KATA PENGANTAR
Sejak tahun 2007 pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai upaya memberi perlindungan sosial bagi Keluarga Miskin (KM). Sebagai bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan melalui pemberian bantuan dana tunai bersyarat, dalam jangka pendek PKH diharapkan mampu membantu KM mengurangi beban pengeluaran. Pada jangka menengah PKH diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku peserta dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan sehingga menghasilkan generasi yang Iebih sehat dan cerdas. Dalam jangka panjang PKH diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Peserta PKH hingga tahun 2015 berjumlah 3,5 juta keluarga miskin. Tahun 2016 terdapat penambahan target 2,5 juta keluarga miskin, sehingga jumlah keseluruhan menjadi 6 juta keluarga miskin. Kebijakan pelaksanaan PKH untuk kepesertaan kohor 2007-2015 secara umum menggunakan ketentuan sebelumnya, sementara untuk kepesertaan baru kohor 2016 menggunakan beberapa ketentuan baru, diantaranya komponen kesejahteraan sosial yang terdiri atas penyandang disabilitas berat dan lanjut usia 70 tahun ke atas, dan perubahan indeks bantuan dan komponen.
Pedoman ini disusun sebagai acuan bagi stakeholder PKH baik di pusat dan daerah dan diharapkan dapat menyamakan gerak langkah semua pihak terkait dalam mensukseskan PKH.
Akhir kata kepada semua pihak yang telah berkontribusi terhadap penyusunan Pedoman Pelaksanaan PKH, kami sampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih.
Jakarta, Maret 2016 Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial
ISI BUKU
BAGIAN PERTAMA
BUKU I PEDOMAN UMUM
BAGIAN KEDUA
BUKU II VALIDASI CALON PESERTA PKH BUKU III PENYALURAN BANTUAN
BUKU IV VERIFIKASI KOMITMEN BUKU V PEMUTAKHIRAN DATA BUKU VI PENGELOLAAN SDM BUKU VII RAPAT KOORDINASI
BUKU VIII PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA
DAFTAR ISTILAH
AKB Angka Kematian Bayi AKBAL Angka Kematian Balita AKI Angka Kematian Ibu
APBD Anggaran Pendapatan Belanja Daerah APK Angka Partisipasi Kasar
APMAngka Partisipasi Murni
BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BBKPMBalai Besar Kesehatan Paru Masyarakat BCG Bacillus Calmate Guerrin
BKIMBalai Kesehatan Indera Masyarakat BKMM Balai Kesehatan Mata Masyarakat BKPMBalai Kesehatan Paru Masyarakat
BLT SKPD Bantuan Langsung Tunai Satuan Kerja Perangkat Daerah
BP4 Balai Pelayanan Pengobatan Penyakit Paru BPKB Balai Pengembangan Kegiatan Belajar BSMBantuan Siswa Miskin
CCT Conditional Cash Transfers DISABILITAS Cacat
DPT Diphteri Pertusis Tetanus FDS Family Development Session
Fe Ferrum
HB HepatitisB
IPMIndeks Pembangunan Manusia IU International Unit
Jampersal Jaminan Persalinan
K1 Pemeriksaan kehamilan yang pertama dilakukan pada trimester I kehamilan
K4 Pemeriksaan kehamilan yang ke empat dilakukan pada trimester III
Kemenag Kementerian Agama
Kemenkes Kementerian Kesehatan
Kemenkominfo Kementerian Komunikasi dan Informatika Kemensos Kementerian Sosial
KIA Kesehatan Ibu dan Anak KIP Kartu Indonesia Pintar KIS Kartu Indonesia Sehat KKS Kartu Keluarga Sejahtera KMS Kartu Menuju Sehat KN Kunjungan Neonatal Komplementaritas Pelengkap
KSMKeluarga Sangat Miskin
KMKeluarga Miskin
KUBE Kelompok Usaha Bersama LKD Layanan Keuangan Digital
LSMLembaga Swadaya Masyarakat MDGs Millenium Development Goals = Sasaran
Pembangunan Milenium Orsos Organisasi Sosial
P2K2 Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga
PA Pertemuan Awal
Pedum PKH Pedoman Umum Program Keluarga Harapan PIP Program Indonesia Pintar
PIS Program Indonesia Sehat
PKBMPusat Kegiatan Belajar Mengajar PKH Program Keluarga Harapan
Polindes Pondok Bersalin Desa
PONED Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar PONEK Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Komprehensif Poskesdes Pos Kesehatan Desa Posyandu Pos Pelayanan Terpadu PPK Pemberi Pelayanan Kesehatan
PPLS Pendataan Program Perlindungan Sosial PSKS Program Simpanan Kesejahteraan Sejahtera PSMPekerja Sosial Masyarakat
Pusdatin Pusat Data dan Informasi Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat Pusling Puskesmas Keliling
Pustu Puskesmas Pembantu RASKIN Beras Miskin
RTMRumah Tangga Miskin
RTSMRumah Tangga Sangat Miskin SALAFIYAH Pendidikan Pondok Pesantren Setara SMP SALAFIYAH ULA Pendidikan Pondok Pesantren Setara SD SD/MI Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah SDKI Survei Demografidan Kesehatan Indonesia
SDMSumber Daya Manusia
SIMSistem Informasi Manajemen
SIM PKH Sistem Informasi Manajemen Program Keluarga Harapan
Sinergitas Proses memadukan beberapa aktifitas dalam rangka mencapai satu hasil yang
SKP Surat Keabsahan Peserta SLB Sekolah Luar Biasa
SLTA Sekolah Lanjutan Tingkat Atas SMALB Sekolah Menengah Luar Biasa
SMP/MTS Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
SPM PKH Sistem Pengaduan Masyarakat Program Keluarga Harapan
TKPKD Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah
TT Tetanus Toksoid
UEP Usaha Ekonomi Produktif
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Aspek Kesehatan 2 1.3. Aspek Pendidikan 41.4. Aspek Kesejahteraan Sosial 6
1.4.1. Penyandang Disabilitas 6
1.4.2. Penyandang Disabilitas Berat 8
1.4.3. Komponen Lanjut Usia 10
1.5. Sinkronisasi Penyedia dan Kebutuhan Layanan 12
1.6. Dasar Hukum 13 1.7. Tujuan 14 1.8. Sasaran 15 1.9. Pengertian 16 1.10. Perluasan PKH Tahun 2016 18 BAB II RANCANGAN UMUM 19 2.1. Rancangan Umum PKH 19 2.2. Kegiatan PKH 19
2.3 Hak dan Kewajiban Peserta PKH 20
2.3.1. Hak Peserta PKH 20
2.3.2. Kewajiban Peserta PKH 21
2.4. Sanksi 22
2.4.1. Sanksi Bagi Peserta PKH 22 2.4.2. Sanksi Bagi Pendamping PKH 23
2.5. Transformasi Kepesertaan 23
2.5.1. Tujuan Resertifikasi 23
2.5.2. Tujuan P2K2 25
2.6. Komplementaritas dan Sinergitas Program 25 2.6.1. Jaminan Kesehatan Nasional 25 2.6.2. Beras untuk Masyarakat Sejahtera (Rastra) 26
2.6.3. Program Indonesia Pintar (PIP) 26 2.6.4. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) 27 2.6.5. Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) 27 2.6.6. Asistensi Lanjut Usia Terlantar (Aslut) 27 2.6.6. Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat
(ASPDB) 27
2.7. Pendampingan 28
BAB III
PELAKSANAAN PKH 31
3.1. Penetapan Sasaran (Targeting) 31 3.1.1.Penyiapan Data dan Penetapan Sasaran 31 3.1.2.Penetapan Data Awal Validasi 32
3.2. Persiapan Daerah 33
3.3. Pertemuan Awal dan Validasi 33
3.3.1.Proses Persiapan Pertemual Awal dan Validasi 33
3.3.2.Penetapan Peserta 35
3.3.3.Usulan Proposal Daerah 35
3.3.4.Penetapan Lokasi 35
3.4. Penyaluran Bantuan 37
3.5. Pembentukan Kelompok Peserta PKH 37
3.6. Verifikasi Komitmen 38
3.7. Penangguhan dan Pembatalan 39
3.7 Pemutakhiran Data 39
3.8. Pengaduan 40
BAB IV
KELEMBAGAAN PKH 43
4.1. Pelaksana Program di Pusat 43 4.1.1. Tim Koordinasi Nasional 43
4.1.2. Tim Koordinasi Teknis 44
4.1.3. Pelaksana PKH 44
4.2. Pelaksana PKH Daerah 45
4.2.1. Tim Koordinasi Teknis PKH Daerah 45
BAB V
REKRUTMEN, BIMTEK, WORKSHOP,
RAKOR, DAN PEMANTAPAN 51
5.1.Rekrutmen dan Seleksi 51
5.2 Pendidikan dan Pelatihan 51
5.3. Workshop 53
5.4. Bimbingan Teknis 54
5.5. Rapat Koordinasi (Rakor) PKH 55
5.6. Pemantapan PKH 58 5.7. Sosialisasi PKH 59 5.7.1. Sasaran Sosialisasi 59 5.7.2. Materi Sosialisasi 61 5.7.3. Sarana Sosialisasi 61 BAB VI
MONITORING DAN EVALUASI 63
6.1. Monitoring 63
6.1.1. Tujuan Monitoring 63
6.1.2. Jenis Monitoring 63
6.1.2. Pengumpulan Data dan Analisis 64
6.2. Evaluasi 65
6.2.1. Tujuan Evaluasi 65
6.2.2. Cakupan Evaluasi 65
BAB VII
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Bantuan Langsung Tunai Bersyarat (BLTB) yang dikenal dengan nama Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai salah satu tahapan menuju sistem perlindungan sosial. Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis.
Gambar 1. Perluasan PKH Tahun 2016
Pada PJPTahun 2010 - 2014 terjadi peningkatan target beneficeries dan alokasi budget PKH, melampaui baseline target perencanaan Pelaksanaan PKH tahun 2015 sebanyak 3,5 juta keluarga miskin dengan anggaran sebesar Rp. 6,4 Triliun (setelah ditambah
APBN-P sebesar 1,3T)
Target pelaksanaan PKH tahun 2016 sebanyak 6 juta keluarga miskin dengan anggaran kurang lebih Rp. 10Triliun Sasaran Program Keluarga Harapan (PKH) adalah Keluarga Miskin (KM) berdasarkan Basis Data Terpadu. Peserta PKH harus terdaftar dan hadir pada fasilitas kesehatan dan pendidikan
terdekat. Kewajiban peserta PKH di bidang kesehatan meliputi pemeriksaan kandungan bagi ibu hamil, pemberian asupan gizi, dan imunisasi serta timbang badan anak balita dan anak prasekolah. Sedangkan kewajiban di bidang pendidikan adalah mendaftarkandan memastikan kehadiran anggota keluarga PKH ke satuan pendidikan sesuai jenjang sekolah dasar dan menengah. Khusus anggota keluarga peserta PKH penyandang disabilitas, kewajibannya disesuaikan dengan kondisi disabilitasnya.
Gambar 2. Akses Layanan PKH
B. Aspek Kesehatan
Rendahnya penghasilan menyebabkan KM tidak mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan, bahkan untuk tingkat minimal sekalipun. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil yang tidak memadai berakibat pada buruknya kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan dan seringkali menyebabkan tingginya kematian bayi.
Secara nasional, kecenderungan Angka Kematian Ibu (AKI) dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan penurunan signifikan. Namun kondisi inikemudian memburuk. Berdasarkan data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2012, jumlah angka kematian ibu dan anak tercatat mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup.
Rata-rata kematian ini meningkat sekitar 57% bila dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu. Terpaut jauh dari komitmen Pemerintah untuk menekan tingkat AKI hingga 102 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2015. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan negara tetanggga, angka kematian di Vietnam 159 per 100 ribu kelahiran hidup dan I Malaysia hanya 29 per 100 ribu kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu tersebut pada banyak kasus disebabkan oleh tidak adanya kehadiran tenaga medis pada kelahiran, fasilitas kesehatan yang tidak tersedia pada saat membutuhkan tindakan, atau masih banyaknya rumah tangga miskin yang lebih memilih tenaga kesehatan tradisional daripada tenaga medis profesional lainnya. Selain AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih rendah. Berdasarkan data SDKI 2012, tingkat AKB hanya 34 per 1000 kelahiran hidup. Sementara target MDG tahun 2015 adalah 23 per 1000 kelahiran hidup.
Rendahnya kondisi kesehatan keluarga sangat miskin juga berdampak pada tidak optimalnya proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia 0-5 tahun. Selama kurun waktu 1998-2007, angka kematian bayi pada anak-anak dari ibu yang tidak berpendidikan adalah 73 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi pada anak-anak dari ibu yang berpendidikan menengah atau Iebih tinggi adalah 24 per 1.000 kelahiran hidup. Perbedaan ini disebabkan oleh perilaku dan pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik di a n t a r a p e r e m p u a n - p e r e m p u a n y a n g b e r p e n d i d i k a n . Masalah Indonesia, bukan cuma kematian ibu dan anak saja, namun juga masalah gizi buruk. Pada tahun 2012, Indonesia merupakan negara kekurangan gizi nomor 5 di dunia. Jumlah balita yang kekurangan gizi
di Indonesia mencapai 8 juta jiwa dengan prevalansi kekurangan gizi balita sebesar 17,9% (SDKI 2012). Dibanding target MDGs yang 15%, kondisi Indonesia sangatlah buruk.
Artinya, lebih dari 400 anak-anak meninggal setiap hari di Indonesia. Berita baiknya, itu juga berarti di Indonesia jumlah kematian anak di bawah usia lima tahun telah berkurang dari 385.000 pada tahun 1990 menjadi 152.000 pada tahun 2012 dan 147,000 pada tahun 2015. Laporan berjudul Promise Renewed: 2015 Progress Report dari UNICEF menyatakan bahwa tingkat kematian balita saat ini berada di angka 27 kematian per 1.000 kelahiran jika dibandingkan dengan 85 kematian per 1.000 kematian di tahun 1990. Dengan begitu, Indonesia masuk ke dalam kelompok 24 negara dari 81 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berhasil mengurangi kematian balita hingga dua pertiga dalam periode tersebut yang merupakan target Tujuan Pembangunan Millenium Empat (Millennium Development Goal Four).
C. Aspek Pendidikan
Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Karenanya, mendorong anak untuk tetap bersekolah pada usia remaja menjadi hal mendasar. Keikutsertaan mereka yang berada di luar sistem sekolah pun harus menjadi perhatian utama. Hal ini karena meningkatnya resiko anak putus sekolah rentan menjadi korban eksploitasi, termasuk perdagangan anak. Bahkan mereka rentan pula terhadap pelanggaran hukum dari penyalahgunaan obat terlarang sampai dengan kriminalitas. Pada usia ini mereka rawan terjangkit HIV/AIDS. Kondisi sosial dan budaya di Indonesia ikut andil meningkatkan resiko tersebut, terutama terhadap para remaja putri.
Sampai saat ini tingkat partisipasi anak dalam bersekolah, baik di satuan pendidikan formal maupun informal masih rendah. Berdasar data dari Badan Pusat Statistik tahun 2013 menunjukkan rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7-12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182/73 anak, usia 13-15 tahun sebanyak 2,21 persen, atau 209.976
anak, dan usia 16-18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak. Tahun ini, UNICEF melaporkansebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Penyebab utama angka putus sekolah menurut data BPS diatas disebabkan ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah dan tidak adanya minat anak untuk bersekolah. Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, memiliki kemungkinan putus sekolah empat kali lebih besar daripada mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan. Untuk data statistik geografis, tingkat putus sekolah anak SD di desa 3:1 dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Hal tersebut terjadi antara lain dipicu oleh faktor kekurangan tenaga pengajar untuk daerah terpencil dan tergolong berpenghasilan rendah. Tingkat putus sekolah anak di desa dapat mencapai 3% jika dibandingkan dengan anak di perkotaan
Anak putus sekolah sebagian besar kernudian menjadi pekerja anak untuk menopang ekonomi keluarganya. Berdasar data dari Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas, 2004-2009) dan Hasil Survei Pekerja Anak yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada 2009 menunjukkan, jumlah penduduk berumur 5-12 tahun yang bekerja mencapai 674,3 ribu jiwa atau mencakup sekitar 16,64 persen dari jumlah total pekerja anak (penduduk usia 5-17 tahun) yang mencapai 4,05 juta orang. Pada 2014, misalnya, jumlah anak berumur 10-17 tahun yang secara ekonomi aktif bekerja mencakup 2,77 persen dari jumlah total penduduk 10-17 tahun.
Tabel 2. Tingkat Pekerja Anak
D. Aspek Kesejahteraan Sosial
1. Penyandang Disabilitas
Sebagai bagian dari anak Indonesia, anak penyandang disabilitas terutama dari KM perlu mendapat perhatian dan perlindungan dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan Undang-Undang Nomor 8 Tentang Penyandang Disabilitas.
Sebagian besar Penyandang Disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan, terbelakang, dan/atau miskin dikarenakan masih adanya pembatasan, hambatan, kesulitan, dan pengurangan atau penghilangan hak Penyandang Disabilitas.
Untuk mewujudkan kesamaan hak dan kesempatan bagiPenyandang Disabilitas menuju kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan tanpa diskriminasi diperlukan bantuan sosial terhadap penyandang disabilitas.
Karenanya, upaya pelayanan kesehatan maupun pendidikan perlu dikembangkan untuk memberikan akses bagi anak dengan disabilitas demi kemandirian dan masa depan yang lebih baik. WHO memperkirakan jumlah anak dengan disabilitas mencapai sekitar 7-10% dari total populasi anak (Kemenkes, 2014). Di Indonesia, gambaran data anak dengan disabilitas sangat bervariasi dan belum merefleksikan fakta sebenarnya.
Berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011, terdapat 130.572 anak penyandang disabilitas dari keluarga miskin. Angka tersebut belum dapat mewakili total jumlah anak penyandang disabilitas secara komprehensif. Sebagai rujukan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, terdapat 8,3 juta anak dengan disabilitas di Indonesia, atau 10% dari total populasi anak di Indonesia (82.840.600 anak). Susenas berikut menunjukkan kecenderungan peningkatan selama tahun 2007-2011.
Sumber: Pedoman Umum PKH, 2015
Gambar 4. Anak Usia 5 - 15 Tahun Tidak Sekolah Karena Difabel Selanjutnya, UNESCO memperkirakan bahwa sepertiga dari 75 juta anak di seluruh dunia yang tidak bersekolah adalah penyandang disabilitas (Global Monitoring Report and Education For All, 2010). Kemungkinan seorang anak usia 6-11 tahun dengan disabilitas untuk bersekolah hanya setengah dari anak tanpa disabilitas (Global Monitoring Report and Education For All, 2008). Dalam konteks Indonesia, meskipun pemerintah sudah mengupayakan pendidikan yang inklusif, tingkat partisipasi sekolah dasar dari anak-anak penyandang disabilitas masih sekitar 60 persen lebih rendah dibanding dengan anak-anak tanpa disabilitas (Global Monitoring Report and Education For All, 2010). 2. Penyandang Disabilitas Berat
Penyandang Disabilitas Berat adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama kedisabilitasannya sudah tidak dapat direhabilitasi, tidak dapat melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari dan/atau sepanjang hidupnya pada bantuan/pertolongan orang lain, tidak mampu menghidupi diri sendiri, serta tidak dapat berpartisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan lainnya
(Sumber: Pedoman Pelaksanaan Pemberian Asistensi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Berat, 2015).
Meski belum ada data jumlah penyandang disabilitas beratyang akurat dan dapat dijadikan rujukan nasional, namun jumlah mereka diperkirakan cukup tinggi. Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial RI telah memiliki data lengkap by name and by address (BNBA) sebanyak 110.000 penyandang disabilitas berat. Sampai dengan tahun 2016 Jaminan Sosial bagi mereka baru mencakup sekitar 29.500 jiwa (26,8%) (ASPBD, 2016) dari yang terdata. Bantuan yang diberikan berupa dana tunai sejumlah Rp. 300.000 per bulan dan mendapatkan pendampingan. Penyandang disabilitas berat menjadi beban ekonomi, sosial dan psikologis yang sangat menekan bagi keluarga miskin terutama jika tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk perawatannya.
Pada implementasinya diperlukan sinergi lintas sektor dalam penanganan lanjut usia dan penyandang disabilitas miskin berdasarkan status tinggal.Bantuan PKH diberikan kepada penyandang disabilitas dalam keluarga. Baik keluarga tersebut memilikikomponen kesehatan dan atau pendidikan, maupun keluarga yang tidak memiliki komponen kesehatan dan atau pendidikan.
Sedangkan untuk penyandang disabilitas berat di luar keluarga PKH dilakukan intervensi program panti atau penanganan lainnya. Sinergi lintas sektor untuk bantuan penyandang disabilitas berat dapat dilihat pada gambar 5.
Sumber: Diolah dari Paparan Bappenas, 2016
3. Komponen Lanjut Usia
Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lanjut usia merupakan seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Secara fisik, lanjut usia dapat dibedakan menjadi lanjut usia potensial maupun lanjut usia tidak potensial. Lanjut usia rentan mengalami masalah fisik, mental, sosial, dan psikologis, sehingga dapat mengakibatkan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah lanjut usia 18,1 juta jiwa atau 7,6 persen penduduk. Tahun 2014 lalu, jumlah lansia mencapai 18,78 juta orang lebih. Sementara jumlah lanjut usia terlantar berjumlah 2.848.854 jiwa (berdasarkan data Pusdatin Kesos Tahun 2012).
Perbaikan perawatan dan penyediaan fasilitas kesehatan serta semakin baiknya gizi masyarakat selama tiga dekade terakhir berdampak pada meningkatnyausia harapan hidup penduduk Indonesia yang membawa konsekuensi meningkatnya jumlah lanjut usia dari tahun ke tahun. Semakin panjangnya usia harapan hidup dapat berimplikasi pada timbulnya permasalahan sosial yang berkaitan dengan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi sehingga permasalah jumlah lanjut usia terlantar akan cenderung meningkat.
Data proyeksi penduduk menunjukkan bahwa jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia diprediksi semakin meningkat dalam masa mendatang.
Tabel 3. Prediksi Jumlah Lanjut Usia
Tabel 4. Masalah Kesehatan Lanjut Usia
Sumber: Riskesdas, 2013
Lanjut usiayang menjadi target bantuan PKH adalah lansia yang berusia 70 tahun ke atas. Lansia dalam keluarga PKH memiliki kebutuhanakan pemeliharaan kesehatan maupun kebutuhan harian yang dapat menambah komponen pengeluaran keluarga. Bantuan bersyarat yang diberikan kepada lansia dalam keluarga PKH ditujukan untuk meringankan beban ekonomi keluarga, sekaligus memenuhi kebutuhan pemeliharaan kesehatannya. Dengan demikian, perbaikan taraf hidup dalam kesehatan dan pendidikan untuk ibu dan anak keluarga PKH dapat terjamin dengan mengurangi beban perawatan lansia dalam keluarga.
Upaya perluasan kepesertaan PKH dengan penambahan komponen disabilitas berat dan lanjut usia 70 tahun ke atas akan berdampak signifikan pada penambahan kuantitas penerima PKH. Bantuan PKH untuk lanjut usia 70 tahun ke atas diberikan kepada lansia yang berada dalam keluarga. Baik keluarga tersebut memiliki memiliki komponen kesehatan dan atau pendidikan, maupun keluarga yang tidak memiliki komponen kesehatan dan atau pendidikan. Sedangkan lanjut usia 70 tahun ke atas yang di luar keluarga
(homeless) bantuannya diintervensi melalui program panti.Intervensi program untuk lanjut usia 70 tahun ke atas secara umum dapat dilihat pada gambar 6.
Sumber: Diolah dari Paparan Bappenas, 2016
Gambar 6. Komponen lanjut usia penerima PKH
E. Sinkronisasi Penyedia dan Kebutuhan Layanan
Berbagai indikator di atas menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya bidang pendidikan dan kesehatan, terutama bagi KM perlu ditingkatkan sejalan dengan upaya pemerintah membangun sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan serta meluncurkan program-program yang ditujukan bagi keluarga miskin. Berdasar banyak kajian, penyebab KM tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan terletak pada masalah yang dihadapi oleh sisi permintaan, yaitu KM itu sendiri (demand side) maupun sisi penyedia layanan (supply side). Alasan terbesar para KM tidak melanjutkan sekolah umunya karena tidak adanya biaya, bekerja untuk mencari nafkah, merasa pendidikannya sudah cukup, dan alasan lainnya. Begitupun dari aspek kesehatan, KM tidak mampu membiayai pemeliharaan atau perawatan kesehatan bagi anggota keluarga akibat rendahnya tingkat pendapatan.
Sementara itu, permasalahan pada sisi pelayanan (supply side) yang menyebabkan rendahnya akses KM terhadap pendidikan dan kesehatan antara lain belum tersedianya pelayanan kesehatan dan pendidikan yang mudah dijangkau oleh KM. Biaya pelayanan yang mahal menurut ukuran KM serta jarak antara tempat tinggal dan lokasi pelayanan yang relatif jauh merupakan tantangan utama bagi penyedia pelayanan pendidikan dan kesehatan.
F. Dasar Hukum
Secara teknis, kegiatan PKH melibatkan kementerian dan lembaga, yaitu: Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, BPS, TNP2K dan Pemerintah Daerah. Sumber dana PKH berasal dari APBN.Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya PKH dijalankan berdasar peraturan dibawah ini:
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
4. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin.
5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.
7. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
8. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8).
9. Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2015 tentang Kementerian Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 86).
10. Inpres Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi poin lampiran ke 46 tentang Pelaksanaan Transparansi Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Bersyarat Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin Sebagai Peserta Program Keluarga Harapan.
11. Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 254/PMK.05/2015 tentang Belanja Bantuan Sosial pada Kementerian Negara/Lembaga.
G. Tujuan
Buku Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Harapan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang kebijakan, petunjuk teknis operasional serta mekanisme pelaksanaan. Buku ini ditujukan bagi pelaksana PKH di tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, serta pemangku kepentingan terkait. Dalam jangka pendek dana bantuan ini diharapkan mampu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga (dampak konsumsi langsung), dan dalam jangka panjang merupakan investasi generasi masa depan yang lebih baik melalui peningkatan kesehatan dan pendidikan (dampak pengembangan modal manusia). Artinya, PKH diharapkan sebagai program yang mampu memutus rantai kemiskinan antar generasi. Secara khusus, tujuan PKH dijelaskan sebagaimana gambar berikut.
H. Sasaran
Sasaran peserta PKH adalah Keluarga Miskin (KM) dan yang memiliki komponen kesehatan (ibu hamil, nifas, balita, anak prasekolah) dan komponen pendidikan (SD sederajat, SMP sederajat, SMA sederajat) atau anak usia 6-21 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan wajib 12 tahun, penyandang disabilitas berat, dan lanjut usia diatas 70 tahun. Program Keluarga Harapan terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen pendidikan yang mensyaratkan anak-anak peserta PKHterdaftar dan hadir di sekolah minimal kehadiranya 85% dari jumlah hari efektif sekolah yang berlaku, komponen kesehatan dengan kewajiban antara lain peserta mendapatkan layanan prenatal dan postnatal, proses kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, melakukan imunisasi sesuai jadwal, dan memantau tumbuh kembang anak secara teratur dengan minimal kehadiranya 85% dan komponen kesejahteraan sosial yang terdiri dari penyandang disabilitas berat dan lanjut usia 70 tahun atau lebih.
Akses terhadap kesehatan dan pendidikan yang diberikan tersebut diharapkan mampu mengubah perilaku masyarakat (miskin) agar lebih peduli terhadap kesehatan dan pendidikan generasi penerusnya, sehingga mampu menghilangkan kesenjangan sosial, ketidakberdayaan dan keterasingan sosial yang selama ini melekat pada diri masyarakat miskin.
Sejak 2012, penerima bantuan diperluas dengan rnenarnbah kategori rentan seperti keluarga yang memiliki penyandang disabilitas dan atau manula dalarn rumah tangganya.
Program Keluarga Harapan (PKH) dilaksanakan secara berkelanjutan (multiyear) yang dimulai pada tahun 2007 di tujuh provinsi. Sampai dengan tahun 2015, PKH sudah dilaksanakan di 34 provinsi dan mencakup 472 Kabupaten/Kota dan 6.080 Kecamatan.Target peserta PKH pada tahun 2016 mencapai 6 juta keluarga miskin di 514 Kabupaten/Kota.
Tabel 5. Perkembangan Jumlah Peserta PKH
I. Pengertian
1. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian bantuan tunai bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai peserta PKH. Kriteria peserta PKH adalah keluarga miskin yang memenuhi minimal salah satu syarat berikut: a. Memiliki komponen kesehatan yakni anak dengan usia di bawah 6 tahun, ibu hamil/menyusui, termasuk anak penyandang disabilitas ringan/ sedang.
b. Memiliki komponen pendidikan anak usia sekolah 6 hingga 21 tahun untuk peserta pendidikan SD/MI sederajat, SMP/MTs sederajat dan/atau SMA/MA sederajat, termasuk anak penyandang disabilitas ringan/ sedang. c. Memiliki komponen kesejahteraan sosial untuk Penyandang Disabilitas Berat di dalam keluarga peserta PKH. Penyandang Disabilitas Berat adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama kedisabilitasannya sudah tidak dapat direhabilitasi, tidak dapat melakukan aktivitas kehidupannya sehari-hari dan/atau sepanjang hidupnya pada bantuan/pertolongan orang lain, tidak mampu menghidupi diri sendiri, serta tidak dapat berpartisipasi penuh dan efektif
dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan lainnya (Sumber: Pedoman Pelaksanaan Pemberian Asistensi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Berat, 2015).
d. Memiliki komponen kesejahteraan sosial untuk lanjut usia 70 tahun ke atas di dalam keluarga peserta PKH dengan kriteria: 1. Lanjut usia berusia 70 tahun ke atas per 1 Januari pada
tahun validasi.
2. Lanjut usia berusia 70 tahun ke atas yang menjadi orang tua yang mengurusi keluarga PKH.
3. Pendamping PKH adalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial sebagai pelaksana pendampingan di tingkat Kecamatan.
4. Operator PKH adalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial sebagai pelaksana teknis pengolahan data di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota.
5. Koordinator Kabupaten/Kota PKH adalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial sebagai pelaksana koordinator PKH diKabupaten/Kota dan membawahi pendamping dan operator.
6. Koordinator Wilayah PKH adalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial sebagai pelaksana koordinator PKH di tingkat Provinsi dan membawahi Koordinator Kabupaten/Kota.
7. Koordinator Regional PKHadalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial yang membawahi koordinator wilayah PKH.
8. Koordinator Divisi PKH adalah sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrakkerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial yang bertanggung jawab terhadap subdivisi-subdivisi yang ada di Pusat.
9. Sinergitas Program adalah mekanisme penyelenggaraan PKH yang bersifat multisektor, baik di pusat maupun di daerah, yang melibatkan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa/Kelurahan serta masyarakat.
J. Perluasan PKH Tahun 2016
Sebagai upaya perluasan pelaksanaan PKH tahun 2016 dengan target sasaran menjadi 6 (enam) juta keluarga penerima manfaat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Target kepesertaan kohor 2007 - 2015 adalah 3,5 juta keluarga miskin.
2. Target kepesertaan baru kohor 2016 adalah 2,5 juta keluarga miskin
3. Mekanisme penyaluran bantuan untuk kepesertaan kohor 2007-2015 sesuai dengan ketentuan penyaluran bantuan pada tahun 2015.
4. Indeks bantuan untuk kepesertaan baru kohor 2007-2015 sesuai SK Menteri Sosial RI No. 294/HUK/2016 Tentang Indeks dan Komponen PKH tahun 2016 tanggal 13 Oktober 2016. 5. Bantuan tetap untuk kepesertaan kohor 2007-2015 disalurkan pada tahap pertama tahun 2016, sedangkan kepesertaan baru kohor 2016 tidak mendapatkan bantuan tetap.
6. Kepesertaan baru tahun 2016 terdapat penambahan komponen kesejahteraan sosial, yaitu: Penyandang Disabilitas Berat dan Lanjut Usia 70 tahun ke atas
7. Kehamilan keempat dan berikutnya tidak dihitung sebagai komponen penerima bantuan
8. Penyaluran bantuan untuk kepesertaan barukohor 2016 disalurkan pada tahap IVtahun 2016. Jumlah bantuan masing-masing komponen disesuaikan dengan ketersediaan anggaran dengan mengacu padaindeks bantuan sesuai SK Menteri Sosial RI No. 294/HUK/2016 Tentang Indeks dan Komponen PKH tahun 2016 tanggal 13 Oktober 2016.
BAB II
RANCANGAN UMUM A. Rancangan Umum PKH
Dalam pelaksanaan PKH, Kementerian Sosial RI berperan sebagai pelaksana yang bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga (K/L) baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah sebagai mitra kerja antara lain:
1. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI berperan mengkoordinasikan penyelenggaraan seluruh program penanggulangan kemiskinan, termasuk PKH. 2. Kementerian Sosial RI, berperan dalam pelaksanaan PKH dan seluruh proses bisnis di dalamnya, termasuk menjalin kerja sama dengan pemangku kepentingan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Non Pemerintah dan masyarakat. 3. Kementerian PPN/Bappenas, berperan dalam perencanaan serta
monitoring dan evaluasi program.
4. Kementerian Kesehatan RI, berperan sebagai penyedia Iayanan kesehatan dan membantu pelaksanaan verifikasi kesehatan. 5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Kementerian Agama RI, berperan sebagai penyedia Iayanan pendidikan dan membantu pelaksanaan verifikasi pendidikan.
6. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, berperan dalam pelaksanaan sosialisasi PKH secara Nasional.
7. Kementerian Dalam Negeri RI, berperan dalam memfasilitasi penerbitan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) peserta PKH.
8. Badan Pusat Statistik (BPS), berperan dalam pelaksanaan pendataan kemiskinan untuk Basis Data Terpadu. 9. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota berperan dalam dukungan PKH secara langsung melalui alokasi sharingdana APBD termasuk SDM pelaksana PKH sesuai dengan komitmen Bupati/Walikota.
B. Kegiatan PKH
Kegiatan PKH terbagi atas pengelolaan di lokasi yang sudah melaksanakan PKH dan pengembangan di lokasi yang baru terjangkau kegiatan PKH.
Kegiatan PKH di lokasi yang telah melaksanakan program antara lain: pendampingan, penyaluran bantuan, verifikasi, pemutakhiran data, Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dan transformasi kepesertaan.
Sedangkan kegiatan di lokasi baru antara lain: menyediakan Kantor Sekretariat Pelaksana PKH Kabupaten/Kota, SDM pelaksana PKH, melakukan koordinasi baik di tingkat pusat maupun daerah, melakukan sosialisasi, Diklat pendamping dan operator PKH, bimbingan teknis, melaksanakan pertemuan awal dan validasi calon peserta PKH, entry data hasil validasiserta penyaluran bantuan pertama untuk peserta PKH baru.
C. Hak dan Kewajiban Peserta PKH
Gambar 8. Komponen peserta PKH
D. Hak Peserta PKH
1. Mendapatkan bantuan uang tunai yang besarannya disesuaikan dengan ketentuan program.
2. Mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi seluruh anggota keluarga.
3. Terdaftar dan mendapatkan program-program komplementaritas dan sinergitas penanggulangan kemiskinan Iainnya.
E. Kewajiban Peserta PKH
Seluruh anggota keluarga peserta PKH memiliki kewajiban memenuhi komitmen berdasarkan kriteria komponen masing-masing sebagai berikut:
Gambar 9. Kewajiban peserta PKH 1. Kewajiban komponen kesehatan
a. Peserta PKH wajib memenuhi persyaratan kesehatan yang sudah ditetapkan dalam protokol pelayanan kesehatan. b. Peserta PKH yang dikenakan persyaratan kesehatan adalah peserta yang memiliki ibu hamil/nifas, anak balita atau anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD. 2. Kewajiban komponen pendidikan
Peserta PKH yang memiliki anak usia 6-21 tahun diwajibkan untuk didaftarkan/terdaftar pada lembaga pendidikan dasar ( S D / M I / S D L B / S a l a f i y a h U l a / P a k e t A , SMP/MTs/SMLB/Salafiyah Wustha/Paket B termasuk SMP/MTs terbuka, atau SMA/MA/Paket C termasuk SMA/MA terbuka) dan kehadiran minimal 85% dari hari belajar efektif setiap bulan selama tahun ajaran berlangsung. Apabila ada anak yang berusia 5-6 tahun yang sudah masuk sekolah dasar dan sejenisnya, maka yang bersangkutan dikenakan verifikasi bidang pendidikan.
3. Kewajiban Komponen Kesejahteraan Sosial
a. Penyandang disabilitas berat melakukan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui kunjungan ke rumah (home care).
b. Lansia melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan atau mengunjungi puskesmas santun lanjut usia (jika tersedia). Lansia harus dipastikan mengikuti kegiatan sosial di fasilitas pelayanan kesejahteraan sosial melalui kegiatan day care dan mengikuti berbagai kegiatan yang dibutuhkan. Lansia yang mengalami kesulitan mengikuti day care dapat mengikuti kegiatan home care dengan pendamping lansia mendatangi ke rumah.
F. Sanksi
1. Sanksi Bagi Peserta PKH
Sanksi dalam hal penangguhan dan pembatalan diberlakukan apabila peserta PKH tidak memenuhi komitmen dengan ketentuan:
a. Tidak memenuhi komitmen kehadiran pada fasilitas layanan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial sesuai dengan protokol yang berlaku di setiap fasilitas layanan secara rutin setiap bulannya berupa pengurangan nominal bantuan sebesar 10% pada setiap tahapan penyaluran bantuan. b. Jika tiga bulan berturut-turut seluruh anggota keluarga peserta PKH tidak memenuhi komitmen kehadiran pada fasilitas layanan kesehatan dan/ataupendidikan sesuai dengan protokol yang berlaku di setiap fasilitas layanan maka pengurangan nominal bantuan sebesar 100% atau tidak mendapatkan bantuan akan tetapi masih menjadi peserta PKH.
c. Jika enam bulan berturut-turut seluruh anggota keluarga peserta PKH tidak memenuhi komitmen kehadiran pada fasilitas layanan kesehatan dan pendidikan sesuai dengan protokol yang berlaku di setiap fasilitas layanan, maka akan dikeluarkan dari kepesertaan PKH secara permanen meskipun masih memenuhi kriteria PKH.
d. Khusus bagi daerah pengembangan yang infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial belum
memadai maka penerapan sanksi akan dilakukan secara bertahap.
e. Jika dalam tiga kali siklus penyaluran bantuan berturut-turut atau selama sembilan bulan peserta PKH tidak mengambil bantuan, maka dikeluarkan dari kepesertaan PKH. f. KM terbukti tidak memenuhi kriteria sebagai peserta PKH,
maka dikeluarkan dari kepesertaan PKH.
g. Peserta PKH yang telah dikeluarkan kepesertaannya, tidak dapat diajukan kembali sebagai Peserta PKH. 2. Sanksi Bagi Pendamping PKH
Bagi pendamping yang KM dampingannya tidak memenuhi kondisionalitas akan diberikan sanksi dapat berupa: a. Teguran secara lisan maupun tertulis
b. Penundaan pembayaran honorarium c. Penghentian kontrak kerja
G. Transformasi Kepesertaan
Masa kepesertaan penerima bantuan PKH dirancang selama 6 tahun, dengan asumsi selama masa kepesertaan terjadi perubahan perilaku dalam bidang pendidikan, kesehatan dan status sosial ekonomi keluarga.
Untuk kesuksesan rancangan tersebut, pada tahun kelima kepesertaan PKH akan didata ulang melalui kegiatan resertifikasi. Proses ini merupakan evaluasi atas kepemilikian komponen kepesertaan PKH dan status sosial ekonomi peserta PKH. Bila hasil resertifikasi menunjukkan perubahan status sosial ekonomi atau tidak memiliki komponen kepesertaan PKH, maka pada tahun keenam peserta PKH dapat keluar dari program (graduasi). Jika belum dianggap layak keluar (transisi), para peserta PKH akan dibekali dengan kegiatan P2K2 dan progam komplementaritas berbasis ekonomi maupun program perlindungan sosial yang terintegrasi dan relevan sehingga membantu para peserta meningkatkan daya dan kapasitas kesejahteraannya hingga mandiri.
1. Tujuan Resertifikasi
Dalam jangka pendek dana bantuan tunai bersyarat ini diharapkan mampu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga (dampak
konsumsi langsung), dan dalam jangka panjang merupakan investasi generasi masa depan yang lebih baik melalui peningkatan kesehatan dan pendidikan (dampak pengembangan modal manusia). Artinya, PKH diharapkan sebagai program yang mampu memutus rantai kemiskinan antar generasi. Secara khusus. Sedangkan tujuan resertifikasi adalah: mengidentifikasi program yang dimiliki peserta atau program lainya, menilai status sosial ekonomi peserta PKH, identifikasi keikutsertaan peserta PKH pada programperlindungan sosial lainya dan penggalian karekteristik sosial peserta pkh untuk komplementaritas program .
Pemberian bantuan tunai saja tidak cukup jika yang diharapkan adalah tumbuhnya kesadaran. Pengetahuan kondisi kesehatan yang baik, pendidikan yang memadai, akan dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan hidup mereka di masa depan.
Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau yang dikenal dengan Family Development Session (FDS) merupakan sebuah intervensi perubahan perilaku yang diberikan bagi peserta PKH. P2K2 merupakan proses belajar secara terstruktur untuk meningkatkan keterampilan hidup masyarakat miskin di bidang ekonomi, pendidikan anak, kesehatan, dan perlindungan anak. Materi P2K2 disampaikan melalui pertemuan kelompok bulanan yang disampaikan oleh Pendamping PKH terhadap kelompok-kelompok binaannya.
2. Tujuan P2K2
a. Meningkatkan pengetahuan peserta PKH mengenai pengasuhan anak dan mendukung pendidikan anak di sekolah. b. Meningkatkan pengetahuan praktis peserta PKH tentang pengelolaan keuangan keluarga. Peserta PKH belajar bagaimana membedakan antara kebutuhan dan keinginan, membuat target menabung dan menghindari hutang, serta meningkatkan penghasilan dengan membuka usaha. c. Meningkatkan kesadaran peserta PKH dalam hal kesehatan khususnya pentingnya 1000 hari pertama kehidupan yang secara khusus memberi perhatian pada kesehatan ibu hamil dan bayi.
d. Meningkatkan kesadaran peserta PKH terhadap pencegahan kekerasan terhadap anak dan memenuhi hak-hak anak. e. Meningkatkan kesadaran peserta PKH terhadap hak-hak
lansia dan disabilitas.
f. Secara umum meningkatkan kesadaran peserta PKH akan hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan layanan umum yang disediakan pemerintah untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan pendidikan.
P2K2 diberikan sebagai kewajiban Pendamping PKH terhadap Peserta PKH yang menjadi dampingannya dalam pertemuan yang diselenggarakan sebulan sekali. Dalam pelaksanaannya, P2K2 menjadi bagian dari ukuran kinerja seorang pendamping dengan supervisi dari koordinator Kabupaten/Kota, dan koordinator wilayah. Pelaksanaan P2K2 secara lebih rinci dijelaskan dalam lampiran pedoman operasional P2K2.
H. Komplementaritas dan Sinergitas Program
PKH sebagai program perlindungan sosial yang berfokus pada perbaikan kualitas hidup dasar masyarakat miskin akan menjadi dasar penargetan program-program jaminan dan perlindungan sosial lainnya. Program-program tersebut antara lain:
1. Jaminan Kesehatan Nasional
Seluruh peserta PKH pada saat yang bersamaan juga adalah Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari program Jaminan Kesehatan Nasional.Kartu Indonesia Sehat (KIS) menjamin dan memastikan
masyarakat kurang mampu untuk mendapat manfaat pelayanan kesehatan seperti yang dilaksanakan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Lebih dari itu, secara bertahap cakupan peserta akan diperluas meliputi penyandang masalah kesejahteraan sosial dan bayi yang lahir dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang selama ini tidak dijamin.
2. Beras untuk Masyarakat Sejahtera (Rastra)
Seluruh penerima PKH berhak menjadi penerima bantuan beras bersubsidi (Rastra) yang dikeluarkan oleh pemerintahuntuk memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarga. Rastra diberikan sebanyak 15 Kg/bulan dengan harga tebus Rp.1.600/Kg. 3. Program Indonesia Pintar (PIP)
Peserta PKH dengan usia 6-21 tahun berhak menjadi penerima manfaat dari Kartu Indonesia Pintar, yang bertujuan untuk: a. Meningkatkan akses bagi anak usia 6-21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah untuk mendukung pelaksanaan Pendidikan Menengah Universal/Rintisan Wajib Belajar 12 tahun.
b. Mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah (drop out) atau tidak melanjutkan pendidikan akibat kesulitan ekonomi.
c. Menarik siswa putus sekolah (drop out) atau tidak melanjutkan agar kembali mendapatkan layanan pendidikan di sekolah/Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)/Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) maupun Lembaga Kursus dan Pelatihan.
Prioritas sasaran dari penerima Program Indonesia Pintar adalah: a. Penerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) 2014 Pemegang KKS yang ada dalam Data Pokok Pedidikan (Dapodik); b. Siswa/anak dari keluarga pemegang KKS yang belum
menerima BSM 2014;
c. Siswa/anak dari keluarga peserta PKH non KKS; d. Siswa/anak yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari
Panti Sosial/Panti Asuhan;
e. konflik sosial, siswa dari keluarga terpidana, anak berada di LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan), dan siswa memiliki lebih dari tiga saudara tinggal serumah;
f. Siswa dari SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang: Pertanian (bidang Agrobisnis dan Agroteknologi) P e r i k a n a n , P e t e r n a k a n , k e h u t a n a n d a n Pelayaran/Kemaritiman.
Siswa/anak yang berasal dari prioritas sasaran penerima PIP, dapat diusulkan dengan syarat sebagai berikut:
a. Siswa Pendidikan Formal:
1) Terdaftar sebagai siswa/peserta didik pada sekolah; 2) Terdaftar dalam Dapodik sekolah;
3) Diusulkan oleh sekolah melalui dinas pendidikan kabupaten/kota ke direktorat teknis di Kemdikbud b. Anak Didik Lembaga Pendidikan Non-Formal: 1) Terdaftar sebagai anak didik pada SKB/PKBM/lembaga
kursus dan pelatihan;
2) Diusulkan oleh SKB/PKBM/Lembaga kursus dan pelatihan melalui dinaspendidikan kabupaten/kota ke direktorat teknis di Kemdikbud;
c. Anak Usia Sekolah yang Tidak Bersekolah:
1) Terdaftar kembali di sekolah/SKB/PKBM/Lembaga kursus dan pelatihan.
2) Diusulkan oleh sekolah/SKB/PKBM/Lembaga kursus dan pelatihan melalui dinas pendidikan kabupaten/kota ke direktorat teknis di Kemdikbud.
3) Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
KUBE merupakan kelompok warga yang dibentuk dengan tujuan melaksanakan kegiatan ekonomi bersama. Peserta PKH diharapkan menjadi penerima bantuan KUBE dengan tujuan meningkatkan penghasilannya.
4) Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu)
Rutilahu adalah program bantuan perbaikan rumah yang diharapkan dapat menjangkau peserta PKH termasuk perbaikan fasilitas lingkungan tempat tinggal. 5) Asistensi Lanjut Usia Terlantar (Aslut)
Aslut merupakan bantuan sosial berupa uang serta pendampingan bagi lanjut usia. Penerima PKH yang memiliki lanjut usia 70 tahun ke atas diberikan bantuan sosial sebagai penerima PKH komponen kesehjateraan sosial..
6) Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat (ASPDB) ASPDB merupakan bantuan sosial beraupa uang serta pendampingan bagi penyandang disabilitas berat. Anggota
keluarga penerima PKH yang merupakan penyandang disabilitas berat diberikan bantuan sosial sebagai penerima PKH komponen kesejahteraan sosial.
I. Pendampingan
Sebagai ujung tombak dalam pelaksana program dilapangan, pendamping PKH memfasilitasi peserta PKH untuk mengakses layanan fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan dan kesejahteraan sosial, termasuk melaksanakan pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2) secara rutin untuk tujuan perubahan perilaku yang lebih baik. Pendamping PKH bertugas untuk memastikan peserta PKH memenuhi kewajibannya dalam memanfaatkan layanan kesehatan dan layanan pendidikan sesuai ketentuan dan persyaratan.
Pendamping PKH direkrut oleh Kementerian Sosial melalui seleksi secara terbuka dengan persyaratan pendidikan minimal D3 dan bersedia ditempatkan di lokasi pelaksanaan PKH, dengan jumlah dampingan berkisar antara 250 hingga 300 peserta PKH. Khusus untuk daerah terpencil dan daerah dengan kategori sulit, jumlah dampingan berkisar 100 hingga 200 peserta PKH.
Tugas utama pendamping PKH adalah melaksanakan seluruh tahapan pelaksanaan PKH yakni pertemuan awal, validasi KM, pemutahiran data, verifikasi komitmen kehadiran di layanan pendidikan dan kesehatan, mengawal penyaluran bantuan, melakukan pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2), melakukan penanganan pengaduan, membuat laporan serta menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan PKH di lapangan.
Pendampingan komponen kesehatan dan pendidikan, dilakukan dengan ketentuan berikut:
1. Pendamping PKH berkewajiban mengadakan pertemuan kelompok bulanan dengan peserta PKH dampingannya. 2. Pendamping PKH berkewajiban memastikan bantuan komponen kesehatan dan pendidikan sampai kepada sasaran.
Pendampingan komponen kesejahteraan sosial untuk lansia dan PDB, dilakukan dengan ketentuan berikut:
1. Pendampingan komponen lansia dilaksanakan oleh Pendamping Lansia Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia. 2. Pendampingan PDB dilaksanakan oleh Pendamping Penyandang Disabilitas Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabiltas. 3. Pendamping PKH berkewajiban memastikan bantuan komponen
BAB III
PELAKSANAAN PKH
Bab ini menjelaskan seluruh proses utama dalam implementasi Program Keluarga Harapan (PKH). Proses utama Pelaksanaan PKH dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 11. Alur Pelaksanaan PKH
A. Penetapan Sasaran (Targeting)
Penetapan sasaran (targeting) dilakukan dalam rangka perluasan jangkauan penerima manfaat PKH. Sumber data penetapan sasaran berasal dari TerpaduProgram Penanganan Fakir Miskin sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 10/HUK/2016 tanggal 3 Mei 2016 tentang Mekanisme Penggunaan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin.
1. Penyiapan Data dan Penetapan Sasaran
data KKS per kecamatan untuk dijadikan penetapan kuota calon penerima PKH yang akan divalidasi.
b. Penetapan kuota dihitung berdasarkan proporsi jumlah KKS per kecamatan dikalikan jumlah target PKH tahun berjalan dibagi jumlah KKS secara nasional.
c. Data dimaksud adalah data KKS yang memiliki kelengkapan komponen PKH berupa kepala keluarga dan anggota keluarga. 2. Penetapan Data Awal Validasi
Data Peserta PKH diperoleh dari Basis Data Terpadu (BDT) yang diolah berdasarkan ranking kemiskinan terendah (sekitar 11% dari Keluarga Miskin). Adapun alur penetapan data adalah sebagai berikut: a. Direktorat Jaminan Sosial Keluarga mengirimkan data calon penerima PKH kepada Pemerintah Daerah cq. Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/ Kota.
b. Pemerintah Daerah cq. Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota melakukan pemilahan data yang sudah dan belum menjadi peserta PKH.
c. Dalam hal Pemerintah Daerah memiliki data baru di luar data yang dikriim oleh Pusat, maka Pemerintah Daerah dapat mengusulkan data tersebut untuk dijadikan data awal validasi untuk kemudian dilakukan pemadanan dengan data BDT oleh Kementerian Sosial RI sesuai kuota.
d. Hasil pemilihan data pada butir b dan usulan data pada butir c dikirimkan ke Direktorat Jaminan Sosial Keluarga sebagai data awal validasi PKH sesuai kuota yang telah ditetapkan oleh Kementerian Sosial disertai Berita Acara Penetapan yang disahkan oleh Pemerintah Daerah cq. Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota.
e. Pengusulan data oleh Pemerintah Daerah akan dijadikan sebagai data awal pelaksanaan validasi tahun berjalan.
f. Peserta PKH ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial RI tentang Penetapan Lokasi PKH.
Hasil penetapan sasaran berupa Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI tentang Penetapan Lokasi PKH Tahun berjalan.Alur penentuan sasaran itu bisa dilihat dari bagan-bagan berikut ini.Penetapan sasaran (targeting) dilakukan dalam rangka perluasan wilayah jangkauan.
B. Persiapan Daerah
Menindaklanjuti penetapan lokasi PKH di masing-masing daerah, maka daerah perlu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut: 1. Pembentukan Tim koordinasi PKH di Kabupaten/Kota dengan berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK).
2. Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota menyediakan infrastruktur terkait untuk mendukung pelaksanaan PKH Kabupaten/Kota. 3. Kantor Kecamatan menyediakan infrastruktur terkait untuk
mendukung pelaksanaan PKH di Kecamatan. 4. Melakukan sosialisasi, meliputi:
1) Sosialisasi kepada timkoordinasi Kabupaten/Kota, 2) Sosialisasi kepada aparat pemerintah di tingkat kecamatan
dan kelurahan,
3) Sosialisasi kepada masyarakat.
C. Pertemuan Awal dan Validasi
1. Proses Persiapan Pertemual Awal dan Validasi Setelah proses penetapan sasaran (targeting), Direktorat Jaminan Sosial Keluarga melakukan validasi calon peserta PKH. Tahapan proses validasi, meliputi:
a. Pengiriman Data Calon Peserta PKH
Direktorat Jaminan Sosial Keluarga melakukan pengiriman data KM calon peserta PKH ke Pelaksana PKH Kabupaten/Kota untuk
keperluan validasi (pencocokkan data). Data ini mencakup seluruh anggota KM yang berhak menerima bantuan program PKH di Kabupaten/Kota yang menjadi wilayah PKH.
b. Persiapan Pertemuan Awal (PA)
Setelah menerima data calon peserta PKH, Pelaksana PKH Kabupaten/Kota melakukan koordinasi dengan pendamping dan operator untuk menetapkan pembagian jumlah calon peserta PKH berdasarkan wilayah kerja pendamping. Kemudian melakukan pencetakan formulir validasi dan Surat Undangan Pertemuan Awal (SUPA). SUPA yang telah tercetak dikirimkan kepada calon peserta PKH sesuai nama dan alamat yang telah tercantum.
c. Pertemuan Awal dan Validasi
Sebelum pelaksanaan PA, Pendamping harus berkoordinasi dengan aparat Kecamatan dan Kelurahan/Desa setempat. Tujuan pertemuan awal adalah:
1) Menginformasikan tujuan dan ketentuan PKH 2) Melakukan sosialisasi program dan validasi data KM dengan
syarat kepesertaan PKH
3) Menjelaskan komitmen yang harus dilakukan oleh peserta PKH untuk dapat menerima bantuan
4) Menjelaskan sanksi dan implikasi apabila peserta PKH tidak memenuhi komitmen yang ditetapkan dalam program 5) Menjelaskan mekanisme dan prosedur keluhan dan
pengaduan atas pelaksanaan PKH
6) Meminta KM menandatangani surat pernyataan yang tertera di dalam surat undangan pertemuan awal sebagai tanda kesediaan mengikuti komitmen yang ditetapkan dalam program
7) Menjelaskan hak dan kewajiban ibu peserta PKH 8) Menerimapengaduan
9) Penjelasan tentang jadwal penyaluran bantuan PKH 10) Penjelasan jadwal kunjungan ke fasilitas kesehatan (oleh
petugas kesehatan)
11) Penjelasan tentang pendaftaran sekolah
12) Penjelasan tentang pelayanan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas dan lansia
Apabila terdapat KM yang menerima SUPA namun tidak hadir, maka pendamping berkewajiban mendatangi rumah KM tersebut setelah pertemuan awal dan melakukan proses sebagaimana di atas. Penjelasan lebih lanjut tentang pertemuanawal dijelaskan dalam buku Pedoman Operasional Validasi.
2. Penetapan Peserta
Setelah Pertemuan Awal dan Validasi, Pendamping melakukan entry data menggunakan aplikasi SIM PKH Hybrid. Selanjutnya data hasil entry diunduh (download) dan diserahkan ke Operator Instansi Sosial Kabupaten/Kota untuk diunggah (upload) ke SIM PKH Nasional. Dan kemudian Direktorat Jaminan Sosial Keluargamengolah data hasil validasi dan menentukan Daftar Tetap Peserta PKH untuk mendapatkan bantuan PKH.
Seluruh data peserta PKH yang telah ditetapkan akan menjadi Data Dasar Database tersebut kemudian dikirim Direktorat Jaminan Sosial Keluarga ke Mitra Kerja/Vendor untuk selanjutnya dicetak Kartu Peserta PKH. Dalam hal karena keterbatasan waktu pencetakan kartu, maka pelaksanaannya akan dimasukkan kedalam tahun berikutnya. Kartu ini sebagai bukti kepesertaan dalam PKH dan nama yang tercantum dalam kartu tersebut adalah nama ibu/wanita yang mengurus anak. Kartu Peserta PKH dikirimkan ke Instansi Sosial Kabupaten/Kota untuk selanjutnya didistribusikan oleh pendamping kepada Peserta PKH.
3. Usulan Proposal Daerah
Daerah yang akan menjadi pelaksana PKH diharuskan membuat usulan berupa proposal yang memuat hal-hal sebagai berikut: a. Ketersediaan fasilitas pendidikan (fasdik) dan fasilitas kesehatan (faskes) yang memadai untuk mendukung program PKH. b. Penyediaan fasilitas sekretariat Pelaksana PKH Kabupaten/Kota. c. Penyediaan fasilitas sekretariat untuk Pendamping PKH di
Kecamatan.
d. Penyediaan alokasi dana penyertaan PKH melalui APBD I dan II minimal sebesar 5% dihitung dari total bantuan yang diterima peserta PKH baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota. 4. Penetapan Lokasi
Penetapan lokasi Kabupaten/Kota berdasarkan proposal daerah dan ketersediaan data awal. Penetapan lokasi pelaksana PKH dilakukan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan
Setelah penetapan sasaran (targeting) selesai, Pelaksana PKH Pusat melakukan validasi calon peserta PKH. Pertemuan awal adalah kegiatan sosialisasi tentang program kepada calon peserta PKH. Sedangkan validasi adalah kegiatan mencocokkan data awal hasil pendataan PPLS dengan kondisi terkini calon peserta PKH. Tujuan validasi calon peserta PKH dalam rangka memperoleh peserta PKH yang valid dan memenuhi kriteria (eligible) sesuai syarat kepesertaan PKH. Mekanisme pertemuan awal dan validasi dijelaskan lebih rinci pada buku pedoman operasional pertemuan awal dan validasi.
Gambar 12. Persiapan Pertemuan Awal
D. Penyaluran Bantuan
Penyaluran bantuan diberikan kepada peserta PKH berdasarkan komponen kepesertaan PKH. Penyaluran bantuan bagi peserta yang telah ditetapkan pada tahun anggaran sebelumnya dilaksanakan empat tahap dalam satu tahun, sedangkan untukkepesertaan yang ditetapkan pada tahun berjalan, penyalurannya dilaksanakan dalam satu tahap. Penyaluran bantuan PKH dilakukan tunai dan non tunai oleh lembaga bayar.
Bantuan PKH diberikan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Bantuan tetap diberikan per tahun.
2. Bantuan diberikan kepada penerima manfaat maksimal tiga anggota keluarga yang memenuhi kriteria kepesertaan PKH. 3. Jika dalam satu keluarga terdapat lebih dari tiga anggota keluarga yang memenuhi kriteria kepesertaan PKH, maka bantuan diberikan berdasarkan nilai nominal bantuan terbesar. 4. Kehamilan keempat dan berikutnya tidak dihitung sebagai
komponen penerima bantuan.
Jadwal dan pelaksanaan penyaluran bantuan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada tahun berjalan serta disesuaikan dengan kebijakan yang dibuat untuk memperlancar pelaksanaan penyaluran bantuan.
Mekanisme dan prosedur pelaksanaan penyaluran bantuan PKH dapat dilihat pada buku pedoman operasional penyaluran bantuan.
E. Pembentukan Kelompok Peserta PKH
Setelah penyaluran bantuan pertama dilakukan, setiap pendamping menetapkan dan melakukan pertemuan kelompok peserta PKH minimal dilaksanakan setiap bulan sekali. Setiap kelompok berjumlah antara 15-25 KM dan menunjuk/menetapkan ketua kelompok, yang berfungsi sebagai contact person bagipendamping untuk persiapan pelaksanaan kegiatan, seperti kegiatan sosialisasi, pelatihan, penyuluhan, penyelesaian masalah, sesi pemberdayaan keluarga (P2K2- FDS), dan sebagainya. Ketua kelompok dipilih secara terbuka untuk menjaring kandidat yang secara sukarela memiliki komitmen tinggi (tanpa gaji atau honor) untuk mensukseskan pelaksanaan PKH. Ketua kelompok terpilih tidak
diperkenankan memungut bayaran apapun dari peserta PKH, tetapi dapat mengikuti kegiatan seperti mengikuti sosialisasi, pelatihan, penyuluhan dan sebagainya yang dilaksanakan oleh program. Mekanisme pembentukan kelompok dijelaskan lebih rinci pada Pedoman Operasional Kelembagaan PKH.
F. Verifikasi Komitmen
Verifikasi komitmen peserta PKH pada prinsipnya dilakukan terhadap pendaftaran (enrollment) dan kehadiran (attendance) anak baik di sekolah untuk komponen pendidikan maupun Puskesmas dan jaringannya untuk komponen kesehatan. Kepada pihak pelaksana pelayanan pendidikan, baik sekolah/madrasah/ penyelenggara Paket A/B/C sangat diharapkan peran aktifnya untuk dapat menarik kembali anak-anak KM, khususnya yang belum menyelesaikan pendidikan dasar namun telah meninggalkan bangku sekolah atau bekerja, untuk kembali ke sekolah. Verifikasi anggota keluarga peserta PKH penyandang disabilitas hanya diberlakukan pemeriksaan satu kali dalam setahun.
Mekanisme verifikasi komitmen dijelaskan lebih rinci pada Pedoman Operasional verifikasi komitmen.
G. Penangguhan dan Pembatalan
1. Bantuan tidak dibayarkan bila peserta PKH tidak memenuhi komitmen yang telah ditentukan untuk 1 kali siklus penyaluran bantuan (3 bulan berturut-turut), namun masih tercatat sebagai peserta PKH.
2. Kepesertaan PKH akan dikeluarkan bila peserta PKH tidak memenuhi komitmen verifikasi yang telah ditentukan untuk 2 kali siklus penyaluran bantuan (6 bulan berturut-turut) melalui investigasi dalam monitoring dan evaluasi kegiatan. 3. Dalam 3 kali siklus penyaluran bantuan berturut- turut (9 bulan) peserta PKH tidak mengambil bantuan, maka dikeluarkan dari kepesertaan PKH melalui investigasi dalam monitoring dan evaluasi kegiatan
4. KM terbukti tidak memenuhi kriteria sebagai peserta PKH, maka dikeluarkan dari kepesertaan PKH.
5. Peserta PKH yang telah dikeluarkan kepesertaannya, tidak dapat diajukan kembali sebagai Peserta PKH.
6. Penangguhan program bagi pemerintah Kabupaten/Kota dapat terjadi apabila pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan tidak melaksanakan komitmennya yaitu menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan sebagaimana telah ditetapkan pada saat awal pelaksanaan program melalui proses berikut:
a. Terdapat pengaduan terkait pelayanan pendidikan dan kesehatan, seperti ketidak-tersediaan guru, tenaga kesehatan, dan vaksin, hingga melebihi 20% dari total jumlah peserta PKH di Kabupaten/Kota tersebut dalam waktu 4 bulan berturut-turut;
b. Dalam 3 (tiga) bulan, belum ada penyelesaian terhadap indikasi permasalahan penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan;
c. Kabupaten/Kota menyatakan keluar dari program.
H. Pemutakhiran Data
Pemutakhiran data adalah perubahan sebagian atau seluruh data awal yang tercatat pada Master Database. Beberapa contoh perubahan informasi dari KM sebagai berikut:
1. Perubahan tempat tinggal, 2. Kelahiran anggota keluarga,
3. Penarikan anak-anak dari program (kematian, keluar/pindah sekolah, dan sebagainya),
4. Masuknya anak-anak baru ke sekolah, 5. Ibu hamil,
6. Perbaikan nama atau dokumen-dokumen,
7. Perubahan nama ibu/perempuan penerima PKH (menikah/cerai, meninggal, pindah/bekerja di luar domisili),
8. Perubahan fasilitas kesehatan yang diakses, 9. Perubahan variabel sinergitas program.
Pemutakhiran data dilakukan oleh Pendamping PKH setiapada perubahan. Pendamping PKH beker-jasama dengan ketua kelompok PKH untuk memeriksa perubahan data terkait. Mekanisme pemutakhiran data dijelaskan lebih rinci pada Pedoman Operasional Pemutahiran Data.
I. Pengaduan
Mengingat pelaksanaan suatu program tidak selalu dapat diharapkan berjalan sempurna, maka Pelaksana PKH Pusat, Pelaksana PKH Provinsi dan Pelaksana PKH Kabupaten/Kota dibentuk layanan Sistem Pengaduan Masyarakat (SPM) PKH. SPM PKH berfungsi memfasilitasi segala jenis pengaduan terkait dengan pelaksanaan PKH dan penyelesaiannya secara berjenjang.
Selain itu, SPM PKH juga berfungsi sebagai feedback atas pelaksanaan PKH, sebagai salah satu mekanisme monitoring dan evaluasi implementasi program.Mekanisme pengaduan dijelaskan lebih rinci pada Pedoman Operasional SPM PKH.
Pengaduan dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut: 1. Pengaduan dapat dilakukan oleh peserta PKH maupun bukan
peserta PKH
2. Pengaduan berupa ketidaksesuaian pelaksanaan PKH di lapangan
3. Pendamping PKH membantu pengadu untuk mengisi formulir pengaduan dan menyampaikan ke Pelaksana PKH Pusat 4. Pendamping PKH berkewajiban memberi informasi pihak yang bisa dihubungi oleh pelapor untuk mengetahui perkembangan pengaduan
5. Ketua pelaksana PKH Kabupaten/Kota memeriksa dan mengumpulkan laporan dari Kecamatan tempat kejadian perkara dan melaporkan ke Pelaksana PKH Pusat.
BAB IV
KELEMBAGAAN PKH
Kelembagaan PKH terdiri dari Tim Koordinasi Teknis serta Pelaksana Program Keluarga Harapan (Pelaksana PKH) yang dibentuk di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan.
A. Pelaksana Program di Pusat
1. Tim Koordinasi Nasional
Pengarah : Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK)
Ketua : Menteri Sosial
Tim Koordinasi Nasional berada pada tingkat pengembangan kebijakan dan sebagai perumus dalam melakanakan PKH dalam masing-masing kementerian.Tim Koordinasi Nasional melakukan kajian pelaksanaan, mekanisme yang sedang berjalan, hasil audit dan evaluasi, dan memberikan solusi atas permasalahan lintas sektor yang teridentifikasi serta berperan kunci dalam menyetujui perubahan pelaksanaan program.
Tim Koordinasi Nasional beranggotakan pejabat Eselon 1 yang membidangi urusan pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, anak, keluarga, disabilitas, lanjut usia, data, komunikasi dan informasi di kementerian:
a. Kementerian Sosial b. Kementerian Kesehatan
c. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan d. Kementerian Agama
e. Kementerian Komunikasi dan Informatika f. Kementerian Keuangan
g. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi h. Kementerian Dalam Negeri
i. Kementerian PPN/Bappenas
j. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal k. Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak l. Badan Pusat Statistik
2. Tim Koordinasi Teknis
Pengarah : Menteri Sosial
Ketua : Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial
Sekretaris : Direktur Jaminan Sosial Keluarga
Secara umum, Tim Koordinasi Teknis Pusat bertugas menerjemahkan kebijakan tim Koordinasi Nasional dan mendorong kegiatan operasional PKH. Tim ini juga merupakan jembatan antara Tim Koordinasi Nasional, Pelaksana PKH Pusat, dan jaringan yang ada di bawahnya.
a. Tugas pokok dan fungsi
Mengkaji berbagai rencana operasional yang disiapkan oleh Pelaksana PKH Pusat, mengkoordinasikan berbagai kegiatan sektoral terkait agar tujuan dan fungsi program dapat berjalan baik, membentuk Tim Lintas Sektor yang bertugas untuk menentukan peserta PKH, memonitor perkembangan pelaksanaan program.
b. Susunan keanggotaan
Anggota Tim Koordinasi Teknis terdiri dari pejabat Eselon 2 yang membidangi urusan pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, anak, keluarga, fakir miskin, disabilitas, lanjut usia, data, komunikasi informasi, publikasi, kerjasama, kelembagaan, perencanaan, keuangan dan audit.
3. Pelaksana PKH
Pelaksana Program Keluarga Harapan adalah Direktorat Jaminan Sosial Keluarga Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Sosial No. 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial bagian keenam pasal 175 disebutkan bahwa Direktorat Jaminan Sosial Keluarga menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang validasi dan terminasi, bantuan sosial, kepesertaan, dan sumber daya jaminan sosial keluarga;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang seleksi dan verifikasi, kemitraan, penyaluran bantuan, serta pendampingan jaminan sosial keluarga;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan criteria di bidang validasi dan terminasi, bantuan sosial, kepesertaan, serta sumber daya jaminan sosial keluarga;
d. penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervise di bidang validasi dan terminasi, bantuan sosial, kepesertaan, dan sumber daya jaminan sosial keluarga;
e. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan di bidang validasi dan terminasi, bantuan sosial, kepesertaan, dan sumber daya jaminan sosial keluarga.
Personil pelaksana Program Keluarga Harapan di Pusat terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Iingkungan Direktorat Jaminan Sosial Keluarga dan pegawai non PNS dengan Ikatan Perjanjian Kerja dengan Waktu Tertentu (IPKWT) yang terdiri atas Tenaga Ahli dan Tenaga Operator.
Tenaga Ahli dalam Direktorat Jaminan Sosial Keluarga bertugas membantu Direktur dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta evaliasi PKH agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan program.
B. Pelaksana PKH Daerah
Pelaksana PKH Daerah adalah Dinas/Instansi Sosial yang membidangi urusan perlindungan dan jaminan sosial. Personil pelaksana Program Keluarga Harapan di daerah terdiri atas Pegawai Negeri Sipil di Dinas/Instansi Sosial dan tenaga pelaksana dengan Ikatan Perjanjian Kerja dengan Waktu Tertentu (IPKWT) yang terdiri atas Koordinator Wilayah Provinsi, Supervisor Kabupaten/Kota, Pendamping dan Operator.
Kelembagaan PKH daerah terdiri dari: (i) Tim Koordinasi Teknis ditingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan, (ii) Pelaksana Program Keluarga Harapan ditingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan.
1. Tim Koordinasi Teknis PKH Daerah a. Tim Koordinasi Teknis PKH Provinsi
1) Tujuan pembentukan Tim Koordinasi Teknis PKH Provinsi adalah untuk memantau semua kegiatan PKH di wilayah Provinsi serta untuk memastikan komitmen daerah terkait dengan PKH terpenuhi.
2) Tugas dan Tanggung Jawab