DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBUK INDONESIA
PANDANGAN D-AN P-ENDAPAT
DEWAN PERWAKILAN DAERAH
REPUBLIK INDONESIA
,TENTANG
CALON PERSEORA�--GAN
DALAM PEMILIHAN.KEPALA DAERAI-J
DALAM RANGKA
PERU-BAHAN KED
UA
ATAS
�-µNDAN.G-UNDA·NG NoM:oR;32 TA.HUN 2004
'.TENTANG
- -Pf M,E-RINTA.1:1-AN DAERAH
JAKARTA
2007
ARSIP
DPR
RI
I
ii
I
I
I
I
I
l r
I
I
I
I
I
. [)�\'VAN l>ERWAKILAN l,)AERAH REPl)BLIK INDONESIA
PANDANGAN DAN PEN.DAPAT
DEWAN PERWAKILAN DAERAH
REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
CALON PERSEORANGAN
DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH
DALAM.RANGKA
PEltUBAHAN KEDUA
ATAS
UNDANG-Ur,I.D'ANG NOMOR 32 TAHUN 2004
; -� :· --,·�. t;·
. ·. TENTANG
PEMERINTAHAN DAERAH
'-.JAKARTA
2007
ARSIP
DPR
RI
,II
ii
II
II
•
a
ii
!
,,
•
II
JI
ii
I
jJI
I
I
I. PENDAHULUANOEVVAN PERWA,ILAN DAERAM REPUBLil< INDONESIA
Amandemen UUD 1945 khususnya dalam Pasal 1 Ayat (2), menegaskan
oa�wa
kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurutU_UD 1945. Hal ini bermakna bahwa kedaulatan tidak lagi dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, tetapi dilaksanakan menurut ketentuan UUD 1945. Lebih jauh, Pasal 28 UUD 1945 1fTier,yatakan bahwa esensi dasar demokasi adalah kebebasan
·JT ...
mengeluarkan pendapat da·n penghargaan terhadap hak politik setiap wa�anya. Ini merupakan substansi. dasar demokrasi dafam menciptakan Glem@krasi yang utuh· dan sistematis sesuai kehidupan sosial dan politik di m.as¥arakat .gun�t tercipta sistem politik yang sehat, jujur dan menjunjung ti-ttgmhpersamaan hak politik.
Pe��angan politlk'.
'di
Indonesia i-nenunjukkan akselarasi yang cepat.Ditahd�:i Perubahan , m�toda pemtlihan, berlanjut pada perubahan budaya
politik < y�ng pluralis dan modern. Dimana pengakuan hak politik
masyarakat menjadi prasyarat utama berjalannya sistem politik. Pemilihan kepala daerah dan · wakif kepala daerah (pilkada) menjadi salah satu bentuk nyata implementasi perkembangan tersebut.
Pilkada hingga tahun 2007 telah dilaksanakan di 305 daerah, yang mencatat keberhasilan dan kekurangan. Dari kekurangan-kekurangan dan permasalahan yang muncul dalam pilkada, polemik calon perseorangan menempati urutan prloritas untuk diselesaikan. Polemik ini muncul pasca
ARSIP
I
'1
:
t
I
keluarnya Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-V /2007 Perihal pengujian Undang Undahg Nomot 32 T9hun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Terhadap Undang Undang Dc;1sar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
DPD RI memandang ,putU$ijn tersebut memberikan dua implikasi yang berbeda. Implikasi positif,. memberikan ruang yang luas bagi setiap Warga Negara Indonesia untuk berpartisipasi aktif menggunakan hak potitiknya
guna menjadi pemimpin,
daerah.
Oisisi lain, berimplikasi negatif khususnyasete�ah putusan M·ahkamah Konstitusi mengenai dibolehkannya calon perseorangan dalam pilkada, yang belum dilengkapi dengan pelaksaanaan telmis dilapangan sehingga akan menimbulkan multitafsir.
Sehubungan dengan hal tersebut; DPD RI memand�ng perlu menindaktanjuti putusan Ke�utusah Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU V /2007 perihal pengujian Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang Calon Perseorangan.
DPD RI sebagai lembaga negara yang merupakan representasi dari seluruh daerah di Indonesia sangat peduli dengan permasalahan pemilihan kepala: daerah dan wakil kepala daerah terlebih karena didalamnya menyentuh asF)ek-aspek perbaikan sistem politik, peningkatan partisipasi masyara�at dan penegakan demokrasi. Sesuai amanat Pasal
220 ayat (2) UUD
l�MS
dan Pasal 43 UU Nomor 22 Tahun 2003 tentangSusunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, disebutkan bahwa Dewan Perwakilan Daetah ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan p�ng.gabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas RUU APBN dan RUU · yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia wajib
ARSIP
memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan daerah, tanpa harus kehilangan kepedulian atas kepentingan bangsa dan negara.
Berkenaan dengan ittJr DPD RI , dalam menjalankan tugas dan
kewenangannya telqh berupay� melakukan kewajibannya sehubungan dengan telah keluarnya Keputusan. Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU V/2007 Perihal peng·ujian Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945·tentang calon perseorangan.
IL PANDANGAN DAN PENDAPAT DPD BERDASARKAN TINJAUAN AKADEMIS DAN ASPEK PENDUKUNG
A. TINJAUAN AKADEMIS
1. Nilai Strategis Calon Perseorangan
Pemilihan langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah di tingkat provinsi dan kota/kabupaten .. menandai perubahan demokrasi di tingkat lokal. Perubahan berawal dari pembenahan prosedur sebagai legitimasi. proses demokrasi berlanjut pada perubahan budaya politik. Setidaknya terd�pat dua hal· penting yang menandai perubahan tersebut, antara. Jain, memperluas kesempatan kepada setiap orang dewasa yang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam politik secara bebas, dan · menegaskan perlunya pembenahan aturan dan hukum guna memperbaiki kualitas politik itu sendiri, dalam hal ini pilkada.
Mengacu pada
UUD 1945
Pasal 28D
ayat 3, Bab XA tentang Hak AsasiManusia yang menyatakan " setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan", maka keputusan Mahkaman Konstitusi tentang calon perseorangan merupakan hakikat dan pengakuan secara mendasar terhadap hak politik masyarakat yang sejak lahir telah dimiliki. Keputusan ini pun memberikan kejelasan akan adanya ruang-ruang hukum yang masih kosong yan�
ARSIP
masih perlu dib&?nahi guna memperbaiki pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang sebelumnya tidak mengikutsertakan calon perseorang�n.
Keputusan Mahk,fmc;,h Konstitusi berimplikasi tersebut menyebabkan:
pertama, hasil yc;1ng @kc1n dicapai oalam pilkada pasca keputusan akan 1 ·, • �
.� ',
berbeda. Diperm.�lehkc;tnnya calon perseorangan untuk ikut dalam pilkada merupakan· ukur�m keberhasilan pemerintah memenuhi kepentingan politik masyarak�t yan� selama ini belum maksimal. Dengan kata lain, pemerintah mendengar keluhan politik masyarakat tentang sistem pofitik yang tidak berpihak pad a mereka.
Kedua, DPD RI memandang keputusan Mahkamah Konstitusi telah
mengubah secara gradual substansi dan mekanisme pemifihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Perubahan mendasar terjadi pada kesetaraan politik yang selama ini terasa timpang diantara para pelaku politik akibat saluran politik hanya diakui jika melalui jalur partai politik. Oleh karena itu, keputusan mahkamah konstitusi menjadi alat bagi setiap warga negara untuk memiliki kesetaraan politik guna melakukan kontrol terhadap keputusan publik dan pembuat keputusan pubHk yang selama ini dimiliki partai politik.
Dalam sistem politik yang terbatas, pembatasan kepentingan pofitik dan pengakuan · hak pofitik masyarakat dan adanya pengakuan
terhadap sumbe{daya politik oleh segelintir pelaku politik, munculnya .... , ,i :· .
calon perseorangafl · merupakan alternatif untuk memperbaiki sistem
politik yang terbat.as tersebut. Lebih jauh DPD RI memandang calon perseorang dalam ·. pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
akan · menjadi
trigger
bagi partai politik untuk melakukan pembenahanpartai. Ini, bahkan, bisa menjadi alat penekan untuk memperbaiki kine,ja dan kaderisasi partai agar dukungan poUtik yang selama ini dimiliki tidak berubah seiring den.gan kuatnya pos1s1 calon perseorangan dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.
ARSIP
kepala daerah dan wakil l<epala daerah y�mg bukan diusulkan oleh parpol qtau gabungan parpol. pengan demikian, definisi Calon
perseorangan acf alah pasangan calon yang bukan diusulkan , oleh parpol at()U gabungan psrpol. Adapun
persyaratan yapg dikenakan bagi calon perseorangan antara lain
.
-�·
... ... -�. . . . ... -., . . � . --. ...·--•·-·�"'"�---�
···-··· '..;. --�·· � -- ---··1. Calon pifrseorangan
·
bul<an berasal dari pengurus··-··
parpol $elama 3 tahun .
.,2�.
Asal, domisili; vsia dan pendidikan calon perseoranga11 l/ sebagai .. mana tercantum dalam Pasal 58 UU No 32Tahun 2004.
( 3, .. Kategori tindak pidana yang dikenakan bagi calon
, . .._J
perseorangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 58 UU No 32 Tahun 2004.
_i b. Jumlah Dukungan Calon Perseorangan
�---,.�-Kondisi geografis dan demografis di masing-masing daerah di Indonesia berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk menentukan batas dukungan bukanlah hal yang mudah. Ketentuan di satu daerah belum tentu dapat diterapkan di daerah lain karena sangat terkait dengan hal--hal yang , kondisional dan situasional. Batas dukungan bagi· daerah berpenduduk padat tidak dapat disamakan
dengan yang .J��rpenduduk jarang. Demikian pula dengan kondisi'
' , .,-·· . •' ,
daerah yang; berinfrastruktur -lengkap tidak dapat disamakan dengan daerah pegunungan atau kepulauan. Kondisi ini harus menjadi bahan pemikiran yang mendalam untuk menentukan besarnya.batas dtikungan bagi calon perseorangan.
Pembenahan pertama terkait dengan calon perseorangan adalah penetapan berapa jumlah persentase dukungan masyarakat yang harus dimiliki oleh calon perseorangan dalam pilkada. Jumlah dukungan yang terlalu tinggi menyebabkan tidak tercapainya
ARSIP
tujuan da$ar dibukanya calon perseorangan. Sebaliknya, jumlah dukungan yang terlalu rendah akan menimbulkan citra adanya ''jalan mudah dan jalan sulit" pencalonan kepala daerah, serta rusaknya bangunan partai politik sebagai pilar demokrasi dan sistem politik In,'9onesia.
Persyaratan cJukl)ngc;m minimal ini merupakan suatu proses seleksi awal terhapjap kualifika.si ba,l<al calon anggota kepala daerah. Hal ini untuk membatasi agar tidak semua orang dapat mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Artinya, bahwa persyaratan dukungan minimal bagi bakol calon kepala daerah merupakan sebuah proses pendidikan politik bagi rakyat. Dari sisi bakal calon, persyaratan dukungan adalah tuntutan yang menegaskan bahwa menjadi kepala daerah bukanlah proses instan yang dapat diraih dalam waktu singkat, melainkan proses pengabdian panjang kepada masyarakat sehingga mel<;1hirkan rasa kepercayaan dan dukungan dari masyarakat.
Indonesia· mempunyai pengalaman pemifihan calon perseorangan,
yakni Pilkada ·
di
Provins; NAD dan pemilihan Anggota DPD RI.Pilkada
N_AD ·.
menggunakan batas. dukungan sebesar 3% darijumlah peflduduk dan berhasil dilaksanakan tanpa hambatan yang berarti. Pehentuan 3% di NAD telah melalui serangkaian kajian serta penelitian yang dapa.t dipertar,ggungjawabkan. Oleh karena itu; batas. dukun.gan 3% yang diberlakukan dalam Pilkada NAD layak dijadikan:acuan bagi calon perseorangan. Namun demikian, mengingat kondisi geografis . dan demografis yang beragam, angka 3% harus dipertimbangkan terutama bagi daerah-daerah yang sulit terjangkau. ·
Untuk menentukan batas dukungan bagi cafon perseorangan secara persentase, pada prinsipnya harus ditetapkan dalam batas kewajaran yang tidak terlalu memberatkan, yaitu dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan dasar dibukanya calon
ARSIP
perseorangan. Namun, tidak pula terlampau ringan karena akan merusak bangunan partai politik sebagai pilar demokrasi dan sistem politik Indonesia.
Selain mempergunakan persentase, batas dukungan dapat ditentu�an dengan membagi daerah berdasarkan kluster jumlah penduduk, ._ d.tmana batas clukun9an ditetapkan dengan angka absolut. Penggunaan angka absolut ini juga lebih mudah
ditetapkan.
Pada
prinsipnya tidak ada dasar pijakan yang idealdalam menentukan batas dukungan. Yang terpenting adalah angka psikologis yang rasional dan tidak merusak tatanan politik. Apabila partai-partai politik di DPR RI memberikan syarat yang terlalu besar, misalnya oengan syarat sekurang-kurangnya 5%, 10% atau bahkan 15% dari jumlah penduduk yang tersebar di sekurang-kurangnya · 50% wilayah, maka kesulitan-kesulitan ganda akan ditemui, teru.tama dalam metode verifikasinya. Syarat 15% adalah berlebihan, karena partai politikpun tidak dibebankan syarat sebesar itu, karena ada klausul tentang partai politik atau . gabungan partai-partai politik. Pengalaman pilkada yang sudah dilakukan di 16 provinsi, 242 kabupaten dan 46 kota menunjukkan bahwa partai-partai politik __ yang mempunyai . kursi atau suara kurang dari 1 % jumfah pemilih pada pemilu legislatif 2004 juga mempunyai hiak mengajuka_n calon atau pasangan calon, ketika bergabung derigan partai-partai politik lain.
Selain itu, syarat dukungan 3% dalam pifkada Aceh bagi cafon perseorangan ditempatkan sebagai syarat teknis, bukan syarat substantif. Syarat substantif yang diatur dalam pasal 67 ayat (2) adalah 13 syarat, mulai dari kewarganegaraan, menjalankan syariat agamanya, taat kepada UUD 1945, sampai tidak pernah melakukan perbuatan tercela. I�i _ d�maksudkan agar jangan sampai warganegara yang ingin menjalankan hak-h�k
ARSIP
konstitusionalnya justrl) dihambat dengan syar�t teknis dan politis yang pasti membutuhkan pembiayaan tidak sedikit, mulai dari
menyusun tim pencarian KTP atau tanda bukti
diri,
melakukanperjalanan ke pelbagai pelosok daerah, membiayai fotokopi, menanggung . biaya transportasi, akomodasi, serta kebutuhan lainnya untwk � mendapatkan surat pernyataan dukungan dari penduduk. Sementara, partai-partai politik yang mengajukan
,.
pasangannya hanya menggunakan hasil perhitungan suara resmi pemilu legislatifdari KPUD, bukan melalui pengumpulan satu demi satu kartu anggota atau simpatisan partai-partai politik. Apalagi syarat teknis dan politik ini hanyalah satu tahapan saja dari banyak tahapan yang harus dilalui oleh calon perseorangan.
Dalam area demokrasi yang luas, partai-partai politik masih harus
berbagi peran dengan kelompok political society lainnya, termasuk
kalangan birokrasi, organisasi sosial politik kemasyarakatan, sampai kepada interest groups lainnya. Selain itu, political society
juga harus berbagi peran dan atau bekerjasama dengan
civil
society. ( masyarakat sip ii) dan bussiness community (komunitas
bisnis). Pengaruh dari masyarakat sipil dan komunitas bisnis juga
meluas dalam memperebi.Jtkan ruang-ruang publik (public
sphere).· Nyatis tidak ada lagi ruang yang tersisa bagi
melenggangnya kebijakan-kebijakan publik
(public policy)
yangimun dari perebutan pengaruh ketiga kelompok besar itu.
Atas dasar pertirnbangan tersebut,
DPD RI
berpendapat bahwabatas dukungan ditentukan berdasarkan kllister-angka
absoiut sebagai beriklit:
a. Pendt.Jduksl00 tibu b. 100 ribu<penduduks 1 juta c. 1 juta<penduduk�S juta minimal minimal minimal 5.000 calon pemilih 20.000 calon pemilih 40.000 calon pemilih
ARSIP
DPR
RI
/
?/
v·
d. 5 juta<pendudukslO juta e. 10 juta<penduduk:615 juta
f. Penduduk> 15 juta
minimal 60.000 calon pemilih minimal 80.000 calon pemilih minimal 100.000 calon pemilih Menentvkan· batas dukungan perlu memperhatikan pertimbangan pluralitas, �hususnya variasi wilayah dan jumlah penduduk yang mendiami . wilayah tertentt,1 yang cenderung sangat variatif. Artinya, tldak mungkin memberlakukan suatu kebijakan penyeragaman untuk daerah dan jumlah penduduk yang beragam. Bila kepijakan atas dasar pertimbangan jumlah persebaran penduduk tersebut diberlakukan, maka proporsi persyaratan dukungan masing-masing daerah tidak perlu sama. Ini dimaksudkan agar kebijakan tersebut bisa lebih aplikatif untuk daerah-daerah yang memiliki karakteristik tertentu seperti suatu kabupaten yang hanya memiliki penduduk hanya 100.000 jiwa atau bahkan bisa jadi kurang c;tari 100.000 jiwa.
Selain piHhan diatas,
DPO RI
juga menegaskan bahwapersyaratan penyebaran .dut:cungan bagi· dua pilihan diatas mel�puti 25% untvk wilayah luar Jawa dan 50% untuk wilayah Jawa dan 9�1i yang di sesuaikan dengan kepadatan
dan komposisi penduduk yang ada.
Pada tingkc1t :· verifikasi dukungan,
DPD RI
memandang.: .. 1'4,
pengguna�11:,. sample ( contoh) tethadap bukti dukungan memenuhi unsur keterwakilan suara dukungan bagi calon
perseoranga11. Pada kegiatan verifikasi,
DPD RI
memandangbahwa verifik,asi · dilaklikan oleh KPU sebagai lembaga
resmi pelaksana pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dengan waktu verifikasi maksimal 30 hari dengan memperhatikan kesulitan daerah.
ARSIP
-I
I
I
c. Pembiayaan Kandidat i ''--...__ _____ ·--·-�-·Pembiayaan kampanye memiliki ruang tersendiri dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakH kepala daerah. Hal yang · patut dipikirkan , mengingat pembiayaan kampanye merupakan oagian yang akan melibatkan berbagai pihak kepentingan dalam proses pilkada. Oengan kata lain, pembiayaan kampanyij bisa berdampak terhadap kualitas pHkada.
Pain penting yang harus ditegaskan dalam pembiayaan kampanye adalah bahwa sumbangan yang dapat diperoleh seorang calon kepala daerah (baik sumbangan perseorangan maupun sumbangan institusi) tidak boleh melebihi jumlah yang dapat diterima oleh partai politik untuk membiayai pemilihan umum. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalisasi benturan kepentingah diantara berbagai pihak;
Hal lain yang perlu ditegaskan adalah perlu ditetapkan mekanisme pelaporan yang akuntabel tentang jumlah sumbangan dan penggunaan dana untuk pembiayaan pemilihan kepala daerah di setiap tahapan proses. Pel9poran k�uangan juga harus menjadi
objek pemeriksaan akuntan publik untuk menghindari
kemungkin�n terjadinya aktivitas
money politics
dari partai politikke calon perseorangan. Oerigan kata lain, jika akuntabilitas sumber dan p:�sarnya sumbangan serta penggunaan uang
tersebut dapat '.dilakukan, maka kemungkinan terjadinya
money
. ' -�-/ .. :·�;- ·-: ·, :. " .. : .
politics
bisa dim1nimalisasi.Oleh sebab itu, DPD RI memandang petlu ditetapkannya
pembatasan mengenai sumber dan jumlah dana yang dapat dipakai oleh seorang calon. Dimana sumbet dana tersebut harus dipublikasikan penyumbang dan besarnya
sumbangan dan perlu· pengaturan sanksi untuk
pelanggaran peraturan tentang dana kampanye.
ARSIP
.• •
- ..•• ·.·,-.:... -·- -···-··· - .... + ·ma:a. HI
Hal lain yang perlu diatur aclalah c;J�na dan fasilitas kampanye
incumbent
Untuk mewujudkan kesetaraan dan akses yang sama atas pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala·--- daerah, inc11mbenttidak dibolehkan menggunakan sumber
.. · . ')
l_J · .
/
day a pemerintiilh 6 bulan sebelum pelaksanaan pilkada .... Pembatasan ._ tersemut cJiperlukan
gun
a memberikan kesempatanyang sama kepada semua calon kepala daerah yang berasat dari calon perseorangan. Penetapan ini juga memperhatikan kepatutan dan biaya sesungguhnya yang harus dikefuarkan oleh seorang calon kepala daerah, sehingga bisa diterima oleh masyarakat dan bisa diukur dan atau di audit secara akuntabel oleh akuntan publik.
B. ASPEK
PENDUKUNG\
1.
Aspek
Filosofis dan Sosiologisa. Nilai-nilai demokrasi menjamin tidak adanya pembatasan terhadap warga negara . termasuk akses untuk memilih pemimpin. Hat ini menegaskan bahwa __ ; setiap warga yang memiliki hak politiknya secara mendasar · �erkesempatan untuk bersaing memperebutkan
jabatan-jabatan '! poHtik dan pemerintahan. Bif a ditemukan
pembatasan pad
9
aksesibiltas �emokrasi, maka secara tidaklangsung menjaclL penghambat utama pengakuan hak politik':rci
masyarakat.
b. Salah satu bentuk penghargaan . yang dijamin undang-undang mengenai kebebasah adalah pengakuan bagi calon perseorangan yang akan mengikuti pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Selain · di jamin undang-undang, menghilangkan keberadaan calon perseorangan berarti menghilangkan sebelah keping dari nilai demokrasi secara hakiki karena di dalam
ARSIP
masyarakqt itu bukan, hanya ad� partai politik yang mewakili kepentingan politik, tetapi ada golongan di luar partai politik yang eksistensinya bisa jacli lebih mewakili kepentingan politik masyarakat.
c. Demokrasi secara sosiologis mengakui proses dan perkembangan politik yang qd,;1_- di masyarakat. Pen�hargaan ini merupakan bentuk apresiasi sistem terMadap harapan dan kepentingan masyarakat yang menginginkan @danyc, keberpihakan politik untuk mengakui hak politik yang dijamin undang-undang. Penghargaan tersebut berbentuk keluasan kesempatan bagi setiap warga negara untuk mendapatkan hak politik mendasar dalam berdemokrasi guna mendapatkan jabatan politik di pemerintahan.
d. Konteks sosiologis, budaya politik yang berkembang di masyarakat Indonesia cenderung memberikan hak politiknya melalui konsep keterwakilan pada pihak yang merepresentasikan hak pofitiknya. Akan tetapi, konsep tersebut telah mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan kepentingan politik masyarakat dan kebutuhan masyarakat sebagai mahluk politik. Adanya fenomena lain munculnya calon perseorangan untuk mengaktualisasikan hak politiknya selain partai politik sel;>agai saluran politik, memberikan angin seg�r. Ha.I ini merupakan bukti adanya interaksi antara kebutuhan rliang b�rpolitik bagi: masyarakat dengan adanya saluran yang sah:' sebag'ai alat mengaktualisasikan prinsip-prinsip demokrasi.
e. Politik di Indonesia memberikan kepercayaan penuh terhadap individu yang_ diyakini memiliki kemampuan mengaktualisasikan aspirasi politik warga. Seperti halnya pemberian kesempatan individu untuk ikut dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah melalui calon perseorangan merupakan safah satu alat aktualisasi nilai-nilai sosiologis dalam berpolitik yang dijamin
ARSIP
oleh perangkat dan attJran yang kwat, sehingga dapat menjamin keberlangsungan aktualisasi tersebµt.
2. Aspek · Politik
a. Bahwa esensi demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi sejatinya identik dengan salah satu bentuk
aspirasi
yang
melibatkan seluruh rakyat. Demokrasi jugamerupakan paham keraky�tan tanpa diskriminasi dan intervensi yang bermuatan kekuasaan jabatan maupun golongan.
b. Sejak terbitnya UU No 32 tentang Pemda, proses politik bagi partai politik dan pelaku politik cenderung direalisasikan. Undang-undang tersebut diharapkan menjadi alat baru untuk membuka kesempatan bagi setiap warga negara menjalankan hak politiknya. Pada tingkat implen,entasi, undang-undang tersebut justru menampilkan · sisi-sisi negatif dan bias yang mengarah kepada transaksi politik yang .berlebihan. Hal ini tak lain karena undang undang tersebut tidak memberikan peluang dan ruang gerak yang cukup bagi calon-calon di luar partai politik untuk mengikuti proses pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dengan kata lain, Pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/�akil walikota hanyalah arena yang menguntungkan segelintir orang_ yang bersembunyi dibalik legitimasi suara dari rakyat. Oleh-<sebab itu, untuk mencegah transaksi politik yang berlebihan :yang menodai proses demokrasi ditingkat lokal, diperlukani ruang yang fuas bagi setiap warga negara Indonesia untuk mengaktualisasikan hak politiknya dengan ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah melalui calon perseorangah.'
c. Pengalaman empirik menunjukkan bahwa calon perseorang sangat_ dinantikan oleh masyarakat. Ihi antara laih dibuktikan oleh pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah di daerah df Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Realitanya, calon perseorang
ARSIP
I
"
mendapat kemenangan mutlak . (sekitar 80%), baik sebagai Gubernur/Wakil Gubernur maupun bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota. Hal ini membuktikan bahwa rakyat sangat mengharapkan munculnya calon lain selain calon dari partai politik.
3. Aspek Y1:1ridis ·
a. Bahwa Pasal 2iD Ayat (1) UUD 1945 memberikan kesempatan kepada setiqpr orang untuk mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama di. hadapan hukum. Selanjutnya Pasal 28D Ayat (3) UUD 1945 menyatakan setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama di dalam pemerintahan. Kedua pasal tersebut di atas telah dijabarkan lebih lanjut dalam Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dalam Pasal 43 Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (3) yang berbunyi sebagai berikut:
Ayat (1) : ;'Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur: dan adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan."
Ayat (2) . : "Setiap warga negara berhak turut serta dalam pemerintahan dengan langsung, atau dengan
pera_ntara wakil yang dipilihnya dengan bebas ' . �·. "?·' .
. nieii
urut cara yang ditentukan dalam peraturan perUhdang-undangan. ,;
Ayat (3) ·,: "Setiap warga negara dapat diangkat dalam setiap jabatan pemerintahan."
b. Pelaksanaan Pilkada diatur dalam Undang Undang No 32 Tahun 2004 tehtang Pemerintahan Daerah khususnya Bab IV tentang Penyelenggaraan Pemerintahan, Bagian Kedelapan - Pemilihan
ARSIP
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, pasal 56 hingga 119 atau 6'4 pasal sebc:,nding demgan 27 persen dari 240 pasal yang ada di UU No 32 Tahun 2004.
c. Peraturan - Peraturan terkait :
(1) Peratura,n ,Pemerintah No
6
Tahun 2005 tentang Pemilihan,Pengesahan; Pengangkatan, dan pemberhentikan Kepala Daerah oan Wc;1kil Kepalc;1 Oaerah.
(2) PERPU No 1 Tahun 2006 tentang Perubahan Kedua atas Undang-U'ndang No 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD.
(3) Undang Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
( 4) Undang Undang No 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu).
(5) Undang Undang No 23 Tahun 2003 tentang Pemifihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
(6) Undang Un-dang No 12 Tahun 2003 tentang Pemjlihan Umum Anggota ·DPR, DPD, dan DPRD
(7) Undang Undang N 10 Tahun 2006 tentang Penetapan PERPU No 1 Tahwn, ,�006 �njadi Undang Undang
d. Calon perseorangan dia· ur pada Putusan Mahkamah Konstitusi No 5/PUU-V /2'007 .. yang me yatakan bahwa proses pencalonan kepala
daerah melalui Jalur rseorangan sesuai dengan UUD 1945.
Putusan ini berdasarkan. tas pertentangan hukum antara Pasal 56, Pasal 59, dan Pasr;1I 60 ndang Undang (UU) Pemerintahan No 32 Tahun 2004 tentang D 'erah (Pemda) dengan Pasal 18 ayat (4); Pasal 27 ayat (1), Pasal 8D ayat (1), dan ayat (3), serta Pasal 281
ayat (2) Undang Unda g Dasar 1945, dimana pasal
dalam
UUARSIP
Pemda hany� memberikan petuang dan hak kepada calon
calon/pasangan calon kepala
da�rah
yang mewakili kendaraanpolitik (parpol/gabungan parpol). Dengan kata lain, bagi mereka yang memiliki sumber daya dan akses saja yang bisa ikut dalam pemilu pilkada. Pasal ter�abut jug� mematikan hak-hak konstitusi bagi calan-calon • yang tidal< memiliki kendaraan politik/parpol.
Padahal di sisi
lain,
pasc;JI dalam UUD 1945 menjamin hak hakkonstitutional politik setiap Warga negara dalam berpolitik.
Demokrasi ditegakkan melalui pelibatan seluruh rakyat dalam setiap proses pengambilan keputusan, termasuk keputusan politik. Pelibatan ini dimaksudkan untuk menciptkan k�seimbangan antara kepentingan publik dan kebijakan yang diambil pemerintah. Untuk itu, pelibatan masyarakat dalam prosesi pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah merupakan petwujudan · konsolidasi demokrasi di setiap level/strata sosial dan perangkat politik yang ada. Dengan kata lain, pemilihan secara · 1angsung oleh rakyat merupakan bentuk realisasi dernokrasi partisipatori yang menggeser bentuk demokrasi perwakilan yang selama ini berlangsung.
Bila calon independen - dalam pifkada merupakan isu krusial bagi demokratisasi lokal dan terwujudnya tatakelola pemerintahan yang baik (good local governance), "n,aka pengatl)ran · terhadap dukungan calon
independen ini harus dibuat secara rasional dan proporsional. Dal am.
arti;
mengikuti kaidah rasionaHtas politik untuk menciptakan saling imbang dan saling kontrol (checks.land balances) antara calon dari partai politik dan cafon perseorangan. Oleh : karena itu, DPD RI mengusulkan agar dukungan terhadap calon perseorangan mengikuti prosedur sebagai berikut: masyarakat pemUih, memberikan pernyataan dukungan kepada seorang calon kepala daerah di atas kertas suara yang dicetak secara resmi oleh KPUD. Kertas suara ini hanya boleh diberikan kepada bakol calon yang secara resmi mendaftar sebagai bakal calon dan tidak dapat diberikan lagi atau digabungkan lagi dengan bakol calon yang lain.
ARSIP
Setiap kertas suara yang diberikan kepada bakol calon harus diberikan kembali kepada KPUD dan dihitung kembali baik yang sudah diisi oleh masyarakat maupun yang masih kosong. Dengan demikian tidak mungkin terjadi manipulasi kertas suara oleh bakal calon yang sesungguhnya tidak betniat mencalonkan (shadow candidates). Kertas dukungan pemilih harus disertai dengan bukti foto kopi KTP yang bersangkutan.
Mengenai pembiayaan .kandipat, hal yang patut dipikirkan adalah pembiayaan kampanye dan seluruh proses yang harus dilalui oleh calon kepala daerah. Critical point-nya adalah bahwa sumbangan yang dapat diperoleh seorang calon kepala daerah (baik sumbangan perseorangan maupun sumbangan institusi) tidak boleh melebihi jumlah yang dapat diterima oleh partai politik untuk membiayai pemilihan umum. Seorang calon kepala daerah, misalnya, harus melaporkan secara akuntabel jumlah sumbangan dan penggunaan dana tersebut untuk pembiayaan pemilihan kepala daerah. Laporan keuangan tersebut juga harus menjadi objek pemeriksaan akuntan publik. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, maka akan memungkinkan munculnya pergeseran money politics dari partai politik ke calon perseornng-an. Potensi money politics ini akan semakin. besar, jika akuntabHitas sumber dan besarnya sumbangan serta penggunaan uang tersebut dapat dilakukan.
Untuk mencegah terjadinya. praktek money politics calon kepala daerah kepada masyarakat pemilfh, perlu juga dipikirkan pembatasan mengenai jumlah dana ya.ng dapat dij:>akai oleh · seorang ca Ion dari pembiayaannya
("kantong1Jyaj'J sendiri. Pembatasan ini juga diperlukan
dalam
rangkamemberikan ke?empatan yang kurang lebih sama kepada semua calon kepaJa daerah. Tentu saja .harus diperhatikan biaya riil yang harus dikeluarkan oleh, seqrang· calon kepala daerah dan kepatutan yang masih dapat diterima jika biaya yang dikeluarkan seorang calon kepala daerah melebih biaya riil tersebut. f3iaya yang dikeluarkan tersebut harus secara akuntabel diaudit oleh akuntan pubJik. Jika tidak dHakukan pembatasan
ARSIP
dan audit dana pribadi dalam pilkada s�mgat berpotensi menyebabkan praktek money politics yang Marus dibayar mahal oleh APBD dalam proses pemerintahan nantinya.
Syarat-syarat p�nting. lainnya seperti pehcalonan, kampanye, pemungutan, perhitungan oan penQtapan untuk calon kepala daerah yang diusulkan oleh partai c>olitil< jUga berla�lJ untuk ec;1lon perseorangan.
Terutama untuk tah
9
p_ ·pencalonan, bakal calon perseorangan yangsudah ditetapkan me_njadi calon kepala daerah tidak boleh mengundurkan diri. Hal ini unttJk menghindari politik dagang sapi calon calon kepala daerah dan hilangnya dukungan minimal masyarakat. Tim kampanye dan tim pemenangan calon independen (termasuk tim
monitoring) harus didaftarkan kepada KPUD dan menjadi objek
pengawasan panitia pengawas.
Lebih dari itu, DPD RI memandang perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat cepat dan mencengangkan. Dalam konteks ini penghargaan terhadap hukum menjadi prioritas utama, tidak terkecuali pada prosesi pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Hukum telah dijadikan prasyarat tambahan dalam melakukan perubahan sistem politik yang tengah
; , ,_ ,, '
berlangsung. Sistem politik bukan lagi milik para pelaku politik yang malakukan transaksi politik demi keuntungan kekuasaan, akan tetapi iebih kepada penghargaan dan pengakuan hak dasar setiap warga negara untuk berpolitik.
Pasca keluarnya putusan · Mahkamah Konstitusi No 5/PUU-V/2007
n,,-:-tentang Pengujian UU! -Pemda yang. memberikan kesempatan kepada
calon perseorangan, · �endorong terj�dinya perubahan mendasar terhadap sistem politik dan strata politik yang sedang berjalan. DPD RI memandang putusan tersebut pada hakekatnya merupakan penegasan terhadap pengakuan hak · politik setiap warga negara yang telah diakui sebelumnya, yakni (1} Pelaksanaan pemilu 2004 telah mengakui adanya _ calon perseorangan yang ditunjukkan oleh calon perseorangan untuk
ARSIP
. .. ·--· --···-�- ---�----··--·��--·---�---•·--·-·
masuk ke lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. (2) Pemberian kesempatan bagi calon perseorangan pada pilkada di NAD mefalui UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Atas dasar uraian tersebut dic)t9s, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia berpendapat Joahwa ca Ion perseorangan dalam pemilihan kepala daerah dan wakH kepafa daerah merupakan suatu hal yang niscaya dan perlu dioerikah ruang yang seluas luashya. Untuk itu, diperlukan payung hukum yang menjamin agar calon perseorangan bisa berkompetisi dalam pHkacfa langsung tanpa harus mengurangi kualitas pilkada itu sendiri.
Pendapat tersebut berdasarkan atas
1. UUD 1945 yang tidak membatasi munculnya calon perseorangan dalam pemilihan kepala daerah termasuk di dalam Pasar 18, Pasal iBA dalam UUD 1945 hasH amandemen. Ssebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa pasangan talon bisa melalui jalur atau pintu mana saja, tidak semata-mata pintu partai politik.
2. Meskipun terdapat materi dalam ketentuan Pasaf 1 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, , akan tetapi tidak ada satu materi pun yang menega,skan. b�hwa partai politik merupakan wadah satu-satunya bagi pencalonan dalam Pilkada. Materi Pasal 1 angka 22
UU No. 32 . Tahun (<-2004 tentang -Pemerintahan Daerah hanya
menegaskan pasangaff calon, tqpi tidak mencantukam asal/dari unsur
atau perwakilan apa., •1
3. Adanya pengalaman �rppirik dari pelaksanaan Pilkada di NAD sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 yang telah mengakomodasi calon perseorangan menunjukkan keberhasilan. Ini menegaska·n bahwa tidak perlu , · acfa kekhawatirah jika ca Ion perseorangan diterapkan didaerah lain.
ARSIP
4. Bagi daerah khusus seperti OKI Jak,;uta dan DIY, DPD RI berpendapat pelak$anaan pilkada mengacu pada undang-undang khusus yang mengatur daerah istimewa dan tidak tunduk pada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
III. PENUTUP
Demikianlah . Pandangan dan P�ndapat DPD RI ini disampaikan kepada DPR RI dalam rangka pemenuhan kewajiban konstitusional DPD RI untuk memberil<an pandangan dan pendapat dan turut serta dalam pembahasan revisi terbatas terhadap UU 32 Tahun 2004 yang berkaitan dengan calon perseorangan dalam Pemmhan Kepala Daerah.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 2 Oktober 2007
PIMPINAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH .REPUBLIK INDONESIA
Ketua,
Prof. Dr. Ir. H. GINANDJAR KARTASASMITA
Wa_kil Ketuat Wakil Ketua,