PEMBAGIAN KEWENANGAN PUSAT
PEMBAGIAN KEWENANGAN PUSAT
DAN DAERAH
Oleh
Miftah Thoha,Ph.D Guru Besar UGM
Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah, Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah, pp pp ,, diselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengan diselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengan Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta, Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta,
17
HAKEKAT OTONOMI DAERAH
SESUAI DENGAN AMANAT UUD NEGARA
z SESUAI DENGAN AMANAT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945,
PEMERINTAH DAERAH BERWENANG PEMERINTAH DAERAH BERWENANG UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS SENDIRI URUSAN PEMERINTAHAN
SENDIRI URUSAN PEMERINTAHAN MENURUT ASAS OTONOMI DAN
PERBANTUAN PERBANTUAN.
lanjutan
j
z PEMBERIAN OTONOMI LUAS KEPADA DAERAH
z PEMBERIAN OTONOMI LUAS KEPADA DAERAH
DIARAHKAN UNTUK MEMPERCEPAT TERWUJUDNYA
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN PELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTA
PELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT.
z SELAIN ITU DAERAH BISA MENINGKATKAN DAYA SAING DENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASI
DENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASI,
KEADILAN, PEMERATAAN, KEISTIMEWAAN, KEKUSUSAN DAN KEANEKA RAGAMAN DAERAH
TIGA ASAS PEMERINTAHAN
z (1) Asas Desentralisasi z (1) Asas Desentralisasi z (2) Asas Dekonsentrasi
z (3) Asas Perbantuan ( medebewind)
z (3) Asas Perbantuan ( medebewind)
z Ketiga asas ini tergolong sistem desentralisasi, karena semua asas ini pelaksanaannya berada di daerah
z Asas dalam ketiga asas diatas merupakan
prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan bagaimana kewenangan pemerintahan dijalankan antara pemerintah pusat dan daerah
lanjutan
j
z 1) Asas desentralisasi menjelaskan tentang z 1) Asas desentralisasi menjelaskan tentang
kewenangan pemerintah daerah untuk
melaksanakan kewenangan di daerah yang
dijalankan oleh aparatur daerah masing-masing.
Kewenangan ini umumnya merupakan kewenangan otonomi yang dipunyai oleh daerah.
otonomi yang dipunyai oleh daerah.
z Kewenangan otonomi ini dijalankan seluas-luasnya oleh pemda (psl.10 ayat 2)
z Kewenangan otonomi ini wujudnya adalah selain 6 kewenangan pemerintah pusat
lanjutan
j
z 2) Asas dekonsentrasi merupakan kewenangan z 2) Asas dekonsentrasi merupakan kewenangan
pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah oleh aparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajiban aparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajiban yang dijalankan oleh pemerintah pusat untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan di daerah-daerah.
z Pelaksanaan kewenangan dari asas ini dilaksanakan di i (K il K d ) di li hk k G b
lanjutan
j
z 3) Asas perbantuan merupakan kewenangan z 3) Asas perbantuan merupakan kewenangan
pemerintah untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan di daerah yang pemerintahan dan pembangunan di daerah yang dijalankan oleh aparat pemerintah daerah. Aparat pemerintah daerah melaksanakan asas ini dalam rangka membantu tugas pemerintah pusat.
z Kewenangan dari asas ini di daerah dan atau di
d b d i i t h
UU no 32/2004 (Psl. 10)
(
)
z DESENTRALISASI ADALAH PENYERAHAN
z DESENTRALISASI ADALAH PENYERAHAN
WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH
PEMERINTAH KEPADA DAERAH OTONOM
UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSAN UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSAN PEMERINTAHAN DALAM SISTEM NEGARA
KESATUAN RI (ayat 1)
DEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHAN
z DEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHAN
WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH
PEMERINTAH KEPADA GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADA
WAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADA INSTANSI VERTIKAL DI WILAYAH
lanjutan
j
z TUGAS PERBANTUAN ADALAH
z TUGAS PERBANTUAN ADALAH PENUGASAN DARI PEMERINTAH
KEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARI KEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARI PEMERINTAH PROVINSI KEPADA
KABUPATEN/KOTA DAN/ ATAU DESA
SERTA DARI PEMERINTAH KABUPATEN KOTA KEPADA DESA UNTUK
S G S
MELAKSANAKAN TUGAS TERTENTU(ayat 5)
SISTEM PEMERINTAHAN KITA
Sebenarnya dalam peraturan perundangan
z Sebenarnya dalam peraturan perundangan, Indonesia tidak mengenal sistem sentralisasi melainkan sistem desentralisasi
melainkan sistem desentralisasi
z Hanya saja praktika pemerintahan banyak
yang masih melaksanakan sentralisasi,
terutama dalam waktu yang cukup lama kita /
SENTRALISASI
z WALAUPUN DESENTRALISASI SELALU z WALAUPUN DESENTRALISASI SELALU
DIJADIKAN THEMA SENTRAL DARI UU YANG BARU (22/1999 DAN 32/2004) AKAN TETAPI UPAYA MELAKUKAN SENTRALISASI
KELIHATANNYA BELUM BISA BERANJAK DARI WARISAN UU NO 5/1974.
WARISAN UU NO 5/1974.
z OLEH KARENA ITU ADA TARIK-MENARIK DI ANTARA KEDUANYA, DAN DAYA TARIK
SENTRALISASI LEBIH KUAT KATIMBANG DESENTRALISASI.
TARIK-MENARIK ANTARA
SENTRALISI dan DESENTRALISASI
z Selama ini pelaksanaan sistem sentralisasi dan desentralisasi sepertinya ada tarik-menarik.
desentralisasi sepertinya ada tarik menarik.
Dalam waktu tertentu desentralisasi memihak ke pemda, di lain waktu yang cukup lama beralih ke sentralisasi
z UU NO 5/74 kuat sekali SENTRALISASInya, UU
22/99 d k l d t li i k
no 22/99 ada kelonggaran desentralisasi, akan tetapi UU no 32/2004 berbau resentralisasinya
LANJUTAN
z
Memang tidak mungkin mutlak
z
Memang tidak mungkin mutlak
desentralisasi, akan tetapi mutlak
sentralisasi banyak kemungkinan
sentralisasi banyak kemungkinan
bisa terjadi
z
Dengan kata lain pelaksanaan
otonomi itu belum banyak
perubahan kalau dilihat dari
perspektif peranan daerah.
Contoh Tarik menarik
z Ketika melaksanqkan kewenangan wajib di
z Ketika melaksanqkan kewenangan wajib di
daerah menurut UU 22/1999, belum dilaksanakan tiba-tiba kewenangan pertanahan ditarik lagi ke pemerintah pusat tidak melalui UU melainkan pemerintah pusat tidak melalui UU melainkan cukup dengan Sk Menteri (dalihnya karena UU agraria menetapkan pertanahan merupakan kewenangan pemerintah pusat padahal ada kewenangan pemerintah pusat, padahal ada
pasal dalam UU no 22/1999 yang menyatakan UU dari bidang lain disesuaikan dengan UU no
22/1999 ini) 22/1999 ini)
lanjutan
j
Masih banyak dijumpai departemen sektor
z Masih banyak dijumpai departemen sektor yang belum sefaham dengan pelaksanaan otonomi daerah sehingga peranan
otonomi daerah, sehingga peranan sentralisasinya masih menonjol.
z Walaupun Kanwil/Kandep banyak yang
sudah tidak ada, akan tetapi perpanjangan tangannya dibentuk UPT-UPT di daerah.
lanjutan
j
z
Kewenangan (dana) dekonsentrasi
z
Kewenangan (dana) dekonsentrasi
yang menurut UU nya dilimpahkan ke
Gubernur maka seringkali dijumpai
Gubernur, maka seringkali dijumpai
departemen sektor
jumping ke
UPT-UPT
UPT
.
z
Barangkali karena masih merasa
menerima warisan UU no 5/74 yang
sentralistis.
GAMBARAN KEWENANGAN
SENTRALISASI-DESENTRALISASI UU
N05/74.
z Sentralisasi, Pemerintah Pusat DT I Propinsi DT II Kab/KMSENTRALISASI dan DESENTRALISASI
MENURUT UU 22/1999
Desentralisasi Desentralisasi
RESENTRALISASI UU NO 32/2004
Resentralissi z Resentralissi Pem Pusat Pem Pem Prop Pem K b/K Kab/KoSUSUNAN PEMERINTAHAN
z Susunan pemerintahan (tiers) dan hirarki
z Susunan pemerintahan (tiers) dan hirarki seringkali disamakan. Susunan
pemerintahan merupakan wujud pembagian pemerintahan merupakan wujud pembagian lingkup kewenangan pemerintahan yang
disusun bertingkat (hirarkis)g ( )
z Teori Hirarki (birokrasi Weberian) lebih
mencerminkan dominasi kekuasaan antara hirarki yang di atas terhadap hirarki yang dibawah
lanjutan
j
z Semua UU tentang pemerintahan daerah
z Semua UU tentang pemerintahan daerah mengenal tiers dan hirarchy disamakan, kecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarki kecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarki tidak dipakai lagi antara susunan Pemeritah Provinsi dan Kabupaten/Kotap
z Susunan (tiers) dalam pemerintahan kita ada yang disusun 4 susunan (Pemerintah Pusat,
y g ( ,
Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa)- UU no32/2004
TIERS dan HIRARCHY
Susunan (tiers) lebih condong sebagai
z Susunan (tiers) lebih condong sebagai
Division of Labor, pembagian domain, tugas , kewenangan dan tanggung jawab yang
kewenangan dan tanggung jawab yang
dilaksanakan oleh masing-masing susunan pemerintahan
pemerintahan
z Sedangkan hirarchy lebih condong pada
( )
pendekatan pelaksanaan kekuasaan (power) yang melekat pada masing-masing tingkatan
lanjutan
j
z
Oleh karena itu dalam pembagian
z
Oleh karena itu dalam pembagian
kewenangan antara susunan
pemerintahan sebaiknya tidak
pemerintahan sebaiknya tidak
digunakan pendekatan kekuasaan
(hi
ki )
l i k
d k t
(hirarkis) melainkan pendekatan
kesetaraan, keharmonisan, dan
k
i
t h d
l k
keserasian terhadap pelaksaan
lanjutan
j
Sehingga warna dan suasana governance
z Sehingga warna dan suasana governance
nya lebih kuat katimbang warna dan suasana
government nya
government nya
z Dalam governance pendekatan partisipasi
dan kesetaraan sangat menonjol
z Sedangkan Government kekuasaan (power)nya lebih kelihatan.
CURRENT ISSUES Dalam pengelolan
PEMERINTAHAN
PBB b
d
E
t
z
PBB bersama dengen Eastern
Regional Organization for Public
Administraion (EROPA) tahun 2000 di
Manila menyatakan bahwa perubahan
y
p
paradigma dalam pemerintahan ini
beralih dari
Government to
beralih dari
Government to
Governance
lanjutan
j
Sebelumnya tahun 1994 PBB
Sebelumnya tahun 1994 PBB
melakukan penelitian bahwa dari 100
negara yang melaksanakan
demokrasi
negara yang melaksanakan
demokrasi
95 % di antaranya telah melaksanakan
d
t
li
i
desentralisasi.
Dengan demikian pemerintahan yang
demokratis salah satu wujudnya
GLOBAL FORUM KE 6 TAHUN 2005
AKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREA
z AKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREA SELATAN BERKUMPUL PEMIMPIN PEMERINTAHAN DAN AKADEMISI PEMERINTAHAN DAN AKADEMISI
SELURUH DUNIA YANG DIPELOPORI PBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYA PBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYA IKLIM DESENTRALISASI dan
PEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENT PEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENT
KUTIPAN DEKLARASI SEOUL
z “Good Governance requires an
z Good Governance requires an
appropriate level of decentralization, innovation and development of local innovation and development of local
government. Local administration can be made more effective and autonomous
through the promotion of administrative and financial decentralization,
f
digitalization of government, and result-base performance management……..”
PEMBAGIAN KEWENANGAN
z Sekarang telah dirancang RPP pembagian
z Sekarang telah dirancang RPP pembagian kewenangan untuk mengganti PP no
25/2000 sesuai dengan UU no32/2004 25/2000 sesuai dengan UU no32/2004
z Penggantian PP 25/2000 perlu dilakukan karena UUnya telah berganti
karena UUnya telah berganti
z Hanya yang perlu dicermati karena UU no 32/2004 berbau resentralisasi maka RPP 32/2004 berbau resentralisasi, maka RPP nanti hendaknya tidak banyak berwarna sentralisasi
lanjutan
j
z Iklim desentralisasi yang telah melanda belahan z Iklim desentralisasi yang telah melanda belahan
dunia pemerintahan demokrasi hendaknya memperoleh perhatian dalam menyusun RPP kewenangan tersebut
z Kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi
perlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifat perlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifat demokratis, desentralistis, partisipatif, bukan
semata-mata berprinsip “law and order” yang
mencerminkan pendekatan kekuasaan (power) yang sentralistis.
lanjutan
j
z Untuk menghindari pelaksanaan pembagian
z Untuk menghindari pelaksanaan pembagian kewenangan yang tidak seimbang, perlu
kriteria eksternalitas akuntabilitas dan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi diberdayakan dengan asas
kesamaan, kesetaraan, keseimbangan yang , , g y g horisontal.
z Dengan demikian ada descresi daerah untuk g
membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi dan ke anekaragaman daerah
SOLUSI DAN SARAN
z (1) Kebijakan desentralisasi yang direncanakan z (1) Kebijakan desentralisasi yang direncanakan,
dirumuskan, dan ditetapkan oleh pemerintah pusat (dept sektor) sejak awal melibatkan pemerintah
daerah (provinsi dan Kab/kota)
z (2) Keselarasan, keharmonisan, dan kongruensi kepentingan pem pusat dan daerah perlu dilakukan kepentingan pem.pusat dan daerah perlu dilakukan dengan memberikan kepada daerah diskresi dan kebebasan untuk melaksanakan kebijakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan kemauan rakyat daerah masing-masing
lanjutan
j
(3) Pelaksanaa kewenangan dekonsentrasi
z (3) Pelaksanaa kewenangan dekonsentrasi harus dijadikan suatu keharusan pemerintah pusat (dept sektor) untuk membantu daerah pusat (dept sektor) untuk membantu daerah dengan tidak strickly defined sesuai
dengan kemauan pusat Melainkan
dengan kemauan pusat. Melainkan
memberikan diskresi dan kebebasan daerah untuk menyesuaikan terhadap kebutuhan
untuk menyesuaikan terhadap kebutuhan dan aspirasi daerah masing-masing.
lanjutan
j
z (4) Sesuai dengan bunyi UU no 32 dan 33 /2004 z (4). Sesuai dengan bunyi UU no 32 dan 33 /2004
bahwa dana dekonsentrasi dilimpahkan kepada Gubernur, maka Departemen Sektor tidak
Gubernur, maka Departemen Sektor tidak
memanfaatkan UPT-UPT yang dibentuk sebagai realisasi kebijakannya di daerah.
z (5) Agar tidak ada ego lokalisme, maka dana
dekonsentrasi dan kebijakan pemerintah pusat di k b t /k t dik di i l h P i i kabupaten/kota dikoordinasi oleh pem. Provinsi
SOLUSI PEMBAGIAN KEWENANGAN
Kewenangan Pemerintah Pusat al:
z Kewenangan Pemerintah Pusat al:
z (1) Dilihat dari substansi pokok departemen sektor hanya berwenang menetapkan
standard, kriteria, dan kebijakan strategis.
Pelaksanaan dan realisasi kewenangan tsb berada di daerah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah
Lanjutan Pemerintah Pusat
j
z (2) Dilihat dari jangkauan (ekternalitas)
z (2). Dilihat dari jangkauan (ekternalitas)
keluasan wilayah, pemerintah pusat dalam hal ini Departemen sektor hanya
hal ini Departemen sektor hanya
melaksanakan kebijakan strategis tsb yang meliputi jangkauan keluasan untuk wilayah p j g y nasional yang lintas provinsial
z (3). Dilihat dari asas kemanfaatan ( )
(efektivitas) bukan hanya efisiensi saja,
Lanjutan ..pem pusat
j
p
p
t t
i
t
b t Jik k
f
t
z
strategis tersebut. Jika kemanfaatan
pelaksanaannya dilihat dari
penggunaan sumberdaya,
anggaran/pembiayaannya, dan fasilitas
gg
p
y
y ,
lainnya dilakukan oleh pemerintah
pusat
pusat
Kewenangan Pemerintah Provinsi
g
(1) Melaksanakan standard kreteria dan
z (1) Melaksanakan standard, kreteria, dan kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah Pusat (Dept sektor) untuk pemerintah Pusat (Dept. sektor) untuk wilayah provinsi masing-masing.
z (2) Menetapkan kebijakan sesuai dengan kondisi lingkungan strategis daerahnya
dalam melaksanakan kebijakan pemeintah pusat tersebut
Lanjutan Provinsi
j
z (3) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang z (3) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang
jangkauan keluasannya meliputi lintas
kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing-kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing masing
z (4) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan ( ) p j
pemerintah pusat jika dilihat dari asas kemanfaatan yang meliputi penggunaan sdm, biaya, teknologi dan f ilit l i l bih b f t dil k k di
fasilitas lainnya lebih bermanfaat dilaksanakan di wilayah provinsi masing-masing.
Kewenangan Pemerintah
Kabupaten/Kota
p
(1) Melaksanakan kebijakan pemerintah
z (1) Melaksanakan kebijakan pemerintah pusat di daerahnya sesuai dengan kondisi daerahnya dan koordinasi serta kebijakan daerahnya dan koordinasi serta kebijakan strategis Provinsi masing-masing
z (2).Menetapkan kebijakan strategis sesuai dengan kondisi daerahnya masing –masing dalam melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan provinsi
Lanjutan Kabupaten/Kota
j
p
(3) Menetapkan dan melaksanakan
z (3). Menetapkan dan melaksanakan
kebijakan pemerintah pusat/provinsi jika dilihat dari asas kemanfaatan penggunaan dilihat dari asas kemanfaatan penggunaan sdm, biaya, teknologi dan fasilitas lainnya yang tersedia di daerahnya masing masing yang tersedia di daerahnya masing-masing lebih bermanfaat kalau dilakukan di
kabupaten/kota kabupaten/kota.
PENUTUP
DEMIKIAN POKOK POKOK PEMIKIRAN
z DEMIKIAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN SAYA DALAM RANGKA SUMBANGSIH SARAN UNTUK PEMBAGIAN
SARAN UNTUK PEMBAGIAN
KEWENANGAN YANG DIRANCANG DALAM RPP KEWENANGAN
DALAM RPP KEWENANGAN
z MOHON MAAF KEKURANGAN