• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERSAKSIAN DALAM AGAMA BUDDHA DAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PERSAKSIAN DALAM AGAMA BUDDHA DAN ISLAM"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PERSAKSIAN DALAM AGAMA BUDDHA DAN ISLAM

A. Persaksian dalam Agama Buddha

Agama Buddha adalah merupakan agama besar yang kedua yang banyak penganutnya di dunia dan banyak mempengaruhi budaya pikir dan perilaku orang-orang Indonesia.

Berdasarkan alur sejarah agama-agama di India zaman agama Buddha dimulai semenjak tahun 500 SM. hingga tahun 300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya dan sesudahnya yakni agama Hindu. Sebagai agama, ajaran Buddha tidak bertitik tolak pada Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta serta seluruh isinya, termasuk manusia, tetapi dari keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari, khususnya tentang tata susila yang dijalankan manusia agar terbebas dari lingkaran dukkha yang selalu mengiringi hidupnya.1

Ajaran yang disampaikan oleh Buddha kepada manusia sangat erat hubungannya dengan ajaran-ajaran agama yang sebelumnya, sehingga ajaran Buddha merupakan faham yang bertujuan untuk memperbaharui ajaran Hinduisme. Hal ini sesuai dengan namanya yakni agama Buddha yang mempunyai arti “seorang yang bangun atau yang disadarkan” untuk mengadakan perbaikan terhadap tradisi agama yang telah ada.2

Tri Ratna adalah merupakan kesaksian keimanan dalam agama Buddha. Tri Ratna tersebut disebut pula dengan Saranattayam yang memiliki arti tiga perlindungan yang berbunyi :

1 Mudjahid Abdul Manaf. Sejarah Agama-Agama (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996) II,

hlm. 21.

2 H.M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar (Jakarta : Golden Terrayon Press,

(2)

Buddham saranam gacchami. Dhamman saranam gacchami. Sangham saranam gacchami. [Dutiyam pi ….. Tatiyam pi …… gacchami].

Aku pergi …. Berlindung pada Buddha. Aku pergi berlindung pada Dhamma. Aku pergi berlindung pada Sangha [untuk kedua kalinya …. Untuk ketiga kalinya ….]3

Berdasarkan kitab suci agama Buddha yakni kitab Khuddakapatha 1 tiga perlindungan ini pertama kali diucapkan oleh Sang Buddha sendiri bukan oleh para pertapa dan bukan pula oleh para dewa, di Benares di taman rusa di Isipatana ketika 61 arahat ditugaskan untuk mengajarkan Dhamma ke dunia dengan tujuan menjalani pergi ke kehidupan tak berumah tangga dan dengan tujuan memberikan pentahbisan.

12-13-14.4

Tiga permata (Tri Ratna) ini mempunyai pengertian adanya sikap penyerahan diri pada Buddha, kepada dharma yang merupakan hukum-hukum yang diberikan oleh Buddha sebagai ajaran yang memiliki tingkat kesucian tertinggi Sangha yakni golongan pendeta atau orang-orang suci murid Buddha yang memiliki tingkat kesucian tertinggi.5 Tri Ratna ini disebut dengan tiga permata karena masing-masing memiliki nilai kesucian tertinggi yang pada dasarnya nilai kesucian yang tertinggi itu sama. Perlindungan pada dasarnya adalah perlindungan agar terbebas dari dukkha (penderitaan), dalam kitab dhamapada Athakatna paragraf 10 – 11 dikisahkan bahwa :

(10) Bahum ve saranamyanti – pabbatani vananiva Aramarukkha vetyam – manussa bayata jijitta

Orang yang dikejar rasa takut dari kesana kemari cari perlindungan ke gunung-gunung, ke hutan-hutan, ke kuburan dan tempat keramat.

3 Bikkhu Nanamoli. Khuddakapatha Kitab Suci Agama Budha I (Klaten : Vihara Bodhivamsa,

2001) I, hlm. 53.

4 Ibid., hlm. 54-55. Angka 12, 13, 14 menunjukkan paragraf pada kitab Khuddakapatha

5 H.M. Arifin. Menguak Misteri …, op.cit., hlm. 97. Budha artinya orang yang telah mencapai

pencerahan, Budha bisa berarti patung / gambar Gautama Budha. Dhamma (skt) berarti kewajiban seseorang yang dapat dipenuhi dengan mentaati hukum / adat, dharma bisa juga beerarti hukum Ilahi. Lihat kamus theologi karangan Henk Tem Napeti

(3)

(11) N’etam kho saranam khemam – N’etam saranam uttamam N’etam saranam agama – Sabbadukhha pamuciati

Sesungguhnya hal yang demikian bukanlah perlindungan yang aman karena perlindungan semacam itu tak memberi jaminan yang mutlak sebab setelah mendapat semua itu ia tak bebas dari kejahatan dan kesedihan.6

Perlindungan untuk bebas dari dukkha bukan dicari melalui pencarian ke tempat-tempat sunyi seperti gunung, hutan dan sebagainya melainkan melalui tiga perlindungan yakni Tri Ratna. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Dhammapada Atthakatna paragraf 12, 13, 14.

(12) Yo ca buddham ca dhammam ca – sangham ca saranam gato Cattari ariya saccani – sammapannaya passati

(13) Dukham dukkhasamupadam – sukhhassa ca atikkamam Ariyancatthangikam magam – dukkhupa samagaminam (14) Etam Kho saranam khemani – etam saranam uttamam

Etam saranam agamma – sabbadukkha pamuccati Paragrf 12, 13, 14 menceritakan :

“Orang yang mencari perlindungan pada Buddha, Dhamma dan Sangha ia akan dapat menghayati empat kesunyatan mulia yakni tentang adanya dukkha. Sebab dan lenyapnya dukkha dilalui dengan delapan jalan utama atau jalan yang luhur untuk mencapai kelepasan yang meliputi : pertama, memandang dengan benar (samma dithi). Kedua memecahkan masalah yang benar (samma sankappa).

Ketiga, berbicara dengan benar (samma vaca). Keempat, bertindak dengan benar

(samma kammanta). Kelima, hidup dengan benar (samma ajiva). Keenam, berihtiar dengan benar (samma vayamma). Ketujuh, berfikir atau bernalar dengan benar (samma sati). kedelapan, berkonsentrasi dengan benar (samma samadhi). Delapan jalan ini merupakan perlindungan yang aman dan sejahtera sehingga orang akan terbebas dari dukkha.7

6 Oka Adiputhera. Dhammapada Atthakatna (Jakarta : Departemen Agama RI Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha), hlm. 142.

(4)

1. Ajaran tentang Buddha

Ajaran tentang Tri Ratna yang pertama adalah ajaran tentang Buddha (buddham saranam gacchami) yang mempunyai arti saya mencari perlindungan kepada Sang Buddha. Menurut para ahli Barat, Buddha Gautama dilahirkan pada tahun 653 SM di daerah Kapilawastu.8 Sidharta Gautama adalah putra raja Maghadha yang bernama Sudodhana. Buddha adalah sebuah gelar, suatu jabatan atau seorang tokoh yang sudah menjelma pada seseorang.

Secara etimologi perkataan Buddha berasal dari kata “Buddha” yang berarti bangkit atau bangun yang kata kerjanya adalah “bujjhati”9 yang berarti bangun, mendapatkan penerangan, pencerahan, memperoleh, mengetahui, mengenal atau mengerti sehingga kata Buddha dapat diartikan orang yang telah memperoleh kebijaksanaan yang sempurna, orang yang telah sadar spiritualnya, orang yang bersih dari kotoran-kotoran batin yang berupa dosa (kebencian), lobha (serakah), dan moha (kegelapan).10

Berdasarkan pengertian kata Buddha di atas, maka tiap zaman memiliki buddhanya sendiri-sendiri, sehingga menurut keyakinan Budhis ada banyak orang yang telah mendapatkan pencerahan dan mendapat gelar Buddha.11 Buddha adalah orang yang telah terberkati yang tanpa guru ia telah menemukan kebenaran-kebenaran dan kemahatahuan di dalamnya serta penguasaan atas semua kekuatan.12 Buddha Gautama (Shidarta Gautama) adalah sosok manusia biasa namun di dalam diri Sidharta terdapat tubuh yang lain yang disebut dengan tubuh kegirangan atau tubuh yang tidak dapat berubah. Di dalam tubuh jasmani yang tampak itu tersembunyi tubuh yang lain yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa.13

8 Mudjahid Abdul Manaf. Sejarah Agama ..., op.cit., hlm. 24 9 Bikkhu Nanamoli. Khuddakapatha ...,op.cit., hlm. 76

10 A. Mukti Ali. Agama Hindu dan Budha (Yogyakarta : Haninditya Offsett, 1988) I, hlm. 102. 11 Harun Hadiwijono. Ajaran Agama Hindu dan Budha (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1994) IX,

hlm. 65.

12 Bikkhu Nanamoli. Khuddakapatha ..., op.cit., hlm. 56. 13 Harun Hadiwijoyo. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 66.

(5)

Kata “mencari” atau pergi dalam bunyi Tri Ratna yang pertama memiliki arti bertempur, artinya bila orang telah pergi untuk berlindung maka pengertian kepergian untuk berlindung itu sendiri sudah bertempur, menghalau, menyingkirkan rasa takut, kepedihan yang mendalam, penderitaan dan kekotoran batin. Bertempur melawan rasa takut dengan cara menambah kebaikan dan mencegah kejahatan.14

2. Ajaran tentang Dharma atau Dhamma

Bunyi Tri Ratna yang kedua adalah “ Dhammam Saranam Gacchami” yang memiliki arti aku mencari perlindungan kepada dhamma. Dharma atau dhamma ialah doktrin atau inti pokok ajaran15 dhamma (ide yang benar) adalah sang jalan, buah sang jalan dari pemadaman. Lenyapnya nafsu (sang jalanlah) yang merupakan “kebenaran” (dhamma) akan menyebabkan kekokohan (dharana).16

Agama Buddha mempunyai inti ajaran yang dirumuskan di dalam empat kebenaran yang mulia (Catur Arya Satyani).17 Catur Arya Satyani tersebut terdiri dari empat kata yakni dukkha, samudaya, nirodha dan marga. Dukkha mempunyai arti penderitaan, bahwa pada dasarnya hidup itu adalah penderitaan, umur yang semakin hari semakin tua, sakit, kematian adalah penderitaan, tidak disatukan dengan yang dikasihi adalah penderitaan, keinginan yang tidak tercapai adalah penderitaan.18 Seandainya di dunia ini tidak ada penderitaan tidak mungkin Sang Buddha menjelma ke dunia. Penderitaan ini menjadi pengalaman setiap orang, kesenangan yang dialami oleh orang pun sebenarnya adalah merupakan sumber penderitaan karena orang yang senang, takut akan kehilangan kesenangannya.19 Penyebab adanya penderitaan akhirnya dapat diketahui oleh Buddha setelah Buddha bertapa untuk mendapatkan penerangan sejati. Selanjutnya diketahui oleh Buddha

14 Bikkhu Nanamoli. Khuddakapatha ..., op.cit., hlm. 59. 15 Harun Hadiwijono. Agama Hindu ... , loc.cit.

16 Bikkhu Nanamoli. Khuddakapatha ..., op.cit., hlm. 68

17 Perkataan Arya Satyani berasal dari kata Arya dan Satyani. Arya berarti utama dan satyani

berarti kebenaran. Jadi Catur Arya Satyani memiliki arti empat kebenaran utama.

18 Harun Hadiwijono. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 67. 19 Ibid., hlm. 67

(6)

bahwa dengan adanya bentuk-bentuk karma maka terjadilah kesadaran, karena adanya kesadaran maka timbullah bentuk-bentuk batin, dengan bentuk-bentuk batin dan jasmani maka terjadilah perasaan, dengan adanya perasaan maka timbullah keinginan dan terjadilah ikatan, karena adanya ikatan maka terjadilah proses “dumadi” yang akan mengakibatkan adanya tumimbal lahir dan lain-lain.20

Penderitaan atau dukkha disebabkan oleh keinginan untuk hidup (tanha) setelah orang mengalami penderitaan yang disebabkan oleh nafsu (keinginan atan tanha) untuk hidup maka timbullah apa yang disebut pratitya samutpada (samudaya) artinya pokok permulaan yang bergantungan (Sebab-sebab adanya penderitaan). Yang menyebabkan penderitaan adalah karena terikat oleh samsara (menjelma berkali-kali).21 Yang menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah keinginan kepada hidup, dengan disertai nafsu yang mencari kepuasan yakni kehausan akan kesenangan dan kekuasaan. Pratitya samutpada berisi 12 pokok permulaan yang dirumuskan demikian :

Pertama, Menjadi tua dan mati (Jamarasanam) bergantung daripada

kelahiran (jati), kedua kelahiran bergantung pada hidup atau existensi yang lampau (bhawa), ketiga hidup bergantung daripada pengikatan kepada makan minum dan sebagainya (upadana), keempat, pengikatan bergantung daripada kehausan (tanha), kelima kehausan bergantung daripada emosi atau renjana (wedang), keenam emosi bergantung daripada sentuhan atau kontak (sparsa),

ketujuh sentuhan bergantung daripada indera dengan sasarannya (sadayatana), kedelapan indera dengan sasarannya bergantung daripada roh dan benda atau

keadaan batin dan lahir (namarupa), kesembilan roh bergantung pada kesadaran (wijnana), kesepuluh kesadaran bergantung pada penafsiran yang salah (sanskara), kesebelas penafsiran, yang salah, kedua belas penafsiran yang salah bergantung pada ketidaktahuan (awidya).22

Awidya memiliki ciri yang menyolok yaitu : bahwa alam semesta adalah fana (anitya atau anicta). Artinya mempunyai arti tidak kekal, doktrin

20 A. Mukti Ali. Agama-Agama Besar..., op.cit., hlm. 110 21 H.M. Arifin. Loc.cit.

(7)

ini mengajarkan bahwa di dunia tidak ada sesuatu yang kekal (semuanya fana). Ajaran anitya ini menerangkan sebab-sebab adanya penderitaan (dukkha). Ajaran ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran anitya. Tiada jiwa di sini maksudnya bahwa manusia sebenarnya tidak berjiwa, manusia adalah suatu kelompok yang terdiri dari jasmani dan rokhani, seluruh keadaan manusia dapat diungkapkan dengan nama-rupa. Nama ialah tabiat manusia, sedangkan rupa ialah jasmaniah manusia.23

Bagian Arya Satyani yang ketiga adalah jalan kelepasan atau nirodha, yang terdiri dari pemadaman keinginan.24 Apabila manusia tidak lagi mempunyai nafsu keinginan maka penderitaan samsara dapat dihilangkan yakni dengan memadamkan nafsu keinginan tersebut (tanha tersebut).Di dalam Arya Satyani yang keempat diajarkan tentang jalan kelepasan (marga). Apabila tanha telah hilang maka seseorang akan mencapai nirwana (alam kesempurnaan).25

Penderitaan seseorang dapat dihilangkan dengan cara menempuh delapan jalan kebenaran (astha arya margha atau astadavida). Jalan ini harus dimengerti secara benar dan dengan sadar mengikuti jalan ini. Tuntutan dari jalan ini akan membawa kebebasan dan ikatan ketidaktahuan universal dan kelekatan ego pribadi.

Pandangan delapan jalan ini meliputi :

Pertama, pengertian atau pandangan yang benar (sammaditti). Jalan

ini merupakan pengungkapan pengakuan yang samar-samar bahwa semua yang ada tidak baik, dan segala sesuatu harus dilepaskan. Bagi orang modern pemikiran ini merupakan penderitaan karena mereka berpikiran bahwa materi, reputasi, keberhasilan dan kekuatan tidak akan membawa kedamaian dan kepuasan yang diharapkan, tidak mudah menghilangkan kerisauan akibat buruk di masa lalu. Jalan pemecahannya adalah dengan meditasi. Manusia

22 Harun Hadiwijono. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 68.

23 Nama berarti sebagai kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapa, yang dapat digolongkan

sebagai unsur rohaniah sedangkan rupa adalah bersifat jasmaniah yang terdiri dari tanah, air, udara / hawa, lihat buku Antropologi Agama Bagian II karangan Prof. Dr. Hilman Hadikusumo.

24 Harun Hadiwijoyo. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 72. 25 Mudjahid Abdul Manaf. Sejarah Agama ..., op.cit., hlm. 78.

(8)

harus berusaha memperluas pandangan dan memahami pribadi dalam ajaran Buddha sehingga tidak menekankan pada dukkha, tetapi pada anicca (pandangan bahwa segala sesuatu tidak permanen).

Kedua, berpikir atau termotivasi benar (sammasankappa). Emosi

memang sulit untuk dilacak, tetapi mempunyai peranan yang penting karena pada emosi tersebut kualitas dan keanekaragaman berpikir dapat diuji.

Ketiga, adalah berbicara yang benar (sammavacca). Menurut

Saddhatisa “pembicaraan adalah sarana untuk mengenal orang dan diri mereka sendiri”.

Keempat, adalah tindakan yang benar (samma kamanta). Langkah ini

membentuk aturan-aturan yang lebih sederhana dan dapat membangkitkan pikiran yang bebas yakni sebuah bentuk ketenangan yang harus dicapai sebelum memulai kegiatan yang benar.

Kelima, mata pencaharian yang benar (samma ajiva), melalui kerja

kemungkinan besar seseorang untuk mencapai integritas, konsentrasi dan ketenangan batin dalam hidup mereka, sehingga ada situasi optimum untuk mengembangkan kekuatan dan rasa belas kasih terhadap keberadaan orang lain. Langkah ini bertujuan agar orang tetap menjaga kehidupan dengan tetap hati-hati tetapi selalu dinamis.

Keenam, usaha yang benar (samma vayama), langkah ini dapat

ditanamkan dengan cara mencegah atau menghindari yang jahat dan keadaan pikiran yang terpecah-pecah, mengatasi keadaan pikiran terpecah-pecah yang mungkin sudah muncul, membiasakan memenuhi pikiran dengan yang baik hingga satu dan utuh, mengembangkan situasi pikiran yang sudah baik dan utuh.

Ketujuh, berpikir yang benar (samma sati), langkah ini dapat dicapai

melalui latihan pernafasan yang merupakan ajaran praktis khas Buddha untuk membangun dan membentuk kesadaran.

Kedelapan, konsentrasi / samadhi yang benar (samma samadi),

mengandung arti jalan untuk menggabungkan subjek dan obyek. Di dalam ajaran Buddha seorang meditator harus memenuhi kesadaran yang lebih jauh /

(9)

dalam didukung oleh usaha pribadi. Sedangkan dalam ajaran sangha pengalaman pribadi itu menimbulkan perasaan syukur terhadap saudara-saudara yang berkepercayaan lain dan memiliki dorongan yang kuat untuk menolong hidup orang lain.26 Konsentrasi secara benar pada dasarnya merupakan usaha menyegarkan diri sebagai seseorang yang telah diterangi. Ketidaktahuan dan penerangan semuanya berakar pada aktivitas mental batin seseorang.27

Di dalam teks Dhammapada ditulis sebagai berikut :

“Akal budi itu mampu mengatasi kondisi ketidaktahuan. Akal budi merupakan penentunya, bila orang bicara atau bertindak dengan akal yang tidak murni, maka kemalangan akan membuntutinya. Akal budi pulalah yang menentukan kondisi keutuh-satuan, dia penentunya. Jika dengan akal yang murni / jernih orang bicara atau bertindak, maka kebahagiaan akan menyertainya bagai bayang-bayang yang selalu melingkupinya” (Dhammapada 1, 2 terjemahan dari“ acarya

Buddharakkitta Thera, Bangelore, India : Buddha Vacanatius, 1966). Dengan tingkatan ini dibagi menjadi tiga bagian, tiga bagian ini meliputi sraddha (iman) terdiri dari “percaya yang benar”. Bagian ini merupakan wujud suatu pendahuluan yang terdiri dari percaya dan menyerahkan diri kepada Buddha sebagai guru yang berwenang mengajarkan kebenaran, percaya dan menyerahkan diri kepada dhamma atau ajaran Buddha, percaya dan menyerahkan diri pada jemaat (sangha) sebagai jalan yang dilaluinya.

Sila, yang terdiri dari maksud yang benar, kata-kata yang benar dan perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar dan ingatan yang benar. Percaya atau pengetahuan yang benar akan menghasilkan maksud yang benar. Maksud yang benar terwujud dalam tiga tingkat. Berikutnya yakni kata-kata yang benar yang mempunyai arti bahwa orang itu harus berbuat

26 F.X. Mudji Sutrisno, SJ. Budhisme Pengaruhnya Dalam Abad Modern (Yogyakarta, Kanisius,

(10)

jujur (tidak berbohong), perbuatan yang benar berarti bahwa dalam segala tindakan orang tidak boleh mencari keuntungan sendiri, dan hidup yang benar yang berarti secara lahir dan batin orang bebas dari penipuan diri tidak hanya mementingkan kepada yang lain saja.28

Sila dapat tercapai apabila orang telah berusaha untuk mencapai moral yang tinggi, sesudah itu akan dapat masuk ke jalan yang terakhir yaitu samadhi. Samadhi terdiri dari 2 bagian yaitu persiapan atau upacara samadhi dan samadhinya sendiri.

Langkah yang pertama dalam upacara samadhi langkah yang pertama adalah perenungan bahwa makan, minum membawa banyak kesusahan, merenungkan bahwa tubuh manusia itu terdiri dari empat unsur: bumi, air, api dan angin, menerangkan akan kebajikan dan kebesaran Tri Ratna kemudian orang harus merenungkan akan jenazah manusia, bahwa jenazah itu tidaklah sempurna, merenungkan tubuh orang yang hidup yang pada hakikatnya sama dengan jenazah. Tahap kedua setelah perenungan adalah duduk bersila di tempat yang sepi, mengatur nafas dan merenungkan empat bhawana yakni metta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal), mudikka (kesenangan dalam keuntungan serta kesenangan akan segala sesuatu), dan upakkha (tidak tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dan sebagainya).29

Setelah persiapan samadhi selesai kemudian orang masuk ke dalam samadhi yang sebenarnya yang terdiri dari empat tingkatan. Pertama, memusatkan pikiran pada satu sasaran untuk mengerti atas lahir dan batin (namarupa). Kedua, melepaskan rohnya dari segala uraian dan pertimbangan akan sasaran itu untuk mendapatkan ketenangan batin. Ketiga, sekalipun orang masih melihat sasaran itu, kegirangan (sukkha) menjadi pudar sehingga orang akan menjadi tenang walaupun masih dalam keadaan sadar. Keempat, bahwa sukkha dan dukkha lenyap semua dan rasa hatinya disesuaikan.30

27 Ibid., hlm. 29.

28 Wawancara dengan Bikkhu Adhi Purwanto, 24 Juli 2003. 29 Harun Hadiwijoyo. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 74.

(11)

Arya Satyani yang terdiri dari empat itu disingkat lagi menjadi empat bagian untuk mencapai tingkat kesucian. Keempat tingkatan tersebut meliputi Srotapana atau pertobatan. Pada tingkatan ini orang sudah berlindung kepada Tri Ratna dan sudah mengakui akan kebenaran Catur Arya Satyani. Pada tingkatan ini orang harus menjelma tujuh kali lagi untuk mencapai nirwana.31

Tingkatan yang kedua adalah Sakradagamin yakni tingkatan dimana seseorang harus menjelma sekali lagi untuk mencapai nirwana, di sini seseorang harus berusaha mematahkan keragu-raguan dan khayalan sendiri dengan cara mematahkan hawa nafsu (karma) dan kebencian.

Tingkatan yang ketiga adalah Anagamin yakni tingkatan dimana seseorang tidak perlu menjelma lagi untuk mencapai nirwana, namun ia harus melenyapkan belenggu “kamaraga” (kecintaan indrawi), “pathega” (kemarahan atau kebencian). Yang terakhir dari tingkat kesucian ini adalah tingkat Arahat yakni tingkatan dimana seseorang sudah bebas dari segala keinginan untuk dilahirkan kembali.32 Melalui empat tingkatan ini orang akan dapat mencapai nirwana.

Nirwana merupakan ajaran kelepasan dalam agama Buddha. Nirwana berasal dari kata “Nir” yang berarti hilang dan “wana” yang mempunyai arti dunia, adapun pengertian nirwana secara harfiah adalah pemadaman atau pendinginan, apa yang dipadamkan tiada lagi yaitu segala api nafsu, segala keinginan dan segala kebencian.33

Sedangkan secara terminologi Nirwana menurut agama Buddha sulit untuk didefinisikan, sebab nirwana yang dialami oleh umat Buddha merupakan pengalaman batin. Oleh karena itu, nirwana diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, tidak dapat digambarkan, Nirwana adalah situasi yang tenang, bahagia yang terlepas dari

31 Hilman Hadikusuma. Antropologi Agama Bagian II (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1993) X,

hlm. 234.

32 Ibid., hlm. 235. Selain empat tingkat kesucian tersebut masih ada tingkatan yang disebut dengan

“Asekha” atau orang yang sempurna (sabbanu) yang tidak perlu belajar lagi di bumi (tidak perlu belajar lagi pada orang lain seperti Sidharta Gautama.

(12)

nafsu-nafsu, hanya jiwa manusia pada tingkat tertinggi yang dapat mengalaminya.34

Nirwana juga dapat diartikan dengan hilangnya nafsu keinginan, hilangnya segala perasaan, hilangnya segala gangguan yang menyebabkan keadaan mereka itu jauh lebih baik dari segala keadaan yang dinikmati, sehingga mereka merasakan hidup ini penuh dengan ketenangan dan kedamaian yang sempurna.35

Berdasarkan hal itu nirwana dapat dibedakan menjadi dua macam yakni Upadhisesa dan Anupadhisesa.

Upadhisesa adalah status orang yang sudah mendapatkan kelepasan atau nirwana yaitu pada saat lenyapnya tanha. Sedangkan Anupaddhisessa adalah status orang yang mendapat kelepasan, yang hidupnya sudah tidak ada lagi. Anupadhisesa ini dapat dicapai pada saat seseorang telah mati.36

3. Ajaran tentang Sangha

Agama Buddha memiliki perbedaan dari agama yang lain yakni mengutamakan penganutnya untuk berbuat (karma) membebaskan diri masing-masing dari dukkha (penderitaan) untuk mencapai nirwana. Masyarakat budhisme tidak perlu melakukan pemujaan atau upacara persembahan kepada para dewa (Tuhan) tetapi hanya dengan jalan Hasta Arya Marga saja, yakni delapan jalur sikap dan perilaku untuk membebaskan diri dari dukkha.

Secara kelembagaan, umat Buddha dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok masyarakat kewiharaan atau sangha dan kelompok masyarakat awam. Kelompok sangha terdiri dari para bikkhu, bikkhuni, samanera, samaneri. Kelompok ini menjalani kehidupan suci untuk meningkatkan nilai kerohanian dan kesusilaan dan tidak menjalani hidup berkeluarga. Sedangkan kelompok masyarakat awam terdiri dari upasaka dan upasika yang telah menyatakan diri berlindung kepada Sang Tri Ratna serta

34 H.M. Arifin. Menguak Misteri ..., op.cit. hlm. 110.

35 Oka Adi Putra. Kitab Suci Sang Hyang Kamahayanikan (Jakarta : Departemen Agama RI,

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, 1980), hlm. 26.

(13)

melaksanakan prinsip-prinsip moral bagi umat awam dan mereka hidup berumah tangga sebagai manusia biasa.37

Sangha adalah merupakan persekutuan para rahib, sangha menurut umat Buddha ialah persamuan dari makhluk-makhluk suci (arya punggala). Mereka sudah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai dengan kesatuan pandangan yang bersih dengan sila yang sempurna. Tingkat kesucian yang dilaluinya meliputi sottapati, sakadagammi, Aragami dan Arahat.38

Kitab Aguyapitaka menerangkan aturan-aturan hidup kerahiban. Dalam kitab ini diketahui bahwa hidup kerahiban ditandai oleh 3 (tiga) hal, tiga hal ini meliputi :

Pertama, Kemiskinan, seorang rahib harus hidup dalam kemiskinan,

rahib tidak diperkenankan memiliki sesuatu kecuali jubahnya yang dibuat dari kain rampin yang diminta dari sana sini, tempurung sebagai alat untuk mengemis (di dalam mengemis para rahib tidak diperkenankan menerima uang).

Di dalam sistem ajaran Buddha mengemis menjadi inspirasi bagi banyak kebajikan. Dengan mengemis akan memberi kesempatan kepada kaum awam untuk berbuat kebaikan. Dengan mengemis para rahib belajar rendah hati, sabar, tidak lekas putus asa sehingga mereka dapat mengawasi tubuhnya, perasaan dan pikiran dan nafsu-nafsunya. Seorang rahib diharuskan hidup tanpa rumah atau tempat berlindung yang tetap, mereka hanya diperkenankan berkumpul dalam biara.

Kedua, Seorang rahib harus hidup membujang (tidak diperkenankan

hidup dengan para wanita) karena hubungan seks dianggap sebagai sumber dosa yang akan mengakibatkan seorang rahib dikeluarkan dari Sangha.

Ketiga adalah seorang rahib harus hidup dengan ahimsa (tanpa

perkosaan), ia tidak diperkenankan membunuh atau melukai makhluk lain. Empat dosa besar yang harus dihindari dari rahib adalah hidup mesum,

37 A. Mukti Ali. Agama-Agama Besar ..., op.cit, hlm. 129. 38 Hilman Hadikusumo. Antropologi Agama Bagian II. Loc. Cit.

(14)

mencuri, membunuh makhluk hidup dan meninggikan diri karena kecakapan membuat mu’jizat.39

Setiap umat Buddha berhak memasuki dan bergabung dalam Sangha dengan melalui tahap-tahap tertentu. Tahap pertama dimulai ketika umat Buddha menerima jubah kuning dan memasuki persaudaraan para bikkhu. Umat awam memasuki hidup kewiharaan tanpa memiliki rumah tinggal dan hidup sebagai pertapa. Sebelum menjadi bikkhu ia harus menjalani hidup sebagai calon bikkhu (samanera) dengan mengucapkan dan menepati dasa sila (sepuluh janji) yakni larangan untuk membunuh, mencuri, hidup mesum, mengunjungi tempat keramaian duniawi, bersolek, tidur pada tempat tidur yang enak dan menerima hadiah.40

Tahap kedua tekun mempelajari Dharma dan menggunakan waktu luangnya untuk perenungan suci di bawah asuhan para bikkhu atau bikkhuni sebagai gurunya (acarya) yang dipilihnya sendiri. Setelah melalui tahap-tahap tersebut barulah ia diterima menjadi bikkhu dalam suatu upacara pentahbisan (upasampada). Jika ia wanita maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama oleh bikkhuni lalu bikkhu sangha.

Setelah menjadi bikkhu atau bikkhuni maka ia berkewajiban menjalani hidup suci dan bersih seperti yang terlukis dalam kitab “vinaya pitaka” menjalani 227 peraturan, yang antara lain tentang :

- Peraturan tata tertib lahiriah

- Peraturan tentang cara penggunaan pakaian, makanan dan kebutuhan lainnya.

- Cara menanggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin

- Cara memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.

Lima tahun pertama, ia diterima secara penuh sebagai bikkhu atau bikkhuni ia masih dalam ikatan keguruan, baru setelah 10 tahun ia disebut sebagai thera.

39 Harun Hadiwijono. Agama Hindu ..., op.cit., hlm. 77.

(15)

Sangha tidak mempunyai kewajiban terhadap umat Buddha yang bersifat lahiriah. Hubungan yang terjalin adalah hubungan yang bersifat rokhaniah dimana anggota sangha merupakan teladan cara hidup yang suci, penyampai dharma atas permintaan umat, pembantu umat Buddha dalam pemberian nasihat dan penerangan batin dalam suka dan duka. Para umat Buddha sangha patut menerima pemberian (ahu neyyo), tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dukhineyyo), penghormatan (anjali karaneniyo) dan merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram panna khettam lokassaa) sehingga sangha termasuk dalam ajaran Tri Ratna yang ketiga yakni “Sangham saranam gacchami” (saya mencari perlindungan kepada sangha).41

4. Cara Pelaksanaan Persaksian dalam Agama Buddha

Agama Buddha pada dasarnya tidak mengajarkan bahwa untuk mencapai nirwana tidak diperlukan adanya upacara keagamaan seperti persembahyangan atau sesajian, melainkan mengucapkan mantera-mantera dari kitab suci, mengikuti ceramah atau wejangan keagamaan dan menghaturkan sesajian yang bermanfaat bagi umat Buddha. Tujuan sikap dan perilaku amalan tersebut adalah untuk memperkuat jiwa dan kepercayaan pada diri sendiri agar keyakinannya semakin tebal.

Setiap orang yang akan masuk menjadi penganut umat Buddha awam atau upasaka maupun upasika tidak hanya dengan mengucapkan Tri Ratna / Tri Sarana secara lisan saja, namun harus melalui tahapan-tahapan terlebih dahulu. Tahapan yang pertama yakni seseorang harus mempelajari norma terlebih dahulu. Setelah mempelajari dharma kemudian menghayati dan mengamalkan ajaran dharma tersebut dalam kehidupan. Setelah seseorang itu mantap dan yakin akan dharma-dharma tersebut barulah ia akan diterima menjadi umat Buddha awam dengan cara melalui wisuda upasaka / upasika.

(16)

Upacara wisuda upasaka / upasika diatur dalam parita suci. Adapun cara pelaksanaan upacara wisuda upasaka / upasika dalam agama Buddha adalah sebagai berikut :

1. Pandita membimbing calon upasaka / upasika melakukan puja kepada Sang Tri Ratna dengan menyalakan lilin dan dupa di altar, kemudian bernamaskara tiga kali dengan mengucapkan kalimat Namakara-gatha. 2. Calon (dalam wisuda bersama, calon tertua mewakili)

mempersembah-kan lilin, dupa dan bunga yang disusun dalam satu talam kepada bikkhu yang akan memberikan tuntunan Tisarana dan Pancasila kemudian bernamaskara tiga kali (tanpa mengucapkan Namakara-gatha).

3. Calon mengucapkan kalimat pernyataan dalam bahasa Pali dan juga terjemahannya sebagai berikut :

Esaham bhante, sucira-parinibbutampi, Tarih Bhagavantarin saranam gacchami, Dhammanca bikkhu-sanghanca

Upasaka (upasikam) mam bhante dharetu, Ajjatagge panupetam saranam gatam.

Bhante, saya mohon kepada Sang Buddha yang walaupun telah lama parinibbana, bersama Dhamma dan Sangha menjadi pelindung saya. Semoga Bhante mengetahui bahwa sejak hari ini sampai selama-lamanya saya adalah upasaka (upasika), menerima Tisarana sebagai pembimbing saya.

(Bikkhu memberikan tuntunan Tisarana dan Pancasila, calon mengikuti apa yang diucapkan bikkhu kalimat demi kalimat).

4. Bikhhu memberikan wejangan Dhamma, dilanjutkan dengan memercikkan air pemberkahan kepada upasaka / upasika baru.42

Berikut ini merupakan penjelasan secara rinci pelaksanaan pentahbisan / kebaktian upasaka / upasika yang dikutip dari kitab Parita Suci.

(17)

(1) PEMBUKAAN

Pemimpin kebaktian memberikan tanda kebaktian dimulai (dengan gong, lonceng dan sebagainya). Pemimpin Kebaktian menyalakan lilin, dupa / hio dan meletakkan dupa / hio di tempatnya, sementara hadirin duduk bertumpu lutut dan bersikap anjali. Setelah dupa/hio diletakkan ditempatnya, Pemimpin Kebaktian beserta para hadirin menghormat dengan menundukkan kepala (sikap anjali dengan menyentuh dahi).

(2) NAMAKARA-GATHA

Pemimpin Kebaktian mengucapkan Namakaragatha diikuti hadirin kalimat demi kalimat.

Araham Sammasambuddho Bhagava Buddham Bhagavantam abhivademi

Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Telah Mencapai Penerangan Sempurna; aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava. (namaskara)

Svakkhato Bhagavata dhammo dhammam namassami

Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, aku bersujud di hadapan Dhamma.

(namaskara)

Supatipanno Bhagavato savakasangho Sangham namami

Sangha Siswa Bhagava telah bertindak sempurna; aku bersujud di hadapan Sangha.

(namaskara)

(3) PUJA-GAHTA

(18)

PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Yamamamha kho mayam Bhagavantam saranam gata, yo no Bhagava Sattha, yassa ca mayam Bhagavato Dhammam rocema, imahi sakkarehi tam Bhagavantam sasaddhammam sasavakasangham abhipujayama.

“Kami berlindung kepada Sang Bhagava, Sang Bhagava guru junjungan kita, dalam Dhamma Sang Bhagava kami berbahagia. Dengan persembahan ini kami melakukan puja kepada Sang Bhagava, Dhamma Sejati serta Sangha Para Siswa.”

(4) PUBBABHAGAGANAMAKARA (Hadirin duduk bersimpuh/bersila)

PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam Buddhassa Bhagavato pubbabhagana-makaram karoma se

Marilah kita mengucapkan penghormatan awal kepada Sang Buddha, Sang Bhagava.

BERSAMA-SAMA:

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.

(tiga kali)

(5) TISARANA (TIGA PERLINDUGAN) PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam tisaranagamanapatham karoma se Marilah Kita mengucapkan Tiga Perlindungan. BERSAMA-SAMA:

(19)

Buddham saranam gacchami Dhammam saranam gacchami Sangham saranam gacchami

Dutiyampi Buddham saranam gacchami Dutiyampi Dhammam saranam gacchami Dutiyampi Sangham saranam gacchami Tatiyampi Buddham saranam gacchami Tatiyampi Dhammam saranam gacchami Tatiyampi Sangham saranam gacchami

Aku berlindung kepada Buddha Aku berlindung kepada Dhamma Aku berlindung kepada Sangha

Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Sangha Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Sangha

(6) PANCA-SILA

PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam pancasikkhapadapatham karoma se Marilah kita mengucapkan kelima latihan sila.

BERSAMA-SAMA:

Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyani

Kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

(20)

Aku bertekad akabn melatih diri menghindari makhluk hidup

Akuk bertekad akan melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar Aku beretekad akan melatih diri menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

(7) BUDDHANUSSATI

(PERENUNGAN TERHADAP BUDDHA) PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam Buddhanussa tinayam karoma SE Marilah kita mengucapkan perenungan terhadap Buddha

BERSAMA-SAMA:

Iti pi so Bhagava Araham Samma-sambuddho, Vijjacarana-sampanno Sugato Lokavidum Annutarro purisadammasarathi Sattha decamanussanam Buddho Bhagava’ti.

(diam sejenak merenungkan sifat-sifat Sang Buddha)

Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna pengetahuan serta tindak-tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Yang Sadar (Bangun), Yang patut dimuliakan.

(8) DHAMMANUSSATI

(PERENUNGAN TERHADAP DHAMMA) PEMIMPIN KEBAKTIAN:

Handamayam Dhammanussa tinayam karoma se

Marilah kita mengucapkan perenungan terhadap Dhamma

BERSAMA-SAMA:

(21)

Sanditthiko akaliko ehipassimko,

Opanayiko paccattam veditabbo vinnuhi’ti.

(diam sejenak, merenungkan sifat-sifat Dhamma)

Dhamma Sang Bhagava telah sempurna dibabarkan; berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan; menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.

(9) SANGHANUSSATI

(PERENUNGAN TERHADAP SANGHA) PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam Sanghanussatinayam karoma se

Marilah kita mengucapkan perenungan terhadap Sangha

BERSAMA-SAMA:

Supatipanno Bhagavato savakasangho Ujupatipanno Bhagavato savakasangho Nayapatipanno Bhagato savakasangho Samicipatipanno Bhagavato savakasangho

Yadidam cattari purisayugani atthapurisa puggala, Esa Bhagavato safakasangho

Ahuneyyo pahuneyyo dakkhineyyo anjalikaraniyo Anuttaram punnakkhettam lokassa’ti

(Diam sejenak, merenungkan sifat-sifat Sangha) Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak benar Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindakpatut

Mereka, empat pasang makhluk, terdiri dari delapan jenis makhluk suci, (*) itulah Sangha siswa Sang Bhagava;

Patut menerima pemberian, tempat bernaung, persembahan serta penghormatan;

(22)

Lapangan untuk menanam jasa, yang tiada taranya di alam semesta. (*) Mereka disebut Ariya Sanghal : makhluk-makhluk yang telah mencapai Sotapatti Magga dan Phala, Sakadagami Magga dan Phala, Anagami Magga dan Phala dan Arahatta Magga dan Phala.

(10) SACCAKIRIYA GATHA (PERNYATAAN KEBENARAN) PEMIMPIN KEBAKTIAN:

Handamayam saccakiriyagathayo karoma se

Marilah kita mengucapkan Pernyataan Kebenaran.

BERSAMA-SAMA:

Natthi me saranam annam Buddho me saranam caram Etena saccavajjena

Sotthi te hotu sabbada Natthi me saranam annam Dhammo me saranam varam Etena saccavajjena

Sotthi te hotu sabbada Natthi me saranam annam Sangho me saranam varam Etena saccavajjena

Sotthi te hotu sabbada

Tiada perlindungan lain bagiku

Sang Buddha-lah sesungguhnya pelindungku, Berkat Pernyataan Kebenaran ini,

Semoga engkau selamat sejahtera Tiada perlindungan lain bagiku

Dhamma-lah sesungguhnya pelindungku, Berkat Pernyataan Kebenaran ini,

Semoga engkau selamat sejahtera Tiada perlindungan lain bagiku

(23)

Berkat Pernyataan Kebenaran ini, Semoga engkau selamat sejahtera

(11) MANGALA SUTTA

(SUTTA TENTANG BERKAH UTAMA) PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam mangala suttam bhanama se

Marilah kita mengucapkan Sutta tentang Berkah Utama

BERSAMA-SAMA: Evamme suttam

Ekam samayam Bhagava Savatthiyam viharati Jetavane anathapindikassa Arame.

Atha kho annatara devata, abhikkantaya rattiya abhikkantavanna kevalakappam jetavanam obhasetva.

Yena Bhagava tenupasankami, upasankamitva

Bhagavantam abhivadetva ekamantam atthasi, ekamantam thita kho sa devata Bhagavantam gathaya ajjhabhasi :

Bahu deva manussa ca Mangalani acintayum Akankhamana sotthanam Bruhi mangalumuttamam Asevana ca balanam Panditananca secana Puja ca pujaniyanam Etammangalamuttamam Patirupadesacaso ca Pubbe ca katapunnata Attasammapanidhi ca Etammangalamuttamam Bahusaccanca sippanca Cinayo ca susikkhito Subhasita ca ya vaca Etammangalamuttamam Dananca dhammacariya ca Natakananca sangaho Anavajjani kammani Etammangalamuttamam

(24)

Arati virati papa Majjapana ca sannamo Appamado ca dhammesu Etammangalamuttamam Garavo ca nivato ca Santutthi ca katannuta Kalena dhammasavanam Etammangalamuttamam Khanti ca sovacassata Samananca dassanam Kalena dhammasakaccha Etammangalamuttamam Tapo ca brahmacariyanca Ariyasaccana dassanam Nibbanasacchiriya ca Etammangalamuttamam Phutthassa lokadhammehi Cittam yassa na kampati Asokam virajam khemam Etammangalamuttamam Etadisani katvana

Sabbatthamaparajita Sabbattha sottim gacchanti Tantesam mangalamuttaman’ti

Demikianlah telah kudengar” Pada suatu ketika Sang Bhagava Menetap di dekat Savatthi

Di hutan Jeta di vihara Anathapindika

Maka seorang dewata, ketika malam menjelang pagi, dengan cahaya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta.

Menghampiri Sang Bhagava dan menghormat Beliau, ia berdiri ke satu sisi, sambil berdiri di satu sisi, dewata itu berkata kepada Sang Bhagava dalam syair ini.

Banyak dewa dan manusia Berselisih paham tentang Berkah Yang diharap membawa keselamatan;

(25)

Terangkanlah, apa Berkah Utama

Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana Bergaul dengan mereka yang bijaksana. Menghormat mereka yang patut dihormati Itulah Berkah Utama

Hidup di tempat yang sesuai

Berkat jasa-jasa dalam hidup yang lampau Menuntun diri ke arah yang benar,

Itulah Berkah Utama

Memiliki pengetahuan dan ketrampilan, Terlatih baik dalam tata susila,

Ramah tamah dalam ucapan, Itulah Berkah Utama

Membantu Ayah dan Ibu Menyokong anak dan isteri Bekerja bebas dari pertentangan, Itulah Berkah Utama

Berdana dan hidup sesuai dengan Dhamma Menolong sanak keluarga,

Bekerja tanpa cela Itulah Berkah Utama

Menjauhi, tak melakukan kejahatan, Menghindari minuman keras, Tekun melaksanakan Dhamma, Itulah Berkah Utama

Selalu hormat dan rendah hati, Merasa puas dan berterima kasih

Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai, Itulah Berkah Utama

(26)

Sabar, rendah hati bila diperingatkan,mengunjungi para pertapa, Membahas Dhamma pada saat yang sesuai,

Itulah Berkah Utama

Bersemangat, menjalankan hidup suci, Menembus Empat Kesunyataan Mulia, Serta mencapai Nibbana,

Itulah Berkah Utama

Meski tergoda hal-hal duniawi, Namun batin tak tergoyahkan,

Tiada susah, tanpa noda, penuh damai, Itulah Berkah Utama

Karena dengan mengusahakan hal-hal itu, Manusia tak terkalahkan di manapun juga, Serta berjalan aman ke mana juga,

Itulah Berkah Utama mereka.

(12) KARANIYAMETTA SUTTA

(SUTTA TENTANG KASIH SAYANG YANG HARUS DIKEMBANGKAN)

PEMIMPIN KEBAKTIAN:

Handamayam karaniyamettasuttam bhanama se

Marilah kita mengucapkan Sutta tentang Kasih Sayang yang harus dikembangkan.

BERSAMA-SAMA: Karaniyamatthakusalena

Yantam santam padam abhisamecca Sakko uju ca suhuju ca

Suvaco cassa mudu anatimani Santussako ca subharo ca Appakicco ca sallahukavutti Satindriyo ca nipako ca

(27)

Appagabbho kulesu ananugiddjo. Na ca khuddam samacare kinci Yena vinnu pare upavadeyyum Sukhino ca khemino hontu Sabbe satta bhavantu sukhitatta Ye keci panabhuttahi

Tasa cva thavara va anavasesa Digha va ye mahanta va

Majjhima rassaka anukathula Dittha va ye va adittha

Ye ca dure vasanti avidure Bhuta va sambhavesi va

Sabbe satta bhabantu sukhitatta Na paro param bikubbetha

Natimannetha katthaci nam kanci Byarosana patighasanna

Nannamannassa dukkhamiccheyya Matayatha niyam puttam

Ayusa ekaputtamanurakkhe Evampi sabbabhutesu

Manasambhavaye aparimanam Mettanca sabbalokasmim

Manasambhavaye aaparimanam Uddham adho ca tiriyanca

Asambhadham averam asapattam Titthancaram nisinno va

Sayano va yavatassa vigataminddho Etam satim adhittheyya

Brahmamentam viharam idhamahu Ditthinca anupagamma

Silava dassanena sampanno Kamesu vineyya gegham

Na hi jatu gabbhaseuuam punareti’ti

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan

Untuk mencapai Keadaan Ketenangan Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur. Rendah hati, lamah lembut, tiada sombong Merasa puas, mudah disokong

(28)

Tiada sibuk, sederhana hidupnya, Tenang indranya, berhati-hati

Tahu malu, tak melekat pada keluarga. Tak berbuat kesalahan walaupun kecil Yang dapat dicela oleh para Bijaksana

(Hendaklah ia berpikir) Semoga (semua makhluk) berbahagia dan tenteram,

Semoga semua makhluk bergembira Makhluk hidup apapun juga

Yang lemah dan kuat tanpa kecuali Yang panjang atau besar,

Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk. Yang tampak atau tak tampak

Yang jauh atau pun dekat, Yang terlahir atau yang lahir, Semoga semua makhluk berbahagia. Yang menipu orang lain.

Atau menghina siapa saja, Jangan karena marah dan benci, Mengharap orang lain celaka.

Bagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwanya Melindungi anaknya yang tunggal,

Demikianlah terhadap semua makhluk,

Dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas. Selagi berdiri, berjalan atau duduk,

Atau berbaring, selagi tiada lelap, Ia tekun mengembangkan kesadaran ini, Yang dikatakan Berdiam dalam Brahma Kasih sayangnya ke segenap alam semesta

(29)

Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas, Ke atas, ke bawah dan ke sekeliling,

Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.

Tidak berpegang pada pandangan salah (tentang atta.aku) Dengan sila dan penglihatan yang sempurna,

Hingga bersih dari nafsu indera,

Dia tak akan lahir dalam rahim mana pun juga.

(13) BRAHMAVIHARAPHARANA-PERESAPAN BRAHMAVIHARA PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam brahmaviharapharana bhanama se

Marilah kita mengucapkan Peresapan Bharma Vihara

BERSAMA-SAMA : (METTA) :

Aham sukhito homi Niddukkho homi Avero homi Abyapajjho homi Anigho homi

Sukhi attanam pariharami Sabbe satta sukhita hontu Niddukkha hontu

Avera hontu Abyapajjha hontu Anigha hontu

Sukhi attanam pariharantu (KARUNA) : Sabbe satta Dukkha pamuccantu (MUDITA) : Sabbe satta Ma laddhasampattito Vigacchantu (UPEKKHA) : Sabbe satta Kammassaka Kammadayada Kammayoni

(30)

Kammabandhu Kammapatisarana

Yam kammam karissanti Kalyanam va papakam va Tassa dayada bhavissanti

Semoga aku berbahagia, Bebas dari penderitaan, Bebas dari kebencian, Bebas dari penyakit, Bebas dari kesukaran,

Semoga aku dapat mempertahankan kebahagiaanku sendiri. Semoga makhluk hidup berbahagia,

Bebas dari penderitaan, Bebas dari kebencian, Bebas dari kesakitan, Bebas dari kesukaran,

Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri. Semoga semua makhluk

Bebas dari penderitaan Semoga semua makhluk

Tidak kehilangan kesejahteraan yang telah mereka peroleh Semua makhluk

Memiliki karmanya sendiri Mewarisi karmanya sendiri

Berhubungan dengan karmanya sendiri, Terlindung oleh karmanya sendiri Apapun karma yang diperbuatnya Baik atau buruk

(31)

(14) ABHINHAPACCA AVEKKHANA (KERAP KALI DIRENUNGKAN) PEMIMPIN KEBAKTIAN :

Handamayam abhinhapaccavekkhanapathambhanama se

Marilah kita mengucapkan Perenungan kerap kali

BERSAMA-SAMA : Jara dhammomhi Jaram anatito Byadhidhammomhi Maranam anatito

Sabbehi me piyehi manapehi nanabhavo vinabhavo Kammassakomhi

Kammadayado Kammayoni Kammabhandhu Kammapatisarano Yam kammam karissami Kalyanam va papakam va Tassa dayado bhavissami

Evam amhehi abhinham paccavekkhitabbam.

Aku akan menderita usia tua, Aku belum menguasai usia tua, Aku akan menderita penyakit, Aku belum mengatasi penyakit, Aku akan menderita kematian Aku belum mengatasi kematian

Segala milikku, yang kucintai dan menyenangkan, Akan berubah, terpisah dariku.

Aku adalah pemilik karmaku sendiri, Pewaris karmaku sendiri,

Lahir dari karmaku sendiri

Berhubungan dengan karmaku sendiri Terlindung oleh karmaku sendiri Apapun karena yang kuperbuat,

(32)

Baik atau buruk,

Itulah yang akan kuwarisi,

Hendaklah ini kerap kita renungkan.

(15) SAMADHI : METTA-BHAVANA

(MEDITASI : PENGEMBANGAN KASIH SAYANG) (*) Pada akhir samadhi, Pemimpin Kebaktian mengucapkan : Sabbe satta bhavantu sukhitatta

Semoga semua makhluk berbahagia atau

Sabbe satta sada hontu avera sukhajivino

Semoga semua makhluk selamanya Hidup bahagia, bebas dari kebencian.

(16) PERMOHONAN TRISARANA PANCASILA

Apabila kebaktian dihadiri oleh bikkhu, maka Pancasila (nomor 6) dalam tuntunan Kebaktian ini tidak dibacakan. Setelah pembacaan paritta selesai, hadirin memohon Tisarana-Pancasila kepada bikkhu, sebagai berikut :

HADIRIN BERSAMA-SAMA : Mayam bhante

Tisaranena saha pancasilani yacama Dutiyampi mayam bhante

Tisaranena saha pancasilani yacama Tatiyampi mayam bhante

Tisaranena saha pancasilani yacama.

Bhante,

Kami memohon Trisarana dan Pancasila Untuk kedua kalinya Bhante,

Kami memohon Tisarana dan Pancasila Untuk ketiga kalinya Bhante,

(33)

Kami memohon Tisarana dan Pancasila. Atau,

Okasa aham bhante,

Tisaranena saddhim pancasilam dhammam yacami, Anugaham katva silam detha me bhante.

Dutiyampi okasa aham bhante,

Tisaranena saddhim pancasilam dhammam yacami, Anugaham hatva silam detha me bhante

Tatiyampi okasa aham bhante

Tisaranena saddhim pancasilam dhammam yacami, Anugaham katva silam detha me bhante

Perkenankanlah Bhante,

Berikan padaku Tisarana serta Pancasila Anugerahkanlah padaku Sila itu, Bhante Untuk kedua kalinya, perkenankanlah Bhante Berikan padaku Tisarana serta Pancasila Anugerahkanlah padaku Sila itu, Bhante Untuk ketiga kalinya, perkenankanlah Bhante Berikan padaku Tisarana serta Pancasila Anugerahkanlah padaku Sila itu, Bhante.

BIKKHU :

Yamaham vadami tam vadetha

Ikutilah apa yang saya ucapkan

HADIRIN : Ama, bhante

Baik Bhante

Bikkhu :

(34)

Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai

Penerangan Sempurna. (tiga kali)

HADIRIN : (mengikuti)

BIKHHU : (mengucapkan Tisarana) HADIRIN : (mengikuti)

BIKKHU :

Tisarana gamanam paripunam

Tisarana telah diambil dengan lengkap.

HADIRIN : Ama, Bhante

Baik, Bhante

BIKKHU : (mengucapkan Pancasila) HADIRIN: (mengikuti)

BIKKHU :

Imani pancasikkhapadani Silena sugatim yanti Silena bhogasampada Silena nibbutim yanti Tasma silam visodhaye

Itulah yang dinamakan lima latihan

Dengan melaksanakan Sila berakibat terlahir di alam bahagia

Dengan melaksanakan Sila berakibat memperoleh kekayaan (dunia dan Dhamma)

Dengan melaksanakan Sila berakibat tercapainya Nibbana Sebab itu anda harus melaksanaka Sila dengan sempurna.

HADIRIN : Ama, Bhante,

Baik, Bhante

(35)

(17) ARADHANA PARITTA (PERMOHONAN PARITTA)

Permohonan Paritta ini dibacakan apabia umat mengundang bikkhu / samanera ke rumah atau pada acara upacara di vihara, cetiya dan sebagainya. Hal ini dilakukan setelah permohonan Pancasila. Paritta permohonan ini adalah sebagai berikut :

Vipattipatibahaya Sabba sampatti siddhiya Sabba dukkha vinasaya Parittam brutha mangalam. Vipattipatibahaya

Sabba sampatti siddhiya Sabba bhaya vinasaya Parittam brutha mangalam Vipattipatibahaya

Sabba sampatti siddhiya Sabba roga vinasaya

Parittam brutha mangalam.

Untuk menolak marabahaya Untuk memperoleh rejeki baik Untuk melenyapkan semua dukha

Sudilah membacakan paritta perlindungan. Untuk menolak marabahaya

Untuk memperoleh rejeki baik

Untuk melenyapkan semua rasa takut Sudilah membacakan paritta perlindungan. Untuk menolak marabahaya

Untuk memperoleh rejeki baik Untuk melenyapkan semua penyakit

(36)

(18) ARADHANA DHAMMADESANA (PERMOHONAN DHAMMADESANA)

Permohonan Dhammadesana ini dilaksanakan setelah permohonann Pancasila di Vihara, Cetiya, dan sebagainya. Pada bikkhu, samanera yang hadir pada waktu itu, sebagai berikut :

Brahma ca lokadhipati sahampati Katanjali andhivaram ayacatha Santidha sattapparajakkhajatika

Desetu dhammam anukampimam pajam

Brahma Sahampati, penguasa dunia ini

Merangkap kedua tangannya (beranjali) dan memohon.

Ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka. Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka.

(19) DHAMMADESANA (20) ETTAVATA

Handamayam ettavata dinnam karoma se

Marilah kita mengucapkan paritta ettavatta

BERSAMA-SAMA: Ettavata ca amhehi

Sambhatam punna sampadam Sabbe deva anumodantu Sabba sampatti siddhiya Ettavata ca amhehi

Sambhatam punna sampadam Sabbe bhuta anumondantu Sabba sampatti siddhiya Ettavata ca amhehi

Sambhatam punna sampadam Sabbe satta anumondantu Sabba sampatti siddhiya Akasattha ca bhummattha Decca naga mahiddhika Punnam tam anumoditva Ciram rakkhantu mokasanti

(37)

Akasattha ca bhummattha Deva naga mahiddhika Punnam tam anumoditva Ciram rakkhantu Indonesia Idam vo natinam hotu Sukhita hontu natayo. (tiga kali)

Devo vassatu kalena Sassa sampatti hetu ca Phito bhavatu loka ca Raja bhavatu dhammiko Akasattha ca bhummattha Deva naga mahiddhika Punnam tam anumoditva Ciram rakkhantu Sasanam Akasattha ca bhummattha Deva naga mahiddhika Punnam tam anumoditva Ciram rakkhantu desanam Akasattha ca bhummattha Deva naga mahiddhika Punnam tam anumoditva

Ciram rakkhantu mam param’ti

Sebanyak kami telah

Mencapai dan mengumpulkan jasa Semoga semua dewa turut bergembira, Agar mendapat keuntungan beraneka warna. Sebanyak kami telah

Mencapai dan mengumpulkan jasa

Semoga semua makhluk halus turut bergembira, Agar mendapat keuntungan beraneka warna. Sebanyak kami telah

Mencapai dan mengumpulkan jasa

Semoga semua makhluk hidup turut bergembira, Agar mendapat keuntungan beraneka warna.

(38)

Semoga para makhluk di angkasa dan di bumi, Para dewa dan naga yang perkasa.

Setelah mennikmati jasa-jasa ini, Selalu melindungi perdamaian dunia.

Semoga para makhluk di angkasa dan dibumi, Para dewa dan naga yang perkasa

Setelah menikmati jasa-jasa ini Selalu melindungi Indonesia Semoga jasa-jasa ini melimpah

Pada sanak keluarga yang telah meninggal Semoga mereka berbahagia.

Semoga hujan tepat pada musimnya Semoga dunia maju dengan pesat Serta selalu berbahagia dan damai, Semoga Raja/Pemerintah berlaku lurus Semoga para makhluk di angkasa dan di bumi Para dewa dan naga yang perkasa,

Setelah menikmati jasa-jasa ini, Selalu melindungi ajaran.

Semoga para makhluk di angkasa dan di bumi Para dewa dan naga yang perkasa

Setelah menikmati jasa-jasa ini

Selalu melindungi pembabaran Dhamma. Semoga para makhluk di angkasa dan di bumi Para dewa dan naga yang perkasa

Setelah menikmati jasa-jasa ini, Selalu melindungi kita semua

(39)

(21) PENUTUP

Apabila Kebaktian dihadiri bikkhu, sebelum penutup bhikkhu memberikan pemberkahan, setelah itu hadirin membacakan paritta ettavata, kemudian Kebaktian ditutup dengan namaskara.

CATATAN :

Bagian nomor 11 dan 12, dapat dipilih salah satu Bagian nomor 13 dan 14, dapat dipilih salah satu. 4. Makna Theologis, Psikologis dan Sosiologis Tri Ratna

a. Makna Theologis Tri Ratna

Mereka yang berlindung kepada Tri Ratna mengikuti suatu cara hidup untuk mencapai cita-cita penerangan. Dalam praktek kehidupan sehari-hari umat Budha memuja Tri Ratna. Tri Ratna oleh umat Budha dipandang sebagai manifestasi atau cerminan Tuhan yang Maha Esa dalam dunia ini, karena aspek transenden yang dimilikinya, akan tetapi konsep Tri Ratna tidaklah sama dengan konsep Tuhan dalam agama selain agama Budha.43

b. Makna Psikologi Tri Ratna

Budha, Dhamma dan Sangha disebut sebagai Tri Ratna atau tiga permata, merupakan langkah pertama yang diambil oleh setiap umat Budha dalam memasuki jalan keselamatan.

Berlindung kepada Tri Ratna adalah yakin dengan sepenuh hati kepada Tri Ratna sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup dan bahkan menjadi tuntutan hidup. Orang yang berlindung kepada Tri Ratna, dengan bijaksana dapat melihat empat kebenaran mulia yaitu dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan mulia berunsur delapan yang menuju lenyapnya dukkha. Setelah melatih dirinya dengan baik, ia memperoleh perlindungan yang sukar didapat, sesungguhnya dirinya sendirilah yang menjadi pelindung bagi dirinya.

Keyakinan yang disertai pernyataan berlindung ini mempunyai tiga aspek yakni : Pertama, aspek kemauan yang menghendaki adanya

(40)

kesadaran dan tindakan aktif, bukan pasif yang hanya menunggu berkah dari atas. Kedua, aspek pengertian yang menghendaki pemahaman terhadap hakekat perlindungan dan perlunya perlindungan, yang memberi harapan dan yang menjadi tujuan. Ketiga, aspek perasaan, yang mengandung aspek percaya, keikhlasan, syukur dan cinta kasih, yang menimbulkan bakti, mendorong pengabdian dan memberi ketenangan, kedamaian, semangat dan kegembiraan.44

Budham Saranam Gacchami (aku berlindung kepada buddha) memiliki arti menjunjung Budha yang diyakini telah mencapai penerangan yang sempurna dengan kekuatan-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan dan mengalami apa yang telah dicapai-Nya. Pada dasarnya setiap orang mempunyai benih kebudhaan di dalam dirinya. Buddha sebagai pelindung bukanlah pribadi pertama Gautama. Buddha sebagai manifestasi kebuddhaan (budhi) yang mengatasi keduniawian.Dhamman Saranam Gacchammi(aku berlindung kepada Dharma) mempunyai arti menjunjung tinggi Dharma yang merupakan pedoman hidup bagi umat Buddha. Sangham Saranam Gacchami (aku berlindung kepada sangha) mengandung arti menjunjung sangha yang memiliki perilaku yang benar yang menjadi contoh teladan, membimbing dan menuntun makhluk-makhluk lain..

c. Makna Sosiologis Tri Ratna

Dengan berlindung kepada Tri Ratna terkandung aspek sosiologis yakni. Setelah orang mengalami penderitaan karena hidup pada dasarnya adalah penderitaan yang harus dihapuskan dengan jalan menghapuskan tanha. Tanha adalah kegiatan yang merusak karena merupakan kehendak untuk memperoleh pemenuhan kepentingan diri. “Keinginan” itu terdiri dari seluruh kecenderungan batin yang ingin melanjutkan atau

43 Ibid., hlm. 39-40.

44 Kristinanda Wijaya Mukti. Wacana Budha dharma (Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan,

(41)

meningkatkan kesendirian yakni hidup terpisah dari sasaran mementingkan diri.45

“Dengan melindungi diri sendiri seseorang melindungi orang lain” “Dengan melindungi orang lain, seseorang melindungi diri sendiri”

Kedua kalimat ini melengkapi satu sama lain dan tidak boleh diambil (dikutip) secara terpisah.

Dalam Satipatara, Samyuta, No. 19 telah dijelaskan bahwa dengan kesabaran dan menahan diri, dengan hidup tanpa kejahatan dan tidak membahayakan, dengan cinta dan belas kasih seseorang dapat melindungi diri sendiri dan melindungi orang lain. sebagai contoh misalnya perlindungan terhadap kesehatan kita sendiri akan berperan jauh dalam melindungi kesehatan lingkungan sekitar kita, khususnya dalam hal penyakit menular. Kita harus hati-hati dalam perbuatan dan gerakan kita yang akan melindungi orang lain dari bahaya yang akan menimpa mereka akibat kecerobohan dan ketidakpedulian kita.46

B. Persaksian dalam Agama Islam

Persaksian dalam agama Islam dikenal pula dengan syahadat. Dengan mengucapkan kedua kalimat syahadat orang dianggap muslim. As-Syahadat menurut bahasa yaitu menyampaikan atau memberitahukan apa yang diketahui, diyakini kebenaran dari apa yang disampaikan atau diberitahukan dan menetapkannya. As-Syahadah menurut syara’ yakni menetapkan, meyakini, membenarkan, dan mengakui bahwasanya tidak ada yang wajib disembah melainkan hanya Allah S.W.T. Tuhan yang Maha Esa.47

1. Syahadat Tauhid

Syahadah Tauhid merupakan bentuk arkanul Islam dan merupakan inti pokok dari keenam rukun iman.48 Syahadat tauhid yang berbunyi Asyhadu

45 Cristmas Humphereys. Buddhism (Harmondsworth, Engkid : Pelican Books, 2002) hlm. 91. 46 K. Sri Dhammananda. Keyakinan Umat Budha (Pustaka Karaniya, 2002), hlm. 239-240. 47 Syarif Hamdan Rajih Madinah Al-Munawarrah. Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah Muhammad

Rasulullah (Sebuah Kajian) (Jakarta : Kalam Mulia, 2001) I, hlm. 20.

(42)

anla ilaha illallah (

ﻞﻟا

ﻻا

ﻪﻟا

نا

ﺪﻬﺷا

)

yang mempunyai makna bahwa

tidak ada Tuhan melainkan Allah, kesaksian ini menjadi kewajiban pertama seorang hamba terhadap Allah S.W.T.49 Kalimat laa Ilaha illallah merupakan kalimat yang sederhana dari kayakinan yang mendasar seorang muslim, kalimat laa Ilaha illallah tidak hanya memperlihatkan keesaan Tuhan, pernyataan ini juga menyatakan akan ke-Tuhanan, kedaulatan dan otoritas dalam alam semesta dan dunia ini.50 Kalimat laa Ilaha illallah ini merupakan pintu gerbang masuknya seseorang dari daerah kafir ke daerah iman.

Kalimat tauhid ini merupakan peniadaan seluruh yang disembah selain Allah S.W.T. dan merupakan penetapan bahwa menyembah itu diperuntukkan bagi Allah saja.51 kata “Illah” di sini sinonim dengan kata-kata “God” dalam bahasa Inggris52, meskipun kalimat tauhid ini diucapkan dalam bahasa yang berlainan namun semuanya bertemu dalam satu hakikat yakni menyeru manusia kepada satu keyakinan bahwa Allah Maha Esa.53

Seperti yang difirmankan oleh Allah S.W.T. dalam Al-Qur’an Karim :

ﻜﻟ ﺎﻣ ﷲا اوﺪﺒﻋا مﻮﻗ ﺎﻳ لﺎﻘﻓ ﻪﻣﻮﻗ ﻰﻟا ﺎﺣﻮﻧ ﺎﻨﻠﺳرا ﺪﻘﻟ

ﻩﺮﻴﻏ ﻪﻟا ﻦﻣ ﻢ

ﻢﻴﻈﻋ مﻮﻳ باﺪﻋ ﻢﻜﻴﻠﻋ فﺎﺧاﻰﻧا

.

)

فاﺮﻋ ﻻا

:

59

.(

Artinya :“Sungguh telah Kami utus Nabi Nuh kepada kaumnya, lalu berkata :

“Wahai kaumku beribadahlah kepada Allah S.W.T., tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia, Aku merasa takut akan adzab-adzab siksa yang menimpa kalian pada hari yang amat besar”.

(Al-A’raaf : 59).54

49 Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al Quraisy. Pengantar Studi Aqidah Islam (Jakarta : Al

Manah, 1998) hlm. 169.

50 Suzane Haneef. Islam dan Muslim (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1993) I, hlm. 4. 51 Syarif Hamdan Rajih Madinah Al Munnawarah. Kalimat Tauhid…, op.cit., hlm. 14. 52 Abu A’la Al Maududi. Prinsip-Prinsip Islam (Bandung : Al Ma’arif, 1991), hlm. 70.

53 Abdurrazak Naufal. Sentuhan Kalbu Mukmin (Eksistensi Manusia di Hadapan Allah), (Bandung

: Diponegoro, 1982) I, hlm. 77.

54 Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta :

(43)

Kalimat tauhid laa Ilaha illallah mengandung arti tiada dzat yang disembah kecuali hanya Allah, dalam arti kata tidak ada sesuatu pun yang berhak dipertuhankan, yang berhak menerima ibadah kecuali hanya Allah S.W.T.55 Pengertian yang terkandung dalam kalimat laa Ilaha illallah ini untuk menetapkan tauhid uluhiyah yakni sebuah pernyataan terhadap peng-Esaan Allah dalam melakukan ibadah.56 Orang yang bertauhid uluhiyah harus mengabdi semata-mata kepada Allah dan tidak menyembah kepada yang lain yang dibangun di atas prinsip keikhlasan beribadah kepada-Nya dengan segenap lahir dan batin.57 Tauhid uluhiyah ini pada hakikatnya merupakan bagian dari tauhid rububiyah dan asma sifat-Nya. Tauhid rububiyah merupakan pengakuan peng-Esaan terhadap Allah Yang Maha Kuasa. Sedangkan tauhid asma dan sifat-Nya memiliki makna mensifati Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi dengan sifat yang telah Allah sendiri sifati zat-Nya dengan sifat yang telah Rasulullah sifati-zat-Nya dengan sifat yang sempurna. Apabila seorang hamba telah mentauhidkan Allah dalam uluhiyah-Nya terhadap makhluk ciptaan-uluhiyah-Nya, berarti ia telah menyatakan bahwa Allah itu Maha Suci dan satu-satunya dzat yang wajib disembah (diibadahi).58 Dari sinilah lahirnya “syahadah” (sebuah kesaksian) bahwa “Tidak ada Illah

kecuali Allah” (

ﷲاﻻا ﻪﻟاﻻ

)

makna kesaksian ini mencakup segala jenis

tauhid artinya dengan bersaksi demikian berarti secara otomatis bersaksi terhadap tauhid rububiyyah-Nya dan tauhid asma dan sifat-sifat-Nya.59 Tauhid ini yang membedakan antara orang yang bertauhid murni dengan orang yang bertauhid musyrik.

Dari pengakuan bahwa Allah pencipta segala sesuatu, di tangan-Nya-lah terletak kekuasaan atas segala sesuatu, maka mereka pun tetangan-Nya-lah

55 Ibrahim Al-Syaikh Shalih Al-Khuraisy. Pedoman Hidup Seorang Muslim (Jakarta : Pustaka

Azzam, 2000) I, hlm. 49.

56 Muhammad Said Al-Qahthani. Memurnikan Laa Ilaha Illallah (Jakarta : Gema Insani Press,

2002) XIII, hlm. 19..

57 Muhammad Naim Yasin. Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman (Jakarta : Gema Insani

Press, 1995) VII, hlm. 25.

58 Ibid., hlm. 26.

(44)

mengharuskan dirinya untuk beribadah kepada Allah semata dan secara pasti menolak serta menyingkirkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah.60 2. Syahadat Rasul

Bunyi persaksian yang kedua dalam agama Islam adalah wa asyhadu

anna muhammadan Rasulullah

(

ﷲا لﻮﺳر اﺪﻤﺤﻣ نا ﺪﻬﺷا

)

yang mempunyai

makna aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.61

Pengertian bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ialah mengetahui dan meyakini dalam hati secara kuat dan menjelaskan kepada orang lain bahwa Muhammad bin Abdullah adalah hamba dan rasul-Nya, diutus oleh Allah kepada seluruh makhluk-Nya wajib membenarkan dan mengikutinya.62 Dalam pengertian lain makna dari bersaksi bahwa “Muhammad Rasul Allah” adalah :

Artinya :“Taat kepada apa yang telah beliau perintahkan, membenarkan apa

yang telah beliau sampaikan, menjauhkan diri dari apa yang beliau larang, dan tidak menyembah kepada Allah atau beribadah kepada-Nya kecuali dengan cara yang telah Rasul (Muhammad) ajarkan”.63

Sebagaimana difirmankan oleh Allah S.W.T. :

ﻦﻳﺮﻔﻜﻟا ﺐﺤﻳ ﻻ ﷲا نﺎﻓ اﻮﻟﻮﺗ نﺎﻓ لﻮﺳﺮﻟاو ﷲاﻮﻐﻴﻃا ﻞﻗ

.

)

ناﺮﻣﻻا

:

32

.(

Artinya : “Katakanlah : Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kalian berpaling

maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Q.S.

Ali Imran : 32).64

60 Muhammad Ismail. Bunga Rampai Pemikiran Islam (Jakarta : Gema Insani Press, 1998) IV,

hlm. 39.

61 Sebuah kalimat pernyataan alternatif yang secara bergantian digunakan senada dengan

pernyataan di atas, adalah “……… Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Wa Rusuluhu” (………… dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).

62 Ali Yafie Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ihsan Secara Terpadu (Bandung :

Al Bayan, 1998) I, hlm. 29.

63 Syarif Hamdan Rajih Madinah Al Munawaroh. Kalimat Tauhid ..., op.cit., hlm. 73. 64 Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an. Al-Qur’an ..., op.cit., hlm. 80.

Referensi

Dokumen terkait

Ibadah merupakan suatu kewajiban bagi orang yang beriman. Beribadah kepada Tuhan yang maha Esa dengan baik, berarti telah. berakhlak mulia kepada Nya. Sebab ibadah

Dampak pilihan ini, maka apabila dia tetap merasa yakin dengan kebenaran Islam maka ucapkan dengan kalimat syahadat (tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan

Pada gambar sebelumnya kolase yang digunakan dapat dibuat menjadi beberapa kalimat sederhana, sedangkan dalam kolase yang terdapat dalam photovisi.com tersebut

Setelah menerima wahyu yang pertama itu maka Muhammad menjadi seorang utusan (rasul), sehingga dia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Allah SWT kepada umat

Hasil observasi menghafal nama-nama Allah melalui metode tahfidz pada pertemuan pertama siklus II pada aspek pertama murid dapat menghafal nama-nama Allah, maka murid

Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam kitab (al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat- ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan

a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah swt yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya kewajiban

BAB II PEMBAHASAN 2.Pengertian Agama islam Islam adalah agama yang di turunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh