1
BAB
1
SEJARAH KEMUNCULAN PERSOALAN KALAM
Dan DASAR-DASAR QUR’ANI
A. Definisi Ilmu Kalam
Kalam menurut bahasa ialah ilmu yang membicarakan/ membahas tentang masalah ketuhanan/ketauhidan. Ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan ( Allah ), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak ada pada-Nya dan sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya dan membicarakan tentang Rasul-Rasul Tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mungkin ada padanya, dan sifa-sifat yang terdapat padanya.
Ibnu khaldun mengatakan Ilmu kalam ialah ilmu yang berisi alasan – alasan mempertahankan kepercayaan – kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang – orang yang menyeleweng dari kepercayaan – kepercayaan aliran golongan Salaf dan Ahli sunah. Masih ada definisi lainnya akan tetapi kesemuanya itu berkisar pada persoalan kepercayaan diatas dan cara menguraikan kepercayaan – kepercayaan itu, yaitu kepercayaan tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya,tentang rasul-rasul dan sifat-sifatnya dan kebenaran keutusannya, demikian pula tentang kebenaran kabar yang dibawa Rasul itu, sekitar alam gaib, seperti akhirat dan seisinya. 1
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu kalam membahas tentang masalah ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalill-dalil yang meyakinkan. Ilmu kalam dinamakan ilmu kalam karena :
2 1. Persoalan penting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan Hijriah ialah ” firman Tuhan “( Kalam Allah ) dan non azalinya Quran ( Khalq Al Quran ).
2. Dasar ilmu kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil ini nampak jelas dalam pembicaraan para mutakalimin. Mereka jarang kembali keparda dalil naqli ( Quran dan Hadis ), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan lebih dahulu.
3. Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayan agama menyerupai logika dalam filsafat, maka pembuktian dalam agama ini dinamakan ilmu kalam untuk membedakannya dengan logika dalam filsafat.2
Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama antara lain : ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al – akbar, dan teologi Islam. Disebut Ilmu Ushuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (ushuluddin). Disebut ilmu Tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah SWT. Didalamnya dikaji pula tentang asma’(nama-nama) dan af’al(perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib,mustahil dan jai’iz, juga sifat yang wajib,mustahil,dan jai’iz, bagi Rasul-Nya. Ilmu Tauhid sendiri sebenarnya membahas keesaan Allah SWT, dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Secara objektif, ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu, sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dan ilmu tauhid.
kalam ini menyerupai ilmu Teologi bagi orang-orang Masehi. Ahli ilmu kalam disebut Mutakalimin. Golongan ini bisa dianggap sebagai golongan yang berdiri sendiri yang menggunakan akal pikiran ( alasan – alasan pikiran ) dalam memahami nas-nas ( teks- teks ) agama dan mempertahankan kepercayaan – kepercayaanya. Mereka berbeda dangan golongan Hambali yang berpegangan teguh pada kepercayaan – kepercayaan orang Salaf. Berbeda juga dengan orang tasawuf yang mendasarkan pengetahuannya ( ilmunya makrifah ) kepada pengalaman
3 batin dan renungan atau kasyf ( terbuka dengan sendirinya ). Mutakalimin juga berbeda dengan golongan filosof yang mengambil alih pemikiran –pemiikiran filsafat yunani dan yang menganggap bahwa filsafat itu benar-benar seluruhnya. Juga mereka berbeda dengan golongan Syiah Ta’limiyyah yang mengatakan bahwa dasar utama untuk ilmu, bukan yag didapati akal, bukan pula yang didapati dari dalil naqal ( quran dan hadis ),tetapi didapati dari imam-imam mereka yang suci ( maksum ). 3
B. Sumber – sumber Ilmu Kalam 1. Al-Quran
Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf, berbahasa Arab, dinukilkan kepada kita dengan jalan-jalan mutawatir,diawali dengan surah Al-Fatihah, diakhiri dengan surah An-Nas dan membacanya merupakan ibadah. Alquran menjelaskan rambu-rambu masalah aqidah secara rinci namun masalah ibadah dan hak-hak antar sesama dengan cara garis besar. Dalam syariat islam Alquran adalah undang – undang dalam menetapkan hukum sosial. Ia sebagai tuntunan Nabi dan pengikutnya, karenanya ia sebagai sumber utama dan pertama. Sebagai sumber ilmu kalam,Al-Quran banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantaranya adalah :
a. Q.S Al-Ikhlas : 3-4
ملو دلي مل
دل وي
ׁ
دحا اوفك هل وكي مل و
ׁ
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatupun didunia ini yang tampak sekutu dan sejajar dengan-Nya.
b. Q.S Asy-Syura : 7
4
ق كيلا انيحوا كل ذكو
ذنتو اهلوح نمو ى رقلا ما ر ذنتل ايبرع اناء ر
هيف بير لا عمجلاموي ر
ريعسا يف قيرفو ةنجلا يف قيرف
ׁ
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun didunia ini, ia Maha mendengar dan Maha mengetahui.
c. Q.S Al-Furqan :59
ىوتسا مث م ايأ ةتس يف امهنيب امو ضرلااو تومسلا قلخ ىذلا
يلع
اريبخ هب لئسف نمح رل ا شرعلا
ׁ
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan yang Maha penyayang bertahta diatas “ Arsy “ Ia pencipta langit, bumi dan semua yang ada diantara keduanya.
d. Q.S Al-Fath : 10
إف ثكن نمف مهيديٲ قوف الله دي الله نوعي ابي امنٳ كنوعي ابي ني ذلا نا
وٲ نمو ۖ هسفن ىلع ثكني امن
ارجا هيت ؤيسف الله هيلع دهع امب ىف
اميظع
ׁ
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “ tangan “ yang selalu berada diatas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan jalan Allah. e. Q.S An-Nisa : 125
نمم انيد نسحٲ نمو
و ملسٲ
ميهربٳ ةلم عبتاو نسحم وهو لله , ههج
لايلخ ميهربٳ الله اذختاو ۗ افينح
ׁ
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan menurunkan aturan berupa agama, seseorang dikatakan telah melaksanakan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah. 2. Hadits
Hadis adalah apa-apa yang datang dari Nabi berupa perkataan,perbuatan,persetujuan,sifat-sifat beliau baik sifat jasmani atau sifat –sifat akhlak. Hadis atau sunah merupakan sumber syari’at
5 Islam setelah Al-Quran. Hadis juga merupakan sumber hukum independent (mustaqil) yang tidak ada hukumnya dalam Al-Quran, contoh hadis yang kemudian dipahami sebagian ulama sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam ilmu kalam. “ Hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “ orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan pecah menjadi tujuh puluh golongan”. “ Hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar : ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “ akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil telah terpecah belah menjadi 7 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka,, kecuali satu golongan saja, siapa mereka itu wahai Rasulullah ?. tanya para sahabat, Rasulullah menjawab “ mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku “.
Syekh Abdul Qadir mengomentari bahwa hadis yang berkaitan dengan masalah faksi umat ini yang nerupakan salah satu kajian ilmu kalam mempunyai sanad yang banyak. Keberadaan hadis yang berkaitan dengan perpecahan umat seperti diatas, pada dasarnya merupakan predisi nabi dengan melihat yang tersimpan dalam hati para sahabatnya. Oleh sebab itu, sering dikatakan bahwa hadis-hadis seperti itu llebih dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat Nabi tentang bahayanya perpecahan dan pentingnya persatuan.
3. Pemikiran manusia
Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang didunia Islam, umat islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat – ayat Al-Quran terutama yang belum jelas maksudnya ( al-mutasyabihat ) keharusan untuk menggunakan rasio ternyata mendapat pijakan dari beberapa ayat A-Quran diantaranya : Q.S Muhammad ayat 24
6
رقلا نوربدتي لافا
اهلافقا بولق يلع ما نا
Artinya : “ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci ?”
Adapun sumber ilmu kalam berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori :
a. Pemikiran non muslim yanng telah menjadi paradaban lalu ditransfer dan diasimilasikan dengan pemikiran Islam.
b. Berupa pemikiran – pemikiran non muslim yang bersifat akademis, seperti filsafat ( terutama dari Yunani ) sejarah dan sains.
4. Insting
Kepercayaan adanya Tuhan secara instingtif telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh karena itu sangat wajar kalau William L. Resee mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan yang dikenal dengan istilah theologia, telah berkembang sejak lama, ia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos ( theologia was origining viewed as concerned with
myth ). Selanjutnya teologi itu berkembang menjadi ( Theologi
natural/teologi alam ) dan reeled the theologi ( teologi wahyu ) 4
C. Sejarah Timbulnya Persoalan-Persoalan Teologi (Ilmu Kalam) Dalam Islam
Sejarah mengatakan bahwa setalah wafatnya Nabi Abu Bakar lah yang disetujui oleh masyarakat islam di waktu itu untuk menjadi penggati atau khalifah Nabi dalam mengepalai Madinah. Kemudian Abu Bakar digantikan oleh Umar Ibn Khattab dan kemudian digantikan oleh Usman Ibn ‘Affan.
Usman termasuk dalam golongan pedagang Quraisy yang kaya. Kaum keluarganya terdiri dari orang ariskorat Mekkah yang karena
7 pengalaman dagang mereka, mempunyai pengetahuan tentang administrasi. Pengetahuan mereka ini bermanfaat dalam memimpin administrasi daerah-daerah di luar semenanjung Arabia yg bertambah banyak dan masuk dalam kekuasaan islam. Ahli sejarah menggambarkan ‘Usman sebagai orang yang lemah dan tak sanggup menentang ambisi kaum keluarganya yang kaya dan berpengaruh itu. Ia mengangkat mereka menjadi gubernur di daerah yang tunduk kepada kekuasaan islam. Sedangkan gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar Ibn al- Khattab, khalifah yang terkenal sebagai orang kuat dan tak memikirkan kepentingan keluarganya, dijatuhkan oleh Usman.
Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Usman ini menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi dirinya, Sahabat-sahabat Nabi yang pada mulanya menyokong Usman ketika melihat tindakan yang kurang tepat itu, mulai meninggalkan khalifah yang ke tiga ini. Perkembangan suasana di Madinah selanjutnya membawa pada pembunuhan Usman oleh pemuka-pemuka pemberontak dari Mesir.
Setelah Usman wafat Ali menjadi calon khalifah yang keempat. Segera mendapatkan tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah. Tantangan pertama datang dari Zubayr dan °alhah di Mekah, yang memperoleh dukungan dari Aisyah isteri Rasulullah. Tantangan dari tiga pemuka ini dapat dipatahkan oleh Ali dalam pertempuran di Idlak pada tahun 656 M ‘Alhah dan Zubayr mati terbunuh sedangkan Aisyah di antar kembali ke Mekkah.
Tantangan lain yang lebih dahsyat lagi datang dari pihak Mu’awiyah, gubernur Damaskus mendapat dukungan dari keluarga Usman, menuntut Ali untuk menghukum pembunuh-pembunuh Usman, bahkan menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan itu. Salah seorang pemuka pemberontak datang dari Madinah yang membunuh Usman adalah anak angkat dari Ali bin Abi Thalib, yaitu Muhammad ibn Abi Bakar dan ternyata pula Ali tidak menghukum anak angkatnya tersebut malah kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Mesir.
8 Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Shiffin, tentara Ali dapat mendesak tentara Muawiyah tersebut bersedia untuk lari. Amr ibn Al-Ash yang terkenal licik merupakan tangan kanan Mu’awiyah, minta berdamai dengan pihak Ali dengan mengangkat Al-Qur’an ke atas. Dalam perundingan perdamaian yang disebut tahkim (arbitrase) itu, pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari seorang moralis berhadapan dengan Amr ibn Al-Ash yang mewakili pihak Mu’awiyah . mengalahkan perasaan takwa Abu Musa.
Sejarah mengatakan antara keduanya terdapat pemufakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan, Ali dan Mu’awiyah. Tradisi menyebut bahwa Abu Musa al-Asy’ari, sebagai yang tertua, terlebih dahulu mengumumkan kepada orang ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Berlainan dengan apa yang telah disetujui, Amr Ibn al-As, mengumumkan hanya menyetujui penjatuhan Ali yang telah diumumkan Abu Musa tetapi menolak penjatuhan Muawiyah.
Sebagian pengikut ‘Ali, yang sejak semula tidak menyetujui diadakan tahkim, apa lagi terbukti tahkim itu tidak menguntungkan mereka, mereka memandang Ali telah melakukan penyimpangan dari hukum Allah. Mereka menganggap perselisihan itu tidak dapat diputuskan lewat tahkim buatan manusia. Putusan hendaknya dari Allah, dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur'an. Karena itu, mereka keluar dari barisan Ali bahkan kemudian menjadi musuh Ali, Dari sikap mereka yang demikian itulah mereka disebut kaum Al-Khawarij yakni golongan yang memisahkan dari kesatuannya.
Dari latar belakang itu, timbullah konsep dosa besar yang diadakan oleh kaum khawarij. Mereka memandang bahwa tahkim itu sebagai suatu dosa besar. Karena itu, Ali bersama orang yang terlibat dalam
tahkim, yaitu Mu’awiyah, Amr ibn Al-Ash, Abu Musa Al-Asy’ari adalah
9 orang-orang tersebut telah menjadi kafir murtad karena melakukan
tahkim di luar ketentuan hukum Allah.
Untuk memperkuat alasan mereka, kaum Khawarij mengemukakan ayat al-Qur'an.
Al-Ma’idah : (5) 44
...
نوريفكلا مه كئلوأف الله لزن أ آمب مكحي مل نم
ׁ
Persoalan - persoalan yang terjadi dalam lapangan politik sebagai digambarkan di atas inilah yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi. Timbullah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang masih tetap dalam islam. Khawarij memandang bahwa Ali, Muawiyah, Amr Ibn al-As, Abu Musa al-Asy’ari dan yang lain-lain yang menerima arbitrase adalah kafir.
Lambat laun kaum Khawarij pecah menjadi beberapa sekte. Konsep kafir turut pula mengalami perubahan. Yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan Al-Qur’an, akan tetapi orang yang berbuat dosa besar, yaitu murtakib
kaba’ir atau capital sinners, juga dipandang kafir.Persoalan orang
berbuat dosa inilah kemudian yang mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan teologi selanjutnya dalam islam. Persoalnnya adalah: masikah ia bisa dipandang orang mukmin ataukah ia sudah menjadi kafir karena berbuat dosa sebesar itu?
Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam. Pertama aliran Khawarij yang mengatakan bahwa orang berdosa besar adalah kafir, oleh karena itu wajib dibunuh. Aliran kedua ialah Mur’jiah yang menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa tetap mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya, terserah kepada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak mengampuninya.
Kaum Mu’tazilah sebagai aliran ketiga tidak menerima pendapat-pendapat di atas. Bagi mereka orang berdosa yang besar bukan kafir, tetapi bukan pula mukmin, yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah al-manzilah bain al-manzilatain (posisi diantara dua posisi).
10 Dalam pada itu timbul pula dalam Islam dua aliran dalam teologi yang terkenal dengan nama al-qadariah dan al-jabariah. Menurut qadariah manusia memiliki kemerdekaan dalam bentuk kehendak dan perbuatannya ( free will dan free act) Sedangkan Jabariah sebaliknya, manusia dalam segala tingkahlakunya bertindak dengan paksaan tuhan. Segala gerak-gerikn manusia ditentukan oleh tuhan (predestination atau
fatalism).
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam Islam ialah aliran Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariah dan Maturidiah. Aliran Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah tak mempunyai wujud kecuali dalam sejarah. Denga masuknya kembali paham rasionalisme ke dunia islam, yang kalau dahulu masuknya itu melalui kebudayaan yunani kelasik akan tetapi sekarang melalui kebudayaan Barat Modern, maka ajaran-ajaran Mu’tazilah mulai timbul kembali, terutama sekali dikalangan kaum intelegensi islam yang mendapat pendidikan barat.5 Diskusi bersama (Dr. Sumarto : 2017)
11 Ilmu kalam
Konsep komprohensif aliran-aliran pemikiran
islam
Setelah Rasulullah SAW wafat
Tauhid Ushuludin Fiqih
Studi deskripsi, explanation, justifikasi
Politik sosial budaya
kepemimpinan kemasyarakatan Tradisi
Ali bin abi tholib
khawarij Asy’ariah Syi’ah
12
BAB
2
KERANGKA BERFIKIR ALIRAN-ALIRAN ILMU
KALAM DAN HUBUNGAN ANTARA ILMU KALAM,
FILSAFAT dan TASAWUF
A. Kerangka Berpikir Aliran – Aliran Ilmu Kalam
Untuk mengkaji aliran – aliran ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya untuk memahami kerangka berpikir serta proses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan persoalan – persoalan kalam. Pada dasarnya, potensi yang dimiliki setiap manusia yang baik berupa potensi biologis maupun potensi psikologis yang secara natural adalah sangat distingtif. Oleh sebab itu, perbedaan kesimpulan antara satu pemikiran dengan pemikiran lainnya dalam mengkaji suatu objek tertentu merupakan suatu hal yang bersifat natural pula.
Dalam kaitan ini, Waliyullah Ad-Dahlawi pernah mengatakan bahwa para sahabat dan tabi’in biasa berbeda pendapat dalam mengkaji suatu masalah tertentu. Beberapa indikasi yang menjadi pemicu perbedaan pendapat diantara mereka adalah terdapat beberapa sahabat yang mendengarkan keputusan hukum yang diputuskan oleh Nabi, sementara sahabat yang lainnya tidak mendengarkan keputusan hukum dari Nabi. Para sahabat yang tidak mendengar keputusan hukum dari Nabi itu lalu berijtihad. Dari sini kemudian terjadi perbedaan pendapat dalam memutuskan suatu ketentuan hukum.
Mengenai sebab-sebab pemicu perbedaan pendapat, Ad-Dahlawi tampaknya lebih menekankan aspek subjek pembuatan keputusan sebagai pemicu perbedaan pendapat. Penekanan serupa pun pernah dikatakan Imam Munawwir. Ia mengatakan bahwa perbedaan pendapat di dalam Islam lebih dilatarbelakangi adanya beberapa hal yang
13
menyangkut kapasitas dan kredibilitas seseorang sebagai figur pembuat keputusan. Lain lagi dengan yang dikatakan Umar Sulaiman Asy-Syaqar. Ia lebih menekankan aspek objek keputusan sebagai pemicu terjadinya perbedaan pendapat. Menurutnya, ada tiga persoalan yang
menjadi objek perbedaan pendapat, yaitu persoalan
keyakinan (aqa‘id),persoalan syariah, dan persoalan politik.
Bertolak dari ketiga pandangan diatas, perbedaan pendapat di dalam masalah objek teologi sebenarnya berkaitan erat dengan metode bepikir aliran-aliran Ilmu Kalam dalam menguraikan objek pengkajian (persoalan-persoalan kalam). Perbedaan cara berpikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu metode bepikir rasional dan metode berpikir tradisional. Metode berpikir rasional memiliki prinsip berikut ini:
1. Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas disebut dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Yakni ayat yang gathi (ayat yang tidak boleh disamakan dengan arti lain).
2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak.
3. Serta memberikan daya yang kuat kepada akal. Metode berpikir tradisional memiliki prinsip berikut ini:
1. Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti zhanni (yang boleh mengandung arti lain selain dari arti harfinya).
2. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
3. Memberikan daya yang kecil kepada akal
Metode berpikir kedua macam di atas, terutama menyangkut peranan akal dan wahyu. Teologi rasional memberikan peranan yang besar terhadap akal. Dalam pandangan teologi ini, akal dapat mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, baik dan jahat, kewajiban mengerjakan yang baik dan kewajiban menjahui yang jahat. Adapun teologi tradisional memberikan peranan yang kecil terhadap
14
akal. Hanya mengetahui Tuhanlah yang dapat dijangkau akal dan selebihnya dietahui wahyu.
Aliran teologi yang sering disebut-sebut memiliki cara berpikir teologi rasional adalah Mu’tazilah. oleh karena itu, Mu’tazilah dikenal sebagai aliran yang bersifat rasional dan liberal. Adapun teologi yang sering disebut-sebut memiliki metode berpikir tradisional adalah Asy’ariyah. Mengenyampingkan pengategorian teologi rasional dan teologi tradisional, dikenal pula pengategorian akibat adanya perbedaan kerangka berpikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam.
B. Aliran Antroposentris
Aliran antroposentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan impersonal. Ia berhubungan erat dengan masyarakat kosmos baik yang natural maupun yang supra natural dalam arti unsur-unsurnya. Manusia adalah anak kosmos. Unsur supranatural dalam dirinya merupakan sumber kekuatannya. Tugas manusia adalah melepaskan unsure natural yang jahat. Dengan demikian, manusia harus mampu menghapus kepribadian kemanusiannya untuk meraih kemerdekaan dari lilitan naturalnya. Orang yang tergolong dalam kelompok ini berpandangan negatif terhadap dunia karena menganggap keselamatan dirinya terletak pada kemampuannya untuk membuang semua hasrat dan keinginannya. Sementara ketakwaan lebih diorientasaikan kepada praktek-praktek pertapaan dan konsep-konsep magis. Tujuan hidupnya bermaksud menyusun kepribadiannya kedalam realita impersonalnya.
Manusia antroposentris sangat dinamis karena menganggap hakekat realitas transenden yang bersifat intrakosmos dan inpersonal dating kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya ini berupa potensi yang menjadikannya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia yang memilih kebaikan akan memperileh keuntungan melimpah (surge), sedangkan manusia yang
15
memilih kejahatan, ia akan memperoleh kerugian melimpah pula (neraka). Dengan dayanya, manusia mempunyai kebebasan mutlak tanpa campur tangan realitas transenden. Aliran teologi yang termasuk dalam katagori ini adalah Qadariyah, Mu’tazilah dan Syi’ah.
Anshari menganggap manusia yang berpandangan antroposentris sebagai sufi adalah mereka yang berpandangan mistis dan statis. Padahal manusia antroposentris sangat dinamis karena menganggap realitas transenden yang bersifat intrakosmos dan impersonal datang kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya itu berupa potensi yan menjadikannyamampu membedakan mana yang baik dan mana yamg jahat. Manusia yang memilih kebaikan akan memperoleh keuntungan melimpah (surga), sedangkan manusia yang memilih kejahatan, ia akan memeroleh kerugian melimpah pula (neraka). Dengan dayanya, manusia mempunyai kebebasan mutlak tanpa campur tangan realitas transenden.aliran teologi yang termasuk dalam kategori ini adalah Qadariah, Mu’tazilah dan Syi’ah.6
C. Teolog Teosentris
Aliran teosentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat Suprakosmos, personal dan ketuhanan, Aliran teosentris menganggap daya yang menjadi potensi perbuatan baik atau jahat bisa datang sewaktu-waktu dari Tuhan. Aliran ini yang tegolong kategori Jabbariyah. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di kosmos ini, Ia dengan segala kekuasaan-Nya, mampu berbuat apa saja secara mutlak Sewaktu-waktu ia dapat muncul pada masyarakat kosmos. Dan manusia adalah makhluk ciptaan-Nya sehingga harus berkarya hanyauntuk-Nya.Manusia teosentris adalah manusia statis karena sering terjebak dalam kepasrahan mutlak kepada tuhan. Bagianya, segala sesuatu/perbuatanya pada hakikatnya adalah aktiitas tuhan. Ia tidak mempunyai ketetapan lain, kecuali apa yang telah ditetapkan
6 Abdul Rozak, dan Rohison Anwar Ilmu kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia,
16
Tuhan.Sikap kepasrahan menandakan ia tidak mempuyai pilihan. Baginya segala perbuatannya pada hakikatnya adalah aktivitas Tuhan . ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali apa yang telah ditetapkan Tuhan. Denagn cara itu Tuhan menjadi penguasa mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Tuhan bisa saja memasukkan manusia jahat kedalam keuntungan yang melimpah (surga). Begitu pula, Dia dapat memasukkan manusia yang taat dalam situasi yang serba rugi yang terus-menerus (neraka).
Didalam kondisi yang serba relatif, diri manusia adalah migran abadi yang aka segera kembali kepada Tuhan. Untuk itu manusia harus mampu meningkatkan keselarasan dengan realitas tertinggi dan transenden melalui ketakwaan. Dengan ketakwaannya, manusia akan memperoleh kesempurnaan yang layak, sesuai dengan naturalnya. Dengan kesempurnaan itu pula, manusia akan menjadi sosok yang ideal, yang mampu memancarkan atribut-atribut ketuhanan dalam cermin dirinya. Kondisi semacam inilah yang pada saatnya nanti akan menyelamatkan nasibnya di masa yang akan datang.
Oleh sebab itu, ada kalanya manusia mampu melaksanakan sesuatu perbuatan tatkala ada daya yang datang kepadanya. Sebaliknya ia mampu melaksanakan suatu perbuatan apapun tatkala ia ada daya yang datang kepadanya. Dengan perantara daya, Tuhan selalu campur tangan. Bahkan bisa dikatakan manusia tidak ada daya sama sekali terhadap segala perbuatannya. Aliran teologi yang tergolong dalam kategori ini adalah Jabbariyah.7
D. Hubungan ilmu kalam, ilmu tasawuf dan filsafat 1. Titik persamaan
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping
17 masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
Argumentasi filsafat, ilmu kalam di bangun di atas dasar logika. Oleh karena itu , hasil kajiannya bersipat spekulatif ( dugaan yang tak dapat di buktikan secara empiris, riset, dan eksperimental. Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamnya kebenaran yang di hasilkan.
Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang berkaitan dengannya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran , baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas jangkauannya), atau tentang tuhan. Sementara itu tasawuf juga dengan metodenya yang tifikal berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan menuju Tuhan.8
2. Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika, disamping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliyah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argemen rasional. Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
18 Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memproleh kebenaran rasional. Metode yang digunakan pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh)
serta universal (mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali ikatan tangannnya sendiri yang bernama logika. 9 Berpikir radikal, radix artinya akar, sehingga berpikir radikal artinya sampai keakar suatu masalah, mendalam sampai ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas fisik yang ada, memasuki medan pengembaraan diluar suatu yang fisik.Berfilsafat adalah berpikir dalam tahap makna,ia mencari hakikat makna dari sesuatu atau keberadaan dan kehadiran.10
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseoarang. itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tanpak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memproleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable (dapat diinterpretasikan bermacam-macam).
Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawuf. Oleh sebab itu, merupakan suatu kekeliruan apabila dialektika kefilsafatan atau tasawuf teoretis
9 Ibid., hlm 40-41.
19 diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya rational jumping (lompatan pemikiran). 11
3. Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosopis. Adapun argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi dalil-dalil al-qur’an dan Hadis. Ilmu kalam sering menempatkan diri pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), tetapi dengan metode argumentasi yang dialektik.
Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat sama’ (mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara), iradah (berkemauan) , qudrah (kuasa),hayat (hidup), dan sebagainya.Namun Ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihat. Ketika membaca al-qur’an dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari qudrah (kekuasaan) Allah SWT?
Pertanyaan-pertanyaan ini sulit terjawab ketika hanya melandaskan diri pada Ilmu tauhid atau Ilmu Kalam ,dan biasanya yang membicarakan tentang penghayatan hingga sampai pada penamaan kejiwaan manusia ,adalah ilmu Tasawuf.Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai Aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq ((bagaimana merasakan) tidak saja dalam permasalahan
20 perkara-perkara yang sunnah atau sesuatu yang mustahab (dianjurkan), justru akan menemukan perkara-perkara yang diwajibkan .
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, seperti dijelaskan juga tentang menyelamatkan diri dari kemunafikan.
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam melalui hati (dzauq danwijdan) tehadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu tasawuf lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.
Ilmu kalam berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan aqidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Selain itu, ilmu tasawuf juga berfungsi sebagai pemberi kesadaranrohaniah dalam pedebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional dan muatan aqliyah. Jika tidak diimbangi oleh kesadaran rohaniah , ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas.
Hubungan ilmu tasawuf dan ilmu tauhid dalam buku yang berjudul Asma Al-Husna , Al-Ghazali menjelaskan dengan baik mengenai persoalan tauhid kepada Allah SWT, terutama berkenaan dengan nama-nama Allah SWT yang merupakan materi pokok ilmu tauhid. Nama Tuhan Ar-Rahman dan Al-Rahim, pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat
Ar-21 Rahman diaplikasikan, seseorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran; melihat orang dengan mata rahim, bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahkan ke-rahim-annya kepada orang yang durhaka agar orang tersebut dapat diselamatkan.Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna , tidak kaku, bahkan akan lebih dinamis dan aplikatif.12
22
BAB
3
KHAWARIJ dan MURJI’AH
A. Khawarij
1. Latar Belakang Kemunculan Khawarij
Kata khawarij secara etimologis berasal dari bahasa Arab kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. berkenaan dengan pengertian etimologis ini, syahrastani menyebut orang yang memberontak imam yang sah sebagai khawarij. berdasarkan pengertian etimologi ini pula, Khawarij berarti setiap muslim yang memiliki sikap laten ingin keluar dari kesatuan umat islam.
Adapun yang dimaksud khawarij dalam terminology ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena tidak sepakat dengan Ali yang menerima arbitrase/tahkim dalam Perang Siffin pada tahun 37 H/648 M dengan kelompok bughat (pemberontakan) Mu’awiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah. Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada pada pihak yang benar karena Ali merupakan khalifah sah yang telah di bai’at mayoritas umat Islam, sementara Mu’awiyah berada pada pihak yang salah karena memberontak kepada khalifah yang sah. Lagi pula, berdasarkan estimasi Khawarij, pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada peperangan itu, tetapi karena Ali menerima tip daya licik ajakan damai Mu’awiyah, kemenangan yang hamper diraih itu menjadi raib.
Ali sebenarnya sudah mencium kelicikan dibalik ajakan damai kelompok Mu’awiyah, sehingga pada mulanya Ali menolak permintaan itu. Akan tetapi, karena desakan sebagian pengikutnya terutama ahli qurra’, seperti Al-Asy’ats bin Qais, Mas’ud bin Fudaki At-Tamimi, dan
23 Zaid bin Husein Ath-Tha’i, dengan terpaksa Ali memerintahkanAl-Asytar (komandan pasukan Ali) untuk menghentikan peperangan.
Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damai (hakam)-nya, tetapi orang-orag Khawarij menolaknya dengan alas an bahwa Abdullah bin Abbas adalah orang yang berasal dari kelompok Ali. Mereka lalu mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah. Keputusan Tahkim, yaitu Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah oleh utusannya. Sementara Mu’awiyah dinobatkan menjadi khalifah oleh delegasinya pula sebagai pengganti Ali, akhirnya mengecewakan orang-orang Khawarij. Sejak itulah orang-orang Khawarij membelot dengan mengatakan, “Mengapa kalian berjukum kepada manusia? Tidak ada hukum selain hukum yang ada pada sisi Allah.” Mengomentari perkataan mereka, Imam Ali menjawab, “Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.” Pada waktu itulah orang-orang Khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju hurura sehingga Khawarij disebut juga dengan nama Hururia. Kadang-kadang mereka disebut dengan Syurah dan Al-Mariqah.
Di Harura, kelompok Khawarij melanjutkan perlawanan selain kepada Mu’awiyah juga kepada Ali. Disana mereka mengangkat seorang pimpinan definitif yang bernama Abdulah bin Sahab Ar-Rasyibi. Sebelumnya mereka dipandu Abdullah Al-Kiwa untuk sampai ke Harura.13
Asal mulanya kaum khawarij adalah orang-orang yang mendukung Sayyidina Ali. Akan tetapi akhirnya mereka membencinya karena dianggap lemah dalam menegakkan kebenaran, mau menerima tahkim
13 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
24 yang sangat mengecewakan, sebagaimana mereka juga membenci Sayyidina Ali khalifah yang sah.14
Khawarij ini timbul setelah Perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyah. Peperangan itu diakhiri dengan gencatan senjata, untuk mengadakan perundingan antara kedua belah pihak. Golongan khawarij adalah pengikut Ali yang tidak setuju dengan adanya gencatan senjata dan perundingan itu. Mereka memisahkan diri dari pihak Ali, dan jadilah penentang Ali dan Mu’awiyah. Mereka mengatakan Ali tidak konsekuen dalam membela kebenra. Aliran ini saat itu sempat berkembang dan tersebar keseluruh pelosok. Mereka menjadi oposisi berat pemerintahan Umayyah, hingga kemudian menyebabkan runthnya Daulah Umayyah bagian Timur.
Seorang yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani, dapat mempengarhi golongan ini untuk menggulingkan pemerintahan Mu’awiyah di Parsi. Setelah Khawarij ini berkembang setelah dua abad, datang pulalah saat runtuhnya, yang akhirnya lenyap sampai sekarang. Pada masa jayanya dalam aliran ini timbul beberapa perpecahan. Tetapi dalam beberapa pandangan pokoknya, tetap pada pendirian yang sama, yaitu :
1. Ali, Utsman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal, dan orang-orang yang setuju dengan adanya perundingan antara Ali dan Mu’awiyah, semua dihukumkan orang-orang kafir.
2. Setiap umat Muhammad yang terus-menerus membuat dosa besar, hingga matinya belum tobat, orang itu dihukumkan kafir dan akan kekal di neraka. Di samping itu, ada sekelompok Khawarij yang yang menyebut dirinya dalam golongan Najdah, mereka tidak
14 Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), Cet. I, (Jakarta: PT Raja Grafindo
25 menghukumkan orang-orang yang demikian sebagai kafir mutlak, hanya kafir terhadap Allah saja.
3. Boleh keluar dan mematuhi aturan-aturan kepala Negara, bila ternyata kepala Negara itu seorang yang zalim atau khianat.15
4. Doktrin-doktrin Pokok Khawarij
Diantara doktrin-doktrin pokok Khawarij adalah:
a. Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam,
b. Khalifah tidak harus keturunan dari Arab,
c. Setiap orang muslim berhak menjadi Khalifah asal sudah memenuhi syarat,
d. Khalifah dipilih secara pemanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh jika melakukan kezaliman,
e. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman r.a. dianggap telah menyeleweng,
f. Khalifah Ali juga sah, tetapi setelah terjadi arbitrase, ia dianggap menyeleweng,
g. Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah dianggap kafir,
h. Pasukan Perang Jamal yang melawan Ali juga kafir,
i. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim karennya harus dibunuh. Mereka menganggap bahwa seorang muslim tidak lagi muslim (kafir) disebabkan tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir, dengan risiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula,
j. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan glongan mereka. Apabila tidak mau bergabung, ia wajib diprangi karna hidup
26 dalam dar al harb (Negara musuh), sedangkan golongan mereka dianggap berada dalam dar al Islam (Negara islam),
k. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng, l. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga,
sedangkan yang jahat harus masuk kedalam neraka), m. Amar makruf nahi mungkar,
n. Memalingkan ayat-ayat Al-Quran yang tampak mutasyabihat (samar),
o. Al-Quran adalah makhluk,
p. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan. Apabila di analisis secara mendalam, doktrin yang dikembangkan kaum Khawarij dapat dikategorikan kedalam tiga kategori, yaitu politik, teologi, dan sosial. Doktrin Khawarij dari poin a sampai dengan poin h dapat dikategorikan sebagai doktrin politik sebab membicarakan hal-hal yang berhubugan dengan masalah kenegaraan, khususnya tentang kepala Negara (khalifah).
Melihat pengertian politik secara praktis yaitu kemahira bernegara, atau kemahiran berupaya menyelidiki manusia dalam memperoleh kekuasaan, atau kemahiran mengenai latar belakang, motivasi dan hasrat manusia ingin memperoleh kekuasaan. Kahawrij dikatakan sebagai sebuah Partai politik. Dan Politik merupakan doktrin sentral Khawarij.
Kelompok khawarij menolak untuk dipimpin orang yang dianggap tidak pantas. Jalan pintas yang ditempuh adalah membunuhnya, termasuk orang yang mengusahakannya menjadi khalifah. Dikumandangkanlah sikap bergerilya untuk membunuh mereka. Dibuat pula doktrin teologi tentang dosa besar sebgaimana tertera pada poin i dan j. akibat doktrinya menentang pemerintah, khawarij harus menanggung akibatnya. Kelompok ini selalu dikejar-kejar dan ditumpas pemerintah. Lalu, perkembangannya sebagaimana dituturkan Harun
27 Nasution, kelompok ini sebagian besar sudah musnah. Sisa-sisanya terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, dan Arabia Selatan.
Adapun doktrin-doktrin selanjutnya yaitu dari poin k sampai p, dapat dikategorikan sebagai doktrin teologis-sosial. Doktrin ini memperlihatkan kesalehan asli kelompok Khawarij, sehingga sebagian pengamat menganggap doktrin-doktrin ini lebih mirip dengan doktrin Mu’tazilah, meskipun kebenaran adanya doktrin ini dalam wacana kelompok Khawarij masih patut dikaji lebih mendalam. Sebab, dapat diasumsikan bahwa orang-orang yang keras dalam pelaksanaan ajaran agama, sebagaimana dilakukan oleh kelompok Khawarij cenderung berwatak tekstualis/skripturalis, sehingga menjadi fundamentalis.16
2. Perkembangan Khawarij
Khawarij, sebagaimana telah dikemukakan, telah menjadikan imamah/khilafah/politik sebagai doktrin sentral yang memicu timbulnya doktrin-doktrin teologis lainnya. Radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok Khawarij menyebabkannya sangat rentan pada perpecahan, baik secara internal kaum Khawarij maupun secara eksternal dengan sesame kelompok Islam lainnya. Para pengamat telah berbeda pendapat tentang berapa banyak perpecahan yang terjadi dalam tubuh kaum Khawarij. Al-Bagdadi mengatakan bahwa sekte ini telah pecah menjadi 20 subsekte. Harun mengatakan bahwa sekte ini telah pecah menjadi 18 subsekte. Adapun Al-Asfarayani, seperti dikutip Bagdadi bahwa sekte ini telah pecah menjadi 22 subsekte.
Terlepas dari beberapa banyak subsekte pecahan Khawarij yang besar hanya ada 8, yaitu :
a. Al-Muhakkimah b. Al-Azriqah
16 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
28 c. An-Najdat d. Al-Baihasiyah e. Al-Ajaridah f. As-Saalabiyah g. Al-Abadiyah h. As-Sufriyah
Semua subsekte itu membicarakan persoalan hukum orang yang berbuat dosa besar, apakah masih mukmin atau telah menjadi kafir. Tampaknya doktrin teologi tetap menjadi primadona pemikiran mereka, sedangkan doktrin-doktrin yang lain hanya menjadi pelengkap.
Semua aliran yang bersikap radikal pada perkembangan lebih lanjut dikategorikan sebagai aliran Khawarij, Selama terdapat indikasi doktrin yang identik dengan aliran ini. Berkenaan dengan persoalan ini Harun mengidentifikasi beberapa indikasi aliran yang dapat dikategorikan sebagai aliran Khawarij masa kini, yaitu :
a. Mudah mengafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganut agama Islam;
b. Islam yang benar adalah Islam yang mereka pahami dan amalkan, sedangkan Islam sebagaimana yang dipahami dan diamalkan golongan lain tidak benar;
c. Orang-otang Islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke Islam yang sebenarnya yaitu Islam seperti yang mereka pahami dan amalkan;
d. Karena pemerintahan dan ulama yang tidak sepaham dengan mereka adalah sesat, ereka memilih imam dari golongannya, yaitu imam dalam arti pemuka agama dan pemuka pemerintahan;
29 e. Mereka bersikap fanatik dalam faham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan pembunuhan untuk mencapai tujuannya.17
B. Al-Murji’ah
1. Latar belakang kemunculan Murji’ah
Nama Murji’ah diambil dari kata irja’ atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan, yaitu kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah SWT. selain itu, arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu murjiah artinya yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yaitu Ali dan Mu’awiyah, serta seiap pasukannya pada hari kiamat kelak.
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murji’ah. Teori pertama mengatakan bahwa gagasan irja, atau arja’a dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam keika terjadi pertikaian politik dan untuk menghindari sektarianisme. Murji’ah baik sebagai kelompok politik maupun teologis, diperkirakan lahir bersama dengan kemunculan Syi’ah dan Khawarij. Murji’ah pada saat itu merupakan musuh berat Khawarij.
Teori lain mengatakan bahwa gagasan irja’ yang merupakan basis doktrin Murji’ah muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun 695. Watt, penggagas teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah meninggalnya Mu’awiyah tahun 680, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil, yaitu Al-Mukhtar membawa paham
17 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
30 Syi’ah ke Kufah dari tahun 685-687; Ibnu Zubair mengklaim kekhalifahan di mekah hingga kekuasaan Islam.
Sebagai respons dari keadaan ini muncul gagasan irja’ atau penangguhan (postponenment). Gagasan ini tmpaknya pertama kali digunakan sekitar tahun 695 oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah surat pendeknya yang tampak autentik. Dalam surat itu Al-Hasan menunjukan sikap politiknya dengan mengatakan,”kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Utsman, Ali, dan Zubair (seorang tokoh pembelot Mekah).” Dengan sikap politik ini, Al-Hasan mencba menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syi’ah revolusioner yang terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Mu’awiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan si pendosa Utsman.18
Aliran ini timbul di Damaskus ada akhir abad pertama Hijrah. Dinamai Murji’ah karena sesuai dengan nama istilah tersebut yaitu menunda atau mengembalikan, mereka berpendapat, bahwa orang-orang mukmin yang berbuat dosa besar hingga matinya tidak juga tobat, orang itu belum dapat kita hukumi sekarang, terserah atau ditunda serta dikembalikan saja urusan nya kepada Allah kelak pada hari kiamat.19
2. Doktrin-doktrin Pokok Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja’ atau arja’a yang di aplikasikan dalam banyak persoalan yang dihadapinya, baik persoalan politik maupun teologis. Di bidang politik
18 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
hlm.70-72
31 doktrin irja’ di implementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang hamper selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murji’ah dikenal pula sebagai the queietists (kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi begitu jauh sehingga membuat Murji’ah selalu diam dalam persoalan politik.
Adapun dibidang teologi, doktrin irja’ dikembangkan Murji’ah ketika menanggapi persoalan-persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada perkembangan berikutnya, persoalan-persoalan yang ditanggapinya menjadi semakin kompleks, mencakup iman, kufur, dosa besar dan ringan (mortal and venial sins), tauhid, tafsir Al-Quran, eskatologi, pengampunan atau dosa besar, kemaksuman nabi (the impeccability of
the prophet), hukuman atas dosa (punishment of sins), pertanyaan
tentang ada yang kafir (infidel) dikalangan gnerasi awal Islam, tobat
(redress of wrongs), hakikat Al-Quran, nama dan sifat Allah, serta
ketentuan Tuhan (predestination). Berkaitan dengan doktrin-doktrin teologi Murji’ah, W.Montgomery Watt memerincinya sebagai berikut : a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Mu’awiyah hingga Allah
memutuskannya di akhirat kelak.
b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking ke empat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidun
c. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah SWT.
d. Doktrin-doktrin murji’ah menyerupai pengajaran (mazhab) para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.20
20 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
32
3. Sekte-sekte Murji’ah
Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) di kalangan para pendukung Murji’ah. Dalam hal ini, terdapat problem yang cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasi sekte-sekte Murji’ah. Kesulitannya –antara lain- adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai pengikut Murji’ah, tetapi pengamat lain tidak mengklaimnya. Tokoh yang dimaksud adalah Washil bin Atha’ (…-131 H) dari Mu’tazilah dan Abu Hanifah (80-150 H) dari Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, Asy-Syahrastany (w. 548 H), seperti dikutip oleh Watt, menyebutkan sekte-sekte Murji’ah sebagai berikut :
a. Murji’ah Khawarij. b. Murji’ah Qadariah. c. Murji’ah Jabariah. d. Murji’ah Murni.
e. Murji’ah Sunni (tokohnya adalah Abu Hanifah)
Sementara itu, Muhammad Imarah (I. 1931) menyebutkan 12 sekte Murji’ah, yaitu sebagai berikut:
a. Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shafwan. b. As-Shalihiyah, pengikut Nabi Musa As-Shalihiy. c. Al-Yunushiyah, pengikut Yunus As-Samary. d. Asy-Syamriayah, pengikut Abu Samr dan Yunus. e. As-Syawbaniyah, pengikut Abu Syawban.
f. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimsaqy.
g. An-Najariyah, pengikut Al-Husain bin Muhammad An-Najr. h. Al-Hanafiyah, pengikut Abu Haifah An-Nu’man.
i. Asy-Syabibiyah, pengikut Muhammad bin Syabib. j. Al-Mu’aziyah, pengikut Muadz Ath-Thawmy. k. Al-Murisiyah, pengikut Basr Al-Murisy.
33
l. Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany.
Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan Murji’ah menjadi dua sekte, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrem. Murji’ah moderat berpendirian bahwa pendosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sebesar dosanya dan diampuni oleh Allah SWT. Praktis tidak masuk neraka. Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan dan Rasul-rasul-Nya serta yang datang darinya secara keseluruhan, namun dalam garis besar. Iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Tidak ada perbedaan manusia dalam hal ini. Penggagas pendirian ini adalah Al-Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli hadits. Adapun yang termasuk kelompok ekstrem adalah Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Al-Hasaniyah. Pandangan tiap-tiap kelompok itu dapat dijelaskan seperti berikut.
a. Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan dan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan tidak menjadi kafir karena iman dan kufur tempatnya di dalam hati, bukan bagian lain dalam tubuh manusia.
b. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihy, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan dan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Shalat bukan merupakan ibadah kepada Allah SWT. Karena yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya, dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan dan tidak merupakan ibadah kepada Allah, yang disebut ibadah hanya iman. c. Yunusiyah dan Ubaidiyah, melontarkan pernyataan bahwa
melakukan maksiat atau pekerjaan-pekerjaan jahat tidak merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan tidak merugikan bagi yang bersangkutan. Dalam hal ini, Muqatil bin Sulaiman berpendapat
34
bahwa perbuatan jahat banyak atau sedikit tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik atau politeis.
d. Hasaniyah, menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan,”Saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini.” Orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan,”Saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke ka’bah, tetapi saya tidak tahu apakah ka’bah di India atau di tempat lain”.21
21 Abdul Rozak, Rohison Anwar, Ilmu Kalam, Cet. III, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012),
35
BAB
4
JABARIYAH dan QODARIYAH
A. JABARIYAH
1. Pengertian Jabariyah
Kata jabariyah berasal dari “jabara” yang berarti “memaksa”, di dalam kitab al-munjid, dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata
jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu, kata jabara bentuk pertama selanjutnya menjadi jabariyah (dengan menambahkan ya nisbah), memiliki arti suatu
kelompok atau aliran (isme). sedangkan jabariyah menurut istilah adalah aliran yang menolak bahwa adanya perbuatan bukan dari manusia, melainkan dari allah dan menyandarkan semua perbuatan kepada-Nya. Menurut mereka manusia itu majburun ( bentuk isim maf’ul-nya jabara) yang berarti terpaksa atau dipaksa dalam suatu perbuatan, karena semua perbuatan hanya dari allah dan mereka tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat22.
2. Cabang-cabang
a. Jabariyah murni (ekstrim)
Aliran yang menolak adanya perbuatan berasal dari manusia dan memandang manusia tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat apapun, segala perbuatan disandarkan allah. Penganut aliran ekstrim ini antara lain: jahm bin shafwan (al-jahmiyah) dan ja’d bin dirham b. Jabariyah pertengahan (moderat)
Aliran yang meyakini bahwa segala perbuatan manusia itu dari allah tetapi manusia ikut andil dan berperan dalam mewujudkan perbuatan itu. Penganut aliran moderat ini antara lain: husain bin
22 Abdul Rozak, dan Rosihon Anwar, ilmu kalam, Cet. IV, (Bandung: CV Pustaka
36 muhammad an-najar (an-najjariyah), hafshul al-fard, dan dhirar bin amr (ad-dhirariyah)23.dari keterangan di atas, aliran jabariyah terpecah menjadi 3 kelompok yaitu : al-jahmiyah, an-najariyah, dan ad-dhirariyah.
3. Sejarah Dan Asal-usul
Faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh ja’ad bin dirham dan kemudian disebarkan oleh jahm bin shafwan (124 H) dari khurasan. Dalam sejarah teologi islam, jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan murji’ah. Ia adalah sekretaris suraih bin al-harist dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan kekuasaan bani umayah. Namun, dalam perkembangannya, faham al-jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya di antaranya al-husain bin muhammad an-najjar, ja’d bin dirham.
Mengenai kemunculan faham ini, para ahli sejarah pemikiran mengkajinya melalui pendekatan geokultular bangsa arab, di antara ahli yang dimaksu adalah ahmad amin. Ia menggambarkan bahwa kehidupan bangsa arab yang dikungkung oleh padang pasir sahara memberikan pengaruh besar atas cara berfikir dalam kehidupan mereka. Ketergantungan mereka kepada alam sahara yang sangat ganas telah memunculkan sikap menyerahkan diri terhadap alam. Dan menurut nasution, akhirnya mereka bersikap fatalism (dikuasai oleh nasib).
Sebenarnya benih-benih faham al-jabar sudah muncul sejak awal periode islam. Namun, al-jabar sebagai pola fikir suatu aliran yang dianut, dipelajari, dan dikembangkan pada masa pemerintahan daulah bani umayah yakni oleh tokoh-tokoh di atas24.
4. Tokoh-Tokoh atau para pemuka
Para pemuka dari aliran jabariyah murni (ekstrim) antara lain: a) Jahm Bin Shofwan (124 H)
23 Ibid.,hlm.67-69
24 Abdul Rozak, dan Rosihon Anwar, ilmu kalam, Cet. IV, (Bandung: CV Pustaka Setia,
37 Nama lengkapnya adalah abu mahrus jaham bin shafwan dari khurasan, bertempat tinggal di khufah; ia seorang da’i yang fasih dan lincah (orator); dalam kepemimpinan ia menjabat sebagai sekretaris suraih al-harist, seorang pemimpin yang menentang pemerintahan bani umayah di khurasan.
Dia sebagai penganut dan penyebar faham jabariah murni di daerah tirmiz, dan pendiri al-jahmiyah (salah satu cabang jabariyah). dan pada akhir hayatnya ia ditawan kemudian dibunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan agama oleh muslim bin ahwas al-mazini pada akhir masa pemerintahan khalifah malik bin marwan, salah seorang khalifah bani umayah.
b) Ja’d Bin Dirham
Ja’d adalah maulana bani hakim di damaskus, dia dibesarkan oleh lingkungan orang kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ja’d sebagai pengajar yang dipercaya dalam pemerintahan bani umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial sehingga dipecat, kemudian dia lari ke kufah dan bertemu dengan jahm bin shafwan, serta mentransfer pikiran-pikirannya untuk disebarluaskan.
Adapun dari aliran jabariyah pertengahan ( moderat ) antara lain: a) Husain Bin Muhammad An-Najjar (230 H)
Husain an-najjar terkenal sebagai pendiri an-najjariyah, salah satu cabang aliran jabariyah. kelompok najjariyah ini mayoritas menggunakan ratio dalam pemikiran mereka.
b) Dhirar Bin Amr (pendiri ad-dhirariyah) c) Hafshul al-fard.25
25 Abdul Rozak, dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: CV Pustaka Setia,2015), hlm
38 5. Doktrin dan pokok pemikiran
Aliran jabariyah murni (ekstrim) :
a) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat, dan mendengar.
b) Manusia itu terpaksa dan tidak mempunyai kekuatan sedikitpun untuk melakukan segala sesuatu, semuanya allah-lah yang berkuasa atas itu.
c) Al-qur’an adalah makhluk (baru)
d) Allah tidak bisa dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
e) Manusia akan kekal di dalam surga maupun neraka; penghuni surga mendapatkan kelezatan nikmatnya dan penghuni neraka memperoleh kepedihan siksanya.
f) Surga dan neraka akan rusak (tidak kekal) setelah para penghuni keduanya masuk dan hanya allah yang abadi.
Aliran jabariyah pertengahan (moderat) :
a) Allah menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia juga berperan dalam mewujudkan perbuatan itu.
b) Allah tidak dapat dilihat di dalam akhirat menggunakan panca indera, tetapi allah bisa saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat allah.
c) Kalam allah adalah makhluk, apabila dibaca menjadi sifat, apabila ditulis menjadi huruf atau tubuh.
d) Tidak ada kewajiban apapun sebelum para nabi dan rasul diutus. e) Pemimpin boleh saja bukan dari suku quraisy, namun yang lebih
pantas dari keturunan Rasulullah.26 B. QADARIYAH
1. Pengertian Qadariyah
Qadariyah berasal dari bahasa arab qadara yang mempunyai arti kemampuan dan kekuatan. sedangkan menurut istilah, qadariyah adalah
39 suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi (campur tangan) oleh tuhan; mereka berpendapat bahwa setiap manusia adalah pencipta atas segala perbuatannya. Kaum qadariyah mempunyai kekuatan dan kemampuan (qudrah) untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dengan kehendaknya sendiri.
Di dalam kitab al-milal wa an-nihal karangan dari asy-syahrastani, qadariyah termasuk salah satu cabang dari aliran mu’tazilah; karena ada kesamaan dalam doktrin atau ajaran-ajarannya.
Seharusnya, sebutan qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku baik maupun jelek manusia. Namun sebutan tersebut sudah terlanjur melekat pada kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak.
Dalam kitab Al-Milal Wa An-Nihal disebutkan bahwa aliran qadariyah termasuk salah satu cabang dari mu’tazilah karena adanya kemiripan di dalam doktrin-doktrinnya.27
2. Sejarah dan Asal-usul
Menurut ahmad amin, aliran qadariyah pertama kali dimunculkan oleh ma’bad al-jauhani dan ghailan ad-dimasyqi. ma’bad adalah seorang
taba’i yang terpercaya dan pernah berguru pada hasan al-basri
(642-728). dalam kitab risalah karangan hasan al-basri untuk khalifah abdul malik sekitar tahun 700 M dijelaskan, bahwa hasan al-basri adalah seorang tahanan di irak. Ia lahir di madinah, tetapi pada tahun 657 M Al basri hijrah ke bashrah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Dalam catatan ini ia berkeyakinan bahwa manusia bebas untuk memilih antara berbuat baik atau berbuat buruk. sedangkan ghailan adalah seorang orator dari damaskus, dan ayahnya menjadi maula usman bin affan. dia hidup pada masa khalifah hisyam bin abdul malik.
Ibnu nabatah dalam kitabnya syarh al-uyun, berpendapat bahwa orang yang pertama kali memunculkan faham qadariyah ini adalah orang
40 irak yang beragama kristen bernama susan. Dari orang inilah ma’bad dan ghailan mengambil faham ini.28
Faham qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam zaman dulu, hal itu disebabkan oleh dua faktor:
1. Masyarakat arab sebelum islam dipengaruhi oleh faham fatalism, mereka berkehidupan sederhana dan jauh dari pengetahuan; serta selalu terpaksa mengalah oleh keganasan alam, panas yang menyengat, dan tanah-tanah pegunungan yang gundul. Mereka merasa lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam. Dan ketika faham qadariah dikembangkan, mereka tidak dapat menerima dan menganggapnya bertentangan dengan doktrin islam.
2. Tantangan dari para pejabat pemerintah yang kontra dengan paham qadariyah, karena pejabat pemerintah penganut faham jabariyah. mereka mengira qadariyah menyebarkan ajaran yang dinamis dan daya kritis rakyat yang mampu mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintahan yang tidak sesuai dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.
3. Tokoh-tokoh atau Para Pemuka a. Ma’bad Al Jauhani
b. Ghailan Ad Dimasyqi
Dia adalah seorang orator, namanya abu marwan ghailan ibnu muslim. Ayahnya seorang budak yang dimerdekakan oleh usman bin affan. Ghailan datang ke damaskus pada masa pemerintahan hisyam bin abdul malik.
c. Ibrahim Bin Yasar An Nazam 4. Doktrin dan pokok pemikiran
a. Manusia mempunyai daya kekuatan serta berkuasa atas segala perbuatannya.
41 b. Manusia mampu melakukan atau meninggalkan kebaikan dan
kebukuran atas kehendaknya sendiri.
c. Allah tidak kuasa menciptakan keburukan dan maksiat, karena bukan termasuk qudrah allah, dan keduanya melekat pada selain allah.
d. Al qur’an hanyalah sebuah khabar atau berita pada masa lampau dan yang akan datang.
e. jika menganggap al-qur’an itu qadim, maka di hukumi syirik. karena
ta’addud al-qudama.
f. iman cukup dengan ma’rifat (pengenalan), sedangkan perbuatan bukan termasuk iman.
42
BAB
5
MU’TAZILAH
A. Latar Belakang Kemunculan Mu’tazilah
Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti
berisah atau memisahkan diri,29 yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk ada dua golongan.
Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuhp sebahai kaum Netral Politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menengahi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari.30
Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar.
Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi,yaitu :
29 Razak Abdul dan Anwar Rosihon,Ilmu kalam,revisi :pustaka setia:Bandung,2015,hlm:82 30 Nurcholish madjid, islam doktrin dan peradaban, cet II, Yayasan Wakaf Paramadina,