PERBEDAAN BUNYI PADA KATA DALAM ANTOLOGI TEMPO DOELOE DENGAN KATA DALAM BAHASA BETAWI

122 

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN BUNYI PADA KATA

DALAM ANTOLOGI

TEMPO DOELOE

DENGAN KATA DALAM BAHASA BETAWI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Robertus Dewangkara G. Anggara

NIM: 054114009

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PERBEDAAN BUNYI PADA KATA

DALAM ANTOLOGI

TEMPO DOELOE

DENGAN KATA DALAM BAHASA BETAWI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Robertus Dewangkara G. Anggara

NIM: 054114009

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vi

KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan kekuatan kepada penulis sehingga skripsi dapat diselesaikan

tepat pada waktunya.

Rasa penuh syukur dan terima kasih penulis haturkan kepada:

(1)

Bapak Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum selaku pembimbing I yang telah

membantu dengan sabar kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.

(2)

Ibu S.E. Peni Adji, S.S., M. Hum selaku pembimbing II yang telah

membantu dengan sabar kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.

(3)

Drs. B. Rahmanto, M. Hum, Drs. Hery Antono, M. Hum, Dr. I. Praptomo

Baryadi, M. Hum, S.E. Peni Adji, S.S, M. Hum, dan Dra. Fr. Tjandrasih

Adji, M. Hum selaku Bapak / Ibu dosen pengampu mata kuliah di Program

Studi (Prodi) Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma yang telah

mengajar dengan sabar dan penuh kasih sayang kepada penulis.

(4)

Staf Sekretariat Sastra Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan

pelayanan dengan baik.

(5)

Petugas perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan

pelayanan dengan baik.

(6)

Bapak P.Y Tri Sudaryatno dan Ibu V. Evi Kristiani selaku orang tua yang

telah memberikan dukungan doa dan semangat kepada penulis.

(8)
(9)

viii

MOTTO

Hidup tak semudah membalikkan telapak tangan.

Kebahagiaan ada di depan mata, tinggal bagaimana caranya

(10)

ix

HALAMAN PERSEMBAHAN

(11)

x

ABSTRAK

Dewangkara, Robertus. 2011. “Perbedaan Bunyi pada Kata dalam Antologi

Tempo Doeloe

dengan Kata dalam Bahasa Betawi”. Skripsi pada

Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata

Dharma, Yogyakarta.

Skripsi ini membahas perbedaan bunyi pada kata dalam antologi Tempo

Doeloe dengan kata dalam bahasa Betawi. Masalah yang dibahas dalam skripsi ini

adalah sebagai berikut. Pertama, aneka jenis perbedaan bunyi pada kata dalam

antologi

Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa Betawi. Kedua, kategori kata

yang maknanya sama tetapi berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe

dengan kata dalam bahasa Betawi.

Tujuan yang ingin dicapai dalam skripsi ini adalah sebagai berikut.

Pertama, mendeskripsikan perbedaan bunyi pada kata yang maknanya sama tetapi

berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa

Betawi. Kedua, mendeskripsikan kategori kata yang maknanya sama tetapi

berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa

Betawi.

Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap strategis yang berurutan:

pengumpulan data, penganalisisan data, dan penyajian hasil analisis data. Ketiga

tahapan itu membutuhkan metode dan teknik, yaitu metode dan teknik

pengumpulan data, metode dan teknik analisis data, serta metode penyajian hasil

analisis data. Dalam metode pengumpulan data, metode yang digunakan adalah

metode simak, dan teknik yang digunakan adalah teknik catat. Dalam metode

analisis data, metode yang digunakan adalah metode agih, dan teknik yang

digunakan adalah teknik ganti, teknik padan referensial, dan teknik perluas.

Dalam penyajian hasil analisis data, metode yang digunakan adalah metode

informal.

(12)

xi

dimasukkan ke dalam beberapa kategori kata. Kategori itu meliputi kata ganti

(pronomina), kerja (verba), keterangan (adverbia), benda (nomina), sambung

(konjungsi), sifat (adjektif), bilangan (numeralia), dan depan (preposisi).

(13)

xii

ABSTRACT

Dewangkara, Robertus. 2011. “Difference of speech in words in the

Tempo

Doeloe

Antology by The word in Betawi Language". Thesis on

Indonesian Literature Studies Program, Faculty of Letters, Sanata

Dharma University, Yogyakarta.

This thesis discusses the difference of speech in words in the Tempo

Doeloe antology with the words in Betawi language. Issues discussed in this paper

are as follows. First, various kinds of sound difference on the word in the Tempo

Doeloe antology with the word in Betawi language. Second, the category of words

whose meaning is similar but different sounds in the Tempo Doeloe antology with

the words in Betawi language.

The goal of this thesis is as follows. First, describe the difference of speech

in the word whose meaning is similar but different sounds in the Tempo Doeloe

antology with the words in Betawi language. Second, describe the category of

words same with similar meanings but different speech in the Tempo Doeloe

antology with words in Betawi language.

This research was conducted through three strategic phase’s sequence:

collecting data, analyzing data, and presenting the results of data analysis. The

three stages that require the methods and techniques, the methods and techniques

of data collection methods and data analysis techniques, and methods of

presenting the results of data analysis. In the data collection method, the method

used is the method of observe, and the techniques used are the technique of note.

In the method of data analysis, the method used is allot methods, and techniques

used is the technique of substitute, referential frontier techniques, and techniques

expand. In presenting the results of data analysis, the method used is the informal

method.

(14)

xiii

(pronouns), work (verb), description (adverb), object (noun), connecting

(conjunctions), properties (adjectives), numbers (numeralia), and front

(preposition).

(15)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………

i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………..

ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI………....

iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………...

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS……….

v

KATA PENGANTAR………..

vi

MOTTO………...

viii

HALAMAN PERSEMBAHAN………..

ix

ABSTRAK………....

x

ABSTRACT ………..

xii

DAFTAR ISI………....

xiv

BAB I PENDAHULUAN………

1

A. Latar Belakang Masalah………..

1

B. Rumusan Masalah ………...

4

C. Tujuan Penelitian……….

4

D. Manfaat Penelitian………..

5

E. Tinjauan Pustaka……….

5

F. Landasan Teori………....

5

G. Metode Penelitian………...

17

H. Sistematika Penyajian……….

21

BAB II PERBEDAAN BUNYI KATA DALAM ANTOLOGI TEMPO

DOELOE DAN KATA DALAM BAHASA BETAWI………..

23

A.

Pengantar………

23

(16)

xv

Menjadi Kata yang Berakhir Bunyi [e] dalam Bahasa

Betawi……….

28

D.

Bunyi [h], [i], [s], dan [

ə

] Pada Awal Kata dan Menjadi

Hilang dalam Bahasa Betawi………..

29

E.

Kata yang Mempunyai Bunyi Tengah [a] dalam Antologi

Tempo Doeloe Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi [

ə

]

dalam Bahasa Betawi……….

31

F Kata yang Mempunyai Diftong [ai] dalam Antologi Tempo

Doeloe Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi [e] dalam

Bahasa Betawi………

34

G.

Kata yang Mempunyai Bunyi Tengah [i] dalam Antologi

Tempo Doeloe Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi

Tengah [

ε

] dalam Bahasa Betawi………...

36

H. Kata yang Mempunyai Diftong [au] dalam Antologi Tempo

Doeloe Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi [o] dalam

Bahasa Betawi………

37

I.

Bunyi [h] Pada Akhir Kata dan Menjadi Hilang dalam

Bahasa Betawi………

37

J. Bunyi Pada Antologi Tempo Doeloe Berbeda dengan Bunyi

Bahasa Betawi………

40

K. Kata yang Mempunyai Bunyi Tengah [u] dalam Antologi

Tempo Doeloe Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi

[ò] dalam Bahasa Betawi………

43

BAB III KATEGORI KATA YANG SAMA MAKNANYA TETAPI

BERBEDA BUNYINYA DALAM ANTOLOGI TEMPO

DOELOE DENGAN KATA DALAM BAHASA BETAWI….

45

A. Pengantar………...

45

B. Kata Ganti (Pronomina)………..

45

C. Kata Kerja (Verba)………..

47

D. Kata Keterangan (Adverbia)………...

51

(17)

xvi

F. Kata Sambung (Konjungsi)………..

60

G. Kata Sifat (Adjektif)………...

60

H. Kata Bilangan (Numeralia)………...

64

I. Kata Depan (Preposisi)………...

65

BAB IV PENUTUP………...

66

A. Kesimpulan……….

66

B. Saran………...

67

DAFTAR PUSTAKA ………..

68

LAMPIRAN……….

69

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Tempo Doeloe adalah antologi sastra pra-Indonesia yang ditulis oleh

empat pengarang dengan delapan cerita: F. Wiggers (Dari Boedak Sampe Djadi

Radja), Tio Ie Soei (Pieter Elberveld), F.D.J. Pangemanann (Tjerita Rossina

dan Tjerita si Tjonat), G. Francis (Tjerita Njai Dasima), dan H. Kommer (Tjerita

Kong Hong Nio dan Tjerita Nji Paina).

Cerita-cerita dalam antologi ini bukan tergolong cerita Indonesia

sekalipun terjadi di bumi Nusantara, tetapi dimasukkan ke dalam golongan

Melayu lingua franca, sastra assimilatif atau pra-Indonesia (A. Toer, 2003:18). Di

bidang bahasa, bukan bahasa Melayu, tetapi Melayu yang terjadi karena

pertemuan antar berbagai bangsa dan suku di Nusantara, yang pada mulanya

hanya dipergunakan secara lisan. Melayu lingua franca merupakan fenomena

tunggal di Asia Tenggara yang dipergunakan dan dikembangkan oleh orang-orang

asing sewaktu memasuki Nusantara dari Malaka sebagai pangkalan (A. Toer,

2003:18).

Salah satu hal yang menarik perhatian penulis dari antologi Tempo Doeloe

adalah penggunaan bahasanya. Bahasa yang digunakan dalam antologi Tempo

Doeloe adalah bahasa Melayu. Setelah penulis cermati, ternyata bahasa Melayu

(19)

Dalam bahasa Melayu pada antologi Tempo Doeloe digunakan kata-kata yang

maknanya sama, tetapi bunyinya berbeda. Berikut ini contohnya:

(1) Rossina tiada brani berbantah pada kehendak nyonyanya. (hal 200)

(2) “Ada apa Sarina? Mengapa kau begini?” (hal 129)

(3) Soeda tiga malem ampir tida dapet tidoer sama sekali, ampir tenga malem Sarina telah djadi poeles di pangkoean iboenda. (hal 138)

Kata nyonya, apa, dan tiga dalam kalimat (1), (2), dan (3) memiliki

padanan makna dengan kata dalam bahasa Betawi nyonye, ape, dan tige.

(1a) Rossine kagak brani bantah kehendak nyonyenye. (2a) “ Ade ape Sarine? Mengapa ente begini?”

(3a) Ude tige malem kagak dapet tidur ame sekali, Sarine telah pules di pangkuan ibunda.

Kata nyonya dan nyonye memiliki persamaan makna, tetapi berbeda

bunyi. Kata nyonya, memiliki bunyi akhir [a], sedangkan nyonye, memiliki bunyi

akhir [e]. Kata apa dan ape memiliki persamaan makna, tetapi berbeda bunyinya.

Kata apa, memiliki bunyi akhir [a], sedangkan ape, memiliki bunyi akhir [e]. Kata

tiga dan tige memiliki persamaan makna, tetapi berbeda bunyi. Kata tiga,

memiliki bunyi akhir [a], sedangkan tige memiliki bunyi akhir [e].

Persoalan pertama yang dibicarakan dalam penelitian ini adalah aneka

jenis perbedaan bunyi pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam

bahasa Betawi. Perhatikan contoh berikut:

(4) Kaloe toewan maoe simpan, baik, akoe kasih. (hal 60)

(5) Dia dengar dalam atinja soewara opsir memarentah. (hal 89)

(6) “Diam-diam, Raden Ajoe, diam! Berkata ia dengan pelahan. (hal 100)

Kata simpan, dengar, dan diam memiliki padanan makna dengan simpen,

denger, dan diem dalam bahasa Betawi.

(20)

(5a) Die denger dalem atinye suare memerentah. (6a) “Raden Ayu diem!” Ia berkate dengan pelahan.

Kata simpan, dengar, dan diam dengan kata simpen, denger, dan diem

memiliki persamaan makna tetapi berbeda bunyinya. Kata simpan, dengar, dan

diam memiliki bunyi tengah [a], sedangkan kata simpen, denger, dan diem

memiliki bunyi tengah [

ə

].

Persoalan kedua yang dibahas dalam skripsi ini adalah kategori kata yang

maknanya sama tetapi berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe dengan

kata dalam bahasa Betawi. Perhatikan contoh berikut:

(7) “Kenapa loe djatoin Sinjo?” (hal 152)

(8) “Ach! Nona tida taoe begimana hatikoe ini, soedah lama ada tjinta pada nona.” (hal 178)

(9) Apa betoel si Sa-oedin boleh di pertjaja? (hal 340)

Kata kenapa, cinta, dan percaya memiliki padanan makna dengan kenape,

cinte, dan percaye dalam bahasa Betawi.

(7a) “Kenape ente jatoin Sinyo?”

(8a) “Ah, None kagak tau begimane ati aye ni, yang ude lama cinte none.” (9a) Ape betul si Saudin bisa dipercaye?

Kata kenapa, cinta, dan percaya dengan kata kenape, cinte, dan percaye

memiliki persamaan makna tetapi berbeda bunyinya. Kata kenapa, cinta, dan

percaya memiliki bunyi akhir [a], sedangkan kata kenape, cinte, dan percaye

memiliki bunyi akhir [e]. Kata kenapa, cinta, dan percaya termasuk kategori kata

ganti penanya, kata sifat, dan kata kerja.

(21)

sebagai objek penelitian ini karena perbedaan bunyi pada kata dalam antologi

Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa Betawi belum ada yang membahas.

1.2 Rumusan

Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat kata yang sama maknanya

dalam bahasa Betawi, tetapi berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe

dengan kata dalam bahasa Betawi, maka rumusannya dapat dirinci sebagai

berikut:

1.2.1

Perbedaan bunyi apa saja kata yang sama maknanya tetapi berbeda

bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa

Betawi?

1.2.2

Kategori kata apa saja kata yang sama maknanya tetapi berbeda

bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa

Betawi?

1.3 Tujuan

Penelitian

Tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:

1.3.1

Mendeskripsikan perbedaan bunyi pada kata yang maknanya

sama tetapi berbeda bunyinya dalam antologi Tempo Doeloe

dengan kata dalam bahasa Betawi.

1.3.2

Mendeskripsikan kategori kata yang maknanya sama tetapi berbeda

bunyinya

dalam

antologi

Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa

(22)

1.4 Manfaat

Penelitian

Hasil penelitian ini memberikan informasi tentang kata-kata dalam bahasa

tertentu mirip dengan bahasa lain tetapi mempunyai persamaan makna. Selain itu,

hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan bidang ilmu fonologi dan

semantik. Dalam bidang fonologi, hasil penelitian ini menjelaskan perbedaan

bunyi pada kata dalam Melayu dan bahasa Betawi. Dalam bidang semantik, hasil

penelitian ini menerangkan kata yang maknanya sama dalam bahasa Melayu dan

bahasa Betawi

1.5 Tinjauan

Pustaka

Dalam

buku

Tata Bahasa Melayu Betawi (1988), Kay Ikranagara

menjelaskan kata-kata yang sering dipakai oleh masyarakat Betawi tetapi tidak

menjelaskan perbedaan bunyi pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan

kata dalam bahasa Betawi. Hal serupa juga dijelaskan oleh Muhajir dalam

bukunya yang berjudul Morfologi Dialek Jakarta (1984). Dalam bukunya,

Muhajir juga menjelaskan kata-kata apa saja yang sering dipakai oleh masyarakat

Betawi, sehingga kesimpulannya belum ada yang membahas perbedaan bunyi

pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa Betawi.

1.6 Landasan

Teori

(23)

kata dalam bahasa Betawi. Jadi, dalam bagian ini akan dijelaskan mengenai

bahasa Melayu, kategori kata dan bunyi.

1.6.1 Bahasa

Betawi

1.6.1.1 Penduduk

Para ahli mengungkapkan bahwa inti penduduk kota Jakarta pada masa

lampau bukanlah ‘asli’, dalam arti bukan penduduk yang menetap sejak sebelum

kota dan masyarakat Jakarta terbentuk. Pada awal abad ke-19, unsur terpenting

penduduk Jakarta adalah golongan budak dan golongan Cina. Pada akhir abad

ke-19, golongan budak telah bercampur menjadi satu kelompok penduduk yang

dikenal sebagai “Orang Betawi”, atau penduduk asli Jakarta (Depdikbud, 1979:1).

1.6.1.2 Bahasa

Dialek Jakarta dapat dibagi menjadi 2 subdialek sosial, yaitu: (1) dialek

Jakarta modern, dan (2) dialek konvensional. Yang pertama, ditandai oleh

pemakaian vokal /e/ yang hanya terbatas pada kata tertentu saja, yakni

kata-kata yang termasuk perbendaharaan kata-kata dasar saja, sedang yang kedua, ditandai

oleh pengucapan vokal /e/ akhir secara konsisten untuk setiap kata yang dalam

bahasa Indonesia berakhir dengan vokal /a/ (Depdikbud, 1979:5).

1.6.1.3 Fungsi

(24)

1.6.2 Bahasa

Melayu

1.6.2.1 Pengantar

Bahasa Melayu ialah bahasa yang dituturkan oleh penduduk Sumatra

Tengah dari pantai Timur ke pantai Barat, jazirah (semenanjung) Malaka

(Malaya) dengan dua kepulauan yang terletak di sebelah selatannya dan di

pemukiman-pemukiman Melayu di pantai Barat Kalimantan. Bahasa Melayu

Sumatra Barat dinamakan bahasa Minangkabau, sedangkan bahasa Melayu

lainnya disebut bahasa Johor atau Riau.

Bahasa Melayu yang tak murni oleh khalayak ramai diberi nama Melayu

Rendah berlawanan dengan bahasa Melayu murni yang bernama Melayu Tinggi.

Penamaan ini diberikan dengan mencontoh ungkapan yang tidak khusus yaitu

bahasa Jawa Tinggi dan bahasa Jawa Rendah. Bahasa Jawa Tinggi (krama) ialah

bahasa yang dipakai oleh bawahan kepada atasannya, maka dinamakan bahasa

khidmat dan hormat. Bahasa Jawa Rendah (ngoko) dituturkan oleh atasan kepada

bawahan. Meskipun nama tinggi dan rendah untuk bahasa Jawa kurang tepat,

tetapi paling tidak mengungkapkan sesuatu, artinya membedakan dua jenis bahasa

yang digunakan oleh bawahan dan oleh atasan (Van Wijk, 1985:XVIII).

(25)

atasan pada umumnya, apakah atasan dalam hal kedudukan dalam masyarakat,

atau lebih tua umurnya (Van Wijk, 1985:XIX).

1.6.2.2 Asal-usul Melayu

Asal-usul nama Melajoe telah diadakan bermacam-macam terkaan, tetapi

belum terdapat kepastian mengenai soal itu. Dalam kitab Sadjarah Malajoe, nama

Soengai Malajoe ‘sungai deras’, sebuah sungai kecil di Palembang dicantumkan.

Daerah alirannya bernama tanah Malajoe. Penduduknya bernama orang Malajoe,

dan bahasanya disebut bahasa Malajoe (Van Wijk, 1985:XX).

Beberapa orang menjelaskan arti orang Malajoe dengan ‘orang yang lari,

pelarian’ yaitu imigran, pemboyong ke negeri lain. Orang lain dalam kata Malajoe

dianggap oleh Dr. van der Tuuk sebagai ‘penyeberang’, yaitu ke agama Islam.

Agama Islam di Kepulauan Hindia Timur (Indonesia) pertama-tama secara umum

diterima baik oleh orang Melayu. Dalam waktu singkat, mereka menjadi pengikut

ajaran Nabi Muhammad S.A.W. yang sebegitu rajin sehingga nama orang Malajoe

mendapat hati yang sama dengan orang Islam (Van Wijk, 1985:XX).

1.6.2.3

Bunyi

Konsonan

(26)

Tajam Lembut Nasal Huruf cair Aspirasi

Sengau (Huruf getar) (Huruf tiup)

Huruf kerongkongan k g ng r h

Huruf langit-langit tj dj nj

Huruf gigi t d n l

Huruf bibir p b m

Huruf desis s

Tengah vokal j dan w,

di antaranya bunyi [j] termasuk huruf

langit-langit, huruf w termasuk huruf bibir.

Bunyi [h] pada awal kata kebanyakan tidak kedengaran. Pada akhir bunyi

[h] bertugas untuk membuat bunyi pendahulunya lebih pendek dan lebih redup,

tetapi tetap ditahan di belakang mulut. Dalam ucapan, hadir atau tidaknya huruf

ini sebagai penutup perlu diperhatikan. Antara dua vokal yang berlainan, bunyi [h]

lenyap sama sekali dalam ucapan (Van Wijk, 1985:4).

Bunyi [w] sangat bersifat vokal pada awal kata dan lebih sesuai dengan

bunyi [w] dalam bahasa Inggris.

Bunyi [k] akhir hampir tidak terdengar karena tertahan dalam bagian

belakang mulut. Bunyi [k] tidak terjadi pada akhir kata saja, melainkan juga pada

akhir suku kata yang bukan suku akhir kata bunyinya jauh kurang jelas terdengar

dibandingkan dengan bunyinya dalam bahasa Belanda.

Bunyi [p] dan [t] pada akhir kata sering menjadi kurang tegas dalam

ucapan dan dalam logat beralih menjadi [b] dan [d]. Bunyi [b] dan [d] dalam

bahasa Melayu tidak pernah terdapat sebagai penutup kata, kecuali dalam kata

Arab.

(27)

Bunyi [s] selalu tegas, dan bila terdapat di antara dua vokal, ucapannya

tidak boleh dicampuradukkan dengan bunyi [z] yang tidak ditemukan dalam

bahasa Melayu seperti yang sering dilakukan oleh orang Belanda.

Vokal

Dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa Melayu, Van Wijk (1985:6)

menjelaskan bahwa bunyi vokal dasar dalam bahasa Melayu ialah [a], [e], [i], [o],

dan [oe], ditambah dengan bunyi [e] bisu yang sesuai dengan bunyi [e] bahasa

Belanda. Tentang ucapannya, bunyi bahasa Melayu selalu sedikit kurang panjang

dan kurang bulat dibanding bahasa Belanda.

Bunyi [a] terbuka pada akhir kata sesuai dengan bunyi [a] dalam bahasa

Belanda dan diucapkan.

Bunyi [e] dalam suku kata terbuka sama bunyinya dengan bunyi [e] dalam

suku kata pertama kata Belanda. Dalam suku kata tertutup, bunyi [e] asal bukan

pepet mendapat bunyi terakhir.

Bunyi [i], dan [o] sama dengan bunyi [ie], dan [o] dalam bahasa Belanda.

Bunyi [oe] sesuai dengan bunyi [oe] dalam bahasa Belanda juga dalam

suku kata tertutup bunyi tersebut dipertahankannya tetapi agak kurang bulat dan

sering sedikit banyak cenderung ke bunyi [o].

Van Wijk (1985:8) menjelaskan bahwa diftong hanya ada dua buah dalam

bahasa Melayu, yaitu [ai], dan [au] yang hanya tampil pada akhir kata.

(28)

Secara umum, kategori kata (kelas kata) dapat dibedakan menjadi kata

ganti, kerja, keterangan, benda, sambung, sifat, bilangan, depan, interogatif,

demonstratif, artikula, fatis, dan interjeksi.

1.6.3.1 Kata Ganti (Pronomina)

Kata ganti (pronomina) adalah segala kata yang dipakai untuk

menggantikan kata benda atau yang dibendakan (Keraf, 1984:65). Menurut

Kridalaksana (2007:76), kata ganti adalah kategori yang berfungsi untuk

menggantikan nomina. Kata ganti dapat dibedakan menjadi: kata ganti orang,

penunjuk, dan penanya.

Kata ganti orang (pronomina persona) adalah kata yang biasa digunakan

untuk menggantikan kata ganti orang yang asli (Keraf, 1984:65). Moeliono

(1997:172) berpendapat bahwa kata ganti orang adalah pronomina yang dipakai

untuk mengacu ke orang. Kata ganti penunjuk (pronomina penunjuk) adalah

kata-kata yang menunjuk dimana terdapat sesuatu benda (Keraf, 1984 : 68). Kata ganti

penanya (pronomina penanya) adalah kata yang menanyakan tentang benda,

orang, atau sesuatu keadaan (Keraf, 1984:70). Menurut Moeliono (1997:184), kata

ganti penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan.

1.6.3.2 Kata Kerja (Verba)

(29)

1.6.3.3 Kata Keterangan (Adverbia)

Kata keterangan (adverbia) adalah kata yang memberi keterangan pada

verba, adjektiva, nomina, predikatif, atau kalimat (Moeliono, 1997:223),

sedangkan kata keterangan menurut Kridalaksana (2007:81) adalah kategori yang

dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau preposisi dalam konstruksi sintaksis.

1.6.3.4 Kata Benda (Nomina)

Kata benda (nomina) adalah nama dari semua benda, dan segala yang

dibendakan (Keraf, 1984:62). Menurut Kridalaksana (2007:68), kata benda adalah

kategori yang secara sintaksis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung

dengan partikel tidak, dan (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel

dari.

1.6.3.5 Kata Sambung (Konjungsi)

Kata sambung (konjungsi) menurut Kridalaksana (2007:102) adalah

kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi

hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam

konstruksi, sedangkan kata sambung adalah kata yang menghubungkan kata-kata,

bagian-bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat-kalimat (Keraf, 1984:78).

1.6.3.6 Kata Sifat (Adjektiva)

(30)

nomina, (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai

cirri-ciri morfologis, dan (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks.

1.6.3.7 Kata Bilangan (Numeralia)

Kata bilangan (numeralia) adalah kata yang dipakai untuk menghitung

banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang), dan konsep (Moeliono,

1997:192). Menurut Kridalaksana (2007:79), kata bilangan adalah kategori yang

dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai

potensi untuk mendampingi numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan

tidak atau dengan sangat.

1.6.3.8 Kata Depan (Preposisi)

Kata depan (preposisi) adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau

bagian-bagian kalimat (Keraf, 1984:79). Kata depan menurut Kridalaksana

(2007:95) adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina)

sehingga terbentuk frase eksosentris direktif.

1.6.3.9 Kata Interogativa

Kata Interogativa (Kridalaksana, 2007:88) adalah kategori dalam kalimat

interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh

pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara.

1.6.3.10 Kata Demonstratif (Demonstrativa)

Kata demonstratif (demonstrativa) adalah kategori yang berfungsi untuk

menunjukkan sesuatu di dalam maupun di luar wacana (Kridalaksana, 2007:92).

(31)

Kata artikula adalah kategori yang mendampingi nomina dasar, nomina

deverbal, pronomina, dan verba pasif dalam konstruksi eksosentris yang

berkategori nominal (Kridalaksana, 2007:93)

1.6.3.12 Kategori Fatis

Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan,

atau mengukuhkan komunikasi antara pembicara dan kawan bicara (Kridalaksana,

2007:114)

1.6.3.13 Kata Interjeksi

Kridalaksana (2007:120) berpendapat bahwa kata interjeksi adalah kata

yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara; dan secara sintaktis tidak

berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran.

1.6.4 Bunyi

Dalam bukunya yang berjudul Fonetik, Marsono dapat mengklasifikasi

bunyi menjadi (1) Vokal, Konsonan, dan Semi-vokal, (2) Nasal dan Oral, (3)

Keras (Fortes) dan Lunak (Lenes), (4) Bunyi Panjang dan Pendek, (5) Bunyi

Rangkap dan Tunggal, (6) Bunyi Nyaring dan Tidak Nyaring, dan (7) Bunyi

dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus Ingresif.

1.6.4.1 Vokal, Konsonan, dan Semi vokal

(32)

bicara, sedangkan Marsono (1999:16) berpendapat bahwa bunyi semi-vokal

adalah bunyi yang pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.

1.6.4.2 Nasal dan Oral

Nasal adalah bunyi yang jika udara keluar disertai keluarnya udara melalui

rongga hidung dengan cara menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak

tekaknya. Oral adalah bunyi yang jika langit-langit lunak beserta ujung anak tekak

menaik menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongga mulut saja

(Marsono, 1999:17).

1.6.4.3 Keras (

Fortes

) dan Lunak (

Lenes

)

Pembedaan Keras (Fortes) dan Lunak (Lenes) didasarkan pada ada

tidaknya ketegangan kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan.

Bunyi bahasa disebut keras bila pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan

kekuatan arus udara, sedangkan bunyi bahasa disebut lunak bila pada waktu

diartikulasikan tidak disertai ketegangan kekuatan arus udara (Marsono, 1999:18).

1.6.4.4 Bunyi Panjang dan Pendek

Pembedaan bunyi panjang dan pendek didasarkan pada lamanya bunyi itu

diucapkan, atau lamanya bunyi itu diartikulasikan (Marsono, 1999:19).

1.6.4.5 Bunyi Tunggal dan Rangkap

(33)

yang lain saling berbeda (Marsono, 1999:19). Diftong dapat dibedakan atas

diftong naik (rising diphtongs), turun (falling diphtongs), dan memusat (centering

diphtongs)

Diftong naik (rising diphtongs) adalah diftong yang posisi lidah lebih

tinggi saat vokal kedua diucapkan daripada yang pertama (Marsono, 1999:50).

Marsono (1999:56) berpendapat bahwa diftong turun (falling diphtongs) adalah

diftong yang apabila posisi lidah yang kedua diucapkan lebih rendah dari yang

pertama. Diftong memusat (centering diphtongs) adalah diftong yang diucapkan

dengan menggerakkan lidah ke vokal tengah sentral (Marsono, 1999:58).

1.6.4.6 Bunyi Nyaring dan Tidak Nyaring

Pembedaan bunyi berdasarkan bunyi nyaring dan tidak nyaring itu adalah

tinjauan menurut aspek auditoris. Derajat kenyaringan itu ditentukan oleh luas

sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan.

Semakin luas ruang resonansi saluran bicara yang dipakai semakin tinggi derajat

kenyaringannya. Sebaliknya, semakin sempit ruang resonansinya semakin rendah

derajat kenyaringannya (Marsono, 1999:20).

1.6.4.7 Bunyi dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus Ingresif

(34)

Egresif pulnomik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif

(keluar) dengan mekanisme pulmonik. Mekanisme udara pulmonik adalah udara

dari paru-paru sebagai sumber utamanya dihembuskan keluar dengan cara

mengecilkan ruangan paru-paru oleh otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada.

Egresif glotalik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif

(keluar) dengan mekanisme glotalik. Mekanisme glotalik terjadi dengan cara

merapatkan pita-pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup rapat sekali

(Marsono, 1999:23).

Ingresif

glotalik

adalah bunyi bahasa yang terbentuk dengan arus udara

ingresif (masuk) dengan mekanisme glotalik. Bunyi dengan arus udara ingresif

mekanisme glotalik ini prosesnya sama dengan agresif glotalik di atas.

Ingresif velarik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara ingresif

(masuk) dengan mekanisme velarik. Mekanisme udara velarik terjadi dengan

menaikkan pangkal lidah ditempelkan pada langit-langit lunak (Marsono,

1999:24).

1.7 Metode

Penelitian

(35)

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari antologi Tempo Doeloe

dan bahasa Betawi yang diteruskan peneliti sebagai penutur asli. Objek penelitian

ini adalah bunyi pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam

bahasa Betawi, adapun data penelitiannya berupa kalimat. Metode yang dipakai

dalam pengumpulan data adalah metode simak. Metode simak adalah metode

yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133).

Penggunaan bahasa yang dimaksud adalah penggunaan bahasa (dalam hal ini

bunyi) pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam bahasa Betawi.

Teknik yang diterapkan adalah teknik catat, yaitu pencatatan data pada kartu data.

1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

Data yang sudah terkumpul, dianalisis dengan metode agih. Metode agih

adalah metode analisis yang alat penentunya berupa bagian atau unsur dari bahasa

objek sasaran penelitian itu sendiri, seperti kata, fungsi sintaktis, klausa, silabe

kata, titinada, dan yang lain (Sudaryanto, 1993:16).

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik ganti. Menurut

Sudaryanto (1993:37), teknik ganti adalah teknik yang dilaksanakan dengan

menggantikan unsur tertentu dalam satuan lingual yang bersangkutan dengan

“unsur” tertentu yang lain di luar satuan lingual yang bersangkutan.

(36)

(10) Fabriek itu djatoehlah di tangannja lain orang, administrateur di kasi lepas dan djoeroe pegang boekoe poen menoeroet administrateur pergi tjari pekerdjahan di lain tempat. (hal 378)

(11) Ia naik di tangga kali, dan baroe ia maoe peres ramboetnja, tiba-tiba ia denger orang bersoeit, soeitan itoe orang Djawa, ketjinta-an hatinja.

(hal 158)

(12) Di loer tjelananja ia ada pakei lagi satoe kain saroeng, akan tetapi, ini kain oedjoeng bawahnja ada terangkat di balik ka atas dan di selepken dalem angkin peroetnja. (hal 300)

Kata

lain, naik, dan kain dalam kalimat (10), (11), dan (12) memiliki

padanan makna dengan kata dalam bahasa Betawi laen, naek, dan kaen.

(10a) Pabrik ntu jatoh ke tangan orang laen, administrator dilepas dan juru

pegang buku pun pegi cari pekerjaan di tempat laen.

(11a) Ia naek di tangga kali dan mau peres rembutnye, tiba-tiba ia denger orang bersiul. Siulan ntu orang Jawa pujaan atinye.

(12a) Di luar celananye, ade pake atu kaen sarung, akan tetapi ukung bawah kaennye terangkat ke atas dan diselipkan dalem perutnye.

Kata

lain dan laen, naik dan naek, kain dan kaen memiliki persamaan

makna, tetapi berbeda bunyi. Kata lain, naik, dan kain mempunyai bunyi tengah

[i]. Bunyi [i] diganti dengan bunyi [

ε

] sehingga menjadi laen, naek, dan kaen.

Dalam penelitian ini, juga digunakan teknik padan referensial dan teknik perluas

dalam novel Tempo Doeloe.

(37)

Teknik perluas adalah teknik yang digunakan untuk membuktikan kategori

kata dari struktur frasanya. Contohnya sebagai berikut:

Kata Kerja

(13) Djem poekoel anem ia telah berdjalan poelang dari kantor dan tinggalken Niti di kantor. (hal 381)

(13a) Djem poekoel anem ia telah berdjalan tidak poelang dari kantor dan tinggalken Niti di kantor.

Kata

pulang dalam kalimat (13) merupakan kata kerja. Kata kerja pulang

dalam kalimat (13) dapat ditambah dengan partikel tidak, sehingga perubahannya

tampak dalam kalimat (13a) di atas. Kata kerja tidak dapat didampingi dengan

partikel di. Perhatikan contoh berikut:

(13b) * Djem poekoel anem ia telah berdjalan di poelang dari kantor dan tinggalken Niti di kantor.

Kalimat (13b) di atas tidak termasuk kata kerja, karena apabila didampingi

dengan pertikel di, kalimat tersebut tidak berterima.

Kata Benda

(14) Ia sedeng tida senang hati. (hal 118)

(14a) Ia sedeng tida senang dari hati.

Kata

hati dalam kalimat (14) merupakan kata benda. Kata benda hati

dalam kalimat (14) dapat ditambah dengan partikel dari, sehingga perubahannya

tampak dalam kalimat (14a) di atas. Kata benda tidak dapat didampingi dengan

partikel tidak. Perhatikan contoh berikut:

(14b) * Ia sedeng tida senang tidak hati.

Kalimat (14b) di atas tidak termasuk kata benda, karena apabila

didampingi dengan pertikel tidak, kalimat tersebut tidak berterima.

(38)

(15) Orang jang doestain akoe begitoe, sekarang ada djaoeh sekali. (hal 70)

(15a) Orang jang doestain akoe begitoe, sekarang ada sangat djaoeh sekali.

Kata jauh dalam kalimat (15) merupakan kata sifat. Kata sifat jauh dalam

kalimat (15) dapat ditambah dengan partikel sangat, sehingga perubahannya

tampak dalam kalimat (15a) di atas.

Kata Bilangan

(16) Sarina tiada ditahan, tapi iboenja dan doea boedak prempoean laen ditahan djoega di dalem boei. (hal 141)

(16a) * Sarina tiada ditahan, tapi iboenja dan sangat doea boedak prempoean laen ditahan djoega di dalem boei. (hal 141)

Kata dua dalam kalimat (16) merupakan kata bilangan. Kata bilangan dua

dalam kalimat (16) tidak dapat ditambah dengan partikel sangat, sehingga

kalimatnya tidak berterima dan perubahannya tampak dalam kalimat (16a) di atas.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Data yang sudah dianalisis, disajikan secara informal. Penyajian hasil

analisis data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan

menggunakan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya.

(Sudaryanto, 1993:145).

1.8 Sistematika

Penyajian

(39)
(40)

23

BAB II

PERBEDAAN BUNYI KATA DALAM ANTOLOGI

TEMPO DOELOE

DAN KATA DALAM BAHASA BETAWI

2.1

Pengantar

Perbedaan bunyi pada kata dalam antologi Tempo Doeloe dengan kata dalam

bahasa Betawi meliputi: kata yang berakhir bunyi [a] dalam antologi Tempo

Doeloe menjadi kata yang berakhir bunyi [e] dalam bahasa Betawi, kata yang

berakhir bunyi [ah] dalam antologi Tempo Doeloe menjadi kata yang berakhir

bunyi [e] dalam bahasa Betawi, bunyi [h], [i], [s], dan [

ə

] pada awal kata dan

menjadi hilang dalam bahasa Betawi

,

kata yang mempunyai bunyi tengah [a]

dalam antologi Tempo Doeloe menjadi kata yang mempunyai bunyi [

ə

] dalam

bahasa Betawi, kata yang mempunyai diftong [ai] dalam antologi Tempo Doeloe

menjadi kata yang mempunyai bunyi [e] dalam bahasa Betawi, kata yang

mempunyai bunyi tengah [i] dalam antologi Tempo Doeloe menjadi kata yang

mempunyai bunyi tengah [

ε

] dalam bahasa Betawi, kata yang mempunyai diftong

[au] dalam antologi Tempo Doeloe menjadi kata yang mempunyai bunyi [o]

dalam bahasa Betawi, bunyi [h] pada akhir kata dan menjadi hilang dalam bahasa

Betawi, bunyi pada antologi Tempo Doeloe berbeda dengan bunyi dalam bahasa

Betawi, dan kata yang mempunyai bunyi tengah [u] dalam antologi Tempo Doeloe

menjadi kata yang mempunyai bunyi tengah [ò] dalam bahasa Betawi

(41)

Dalam

Antologi Tempo Doeloe terdapat kata yang berakhir bunyi [a] dan

menjadi [e] dalam bahasa Betawi. Contohnya sebagai berikut:

(17) Dia diam sadja telentang di itoe tikar. (hal 64)

(18) Ia bikin sa-olah olah itoe harta peninggalan dari ajah kita sebagai poenjanja

sendiri. (hal 330)

(19) Dengan moeka bengis ia pandang Njai Saipa. (hal 211)

(20) Bapa, kaloe akoe terima permoehoenannja papa, maka sama djoega seperti

akoe berchijanat sama negrikoe. (hal 103)

(21) “Akoe poenja iboe.” (hal 59)

(22) “Ach! Nona tida taoe begimana hatikoe ini, soedah lama ada tjinta pada

nona.” (hal 178)

(23) Malem Senin dari itoe tanggal djoga, 28 Desember 1721, G.G Zwaardecroon

ada trima banjak tetamoe dalem astananja di Jacatra. (hal 133)

(24) Barang siapa melihat siksa-an jang kedjam itoe atawa mendenger soeara

Rossina pada ketika itoe, meskipoen berhati keras nistatja soedah mendjadi

lemas. (hal 153)

(25) Toean Briot itoe waktoe ada doedoek di roemahnja iang amat mesum

adanja, pakei tjelana dan telandjang badan. (hal 386)

(26) “Alie! kata Sarina, “kau ada seorang baek dan omonganmoe poen patoet.

(hal 124)

(27) Saja harep nona soeka berpikir doeloe. (hal 179)

(28) “Ada apa Sarina? Mengapa kau begini?” (hal 129)

(29) “Kenapa loe djatoin Sinjo?” (hal 152)

(30) Barang siapa melihat siksa-an jang kedjam itoe atawa mendenger soeara

Rossina pada ketika itoe, meskipoen berhati keras nistatja soedah mendjadi

lemas. (hal 153)

(31) Liem Hok Kan sebelomnja berangkat, pergi doeloe ka tempat dimana Mas

Redjo ada tidoer. (hal 351)

(32) Begimana dengen Sarina? (hal 142)

(33) Sarina keabisan akal. (hal 133)

(34) “Mana si Rossina?” (hal 152)

(35) “Ja!” sahoet si Siman. (hal 181)

(36) Pada soeatoe hari, koetika matahari baroe menerangken langit di sebla

Timoer, maka adalah saorang berdjalan tjepat menoedjoe ka kota Betawi.

(hal 182)

(42)

kantongnja sekarang soedah penoeh. (hal 216)

(38) Hadji Salihoen tanja kepada ma Boejoeng, hal ichwal keidoepannja itoe

Njai Dasima dan Toeannja.

(39) Tjoema ada satoe perkata-an jang dia tiada bisa loepa iaitoe apa jang

didengarnja di Soerabaija. (hal 64)

(40) Sarina tiada ditahan, tapi iboenja dan doea boedak prempoean laen ditahan

djoega di dalem boei.

(41) Njonja van der Ploegh soeroe gelar satoe tiker, dimana njonja ini doedoek

besila sebagi orang kampoeng. (hal 157)

(42) Ia ini tentoe lebih soeka trima Pangeranmoe dari orang Olanda. (hal 54)

(43) “Ach, engkau tiada maoe akoe bitjara!” (hal 78)

(44) Di Pinggir tembok kamar jang di pake boewat kantornja ada di pan

pandjang. (hal 51)

(45) “Ampoen Goesti ampoen! Itoelah boekan maksoednja Pangeran Adipati.

Ianja tjoema minta Goesti poenja pikiran.” (hal 54)

(46) Soeda tiga malem ampir tida dapet tidoer sama sekali, ampir tenga malem

Sarina telah djadi poeles di pangkoean iboenda. (hal 138)

(47) Ratoe bersama-sama anaknja pada tjari akal aken membinasa-in Goesti,

dan aken membinasain itoe anak moeda jang dia orang sangka anaknja

nona Suzanna. (hal 85)

(48) Kawan-kawannja itoe orang toea, jang ada dalem itoe kamar, jang taroe

kepertjajaan pada Pieter Elberveld sebagi orang soetji dan sakti,

mendenger itoe perkataan-perkataan dari itoe orang toea kapala

pembrontak. (hal 131)

(49) Ia minta pada si Djojo soepaja ia dianter poelang karoemah orang-toeahnja

sertapoen ia berdandji aken kasih oewang peneboes padanja, aken tetapi

sia-sia saja. (hal 178)

(50) Kira-kira soeda liwat 1 boelan poenja lama tiada sekali Njai Dasima

omongken perkara beladjar agama, dan tiada sekali-kali dia bentji kepada

Toeannja. (hal 279)

(51) Besok paginja dia berdoea pegi ka Pekodjan, dan tanja Goeroe disitoe, apa

misti bikin boeat mendapet keampoenan dosa besar, ibarat boenoe orang.

(hal 290)

(52) Sebelonnja tjerita teroes, perloelah di tjeritaken doeloe dari njonja Kong

Hong Nio, bagimana ia soedah djadi saorang hartawan. (hal 310)

(53) Kira kira satoe taon, sasoedahnja baba Liem Tek Kan meninggal doenia,

(43)

Mandjangan, dengen menoenggang koeda belang iang amat tjakep dan

bagoes. (hal 318)

(54) Dalem sakedjap mata prampoean ini soedah di pegang oleh itoe tiga orang,

moeloetnja di toetoep dengen satoe sapoetangan hingga ia tiada bisa

bertereak. (hal 322)

(55) Apa betoel si Sa-oedin boleh di pertjaja? (hal 340)

(56) Itoe orang-orang Tengger jang di pendjara pada di lepas semoewa dengan

titah aken pegi poelang itoe ari djoega kagoenoeng.

(57) Ach soedahlah baekan djoega begitoe! Boewat apa ini negri tinggal berdiri

kaloe misti diprentahken oleh Pengantin, Nitro, Lembono, Soenan Mas dan

Sjeikh Abdoellah? Lebih baik orang Olanda rampas dan piarah itoe negri.

(hal 86)

(58) Baek, Raden Cartadria. (hal 119)

(59) Ia-poenja tabeat ada djelek sekali, gila hormat dan selamanja ingin besar,

tapi ia ada mempoenjai banjak kekajaan. (hal 137)

(60) Pada besok harinja satoe kawanan soldadoe brangkat ka Moeara Antjol

aken mengepoeng kawanan perampok jang ada di tempat itoe. (hal 177)

(61) Sesoenggoehnja ia rasa takoet apa lagi kerna moesinnja orang merampok.

(hal 182)

Kata dia, kita, muka, terima, punya, cinta, Jakarta, suara, celana, kata,

nona, apa, kenapa, siapa, dimana, bagaimana, Sarina, Rossina, ya, pada, Saipa,

Dasima, Surabaya, dua, nyonya, Belanda, bicara, ada, cuma, tiga, Suzanna,

kepala, supaya, lama, tanya, cerita, muda, mata, percaya, semua, piara, Cartadria,

gila, Muara, dan rasa memiliki bunyi akhir [a]. Kata yang mempunyai bunyi akhir

[a] dalam antologi Tempo Doeloe dapat menjadi bunyi [e] dalam bahasa Betawi.

(17a) Die diem aje telentang di tikar ntu.

(18a) Ia bikin seolah-olah harta ntu peninggalan dari babe kite sebage

punyenye ndiri.

(19a) Dengan muke bengis, ie pandang Nyai Saipe.

(20a) Bapa, kalo aye trime permohonannye babe ame juge seperti aye

berkhianat ame negri aye.

(21a) “Aye punye enyak.”

(44)

(23a) Malem Senen tanggal 28 Desember 1721, Gubernur Jendral Zwaardecroon

trime banyak tamu di dalem istananye di Jakarte.

(24a) Barang sape meliat siksaan yang kejam ntu atau mendengar suare Rossine

pade waktu ntu meskipun berhati keras, niscaya ude jadi lemes.

(25a) Tuan Briot duduk di rumenye, pake celane dan telanjang badan.

(26a) “Alie, kate Sarine ente baek dan omongan ente pun patut.”

(27a) Aye arep, none berpikir dulu.

(28a) “ Ade ape Sarine? Mengapa ente begini?”

(29a) “Kenape ente jatoin Sinyo?”

(30a) Barang sape meliat siksaan yang kejam ntu atau mendenger suare Rossine

pade waktu ntu meskipun berhati keras, niscaya ude jadi lemes.

(31a) Sebelom berangkat, Liem Hok Kan pegi dulu ke tempat dimane Mas Rejo

tidur.

(32a) Begimane dengan Sarine?

(33a) Sarine keabisan akal.

(34a) “Mane si Rossine?”

(35a) “Ye!” sahut si Siman.

(36a) Pade suatu hari, ketika matahari baru menyinari langit di sebelah timur,

ade seorang yang berjalan cepat menuju ke kota Betawi.

(37a) Atinye ude seneng karena ie piker, si Saipe ude ade yang jaga dan

kantongnye sekarang ude penuh.

(38a) Haji Salihun tanye kepade Buyung tentang keidupannye Nyai Dasime dan

tuannye.

(39a) Cume ade atu perkataan yang die kagak bisa lupe yaitu ape yang

didengernye di Surabaye.

(40a) Sarine kagak ditahan, tapi enyaknye, dan due budak prempuan laen

ditahan juge di dalem penjara.

(41a) Nyonye Van der Plugh suruh gelar atu tiker, dimane nyonye ni duduk

bersila sebage orang kampung.

(42a) Ia tentu lebi suka trime Pangeran ente dari pade orang Belande.

(43a) “Ah, ente kagak mau aye bicare!”.

(44a) Di Pinggir tembok kamar yang dipake buat kantornye, ade dipan panjang.

(45a) “Ampun Gusti, ampun! Ntu bukan maksudnye Pangeran Adipati. Ia cume

minta Gusti punye pemikiran.

(46a) Ude tige malem kagak dapet tidur ame sekali, Sarine telah pules di

pangkuan ibunda.

(45)

anak mude yang die sangka anaknye none Suzanne.

(48a) Temen orang tua -yang taro kepercayaan pade Pieter Elberveld itu sebage

orang suci dan sakti-, mendengar perkataan dari kepale pembrontak ntu.

(49a) Ia minta si Joyo supaye ia dianter balik ke rume orang tuanye serta

berjanji akan kasi duit penebus padenye, tetapi sia-sia aje.

(50a) Kire-kire 1 bulan lamenye, Nyai Dasime omongkan perkara belajar

agama, dan kagak sekali-kali die benci kepade tuannye.

(51a) Besok pagi, die berdue pegi ke Pekojan, dan tanye guru, ape musti dapet

ampunan dosa besar bunuh orang?

(52a) Sebelonnye cerite, perlu diceritakan dulu dari nyonye Kong Hong Nio,

begimane ia jadi seorang yang memiliki banyak duit.

(53a) Kire-kire atu taon suede baba Liem Tek Kan meninggal dunia, ade

seorang Cina mude berjalan di kampung Menjangan dengan menunggang

kuda.

(54a) Dalem sekejap mate, prempuan ni ude dipegang oleh tige orang ntu,

mulutnye ditutup dengan atu sapu tangan hingga ia kagak bisa bertreak.

(55a) Ape betul si Saudin bisa dipercaye?

(56a) Orang-orang Tengger yang di penjara ntu pade dilepas semue dengan

prentah akan balik ari ntu juge ke gunung.

(57a) Ah, baekan juge gitu! Buat ape negri ni berdiri kalo musti diprentah oleh

Pengantin, Nitro, Lembono, Sunan Mas, dan Syekh Abdullah? Lebi baek

Orang Belande rampas dan piare negri ntu.

(58a) Baek, Raden Cartadrie.

(59a) Ia punye tabiat jelek, gile hormat dan selamanye ingin besar, tapi ia

mempunyai banyak kekayaan.

(60a) Esok arinye, atu kawanan serdadu brangkat ke Muare Ancol untuk

mengepung kawanan perampok yang ade di tempat ntu.

(61a) Sesunggunye, ia rase takut karna musimnye orang merampok.

2.3

Kata yang Berakhir Bunyi [ah] dalam Antologi

Tempo Doeloe

Menjadi Kata yang Berakhir Bunyi [e] dalam Bahasa Betawi

Dalam

Antologi Tempo

Doeloe terdapat kata yang berakhir fonem [ah]

dan menjadi [e] dalam bahasa Betawi. Contohnya sebagai berikut:

(62) Roemahnja si Bohong ada berderet dengen roemahnja si Tjonat. (hal 192)

(46)

tanah Djawa Wetan, poenjanja seorang Djawa, bernama Niti Atmodjo,

joeroetoelis fabriek goela, dan roemah itoe ada terdiri di bawah satoe

boekit, iang adanja di pinggir kali, iang tiada dalem aernja. (hal 377)

(64) Dari ini beklahian di dalem roema, Samioen pikirken berhari-hari, sebab

dia soeda djadi takoet boeat oeroesin hartanja, serta dia rasa soesa boeat

boeang Njonja Hajati, sebab dilarang oleh Manja, dan Njonja Hajati soeda

taoe semoea resia djahatnja Samioen dari perkara menadah barang glap.

(hal 290)

(65) Dia tiada ada kepoeteren dalam istana djadi tiada oesah koewatir terima

orang laki-laki. (hal 52)

(66) Pangeran-pangeran pada marah, adapoen marahnja sia-sia sadja sebab

ayandanya tiada perdoeli-in aken kasi katerangan dari pada

perboewatannja. (hal 74)

Kata

rumah, tanah, susah, usah, dan marah memiliki fonem akhir [ah].

Kata yang mempunyai bunyi akhir [ah] dalam antologi Tempo Doeloe, dapat

menjadi bunyi [e] dalam bahasa Betawi.

(62a) Rumenye si Bohong berderet dengan rumenye si Conet.

(63a) Awalnye diceritakan, ade atu rume kecil di desa Purwo di tane Jawa

Timur, punyanye seorang Jawa, yang bernama Niti Atmodjo – sekretaris

pabrik gula. Rume ntu ade di bawah bukit, pinggir kali, dan kagak dalem

aernye

(64a) Di dalem rume, Samiun pikirkan berhari-hari buat urusin hartanye serta

die rasa suse buat buang Nyonye Hayati, sebab dilarang Ma’nye, dan

Nyonye Hayati yang ude tau semua rasia jahatnye Samiun dari perkara

menadah barang gelap.

(65a) Die kagak ade prempuan dalem istana, jadi kagak use kuatir terime laki-

laki.

(66a) Pangeran-pangeran pade mare. Marenye sia-sia aje, sebab ayahandanye

kagak kasi keterangan dari perbuatannye.

2.4

Bunyi [h], [i], [s], dan [

ə

] Pada Awal Kata dan Menjadi Hilang dalam

Bahasa Betawi

(47)

(67) “Ach! Nona tida taoe begimana hatikoe ini, soedah lama ada tjinta pada

nona.” (hal 178)

(68) Akoe tida poenja doeit satoe cent pun kerna itu angkaoe misti toeloeng

djoealin itoe kerbo. (hal 198)

(69) Ia sedeng tida senang hati. (hal 118)

(70) Broentoeng sekali di itoe malem, tatkala si Tjonat merampok di roemah

baba Lie A. Tjip, akoe ada di sitoe, djika tiada nistjaja roemahnja soedah

habis di makan api. (hal 240)

(71) Tiga hari kamoedian, sasoedahnja Liem Hok Kan bitjara dengan si Merak

bapa Oedin, tatkala matahari soedah soeroep, sekoenjoeng koenjoeng ada

satoe kareta pa lankijn, pakei ampat koeda, dating brenti di moeka satoe

roemah ketjil di kampoeng Mendjangan. (hal 322)

(72) Dengen hati berdebar toean Kramer masoek ka dalem roemah di mana

istrinja soedah hampir mati. (hal 177)

(73) Pada besok harinja satoe kawanan soldadoe brangkat ka Moeara Antjol

aken mengepoeng kawanan perampok jang ada di tempat itoe. (hal 177)

(74) Koetika itu djoega ia telah boeka tali tjelananja laloe iket hidoeng si

Doengkoel dan tiada berapa lama ia soedah toentoen kerbo itoe, ambil satoe

djalan simpang ka kali Mentjere. (hal 195)

(75) Orang-orang dessa pada koetika itoe terpaksa semboeni dalem goeboeknja,

tetapi pertjoema, kerna ada banjak goeboek soeda roeboe lantaran kerasnja

angin, jang lain soedah hanjoet terbawa bandjir. (hal 214)

(76) Si Tjonat ia liatin dengen koerang senang, aken tetapi koetika Kaenoen liat

si Tjonat ada bawa banjak orang dan barang mas inten, maka hilang

maranja. (hal 218)

(77) Banjak bangsa Tjina di tempo dahoeloe kala telah dateng tinggal di loear-

loear kota Betawi, di mana marika itoe hidoep dengen pentjarian mengebon

dan berniaga. (hal 221)

(78) Dengen ini pestol soedah lama akoe bisa boenoeh dan bikin hantjoer

kepalamoe, aken tetapi akoe tida maoe boeang satoe pelor boeat satoe

bangsat sebagi kau. (hal 261)

(48)

(67a) “Ah, None kagak tau begimane ati aye ni, yang ude lama cinte none.”

(68a) Aye kagak punye duit atu sen pun, kerna ntu tolong jualin kebo ntu.

(69a) Ia sedang kagak enak ati.

(70a) Beruntung skali di malem ntu ketika si Conat merampok di rume Baba Lie

A. Tjip, aye ade di situ. Jika kagak, niscaya rumenye ude abis di makan

api.

(71a) Tige hari suede Liem Hok Kan bicare dengan si Merak bapa Udin, ade atu

kereta tandu pake mpat kuda brenti di atu rume kecil di kampung

Menjangan.

(72a) Dengan ati berdebar, tuan Kramer masuk ke dalem rume dimane bininye

ude ampir mati.

(73a) Esok arinye, atu kawanan serdadu brangkat ke Muare Ancol untuk

mengepung kawanan perampok yang ade di tempat ntu.

(74a) Ketika ntu ia ude buka tali celananye lalu iket idung si Dungkul, dan

kagak berape lame ia ude tuntun kebo ntu ambil jalan simpang ke kali

Mencere.

(75a) Orang desa waktu ntu terpaksa sembunyi dalem gubuknye, tetapi percume

karna ade banyak gubuk ude roboh lantaran kerasnye angina, dan yang

laen ude anyut terbawa banjir.

(76a) Si Conat liatin dengan kurang seneng, akan tetapi ketika Kaenun liat si

Conat bawa banyak duit dan mas inten, ilang maranye.

(77a) Bangsa Cina tempo dulu ketika dateng, tinggal di luar kota Betawi

dimane mereka idup dengan mengebon dan berniaga.

(78a) Dengan pestol ni, aye bisa bunu dan bikin ancur kepale ente, akan tetapi

aye kagak mu buang atu pelor buat atu bangsat seperti ente.

2.5

Kata yang Mempunyai Bunyi Tengah [a] dalam Antologi

Tempo

Doeloe

Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi [

ə

] dalam bahasa

Betawi

Dalam Antologi Tempo

Doeloe terdapat kata yang mempunyai bunyi

tengah [a] dan menjadi [

ə

] dalam bahasa Betawi. Contohnya sebagai berikut:

(79) Barang siapa melihat siksa-an jang kedjam itoe atawa mendenger soeara

Rossina pada ketika itoe, meskipoen berhati keras nistatja soedah mendjadi

lemas. (hal 153)

(49)

(81) Akoe poenja hati tiada senang, liat roepamoe seperti orang mengandoeng

soesah. (hal 158)

(82) Pada soewaktoe hari tatkala soedah soreh, maka saja pergi di deket moeara

Antjol, tiba-tiba saja lihat satoe goeboek ketjil. Maka oleh kerna amat lapar

sigrah saja pergi ka goeboek itoe laloe ketoek pintoe. (hal 168)

(83) Hari katiga, ka-empat dan ka-lima poen lewat begitoe sadja hingga Rossina

mendjadi kesal hati, terlebih lagi sedeng si Djojo di waktoe malem belon

pernah ada di goeboek, tjoema siang dia keliatan, tapi boeat sebentarin

sadja. (hal 172)

(84) Pada malem tanggal 3 September taon 1853, bebrapa orang soedah dateng

berkoempoel di satoe gardoe lama di dekat djembatan di Passar Bediel.

(hal 243)

(85) Baba Tio Lk Ho sigrah lontjat dari tandoenja troes tjari si Basman jang ada

berdjalan dengen orang-orang penganter, aken tetapi si Basman tiada ada,

maka Baba Tio Lok Ho troes kasi prentah semoea orang-orang

penganternja aken datang berkoempoel dan djaga tandoe-tandoe, aken

tetapi saorang poen tiada bergerak malahan dia orang liatin Baba Tio Lok

Ho dengen ketawa. (hal 253)

(86) Dia ingat itoe boengkoesan jang Robert alias Sidin serahken padanja.

(hal 63)

(87) Anak, perkata-anmoe soenggoe benar, serta sanget ia meloekaken atikoe!

(hal 70)

(88) “Akoe djoega ada poenja meriam; tetapi kendatipoen ilang akoe poenja

benteng-benteng masih djoega soesah moesoeh itoe madjoe sebab akoe

soeda ambil atoeran lebi doeloe.” (hal 82)

(89) Kemaren malam ada orang di kolong tempat tidoerkoe memegang keris.

(hal 86)

(90) Akoe kepingin soenggoe aken tinggalin bagimoe, soedara, sa-orang gantikoe

jang pantas dan tjakep dihormatin didengar prentahnja. (hal 105)

(91) Pieter Elberveld bersama kontjo-kontjonja di dalem kamar sembajang,

blon moelai sembajang, koetika Sarina dengan ramboet teriap moeka

poetjat, mata bengoel, lakoe bingoeng dan djidat penoe keringet dingin lari

terbirit-birit masoek di itoe kamar. (hal 129)

(92) Kamoedian dengen tjepat si Djojo djalan pergi ka roemah sakit dimana si

Siman soedah lama bernanti di bawah poehoen bamboe. (hal 176)

(93) Sambil gemeter marika itoe pikir jang dia orang sekarang di antjam oleh si

(50)

(94) Dengen kaget akoe liat di atap ada satoe obor jang sedeng menjala, maka

sigrah djoega akoe pandjet ka atas, troes ambil dan boeang itoe obor ka

bawah. (hal 241)

(95) Kira-kira tiga djam kita orang misti berendam dalem kali, baroe bisa hilang

baoenja. (hal 241)

(96) Besok paginja Toean W, tjerita kepada Njainja jang semalem dia soeda

mengimpi satoe oelar itam besar soeda lilit badan Njainja. (hal 273)

(97) Di itoe djaman ada idoep satoe pemboenoe jang soeda tersohor brani, dan

koeat dan banjak orang, serta djoega Politie Islam takoet kepada dianja,

maka perboeatannja jang djahat orang tiada brani boeka, tambahan orang

tiada brani tangkap sama dia, sebab orang takoet kakoeatannja dan

balesannja. (hal 291)

(98) Besok paginja ia dateng di tempat pekerdja-annja dengan berasa amat

tjapei dan badan tiada segar. (hal 385)

Kata lemas, dalam, senang, lapar, kesal, dekat, datang, ingat, benar,

meriam, malam, pantas, pucat, cepat, ancam, atap, rendam, ular, tangkap, dan

segar memiliki bunyi tengah [a]. Kata yang mempunyai bunyi tengah [a] dalam

antologi Tempo Doeloe dapat menjadi bunyi [

ə

] dalam bahasa Betawi.

(79a) Barang sape meliat siksaan yang kejam ntu atau mendenger suare Rossine

pade waktu ntu meskipun berhati keras, niscaya ude jadi lemes.

(80a) Die denger dalem atinye suare memerentah.

(81a) Aye punye ati kagak seneng, liat muke ente seperti orang susah.

(82a) Pade suatu hari tatkala ude sore, aye pegi di deket muara Ancol, tiba-tiba

aye liat gubuk kecil. Karna amat laper, aye pegi ke gubuk ntu lalu ketuk

pintu

(83a) Hari ketige, keempat, dan kelima lewat begitu aje hingga Rossine jadi kesel

ati, terlebi si Joyo di waktu malem belon perna di gubuk, cuma siang

keliatan, tapi buat sebentar aje.

(84a) Pade malem tanggal 3 September taon 1853, beberape orang ude dateng

berkumpul di atu gardu lama di deket jembatan di pasar senjata.

(85a) Baba Tio Lok Ho loncat dari tandunye trus cari si Basman yang berjalan

dengan orang penganter, akan tetapi si Basman kagak ade, maka Baba Tio

Lok Ho trus kasi prentah semua orang penganternye dateng berkumpul

(51)

Baba Tio Lok Ho dengan ketawa.

(86a) Die inget bungkusan yang Robert alias Sidin serahkan padenye ntu.

(87a) Anak, perkataan ente sunggu bener, ia melukai ati aye.

(88a) “Aye juge punye meriem, tetapi meskipun ilang, aye masi punye benteng

suse untuk musu ntu maju, sebab aye ude ambil aturan lebi dulu.

(89a) Kemaren malem, ade orang di kolong tempat tidur aye megang keris.

(90a) Aye kepingin tinggalin bagi ente sodara yang pantes dihormatin dan

didenger prentahnye.

(91a) Pieter Elberveld bersama temennye di dalem kamar sembahyang. Ia blon

mule sembahyang ketika Sarine dengan rambut kaco, muke pucet, mate

bengkak, jalan bingung, dan penu kringet dingin lari terbiri-birit masuk

ke kamar ntu.

(92a) Kemudian, dengan cepet si Joyo jalan pegi ke rume sakit dimane si Siman

ude lame menanti di bawah pohon bambu.

(93a) Sambil gemeter, mereka piker sekarang diancem si Conat – kepale rampok

yang ude kesohor di seluruh negri.

(94a) Dengan kaget, aye liat di atep ade atu obor yang sedang menyala, dan aye

panjat ke atas trus ambil dan buang obor ntu ke bawah.

(95a) Kire-kire tige jam, kite musti berendem dalem kali baru bisa ilang baunye.

(96a) Besok paginye, Tuan W cerite kepade Nyainye, semalem die ngimpi atu

uler item besar ude lilit badan Nyainye.

(97a) Di jaman ntu ade atu pembunu yang terkenal brani, kuat, serta Polisi

Islam takut kepadanye, maka perbuatannye yang jahat, orang kagak

brani buka, dan kagak brani tangkep die lantaran orang takut

kekuatannye dan balesannye.

(98a) Besok paginye, ia dateng di tempat kerjanye dengan rase cape dan badan

kagak seger.

2.6

Kata yang Mempunyai Diftong [ai] dalam Antologi

Tempo Doeloe

Menjadi Kata yang Mempunyai Bunyi [e] dalam Bahasa Betawi

Dalam Antologi Tempo Doeloe terdapat kata yang mempunyai diftong [ai]

dan menjadi [e] dalam bahasa Betawi. Contohnya sebagai berikut:

(99) Njonja van der Ploegh soeroe gelar satoe tiker, dimana njonja ini doedoek

besila sebagi orang kampoeng. (hal 157)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Bahasa Betawi “tempo doeloe”