Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository

258 

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW I

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Ardina Yullynta Sari

NIM: 101134074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW I

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Ardina Yullynta Sari

NIM: 101134074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

Allah S.W.T. yang selalu memberikan rahmat dan karunia kepadaku.

Almamater Universitas Sanata Dharma.

Orang tuaku yang selalu memberikan yang terbaik untukku tanpa pamrih sedikitpun.

Saudara-saudaraku, kakakku dan adikku yang selalu memberikan semangat untuk terus maju.

(6)

v

MOTTO

Kerja keras, berpikir positif, ridho orang tua serta berdoa kepada Allah S.W.T. adalah kunci kita

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

Penulis,

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Ardina Yullynta Sari

Nomor Mahasiswa : 101134074

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW I beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau

media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya

maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 12 Juni 2014

Yang menyatakan

(9)

viii

ABSTRAK

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE JIGSAW I

Ardina Yullynta Sari Universitas Sanata Dharma

2014

Latar belakang dari penelitian ini yaitu belum diketahuinya perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD atas penerapan model pembelajaran kooperatif pada materi perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan tipe non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Kebondalem Lor tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 42. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VA sebagai kelas eksperimen dengan siswa sebanyak 22 dan kelas VB sebagai kelas kontrol dengan siswa sebanyak 20. Instrumen penelitian menggunakan soal pilihan ganda sebanyak 25 soal untuk variabel penelitian prestasi belajar pada ranah kognitif yang sudah melalui uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian menggunakan program IBM SPSS statistics 20. Pengujian validitas instrumen menggunakan korelasi point bisserial dengan signifikansi 0,05 dan r tabel 0,279. Pengujian reliabilitas menggunakan alpha cronbach yang menghasilkan nilai koefisien reliabilitas 0,827 dan termasuk kualifikasi tinggi. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan soal pretest dan postest pada kelas kontrol dan eksperimen. Analisis data menggunakan independent sample t-test dengan bantuan program IBM SPSS statistics 20.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara kelas yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I dan kelas yang tidak menerapkannya dalam hal prestasi belajar IPS siswa Sekolah Dasar pada ranah kognitif. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi (2tailed) sebesar 0,018 atau <0,05.

(10)

ix

ABSTRACT

THE DIFFERENCES OF IPS LEARNING ACHIEVEMENT IN 5TH GRADE PRIMARY SCHOOL BY THE APPLICATION OF

JIGSAW TYPE I COOPERATIVE LEARNING MODEL

Ardina Yullynta Sari Sanata Dharma University

2014

The background in this study was not yet known the differences of IPS learning achievement in 5th grade Primary School by the application of jigsaw type I cooperative learning model. This research is aimed to know the differences of IPS learning achievement in 5th grade primary school by the application of jigsaw type I cooperative learning model on the material the struggle of Indonesian patriots in the era of Dutch and Japanese colonializations.

This research was used quasi experiment with type of non equational control group design. The population of research was all students of 5th grade students of Kebondalem Lor elementary school in academic year of 2013/2014 that consisted of 42 students. The sample was VA class as experiment class consist of 22 students and VB class as controlled class consist of 20 students. The research instrument used the multiple choices. There were 25 questions of variabels of learning achievement of cognitive domain having passed the validity and reliability test. The instrument of validity and reliability test used the program of IBM SPSS statistics 20. The validity test instrument used point bisserial correlation with the significance of 0,05 and r-table of 0,279. The reliability test instrument used Alpha Cronbach resulting coefficient rate of 0,827 and it was highly qualified. Data collecting technique was used pretest and postest questions in controlled and experiment class. The researcher analyzed the data used independent sample t-test supported by IBM SPSS statistics 20 program.

The result of the research showed that there were differences between group that used cooperative learning model of jigsaw type I and group who did not use the cooperative learning model of jigsaw type I in term of learning achievement of social sciences in elementary school students in cognitive domain. It could be seen from the significance rate (2tailed) of 0.018 or <0.05.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT karena atas karunia,

rahmad dan hidayahNya, penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan judul

“PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE JIGSAW I”. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat untuk memperolah gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program

studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang membantu dan berperan

atas terselesaikannya skripsi ini, untuk itu ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya akan diberikan kepada:

1. Rohandi Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Sanata Dharma.

2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST. M.A., Kepala Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar.

3. Drs. Y.B. Adimassana, M.A., dosen pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan, saran dan kritik yang sangat membangun, serta idenya demi

terselesaikannya skripsi ini.

4. Rusmawan, S.Pd, M.Pd, dosen pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan, arahan, semangat, saran dan idenya yang berguna untuk skripsi

ini.

5. Tri Suhartini, S.Pd. Kepala Sekolah SDN 1 Kebondalem Lor yang telah

memberikan izin pelaksanaan penelitian.

6. Endang Sri Hastuti, A.Ma.Pd. Guru Kelas V yang memberikan masukan yang

berarti selama dilakukan penelitian.

7. Semua keluargaku yang selalu memberikan semangat dan doanya demi

terselesaikannya penelitian ini.

8. Teman-temanku satu payung skripsi yaiu Fajar, Lala, Arma, Novi, Titin,

Septi, Irin, Novean, dan Rosa yang selalu bersama saling berbagi ide,

(12)

xi

9. Teman-teman satu kos yang membantu atas penjelasan dan idenya di saat

penulis mengalami kesulitan.

10. Teman-teman PGSD USD angkatan 2010 atas semangat dan kebersamaannya

selama kegiatan perkuliahannya.

11. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka

saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini

dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi siapa saja yang membacanya.

Terima kasih.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

Penulis,

(13)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... viii

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 5

1.3 Rumusan Masalah ... 5

1.4 Tujuan Penelitian ... 5

1.5 Manfaat Penelitian ... 6

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 6

1.5.2 Manfaat Praktis ... 6

1.5.2.1 Bagi Guru ... 6

1.5.2.2 Bagi Siswa ... 6

1.5.2.3 Bagi Peneliti ... 6

(14)

xiii

BAB II LANDASAN TEORI ... 8

2.1 Kajian Pustaka ... 8

2.1.1 Belajar ... 8

2.1.1.1 Pengertian Belajar ... 8

2.1.1.2 Ciri-ciri Belajar ... 9

2.1.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar ... 10

2.1.1.4 Prestasi Belajar... 12

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ... 17

2.1.2.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif ... 17

2.1.2.2 Unsur-unsur atau Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif ... 18

2.1.2.3 Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif ... 21

2.1.2.4 Model-model Pembelajaran Kooperatif ... 22

2.1.2.5 Jigsaw I ... 24

2.1.3 Ilmu Pengetahuan Sosial ... 27

2.1.3.1 Hakikat IPS ... 27

2.1.3.2 Pembelajaran IPS di SD ... 27

2.1.3.3 Kedudukan Pembelajaran IPS di SD ... 28

2.1.3.4 Tujuan Pembelajaran IPS di SD ... 28

2.1.3.5 Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ... 29

2.1.3.6 Materi IPS ... 30

2.1.3.7 Pembelajaran IPS Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif . 30 2.2 Kajian Penelitian yang Relevan ... 31

2.3 Kerangka Berpikir ... 35

2.4 Hipotesis Penelitian ... 36

BAB III METODE PENELITIAN... 37

3.1 Jenis Penelitian... 37

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

3.2.1 Tempat Penelitian ... 38

3.2.2 Waktu Penelitian ... 38

3.3 Populasi dan Sample Penelitian ... 39

(15)

xiv

3.3.2 Sampel penelitian ... 39

3.4 Variabel Penelitian ... 40

3.4.1 Variabel ... 40

3.4.2 Definisi Operasional Variabel ... 40

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 41

3.6 Instrumen Penelitian ... 41

3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 42

3.7.1 Validitas Instrumen ... 42

3.7.2 Reliabilitas Instrumen ... 46

3.8 Teknik Analisis Data... 47

3.8.1 Analisis Deskriptif ... 47

3.8.2 Analisis Inferensial ... 48

3.8.2.1 Uji Prasyarat Analisis ... 49

3.8.2.2 Uji Perbedaan Nilai Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol .... 50

3.8.2.3 Uji Hipotesis ... 51

3.8.2.4 Uji Effect Size ... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53

4.1 Hasil Penelitian ... 53

4.1.1 Deskripsi Data ... 53

4.1.1.1 Data Nilai Pretest Kelompok Kontrol ... 54

4.1.1.2 Data Nilai Posttest Kelompok Kontrol ... 55

4.1.1.3 Data Nilai Pretest Kelompok Eksperimen ... 55

4.1.1.4 Data Nilai Posttest Kelompok Eksperimen ... 56

4.1.1.5 Kenaikan Nilai Pretest dan Posttest Kelompok dan Kontrol ... 56

4.1.2 Hasil Uji Perbedaan atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I terhadap Pembelajaran IPS di SD ... 56

4.1.2.1 Hasil Uji Prasyarat Analisis ... 57

4.1.2.2 Hasil Uji Beda Nilai Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol .. 62

4.1.2.3 Hasil Uji Hipotesis ... 64

4.1.2.4 Hasil Uji Effect Size ... 66

(16)

xv

4.3 Pembahasan... 67

4.3.1 Pembahasan Proses Pelaksanaan Penelitian ... 67

4.3.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 73

5.1 Kesimpulan ... 73

5.2 Saran ... 73

5.2.1 Bagi Sekolah ... 73

5.2.2 Bagi Guru ... 74

5.2.3 Bagi Peneliti Lain ... 74

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 74

DAFTAR REFERENSI ... 75

LAMPIRAN ... 78

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi ... 13

Tabel 2.2 SK dan KD IPS Kelas V Semester II ... 29

Tabel 3.1 Waktu Penelitian ... 38

Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data pada Variabel Prestasi Belajar ... 41

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian sebelum Diuji Validitas Dan Reliabilitasnya ... 41

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Soal Menggunakan IBM Statistics SPSS 20 ... 44

Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen yang sudah Diuji Validitasnya ... 45

Tabel 3.6 Kualifikasi Reliabilitas ... 47

Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Instrumen Tes Pilihan Ganda ... 47

Tabel 3.8 Kriteria Nilai Effect Size ... 52

Tabel 4.1 Distribusi Frekensi Sampel Penelitian ... 53

Tabel 4.2 Data Nilai Prestasi Belajar Siswa ... 54

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol ... 58

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol ... 58

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen ... 59

Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen ... 60

Tabel 4.7 Homogenitas Pretest Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 62

Tabel 4.8 Hasil Uji Perbedaan Rata-rata Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen pada Variabel Prestasi Belajar ... 63

Tabel 4.9 Hasil Uji Perbedaan Rata-rata Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen pada Variabel Prestasi Belajar ... 65

Tabel 4.10 Homogenitas pada Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen 65 Tabel 4.11 Rangkuman untuk Skor Pretest dan Posttest ... 66

Tabel 4.12 Uji beda Skor Rata-rata Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen pada Variabel Prestasi Belajar ... 66

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Skema Penelitian Relevan ... 34

Gambar 3.1 Desain Penelitian Kuasi Eksperimental... 38

Gambar 3.2 Skema Variabel Penelitian ... 40

Gambar 3.3 Rumus Mencari Effect Size ... 52

Gambar 4.1 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Pretest Kelas Kontrol ... 58

Gambar 4.2 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Posttest Kelas Kontrol ... 59

Gambar 4.3 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Pretest Kelas Eksperimen ... 60

Gambar 4.4 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Posttest Kelas Eksperimen ... 61

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Surat Ijin akan Melaksanakan Penelitian ... 79

Lampiran 2 Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian ... 80

Lampiran 3 Silabus dan RPP Kelas Eksperimen ... 81

Lampiran 4 Silabus dan RPP Kelas Kontrol ... 126

Lampiran 5 Materi Pembelajaran ... 178

Lampiran 6 Bentuk Soal yang Dikerjakan Siswa untuk Uji Coba ... 197

Lampiran 7 Hasil output Uji Validitas dan Reliabilitas Soal Pilihan Ganda dengan IBM SPSS Statistics 20 ... 203

Lampiran 8 Lembar Expert Judgement Instrumen Penelitian ... 207

Lampiran 9 Instrument Soal untuk Pretest dan Posttest ... 215

Lampiran 10 Tabulasi Pengolahan Data Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 219

Lampiran 11 Hasil Input Data nilai Pretest dan Posttest kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 223

Lampiran 12 Hasil Output Perhitungan SPSS untuk Analisis Deskriptif .... 225

Lampiran 13 Hasil Output Perhitungan SPSS untuk Uji Prasyarat dan Analisis Inferensial ... 226

Lampiran 14 Lembar Pengamatan Keterlaksanaan Jigsaw I ... 229

(20)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD merupakan ilmu pengetahuan yang

memberikan pengetahuan dasar serta keterampilan sebagai warga negara yang

baik sedini mungkin (Susanto, 2013:138). Kajian materi IPS yang diajarkan di SD

memuat keterpaduan dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan untuk

meningkatkan kualitas siswa sebagai warga negara (Susanto, 2013:144). Siswa

bisa belajar masalah-masalah yang berkembang atau sedang terjadi di lingkungan

masyarakat sekitar. Mereka bisa memanfaatkan ilmu yang sudah dipelajari dan

menerapkannya dalam realita kehidupan. Jadi, penting bagi siswa SD untuk bisa

memahami konsep atau materi pembelajaran IPS sebagai modal mereka untuk

berinteraksi atau bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini akan menambah

pengalaman mereka dalam menapaki dunia kehidupan bermasyarakat. Ilmu

Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang membahas tentang peristiwa,

fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial, sehingga dalam

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Tim Penyusun KTSP, 2007:4) pemerintah

menetapkan IPS sebagai salah satu mata pelajaran wajib yang diajarkan di SD.

Pembelajaran hendaknya melibatkan siswa sebagai subjek yang aktif saat

belajar, tidak terkecuali saat belajar IPS. Hal ini sejalan dengan teori yang

dicetuskan oleh Vigotsky. Teori Vigotsky menjelaskan bahwa pengetahuan siswa

tidak dihasilkan dari dalam individu tetapi lebih dibangun dari interaksi dengan

(21)

Pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa akan memberikan pengalaman

belajar bagi mereka. Guru hendaknya tidak bertindak sebagai pentransfer ilmu

namun sebagai fasilitator dalam belajar. Saat pembelajaran IPS di kelas siswa

dapat belajar dengan teman sebayanya dan juga guru. Ilmu pengetahuan yang

dibentuk dari pengalaman belajar siswa sendiri akan memberikan dampak baik

bagi prestasi belajar siswa. Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh dari

perubahan kemampuan sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang sudah

dilakukan.

Metode pembelajaran IPS hendaknya berpijak pada aktivitas yang

membuat siswa secara individu maupun kelompok aktif mencari, menggali,

menemukan konsep dan prinsip IPS secara keseluruhan serta informasi yang dapat

dipercaya (Susanto, 2013:157). Guru bisa menggunakan model pembelajaran

yang inovatif dan metode pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa ketika

mengajar, sehingga siswa merasa senang dan nyaman mengikuti pembelajaran. Di

samping itu guru juga bisa menggunakan metode pembelajaran yang dapat

mengaktifkan siswa di kelompok seperti metode diskusi, eksperimen,

demonstrasi, bermain peran, dan lain-lain. Penggunaan model dan metode

pembelajaran dapat divariasi oleh guru tergantung dari karakter siswa, minat

siswa, jam pelajaran, ataupun materi yang diajarkan. Guru juga harus kreatif

dalam menggunakan model dan metode yang ada sehingga dapat dimanfaatkan

secara optimal. Peran guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dapat

membawa siswa belajar dalam situasi yang menyenangkan.

Namun realitasnya, banyak guru yang melaksanakan pembelajaran IPS

(22)

anak bersikap apatis atau acuh tak acuh pada mata pelajaran IPS dan gejala sosial

yang terjadi di masyarakat (Susanto, 2013:155). Penggunaan metode ekspositori

atau penjelasan kurang tepat untuk anak usia SD karena menyebabkan anak

bersikap pasif sehingga pembelajaran menjadi membosankan (Susanto,

2013:154-155). Penggunaan metode ekspositori bisa menimbulkan anggapan pada siswa

bahwa mereka tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran, sehingga di dalam

kelas terkadang ada siswa yang mengantuk, meletakkan kepala di atas meja,

berbicara sendiri atau tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan guru. Hal ini

menjadi masalah serius apabila pada akhirnya siswa menjadi tidak paham akan

materi yang harus dipelajarinya. Kejadian-kejadian tersebut akan mengakibatkan

rendahnya prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPS itu sendiri.

Rendahnya prestasi belajar IPS akan memberikan dampak yang kurang baik bagi

kepekaan siswa terhadap masalah sosial yang terjadi di ligkungan masyarakat

sekitar, selain itu siswa juga kurang terampil dalam mengatasi masalah yang

terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Bertolak dari masalah di atas, peneliti menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw I untuk mengatasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran

IPS. Tipe jigsaw I dapat digunakan untuk pengajaran membaca, menulis,

mendengarkan, atau berbicara dan dapat digunakan salah satunya pada mata

pelajaran IPS (Lie, 2010:69). Jenis materi yang paling mudah digunakan untuk

tipe jigsaw I berupa materi naratif tertulis yang lebih mengembangkan konsep

daripada mengembangkan keterampilan (Isjoni, 2012:83). Para ahli tersebut

menjelaskan bahwa model kooperatif tipe jigsaw I sesuai untuk diterapkan dalam

(23)

untuk materi sejarah. Model pembelajaran ini membuat siswa aktif dalam

pembelajaran. Pembelajaran akan berpusat pada siswa (student centered).

Beberapa peneliti terdahulu seperti Rukiyah (2012); Darmada, Putra, & Meter

(2013); Apriliana (2012); Priyatna (2013) dan Wardani (2012) meneliti tentang

penerapan jigsaw I terhadap hasil atau prestasi belajar yang hasilnya model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I memberikan kontribusi yang baik terhadap

pencapaian prestasi belajar siswa dibandingkan dengan model konvensional.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I membelajarkan siswa secara

berkelompok, yang masing-masing anggota memiliki tanggungjawab secara

individu dan adanya saling ketergantungan positif. Pada kelompok asal siswa

dibagikan topik berbeda-beda, kemudian akan membentuk kelompok ahli yang

merupakan kumpulan dari siswa dari kelompok asal dengan topik sama. Di dalam

kelompok ahli siswa berdiskusi tentang topik yang menjadi tugasnya. Setelah

siswa berdiskusi di kelompok ahli, masing-masing siswa akan membagikan ilmu

yang sudah dibahas pada kelompok asal. Pada tipe jigsaw I ini guru dapat

mendorong siswa untuk belajar dengan teman sebaya. Banyak penelitian

mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan teman sebaya lebih efektif

dilakukan dari pada pembelajaran oleh guru (Isjoni dan Ismail, 2008:151). Pada

penerapan jigsaw I guru hanya bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran di

kelompok. Diharapkan dengan digunakannya model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw I, siswa bisa terlibat aktif bekerjasama dalam memecahkan kesulitan,

bertanggungjawab secara individu dalam kelompok. Beberapa penjelasan yang

sudah dipaparkan di atas mendorong peneliti tertarik meneliti apakah penerapan

(24)

dalam pembelajaran IPS SD kelas V. Peneliti memilih kelas V karena seperti

sudah dijelaskan sebelumnya bahwa materi IPS kelas V sebagian besar berupa

narasi tertulis dan memungkinkan diterapkannya jigsaw I. Peneliti ingin

mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah

Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I.

1.2 Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi hanya untuk pelajaran IPS semester II pada siswa

kelas V. Penelitian akan difokuskan pada Standar Kompetensi (SK) menghargai

peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan

mempertahankaan kemerdekaan Indonesia dan Kompetensi Dasar (KD)

mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda

dan Jepang.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah dapat dirumuskan

suatu rumusan masalah penelitian yaitu apakah terdapat perbedaan prestasi belajar

IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif

tipe jigsaw I?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar

IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif

(25)

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penerapan

metode pembelajaran di Indonesia. Penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan

bacaan atau referensi dalam mengajar. Semua warga sekolah dapat meningkatkan

kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajaran yang inovatif.

1.5.2 Manfaat Praktis 1.5.2.1Bagi Guru

1.5.2.1.1 Guru bisa memahami penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw I sesuai dengan aturan dan langkah-langkah pembelajarannya.

1.5.2.1.2 Mengembangkan profesionalitas guru sebagai seorang pengajar yang

inovatif.

1.5.2.2Bagi Siswa

1.5.2.2.1 Mengaktifkan siswa saat pembelajaran berlangsung.

1.5.2.2.2 Memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam belajar menggunakan

model kooperatif jigsaw I.

1.5.2.3Bagi Peneliti

1.5.2.3.1 Memberikan pengalaman baru dalam menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw I selama pembelajaran di kelas.

1.5.2.3.2 Menambah pengalaman tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran

(26)

1.5.2.4Bagi Peneliti Lain

1.5.2.4.1 Menjadi bahan referensi bagi penelitian yang akan dilakukan.

(27)

1

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab II ini terdapat kajian teori, kerangka berpikir dan hipotesis

menyangkut penelitian yang akan dilaksanakan. Kajian pustaka ini akan

menjelaskan istilah-istilah atau hal yang menyangkut penelitian serta beberapa

penelitian terdahulu. Akhir bab ini akan dirumuskan kerangka berpikir dan

hipotesis yang merupakan dugaan sementara dari penelitian.

2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Belajar

2.1.1.1Pengertian Belajar

Belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang sebagai akibat

interaksinya dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan relatif tetap dan

berbekas berupa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-sikap dengan melibatkan

proses berpikir (Winkel, 2004:59 dan Syah, 2008:68). Fontana (dalam

Winataputra, 2008:1.8) mengartikan bahwa belajar adalah suatu perubahan

perilaku individu yang relatif tetap akibat dari pengalaman. Berkaca dari para ahli

tersebut belajar merupakan keseluruhan dari perubahan yang relatif tetap berupa

pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap akibat dari pengalaman dan

interaksinya dengan lingkungan. Perubahan yang relatif tetap disini maksudnya

perubahan secara tetap yang terjadi pada individu akibat pengalaman belajar dan

tidak bersifat sementara. Perubahan sementara karena mabuk tidak bisa disebut

belajar. Belajar akan memberikan pengalaman baru bagi individu berupa

(28)

pengetahuan, keterampilan, dan nilai-sikap. Perubahan yang terjadi tidak

menuntut yang signifikan, namun perubahan yang hanya sedikitpun bisa

dikatakan bahwa individu tersebut sudah belajar.

2.1.1.2Ciri-ciri Belajar

Seorang individu atau siswa dikatakan belajar apabila dia memiliki ciri-ciri

sebagai berikut (Winataputra, 2008:1.9) yaitu (1)belajar harus memungkinkan

adanya perubahan perilaku, (2)perubahan merupakan hasil dari pengalaman,

(3)perubahan bersifat relatif tetap. Perubahan menyangkut perilaku yang

dimaksud yaitu aspek pengetahuan (kognitif), sikap dan nilai (afektif), serta

keterampilan (psikomotorik). Perubahan merupakan hasil dari pengalaman yang

terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan. Interaksi dapat

berupa fisik dan psikis. Seorang anak yang tahu bahwa api itu panas maka tidak

akan mendekatinya terlalu dekat, hal ini merupakan contoh interaksi berupa fisik.

Contoh interaksi psikis misalnya seorang anak akan berhati-hati ketika

menyeberang jalan setelah tahu ada orang yang tertabrak kendaraan. Perubahan

yang relatif tetap berarti perubahan akibat belajar tersebut memiliki sifat

permanen tanpa adanya pengaruh seperti pengaruh obat atau minuman keras.

Perubahan perilaku karena obat atau minuman keras bersifat tidak permanen

sedangkan perubahan perilaku seseorang akibat dari belajar mempunyai sifat

cukup permanen.

Djamarah (2011:15-17) menambahkan ciri-ciri belajar yaitu

(1)perubahan bersifat tetap, (2)perubahan aspek tingkah laku, (3)perubahan yang

terjadi secara sadar, (4)perubahan dalam belajar bersifat fungsional, (5)perubahan

(29)

terarah. Dua ciri belajar yang pertama sama dengan apa yang disebutkan

Winataputra, hanya saja Djamarah menambahkan keempat ciri lain yang sudah

disebutkan di atas. Ciri belajar yang mengungkapkan perubahan secara sadar

berarti seseorang tersebut secara sadar mengalami perubahan seperti

pengetahuannya bertambah ataupun kecakapannya bertambah. Belajar bersifat

fungsional jadi perubahan yang terjadi dalam belajar akan terjadi secara terus

menerus dan hasil yang sudah dikuasai akan berguna bagi proses belajar

berikutnya. Perubahan belajar bersifat positif dan aktif dimana seseorang akan

berubah menjadi lebih baik dan perubahan itu ada karena adanya usaha individu

sendiri. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah bahwa perubahan tingkah

laku terjadi karena ada suatu tujuan yang akan dicapai. Kedua ahli di atas telah

menjelaskan ciri-ciri belajar yaitu apabila seseorang mengalami perubahan di

mana perubahan tersebut menyangkut beberapa hal seperti perubahan terjadi

secara sadar, memiliki sifat yang fungsional, bersifat positif dan aktif, bersifat

tetap, memiliki tujuan, dan menyangkut aspek tingkah laku.

2.1.1.3Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang.

Susanto (2013:12) dan Sukmadinata (2009:162) menjelaskan ada dua hal yang

mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu siswa itu sendiri dan lingkungannya.

Syah (2008:144) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar

menjadi tiga yaitu (1)faktor internal merupakan keadaan jasmani dan rohani

siswa, (2)faktor eksternal merupakan keadaan yang berada di lingkungan siswa,

(3)faktor pendekatan belajar merupakan upaya siswa dalam belajar yang meliputi

(30)

Pada dasarnya pendapat ahli di atas sama, hanya saja Susanto memasukkan faktor

pendekatan belajar seperti yang dikemukakan Syah yaitu metode atau pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar kedalam faktor lingkungan.

Faktor internal siswa terdiri dari dua aspek yaitu aspek jasmani dan rohani.

Faktor jasmani misalnya kesehatan seseorang. Jika seseorang sakit, maka dia tidak

akan bergairah dalam belajar. Faktor rohani misalnya kebahagiaan, sebagai contoh

seorang siswa yang mendapat hadiah karena prestasinya maka dia akan merasa

senang. Faktor-faktor rohani utama yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas

belajar yaitu tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.

Penjelasan untuk contoh faktor rohani misalnya minat dan motivasi berpengaruh

pada tindakan belajar siswa. Siswa akan terdorong atau termotivasi untuk

memusatkan perhatian besar pada mata pelajaran yang diminatinya (Syah,

2008:145-152, Susanto, 2013:12, dan Sukmadinata, 2009:162).

Faktor eksternal dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan sosial dan non

sosial. Lingkungan sosial siswa yang dimaksud adalah orang tua, saudara,

teman-teman bermainnya, guru, staf sekolah, tetangga. Lingkungan nonsosial contohnya

tempat belajar, media belajar, buku pelajaran, buku tulis (Syah, 2008:152-155,

Susanto, 2013:12).

Faktor pendekatan belajar merupakan suatu strategi dan metode belajar

yang digunakan oleh siswa untuk menunjang efektif dan efisiensi dalam

mempelajari materi tertentu. Pendekatan belajar yang dipakai siswa yang satu

dengan lain bermacam-macam. Hal tersebut tergantung dengan karakter

masing-masing siswa (Syah, 2008:144). Jadi, penerapan jigsaw I merupakan pendekatan

(31)

Ketiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar di atas saling

terkait. Hal tersebut bisa dicontohkan misalnya apabila keadaan jasmani rohani

siswa baik kemudian keadaan eksternal siswa mendukung disertai pendekatan

belajar siswa seperti metode atau model pembelajaran yang sesuai maka

keberhasilan belajar akan tercapai. Keberhasilan belajar kurang maksimal apabila

salah satu faktor keberhasilan belajar diatas tidak terpenuhi.

2.1.1.4Prestasi Belajar

Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, kemudian di

Indonesiakan menjadi “prestasi” yang artinya “hasil usaha” (Arifin, 2009:12). Di

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) prestasi berarti suatu hasil yang

dicapai. Menurut KBBI (2008:1101) prestasi belajar adalah penguasaan

pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran

lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi

belajar umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan (Arifin, 2009:12). Prestasi

belajar yaitu hasil suatu usaha yang dicapai pada perubahan kemampuan

pengetahuan, keterampilan, dan nilai-sikap yang dikembangkan melalui mata

pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai dari guru.

Ada ahli yang mendefinisikan perubahan kemampuan penguasaan siswa

sebagai hasil belajar. Hasil belajar dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang

dimiliki seseorang setelah dia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana,

2009:22). Purwanto (2009:46) berpendapat bahwa hasil belajar adalah hasil

perubahan yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar

adalah hasil perubahan kemampuan dari pengalaman belajar yang meliputi aspek

(32)

memberikan gambaran kesamaan pengertian antara prestasi dengan hasil belajar,

yaitu keduanya merupakan hasil perubahan kemampuan yang meliputi aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pencapaian prestasi belajar dapat dilihat dari pencapaian indikator yang

sudah ditentukan. Indikator merupakan suatu yang menjadi petunjuk (KBBI,

2008:532). Indikator prestasi merupakan suatu yang menjadi penunjuk adanya

prestasi tertentu (Syah, 2008:216). Jadi, indikator prestasi belajar merupakan

sesuatu yang menjadi petunjuk adanya perubahan hasil usaha dalam ranah

kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Jenis,

indikator, dan cara evaluasi prestasi yang dikemukakan oleh Surya (1982) dan

Barlow (1985) disajikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1

Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi (Syah, 2008:217)

Ranah/Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi

Ranah Cipta (Kognitif)

1. Pengamatan 1. Dapat menunjukkan 2. Dapat membandingkan 3. Dapat menghubungkan

1. Tes lisan 2. Tes tertulis 3. Observasi 2. Ingatan 1. Dapat menyebutkan

2. Dapat menunjukkan kembali

1. Tes lisan 2. Tes tertulis 3. Observasi 3. Pemahaman 1. Dapat menjelaskan

2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

1. Tes lisan 2. Tes tertulis

4. Aplikasi/Penerapan 1. Dapat memberikan contoh 2. Dapat menggunakan secara

tepat

Ranah Rasa (Afektif)

1. Penerimaan 1. Menunjukkan sikap menerima

2. Menunjukkan sikap menolak

1. Tes tertulis 2. Tes skala sikap 3. Observasi 2. Sambutan 1. Kesediaan berpartisipasi atau

terlibat

(33)

Ranah/Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi 2. Kesediaan memanfaatkan 3. Observasi 3. Apresiasi (sikap

menghargai)

1. Menganggap penting dan bermanfaat

2. Menganggap indah dan harmonis

1. Mengakui dan meyakini 2. Mengingkari

1. Tas skala sikap 2. Pemberian tugas

ekspresif (yang

2. Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari

1. Pemberian tugas ekspresif dan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya 2. Kecakapan membuat mimik

dan gerakan jasmani

1. Tes lisan 2. Observasi 3. Tes tindakan

Pencapaian prestasi belajar dapat diungkap dengan tes prestasi belajar. Tes

prestasi belajar merupakan tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap

performansi maksimal siswa dalam menguasai materi-materi yang sudah

dipelajari. Tes prestasi belajar secara luas mencakup tiga kawasan tujuan

pendidikan yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tes prestasi belajar

dapat berbentuk ulangan-ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas

(Aswar, 2005:8-9).

Pada penelitian ini prestasi belajar hanya akan diukur pada aspek kognitif

siswa dalam belajar IPS. Pengukuran prestasi belajar hanya pada aspek kognitif

atau pengetahuan karena peneliti ingin mengetahui penguasaan materi IPS oleh

siswa atas penggunaan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw I. Jadi yang

(34)

dicapai pada perubahan kemampuan kognitif siswa kelas V Sekolah Dasar yang

diukur menggunakan tes objektif.

Ada beberapa prinsip-prinsip pengukuran prestasi belajar perlu diketahui

sebelum menyusun instrumen tes prestasi belajar. Menurut Grondlund (dalam

Aswar, 2005:18-22) prinsip-prinsip prestasi belajar yaitu (1)tes prestasi harus

mengukur hasil belajar yang dibatasi sesuai tujuan pembelajaran, (2)harus

mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang

dicakup oleh tujuan pembelajaran, (3)tes prestasi berisi tentang item dengan tipe

yang sesuai untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan, (4)tes prestasi disusun

sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasil, (5)reliabilitas tes

prestasi diusahakan setinggi mungkin, (6)tes prestasi harus dapat digunakan untuk

meningkatkan belajar siswa.

Penyusunan tes prestasi belajar dibatasi oleh tujuan pembelajaran yang

sudah ditentukan (Azwar, 2005:19). Pada penyusunan tujuan pembelajaran harus

mengacu pada indikator yang akan dicapai dalam suatu pembelajaran. Jadi, dalam

mengukur prestasi belajar harus ada acuan dan tidak boleh sembarangan.

Tes untuk mengetahui keberhasilan suatu pembelajaran tidak mungkin

memuat semua materi yang dipelajari mengingat keterbatasan waktu, kemampuan

penulis soal, biaya yang dikeluarkan. Hal ini menyebabkan penyajian tes hanya

merupakan sebagian kecil dari permasalahan yang sudah dipelajari. Oleh karena

itu soal tes harus representatif yang dicakup secara proporsional (Azwar,

2005:19).

Tipe-tipe tes prestasi yang disajikan dalam soal harus disesuaikan dengan

(35)

kompetensi dalam pemecahan masalah maka soal dapat dibuat esai atau pilihan

ganda. Tipe benar salah atau jawaban pendek dapat dipilih apabila tujuannya

pengungkapan fakta (Azwar, 2005:19).

Tes prestasi dibuat sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya. Hal ini

dapat dicontohkan seperti tes sumatif bisa mencakup dari keseluruhan materi yang

sudah dipelajari, misalnya tes semester harus mencakup semua materi yang sudah

dipelajari selama satu semester. Tes formatif harus mencakup materi pelajaran

yang sudah dipelajari dalam beberapa pertemuan (Azwar, 2005:20).

Reliabilitas tes menjadi salah satu pertimbangan dalam melakukan

interpretasi hasil ukur tes yang dilakukan. Tes yang tidak memberikan hasil yang

konsisten akan memberikan penafsiran yang keliru pada aspek yang akan

diungkap, oleh karenanya reliabilitas tes sebisa mungkin diusahakan setinggi

mungkin (Azwar, 2005:21).

Tes prestasi memberikan gambaran tentang sejauh mana materi dipahami

oleh siswa. Tujuan utama dari tes sumatif maupun formatif dapat digunakan

sebagai motivator siswa dalam belajar. Siswa dapat melihat dari hasil tes sumatif

ataupun formatif dalam mempertahankan atau meningkatkan belajarnya (Azwar,

2005:21).

Di samping hal-hal di atas, menurut peneliti ada satu yang perlu

ditambahkan untuk prinsip pengukuran prestasi belajar yaitu tes prestasi harus

diuji validitasnya. Pengujian validitas digunakan untuk mengetahui ketepatan

suatu instrumen tes prestasi untuk mengukur apa yang harus diukur. Adanya uji

(36)

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif

2.1.2.1Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Penjelasan pertama yang akan dibahas adalah pengertian model. Model

dapat diartikan sebagai objek atau konsep untuk merepresentasikan suatu hal

(Trianto, 2010: 21). Model dapat dikatakan pula suatu yang dapat melukiskan atau

menggambarkan suatu hal sehingga dari pengertian model tersebut diperoleh

gambaran mengenai pengertian model pembelajaran. Model pembelajaran dapat

diartikan suatu pola sebagai pedoman untuk merencanakan kegiatan belajar

mengajar di kelompok (Suprijono, 2011:46). Jadi, model pembelajaran adalah

suatu pola yang digunakan sebagai acuan dalam membuat rencana kegiatan

belajar mengajar. Model pembelajaran dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran

yang dilakukan oleh guru dari awal sampai akhir. Model pembelajaran digunakan

sebagai pedoman guru dalam membuat perangkat pembelajaran seperti silabus,

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan

media pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif adalah fokus pendekatan pembelajaran pada

penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerjasama untuk memaksimalkan

belajar demi tercapainya suatu tujuan (Sugiyanto, 2010:37). Pendapat lain

menjelaskan bahwa kelompok dalam konteks pembelajaran dapat diartikan

kumpulan dua orang atau lebih yang berinteraksi secara sadar bahwa dirinya

merupakan bagian dari kelompok sehingga memiliki rasa tanggungjawab untuk

mencapai tujuan bersama (Sanjaya, 2011:240). Hal penting dari pembelajaran

kooperatif adalah kerjasama antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan

(37)

Vigotsky merupakan salah seorang ahli yang menekankan bahwa peserta

didik membangun pengetahuannya melalui interaksi sosial dengan orang lain

(Suprijono, 2011:55). Kerjasama dengan orang lain akan membuka wawasan atau

pengetahuan bagi anggotanya. Masing-masing dari anggota akan bertukar pikiran

atau pemahaman, saling mengevaluasi, saling bantu-membantu di saat anggota

lain mengalami kesulitan. Hal tersebut dilakukan karena anggota dalam satu

kelompok memiliki tujuan yang sama.

Model pembelajaran kooperatif memandang manusia sebagai makhluk

sosial yang didasari falsafah homo homini socius (Isjoni, 2012:25). Falsafah homo

homini sosius terkandung arti bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri melainkan

membutuhkan orang lain. Kerjasama sangat penting diterapkan dalam kehidupan

bermasyarakat. Pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Penjelasan

para ahli di atas dapat memberikan keterangan tentang model pembelajaran

kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu pola yang menjadi

pedoman perencanaan pembelajaran dimana dibentuk suatu kerjasama dalam

kelompok kecil yang beranggotakan dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan

bersama.

2.1.2.2Unsur-unsur atau Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif

Slavin (1995:12-13) menuliskan karakteristik dari pembelajaran kooperatif

yaitu (1)tujuan kelompok, (2)tanggungjawab individu, (3)kesempatan yang sama

untuk sukses, (4)kompetisi tim, (5)spesialisasi tugas, dan (6)adaptasi terhadap

kebutuhan individu. Semua anggota kelompok yang belajar menggunakan metode

pembelajaran kooperatif akan bekerjasama satu sama lain. Semua anggota

(38)

Tanggungjawab individu menjadi hal yang penting karena dapat

mencegah siswa yang tidak mau berkontribusi dengan kelompok. Hal ini dapat

dilaksanakan dengan dua cara. Pertama, setiap anggota kelompok diberi

tanggungjawab khusus yang merupakan bagian tugas dari kelompoknya. Kedua,

skor kelompok diperoleh dari jumlah atau rata-rata skor individu anggota

kelompok (Slavin, 1995:12).

Pembelajaran dengan tim memberikan kesempatan yang sama kepada

siswa untuk berkontribusi dalam kelompok (Slavin, 1995:12). Semua anggota

dalam satu tim aktif dalam memajukan anggotanya. Kesempatan sukses yang

samapun dimiliki masing-masing anggota kelompok.

Kompetisi antar tim digunakan untuk memotivasi siswa bekerja dalam

timnya (Slavin, 1995:12). Siswa akan berlomba-lomba bagaimana meningkatkan

kualitas kemampuan timnya. Semua anggota tim akan berkontribusi nilai untuk

kelompok.

Spesialisasi tugas memberikan gambaran karakteristik pembelajaran

kooperatif. Anggota kelompok melaksanakan subtugas dari tugas yang diberikan

pada masing-masing anggota kelompok (Slavin, 1995:13). Pada dasarnya

pembelajaran kooperatif mengaktifkan semua anggotanya dalam kelompok. Tidak

ada anggota kelompok yang tidak bekerja sesuai dengan tugasnya.

Di dalam satu kelompok yang bekerja bersama bisa dimungkinkan terdiri

dari berbagai macam kemampuan (Slavin, 1995:13). Mereka bekerja sesuai

dengan tingkat pengetahuan masing-masing, sehingga kemungkinan tugas yang

(39)

kurang paham bisa meminta bantuan kepada anggota kelompok yang paham

dalam mempelajari konsep yang sulit.

Lie (2010:30-35) menambahkan unsur-unsur yang menjadi ciri khas

pembeda model pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran lainnya.

Pertama, adanya saling ketergantungan positif antar anggota. Kedua, adanya

tanggungjawab perseorangan atau tiap-tiap anggota kelompok. Ketiga, adanya

tatap muka dalam artian ada pertemuan diskusi semua anggota kelompok.

Keempat, adanya komunikasi antar anggota. Kelima, adanya evaluasi proses

kelompok.

Setiap anggota dalam satu kelompok memiliki rasa bahwa dirinya

merupakan bagian dari kelompok sehingga terbentuk saling ketergantungan yang

positif antar anggota dalam kelompok (Lie, 2010:32). Anggapan tersebut

membuat mereka harus bekerja bersama untuk memajukan kelompoknya.

Kesuksesan kelompok tergantung dari partisipasi anggotanya, sehingga apabila

salah seorang anggotanya menemui masalah maka anggota lain akan berusaha

membantu memecahkan masalahnya tersebut.

Semua anggota kelompok memiliki tanggungjawab untuk memajukan

kelompoknya (Lie, 2010:33). Saat satu kelompok memiliki tujuan yang sama,

maka masing-masing anggota berusaha berpartisipasi dalam kelompok. Jadi,

dalam satu kelompok semua anggota berperan tanpa kecuali.

Penting kiranya bahwa anggota kelompok diberi kesempatan bertemu

untuk berdiskusi dan tukar pendapat mengenai masalah yang dihadapi satu

kelompok. Adanya diskusi memudahkan anggota kelompok dalam memecahkan

(40)

kelompok akan sangat membantu memperkaya informasi yang didapatkan (Lie,

2010:34).

Keterampilan berkomunikasi antar anggota menjadi penting saat

menyampaikan beberapa gagasan. Keberhasilan kelompok juga tergantung dari

kesediaan anggota untuk mendengarkan pendapat teman dan kemampuan

menyampaikan gagasan atau pendapatnya (Lie, 2010:34). Keterampilan ini perlu

diasah untuk membangun hubungan yang harmonis antar anggota. Cara

mengomunikasikan gagasan yang baik akan membantu teman memahami materi

yang dianggap sulit.

Evaluasi kegiatan oleh kelompok perlu dilakukan menyangkut keefektifan

kerjasama pada tugas selanjutnya. Evaluasi juga bisa menjadi sumber informasi

keefektifan model pembelajaran kooperatif yang digunakan (Lie, 2010:34).

Adanya evaluasi maka bisa dilakukan perbaikan kegiatan kelompok yang

dilakukan.

2.1.2.3Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Majid (2013:175) dan Rusman (2011:209) mengungkapkan ada beberapa

tujuan model pembelajaran kooperatif yaitu (1)siswa dapat meningkatkan

kinerjanya di bidang akademik., (2)siswa dapat menerima keadaan

teman-temannya yang beragam, (3)siswa dapat mengembangkan keterampilan sosialnya.

Model pembelajaran kooperatif membelajarkan siswa secara kelompok. Siswa

yang tadinya kurang paham dengan materi akan terbantu karena adanya

penjelasan dari teman lain yang lebih paham. Anggota kelompok dalam

pembelajaran kooperatif dibentuk secara heterogen, baik itu jenis kelamin,

(41)

bekerjasama serta bantu-membantu dalam memahami materi pembelajaran. Hal

tersebut dapat mengembangkan keterampilan sosial mereka diantaranya

kerjasama, menghargai sesama, bersedia menerima pendapat orang lain.

2.1.2.4Model-model Pembelajaran Kooperatif

Penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa

menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerjasama, dan membantu teman

dalam mengatasi tugas sulit yang dihadapi. Masalah yang sebelumnya sulit

dipecahkan secara individu, maka dapat diatasi dengan adanya diskusi dengan

teman lain untuk mencari solusinya. Pembelajaran kooperatif juga mengajarkan

kepada siswa agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya (Isjoni,

2012:15-17).

Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif diantaranya Student

Teams Achievement Divisions (STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI),

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Tipe-tipe dari model

pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri masing-masing yang membedakannya.

Masing-masing ciri tersebut akan dijelaskan di bawah ini.

Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan model

pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan kompetisi antar kelompok,

dimana siswa yang dibentuk dengan anggota heterogen mempelajari meteri

bersama-sama kemudian diuji secara individu melalui kuis yang nantinya nilai

tersebut akan menentukan prestasi baik secara individu ataupun kelompok (Huda,

2012:116 dan Sugiyono, 2010:44-45). Jadi, metode STAD memiliki ciri yaitu

adanya kompetisi antar kelompok. Perolehan nilai kelompok didapat dari nilai

(42)

kemajuan setiap kelompok tergantung dari kemajuan setiap anggotanya, oleh

karena itu setiap anggota punya andil dalam memajukan kelompok.

Jigsaw merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif.

Menurut Wardani (dalam Isjoni, 2012:29) jigsaw merupakan model pembelajaran

kooperatif yang mendorong siswa untuk berkreatifitas dan bantu-membantu dalam

memahami materi pelajaran untuk mencapai prestasi maksimal. Eggen &

Kauchak (2012:137) berpendapat bahwa jigsaw merupakan suatu strategi dalam

pembelajaran dimana siswa menjadi ahli subbagian dari satu topik dan

mengajarkannya kepada orang lain. Jigsaw memiliki dua ciri utama yaitu

mengajarkan bangunan pengetahuan sistematis yang mana satu topik

mengombinasikan beberapa pengetahuan dan adanya spesialisasi tugas (Eggen

dan Kauchak, 2012:137). Maksud dari bangunan yang sistematis yaitu satu topik

yang mengombinasikan materi yang berisi subbagian topik tersebut. Spesialisasi

tugas dalam jigsaw menuntut siswa untuk mempelajari subtopik bagiannya

sehingga bisa menjadi pakar untuk siswa lain dalam satu timnya. Adanya siswa

yang menjadi pakar untuk memberikan informasi yang sudah dipelajarinya akan

membentuk saling ketergantungan yang positif antar anggota tim. Jadi, jigsaw

merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dimana siswa menjadi

pakar untuk subbagian dari topik tertentu dan mengajarkannya pada siswa lain

untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Group Investigation (GI) merupakan salah satu metode pembelajaran

kooperatif yang membelajarkan siswa secara kelompok dengan anggota heterogen

untuk memilih topik dan melakukan investigasi mendalam yang nanti akan

(43)

kelompok kecil siswa akan bersama-sama mempelajari dan menginvestigasi topik

materi secara mendalam yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelompok.

Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini

dibuat untuk mengakomodasi tingkat kemampuan siswa yang beragam melalui

pengelompokan siswa heterogen maupun homogen, dimana siswa akan mengikuti

petunjuk guru dalam belajar membaca dan menulis, kemudian praktik, melakukan

pra-penilaian, dan kuis (Huda, 2012:127). Jadi, metode ini digunakan bagi guru

untuk membimbing siswa dalam membaca dan menulis.

2.1.2.5Jigsaw I

Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson yang merupakan bagian

dari pembelajaran kooperatif. Jenis materi yang paling mudah digunakan untuk

tipe jigsaw I berupa materi naratif tertulis yang lebih mengembangkan konsep

daripada mengembangkan keterampilan (Isjoni, 2012:83). Siswa memahami

konsep materi melalui aktivitas membaca.

Lie (2010:69) berpendapat bahwa jigsaw I yang dikembangkan oleh

Aronson cocok diterapkan di semua kelompok atau tingkatan. Isjoni (2012:83)

menambahkan bahwa jigsaw I efektif diterapkan pada siswa di semua tingkatan

kelompok dimana siswa tersebut sudah mendapatkan keterampilan pemahaman

yang baik, kemampuan membaca, maupun keterampilan kelompok untuk belajar

bersama. Jadi, dalam menerapkan jigsaw I perlu memperhatikan kemampuan dan

karakteristik siswanya.

Aktivitas siswa dalam jigsaw I ini yaitu membaca topik yang berbeda

antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membantu nantinya di kelompok ahli

(44)

asalpun akan menghargai kontribusi anggotanya (Slavin, 2008:245). Guru sebagai

pusat kegiatan di kelompok seperti pembelajaran konvensional akan berkurang

dengan penerapan metode jigsaw I. Guru bertindak sebagai fasilitator belajar

siswa dan tidak lagi sepanjang waktu menuangkan ilmu kepada siswanya. Metode

jigsaw I melatih siswa untuk bekerja dalam kelompok asal dan ahli. Siswa akan

membagikan hasil diskusinya yang diperoleh dari kelompok ahli kepada anggota

di kelompok asal. Pada akhir pembelajaran siswa akan diberi kuis yang dikerjakan

secara individu (Huda, 2012:121). Jadi, dari beberapa penjelasan di atas dapat

ditarik kesimpulan bahwa jigsaw I adalah salah satu tipe model pembelajaran

kooperatif dimana awalnya siswa mempelajari subbagian topik tertentu dan

mendalaminya dalam kelompok ahli kemudian mengajarkannya pada siswa lain

dalam kelompok asal untuk mencapai prestasi yang maksimal tanpa adanya

reward di akhir pembelajaran.

Penelitian ini menggunakan metode jigsaw I karena materi IPS untuk kelas

V sebagian besar naratif, adanya ketergantungan positif antar anggota kelompok,

adanya tanggungjawab perseorangan, selain itu karena setiap anggota kelompok

asal memperoleh informasi yang berbeda-beda maka siswa akan dilatih untuk

mendengarkan atau menghargai pendapat orang lain. Sampel dalam penelitian ini

memiliki karakteristik siswa heterogen yang dapat dilihat dari jenis kelamin,

kemampuan akademik dan latar belakang sosial ekonomi sehingga cocok untuk

penerapan jigsaw I.

Aronson (2009) menjelaskan ada beberapa langkah dari jigsaw I.Pertama,

membuat kelompok dengan anggota 5-6 orang. Satu kelompok terdiri dari jenis

(45)

terbentuk anggota yang heterogen. Kedua, menunjuk satu siswa dalam kelompok

sebagai ketua kelompok. Ketua kelompok yaitu siswa yang paling dirasa mampu

memimpin dan mengatur anggotanya. Ketiga, membagi materi pelajaran menjadi

5-6 topik. Keempat, menetapkan satu siswa untuk satu topik materi. Kelima,

memberi waktu kepada siswa untuk membaca topiknya minimal dua kali dan

menjadi familiar atau tidak asing dengan materi tersebut, tidak diharuskan siswa

menghafal materinya. Keenam, membentuk kelompok sementara menjadi

kelompok ahli dengan satu siswa dari masing-masing kelompok asal dengan tugas

yang sama. Ketujuh, memberikan kesempatan pada kelompok ahli untuk

mendiskusikan poin-poin tugasnya dan melatih presentasi yang akan dilakukan

pada kelompok asal. Kedelapan, membawa kembali siswa ke dalam kelompok

asal. Siswa akan kembali ke kelompok asalnya masing-masing. Kesembilan,

setiap siswa mempresentasikan setiap topiknya kepada kelompok asal. Siswa lain

didorong mengajukan pertanyaan untuk penjelasan. Kesepuluh, guru berkeliling

untuk mengamati proses diskusi dari kelompok ke kelompok. Melakukan

intervensi jika ada kelompok yang mengalami masalah (misalnya ada seorang

anggota yang menguasai atau mengacau). Ketua kelompok secepatnya mengambil

alih tugas ini. Ketua kelompok dapat dilatih dengan membisikkan instruksi

bagaimana mengintervensi/campur tangan. Kesebelas, di akhir pembahasan

memberikan kuis kepada siswa dimana siswa menyadari bahwa kuis yang

dilakukan tidak hanya untuk bersenang-senang atau permainan tetapi benar-benar

(46)

2.1.3 Ilmu Pengetahuan Sosial 2.1.3.1Hakikat IPS

IPS adalah ilmu yang didalamnya mengkaji berbagai macam disiplin ilmu

sosial seperti antropologi, sosiologi, agama, geografi, hukum, filsafat, ekonomi,

psikologi, budaya, sejarah, politik serta kehidupan manusia untuk membentuk

siswa menjadi insan yang baik dan bertanggungjawab terhadap bangsa dan negara

(Susanto, 2013:137). Hakikat pendidikan IPS menurut National Council for the

Social Studies (NCSS) (dalam Susanto, 2013:144) pada prinsipnya menjelaskan

bahwa pendidikan IPS merupakan pembelajaran yang mengaji secara terpadu dari

ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan untuk meningkatkan kemampuan

kewarganegaraan. IPS mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan

sosial siswa dalam masyarakat. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa

mengapa kajian IPS mencakup berbagai macam disiplin ilmu. Jadi, Ilmu

Pengetahuan Sosial (IPS) adalah ilmu yang dipelajari salah satunya pada jenjang

kelompok lima SD didalamnya mengkaji berbagai macam disiplin ilmu sosial

serta kehidupan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

2.1.3.2Pembelajaran IPS di SD

Pembelajaran IPS di SD merupakan bidang studi yang mempelajari

manusia dalam aspek kehidupan dan interaksinya dalam hidup bermasyarakat

(Susanto, 2013:143). IPS penting untuk mendidik siswa menjadi individu yang

baik serta dapat menempatkan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Siswa

mampu memahami kejadian-kejadian di lingkungan sekitar minimal tempat

tinggalnya serta mampu menempatkan dirinya menjadi anggota masyarakat yang

(47)

2.1.3.3Kedudukan Pembelajaran IPS di SD

Pemerintah telah memasukkan mata pelajaran IPS sebagai salah satu

pelajaran wajib yang diajarkan di SD (Tim Penyusun KTSP, 2007:4). Hal ini

memperkuat bahwa pelajaran IPS di SD harus ada sebagai dasar untuk

mempelajari IPS di tingkat yang lebih tinggi yaitu di Sekolah Menengah Pertama

(SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun di Perguruan Tinggi. Di tingkat

SD, materi IPS masih pada taraf yang sederhana dibanding di SMP, SMA maupun

di Perguruan Tinggi. Materi IPS akan semakin kompleks seiring dengan tingkatan

pendidikan yang semakin tinggi.

2.1.3.4Tujuan Pembelajaran IPS di SD

Pembelajaran IPS di SD memiliki beberapa tujuan. Pemerintah

menetapkan tujuan pelajaran IPS di SD yaitu:

“(1)mengenalkan konsep-konsep yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan, (2)memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, ingin tahu suatu hal, inkuiri, pemecahan masalah, serta keterampilan dalam kehidupan sosial, (3)mempunyai komitmen dan kesadaran terhadap nilai sosial dan kemanusiaan, (4)memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global (Tim penyusun KTSP, 2007:237).”

Munir (1997:132) mengemukakan ada lima tujuan pembelajaran IPS di SD

(dalam Susanto, 2013:150) yaitu (1)membekali siswa dengan pengetahuan sosial

yang berguna dalam kehidupan di masyarakat, (2)membekali siswa dalam

mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif dalam memecahkan

masalah yang terjadi di masyarakat, (3)membekali siswa kemampuan

berkomunikasi dengan warga masyarakat, bidang keilmuan, dan bidang keahlian,

(4)membekali siswa dengan kesadaran, sikap mental positif, dan keterampilan

(48)

kehidupan tersebut, (5)membekali siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan

keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan IPTEK

(Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Beberapa tujuan pembelajaran IPS yang termuat dalam KTSP dan

dikemukakan Munir tersebut memberikan gambaran bahwa IPS ditujukan untuk

membekali siswa mengenai pengetahuan sosial, peka dan kritis dalam

memecahkan masalah sosial di masayarakat. Siswa bisa menempatkan dirinya

dalam hidup bermasyarakat dan ikut andil dalam pencarian solusi masalah yang

terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Hidup bersosialisasi dengan

masyarakat membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan baik. Hal ini

penting mengingat komunikasi merupakan salah satu sarana dalam penerimaan

dan penyampaian informasi. Siswa juga harus mampu berpikir kritis dan

memanfaatkan ilmu dalam kehidupan masyarakat, serta mengembangkan

pengetahuan sesuai dengan perkembangan IPTEK. Pengembangan pengetahuan

untuk terampil dalam penggunaan IPTEK sangat penting mengingat era

globalisasi seperti sekarang ini menuntut siswa untuk lebih terampil bagaimana

memanfaatkan sarana dan prasarana teknologi yang ada.

2.1.3.5Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

SK dan KD IPS kelas lima semester dua dimuat dalam KTSP untuk satuan

pendidikan dasar SD/MI seperti yang ada pada tabel 2.2.

Tabel 2.2

SK dan KD IPS Kelas V Semester II (Tim Penyusun KTSP,2007:265)

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia

(49)

2.1.3.6Materi IPS

IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada siswa mulai

jenjang SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB (Tim penyusun KTSP,

2007:237). KTSP menyebutkan ruang lingkup materi pelajaran IPS di SD atau

Madrasah Ibtidaiyah (MI) yaitu:

“(1)manusia, tempat, dan lingkungan, (2)waktu keberlanjutan dan

perubahan, (3)sistem sosial dan budaya, dan (4)perilaku ekonomi dan

kesejahteraan” (Tim penyusun KTSP,2007:237)”.

Materi yang akan digunakan untuk penelitian adalah materi kelas V

semester genap yaitu perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang.

Perjuangan melawan penjajah Belanda meliputi kedatangan bangsa Belanda ke

Indonesia, penindasan lewat VOC, penindasan kerja rodi, pajak, dan tanam paksa.

Perjuangan melawan penjajahan Jepang meliputi kedatangan bangsa Jepang ke

Indonesia, penderitaan rakyat pada masa Jepang, dan perlawanan terhadap

penjajahan Jepang.

2.1.3.7Pembelajaran IPS Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I

Tipe jigsaw I dapat digunakan untuk pengajaran membaca, menulis,

mendengarkan, atau berbicara dan dapat digunakan salah satunya pada mata

pelajaran IPS (Lie, 2010:69). Sebagian besar materi IPS yang berupa narasi

menjadi salah satu alasan mengapa metode jigsaw I dapat diterapkan saat proses

pembelajaran. Adanya materi yang berupa bacaan, dapat memudahkan pembagian

tugas di setiap sub materinya.

Penjelasan berikut ini akan memberikan beberapa gambaran yang jelas

Figur

Tabel 2.1 Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi (Syah, 2008:217)
Tabel 2 1 Jenis Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi Syah 2008 217 . View in document p.32
Tabel 2.2 SK dan KD IPS Kelas V Semester II (Tim Penyusun KTSP,2007:265)
Tabel 2 2 SK dan KD IPS Kelas V Semester II Tim Penyusun KTSP 2007 265 . View in document p.48
Gambar 2.1 Skema Penelitian Relevan
Gambar 2 1 Skema Penelitian Relevan . View in document p.53
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
Tabel 3 1 Waktu Penelitian . View in document p.57
Gambar 3.1 Desain Penelitian Kuasi Eksperimental.
Gambar 3 1 Desain Penelitian Kuasi Eksperimental . View in document p.57
Gambar 3.2 Skema Variabel Penelitian.
Gambar 3 2 Skema Variabel Penelitian . View in document p.59
Tabel 3.3
Tabel 3 3 . View in document p.60
tabel 3.2.
tabel 3.2. . View in document p.60
Tabel 3.5
Tabel 3 5 . View in document p.64
Tabel 3.6 Kualifikasi Reliabilitas
Tabel 3 6 Kualifikasi Reliabilitas . View in document p.66
gambar 3.3.
gambar 3.3. . View in document p.71
Tabel. 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.72
Tabel 4.2 Data Nilai Prestasi Belajar Siswa
Tabel 4 2 Data Nilai Prestasi Belajar Siswa . View in document p.73
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol
Tabel 4 3 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol . View in document p.77
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol
Tabel 4 4 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol . View in document p.77
Gambar 4.2 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Posttest Kelompok Kontrol
Gambar 4 2 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Posttest Kelompok Kontrol . View in document p.78
Gambar 4.3 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai  Pretest Kelompok Eksperimen
Gambar 4 3 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Pretest Kelompok Eksperimen . View in document p.79
Gambar 4.4 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai  Posttest Kelompok Eksperimen
Gambar 4 4 Grafik Hasil Pengujian Normalitas Nilai Posttest Kelompok Eksperimen . View in document p.80
Tabel 4.7 Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Tabel 4 7 Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol . View in document p.81
Tabel 4.8 Hasil Uji Perbedaan Rata-rata Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Tabel 4 8 Hasil Uji Perbedaan Rata rata Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen . View in document p.82
Gambar 4.5 Perbandingan Rata-rata Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Gambar 4 5 Perbandingan Rata rata Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol dan Eksperimen . View in document p.84
Tabel 4.10
Tabel 4 10 . View in document p.85
Gambar tokoh-tokoh pejuang daerah
Gambar tokoh tokoh pejuang daerah . View in document p.110
gambar sesuai
gambar sesuai . View in document p.111
Gambar Keterangan
Gambar Keterangan . View in document p.115
Gambar Keterangan
Gambar Keterangan . View in document p.116
Gambar tokoh-tokoh pejuang daerah
Gambar tokoh tokoh pejuang daerah . View in document p.154
Gambar Keterangan
Gambar Keterangan . View in document p.159

Referensi

Memperbarui...