadikan kebijakan ini dapat dengan mudah disetujui oleh semua pihak dan tidak memerlukan waktu lama dalam memutuskannya. Walaupun pada dasarnya dalam setiap pengambilan keputusan luar negeri ada yang pro dan kontra dalam menentukannya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah adanya kesadaran dari semua pihak elemen masyarakat dan pemerintah AS bahwa apabila cybercrime ini tidak langsung ditangani, akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri, yang akan selalu membayang-bayangi AS dengan ketakutan yang luar biasa.

e. Governmental Structure.

(13)

menghasilkan kebijakan luar negeri tanpa adanya keputusan yang berseberangan, memberitakan kasus-kasus cybercrime membuat kejahatan ini menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk menanganinya.

Padahal cybercrime pada beberapa tahun yang lalu belum dianggap sebagai kejahatan yang benar-benar serius untuk ditangani. Cybercrime dianggap sebagai kejahatan yang sangat serius dan harus cepat ditangani setelah banyaknya serangan-serangan yang menargetkan instalasi publik, seperti jaringan listrik, transportasi, dan sistem pengairan, serta sektor-sektor finansial, yang dapat dengan mudah mengguncang stabilitas keamanan dan perekonomian sebuah negara.

g. Organisasi Birokrasi.

Telah saya jelaskan sebelumnya bahwa organisasi birokrasi/birokrasi pemerintahan dalam sebuah negara demokrasi pasti mempunyai pengaruh dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Apalagi seluruh birokrasi pemerintahan mempunyai persepsi yang sama dalam memandang sebuah peristiwa. Dalam kasus ini seluruh birokrasi pemerintahan, khususnya militer di AS sangat mendukung sekali dalam pembuatan kebijakan ini.

Hal ini dapat kita lihat dari adanya pembagian tugas dalam menangani kasus cybercrime.28 Dengan adanya pembagian tersebut, penanganan kasus cybercrime

dapat lebih efektif dan efisien, karena adanya pengelompokkan kasus cybercrime yang dimana setiap kasus tersebut menjadi fokus perhatian birokrasi berbeda-beda sesuai cakupan bidang yang dikuasai oleh birokrasi tersebut.

h. Kelompok Penekan.

Kelompok penekan/Interest group juga mempunyai peran yang sangat besar dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan luar negeri AS. Kelompok penekan yang paling dominan dalam kasus ini adalah Anonymous29. Kelompok ini dikenal sebagai kelompok yang banyak melakukan serangan-serangan cyber terhadap sektor-sektor pemerintahan dan militer. Sesuai dengan namanya kelompok ini

28 The U.S. Department of Justice Reporter,”Reporting Computer Hacking, Fraud, and Other Internet-Related Crime”,

http://www.justice.gov/criminal/cybercrime/reporting.html. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 13:46.

(14)

tidak diketahui bagaimana struktur organisasinya, dan bagaimana mereka menjalankan organisasi tersebut.

Serangan tersebut bertujuan untuk mengguncang stabilitas sebuah negara, sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemerintah. Akibat adanya serangan-serangan yang sangat intensif dari kelompok ini terhadap AS, membuat AS menjadi khawatir akan terjadi serangan yang lebih parah di masa mendatang. Hal ini mendorong AS untuk melakukan kerjasama dengan Uni Eropa dalam menangani kasus ini.

2. Faktor Eksternal.

a. Deterrence and Arm Races.

Pembuatan kebijakan luar negeri ini bertujuan untuk mengantisipasi dan menangkal serangan-serangan yang ditujukan kepada AS. Keuntungan dari kebijakan luar negeri ini adalah kekuatan AS dalam menangkal serangan cybercrime akan bertambah karena adanya dukungan dari Uni Eropa dalam menangkal serangan tersebut.

Arm Races dalam konteks ini saya kaitkan dengan teknologi. Teknologi merupakan satu-satunya instrumen/senjata yang bisa digunakan untuk melawan cybercrime. Dalam teori arm races ada payoff yang didapatkan oleh sebuah negara. AS mendapatkan kerjasama dengan Uni Eropa akibat adanya Arm Races antara dua pihak tersebut dengan pelaku cybercrime.

b. Alliances.

(15)

Kebijakan Luar Negeri AS yang memutuskan untuk bekerjasama dengan Uni Eropa akan menimbulkan kesan tersendiri bagi keduanya. AS akan lebih memilih Uni Eropa daripada negara atau organisasi regional yang lainnya, karena disebabkan oleh besarnya citra Uni Eropa dimata dunia yang dianggap sebagai salah satu pusat dari kemajuan dunia di abad ke 21 ini.

Hal ini akan menimbulkan gengsi tersendiri bagi AS, karena apabila mereka bekerjasama dengan negara-negara yang tergolong sebagai periphery state mungkin citra AS dimata dunia akan menurun dan bebannya dalam menangani kasus cybercrime bukan semakin berkurang malah bertambah, akibat dari kasus tambahan yang ada di negara periphery yang menjadi mitra kerjasamanya.

e. Technology.

Faktor selanjutnya adalah faktor teknologi. Kenapa teknologi menjadi faktor eksternal yang sangat berpengaruh bagi kebijakan ini? Hal ini dikarenakan kebijakan yang diputuskan mempunyai kaitan dengan teknologi. Uni Eropa sebagai mitra AS dalam kerjasama cyber ini dipilih karena AS menganggap bahwa Uni Eropa mempunyai tingkat pertumbuhan teknologi yang sangat pesat yang sebanding dengan AS. Sehingga AS dan Uni Eropa dapat saling melengkapi teknologi diantara mereka untuk mengatasi serangan cyber di wilayah kedua belah pihak.

f. Super Power State.

Sebagai negara yang tergolong super power, AS akan selalu mencoba untuk mempertahankan citra tersebut apapun caranya. Cybercrime yang saat ini dianggap sebagai ancaman serius dan berbahaya bagi AS akan berpotensi menjatuhkan pamornya sebagai negara yang super power. Hal ini dapat kita lihat dari lemahnya pertahanan cyber AS dalam simulasi serangan cyber yang dinamai dengan Cyber ShockWave yang telah saya paparkan di atas.

(16)

Kesimpulan

Setiap bentuk kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh negara-negara di dunia tidak hanya terpaku pada respon aksi-reaksi atas kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh negara yang lain. Kemajuan teknologi di abad ke-21 ini mempunyai dampak yang sangat besar bagi perubahan arah kebijakan luar negeri suatu negara, yang semula ditujukan sebagai tanggapan atas kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh negara lain diperluas lagi menjadi tanggapan atas sebuah peristiwa potensial yang dapat mengancam stabilitas keamanan sebuah negara.

(17)

pertahanan sebuah negara. Karena hampir seluruh sektor publik, sistem birokrasi pemerintahan, dan militer telah terintegrasi dengan jaringan internet.

Pandangan presiden Barack Obama yang telah penulis sertakan di atas melalui kata-katanya berpendapat bahwa, “Cyber security adalah kunci terpenting bagi stabilitas perekonomian dan keamanan AS, dan cyber security adalah kunci utama kemakmuran ekonomi AS di abad 21 ini”. Pandangan Obama patut dibenarkan adanya, karena apabila tidak dilakukan eskalasi keamanan cyber di AS, serangan-serangan cyber akan dapat dengan mudah mengacaukan stabilitas AS dan citranya sebagai negara super power akan pudar akibat dari ketidakmampuannya dalam mengatasi serangan ini.

Di akhir tulisan ini penulis ingin memberikan saran bahwa cybercrime bisa disebut sebagai dimensi baru dari bentuk perang. Yang membedakannya dari perang biasa adalah cybercrime hanya butuh sedikit personel, dana yang tidak terlalu besar, serta tidak memerlukan lahan perang, lebih efisien dan efektif. Cukup dengan seperangkat komputer, jaringan internet, dan keahlian khusus, dapat membuat kekacauan yang berdampak besar bagi sebuah negara. Maka dari itu, setiap negara hendaknya bersiap dan waspada untuk menghadapi serangan ini yang dapat saja menyerang setiap waktu tanpa diketahui.

Daftar Pustaka

Buku:

Malhotra, VK,”International Relations”, Anmol Publications Pvt Ltd, New Delhi: 2004, Hal 186.

Rosenau, James N, Boyd Gavin, Thompson, Kenneth W,”World Politics: An Introduction”, The Free Press, New York: 1976, Hal 27-32.

Sumber lain:

Affianty Debbie,”Determinants of Foreign Policy Decision Making: Internal or Domestic Factors”, Presentasi disampaikan pada mata kuliah Analisa Politik Luar Negeri pertemuan ke-6

(18)

Golose Reinhard Petrus,“Perkembangan Cybercrime & Upaya Penanganannya di Indonesia Oleh Polri”, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Mengenai “Penanganan Cybercrime di Indonesia ke arah Pengembangan Kebijakan yang Menyeluruh dan Terpadu”, 10 Agustus 2006.

Internet:

Aamoth Doug,”Anonymous”,

http://content.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,2098471_2098472_2098514,0 0.html. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 14:08.

Daily Mail Reporter,”CIA chief Panetta warns cyber attack could be ‘next Pearl Harbour’”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2003160/CIA-chief-Panetta-warns-cyber-attack-Pearl-Harbor.html. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 21:07.

Federal Bureau of Investigation by Internet Crime Complaint Center,“2013 Internet Crime Report”, Hal 3 https://www.ic3.gov/media/2013.aspx. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 20:56.

Gorman Siobhan & Yochi Dreazen,”Military Command Is Created for Cyber Security”,

http://online.wsj.com/news/articles/SB124579956278644449. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:59.

Ingersoll Geoffrey,”MIT: The US Really Should Be Freaking Out About Possible Cyber Attacks”, http://www.businessinsider.com/heres-why-the-us-is-incredibly-vulnerable-to-cyber-attacks-2012-10?IR=T&#ixzz2D8DpQK59. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 21:12.

McMenamin Eileen,”Cyber ShockWave Shows U.S. Unprepared For Cyber Threats.” http://bipartisanpolicy.org/news/press-releases/2010/02/cyber-shockwave-shows-us-unprepared-cyber-threats. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 19:58.

Metro UK Reporter,“Facebook investigates virus displaying hardcore porn on users’ newsfeeds”, http://metro.co.uk/2011/11/15/facebook-investigates-virus-displaying-hardcore-porn-on-users-newsfeeds-221073/. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 07:40.

Moskvitch Katia,”The World’s Five Biggest Cyber Threats”,

http://www.bbc.com/news/technology-17846185. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:08.

Paganinip,” 2012 Norton Cybercrime report, a worrying scenario”,

(19)

Ponemon Institute,“2013 Cost of Cyber Crime Study: United States”,

http://www.hpenterprisesecurity.com/ponemon-2013-cost-of-cyber-crime-study-reports. penelitian disponsori oleh HP Enterprise Security, Oktober 2013, Hal 2. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 21:03.

Sanger E. David & Eric Schmitt,”Rise Is Seen Cyberattacks Targeting U.S. Infrastructure”, http://www.nytimes.com/2012/07/27/us/cyberattacks-are-up-national-security-chief-says.html?_r=1&. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 06:09.

Simonite Tom,”Old-Fashioned Control Systems Make U.S. Power Grids, Water Plants a Hacking Target”, http://www.technologyreview.com/news/429611/old-fashioned-control-systems-make-us-power-grids-water-plants-a-hacking-target/. Diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 20:58.

Symantec,”Cybercrime Report 2011”,

http://us.norton.com/content/en/us/home_homeoffice/html/cybercrimereport/. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 10:49.

Symantec,”2013 Norton Report”,

http://www.symantec.com/about/news/resources/press_kits/detail.jsp?pkid=norton-report-2013. Diakses pada tanggal 20 Mei 2014 pukul 06:47.

U.S. Department of Justice Reporter,”Reporting Computer Hacking, Fraud, and Other Internet-Related Crime”, http://www.justice.gov/criminal/cybercrime/reporting.html. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 13:46.

U.S. Government Reporter,“U.S.-EU Summit in Brussels”,

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pengemasan, penyimpanan, dan penanganan selama transportasi menjadi aktivitas kunci dengan suhu dan waktu selama penanganan dan pemrosesan menjadi dua faktor kritis

Agar kita merasakan nilai penting surat-surat yang ditujukan kepada negara-negara dan wilayah-wilayah yang berbeda, dan para rajanya, dan kedudukannya yang falid

Pencarian valid, maka akan ditampilkan data buku yang dicari6. Nama Use Case : Memasukan data anggota

Terma dan syarat yang mentadbir urus niaga UT dan produk dana UT terpilih di bawah Pelaburan Terpilih dinyatakan dalam Prospektus dan Prospektus Tambahan terbaru yang

The result of classroom observation and interview indicated that they were able to perform significantly faster and more accurately on the response-time questions. The more

Bayes theorem for classification Thomas Bayes was a famous mathematician whose name represents a big subfield of statistical and probablistic modeling.. Bayes theorem for

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi anak siswa kelas III SD Negeri 147 Pekanbaru

KASUBAG TATA USAHA SEKSI STUDI KELAYAKAN DAN PERENCANAAN SEKSI PENGADAAN DAN PEMBANGUNAN SEKSI PENGELOLAAN DAN PEMELIHARAAN SEKSI PENDAMPINGAN DAN PENGHUNIAN KASUBAG TATA