BAB I PENDAHULUAN. dimana guru dituntut aktif dan kreatif dalam proses belajar sehingga hasil

149 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Menghadapi era globalisasi, modal utama yang harus dimiliki oleh suatu bangsa adalah peningkatan mutu pendidikan. Karena, kualitas pendidikan merupakan investasi yang paling utama untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia. Bidang pendidikan memegang peranan penting dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Bidang pendidikan, yang paling berperanan dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah guru, dimana guru dituntut aktif dan kreatif dalam proses belajar sehingga hasil belajar yang didapat maksimal.

Proses belajar mengajar, guru mempunyai banyak pilihan strategi pembelajaran ataupun pendekatan pembelajaran. Pemilihan strategi pembelajaran ataupun pendekatan pembelajaran adalah agar guru dalam menyampaikan pembelajarannya tidak selalu berpusat pada guru, tetapi siswa aktif dan kreatif menemukan sendiri pembelajaran yang dimaksud melalui kehidupan sehari-hari yang ada disekeliling mereka.

Ada banyak pilihan strategi pembelajaran ataupun pendekatan pembelajaran, salah satunya adalah pendekatan contextual teaching learning. Pendekatan contextual teaching learning disini adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan

1

(2)

menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata mereka, maksudnya

contextual teaching learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang akan diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika mereka belajar.

Pada penerapannya, pendekatan contextual teaching learning

mempunyai beberapa tahapan dalam pembelajarannya, yaitu tahap pendekatan kontruktivisme, pendekatan bertanya, strategi inkuiri, pendekatan masyarakat belajar, pendekatan pemodelan, pendekatan refleksi dan penilaian sebenarnya. Dalam proses belajar, guru bisa memilih salah satu tahap untuk menerapkannya. Misalnya tahap inkuiri, tahap inkuiri yang biasa dikenal dengan tahap menemukan. Menemukan disini berarti melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik, dimana siswa diajak untuk menangani permasalahan yang mereka hadapi ketika bertemu langsung dengan dunia nyata. Pada tahap strategi inkuiri dalam penerapannya bisa digunakan untuk mata pelajaran apa saja, khususnya mata pelajaran IPA. Pelajaran IPA merupakan pelajaran yang rasional dan objektif, yang dimaksud rasional adalah masuk akal atau logis, dapat diterima oleh akal sehat, sedangkan objektif adalah sesuai dengan kenyataan atau pengamatan dengan

(3)

panca indra. Dalam pelajaran sains terlibat upaya berupa observasi, eksperimen penggunaan alat dan berbagai hitungan tematik (Darmodjo dan R.E Kaligis, 1992:40), jadi pelajaran ini membutuhkan eksperimen atau percobaan dalam pelaksanaa pembelajaran. Dengan melakukan percobaan maka siswa menemukan bukti kebenaran dari teori suatu yang dipelajari dan cara berpikir yang ilmiah (Rostiyah, 1989:80). Dalam pembelajaran, persiapan, kreatifitas dan kemampuan guru mengkondisikan KBM menjadi lebih menarik sangat mempengaruhi keberhasilan KBM (Rostiyah, 1989:80).

IPA adalah pelajaran yang penting karena ilmunya dapat diterapkan secara langsung dalam masyarakat. Menurut Srini M. Iskandar (1997: 16) beberapa alasan pentingnya mata pelajaran IPA yaitu, IPA berguna bagi kehidupan atau pekerjaan anak dikemudian hari, bagian kebudayaan bangsa, melatih anak berpikir kritis, dan mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi dapat membentuk pribadi anak secara keseluruhan. Pendidikan IPA seharusnya dilaksanakan dengan baik dalam proses pembelajaran di sekolah mengingat pentingnya pelajaran tersebut seperti yang telah diungkapkan di atas. Pembelajaran IPA dikatakan berhasil apabila semua tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai, yang terungkap dalam hasil belajar IPA. Namun dalam kenyataannya, masih ada sekolah-sekolah yang memiliki hasil belajar IPA yang rendah karena belum mencapai standar ketuntasan yang telah ditentukan.

Berbagai perlakuan dapat dilakukan siswa berkaitan dengan keberadaan pengajaran yang masih banyak dilakukan secara konvensional

(4)

(pembelajaran terpusat pada guru). Perasaan jenuh yang dialami siswa dengan pembelajaran seperti itu mengurangi konsentrasi belajar siswa dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang dapat menghilangkan kejenuhan tersebut, seperti mengobrol di kelas, melamun, mengerjakan tugas mata pelajaran selain IPA bahkan sengaja tidur di kelas.

Dalam Kurikulum KTSP, para guru dituntut untuk melibatkan siswa secara aktif sebagai subjek pembelajaran. Strategi yang sering digunakan untuk mengaktifkan siswa yaitu dengan melibatkan siswa dalam diskusi di kelas. Akan tetapi terkadang diskusi ini kurang efektif walaupun guru sudah berusaha mendorong siswa agar ikut berpartisipasi aktif dalam proses diskusi. Banyak guru mengeluhkan bahwa hasil belajar dengan diskusi tidak seperti yang mereka harapkan. Para siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka, akan tetapi kebanyakan dari mereka bermain, bergurau dan sebagainya.

Johnson dan Smith dalam (Lie, 2007 : 5) mengemukakan bahwa pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Maksud dari pernyataan tersebut adalah kegiatan pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain menjalin komunikasi dan membangun pengetahuan bersama.

Strategi pembelajaran merupakan suatu tindakan tertentu yang harus dilakukan guru dan siswa dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran

(5)

dapat tercapai. Menurut Kemp (dalam Wina, 2006:126) “Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”. Senada dengan Dick and Carey (dalam Asep, 2007:89) yang menyatakan bahwa “Strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa”.

Strategi pembelajaran inkuiri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Kunandar (2010:371) menyatakan bahwa “Pembelajaran inkuiri adalah kegiatan pembelajaran di mana siswa didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri”. Lebih lanjut, Wina (2006:196) menyatakan bahwa “Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan”.

Dari hasil pengamatan dan wawacara dengan kepala sekolah, beberapa guru dan siswa SDN 1 Getasrejo sudah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi inkuiri baik mengenai RPP dan silabus yang telah di buat maupun pada saat proses pembelajaran.

(6)

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan”.

B. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Perencanaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan?

2. Bagaimana pelaksanaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan?

3. Bagaimana evaluasi strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan? dan hasil yang dicapai?

4. Bagaimana kendala dan solusi pemecahan dalam penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui perencanaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan

(7)

3. Mengetahui evaluasi strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan

4. Mengetahui kendala dan solusi pemecahan dalam penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo grobogan

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi perkembangan dunia pendidikan mengenai pentingnya upaya meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pokok sifat –sifat cahaya dengan menggunakan strategi inkuiri.

2. Manfaat Praktis

Bagi siswa menumbuhkan semangat bagi siswa untuk belajar khususnya belajar tentang materi Ilmu Pengethuan Alam. Bagi guru dapat mendesain pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang aktif kreatif dan menyenangkan melalui strategi inkuiri. Bagi sekolah memberi sumbangan pada sekolah tentang manfaat penggunaan strategi inkuiri terhadap peningkatan hasil belajar siswa belajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dan pedoman untuk penelitian berikutnya yang relevan.

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Perencanaan Pembelajaran

a. Pengertian Perencanaan

Hal ini sejalan dengan pendapat Nana Sudjana (2006:61) mengatakan bahwa perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Perencanaan penting untuk pembelajaran di Sekolah karena memungkinkan siswa diberi kesempatan terbaik untuk memperoleh kemajuan dalam perkembangan dan belajar. Guru dapat memahami peranannya dan tugas-tugas yang harus dicapai siswa untuk berkembang dan belajar. Guru menyediakan sumber-sumber belajar untuk mendukung proses belajar. Perencanaan adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan.

Menurut H.B. Siswanto (2007:42) perencanaan adalah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan cakupan pencapaiannya. Menurutnya, merencanakan berarti mengupayakan penggunaan sumberdaya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), dan sumberdaya lainnya (other resources) untuk mencapai tujuan. Tujuan dari perencanaan adalah menentukan tujuan-tujuan

(9)

yang hendak dicapai teori ini dikemukakan oleh George R. Terry dan Leslie W. Rue.

b. Manfaaat Perencanaan Pembelajaran

Hal ini sejalan dengan pendapat Uno (2006:3) upaya perbaikan pembelajaran melalui perencanaan pembelajaran dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1) Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.

2) Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem.

3) Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar

4) Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perseorangan.

5) Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran.

6) Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar.

7) Perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variabel pembelajaran.

Menurut Abdul Majid (2008: 22) terdapat beberapa manfaat perencanaan pembelajaran yaitu:

1) Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.

2) Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.

3) Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur siswa.

4) Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.

5) Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja. 6) Untuk menghematkan waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.

(10)

2. Pelaksanaaan Pembelajaran

a. Pengertian Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah–langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan (Nana Sudjana, 2010 : 136 ). Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain ( 2010 : 1) pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai.

Pelaksanaan pembelajaran adalah operasionalisasi dari perencanaan pembelajaran, sehingga tidak lepas dari perencanaan pengajaran/pembelajaran-pembelajaran yang sudah dibuat. Oleh karenanya dalam pelaksanaannya akan sangat tergantung pada bagaimana perencanaan pengajaran sebagai operasionalisasi dari sebuah kurikulum.

b. Komponen Pelaksanaan Pembelajaran

Belajar dan mengajar sebagai suatu proses sudah tentu harus dapat mengembangkan dan menjawab beberapa persoalan yang mendasar. Keempat persoalan (tujuan, bahan, strategi dan alat, serta penilaian) menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam proses belajar–mengajar. Secara skematis keempat komponen tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :`

(11)

Gambar Interelasi komponen pengajaran (Nana Sudjana, 2010 : 30)

1) Tujuan

Tujuan dalam proses belajar–mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya adalah rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa setelah mereka menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada intinya adalah hasil belajar yang diharapkan.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka ada tujuan yang dibuat oleh guru, untuk mencapai tujuan pembelajaran maka guru harus memperhatikan beberapa hal antara lain (Nana Sudjana, 2010: 63):

Tujuan

Bahan Strategi dan Alat

Penilaian

(12)

a) Luas dan dalamnya bahan yang akan di ajarkan. b) Waktu yang tersedia

c) Sarana belajar seperti buku pelajaran, alat bantu dan lain – lain d) Tingkat kesulitan bahan dan timgkat permasalahan siswa

Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam merumuskan tujuan pembelajaran antara lain:

a) Rumusan tujuan harus berpusat pada perubahan tingkah laku siswa

b) Rumusan tujuan pembelajaran harus berisikan tingkah laku oprasional, yang artinya dapat diukur saat itu juga

c) Rumusan tujuan berisikan tentang makna dari pokok bahasan yang akan diajarkan saat itu

2) Bahan

Tujuan yang jelas dan oprasional dapat ditetapkan bahan pelajaran yang harus menjadi isi kegiatan belajar–mengajar. Bahan pelajaran inilah yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapai tujuan atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.Menurut Nana Sudjana (2010: 69), ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan pembelajaran antara lain:

a) Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan

b) Menetapkan bahan pembelajaran harus sesuai dengan urutan tujuan. c) Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan antara bahan

(13)

d) Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkrit menuju yang abstrak.

e) Sifat bahan ada yang faktual dan ada yang konseptual, Bahan yang faktual sifatnya konkret dan mudah diingat, sedangkan bahan yang konseptual berisikan konsep – konsep abstrak dan memerlukan pemahaman.

3) Strategi

Strategi dan alat yang digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Strategi dan alat berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang inhgin dicapai. Strategi dan alat yang digunakanharus betul–betul efektif dan efisien.

4) Alat

Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting untuk membantu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif. Sebab dengan adanya alat peraga, bahan yang akan disapaikan kepada siswa akan lebih mudah diterima dan dipahami siswa. Prinsip–prinsip menggunakan alat peraga menurut Nana sudjana (2010: 104) adalah :

a) Menentukan jenis alat peraga dengan tepat.

b) Menetapkan atau memperhitunghkan subjek dengan tepat. c) Menyajikan alat peraga dengan tepat.

d) Menempatkan atau memperliahatkan alat peraga pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.

(14)

5) Penilaian

Untuk menetapkan apakah tujuan belajar telah tercapai atau tidak maka penilaianlah yang harus memainkan peran dan fungsinya. Dengan perkataan lain bahwa penilaian berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya fungsi penilaian pada dasarnya untuk mengukur tujuan. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam penilaian menurut Nana Sudjana (2010: 117) antara lain :

a) Penilaian harus dilakukan secara berlanjut.

b) Dalam proses mengajar penilaian dapat dilakukan dengan tiga tahap yaitu Pre-test yaitu tes kepada siswa sebelum pelajaran dimulai, Mid-test yaitu tes yang diberikan pada pertengahan pelaksanaan pembelajaran dan Post-test yaitu tes yang diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung. c) Penilaian dilakukan tidak hanya didalam kelas melainkan juga diluar kelas

terutama pada tingkah laku.

d) Untuk memperoleh gambaran objektif penilaian sebaiknya dilakukan penilaian tes dan non tes.

3. Model Pembelajaran Inkuiri a. Definisi Pembelajaran Inkuiri

Strategi pembelajaran merupakan suatu tindakan tertentu yang harus dilakukan guru dan siswa dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Kemp (dalam Wina, 2006:126) “Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”. Senada dengan

(15)

Dick and Carey (dalam Asep, 2007:89) yang menyatakan bahwa “Strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa”.

Strategi pembelajaran inkuiri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Kunandar (2010:371) menyatakan bahwa “Pembelajaran inkuiri adalah kegiatan pembelajaran di mana siswa didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri”. Lebih lanjut, Wina (2006:196) menyatakan bahwa “Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan”.

Berdasarkan pendapat ahli yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa untuk memiliki pengalaman belajar dalam menemukan konsep-konsep materi berdasarkan masalah yang diajukan.

b. Karakteristik Strategi Pembelajaran Inkuiri

Pengertian strategi pembelajaran inkuiri yang sedikit berbeda yaitu dari, Kourilsky dalam Hamalik (2011:220) menyatakan “Pengajaran

(16)

berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok siswa inkuiri ke dalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktur kelompok”. Dari pengertian strategi pembelajaran inkuiri yang dikemukakan para ahli, peneliti mengambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang mencakup seluruh kemampuan siswa dalam struktur kelompok melalui proses berfikir kritis, logis, analitis, dan sistematis untuk menemukan jawaban dari suatu masalah. Masalah yang akan dicari jawabannya tersebut harus kontekstual.

Kontekstual dalam hal ini yaitu mengkaitkan konten mata pelajaran (isi, materi pelajaran) dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri oleh Sanjaya (2011:196-197) adalah, sebagai berikut:

1) Menempatkan siswa sebagai subjek belajar Artinya menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.

2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.

3) Tujuan dari penggunaan inkuiri yaitu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Sanjaya (2011:199-201) mengungkapkan penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat prinsip yang harus diperhatikan oleh guru yaitu sebagai berikut: 4) Berorientasi pada pengembangan intelektual. Strategi pembelajaran ini

(17)

Pengembangan intelektual pada proses belajar disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa berdasarkan usia.

5) Prinsip interaksi Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antarsiswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan lingkungan.

6) Prinsip bertanya Kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuanberpendapat, atau bertanya untuk menguji.

7) Prinsip belajar untuk berpikir Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think). Dalam proses berpikir, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif melalui pengalaman nyata dalam pembelajaran. 8) Prinsip keterbukaan segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh karena itu,

perlu adanya mencoba berbagai kemungkinan tersebut. Siswa perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Untuk menciptakan kondisi yang demikian, peranan guru sangat menentukan keberhasilan strategi pembelajaran inkuiri. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi. Oleh karena itu, peran guru dalam strategi pembelajaran inkuiri (Trianto, 2011:136) adalah sebagai berikut: a) Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir b) Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan c) Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat d) Administrator, bertanggungjawab seluruh kegiatan kelas

e) Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan

f) Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas g) Rewarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.

Dalam menggunakan Strategi pembelajaran inkuiri diharapkan efektif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Sanjaya (2011: 197) strategi inkuiri akan efektif apabila:

i) Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.

ii) Bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.

iii) Proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.

iv) Guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.

v) Jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru commit to user

(18)

vi) Guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa.

Dari teori strategi pembelajaran inkuiri, maka dapat dipahami bahwa pengetahuan yang dimiliki siswa sebaiknya bukan sejumlah fakta hasil dari mengingat saja. Akan tetapi, hasil dari proses menemukan sendiri menggunakan potensi yang dimilikinya melalui kegiatan aktif dalam pembelajaran. Menemukan yang dibahas di sini bukan menemukan hal baru yang belum diketahui orang lain, tetapi menemukan pengalaman baru oleh siswa sendiri. Siswa bekerja dalam struktur kelompok kecil. Dalam kelompok, siswa dapat mengembangkan kemampuan berbahasa melalui koordinasi saat percobaan, diskusi, dan presentasi hasil percobaan. Selain itu juga dapat mengembangkan sikap sosial melalui interaksi bekerja sama dalam kelompok.

Dengan adanya aktivitas menemukan konsep, akan mengurangi ketergantungan siswa kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi dan melatih siswa memanfaatkan lingkungan sebagai sumber informasi. Strategi pembelajaran inkuiri mengarahkan pada berfikir tingkat tinggi yang meliputi pemahaman sains, terampil memperoleh dan menganalisis informasi, dan kreatif untuk menciptakan sesuatu. Dari proses berpikir tingkat tinggi melalui kegiatan belajar dengan melakukan akan membangun kaitan antara informasi baru dengan konsep dari pengalaman nyata yang ada dalam setruktur kognitif siswa sebagai dasar keingintahuan yang distimulus oleh pertanyaan-pertanyaan dari guru. Siswa akan menggunakan kemampuan alat indranya untuk mencari jawaban dari keingintahuannya. Namun demikian, untuk

(19)

mengubah paradigma belajar sebagai proses berfikir daripada mengutamakan hasil belajar saja tampaknya bukan hal yang mudah. Padahal untuk menerapkan strategi pembelajaran inkuiri siswa diajak memecahkan suatu persoalan, bertanya dan menjawab pertanyaan ke dan dari guru. Sehingga dalam proses inkuiri guru harus benar-benar memahami dari segi bobot materi dan kemampuan siswa untuk menciptakan pembelajaran dengan penggunaan strategi inkuiri yang efektif.

Berdasarkan kajian teori strategi pembelajaran inkuiri, dapat disimpulkan bahwa strategi ini merupakan pengembangan dari pendekatan keterampilan proses sehingga orientasi pembelajaran berpusat pada siswa melalui aktivitas penemuan dalam struktur kelompok. Untuk mengarahkan pada kegiatan penemuan disesuaikan tingkat perkembangan kognitif siswa berdasarkan usia dengan benda atau pengalaman konkret menuju pada pembelajaran bermakna.

c. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Inkuiri

Kunandar (2010:373) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri dilakukan melalui beberapa siklus, yaitu observasi (observation), bertanya

(questioning), mengajukan hipotesis (hypothesis), pengumpulan data (data gathering), pembahasan, dan penyimpulan (conclusion). Pendapat lain dikemukakan oleh Wina (2006:201) yang menyatakan bahwa “Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) orientasi, 2) merumuskan

(20)

masalah, 3) merumuskan hipotesis, 4) mengumpulkan data, 5) menguji hipotesis, dan 6) merumuskan kesimpulan”.

Trianto (2011: 168) menyatakan, bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:

1) Mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan dipapan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesa.

2) Merumuskan hipotesa. Hipotesa adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan pada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.

3) Mengumpulkan data. Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik.

4) Analisis data. Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran “ benar “ atau “ salah “. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya.

5) Membuat kesimpulan. Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.

Suhana (2010: 73) menyatakan bahwa strategi inkuiri dalam prosesnya mempunyai tahapan dalam pembelajarannya yaitu sebagai berikut: a)Pengamatan (observation), b) Bertanya (questioning), c) Mengajukan dugaan (hipothesis), d)Pengumpulan data (data gathering), e) Penyimpulan (conclussion). Amri (2010: 92) mengungkapkan bahwa strategi inkuiri mempunyai langkah-langkah yang berurutan dalam proses pembelajarannya, diantaranya: a. Observasi atau pengamatan terhadap berbagai fenomena alam

(21)

dugaan atau kemungkinan jawaban. d. Mengumpulkan data terkait dengan pertanyaan yang diajukan. e. Merumuskan kesimpulan kesimpulan berdasarkan data.

Dalam pelaksanaan langkah–langkah inkuiri supaya siswa lebih aktif dan menarik maka langkah–langkah pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut: a) Mengajukan pertanyaan atau permasalahan. b)Merumuskan hipotesa. c) Mengumpulkan data. d) Menganalisa data e) Membuat kesimpulan.

d. Keunggulan Strategi Pembelajaran Inkuiri

Strategi pembelajaran inkuiri sebagai salah satu strategi pembelajaran yang cocok digunakan dalam pembelajaran matematika di SD memiliki beberapa keunggulan. Nurhadi (2002:71) menyatakan “Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi”. Sedangkan menurut Wina (2006:208):

Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi yang banyak dianjurkan karena strategi ini memiliki keunggulan: 1) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran dengan strategi ini dianggap lebih bermakna, 2) dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka, 3) merupakan strategi

(22)

yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman, dan 4) dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Pada hakikatnya strategi pembelajaran inkuiri memiliki keunggulan untuk menciptakan keaktifan siswa dalam pembelajaran agar siswa dapat terlatih untuk mandiri dalam memecahkan masalah dan memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan perkembangannya.

4. Pengertian Hasil Belajar

Sudjana (2001: 23) mengungkapkan hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

1) Ranah kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, anaslisis, sintesis dan penilaian.

a) Pengetahuan. Pengetahuan disini merupakan pengetahuan yang harus dipelajari dan harus diingat.

b) Pemahaman. Pemahaman disini lebih pada memahami sebuah materi

c) Penerapan. Penerapan disini lebih pada cara menerapkan sebuah materi yang sudah dipelajari.

(23)

d) Analisis. Analisis disini lebih pada kecakapan dalam menguraikan materi supaya lebih bisa dimengerti.

e) Sintesis. Disini sintesis lebih pada kecakapan memadukan konsep-konsep sehingga akan membentuk struktur atau pola baru.

f) Evaluasi. Evaluasi mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. 2) Ranah afektif

Ranah afektif adalah berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu penerima, menjawab atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Pada afektif lebih tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil, yaitu :

a) Receving/attending, yaitu kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, ejala dll.

b) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. commit to user

(24)

c) Valuing (penilaian) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

d) Organisasi ( organization ), yakni pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.

e) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai characterization by a value or value complex, yaitu keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengarui pola kepribadian dan tingkah laku.

Nana Sudjana (2000:72) mengemukakan bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dari: a) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya. b) Terlibat dalam pemecahan masalah. c)Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya. d) Berusaha mencaru berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah. e) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk gurunya dan hasil-hasil yang diperolehnya. f) Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. g) Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis. h) Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau

(25)

B. Pembelajaran IPA a. Pengertian IPA

Istilah sains berasal dari bahasa latin scientia yang dapat diartikan sebagai pengetahuan. Dalam arti sempit sains dapat diartikan sebagai disiplin ilmu yang terdiri atas dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Termasuk physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorology, dan fisika, sedangkan life science meliputi biologi (anatomi, fisiologi, zoology, sitologi, embriologi, mikrobiologi). Istilah sains dimaknai secara khusus sebagai nature of science atau ilmu pengetahuan alam.

Refandi (2006) IPA atau Sains adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan dalam pengetahuannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.Conant (Dalam Usman, 2006:1) mendefinisikan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Puskur, Balitbang Depdiknas (2009) menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk

(26)

mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Dari uraian dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah suatu cara mencari tahu tentang alam dan gejala-gejalanya. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

b. Prinsip dan Tujuan Pembelajaran IPA

Dalam prinsip-prinsip Peaget dalam pengajaran IPA (Harsono, 1993: 34) diterapkan dalam program-program yang menekankan pembelajaran melalui menemuan dan pengalaman-pengalaman nyata dan manipulasian alat, bahan, atau media belajar yang lain serta peranan guru sebagai fasilitator yang mempersiapkan lingkungan dan memungkinkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar. Implikasi dari teori Piaget pada pendidikan adalah:

1) Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Selain kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.

2) Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatab aktif dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, selain mengajar secara

(27)

klasik, guru mempersiapkan beranekaragan kegiatan secara langsung dengan dunia fisik.

3) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsi bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda.

Pembelajaran IPA mempunyai beberapa tujuan pembelajaran bagi peserta didik. Menurut Refandy (2006: 65), bahwa mata pelajaran IPA di SD/MI memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan tersebut diantaranya adalah:

1) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep–konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari –hari 2) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang

adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

c. Ruang Lingkup IPA

Sumiati (2009: 12 ) ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut :

a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan2. b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas c. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,

cahaya dan pesawat sederhana

d. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya. SK dan KD untuk mata pelajaran IPA, yang ditujukan bagi siswa kelas V SD adalah sebagai berikut :

(28)

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui

kegiatan membuat suatu karya / model

Mendiskripsikan sifat-sifat cahaya

Memahami hubungan antara gaya, gerak dan energi serta fungsinya

Mendiskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan ( gaya gravitasi, gaya gesek dan gaya magnet )

C. Penelitian Relevan

Strategi inkuiri ini juga pernah diteliti oleh Anjar (2009) yang berjudul “Upaya meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan strategi inkuiri dalam pembelajaran IPA dengan materi pokok pesawat sederhana di SD N 3 Kaloran tahun ajaran 2009/2010”. Hasil penelitian menunjukkan, nilai rata-rata hasil belajar kognitif pada siklus 1 diperoleh 70,50 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 77.69. Nilai rata-rata hasil belajar afektif minat pada siklus 1 diperoleh 80,10 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 90,83. Nilai rata-rata hasil belajar afektif sikap pada siklus 1 diperoleh 80,35 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 90,15. Nilai rata-rata hasil belajar afektif nilai pada siklus 1 diperoleh 82,45 dan siklus 2 meningkat menjadi 88,10. Nilai rata-rata hasil belajar psikomotorik pada siklus 1 yaitu 85,50 meningkat menjadi 93,00 pada siklus 2. Dari hasil yang peroleh, penelitian dengan menggunakan strategi inkuiri pada siswa SD N Kaloran Temanggung dapat meningkat hasil belajar siswa secara optimal.

Jika dibandingkan antara penelitian terdahulu yang dilakukan oleh commit to user

(29)

terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaan dari kedua penelitian tersebut adalah bahwa keduanya sama-sama meneliti tentang penggunaan strategi/strategi inkuiri pada mata pelajaran IPA di SD, namun perbedaannya terletak pada materi yang digunakan. Dalam penelitian Anjar (2009), materi yang digunakan adalah materi pokok pesawat sederhana, sedangkan penelitian di SDN 1 Getasrejo Grobogan menggunakan materi pokok sifat-sifat cahaya.

Penelitian yang dilakukan oleh Dwi (2013) yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Materi Gaya”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA yang pencapaiannya hanya 35,8% siswa yang tuntas memenuhi nilai KKM mata pelajaran IPA. Selain itu, guru masih menggunakan strategi yang bersifat teacher centered,yaitu strategi ceramah. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai ialah, (1) mengetahui gambaran pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada mata pelajaran IPA materi gaya dan(2) mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada mata pelajaran IPA materi gaya. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang mengadaptasi model Kemmis&Taggart dengan jumlah tiga siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV B SD Negeri 3 Cibodas Lembang dengan jumlah siswa sebanyak 39 orang. Instrumen commit to user

(30)

pembelajaran yang digunakan adalah berupa tes, lembar observasi (observasi guru dan lembar observasi siswa), dan lembar angket. Hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing ditunjukkan dengan perencanaan setiap siklusnya yang mengalami perbaikan berdasarkan hasilrefleksi di siklus sebelumnya. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa pada setiap siklusnya yang mengalami peningkatan. Pencapaian hasil belajar kognitif siswa pada siklus I mencapai rata-rata 63,07 dengan ketuntasan 59%, siklus II mencapai rata-rata 70,83% dengan ketuntasan 66,6% dan siklus III mencapai rata-rata 80,73 dengan ketuntasan97,4%. Adapun hasil belajar afektif siswa di siklus I mencapai 63,6%, siklus II mencapai 68,9% dan siklus III mencapai 75,7%. Hasil belajar psikomotor siswa padasiklus I mencapai 67,7%, siklus II 70,4 dan siklus III mencapai 78,1%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA materi gaya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat saran yang hendak disampaikan yaitu guru atau peneliti lain yang akan melakukan pembelajaran IPA untuk mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran, seperti model pembelajaran inkuiri terbimbing yang sudah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

(31)

terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaan kedua penelitian tersebut adalah sama-sama meneliti tentang strategi inkuiri, namun perbedaannya adalah dalam penelitian Dwi (2013) lebih difokuskan pada penelitian tentang strategi inkuiri terbimbing yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA, sedangkan penelitian di SDN 1 Getasrejo Grobogan terfokus pada perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta kendala dan solusi dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi inkuiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Priatna (2013) berjudul “Penerapan Strategi Inkuiri Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Tentang Konsep Pesawat Sederhana”. Penelitian Tindakan Kelas ini dilatarbelakangi rendahnya nilai hasil ulangan IPA, hal ini diketahui dengan ketunta san nilai yang hanya mencapai 47,37%, dengan rata-rata kelas 67,87. Hal tersebut berdasarkan pengamatan di lapangan karena cara mengajar yang masih teacher centred.

Jika dibandingkan antara penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Priatna (2013) dengan penelitian di SDN 1 Getasrejo Grobogan terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaannya adalah sama-sama meneliti tentang penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran IPA, namun perbedaannya terletak pada focus penelitian dimana penelitian Priatna (2013) terfokus pada penggunaan strategi inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Konsep Pesawat Sederhana sedangkan penelitian di SDN 1 Getasrejo Grobogan meneliti tentang hasil belajar siswa pada materi sifat – sifat cahaya. commit to user

(32)

Penelitian yang dilakukan oleh Hartono (2013) berjudul “Peningkatan aktivitas belajar siswa dengan strategi inkuiri pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar”. Penerapan pendekatan inkuiri akan membantu siswa lebih mudah dan terfokus untuk memahami suatu materi pokok dan melatih siswa agar lebih cermat dan lebih kuat pemahamannya. Peneltian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan pendekatan inkuiri pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas IV Sekolah Dasar Negeri 17 Air Upas. strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi deskriptif. Bentuk Penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IV SDN 17 Air Upas Kecamatan Air Upas Kabupaten Ketapang. Hasil penelitian yaitu (1) Penggunaan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas fisik siswa sebesar 28,57%. (2) Penggunaan strategi inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas mental siswa sebesar 32,33% yaitu peningkatan dalam kategori aktivitas mental siswa. (3) Penggunaan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas emosional siswa sebesar 42,86% yaitu peningkatan dalam kategori aktivitas emosional siswa.(4) Penggunaan strategi inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran sebesar 25%. (5) Penggunaan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran sebesar 92,31%.

(33)

Jika dibandingkan antara penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hartono (2013) dengan penelitian yang dilakukan di SDN 1 Getasrejo Grobogan terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaannya adalah kedua penelitian tersebut sama-sama meneliti tentang pembelajaran yang menggunakan strategi inkuiri di Sekolah Dasar. Namun perbedaannya adalah bahwa dalam penelitian yang dilakukan oleh Hartono (2013) lebih meneliti tentang penggunakan strategi inkuiri yang mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa sedangkan penelitian yang dilakukan di SDN 1 Getasrejo Grobogan meneliti tentang strategi inkuiri yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Endah, Widha, dan Haryono (2012). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kimia dengan inkuiri terbimbing menggunakan media modul dan e-learning, kemampuan pemahaman membaca, dan kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa dan interaksinya. Penelitian ini menggunakan strategi kuasi eksperimen, dilakukan di SMA Negeri 1 Wonogiri tahun Pelajaran 2011/2012. Dalam penelitian ini sampel dipilih secara acak (cluster random sampling), sampel pada penelitian ini adalah kelas XI IPA5,6 menggunakan media modul dan kelas XI IPA4,7 menggunakan media e-learning. Analisis data penelitian menggunakan anava dengan desain faktorial 2x2x2 sel tak sama dengan bantuan software PASW Versi 18. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh pembelajaran kimia menggunakan inkuiri terbimbing dengan media modul dan e-learning commit to user

(34)

terhadap prestasi belajar siswa; (2) ada pengaruh kemampuan pemahaman membaca terhadap prestasi belajar siswa; (3) ada pengaruh kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa; (4) ada interaksi antara pembelajaran kimia menggunakan inkuiri terbimbing dengan media modul dan e-learning dengan kemampuan pemahaman membaca terhadap prestasi belajar siswa; (5) tidak ada interaksi antara pembelajaran kimia menggunakan inkuiri terbimbing dengan media modul dan e-learning dengan kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa; (6) tidak ada interaksi antara kemampuan pemahaman membaca dengan kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa; (7) tidak ada interaksi antara pembelajaran kimia menggunakan inkuiri terbimbing dengan media modul dan e-learning, kemampuan pemahaman membaca, kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa.

Jika dibandingkan antara penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Endah, Widha, dan Haryono (2012) dengan penelitian yang dilakukan di SDN 1 Getasrejo Grobogan terdapat persamaan dan perbedaannya. Persamaannya adalah antara kedua penelitian tersebut sama-sama meneliti tentang strategi inkuiri untuk mata pelajaran IPA. Perbedaannya, penelitian yang dilakukan oleh Endah, Widha, dan Haryono (2012) penerapan inkuiri dibantu dengan media modul dan e-learning serta diterapkan pada siswa SMA yang merupakan pribadi yang sudah matang untuk diterapkan strategi penemuan sedangkan penelitian yang dilakukan di SDN 1 Getasrejo

(35)

D. Kerangka Berfikir

Pendekatan pembelajaran adalah sarana interaksi guru dengan siswa didalam kegiatan belajar mengajar. Disini sangatlah penting dalam ketetapan dalam memilih pendekatan pembelajaran dalam mengajar, pendekatan pembelajaran mengajar yang dipilih harus sesuai dengan tujuan, jenis dan sifat materi yang diajarkan. Apabila dalam penggunaaan pendekatan dalam pembelajaran kurang sesuai akan berakibat proses belajar mengajar akan membosankan, pelajaran yang kurang dipahami serta monoton.

Disini selain pendekatan dalam pembelajaran ada hal sangat sangat penting juga yang mempengarui, yaitu prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada khususnya masih rendah. Itu semua dikarenakan banyak siswa beranggapan bahwa IPA adalah pelajaran yang sulit dan membutuhkan proses sehingga mengakibatkan sikap yang acuh terhadap pelajaran IPA. Disisi lain ada juga yang mempengaruhi yaitu sikap guru terhadap muridnya. Biasanya guru kurang memperhatikan tingkat pemahaman siswa dalam mengikuti perubahan tahap demi tahap dalam mencapai materi pelajaran. Bisa dibilang dalam proses belajar mengajar masih berpusat pada guru.

Berdasarkan beberapa teori mengenai pembelajaran strategi inkuiri, maka terdapat suatu gagasan, diantaranya Strategi inkuiri menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi dan Strategi inkuiri dapat meningkatkan kompetensi dasar dari suatu materi pelajaran. commit to user

(36)

Penggunaan Strategi inkuiri di kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan melalui sebuah tahapan persiapan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran inkuiri yang sudah bejalan demi kemajuan pembelajaran IPA di SDN 1 Getasrejo Grobogan khususnya kelas V dan Sekolah pada umumnya. Sehingga kerangka berfikiri penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 2.1. Kerangka Berfikir Perencanaan Pembelajaran IPA dengan Inkuiri Evaluasi Pembelajara n IPA dengan Strategi Inkuiri Pelaksanaan Pembelajaran IPA dengan Strategi Inkuiri Hambatan Penunjang Hasil yang dicapai Latar Belakang:

- Prestasi belajar IPA masih rendah. - Banyak siswa beranggapan bahwa

IPA adalah pelajaran yang sulit. - Guru kurang memperhatikan

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Alasan menggunakan penelitian kualitatif dikarenakan penelitian ini akan mendeskripsikan mengenai penerapan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran IPA kelas VI di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan, sesuai pengamatan peneliti sebagaimana dijelaskan Bogdan dan Tailor (dalam Moleong, 2006: 4) bahwa penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini juga dikatakan penelitian kualitatif karena penelitian menggunakan latar belakang alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai strategi yang ada (Denzin dan Guba dalam Moleong, 2006: 5).

Dalam bukunya Harsono (2008: 156) disebutkan ciri penelitian kualitatif meliputi (a) natural setting, (b) permasalahan masa kini, (c)pemusatan pada deskripsi, (d) peneliti sebagai alat utama riset, (e)pemahaman tacit knowledge, (f) makna sebagai perhatian utama riset, (g) analisis induktif, (h) struktur sebagai ritual constraint, (i) penelitian kualitatif bersifat holistik, (j) desain penelitian lentur dan terbuka, (k)negotiated outcomes, (l) bentuk laporan dengan model studi kasus,

37 commit to user

(38)

(m)interpretasi idiografik, (n) aplikasi tentaif, (o) keterikatan antara temuan dengan fokus, (p) penggunaan kriteria khusus bagi kebenaran, dengan menekankan kebenaran sebagai hasil proses.

Table 3.1 Matrik Penelitian

No. Rumusan

Masalah Jenis Data

Sumber Data Instrument Penelitian Catatan lapangan lembar observasi pedom an wawa ncara 1. Perencanaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pokok sifat –sifat cahaya bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan Deskriptif Kualitatif Kepala sekolah, guru, dan siswa SDN 1 Getasrejo Grobogan √ √ √ 2. Pelaksanaan srategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pokok Deskriptif Kualitatif Kepala sekolah, guru, dan siswa SDN 1 Getasrejo Grobogan √ √ √

(39)

sifat –sifat cahaya bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan 3. Evaluasi strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pokok sifat –sifat cahaya bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan? dan hasil yang dicapai Deskriptif Kualitatif Kepala sekolah, guru, dan siswa SDN 1 Getasrejo Grobogan √ √ √ 4. Kendala dan solusi pemecahan dalam penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Deskriptif Kualitatif Kepala sekolah, guru, dan siswa SDN 1 Getasrejo Grobogan √ √ √ commit to user

(40)

B. Kehadiran Peneliti

Agar didapatkan data yang valid dan reliabel, peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian. Kehadiran peneliti dalam melakukan penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan yang dikhususkan untuk mencari data mengenai model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran IPA kelas VI di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan. Oleh karena itu, kedudukan peneliti adalah sebagai instrumen penelitian (Spradley, 2007).

Kedudukan peneliti dalam penelitian ini sebagai instrumen penelitian disini dimaksudkan sebagai alat pengumpul data sebagai murid. Ciri-ciri umum manusia sebagai instrumen mencakup segi responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan keutuhan, mendasarkan diri atas pengetahuan, memproses dan mengikhtisarkan, dan memanfaatkan kesempatan mencari respons yang tidak lazim atau idiosinkratik (Moleong, 2006: 168-169). Peneliti sebagai murid, dalam hal ini peneliti terlibat mengikuti kegiatan penelitian, melihat apa yang subjek penelitian lakukan,

Alam dengan materi pokok sifat – sifat cahaya bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan

(41)

kapan, dengan siapa dan dalam keadaan apa dan menanyai mereka mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran tematik pada kelas awal.

C. Data dan Sumber Data 1. Data

Data adalah tulisan-tulisan atau catatan-catatan mengenai segala sesuatu yang didengar, dilihat, dialami dan bahkan yang dipikirkan oleh peneliti selama kegiatan pengumpulan data dan merefleksikan kegiatan tersebut ke dalam etnografi. Lofland dalam Moleong (2006: 57), sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

a. Kata-kata dan tindakan.

Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber utama yang dicatat melalui catatan tertulis atau rekaman video atau tape, foto atau film. Wawancara atau pengamatan merupakan hasil usaha gabungan dari melihat, mendengar, dan bertanya.

Sumber data tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, arsip, dokumen pribadi atau resmi.

b. Foto.

Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2006: 160) ada dua kategori foto yang dapat dimanfaaatkan dalam penelitian kualitatif, yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan sendiri. Pada

(42)

umumnya foto yang tidak digunakan secara tunggal untuk menganalisa data saja, namun dengan kata lain sebaiknya foto digunakan sebagai pelengkap pada cara dan teknis lainnya.

2. Sumber Data

Data dapat diartikan sebagai bahan mentah yang didapatkan peneliti dari penelitiannya, bisa berupa fakta maupun keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar analisis. Data dapat berfungsi sebagai bukti dan petunjuk tentang adanya sesuatu. Sumber data adalah sesuatu yang menjadi sumber untuk memperoleh sebuah data. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sumber data berupa hasil observasi, hasil wawancara, dan dokumentasi.

a. Informan

Dalam penelitian kualitatif, informan tidak disebut sebagai subjek penelitian, karena sumber data menyangkut orang mempunyai kedudukan yang sama antara yang diteliti dan peneliti. Dalam penelitian ini melibatkan orang yang berperan sebagai orang kunci (key person). Dalam hal ini adalah kepala sekolah yaitu Rubiyanti, S.Pd, guru kelas V yaitu Sutanti, S.Pd.SD dan siswa di lingkungan SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan.

b. Tempat dan Aktivitas

Tempat yang menjadi sumber data adalah tempat berlangsungnya penelitian yaitu di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan. Sedangkan aktivitas adalah segala gerak yang dilakkan oleh subjek

(43)

penelitian yaitu guru dan siswa dalam pembelajaran IPA Materi Pokok Sifat-Sifat Cahaya Meliputi Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi dengan strategi inkuiri.

c. Dokumentasi

Dokumen adalah laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan-keterangan mengenai peristiwa tersebut. Dalam penelitian tentang “Penggunaan strategi inkuiri pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pokok sifat –sifat cahaya bagi siswa kelas V SDN 1 Getasrejo Grobogan”, peneliti menggunakan dokumen berupa materi pokok sifat-sifat cahaya kelas V, Silabus, RPP, dan data prestasi siswa.

D. Teknik Pengumpulan Data

Strategi pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui strategi pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2006: 308). Strategi pengumpulan data dalam penelitian dengan ini berdasarkan setting data yang dikumpulkan di sekolah dengan tenaga kependidikan. Berdasarkan sumbernya menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan, dan data sekunder yang

(44)

diperoleh melalui dokumen perencanaan pembelajaran, dan berdasarkan teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi yang merupakan gabungan dari wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.

Strategi yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara Mendalam

Wawancara dilakukan tidak menggunakan struktur yang ketat, tetapi dengan pertanyaan yang makin memfokus pada masalah agar informasi yang dikumpulkan cukup mendalam sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif yaitu peneliti sebagai alat pengumpul data. Informan yang diwawancarai adalah kepala sekolah, guru, dan siswa. Data yang ingin didapat dari wawancara ini adalah data tentang pengelolaan pembelajaran tematik di kelas awal sekolah dasar. Data ini meliputi persiapan dan juga penerapan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran IPA kelas VI di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan

2. Observasi

Observasi langsung sering juga disebut observasi partisipatif. Peneliti mengobeservasi secara langsung, baik secara formal maupun informal. Pengamatan ini difokuskan pada kegiatan sekolah yang terkait dengan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran data mengenai kodisi fisik sekolah, Kegiatan belajar mengajar, dan perilaku siswa. Kegiatan pengamatan dilakukan dengan tiga tahap.

(45)

a. Pengamatan deskriptif; pengamatan untuk mengeksplorasi data secara umum. Dalam tahap ini peneliti mengamati secara umum saja tentang kegiatan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran IPA kelas V di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan

b. Pengamatan terfokus, pengamatan untuk menunjang analisis. Peneliti secara seksama mengamati interaksi siswa di dalam kelas di SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan

c. Pengamatan terseleksi; pengamatan untuk menunjang komponen. Peneliti mengambil beberapa kegiatan yang dijadikan contoh secara detail sehingga kegiatan tersebut patut dijadikan contoh dan masih mengandung beberapa kelemahan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan-keterangan mengenai perisiwa tersebut. Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data yang berupa dokumen atau arsip tentang pengelolaan pembelajaran tematik di kelas awal sekolah dasar. Data yang disajikan tersebut berupa (a) Perangkat pembelajaran; (b) hasil evaluasi pembelajaran, dan (c) Profil SDN 1 Getasrejo Kab. Grobogan.

(46)

E. Teknik Analisis Data

Data yang sudah terkumpul dalam penelitian ini kemudian dianalisis berdasarkan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles & Huberman (1994). Ada empat komponen analisis yang dilakukan dengan model ini, yaitu pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Masing-masing komponen berinteraksi dan membentuk suatu siklus. Moleong (2005: 25) menegaskan bahwa pekerjaan analisis data adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengkategorikannya. Tujuannya adalah menemukan makna yang akhirnya bisa diangkat menjadi teori. Pada prinsip pokoknya penelitian kualitatif adalah menemukan teori dari data atau dapat juga menguji suatu teori yang sedang berlaku.

Sesuai dengan pendapat diatas, pada prinsipnya penelitian dilaksanakan juga bermaksud menemukan suatu teori sekaligus menguji suatu teori yang sedang berlaku. Data yang diperoleh dalam penelitian ini pada hakikatnya berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, atau paragaraf-paragaraf, dan dinyatakan dalam bentuk narasi yang bersifat deskripsi mengenai peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi dan dialami oleh subjek. Karena itu teknik analisis digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.

Data yang berhasil dikumpulkan, dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif (Sutopo, 2002: 87). Dalam model analisis ini, tiga komponen analisisnya, yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan

(47)

kesimpulan/verifikasi dilaksanakan bersama dengan proses pengumpulan data dalam bentuk interaktif melalui proses siklus.

Adapun panduan yang dijadikan dalam proses analisis data, dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Dari hasil wawancara, observasi, pencatatan dokumen, dibuat catatan lapangan secara lengkap. Catatan lapangan ini terdiri atas deskripsi dan refleksi.

2. Berdasarkan catatan lapangan, selanjutnya dibuat reduksi data. Reduksi data ini berupa pokok-pokok temuan yang penting.

3. Dari reduksi data kemudian diikuti penyusunan sajian data yang berupa cerita sistematis dengan suntingan peneliti supaya maknanya lebih jelas dipahami. Sajian data ini, dilengkapi dengan faktor pendukung, antara lain strategi, skema, bagan, tabel, dan sebagainya.

4. Berdasarkan sajian data tersebut, kemudian dirumuskan kesimpulan sementara.

5. Kesimpulan sementara tersebut senantiasa akan terus berkembang sejalan dengan penemuan data baru dan pemahaman baru, sehingga akan didapat suatu kesimpulan yang mantap dan benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Demikian seterusnya aktivitas penelitian ini berlangsung, yaitu terjadi, interaksi yang terus menerus antara ketiga komponen analisisnya bersamaan dengan pengumpulan data baru yang dirasakan bisa menghasilkan data yang lengkap sehingga dapat dirumuskan kesimpulan akhir.

(48)

6. Dalam merumuskan kesimpulan akhir, agar dapat terhindar dari unsur subjektif, dilakukan upaya:

a. Melengkapi data-data kualitatif dengan data-data kuantitatif.

b. Mengembangkan “intersubjektivitas”, melalui diskusi dengan orang lain.

Untuk memperjelas proses pelaksanaan analisis model interaktif, di bawah ini disajikan gambar sebagai berikut:

Gambar 3. 1.

Model Analisis Interaktif (Sumber Miles dan Huberman, 2007: 20)

F. Keabsahan Data

Cara menguji apakah data itu valid atau tidak, biasanya kita memakai cara triangulasi. Menurut Sugiyono (2009: 241), triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari beberapa teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Terdapat berbagai cara triangulasi antara lain:

1. Triangulasi sumber, adalah cara mempertemukan tiga sumber informasi atau lebih untuk menentukan suatu informasi itu valid atau tidak.

Pengumpulan Data Kesimpulan Penarikan Reduksi Data Penyajian Data

Figur

Memperbarui...

Related subjects :