LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG. Nomor : 8 Tanggal : 25 Juni 1999 Seri : B Nomor : 8

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH

KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG

Nomor : 8 Tanggal : 25 Juni 1999 Seri : B Nomor : 8

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG

NOMOR 15 TAHUN 1999

TENTANG

RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II BADUNG,

Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997, tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah yang merupakan Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997, Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran ditetapkan menjadi salah satu jenis Retribusi Daerah;

b. bahwa sehubungan dengan huruf a perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung tentang Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah - daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah - Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1655).

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918);

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3037);

(2)

4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3692);

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah;

9. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 02/KPTS/1985 Tanggal 2 Januari 1985 tentang Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan Gedung;

10. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 378/KPTS/1987 Tanggal 31 Agustus 1987 tentang Pengesahan 33 Standard Kontruksi Bangunan Indonesia;

11. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Perubahan;

12. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 171 tahun 1997 tentang Prosedur Pengesahan Peraturan Daerah;

13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah;

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah;

15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 119 Tahun 1998 tentang Ruang Lingkup dan Jenis-Jenis Retribusi Daerah-Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II;

16. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung Nomor 5 Tahun 1997 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebakaran Kabupaten Daerah Tingakt II Badung.

(3)

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

a. Daerah adalah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung;

b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung;

c. Kepala Daerah adalah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Badung;

d. DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung;

e. Dinas Kebakaran adalah Dinas Kebakaran Kabupaten Daerah Tingkat II Badung;

f. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

g. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi termasuk pemungutan atau pemotongan Retribusi tertentu;

(4)

h. Nomor Pokok Wajib Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat NPWRD adalah Nomor Wajib Retribusi yang didaftar dan menjadi identitas bagi setiap Wajib Retribusi;

i. Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;

j. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya Retribusi yang terhutang;

k. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;

l. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya badan usaha milik negara atau Daerah dengan nama atau bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun bentuk usaha tetap serta bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI

Pasal 2

(1) Dengan nama Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran dipungut Retribusi atas jasa pelayanan dalam pemeriksaan alat-alat pemadam kebakaran.

(2) Obyek Retribusi adalah pelayanan atau pengujian oleh Pemerintah Daerah terhadap alat-alat pemadam kebakaran.

(3) Jasa Pelayanan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini meliputi :

a. Pemeriksaan pesawat monitor alarm kebakaran;

(5)

c. Pemeriksaan berkala atas kelengkapan sarana proteksi kebakaran, sarana penyelamatan jiwa;

d. Pengujian alat pemadam api ringan;

e. Pengujian peralatan pokok pemadam kebakaran; f. Pengujian alat Bantu evakuasi;

(4) Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau menikmati pelayanan sebagaimana dimaksud ayat (3).

BAB III

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA

Pasal 3

Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan frekwensi dan jumlah alat Pemadam Kebakaran yang diperiksa dan atau dipuji.

BAB IV

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN TARIF DAN WILAYAH PEMUNGUTAN

Pasal 4

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif Retribusi alat Pemadam Kebakaran didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian ijin yang bersangkutan.

(2) Retribusi alat Pemadam Kebakaran dipungut di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung.

(6)

BAB V

GOLONGAN RETRIBUSI DAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF

Pasal 5

(1) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran termasuk golongan Retribusi Jasa Umum.

(2) Besarnya tarif Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran ditetapkan sebagai berikut :

a. Pemeriksaan pesawat monitor alam kebakaran Rp.400.00,-/perusahaan/bulan.

b. Pemeriksaan, penempatan, penjagaan, otomatis berdasarkan jumlah gedung yang dilayani Rp.10.000,-/gedung/bulan.

c. Pemeriksaan berkala atas kelengkapan sarana proteksi kebakaran, sarana penyelamatan jiwa dan bahan-bahan berbahaya :

1. Pengujian Instalasi

1.1. Hidran Kebakaran Rp.25.000,-/titik. 1.2. Alarm Otomatis Rp.30.000,-/titik. 1.3. Alarm Manual Rp. 20.000,-/titik. 1.4. Pemercik Rp. 50.000,-/titik.

1.5. Sistem pemadam khusus Rp. 2.000,-/m.

2. Kipas angin bertekanan lebih dari 10.000 cm Tp.12.000,-/buah.

3. Alat pemadam api ringan berlaku juga untuk pemeriksaan berkala dan persetujuan pada pelaksanaan pembangunan :

2.7.1. Jenis air bertekanan s/d 91 Rp.500,-/buah 2.7.2. Lebih besar 91 Rp.1.500,-/buah.

2.7.3. Jenis dry chemical :

2.7.3.1. s/d 6 kg Rp.750,-/buah

2.7.3.2. lebih besar dari 6 kg Rp. 1.500,-/buah 2.7.4. Jenis halon:

(7)

2.7.4.1 s/d 14 lbs Rp.750,-/buah

2.7.4.2 lebih besar 14 lbs Rp.1.500,-/buah.

d. Pengujian alat pemadam api ringan : 1. Jenis air bertekanan ukuran :

1.1. 1 sampai dengan 5 liter Rp.500,-/tb 1.2. 5 sampai dengan 10 lt Rp.600,-/tb 1.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.700,-/tb 1.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp.900,-/tb 1.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.1.400,-/tb 1.6. lebih dari 30 lt Rp.1.700,-/tb

2. Jenis busa ukuran :

2.1. 1 sampai dengan 5 lt Rp.500,-/tb 2.2 5 sampai dengan 10 lt Rp.750,-/tb 2.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.1.125,-/tb 2.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp. 1.500,-/tb 2.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.1.875,-/tb 2.6. lebih dari 30 lt Rp.2.250,-/tb 3. Jenis CO ukuran : 3.1. 1 sampai dengan 5 lt Rp.1.000,-/tb 3.2 5 sampai dengan 10 lt Rp.1.250,-/tb 3.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.1.750,-/tb 3.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp. 2.000,-/tb 3.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.2.500,-/tb 3.6. lebih dari 30 lt Rp.3.000,-/tb

4. Jenis kimia kering ukuran :

4.1. 1 sampai dengan 5 lt Rp.1.250,-/tb 4.2 5 sampai dengan 10 lt Rp.1.270,-/tb 4.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.2.000,-/tb 4.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp. 2.500,-/tb 4.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.3.500,-/tb 4.6. lebih dari 30 lt Rp.4.000,-/tb

5. Jenis halon ukuran :

5.1. 1 sampai dengan 5 lt Rp.2.000,-/tb 5.2 5 sampai dengan 10 lt Rp.2.500,-/tb

(8)

5.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.3.500,-/tb 5.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp. 4.250,-/tb 5.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.5.000,-/tb 5.6. lebih dari 30 lt Rp.5.750,-/tb

6. Jenis busa mekanik ukuran :

6.1. 1 sampai dengan 5 lt Rp.500,-/tb 6.2 5 sampai dengan 10 lt Rp.1.000,-/tb 6.3. 10 sampai dengan 15 lt Rp.1.250,-/tb 6.4. 15 sampai dengan 20 lt Rp. 2.000,-/tb 6.5. 20 sampai dengan 30 lt Rp.2.500,-/tb 6.6. lebih dari 30 lt Rp.3.000,-/tb

e. Pengujian perlengkapan pokok pemadam kebakaran 1. Mobil Kebakaran Rp.40.000,-/mobil

2. Selang Kebakaran Rp. 35.000,-/tipe

3. Motor pompa kebakaran jinjing Rp. 25.000,-/buah 4. Baju tahan panas Rp.15.000,-/tipe

5. Helm Rp. 5.000,-/tipe

6. Peralatan pernafasan Rp. 30.000,-/tipe 7. Baju anti api Rp. 25.000,-/set

f. Pengujian peralatan/pemadam kebakaran :

1. Pompa kebakaran dengan penggerak motor diesel Rp. 50.000,-/tipe 2. Pompa kebakaran dengan penggerak listrik Rp. 45.000,-/tipe

3. Pompa kebakaran dengan penggerak motor bensin Rp. 75.000,-/tipe 4. Alat pengindra (detector) :

4.1. pengindra panas Rp. 20.000,-/tipe 4.2. pengindra asap Rp. 25.000,-/tipe 4.3. pengindra nyala Rp. 30.000,-/tipe 5. Kepala pemercik Rp. 20.000,-/tipe

g. Pengujian alat Bantu evakuasi : 1. Tali luncur Rp. 1.500,-/tipe 2. Sliding roll Rp. 5.000,-/tipe

(9)

BAB VI

TATA CARA PEMUNGUTAN

Pasal 6

(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB VII

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 7

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang

membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan

ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN

Pasal 8

(1) Pengeluaran surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan Penagihan Retribusi dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis, Retribusinya yang terutang.

(3) Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk.

(10)

BAB IX

K E D A L U W A R S A

Pasal 9

(1) Hak untuk melakukan Penagihan Retribusi, Kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak terutangnya retribusi, kecuali Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Kedaluwarsa Penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini tertangguh apabila :

a. Diterbitkan Surat Teguran atau;

b. Ada pengakuan Hutang Retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

BAB X

KETENTUAN PIDANA

Pasal 10

(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi yang terutang.

(11)

BAB XI P E N Y I D I K A N

Pasal 11

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi kewenangan khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini adalah :

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas.

b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi Daerah tersebut.

c. Menerima keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.

d. Memeriksa buku-buku, catatan – catatan dan dokumen – dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e.

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi Daerah;

(12)

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini memberitahukan dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyidikannya kepada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 12

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.

(13)

Pasal 13

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung.

Ditetapkan di Denpasar Pada Tanggal : 25 Juni 1999

DEWAN PERWAKILAN BUPATI KEPALA RAKYAT DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II DAERAH TINGKAT II BADUNG BADUNG

ttd. ttd.

DRS. I GEDE YUDHA I.G.B. ALIT PUTRA

D I S A H K A N

Dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia

No. : 974.61-1267 Tanggal : 18-10-1999

Diundangkan di Denpasar Pada Tanggal 7 Januari 2000

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BADUNG

ttd.

DRS. IDA BAGUS YUDARA PIDADA PEMBINA UTAMA MUDA

NIP. 010045843

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BADUNG TAHUN 2000 NOMOR 8 SERI B NOMOR 8.

(14)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG

NOMOR 15 TAHUN 1999 TENTANG

RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN

I. UMUM

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Pajak dan Retribusi merupakan sumber Pendapatan Daerah agar Daerah dapat melaksanakan otonominya, yaitu mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Sumber Pendapatan Daerah tersebut diharapkan mampu menjadi sumber pembiayaan penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan ketentuan yang dapat memberikan pedoman dan arahan bagi Daerah Tingkat II khususnya Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dalam hal Pemungutan Retribusi Daerah.

Dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka seluruh ketentuan yang mengatur tentang Pajak dan Retribusi Daerah di Daerah Tingkat II perlu disesuaikan dengan Undang-Undang dimaksud.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah yang merupakan Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997, Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran ditetapkan menjadi salah satu jenis Retribusi Daerah.

Berdasarkan hal tersebut maka dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Badung tentang Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.

(15)

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 s/d pasal 5 : Cukup Jelas.

Pasal 6 ayat (1) : Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan Retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan Retribusi, Pemerintah Daerah dapat mengajak bekerja sama badan-badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi secara efisien. Kegiatan pemungutan retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya retribusi yang terhutang, pengawasan, penyetoran retribusi, dan penagihan retribusi.

(2) : Yang dimaksud dengan dokumen yang dipersamakan antara lain berupa karcis masuk, kupon, kartu langganan.

Pasal 7 s/d pasal 9 : Cukup Jelas

Pasal 10 : Pengajuan tuntutan ke Pengadilan Pidana terhadap Wajib Retribusi dilakukan dengan penuh kearifan serta memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi dan besarnya retribusi yang terutang yang mengakibatkan kerugian Keuangan Daerah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :