• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN AMPAS SAGU SEBAGAI ELEKTRODA KARBON SUPERKAPASITOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN AMPAS SAGU SEBAGAI ELEKTRODA KARBON SUPERKAPASITOR"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1119 1118

Gambar 4.Model gelombang satu

siklus dan spektrum satu siklus

Gambar 5.Bentuk pemodelan uoutput sifat optik jaringan, (b) Spektrum penyerapan jaringan tumor, jaringan normal dan model.

Gambar 4 dan 5 menunjukkan jaringan normal dengan kadar air tinggi terindikasi menyerap spectrum vibrasi radiasi dengan kuatdibandingkan dengan tumor. Puncak amplitudo tinggi pada jaringan normal menunjukkan frekuensi THz rendah mampu menyerap molekul air dengan kuat. Frekuensi resonansi air terletak dekat dengan frekuensi THz untuk setiap transisi, sehingga terdapat berbagai frekuensi yang baik untuk merusak sel tumor demi keperluan medis. Kualitas

spektrum penyerapan radiasi THz dibatasi oleh resolusi frekuensi denganresonansi yang bervariasi namun memiliki nilai akurasi yang tinggi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Drs. Krisman dan Drs. Antonius Surbakti atas masukannya, kepada Dr. Muhammad Hamdi, M.Si selaku pembimbing atas bimbingannya dan segala bantuannya dalam penyelesaian penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

[1]. Atsumasa Yoshida, Kakeru Kagata, and Tetsuya Yamada. Measurement of Thermal Effusivity of Human Skin Using the Photoacoustic Method. Int. JThermophysics, 2010. 31(2): 2019–2029.

[2]. Bayat, A. 2002. Science, Medicine, and the future: Bioinformatics. BMJ 324: 1018-1022.

Bod haine, Barry A., Wood, Norman B., Dutton, Ellsworth G., Dan James,R Slusser.On Rayleigh Optical Depth Calculations. Journal of Atmospheric and Oceanic Technology. Vol 16 (1999). Hlm.1854-1861

Dodds, H.J. and L. W. Roberts (1995). Experiment in Tissue Culture.

Cambrige University Press.255.Grundt, G. J.

(2011). Current State of Research on Biological Effects of Terahertz Radiation. J Infrared Milli Terahz Waves, 1074-1122.

Ferguson, Bradley & Zhang, Cheng-XI. Materials for Terahertz Science and Technology. Nature

Publishing Group. Vol. 2002 (1): 26-33.

1119

PEMANFAATAN AMPAS SAGU SEBAGAI ELEKTRODA KARBON SUPERKAPASITOR

*Andika Afrianda1, Erman Taer1, Rika Taslim2

2Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, 28293

*Email: [email protected]

ABSTRACT

Research on the manufacture of sago based activated carbon as a supercapacitor electrode has been successfully performed. The first stage of activated carbon production was started by drying the waste of dregs sago under sunlight and followed by an oven drying, pre-carbonization, milling, sieving, chemical activation with KOH solution of concentration 0,2 M, pellet printing, carbonization at 600 °C followed by physics activation at temperature of 850 °C and pellet polishing. The sample was dried in the oven was carried out at 110 °C and pre-carbonization was carried out at a temperature of 100 °C to 250 °C for 2 hours. The samples were ground using mortar and ball milling. The 0,2 M KOH activator was used to increase the surface area of the electrode. Physical activation using H2O for 1,5 hours.

Characterization of physical properties was done by measurement of density, thermal stability (TGA) and SEM and the electrochemical properties were performed by a cyclic voltammetric method with a various scan rate of 1, 2 and 5 mV/s. The optimum specific capacitance result of sago based activated carbon for a supercapacitor was found at a 1 mV/s scan as high as 74,85 F/g.

ABSTRAK

Penelitian pembuatan karbon aktif berbasis sagu sebagai elektroda superkapasitor telah berhasil dilakukan. Tahap pertama produksi karbon aktif dimulai dengan mengeringkan limbah ampas sagu dibawah sinar matahari dan dilanjutkan dengan pengeringan oven, pra-karbonisasi, penggilingan, pengayakan, aktivasi kimia dengan larutan KOH konsentrasi 0,2 M, pencetakan pelet, karbonisasi pada 600 °C diikuti aktivasi fisika pada suhu 850 °C dan pemolesan pelet. Sampel yang dikeringkan dalam oven dilakukan pada suhu 110 °C dan pra-karbonisasi dilakukan pada suhu 100 °C sampai 250 °C selama 2 jam. Sampel digiling dengan menggunakan penggilingan mortar dan ball milling. Aktivator 0,2 M KOH digunakan untuk meningkatkan luas permukaan elektroda. Aktivasi fisika menggunakan H2O selama 1,5

jam. Karakterisasi sifat fisis dilakukan dengan pengukuran densitas, stabilitas termal (TGA) dan SEM dan sifat elektrokimia dilakukan dengan metode voltametri siklik dengan variasi scan rate 1, 2 dan 5 mV/s. Hasil kapasitansi spesifik optimum karbon aktif berbasis sagu untuk superkapasitor ditemukan pada scan rate 1 mV/s sebesar 74,85 F/g.

Kata Kunci : Ampas Sagu, Elektroda Karbon, Superkapasitor, Siklis Voltametri.

Jurnal Komunikasi Fisika Indonesia http://ejournal.unri.ac.id./index.php/JKFI

Jurusan Fisika FMIPA Univ. Riau Pekanbaru. http://www.kfi.-fmipa.unri.ac.id Edisi Oktober 2017. p-ISSN.1412-2960.; e-2579-521X

Email: [email protected]

1Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau,

Simpang baru, Pekanbaru, 28293

(2)

PENDAHULUAN

Energi merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan pada masa sekarang, tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi telah memicu ketidakseimbangan yang terjadi antara ketersediaan energi dengan permintaan energi. Diperkirakan beberapa tahun ke depan pemakaian energi dunia masih bergantung pada energi minyak bumi yang tidak terbarukan. Pencarian sumber energi alternatif untuk mengatasi masalah keterbatasan energi perluh dilakukan, dengan cara menciptakan piranti penyimpanan energi secara efektif dan efisien salah satunya adalah superkapasitor.

Superkapasitor adalah perangkat penyimpanan energi yang dapat memberikan daya keluaran tinggi yang sama dengan atau lebih dari 10 kW kg-1

dengan siklus hidup yang lebih panjang serta proses pengisian dan pengosongan yang cepat. Karbon aktif adalah bahan yang paling banyak digunakan untuk elektroda superkapasitor, karena biaya yang lebih murah, luas permukaan spesifik yang tinggi dan daya hantar listrik yang baik. Produksi karbon aktif biasanya melalui dua tahap dimana yang pertama proses pembakaran bahan baku pada suhu rendah, diikuti oleh aktivasi pada suhu lebih tinggi [1].

Sagu (Metroxylon sp.) merupakan tanaman asli Indonesia dengan luas areal sekitar 1,128 juta Ha atau 51,3% dari luas areal sagu dunia. Pengolahan sagu menghasilkan limbah ikutan berupa ampas sagu 75% sampai dengan 83% [2]. Ampas sagu mengandung residu lignin sebesar 21% dan kandungan selulosa sebesar 20% dan sisanya merupakan zat ekstraktif dan abu [3]. Kandungan lignin dan selulosa pada ampas sagu cukup tinggi sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai bahan karbon aktif.

Penelitian ini akan menggunakan ampas sagu sebagai bahan dasar pembuatan elektroda karbon dengan aktivasi fisika menggunakan H2O dengan suhu

pengaktifan konstan yaitu 850oC dengan

waktu tahan aktivasi 1,5 jam dengan scan rate yang di variasikan yaitu s 1, s 2 dan s 3. Sedangkan aktivasi kimia yang digunakan adalah aktivator KOH 0,2 M.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini akan melalui beberapa proses yaitu dengan menggunakan metode eksperimen, dimulai dengan mempersiapkan sampel, pengeringan, penggilingan, pengayakan, aktivasi kimia dengan KOH, pencetakan pelet, karbonisasi dilanjutkan aktivasi fisika dengan uap air, pemolesan dan pencucian sampel. Hasil pemolesan yang sudah dicuci tersebut dibuat menjadi sel

(3)

1121 1120

PENDAHULUAN

Energi merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan pada masa sekarang, tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi telah memicu ketidakseimbangan yang terjadi antara ketersediaan energi dengan permintaan energi. Diperkirakan beberapa tahun ke depan pemakaian energi dunia masih bergantung pada energi minyak bumi yang tidak terbarukan. Pencarian sumber energi alternatif untuk mengatasi masalah keterbatasan energi perluh dilakukan, dengan cara menciptakan piranti penyimpanan energi secara efektif dan efisien salah satunya adalah superkapasitor.

Superkapasitor adalah perangkat penyimpanan energi yang dapat memberikan daya keluaran tinggi yang sama dengan atau lebih dari 10 kW kg-1

dengan siklus hidup yang lebih panjang serta proses pengisian dan pengosongan yang cepat. Karbon aktif adalah bahan yang paling banyak digunakan untuk elektroda superkapasitor, karena biaya yang lebih murah, luas permukaan spesifik yang tinggi dan daya hantar listrik yang baik. Produksi karbon aktif biasanya melalui dua tahap dimana yang pertama proses pembakaran bahan baku pada suhu rendah, diikuti oleh aktivasi pada suhu lebih tinggi [1].

Sagu (Metroxylon sp.) merupakan tanaman asli Indonesia dengan luas areal sekitar 1,128 juta Ha atau 51,3% dari luas areal sagu dunia. Pengolahan sagu menghasilkan limbah ikutan berupa ampas sagu 75% sampai dengan 83% [2]. Ampas sagu mengandung residu lignin sebesar 21% dan kandungan selulosa sebesar 20% dan sisanya merupakan zat ekstraktif dan abu [3]. Kandungan lignin dan selulosa pada ampas sagu cukup tinggi sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai bahan karbon aktif.

Penelitian ini akan menggunakan ampas sagu sebagai bahan dasar pembuatan elektroda karbon dengan aktivasi fisika menggunakan H2O dengan suhu

pengaktifan konstan yaitu 850oC dengan

waktu tahan aktivasi 1,5 jam dengan scan rate yang di variasikan yaitu s 1, s 2 dan s 3. Sedangkan aktivasi kimia yang digunakan adalah aktivator KOH 0,2 M.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini akan melalui beberapa proses yaitu dengan menggunakan metode eksperimen, dimulai dengan mempersiapkan sampel, pengeringan, penggilingan, pengayakan, aktivasi kimia dengan KOH, pencetakan pelet, karbonisasi dilanjutkan aktivasi fisika dengan uap air, pemolesan dan pencucian sampel. Hasil pemolesan yang sudah dicuci tersebut dibuat menjadi sel

1121 superkapasitor dengan urutan komponen

yaitu teflon (badan penyangga), stainless steel (pengumpul arus), elektroda karbon dan separator. Elektroda karbon dan separator terlebih dahulu direndam dalam larutan H2SO4 1 M. Pengukuran nilai

kapasitansi spesifik superkapasitor dilakukan dengan menggunakan cyclic voltrametry (CV). Pengukuran sifat fisis dilakukan dengan pengukuran densitas, pengujian TGA dan pengukuran SEM. Persamaan yang digunakan untuk menghitung nilai kapasitansi spesifik sebagai berikut [4]:

𝐶𝐶𝐶𝐶𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 = (𝐼𝐼𝐼𝐼𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑥𝑥𝑥𝑥 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑐𝑐𝑐𝑐− 𝐼𝐼𝐼𝐼𝑑𝑑𝑑𝑑) (4)

Csp adalah kapasitansi spesifik, Ic adalah arus charge, Id adalah arus discharge, s adalah scan rate dan m adalah massa elektroda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakterisasi sifat fisis elektroda karbon dimulai dengan melakukan pengukuran densitas sampel elektroda karbon.

Gambar 1. Perbandingan densitas

elektroda karbon.

Gambar 1 menunjukkan perbandingan densitas sampel elektroda karbon sebelum karbonisasi dan setelah aktivasi. Densitas pada sampel elektroda karbon akan mengalami penurunan setelah dilakukan proses karbonisasi dan aktivasi fisika. Densitas elektroda karbon sebelum karbonisasi yaitu 0,937 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔/𝑐𝑐𝑐𝑐𝑚𝑚𝑚𝑚3 dan setelah karbonisasi dan aktivasi fisika dilakukan terjadi penurunan densitas menjadi 0,835 𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔/𝑐𝑐𝑐𝑐𝑚𝑚𝑚𝑚3. Penurunan densitas ini mengindikasikan sampel elektroda karbon setelah karbonisasi dan aktivasi fisika akan menghasilkan porositas yang lebih besar dari sebelumnya sehingga pori-pori yang dihasilkan akan lebih banyak.

Gambar 2. Grafik kestabilan termal

(TGA).

Pengukuran Termogravimetri Analisis (TGA) bertujuan untuk mengetahui temperatur termal terbaik pada sampel yang akan diuji. Temperatur termal yang dihasilkan adalah 311,4 °C yang dapat dilihat dari Gambar 2 pada titik puncak grafik warna merah. Grafik berwarna biru

(4)

menunjukkan penyusutan massa elektroda karbon, penyusutan massa dimulai pada 50 °C sampai dengan 125 °C sebesar 7,8 % yang mengindikasikan kandungan air yang terdapat pada sampel sudah mulai terurai. penyusutan massa secara signifikan terjadi

pada suhu 250 °C sampai dengan 350 °C sehingga mengindikasikan pada suhu ini senyawa kompleks selain karbon seperti lignin, selulosa dan hemiselulosa sudah mulai terurai.

Gambar 3. Hasil SEM sampel elektroda Karbon a. Perbesaran 5000 kali, b. Perbesaran 40000

kali.

Gambar 3 menunjukkan bentuk morfologi permukaan sampel elektroda karbon dengan perbesaran 5000 kali dan perbesaran 40000 kali. Perbesaran 5000 kali ditunjukkan oleh gambar 3a yang terlihat memiliki pori yang tidak merata, pori-pori yang terbentuk terlihat memanjang dan tidak beraturan serta permukaan sampel elektroda karbon yang lebih padat. Gambar 3b adalah perbesaran dengan 40000 kali, partikel-partikel pada permukaan sampel elektroda karbon terlihat jelas dan terbentuk rongga-rongga kecil antara partikel-partikel tersebut, pori-pori yang terbentuk terlihat lebih jelas dan dalam, hal ini di indikasikan dengan warna pori-pori yang berwarna hitam.

Pengukuran sifat elektrokimia menggunakan metode cyclic voltrametry (CV) bertujuan untuk menentukan nilai kapasitansi spesifik sel superkapasitor.

Gambar 4. Grafik hubungan tegangan vs

rapat arus berdasarkan variasi scan rate.

(5)

1123 1122

menunjukkan penyusutan massa elektroda karbon, penyusutan massa dimulai pada 50 °C sampai dengan 125 °C sebesar 7,8 % yang mengindikasikan kandungan air yang terdapat pada sampel sudah mulai terurai. penyusutan massa secara signifikan terjadi

pada suhu 250 °C sampai dengan 350 °C sehingga mengindikasikan pada suhu ini senyawa kompleks selain karbon seperti lignin, selulosa dan hemiselulosa sudah mulai terurai.

Gambar 3. Hasil SEM sampel elektroda Karbon a. Perbesaran 5000 kali, b. Perbesaran 40000

kali.

Gambar 3 menunjukkan bentuk morfologi permukaan sampel elektroda karbon dengan perbesaran 5000 kali dan perbesaran 40000 kali. Perbesaran 5000 kali ditunjukkan oleh gambar 3a yang terlihat memiliki pori yang tidak merata, pori-pori yang terbentuk terlihat memanjang dan tidak beraturan serta permukaan sampel elektroda karbon yang lebih padat. Gambar 3b adalah perbesaran dengan 40000 kali, partikel-partikel pada permukaan sampel elektroda karbon terlihat jelas dan terbentuk rongga-rongga kecil antara partikel-partikel tersebut, pori-pori yang terbentuk terlihat lebih jelas dan dalam, hal ini di indikasikan dengan warna pori-pori yang berwarna hitam.

Pengukuran sifat elektrokimia menggunakan metode cyclic voltrametry (CV) bertujuan untuk menentukan nilai kapasitansi spesifik sel superkapasitor.

Gambar 4. Grafik hubungan tegangan vs

rapat arus berdasarkan variasi scan rate.

1123 Gambar 4 menunjukkan grafik hubungan

antara tegangan dan rapat arus. Lebar grafik yang dihasilkan berbanding lurus dengan scan rate yang digunakan, semakin besar scan rate maka grafik yang dihasilkan akan semakin besar. Perhitungan dari persamaan (4) didapatkan nilai kapasitansi spesifik tertinggi terdapat pada sampel KAAS s 1.

Gambar 5. Grafik hubungan nilai

kapasitansi spesifik dengan variasi scanrate.

Gambar 5 menunjukkan pebandingan nilai kapaistansi spesifik elektroda karbon berdasarkan variasi scan rate yang digunakan, nilai kapasitansi spesifik yang dihasilkan semakin besar jika scan rate yang digunakan semakin kecil. Variasi scan rate yang digunakan akan mempengaruhi nilai kapasitansi spesifik yang dihasilkan, semakin rendah scan rate yang digunakan maka waktu yang dibutuhkan ion-ion untuk berdifusi kedalam pori-pori elektroda karbon akan lebih lama sehingga nilai kapasitansi spesifik yang dihasilkan akan semakin besar. Nilai kapasitansi spesifik paling tinggi dari sampel elektroda karbon adalah sampel KAAS s 1. Nilai kapasitansi spesifik yang dihasilkan berdasarkan variasi scan rate yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan nilai kapasitansi spesifik elektroda karbon.

Kode sampel Massa (gr) S (V) Ic (A) Id (A) Csp (F/gr)

KAAS s 1 0,026 0,001 0,001275 -0,00109 74,85

KAAS s 2 0,026 0,002 0,001437 -0,001102 67,33 KAAS s 5 0,026 0,005 0,001623 -0,001415 28,59

KESIMPULAN

Penelitian yang telah dilakukan ini dapat disimpulkan bahwa biomassa ampas sagu sangat potensial digunakan sebagai elektroda karbon sel superkapsitor. Semakin rendah scan rate yang digunakan maka semakin besar nilai kapasitansi spesifik yang dihasilkan. Nilai kapasitansi spesifik yang paling besar dihasilkan pada scan rate 1.

Hasil SEM menunjukan pori-pori terbentuk pada permukaan sampel elektroda karbon sehinnga memungkin ion-ion untuk berdifusi kedalam pori.

SARAN

Penelitian tentang biomassa ampas sagu ini masih dapat dikembangkan lagi, yaitu dengan menggunakan variasi-variasi lainnya

(6)

seperti variasi waktu, variasi suhu dan lain-lainnya.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih disampaikan kepada DP2M yang telah mendanai penelitian ini melalui Hibah Unggulan Perguruan Tinggi dengan judul Potensi Pemamfaatan Limbah Padat Perkotaan Sebagai Elektroda Superkasitor atas nama Dr. Erman Taer, M.Si Tahun 2017 dengan nomor kontrak: 095/SP2H/LT/DRPM/IV/2017.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Teo, E. Y. L., Muniandy, L., Eng-Poh Ng, Adam, F., Mohamed, A, R., Jose, R., Chong, K, F. High surface area activated carbon from rice husk as a high performance sepercapacitor electrode. Electrochimica Acta http://dx.doi.org/10.1016/j.electacta.20 16.01.140.

[2] McClatchey Will. Manner, I. Harley. and Elevitch, R. Craig. 2006. Metroxylon Sp. Ecology papers Inc. London.

[3] Kiat LJ. 2006. Preparation and Characterization of Carboxymethyl Sago Waste and It’s Hydrogel [tesis]. Malaysia: University Putra Malaysia. [4] Kalpana, D., Cho, S.H., Lee,S.B., Lee,

Y.S., Mirsa, R., Renganathan, N. G. 2009. Recycled waste paper – A new source of raw material for electric double-layer capasitor. Journal Power Sources; 190:587.

Gambar

Gambar 3. Hasil SEM sampel elektroda Karbon a. Perbesaran 5000 kali, b. Perbesaran 40000
Gambar 3. Hasil SEM sampel elektroda Karbon a. Perbesaran 5000 kali, b. Perbesaran 40000

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa hasil Pengawasan Panwaslu Kecamatan Labuan di TPS 5 Desa Labuan Salumbone, pada pelaksanaan pleno rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara di tingkat

Indonesia termasuk 10 negara produsen tembakau dunia namun tidak termasuk 10 besar pengekspor, tembakau khususnya untuk konsumsi dalam negeri, kecuali ekspor tembakau

Jadi dari ketiga grafik arus eksitasi tersebut dapat disimpulkan bahwa arus tiap fase dalam generator 3 fase itu mempunyai grafik yang berbeda.. Yang berbeda

Prouˇcavat ´cemo ovaj pojam mnogo detaljnije u odjeljku 3.4 i pokazat da dobra diofantska aproksimacija omogu´cava dobijanje mjere iracionalnosti za specifiˇcne brojeve, na primjer

Setelah kegiatan penyuluhan, ibu dapat memahami apa yang dimaksud Setelah kegiatan penyuluhan, ibu dapat memahami apa yang dimaksud dengan PMT, persyaratan jenis

bahan observasi dan wawancara. Data sekunder bersumber dari dokumen-dokumen dan foto-foto yang digunakan sebagai pelengkap data primer. Karakteristik data sekunder

mm/god. Najslabiju korozijsku otpornost očekivano pokazuje uzorak Al odnosno uzorak na kojem nije bila provedena nikakva metoda zaštite, a čija je brzina korozije bila

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan ekstrak biji kluwek sebagai insektisida nabati dengan konsentrasi antara 25 gr/100 ml akuades, 50 gr/100 ml akuades, 75 gr/100