BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang satu berbeda dengan kebudayaan yang lain. Indonesia adalah negara

Teks penuh

(1)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki corak kebudayaan daerah yang hidup dan berkembang di seluruh pelosok tanah air. Kebudayaan yang satu berbeda dengan kebudayaan yang lain. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki berbagai macam kebudayaan. Koentjaraningrat (1972: 165) membagi kebudayaan menjadi tujuh unsur yang salah satunya adalah kesenian. Menurut Sujarno dkk (2003: 1), seni merupakan salah satu keahlian manusia dalam menciptakan karya yang bermutu dilihat dari keindahannya. Seni dimiliki oleh semua manusia baik secara kelompok maupun perorangan.

Suku Jawa adalah salah satu suku yang memiliki kebudayaan khas dan unik di Indonesia. Masyarakat Jawa memiliki kebudayaan yang bernilai tinggi. Hasil peninggalan budaya Jawa berjumlah cukup banyak. Peninggalan warisan budaya itu berupa peninggalan yang tidak tertulis, seperti petilasan-petilasan, candi-candi dan peninggalan tertulis yang berupa naskah-naskah atau sastra Jawa. Selain itu suku Jawa juga memiliki berbagai warisan kesenian yang sampai sekarang masih dipertahankan dengan cara tetap dimainkan, seperti wayang kulit, ketoprak, gamelan, dan seni tari.

Kesenian merupakan perwujudan dari kebudayaan manusia yang berbudi luhur dan bersifat rohani, di samping itu juga merupakan perwujudan dari ide-ide serta kegiatan manusia dalam masyarakat. Kesenian merupakan unsur kebudayaan

(2)

2 yang universal dan dipandang dapat menonjolkan sifat dan mutu (Koentjaraningrat, 1990:202).

Kebudayaan merupakan hasil dari proses budi daya yang dilakukan manusia bersumberkan pada cipta, rasa dan karsa untuk menciptakan tata kehidupan yang bermakna dan berkesinambungan. C.A. Van Peursen bahkan memberi keterangan bahwa kebudayaan adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan tersebut memiliki beberapa unsur. Salah satu dari unsur kebudayaan adalah kesenian. Di Indonesia terdapat berbagai bentuk kesenian yang berkembang di setiap daerahnya.

Fungsi budaya lokal pada suatu daerah mencakup segi-segi kehidupan yang luas. Boleh jadi budaya lokal berperan dalam upaya untuk menjaga hubungan sosial sehingga dapat tercipta keharmonisan. Budaya lokal berperan juga sebagai penengah yang memberi jalan keluar dalam pelbagai masalah yang timbul di tengah masyarakat. Tak terkecuali pula budaya lokal dipergunakan sebagai sarana otokritik untuk mengembalikan kemelencengan kebijakan yang ditempuh oleh pemegang kekuasaan daerah tersebut menuju jalan yang benar atau bisa saja memberi pencerahan berupa penyuluhan tentang masalah aktual yang dihadapi bersama demi mewujudkan kepedulian.

Refleksi dari spesifikasi fungsi budaya lokal kerap tertuang dalam rupa kesenian yang berkembang secara turun-temurun. Kesenian menurut Kluckhohn (Koentjaraningrat, 1997: 80-81) terwujud dari nilai-nilai budaya sehingga akhirnya akan menentukan sifat dan corak dari pikiran, cara berpikir, dan tingkah laku manusia serta tercipta suatu norma-norma yang sesuai dengan masyarakat.

(3)

3 Kesenian yang masih eksis di Jawa antara lain adalah kesenian reog dari Ponorogo, kesenian debus dari Banten, kesenian wayang golek yang ada di Jawa Barat, dan beberapa kesenian yang popular di Yogyakarta, di antaranya kesenian Jathilan. Kesenian Jathilan adalah salah satu kesenian yang sangat diminati oleh masyarakat Jawa, karena kesenian ini memiliki unsur magis yang sesuai dengan sifat masyarakat Jawa yang senang akan hal-hal yang berbau mistik.

Jathilan merupakan salah satu jenis tarian rakyat paling tua di Jawa. Kesenian ini dapat menyatukan antara unsur gerakan tari dengan mistik. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai kesenian Jathilan, sebab selain dapat menyatukan antara unsur tari dan magis, Jathilan juga mengandung nilai-nilai terkandung dalam filosofi hidup masyarakat Jawa.

Dukungan masyarakat terhadap sebuah sosok kesenian itu juga bersifat menyeluruh. Misalnya masyarakat juga ikut mendukung kelestariannya dengan menyediakan anggota keluarga untuk ikut berpartisipasi, termasuk regenerasi pelaku kesenian. Di wilayah pedesaan, usaha untuk mewariskan pengetahuan tentang seni tradisional berdasarkan unsur yang amat penting adalah membiasakan orang sejak kecil menghadiri segala bentuk aktivitas kesenian. Menonton atau mendengarkan kesenian pasti akan menimbulkan peniruan, yang berakibat pada penggalakan dan penyempurnaan. Tidak hanya sejak kecil saja, dalam melakukan penghayatan tanpa disengaja, tidak sadar, tidak permanen, dan tidak selektif itu tidak membedakan usia, jenis kelamin, dan status sosial (Bouvier, 2002: 354).

(4)

4 Kesenian Jathilan memiliki peran yang penting dalam kehidupan masyarakat, sebagai bagian dari kegiatan sosial, yang lebih dikenal sebagai sarana upacara, seperti merti desa atau bersih desa. Keberadaan Jathilan dalam acara Merti Desa memberikan efek sosial bagi masyarakat pendukungnya sebagai sarana gotong-royong. Nilai-nilai gotong royong di balik kesenian Jathilan ini tercermin dalam upaya untuk saling memberi dan melengkapi kekurangan kebutuhan artistik, misalnya pengadaan instrumen, tempat latihan, hingga pengadaan kostum. Dampak dari interaksi antar individu tersebut maka terbentuk sistem nilai, pola pikir, sikap, perilaku kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga, dan lapisan stratifikasi masyarakat (Soekanto, 2003:51)

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam kesehariannya, masyarakat Indonesia pada umumnya memegang kuat nilai budaya. Untuk mengetahui fungsi dan peranan, ada baiknya terlebih dahulu melakukan penelaahan mengenai arti fungsi itu sendiri, yang terpenting dari pengertian fungsi adalah berguna atau bermanfaat bagi sesuatu (Baal, 1988: 51). Begitu pula dengan kesenian Jathilan yang bermanfaat bagi masyarakat, keberadaannya mampu dijadikan sebagai wadah sosialisasi, kerukunan, kebersamaan, dan kekeluargaan bagi masyarakat.

Berangkat dari latar belakang yang diuraikan di atas, penulis tertarik untuk meneliti nilai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam Jathilan. Penelitian ini didasarkan atas beberapa pertimbangan yakni, Jathilan adalah kesenian yang relevan untuk dipertahankan dan dikembangkan sebagai aset budaya Nusantara. Jathilan adalah kesenian yang mampu mempertahankan nilai-nilai budaya. Teori nilai budaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori nilai budaya Clyde

(5)

5 Klukchohn. Menurut Kluckhohn, sistem nilai budaya dalam suatu kebudayaan di dunia secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yakni human nature orientation (orientasi sifat manusia), man nature and suprenature (orientasi manusia dengan alam, supranatural), time orientation (orientasi terhadap waktu), activity orientation (orientasi aktivitas), dan relational orientation (orientasi hubungan). Teori orientasi nilai budaya Kluckhohn yang memberi landasan pemikiran awal bahwa seni adalah wujud dari nilai-nilai budaya diharapkan mampu mengupas nilai-nilai budaya Jathilan. Peneliti juga ingin membahas secara detail tentang kebudayaan Jathilan dan diharapkan dengan penelitian ini dapat membuka wawasan baru bagi masyarakat, bangsa Indonesia dan penulis terhadap budaya-budaya lokal, sehingga dapat lebih mencintai dan mengerti akan pentingnya budaya-budaya lokal di Indonesia.

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Apa yang dimaksud dengan Jathilan dan bagaimana sejarah perkembangannya?

b. Apa nilai budaya dalam Jathilan menurut perspektif orientasi nilai Kluckhohn?

2. Keaslian Penelitian

Sejauh penelusuran peneliti, terdapat penelitian yang mendekati tema yang dipilih oleh penulis. Penelitian tersebut antara lain:

(6)

6 1. Skripsi yang ditulis oleh Anggit Shita Atmaja (Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2009) dengan judul “Bentuk Pertunjukan Jathilan Jago Di Dusun Jurang Jero Giripeni Wates Kulonprogo. Penelitian ini membahas bentuk pertunjukan Jathilan di Dusun Jurang Jero Giripeni Wates Kulonprogo.

2. Skripsi yang ditulis Riyanti (Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2001) dengan Judul “Jathilan Turonggo Mudo Di Dusun Sinduharjo Ngaglik Sleman Ditinjau Dari Bentuk Penyajiannya”. Skripsi ini pembahasannya hampir sama dengan skripsi yang ditulis oleh Anggit Shita Atmaja, namun yang membedakannya adalah lokasi penelitian.

3. Penelitian lain dilakukan Wenti Nuryani dengan judul “Nilai Edukatif dan Kultural Seni Jathilan di Desa Tutup Ngisor Magelang Jawa Tengah”, tahun 2008. Penelitian ini memfokuskan permasalahan Jathilan terkait dengan nilai-nilai edukatif yang ada pada kehidupan sosial pendukungnya. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa nilai-nilai edukatif jelas terlihat dari upaya komunitas seni Jathilan yang diamati di desa Tutup Ngisor, Magelang, Jawa Tengah, yang lebih banyak menekankan aspek gotong royong dalam aktivitas kesehariannya. Dari aktivitas inilah nilai-nilai edukasi yang tersirat dalam tradisi kesenian Jathilan dapat diimplementasikan kepada masyarakat desa Tutup Ngisor. Penelitian ini memiliki relevansi terkait dengan prospek perkembangan secara kuantitatif kesenian Jathilan pada anak-anak. Penelitian Wenti Nuryani

(7)

7 tidak mengkaji secara khusus masalah prospek perkembangan kesenian Jathilan di wilayah Tutup Ngisor sebagai akibat adanya pengaruh industri pariwisata.

4. Skripsi yang ditulis oleh Dyah Palupi Utami (Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2005) dengan judul “Peranan Pawang Wanita Dalam Pertunjukan Kesenian Jathilan Kudho Putro Mataram Di Dusun Beji Sukoarjo Ngaglik Sleman”. Skripsi ini membahas peranan pawang wanita dalam kesenian Jathilan Kudho Putro Mataram.

5. Skripsi yang ditulis oleh Veronika Anindhita Dewi Pravita (Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Nusantara, Universitas Gadjah Mada, 2007) dengan judul “Naskah Bab Jathilan Koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta Nomer Kode P.B.A 118 (Suntingan Teks Dan Terjemahan)”. Penelitian tersebut memfokuskan penelitian pada naskah bab Jathilan yang terdapat pada naskah koleksi museum Sonobudoyo Yogyakarta.

6. Skripsi yang ditulis oleh Nur Aini Ratna Dewi (Fakultas Ilmu Budaya Prodi Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada, 2012) dengan judul “Analisis Semantis Mantra Jathilan Dalam Naskah Bab Jathilan Koleksi Museum Sonobudoyo Nomor Kode P.B.A. 118. Penelitian ini hampir sama dengan skripsi yang ditulis oleh Veronika Anindhita Dewi Pravita, namun skripsi ini memiliki analisis yang lebih detail dengan objek penelitian mantra dalam kesenian Jathilan.

7. Skripsi yang ditulis oleh Agung Bintoro (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2006) dengan judul "Proses

(8)

8 Transformasi Tari Kalangkinantang Ke Dalam Seni Pertunjukan Jathilan”. Penelitian ini membahas proses perubahan yang terjadi pada tarian Kalangkinantang menjadi bentuk dan media awal dari seni pertunjukan Jathilan Turangga Mudha.

Penelitian Jathilan Dalam Perspektif Orientasi Nilai Budaya Clyde Kluckhohn berbeda dengan penelitian sebelumnya karena dalam penelitian yang sudah dipaparkan di atas sebagian besar membahas prosesi Jathilan, perkembangan dan pengalaman magi. Penelitian Jathilan Dalam Perspektif Orientasi Nilai Budaya Clyde Kluckhohn selain membahas prosesi pertunjukan Jathilan, juga akan membahas tentang nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di dalam kesenian Jathilan tersebut.

Sejauh yang penulis ketahui, penelitian tentang Jathilan Dalam Perspektif Nilai Budaya Clyde Kluckhohn belum pernah dilakukan, sehingga keaslian tulisan ini bisa dipertanggungjawaban keasliannya.

3. Manfaat Penelitian

Penelitian tentang “Jathilan Dalam Perspektif Nilai Budaya Clyde Kluckhohn” diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat yang diharapkan antara lain sebagai berikut:

a. Bagi perkembangan ilmu

Penulis mengharapkan penelitian ini mampu menambah referensi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kebudayaan lokal, khususnya kebudayaan Yogyakarta.

(9)

9 b. Bagi perkembangan filsafat

Penulis mengharapkan penelitian ini mampu membangun hasil konkrit berupa penelitian ilmiah. Refleksi khusus ini dimaksudkan untuk membumikan filsafat sebagai ilmu yang mampu bekerjasama dengan bidang keilmuan yang lain. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan referensi baru bagi perkembangan ilmu filsafat.

c. Bagi masyarakat

Penulis mengharapkan penelitian ini mampu membuka dan menambah wawasan masyarakat Indonesia mengenai filsafat yang bisa memberi pengaruh positif pada kehidupan masyarakat. Diharapkan oleh adanya penelitian ini masyarakat Indonesia mampu menerima dan mencintai keberadaan ilmu filsafat sejajar dengan ilmu lain. Selain itu penulis juga mengharapkan agar dengan adanya penelitian ini masyarakat lebih mengerti dan mencintai kebudayaan lokal.

4. Tujuan Penelitian

Sebagai suatu penelitian ilmiah, penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan yang terdapat dalam rumusan masalah, yaitu:

1. Menjelaskan Jathilan serta mengungkap sejarah perkembangannya.

2. Memperoleh nilai-nilai hasil analisis Jathilan dalam konsep orientasi nilai budaya Kluckhohn.

(10)

10 B. Tinjauan Pustaka

Penelitian yang mengambil tema Jathilan pernah dilakukan antara lain oleh Agung Bintoro. Agung Bintoro (2006) meneliti tentang Jathilan dengan judul “Proses Transformasi Tari Kalangkinantang Ke Dalam Seni Pertunjukan Jathilan”. Bintoro memaparkan bahwa tari Kalangkinantang mengalami banyak perubahan mulai tahun 1982. Perubahan itu membuat bentuk lain dari tari Kalangkinantang, yaitu seni pertunjukan Jathilan Turangga Mudha di Magelang, Jawa Tengah. Tari Kalangkinantang mengalami proses transformasi namun tidak sepenuhnya berubah. Tari Kalanginantang merupakan bentuk dan media awal dari seni pertunjukan Jathilan Turangga Mudha.

Penelitian tentang kesenian Jathilan pernah dilakukan oleh Riyanti dalam skripsi “Jathilan Turonggo Mudo Di Dusun Sinduharjo Ngaglik Sleman Ditinjau Dari Bentuk Penyajiannya” (2001). Riyanti lebih banyak memaparkan pada bentuk geraknya, tetapi juga tidak terlepas dari unsur lainnya yang mendukung bentuk penyajiannya. Hal ini sesuai dengan objek yang diteliti yaitu diarahkan pada bentuk penyajiannya yang meliputi aspek gerak, pola lantai, tata busana, rias, dan iringan, properti, waktu dan tata pentas.

Penelitian tentang kesenian Jathilan yang dilakukan oleh Anggit Shita Atmaja dalam skripsi yang berjudul “Bentuk Pertunjukan Jathilan Jago Di Dusun Jurang Jero Giripeni Wates Kulonprogo” (2009). Anggit memaparkan bahwa kesenian Jathilan Jago termasuk dalam jenis koreografi kelompok. Kesenian Jathilan Jago menggambarkan pertarungan antara ayam jago Panji Asmarabangun dengan

(11)

11 ayam jago Panji Gunungsari, sekaligus mengambarkan tentang perselisihan antar warga Jurang Jero.

Penelitian yang ditulis oleh Dyah Palupi Utami yang berjudul “Peranan Pawang Wanita Dalam Pertunjukan Jathilan Kudho Putro Mataram Di Dusun Beji Sukoharjo Ngaglik Sleman” (2005). Dyah mengemukakan bahwa seni pertunjukan rakyat seperti Jathilan adalah jenis tarian rakyat tradisional yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Akan tetapi menurut Dyah, akhir-akhir ini mulai bermunculan kelompok-kelompok yang beranggotakan kaum wanita baik remaja putri maupun ibu-ibu rumah tangga untuk berpartisipasi dalam suatu kelompok kesenian Jathilan baik itu sebaga penari, pengrawit, pawang, maupun yang berada dibelakang panggung seperti perias, ataupun yang menyiapkan aneka makanan pada saat pentas.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Aini Ratna Dewi yang berjudul”Analisis Semantis Mantra Jathilan Dalam Naskah Bab Jathilan Koleksi Museum Sonobudoyo Nomor Kode P.B.A. 118” (2012). Penelitian ini memiliki fokus pada mantra yang dipakai dalam kesenian Jathilan. Menurut Nur Aini pertunjukan Jathilan bertujuan untuk memanggil roh-roh halus nenek moyang. Oleh karena itu, pada acara puncak pertunjukan Jathilan menghadirkan penari yang kerasukan. Kerasukan ini timbul karena bunyi-bunyian yang khusus dan berirama statis (kerap dan berkesinambungan). Selain itu gerakan Jathilan hanya monoton tanpa memikirkan keindahan gerak.

Penelitian ini akan menggunakan analisisi teori orientasi nilai budaya Clyde Kluckhohn. Adapun teori tersebut pernah digunakan oleh Mira Hasti Hasmira

(12)

12 (2004), dalam tesis yang berjudul “Pengaruh Budaya Daerah Terhadap Organisasi Pemerintahan (Kasus Daerah Kabupaten Solok, Sumatera Barat)”. Hasmira menggunakan definisi dari Kroeber dan Kluckhohn untuk menelaah budaya masyarakat secara umum. Penelitian dengan objek materi Jathilan yang sudah disebutkan diatas adalah penelitian yang membahas secara detail penyajian dan koreografi yang ada dalam pagelaran Jathilan. Sejauh yang peneliti dapatkan, belum ada penelitian dengan objek materi jathilan dengan sudut pandang nilai-nilai budaya khususnya orientasi nilai-nilai budaya Clyde Kluckhohn.

C. Landasan Teori

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia (Soekanto, 2002: 172). Kata Buddhayah terdiri dari kata budi dan daya. Budi adalah makna, akal, pikiran, pengertian, paham, pendapat, atau perasaan. Daya memiliki makna yang tersirat dalam budi yaitu sebagai himpunan kemampuan dan segala usaha yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori-teori nilai budaya, khususnya nilai budaya menurut Kluckhohn. Kluckhohn menyebutkan bahwa orientasi nilai budaya adalah konsepsi umum yang terorganisasi; yang mempegaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan dengan orang dan tentang hal-hal yang diinginkan dan tak diinginkan yang mungkin bertalian dengan hubungan antar orang dengan lingkungan dan sesama manusia karena beberapa pertimbangan, yang diupayakan

(13)

13 dapat menjelaskan nilai budaya objek material secara lebih mendalam dan ekplisit.

Kluckhohn menyebutkan bahwa di dalam setiap wujud kebudayaan, terkandung nilai. Berbagai nilai budaya tersebut dapat dikelompokkan menjadi (i) nilai hakikat kehidupan manusia, (ii) hakikat karya manusia, (iii) hakikat hubungan manusia dengan alam, (iv) hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, dan (v) hakikat hubungan manusia dengan sesamanya (Koentjaraningrat, 2004:28).

D. Metode Penelitian 1. Bahan atau Materi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sistem dalam penelitian ini adalah sejarah, jurnal-jurnal dan pemikiran-pemikiran dalam filsafat yang terangkum dalam berbagai sumber kepustakaan mengenai Jathilan di Yogyakarta dan penelitian budaya. Sumber-sumber ini didapatkan dari buku-buku maupun media informasi lainnya yang dianggap relevan, seperti surat kabar, buku, jurnal, dan internet. Untuk sumber buku, penulis mencari di perpustakaan daerah Yogyakarta, perpustakaan kota Yogyakarta, perpustakaan pusat UGM, perpustakaan ISI Yogyakarta, perpustakaan Ilmu Budaya UGM.

(14)

14 Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk memahami objek materi baik secara tekstual maupun kontekstual, kemudian penulis akan menganalisisnya menggunakan objek formal dan menyampaikannya kembali.

Langkah yang diambil dalam penelitian ini berjalan berdasarkan tahap demi tahap yaitu sebagai berikut:

a. Tahap persiapan, diawali dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan kajian penelitian, data yang telah berhasil dikumpulkan kemudian dipisahkan dan diklasifikasikan berdasarkan kesesuaian dengan objek material dan objek formal.

b. Tahap pembahasan, mencakup penguraian masalah sesuai dengan objek material dan objek formal kemudian dideskripsikan.

c. Tahap akhir merupakan penyusunan data yang meliputi analisis data yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk laporan penelitian yang sistematis.

3. Analisa Data

Penelitian ini menggunakan unsur-unsur metodis yang merujuk pada buku Metode Penelitian Filsafat (Kaelan, 2005: 54-57), yaitu

a. Deskripsi; uraian dan gambaran menyeluruh mengenai data yang terkait dengan objek formal yaitu filsafat kebudayaan dan objek materi yaitu kesenian Jathilan.

b. Interpretasi; usaha mengungkapkan konsepsi filosofis dari data tentang objek formal dan objek materi.

(15)

15 c. Analisis; yaitu usaha untuk memahami nilai-nilai kebudayaan dalam

Jathilan Yogyakarta.

E. Hasil Yang Dicapai

Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan informasi tentang Jathilan dan sejarah perkembangannya. 2. Memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai kebudayaan yang terdapat

dalam kesenian Jathilan dengan orientasi nilai budaya Kluckhohn.

F. Sistematika Penulisan

Hasil penelitian ini akan dilaporkan dalam lima bab, yaitu sebagai berikut: Bab I akan menjelaskan latar belakang penelitian, rumusan masalah yang hendak dijawab, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, dan metode penelitian yang digunakan.

Bab II menjelaskan deskripsi seni pertunjukan Jathilan. Pada bab ini akan menjelaskan mengenai sejarah perkembangan Jathilan dan unsur-unsur yang ada di dalam pertunjukan Jathilan. Pada bab ini juga dijelaskan prosesi pertunjukan kesenian Jathilan.

Bab III dijelaskan mengenai pengertian kebudayaan. Kemudian akan dijelaskan pula unsur-unsur dalam kebudayaan dan wujud dalam kebudayaan. Bab ini menjelaskan orientasi nilai budaya menurut Clyde Kluckhohn.

Bab IV adalah inti penelitian, mendiskusikan sekaligus berusaha menjawab kedua rumusan masalah.

(16)

16 Bab V berisi kesimpulan yang meringkas hasil penelitian dan saran untuk penelitian berikutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :