SAYA MENGHABISKAN sebagian besar waktu saya sebagai

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

Pendahuluan

S

AYA MENGHABISKAN sebagian besar waktu saya se-bagai mahasiswa tingkat akhir dengan bersembunyi di antara rak perpustakaan untuk membaca dan membaca lagi sebuah buku baru yang tak bisa saya letakkan. Judulnya The Third Wave, karya sang visioner masa depan Alvin Toffler, dan buku tersebut sungguh mengubah pandangan saya terhadap dunia—dan apa yang saya bayangkan tentang masa depannya.

Toffler menulis tentang perubahan global yang akan ter-jadi. Dia menuliskan, bahwa “Gelombang Pertama” dari umat manusia adalah masyarakat pertanian yang mapan, yang men-dominasi selama ribuan tahun. “Gelombang Kedua”-nya adalah dunia pasca-Revolusi Industri, ketika produksi dan distribusi massal mengubah cara hidup manusia. “Gelombang Ketiga” yang diajukan oleh Toffler adalah era informasi: sebuah desa elektronik global, di mana orang bisa mengakses serangkaian layanan dan informasi tanpa batas, berpartisipasi dalam sebuah dunia yang interaktif, dan membangun masyarakat yang bukan

(3)

The Third Wave

lagi berdasarkan geografisnya, melainkan berdasarkan keter-tarikan yang serupa. Dia memprediksi sebuah dunia yang saat ini kita ketahui. Visinya memikat saya. Saat itu saya tahu bahwa saya ingin menjadi bagian dalam Gelombang Ketiga yang dise-butkan itu. Sungguh, saya ingin ikut andil dalam mewujudkan-nya.

Selama lebih dari tiga puluh tahun sejak kelahiran Ameri-ca Online, Gelombang Ketiga yang diprediksi Toffler memang telah terjadi. Saya beruntung karena mengikutinya sejak awal, dan bahkan lebih beruntung lagi karena masih menjadi bagian di dalamnya hingga kini.

Era internet sudah berkembang pesat sejak masa-masa awal itu. Perkembangannya juga mencakup beberapa tahap evolusi—gelombang-gelombang yang mirip dengan gagasan Toffler.

Gelombang Pertama internet berfokus pada pembangun-an infrastruktur dpembangun-an lpembangun-andaspembangun-an bagi dunia maya. Berbagai perusahaan—Cisco Systems, Sprint, HP, Sun Microsystems, Microsoft, Apple, IBM, AOL—bekerja untuk membuat pe-rangkat keras, pepe-rangkat lunak, dan jaringan yang memung-kinkan orang-orang untuk terhubung dengan internet, seka-ligus membuat mereka saling terhubung satu sama lain. Kami membangun on-ramps* bersama-sama untuk menuju jalur canggih informasi. (Ingat istilah itu?)

* Sebuah metode untuk mengakses sebuah layanan atau informasi. (http://www.diction

(4)

Dulu, kelompok pionir kami harus berjuang untuk men-dapatkan banyak hal. Kami harus berjuang untuk mengurangi biaya koneksi, lantaran jaringan telepon pada umumnya me-matok harga $10 per jam untuk bisa online, harga yang terlalu mahal untuk sebagian besar kalangan. Kami harus memohon kepada produsen PC agar mau mengirimkan produknya de-ngan memasang modem di dalamnya (built-in). Pada saat itu, kalangan yang online hanya penggemar teknologi informasi (TI), sehingga mayoritas pimpinan produsen PC tidak paham kenapa masyarakat biasa akan membutuhkan sebuah modem.

Pada awal berdirinya AOL, tugas utama kami hanyalah menjelaskan apa itu internet, bagaimana cara kerjanya, dan kenapa orang-orang perlu menggunakannya. Saya ingat men-jalani sebuah wawancara pada tahun 1995 di PBS dan saya ditanya, “Kenapa orang membutuhkan ini?” Demikianlah per-tanyaan yang jamak diajukan pada masa itu. Padahal saat itu sudah satu dekade sejak kami beroperasi.

Mengarahkan masyarakat untuk online sama seperti memberi para inovator generasi berikutnya sebuah kanvas dan kuas yang baru. Orang-orang yang sangat pandai mulai mem-pertimbangkan ragam aplikasi yang luas dalam konektivitas global. Mereka mengutak-atik dan mencoba, lalu memburu gagasan dan memulai perusahaan. (Salah satu pengguna kami mengawali kiprah digitalnya dengan cara meretas AIM, atau AOL Instant Messenger, sebuah perangkat lunak komunikasi. Orang itu bernama Mark Zuckerberg.)

(5)

The Third Wave

Gelombang Kedua internet berawal pada pergantian abad ke-21, ketika usaha dot-com yang tadinya marak mendadak mati—sebuah kepunahan nyata pertama di era internet. Banyak entrepreneur dan investor yang rugi besar. Namun mereka yang menyintas lantas melesat dan memimpin era inovasi internet selanjutnya.

Gelombang Kedua adalah tentang membangun di dalam internet. Mesin pencari seperti Google memudahkan penggu-na untuk mengeksplorasi berbagai informasi yang tersedia di web. Amazon dan eBay menggunakan internet bagian mereka sebagai toko serba ada. Pada masa Gelombang Kedua inilah jejaring sosial juga berkembang. Kalau Google lebih dimak-sudkan untuk mengatur informasi di internet, jejaring sosial dimaksudkan bagi kita untuk mengatur diri sendiri—dan me-narik setriliun pengguna. Pada Gelombang Kedua pula Apple memperkenalkan iPhone, Google memperkenalkan Android, dan pergerakan mobile lahir. Titik temu ini memberi daya yang besar bagi Gelombang Kedua karena ponsel pintar dan tablet menjadi mesin bagi era internet yang baru, maka terciptalah sebuah ekonomi yang membuat dunia penuh dengan jutaan aplikasi mobile.

Sebagian besar Gelombang Kedua ditandai oleh perangkat lunak yang bertindak sebagai sebuah layanan—apps sosial semacam Twitter dan Instagram yang makin memudahkan orang untuk berbagi gagasan dan foto, serta apps lalu lintas semacam Waze yang kurang berguna jika jaringan mobile-nya terbatas. Walau perusahaan terkait yang paling sukses

(6)

sekalipun harus mengatasi tantangan yang unik untuk sampai ke posisi puncak, tetap ada banyak kesamaan yang mereka miliki. Pertama, produk mereka bisa dikatakan dapat diperluas tanpa batas. Mengatasi pengguna baru biasanya sesederhana memperbesar kapasitas server dan mempekerjakan lebih banyak teknisi. Lalu, kedua, produknya sendiri—apps—cenderung bisa ditiru tanpa batas. Sama sekali tak perlu dimanufaktur.

Kini, Gelombang Kedua mulai digantikan oleh sesuatu yang baru. Puluhan tahun dari sekarang, ketika sejarawan menuliskan tentang evolusi teknologi, mereka akan mengatakan bahwa internet menjadi kekuatan yang tersebar di penjuru dunia ketika kita mulai mengintegrasikannya dengan segala hal yang kita lakukan. Momen inilah yang mengawali Gelombang Ketiga.

Gelombang Ketiga adalah masa ketika internet bukan lagi hanya milik perusahaan TI. Era ini ditandai oleh berbagai produk yang membutuhkan internet, meskipun internetnya sendiri tidak membatasi produk-produk tersebut. Ini adalah era ketika istilah “dijalankan oleh internet” akan terdengar sama lucunya seperti istilah “dijalankan oleh listrik”, seolah-olah keduanya adalah pembeda yang penting. Era ini akan membuat konsep Internet of Things—dalam arti menambahkan sensor berkoneksi ke segala produk—tampak terlalu membatasi karena kita akan menyadari bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah konsep Internet of Everything yang lebih luas.

(7)

The Third Wave

Para entrepreneur pada masa ini akan menantang indus-tri-industri terbesar di dunia, dan industri yang sangat meme-ngaruhi kehidupan kita sehari-hari. Mereka akan mengubah sistem layanan kesehatan dan mengganti sistem pendidikan kita. Mereka akan menciptakan produk dan layanan yang mem-buat makanan kita jadi lebih aman dan perjalanan kita untuk bekerja jadi lebih mudah.

Namun apabila entrepreneur generasi ini memang akan sukses, pedoman dari Gelombang Kedua tak berguna.

Inovasi perusahaan Gelombang Ketiga tidak akan dimulai oleh apps yang terinspirasi dari kehidupan asrama, sebagaimana yang terjadi pada Gelombang Kedua. Entrepreneur Gelombang Ketiga akan terpaksa membangun kemitraan lintas sektor, sesuatu yang tidak pernah harus dilakukan oleh perusahaan Gelombang Kedua. Mereka akan harus menentukan arah kebijakan yang mungkin bisa diabaikan saja oleh sebagian besar perusahaan Gelombang Kedua. Dan semua itu harus mereka lakukan dalam ruang yang tantangan untuk masuknya—bahkan bagi gagasan yang amat bagus—jauh lebih sulit daripada yang pernah dihadapi di Gelombang Kedua.

Justru pedoman yang mereka butuhkan adalah seperti yang digunakan semasa Gelombang Pertama, ketika internet masih sangat baru dan skeptisisme masih sangat tinggi; masa ketika tantangan untuk memulai masih sangat sulit, dan kemi-traan merupakan hal yang penting untuk menjangkau pelang-gan; masa ketika sistem regulasi sedang berusaha memahami

(8)

realitas yang baru dan berusaha mencari jalan yang paling baik untuk ke depannya.

Saya menulis buku ini pada masa sekarang karena kita se-dang berada di titik sejarah yang amat penting, dan saya ingin menyampaikan pandangan yang saya miliki untuk memasti-kan masa depan yang cemerlang. Saya menulis ini karena se-jarah Gelombang Pertama menjadi semakin penting sebagai cara untuk memikirkan masa depan—bagaimana kita meren-canakannya, beradaptasi dengannya, dan menggunakan pelu-angnya. Akan tetapi banyak kisah dari masa tersebut, termasuk kisah saya sendiri, masih tidak diceritakan.

Saya berada di titik ini dengan bekal beragam sudut pan-dang. Sebagai entrepreneur pemula, tapi dengan pengalaman di perusahaan besar. Sebagai seseorang yang tidak pernah mengabdi purnawaktu di pemerintahan, tapi pernah bekerja di dalam dan sekitar pemerintahan. Kini saya menjadi investor sekaligus penyokong, dan orang yang memahami Silicon Valley, tapi tidak pernah menjadi bagiannya.

Oleh sebab itu saya menyasar beberapa hal melalui buku ini. Saya ingin bercerita tentang bagaimana kelahiran pelang-gan Internet, dan bagaimana perusahaan-perusahaan seperti AOL nyaris tidak mampu bertahan. Saya ingin berbagi memori terdalam saya dari belakang layar—berbagai detail dari perja-lanan jungkir balik yang tidak banyak dilalui orang. Saya ingin menceritakan apa rasanya berada di puncak—dan memberi Anda gambaran apa yang terjadi di ruang rapat sambil saya meluncur ke bawah.

(9)

The Third Wave

Tetapi saya tidak mau melakukan itu semua tanpa ber-kesinambungan. Setiap kisah ini dimaksudkan untuk meng-gambarkan kondisi yang lebih luas: bahwa pembelajaran dari Gelombang Pertama internet akan terpadu dengan Gelombang Ketiga. Maka saya juga akan menyoroti Gelombang Ketiga. Akan saya gambarkan seperti apa nanti jadinya dan bagaimana semua itu akan terjadi, serta memberi tahu Anda sedikit apa yang akan ada di masa depan.

. . .

Saya menulis ini untuk membantu para entrepreneur meng-ukir impiannya dan untuk membantu korporasi-korporasi be-sar meredam mimpi buruknya. Saya menulis ini untuk mereka yang mempelajari bisnis dan mereka yang sebatas mengamati. Untuk mereka yang cukup berumur dan merasakan nostalgia tentang CD AOL dalam surat pos, serta mereka yang cukup muda sehingga tak pernah mendengar istilah “CD-ROM”.

Perjalanan saya selama beberapa puluh tahun terakhir adalah pengalaman yang tak terduga, menggetarkan hati, dan bahkan membuat frustrasi lantaran perpaduan suka dan du-kanya. Ada momen-momen yang menegangkan, dan banyak pula yang membahagiakan dan penuh sorak-sorai. Saya coba menuangkan semuanya di sini. Saya ingin membawa Anda masuk ke dunia saya. Sarana apa yang lebih baik untuk itu dari-pada buku, sesuatu yang diciptakan sekitar dua ribu tahun yang lalu?

(10)

Saya tidak ingin menulis autobiografi, tapi saya ingin berbagi sebagian kisah saya karena saya yakin, sebagaimana ungkapan Shakespeare yang tersohor, “yang telah berlalu adalah sebuah permulaan”—bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari. Saya tidak mau menulis buku pedoman bagi sesama entrepreneur karena sudah ada banyak yang seperti itu—tapi saya memang ingin menjelaskan mengapa aturan main bagi para entrepreneur kini berubah. Dan saya tidak mau terlalu membahas tentang aturan, tapi saya yakin Amerika sedang terancam posisinya sebagai negara yang paling banyak entrepreneur-nya di dunia, sehingga saya ingin menjelaskan alasannya—serta apa yang kita bisa dan harus lakukan untuk mencegahnya.

Menulis The Third Wave—sebagian bersifat autobiografi, sebagian panduan bagi masa depan, sebagian manifesto— adalah tindakan berlandaskan cinta. Saya harap buku ini menyalakan gairah yang sama bagi Anda sebagaimana yang dilakukan buku Third Wave karangan Toffler kepada saya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :