Diplomasi. Diplomasi

Teks penuh

(1)

TABLOID

Media Komunikasi dan Interaksi

Email: diplomasi_ri@yahoo.com

771978 917386

9

ISSN 1978-9173

Diplomasi

Diplomasi

No. 21, Tahun II, Tgl. 15 Juli - 14 Agustus 2009

Email: diplomasi_ri@yahoo.com

Kontribusi Islam

Dan Demokrasi

Dalam Membangun

Indonesia

Menlu RI :

Mengenang Seratus Tahun Mohammad Roem

“KING”

Film Bertema Bulutangkis

Pertama di Dunia

Kebudayaan, Fondasi Untuk

Memperkuat Hubungan

RI - Suriname

Menyelesaikan Persoalan

TKI di Malaysia Dengan

Kepala Dingin

Da’i Bachtiar :

Menyelesaikan Persoalan

TKI di Malaysia Dengan

Kepala Dingin

Nia Zulkarnaen :

Nia Zulkarnaen :

No. 51 Tahun V, Tgl. 15 Januari - 14 Pebruari 2012

www.tabloiddiplomasi.org

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Email: diplomasi_ri@yahoo.com .tabloid diplo masi.o rg

19

78

91

7386

978-9

173

Diplomasi Indonesia

Konsisten Mengelola Perubahan

Bali Democracy Forum Menjadi Bagian

Penting dari Arsitektur Demokrasi

(2)

Daftar Isi

Diplomasi

TABLOID

Media Komunikasi dan Interaksi

4 6 7 9 10 10 Fokus

Pernyataan Pers Tahunan Menlu : Diplomasi Indonesia

Konsisten Mengelola Perubahan

Fokus

Bali Democracy Forum Menjadi Bagian Penting Dari Arsitektur Demokrasi Di Kawasan Asia Pasifik

Fokus

Fokus Fokus

Fokus

Bali Democracy Forum Berbagi Pandangan konstruktif, Ide Dan Pelajaran Demokrasi - Tanpa Penilaian Atau Pemaksaan

Bali Democracy Forum IV Lebih Berani dan Terbuka

Peran BDF Sangat Strategis

Membangun “Digital Bangladesh” Dan Mensintesis Nilai-Nilai Demokrasi Dengan Kemajuan

>

>

>

>

>

>

12 14 16 20 21 15 BINGkAI sorot sorot sosok kILAs sorot

Dubes dan Konsul baru

Indonesia Dapat Memberikan Kontribusi Bagi Demokratisasi Global

BDF Mendorong Dialog dan Proses Demokrasi

Dubes Andri Hadi, SH, LLM Dubes RI Untuk Singapura Hangat dan Dekat dengan Siapapun

Peace Keeping Center

ASEAN Mewujudkan Unsur-Unsur Penting Partisipasi Demokrasi

sorot

IPD Akan Memberi Dukungan Negara-Negara Yang Pemerintahnya Ingin Perubahan

11

>

>

>

>

>

>

>

13

B I N G K A I

Lantik 2 Pejabat, Menlu Tekankan

Motto ‘Enough is not Good Enough’

(3)

Pelindung

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik

Pengarah

Direktur Diplomasi Publik

Penanggung jawab/PemimPin umum

Firdaus, SE. MH PemimPin redaksi Khariri Makmun redaktur Pelaksana Cahyono dewan redaksi Fransiska Monika Dilla Trianti M. Rizki S. Mali staf redaksi Saiful Amin Arif Hidayat M. Fauzi Nirwansyah Dian harja Irana

tata letak dan artistik

Tsabit Latief distribusi Mardhiana S.D. Suradi Sutarno Harapan Silitonga kontributor M. Dihar Staf Diplomasi Publik

alamat redaksi

Direktorat Diplomasi Publik, Lt. 12 Kementerian Luar Negeri RI

Jl. Taman Pejambon No.6 Jakarta Pusat Telp. 021- 68663162,

3863708, Fax : 021- 29095331, 385 8035 Tabloid Diplomasi dapat didownload di http://www.tabloiddiplomasi.org

Email : diplomasi_ri@yahoo.com

diterbitkan oleh

Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri R.I

sumber gambar Cover :

walkersands.com globaldenver

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau menyampaikan tanggapan, informasi, kritik dan saran,

silahkan kirim email:

diplomasi_ri@yahoo.com

Wartawan Tabloid Diplomasi tidak diperkenankan menerima dana atau meminta imbalan dalam bentuk apapun dari narasumber, wartawan Tabloid Diplomasi dilengkapi kartu pengenal atau surat keterangan tugas. Apabila ada pihak mencurigakan sehubungan dengan aktivitas kewartawanan Tabloid Diplomasi, segera hubungi redaksi.

Diplomasi

Diplomasi

TABLOID

Teras

Diplomasi

Memasuki tahun 2012, diplomasi Indonesia dituntut untuk bekerja lebih keras dan berbuat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, karena sepanjang tahun 2011, dunia internasional dipenuhi dengan ketidakpastian dan situasi yang sangat kompleks. Berbagai tantangan multidimensi yang saling terkait dan bersifat lintas batas, baik di bidang politik, keamanan maupun ekonomi telah mencuat dan menjadi ciri internasional tahun 2011, sehingga tidak satupun masalah dan tantangan yang dihadapi saat ini yang luput dari dimensi politik luar negeri.

Dalam kondisi internasional yang demikian, diplomasi Indonesia dituntut untuk tetap mampu memberikan kontribusi, tidak saja untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada melainkan juga menciptakan peluang. Indonesia senantiasa konsisten mengelola perubahan dan mendorongnya ke arah yang lebih baik melalui diplomasi yang bersifat responsif dan antisipatif.

Indonesia senantiasa memproyeksikan

kepemimpinan dalam penanganan berbagai tantangan di kawasan dan global serta mengupayakan adanya solusi, menjembatani perbedaan kearah kesepahaman dan mendorong terwujudnya konsensus terhadap tantangan yang dihadapi bersama.

Kebijakan polugri Indonesia diambil atas dasar pendekatan prinsipil, visioner, namun pragmatis dan antisipatif dalam merespons berbagai perkembangan kawasan dan global, dan senantiasa berjangkar pada kepentingan nasional yang disemangati oleh prinsip kemitraan dan kesetaraan, serta berpijak pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Diplomasi Indonesia akan tetap berupaya

menciptakan kondisi yang kondusif dimana seluruh pihak dapat menikmati common security, common stability dan

common prosperity serta berjuang secara gigih untuk

perdamaian dan kemakmuran. Karenanya, diplomasi ekonomi merupakan bagian tak terpisahkan dari diplomasi bilateral. Upaya-upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi dengan negara-negara sahabat merupakan salah satu prioritas diplomasi Indonesia dalam rangka mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Diplomasi di kawasan juga merupakan pilar penting diplomasi Indonesia. Diplomasi bilateral ataupun regional dapat saling melengkapi dan saling mengisi karena keduanya saling terkait erat. Indonesia senantiasa mengedepankan pengembangan arsitektur

kawasan yang memungkinkan terjalinnya kerjasama dalam menjawab tantangan-tantangan keamanan bersama, baik yang bersifat tradisional maupun non-tradisional, diantaranya berupa pengentasan kemiskinan, kelestarian lingkungan, penanganan bencana alam dan pemberantasan kejahatan lintas batas.

Keketuaan Indonesia telah memberikan kesempatan untuk memberikan kontribusi positif bagi pengembangan arsitektur kawasan yang sedang berkembang dan menunjukkan kepemimpinan Indonesia di ASEAN. Bersamaan dengan keikutsertaan Rusia dan AS dalam East

Asia Summit, Indonesia juga telah memajukan

prinsip-prinsip dasar yang mengatur hubungan dan interaksi negara-negara kunci di Asia Timur.

Diplomasi multilateral adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam diplomasi dan politik luar negeri Indonesia yang ditujukan untuk secara aktif ikut serta mengatasi masalah-masalah global, khususnya yang memiliki dampak terhadap kepentingan nasional. Partisipasi Indonesia di forum WEF, G-20 dan APEC menegaskan perhatian Indonesia dalam membangun pertumbuhan ekonomi global yang kuat, seimbang dan berkelanjutan.

Melalui berbagai forum internasional, Indonesia berkepentingan untuk memastikan empat sasaran diplomasi ekonomi: yaitu pemulihan stabilitas ekonomi global, peningkatan pertumbuhan ekonomi, fasilitasi arus perdagangan dan investasi, serta dorongan bagi pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan.

Pelaksanaan diplomasi multilateral telah semakin menegaskan ciri khas Indonesia, diantaranya kepemimpinan dalam mendorong kemajuan di berbagai bidang melalui upaya membangun konsensus, pendekatan kooperatif, menjembatani perbedaan tanpa mengkompromikan kepentingan nasional, menonjolkan

convergence of interests, konsisten dengan prinsip-prinsip

multilaterisme, serta memprioritaskan kepentingan negara-negara berkembang secara umum.

Indonesia telah mengukuhkan diri sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dimana Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan. Dalam berbagai forum global, Indonesia senantiasa diakui sebagai negara yang memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan konsisten dengan posisi yang prinsipil dalam menyikapi perkembangan demokrasi dan transformasi politik di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Indonesia juga senantiasa mendorong proses demokrasi di kawasan Asia yang bertumpu pada pilar inklusif, home-grown democracy dan saling bertukar pengalaman serta praktek-praktek terbaik. Sejak dimulai tahun 2008, penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF) semakin mendapat apresiasi yang tinggi dari negara-negara di Asia maupun kawasan lain. Forum ini juga telah berhasil menempatkan demokrasi sebagai agenda strategis di kawasan Asia dan menghasilkan banyak inisiatif kerjasama yang berdampak pada penguatan institusi demokrasi negara-negara di Asia. Dan setelah 4 tahun perjalanannya, BDF diakui telah menjadi bagian arsitektur demokrasi di kawasan.

(4)

Diplomasi

4

FOKUS UtAmA

menyaksikan perubahan yang cepat dan dinamis serta adanya ketidakpastian yang menyelimuti kondisi global sepanjang tahun 2011. Ketidakpastian kondisi ekonomi global maupun politik dan keamanan. Satu-satunya kepastian sepanjang tahun 2011 adalah ketidakpastian itu sendiri.

Inilah sebagai gambaran umum, lingkungan global dan kawasan yang dihadapi oleh diplomasi Indonesia sepanjang tahun 2011. Dalam menghadapi keadaan ini, diplomasi dapat memberikan kontribusi. Bukan saja untuk mengatasi berbagai tantangan melainkan menciptakan peluang.

Dalam menyikapi kondisi termaksud, Indonesia senantiasa konsisten mengelola perubahan “managing change” dan mendorong adanya perubahan kearah yang lebih baik “promoting change ”. Dua hal

inilah yang sesungguhnya dilakukan Indonesia sepanjang tahun 2011. Untuk itu, diplomasi Indonesia tidak hanya bersifat responsif, namun juga bersifat antisipatif.

Indonesia senantiasa

memproyeksikan kepemimpinan dalam penanganan berbagai tantangan di kawasan dan global. Kebijakan polugri yang diambil sepanjang tahun 2011, senantiasa berjangkar pada kepentingan nasional yang disemangati prinsip kemitraan dan kesetaraan. Indonesia senantiasa mengupayakan adanya solusi, menjembatani perbedaan kearah kesepahaman dan mendorong terwujudnya konsensus terhadap tantangan yang dihadapi bersama.

Kebijakan polugri diambil didasarkan pada pendekatan yang prinsipil, visioner, namun pragmatis dan antisipatif dalam merespons berbagai perkembangan kawasan dan global. SEPANjANG tahun 2011, kita

menyaksikan kondisi internasional yang semakin kompleks dan dipenuhi ketidakpastian. Tantangan multidimensi baik di bidang politik, keamanan maupun ekonomi telah menjadi ciri situasi internasional tahun 2011. Tantangan yang bersifat tradisional maupun non tradisional, saling terkait dan bersifat lintas batas. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satupun masalah dan tantangan yang kita hadapi saat ini yang luput dimensi politik luar negerinya.

Hal ini disebabkan setidaknya oleh dua hal yaitu: pertama, dampak dari tantangan tersebut sangat kompleks dan lintas batas. Kedua, tidak ada satu negarapun yang mampu menyelesaikan tantangan dan situasi termaksud secara sendiri. Kerjasama internasional mutlak dibutuhkan.

Di saat yang sama, kita juga

Menlu RI, Dr. RM. Marty M. Natalegawa menyampaikan pidato Pernyataan Pers Tahunan di Gedung Nusantara Kementerian Luar Negeri RI pada tanggal 4 juni 2012

Semua dilakukan untuk mengelola perubahan dan dinamika yang terjadi; di saat yang sama senantiasa mendorong adanya perubahan kearah perbaikan.

Sesuai dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, politik luar negeri Indonesia senantiasa mengedepankan kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Semuanya dilakukan semata untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.

Kepentingan nasional sebagaimana yang tertera dalam pembukaan UUD 1945; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Mengawali pelaksanaan politik luar negeri pada tahun 2012 ini, kita meyakini tantangan global dan kawasan diperkirakan tidak semakin kecil, melainkan semakin meningkat.

Ketidakpastian diperkirakan pula masih akan mewarnai kondisi pada tingkat global maupun kawasan.

Ditengah kondisi global dan kawasan yang semakin kompleks, Kementerian Luar Negeri memiliki komitmen, niat dan kesungguhan yang kuat untuk melanjutkan dan

meningkatkan hasil yang telah dicapai pada tahun lalu. Diplomasi Indonesia akan tetap berupaya mengelola perubahan dan mendorong adanya perubahan guna menciptakan kondisi yang kondusif dimana seluruh pihak dapat menikmati keamanan bersama (common security), stabilitas bersama (common stability) dan kemakmuran bersama (common

prosperity).

Indonesia secara gigih akan berjuang untuk perdamaian dan kemakmuran (waging peace

and prosperity). Sesungguhnya,

perkembangan yang terjadi pada tahun 2011 telah membuktikan komitmen dimaksud dan pada tahun 2012, ini akan terus menjadi platform diplomasi dan politik luar negeri Indonesia.

Sepanjang tahun 2011, Indonesia memberikan perhatian yang besar pada peningkatan hubungan dengan negara-negara sahabat. Upaya untuk memperdalam dan memperluas kerjasama bilateral senantiasa dikembangkan berdasarkan prinsip kemitraan, kesetaraan dan saling menguntungkan.

Sepanjang tahun 2011, telah dilakukan penajaman prioritas-prioritas kerjasama dengan negara-negara mitra

Diplomasi Indonesia

Konsisten Mengelola Perubahan

Pernyataan Pers Tahunan Menlu

Dok. In

(5)

FOKUS UtAmA

5

Diplomasi

strategis dan komprehensif Indonesia, dan mengidentifikasi negara-negara sahabat yang berpotensi menjadi mitra strategis Indonesia.

Pada tahun 2011 telah diidentifikasi 3-5 bidang prioritas dan target-target kerjasama ekonomi pada masing-masing negara dimana Indonesia memiliki kemitraan strategis dan komprehensif. Prioritas dan target dimaksud akan menjadi semacam tolok ukur pencapaian mesin diplomasi dan politik luar negeri.

Selain itu, sepanjang tahun 2011 dilakukan berbagai upaya untuk penguatan mekanisme kerjasama bilateral dengan negara-negara sahabat. Penguatan mekanisme bilateral dilakukan dengan merevitalisasikan mekanisme bilateral dengan sejumlah negara dan atau mempertajam mekanisme yang sudah berjalan secara regular.

Pertemuan Komisi Bersama Tingkat Menteri dengan Filipina, Myanmar dan Laos yang telah vakum sejak tahun 2007 telah direvitalisasi. Demikian halnya Komisi Bersama Tingkat Menteri dengan Brunei Darussalam telah direvitalisasi sejak pertemuan terakhir tahun 2003. Secara sistematis, mekanisme yang telah direvitalisasi sejak tahun lalu, pada tahun 2011 ini dilakukan penajaman lebih lanjut misalnya dengan Timor Leste, Selandia Baru, Malaysia, Amerika Serikat dan Jepang.

Selain itu upaya peningkatan hubungan bilateral yang dilakukan sepanjang tahun 2011 juga tercermin pada intensitas yang sangat tinggi pertemuan bilateral yang dilakukan baik pada tingkat Kepala Negara/ Pemerintahan maupun pada tingkat Menteri Luar Negeri.

Untuk membangun payung hukum peningkatan kerjasama dengan negara-negara sahabat, sepanjang tahun 2011 Pemerintah Indonesia telah menandatangani setidaknya 146 perjanjian internasional, dimana 131 diantaranya adalah perjanjian bilateral. Selain itu, Indonesia juga telah meratifikasi 26 perjanjian, dimana hampir 90% merupakan perjanjian bilateral dan lebih dari 60% diantaranya adalah di bidang perekonomian. Ke depan, tentunya berbagai kesepakatan dimaksud menuntut kerja keras seluruh pihak untuk dapat mengimplementasikannya.

Diplomasi ekonomi merupakan bagian tak terpisahkan dari diplomasi bilateral Indonesia. Upaya-upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi dengan negara-negara sahabat merupakan salah satu prioritas diplomasi Indonesia dalam

rangka mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Untuk memastikan adanya peningkatan volume dan kualitas perdagangan Indonesia dengan negara sahabat, khususnya dengan negara mitra strategis, telah dibuat target perdagangan sebagai tolok ukur pencapaian kinerja diplomasi ekonomi. Perwakilan RI di luar negeri menjadi tulang punggung upaya diplomasi ekonomi Indonesia. Untuk memperdalam dan memperluas pasar tradisional Indonesia. Di saat yang sama mengidentifikasi lebih lanjut pasar non tradisional. Upaya ini semakin penting dalam kondisi ekonomi global yang masih belum menentu.

Berbagai bentuk diplomasi ekonomi dilakukan Perwakilan RI di seluruh penjuru dunia dari Azerbaijan hingga Zimbabwe; dari Selandia Baru hingga Republik Rakyat Tiongkok.

Penyelenggaraan pameran produk Indonesia di luar negeri; mendatangkan pengusaha negara sahabat ke Indonesia; mempromosikan pembentukan forum bisnis antara pengusaha kedua negara; adalah beberapa langkah nyata diplomasi ekonomi Indonesia.

Hasil positif telah kita saksikan dan rasakan bersama. Sepanjang tahun 2011 misalnya, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan hampir semua negara-negara sahabat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Volume perdagangan dengan 13 negara mitra strategis misalnya mencatat peningkatan yang cukup tajam rata-rata di atas 50 persen.

Sesuai komitmen untuk memperluas hubungan diplomatik dengan seluruh negara anggota PBB, sepanjang tahun 2011, Indonesia telah membuka hubungan diplomatik dengan sembilan negara yaitu Mauritania, El Salvador, San Marino, Montenegro, Republik Dominika, Niger, Sao Tome dan Principe, Antigua dan Barbuda serta Bhutan.

Sembilan negara yang baru dibuka sekaligus sepanjang tahun 2011 ini, merupakan bagian dari sisa 21 negara dimana Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik. Dibukanya hubungan diplomatik dengan 21 negara nantinya, praktis Indonesia akan memiliki hubungan diplomatik dengan seluruh negara anggota PBB yang berjumlah 193 negara.

Di saat yang sama, tercatat 5 negara telah membuka perwakilan asing di jakarta yaitu Fiji, Kolombia, Belarus, Paraguay dan Konsulat Jenderal RRT

di Medan. Pada tahun 2011, sebanyak 16 negara yang membuka kantor perwakilan negaranya untuk ASEAN di Jakarta.

Hingga akhir tahun 2011, tercatat 61 negara yang telah memiliki Wakil Tetap untuk ASEAN. Pada tahun 2012 ini, beberapa negara telah merencanakan membuka perwakilan di jakarta antara lain Vanuatu dan Georgia. Hal ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia khususnya jakarta, sebagai salah satu Diplomatic capital bagi kawasan Asia Timur.

Pada tahun 2012 mendatang, Indonesia akan tetap memberikan perhatian besar bagi diplomasi bilateral. Kerjasama dengan negara-negara mitra strategis akan terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan peluang-peluang yang saling menguntungkan termasuk memonitor implementasi bidang prioritas yang telah ditetapkan.

Mekanisme bilateral yang telah ada akan dipertajam dan dibuat lebih komprehensif dengan melibatkan pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya.Target perdagangan yang telah ditetapkan akan menjadi semacam score

card bagi setiap perwakilan untuk dapat

mencapainya. Merupakan kewajiban perwakilan RI, untuk memperluas pasar ekspor Indonesia guna mendukung nilai eskpor yang dicanangkan Indonesia pada tahun 2012 ini yaitu 230 miliar dollar AS.

Kementerian Luar Negeri juga telah menginstruksikan kepada seluruh perwakilan untuk secara aktif mendorong investasi asing yang bermanfaat bagi kepentingan ekonomi Indonesia sesuai dengan MP3EI yang telah dimiliki Indonesia. Perwakilan RI di luar negeri juga harus berkontribusi bagi pencapaian target wisatawan manca Negara sebesar 8 juta jiwa di tahun 2012.

Seluruh ukuran-ukuran tersebut sangat jelas untuk menjadi target setiap perwakilan. Untuk mempertajam diplomasi bilateral, pada paruh pertama tahun 2012 di jakarta, akan dilakukan rapat kerja seluruh kepala perwakilan RI guna mengkaji upaya yang sistematis peningkatan hubungan bilateral dengan setiap negara.

Diplomasi di kawasan juga merupakan pilar penting diplomasi Indonesia. Diplomasi bilateral ataupun regional dapat saling melengkapi dan saling mengisi. Keduanya saling terkait erat.

Diplomasi Indonesia dalam mengembangkan kerjasama kawasan senantiasa mengedepankan pengembangan arsitektur kawasan yang memungkinkan kerjasama dalam

menjawab tantangan-tantangan keamanan bersama baik yang bersifat tradisional maupun non-tradisional. ‘Tantangan atau ancaman bersama’ di kawasan bukanlah sebuah negara tertentu, melainkan isu bersama seperti pengentasan kemiskinan, kelestarian lingkungan, penanganan bencana alam dan pemberantasan kejahatan lintas batas.

Indonesia juga senantiasa mendorong terciptanya “dynamic

equilibrium” di kawasan berdasarkan

pendekatan yang menggarisbawahi prinsip common stability, common

security dan common prosperity di

antara negara-negara di kawasan. Hal ini tidak lain untuk mewujudkan kawasan yang damai, aman dan stabil sehingga memungkinkan negara-negara di kawasan, khususnya Indonesia, untuk dapat melaksanakan pembangunan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Keketuaan Indonesia pada tahun 2011 memberikan kesempatan untuk memberikan kontribusi yang positif bagi pengembangan arsitektur kawasan yang sedang berkembang. Sepanjang tahun 2011, sebagaimana tahun dimana Indonesia menjadi Ketua ASEAN, Indonesia senantiasa menunjukkan kepemimpinan atau leadershipnya bukan hanya menjadi semata ketua ASEAN.

Menjadi Ketua ASEAN adalah masalah rotasi keketuaan; namun kepemimpinan ASEAN menuntut memberikan kontribusi positif bagi pengembangan Komunitas ASEAN yang tidak hanya berhenti pada saat berakhirnya keketuaan, namun berlanjut kedepan. Itulah yang ditunjukkan Indonesia selama menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2011 ini.

Indonesia membuat perbedaan;

made a difference. Indonesia berupaya

merubah kondisi dari keadaan sebelumnya ke arah yang lebih baik.

Adalah merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan bahwa politik luar negeri Indonesia dan diplomasi merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. Hanya dengan itu, Indonesia akan memiliki peran dan pengaruh yang lebih besar di kawasannya. Hanya dengan itu pula, Indonesia dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam forum global. Hanya dengan itu pula, politik luar negeri dan diplomasi Indonesia dapat diabdikan untuk kepentingan nasional. Guna mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.[]

(Disunting dari Pernyataan Pers Tahunan Menlu RI 2012, 4/1/2012)

(6)

Dalam rentang waktu yang relatif singkat, Bali Democracy Forum dengan cepat diakui secara luas sebagai bagian penting dari arsitektur demokrasi di kawasan Asia Pasifik.

Saat ini kita telah memasuki tahun keempat penyelenggaraan BDF sejak didirikan pada tahun 2008, Forum telah berkembang semakin substantif dalam mempromosikan dialog dan kerjasama pembangunan politik, serta promosi demokrasi di kawasan. Hal ini dicapai melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik.

Jumlah peserta dan pengamat pada pelaksanaan Bali Democracy Forum ini meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.

Bali Democracy Forum IV ini dihadiri

oleh 6 Kepala Negara, 2 Wakil PM, 24 Menteri, dan tidak kurang dari 82 negara yang hadir, baik sebagai peserta ataupun pengamat.

Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini mencerminkan dukungan yang kuat terhadap Forum. Dan pada gilirannya, hal ini tentu harus mencerminkan nilai-nilai dari Forum kepada seluruh peserta, dan pengakuan yang semakin luas dari negara-negara di kawasan dan dunia pada umumnya, terhadap promosi nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan di kawasan Asia Pasifik.

Melalui Institute for Peace and

Democracy (IPD) sebagai lembaga

pelaksana, BDF telah menyelenggarakan dan memberikan kontribusi bagi berbagai kegiatan regional dan internasional.

Sebagai contoh, sepanjang tahun lalu telah diselenggarakan

Election Visit Programs di

Jepang dan Thailand. Dan dalam kesempatan ini, kami ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada pemerintah kedua negara untuk kerjasama dan kolaborasinya, sehingga program ini dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain itu, berbagai ceramah dan diskusi akademis juga telah diatur dalam kerjasama dengan universitas-universitas, baik di Asia dan di kawasan lain, untuk mempromosikan demokrasi.

Bahkan lebih dari itu, IPD telah memberikan kontribusi nyata dalam menanggapi gelombang pertumbuhan demokrasi yang menyisir sebagian besar Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam hubungan ini, misalnya IPD telah memprakarsai serangkaian lokakarya bekerjasama dengan berbagai pemangku

kepentingan di Mesir untuk berbagi pengalaman dalam memelihara dan mengkonsolidasikan demokrasi.

Melalui upayanya,

Bali Democracy Forum

telah meletakkan dasar yang kuat untuk promosi demokrasi dengan memastikan pertimbangan yang membangun terhadap tema dan diskusi pada sesi sebelumnya.

Kita ingat bahwa Bali

Democracy Forum Pertama

dan Kedua mengakui pentingnya membangun jaringan masyarakat demokratis yang kuat dan hubungan yang tidak terpisahkan antara demokrasi

dan pembangunan ekonomi. Sebagaimana ditekankan dalam

Bali Democracy Forum Ketiga, semua

negara didorong untuk menjamin pencapaian democratic dividend melalui pembentukan perdamaian, stabilitas dan kemakmuran yang adil.

Ini merupakan elemen kunci dalam menyampaikan demokrasi.

Forum tahun ini mengambil tema “Enhancing Democratic Participation

in a Changing World: Responding to Democratic Voices”, yang akan

mengidentifikasi dan mengelaboarsi, setidaknya dua hal:

Pertama, kemampuan negara

untuk merespon secara positif suara demokrasi.

Kedua, cara untuk memastikan

ruang demokrasi bagi partisipasi yang lebih luas dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik.

Kedua elemen ini jelas sangat penting dalam memastikan pengembangan dan pertumbuhan demokrasi.

Partisipasi masyarakat yang lebih luas sangat penting untuk menjawab tantangan global saat ini, dimana gelombang demokratisasi telah melanda banyak bagian dunia dan membawa implikasi geopolitik, ekonomi dan sosial.

Oleh karena itu, modalitas

dimana orang bisa mengekspresikan pendapat, kekhawatiran dan kebutuhan mereka, adalah sangat penting untuk lebih mengkonsolidasikan nilai-nilai demokrasi.

Selama masa perubahan yang cepat dan dinamis ini, kebajikan demokrasi sekali lagi sedang diuji. Negara diharapkan untuk lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan dan keprihatinan rakyat mereka.

Hal ini melatar belakangi

penyelenggaraan Bali Democracy Forum Keempat yang akan berusaha untuk membahas bagaimana demokrasi, sebagai suatu proses pemerintahan, membutuhkan partisipasi luas dari rakyat dalam proses pengambilan keputusan.

Negara-negara didorong untuk berbagi pengalaman mereka masing-masing dalam memastikan partisipasi semua pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan.

Partisipasi dan pandangan para pemimpin negara/pemerintahan serta seluruh delegasi yang hadir di forum ini tentunya akan memberikan banyak pertimbangan yang mendalam, kontribusi bagi masa depan kontribusi bagi masa depan Bali Democracy Forum yang lebih baik sebagai mercusuar demokrasi di kawasan Asia-Pasifik.[]

Bali Democracy Forum Menjadi Bagian Penting

Dari Arsitektur Demokrasi Di Kawasan Asia Pasifik

Diplomasi

6

F O K U S

Dr R. M. Marty M. Natalegawa

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia

Dr. N. Hasan Wirajuda memandu paparan pada hari ke-dua BDF IV

Dok. Diplomasi

Dok. In

(7)

F O K U S

7

Diplomasi

BAli DEmoCRACy FoRum (BDF) telah

tumbuh secara signifikan sejak pertama kali didirikan pada tahun 2008. BDF adalah forum antar-pemerintah pertama tentang demokrasi di Asia. Kehadiran di Bali Democracy Forum telah berkembang, dari 39 negara peserta dan organisasi internasional pada pertemuan pertama tahun 2008, hingga 82 peserta pada hari ini. Selain itu, saya juga senang menyoroti bahwa jumlah pejabat setingkat Kepala Negara dan Pemerintah, tahun ini telah melompat menjadi 8 dari 3 pada pertemuan terakhir. Saya yakin bahwa jumlah ini akan terus berkembang di masa depan.

Bali Democracy Forum telah

menjadi forum utama bagi

negara-negara di kawasan untuk berbagi pandangan konstruktif, ide dan pelajaran demokrasi - tanpa penilaian atau pemaksaan. Ini menyediakan ruang bagi setiap orang untuk mengambil bagian tanpa beban pretensi.

Peristiwa terakhir di seluruh dunia telah membuat pekerjaan kita semua di sini menjadi lebih signifikan.

Di Asia Tenggara, Myanmar mengadakan pemilihan awal tahun ini dan sekarang mempercepat transisi politik sebagai bagian dari peta jalan menuju demokrasi. Kami menyatakan dukungan bagi Myanmar karena terus berupaya memajukan reformasi dan pembangunan demokrasi, terutama untuk mencapai rekonsiliasi dan

perdamaian abadi.

Perkembangan yang paling signifikan, mungkin adalah peristiwa di Afrika Utara dan Timur Tengah- yang sekarang disebut sebagai Arab Spring -yang telah menghasilkan perubahan politik secara cepat dan tidak satupun dari kita yang memprediksi hal ini. Seperti jin yang keluar dari botol, ia melepaskan kekuatan dan mengubah masyarakat untuk selamanya. Masyarakat menuntut lebih banyak ruang politik dan partisipasi yang lebih besar dalam menentukan masa depan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan yang efektif membutuhkan dukungan dari masyarakat sipil.

DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Presiden Republik Indonesia

Bali Democracy Forum Berbagi

Pandangan konstruktif, Ide Dan

Pelajaran Demokrasi - Tanpa Penilaian

Atau Pemaksaan

Presiden SBY menyampaikan pidato pembukaan BDF IV pada tanggal 8 Desember 2011 di Nusa Dua Bali

(8)

Diplomasi

8

F O K U S

Hal ini masih terlalu dini untuk menentukan bagaimana perubahan politik akan terjadi. Berdasarkan pengalaman kami sendiri di Indonesia, adalah aman untuk mengasumsikan bahwa ini adalah tahun-tahun awal, dan berbagai hal akan menjadi lebih sulit sebelum akhirnya menjadi lebih baik. Dengan cara apapun tanpa terdengar pesimis, harus dikatakan bahwa tidak ada jaminan keberhasilan bagi negara manapun dalam memulai perubahan politik. Perubahan bisa menjadi lebih baik atau buruk. Dan demokrasi di seluruh dunia biasanya memiliki 4 (empat) skenario perkembangan: mereka dapat meningkat, stagnan, mengalami pembusukan atau gagal. Ini berarti bahwa keberhasilan demokrasi itu harus dibangun, kerjakeras dan improvisasi setiap langkah dari jalan yang ditempuh. Tentunya, pemilu hanyalah salah satu alat demokrasi, dan untuk membangun demokrasi yang matang membutuhkan lebih banyak, tidak hanya memegang pemilu semata.

Terjadinya perubahan politik yang luar biasa memperkuat poin-poin penting dari apa yang telah kita bahas dalam 4 (empat) tahun terakhir.

Saya akan mencoba untuk menyoroti apa yang kita harapkan dari demokrasi.

Dimulai dengan, bahwa demokrasi harus memberikan kebebasan yang lebih besar. Ini berarti harus menyediakan ruang yang cukup bagi warga negara untuk menjalani hidupnya dalam kebebasan - kebebasan beragama, berserikat, berekspresi.

Tapi kebebasan itu memiliki banyak dimensi - dan kita harus tetap setia mempromosikan masing-masing kebebasan tersebut. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, akhirnya kami mendapatkan kebebasan politik dari kolonialisme bagi warga kami, tapi beberapa lama setelah itu, rakyat kami masih hidup di bawah tirani kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan – tidak ada kondisi kebebasan ekonomi. Hal ini membuat kebebasan politik yang baru kami peroleh tidak lengkap dan sangat riskan terhadap ketimpangan.

Selain itu, kebebasan itu juga tidak mutlak. Ia memiliki batas. Kebebasan tidak dapat digunakan untuk melanggar hak orang lain. Tidak boleh digunakan untuk mempromosikan kebencian, konflik atau perang. Itu sebabnya kami percaya bahwa kebebasan harus dibarengi dengan toleransi dan aturan hukum - karena tanpa itu, kebebasan akan menyebabkan anarki dan

kebencian yang tidak terkendali. Lebih dari sekedar memberikan kebebasan, demokrasi juga harus memberikan perdamaian. Kita semua menyadari teori “democratic peace”, didasarkan pada asumsi bahwa demokrasi tidak berperang melawan satu sama lain. Tapi ada kasus-kasus yang luas di mana demokrasi baru menjadi terbebani oleh meningkatnya konfli, dan membuat perdamaian menjadi lebih sulit untuk dipahami. Kami mengalami hal ini di Indonesia pada tahun-tahun awal transisi demokrasi, di mana kita menyaksikan perkembangan konflik komunal di daerah-daerah tertentu selama waktu tertentu.

Hari ini, perdamaian dan stabilitas merasuk di seluruh Indonesia. Meskipun demikian, kami tetap waspada karena Indonesia tidak sepenuhnya bebas dari prospek meletupnya konflik komunal baru. Dan ini adalah masalah yang juga dihadapi oleh negara-negara lain yang mengalami transisi demokrasi. Ini juga yang menjadikan mengapa setiap transisi demokrasi harus mencakup upaya untuk menyediakan secara sistematis upaya perlindungan hak asasi manusia. Semakin kita menjamin hak asasi manusia bagi warga kita, demokrasi kita akan menjadi lebih tahan lama.

Selain memberikan kebebasan dan perdamaian, demokrasi juga harus memberikan moderasi. Hal ini penting, karena sebagaimana sering terjadi, demokrasi dapat menimbulkan segala macam ekstremisme dan radikalisme. Memang, ekstrimis biasanya tergoda untuk menyalahgunakan keterbukaan demokratis untuk keuntungan mereka sendiri, tanpa pernah benar-benar percaya kepada kebaikan demokrasi. Ini adalah sesuatu yang dapat terjadi di negara demokrasi barat, demikian juga di Asia, Afrika atau Latin. Biasanya, kita tidak dapat menghentikan atau membatasi suara-suara radikal, tetapi jika tidak dicegah akhirnya mereka dapat menyebabkan erosi demokrasi. Kami tidak pernah bergeser sedikitpun dalam mendorong dari belakang dengan memastikan bahwa suara moderasi dan pemikiran logis terus berlaku sebagai tren utama dalam masyarakat kita. Memang, salah satu poin dalam Rencana Aksi Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN baru-baru ini di Bali adalah untuk mempromosikan sebuah koalisi global moderat sebagai ukuran yang diperlukan untuk perdamaian dunia. Lebih dari kebebasan, perdamaian dan moderasi, demokrasi juga harus memberikan kemajuan. Ini memang tantangan bagi banyak demokrasi:

memastikan bagaimana demokrasi diterjemahkan menjadi perlengkapan publik yang positif secara nyata. Hal ini juga akan menjadi tantangan penting yang dihadapi Arab Spring dalam jangka pendek – bagaimana bisa dengan cepat membangun lembaga-lembaga demokrasi sambil memberikan jenis-jenis pemerintahan yang diperlukan untuk menarik masyarakat mereka selama kondisi sosial ekonomi yang sulit. Pada tahun-tahun awal transisi, rakyat bisa menjadi tidak sabar dan menuntut lebih. Mereka ingin melihat solusi yang cepat, yang seringkali sulit didapat. Memohon kesabaran terkadang tidak cukup. Dan obat terbaik biasanya adalah tegas – meskipun menyakitkan - bergerak untuk reformasi yang akan meningkatkan standar hidup, meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan yang berkualitas. Jangan lupa: bahwa demokrasi adalah harapan. Kita memiliki kewajiban untuk tidak membiarkan harapan itu turun.

Dan akhirnya, demokrasi harus membawa -dengan baik- demokrasi. Saya katakan ini karena ada kasus ketika demokrasi mengarah pada penindasan yang lebih tirani. Pola pikir otoriter dapat berkembang dalam masyarakat demokratis. Faktanya adalah: demokrasi tidak dapat bertahan tanpa demokrat. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk terus menumbuhkan pola pikir demokratis di antara masyarakat kita. Skenario mimpi adalah agar masyarakat memiliki kepercayaan yang tidak tergoyahkan dalam sistem demokrasi, tidak peduli apa pendapat mereka tentang para politisi dan pemimpin politik.

Dalam dunia yang sempurna, demokrasi membawa semua hal ini bersama-sama. Tapi kita tidak hidup di dunia yang sempurna. Kita hidup di dunia yang tidak sempurna, di mana ada hal-hal yang salah, yang baik sering diinjak, dan harapan sering terbuang.

Saya yakin bahwa kita semua, tidak peduli apa sistem politik dan latar belakang sejarahnya, kita ingin melihat yang terbaik bagi masyarakat kita. Pada abad ke-21, ini berarti satu hal: kita harus menempatkan dan hidup sesuai dengan aspirasi rakyat kita. Ketika ada keterputusan antara pemimpin dan keinginan rakyat, politik akan menjadi disfungsional.

Masing-masing dari kita perlu untuk merespon secara berbeda terhadap aspirasi rakyat kita, tetapi kita harus merespon. Hal ini terutama terjadi karena kita menghadapi tampilan sosial dan politik yang sama sekali berbeda di abad 21 ditandai dengan pertumbuhan fenomenal media sosial,

yang berarti bahwa pendapat dan aspirasi warga negara kita telah menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Memang, transisi Arab Spring sejauh ini mewakili demonstrasi terbaik kekuatan rata-rata warga negara untuk menghasilkan perubahan, dipersenjatai dengan Facebook, Twitter dan smart phone. Saya percaya bahwa dengan munculnya media sosial di mana-mana dalam masyarakat kita ini akan menjadi tantangan intelektual dan praktis yang paling penting bagi demokrasi abad 21.

Dan di luar instrumen pemungutan suara, ada banyak alat-alat baru yang akan memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang dipikiran dan menjadi keinginan rakyat. Di kantor kepresidenan saya, selama beberapa tahun kami telah menerapkan PO Box, email dan layanan teks untuk setiap warga negara kami yang ingin mengajukan keluhan, mengekspresikan keprihatinan dan menyarankan ide-ide secara langsung ke kantor saya. Kami mempekerjakan puluhan orang yang bekerja sepanjang waktu untuk mengumpulkan dan menyoroti aspirasi masyarakat. Saya telah menemukan metode ini menjadi cara lain yang baik untuk menyerap aspirasi masyarakat - dan untuk mengukur, baik sentimen positif dan negatif. jika setelah penyelidikan lebih lanjut keluhan-keluhan ini ternyata bermanfaat, kami akan memproses apa yang mereka harapkan.

Akhirnya, kalau boleh saya katakan begitu, saya menyatakan bahwa 2011 akan diingat sebagai tahun transisi.

Kami ingin mereka semua baik. Kami tahu betapa sulitnya itu, dan kami meminta agar mereka memiliki kepercayaan yang kuat dalam demokrasi, bahwa mereka memelihara itu. Banyak dari mereka memerlukan bantuan - dan beberapa memang benar-benar meminta bantuan - tapi saya percaya beberapa juga perlu ruang untuk melakukan kerja keras mereka. jika begitu kita harus menghormati keinginan mereka. Setiap demokrasi memiliki hak untuk membuat keputusan mereka sendiri, untuk memetakan masa depan mereka sendiri, dan juga untuk membuat kesalahan mereka sendiri. Ini adalah proses yang memerlukan

trial and error dan sangat penting bagi

demokrasi untuk tumbuh dan matang. Dan jika kita memiliki kepercayaan dalam apa yang kita lakukan, dan kita tetap jalan, saya yakin bahwa kita semua akan melihat cahaya di ujung terowongan, dan mempertahankan harapan yang disematkan jutaan orang pada kita.[] (Sumber : Paparan BDF IV, Nusa Dua, Bali 8-9 /12)

(9)

9

Diplomasi

Bali Democracy Forum IV Lebih Berani dan Terbuka

BEBERAPA catatan menarik dari penyelenggaraan Bali Democracy Forum IV (BDF) tahun ini; pertama, adalah adanya peningkatan jumlah peserta. Ini menunjukkan semakin besarnya dukungan terhadap BDF, dimana suara-suara yang tadinya agak sinis dan mempertanyakan kredibilitas dan manfaat dari BDF ini mungkin sudah agak berkurang, karena sudah semakin banyak negara yang berpartisipasi, termasuk observer

country dari negara-negara Eropa,

Amerika dan Timur Tengah. Ada begitu banyak harapan terhadap BDF ini. Sudah kurang tepat lagi jika saat ini ada sebagian pihak yang menanyakan manfaat BDF. Karena semestinya bukan lagi apakah BDF ini relevan atau tidak, tetapi bagaimana BDF bisa memenuhi semua harapan tersebut.

Kedua, adalah dari segi substansi, dimana BDF IV kali ini lebih berani, karena berbicara tentang bagaimana harus memperbesar ruang agar pemerintah mau mendengarkan suara-suara rakyat. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sebagian dari anggota BDF itu masih agak tertutup. Mereka memang mau berbicara mengenai demokrasi, tetapi untuk betul-betul memberi ruang kepada masyarakat madani, itu masih bersifat problematik.

Tapi dalam satu tahun belakangan ini, banyak terjadi kejadian-kejadian internasional yang menunjukkan bahwa negara-negara yang terlalu refresif dan otoriter itu akan menghadapi perlawanan yang semakin masif dari masyarakatnya, termasuk dari generasi muda mereka yang mampu menggunakan media-media baru seperti tweeter, facebook dan sebagainya, seperti halnya kasus ‘Arab

Spring’.

Kemudian juga di Myanmar yang cukup lama tidak ada pergerakan disana, mungkin karena tekanan dari luar atau ada pendekatan persuasif negara-negara anggota ASEAN, dan karena Myanmar ingin supaya bisa diterima menjadi bagian dari komunitas regional, maka dalam satu tahun terakhir ini ada perbaikan yang cukup signifikan disana.

Kita melihat bahwa situasi yang terjadi belakangan ini telah membuat negara-negara yang tadinya enggan untuk berbicara tentang demokrasi dan bersikap agak defensif, telah mulai membuka diri. Saya senang sekali

Undang yang memberi ruang yang lebih besar bagi masyarakat madani untuk lebih berperan. Tetapi ternyata ini tidak mudah, karena perempuan yang selama ini tidak pernah bisa berperan tiba-tiba saja bisa mengorganisir diri dan melakukan upaya-upaya yang berpengaruh terhadap kebijakan publik.

Begitu juga dengan masyarakat tradisional yang terdiri dari suku-suku misalnya, bagaimana mereka bisa mentransformasi diri supaya lebih modern. Ini tantangan bagi semua bangsa yang masih dalam era transisi untuk bisa membangun civil

society. Tantangan bagi negara yang

menghendaki adanya pemahaman yang lebih dari warga negaranya mengenai apa arti demokrasi, peranan dari warga, dan sebagainya.

Ini menarik karena justru dari floor atau para peserta muncul usul untuk bisa mendorong civil society supaya bisa berperan lebih konstruktif. jadi tidak hanya asal anti pemerintah, tetapi bagaimana mereka juga bisa memberikan solusi dan sebagainya. Para peserta sepertinya sudah mulai terbuka, dan mengharapkan agar pada pelaksanaan BDF berikutnya ada sesi khusus untuk membicarakan civil

society.

Selain itu dibahas pula mengenai pentingnya peran dan independensi media, disamping ada kewaspadaan dalam hal NGO, karena ada juga NGO yang tidak sepenuhnya bisa diandalkan untuk memperjuangkan kepentingan publik, mereka lebih memperjuangkan ‘kepentingannya’ dan terkadang sangat tergantung dengan pihak asing dalam hal pendanaan. Lalu bagaimana jika mereka memajukan agenda-agenda yang tidak sejalan dan tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Ada kekhawatiran terjadinya manipulasi dari pihak asing, sementara di sisi lain, lemahnya kapasitas di dalam negeri mengharuskan negara dan masyarakat untuk mau menerima bantuan asing. Dalam hal ini peranan dari donor agency, organisasi internasional dan sebagainya menjadi cukup penting. Tinggal bagaimana mencari keseimbangan yang baik antara meminta bantuan dari luar dengan keharusan memelihara agenda itu agar tetap dikuasai oleh national society itu sendiri.[]

berperan. Kedua, disamping bagaimana meningkatkan peranan civil society. Semuanya sepakat bahwa civil society sangat penting didalam memajukan demokrasi, karena memiliki peran yang bermacam-macam, seperti advokasi, pemberdayaan, social control, harmonisasi, dan ko-eksivitas.

Menlu Bosnia menegaskan mengenai pentingnya peranan kelompok-kelompok agama, misalnya untuk mengadakan interfaith dialogue sebagai upaya guna mencegah kebencian antar agama. Jadi kalau misalnya ada problem, maka civil society yang akan me-reduce back.

Ada juga pertanyaan, misalnya di negara-negara yang masih tradisional dan mungkin masih sangat tryble dan sektarian, dimana perempuan dan anak-anak muda mungkin belum terbiasa untuk berperan. Bagaimana negara yang masih traditional society ini bisa mentransformasi diri untuk membangun

civil society.

Irak menyampaikan bahwa hal ini merupakan tantangan bagi mereka. Di satu pihak sudah ada upaya dari pemerintah untuk membuat Undang-dengan statement yang disampaikan

oleh beberapa pemerintahan, termasuk Myanmar dan Qatar serta beberapa negara lainnya yang baru membuka diri, dimana mereka menekankan betapa pentingnya bagi pemerintah untuk lebih terbuka dan responsif terhadap demokrasi politik.

Sementara itu apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden, saya kira sangat baik, karena beliau menjelaskan mengenai langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh Indonesia, baik langkah-langkah maju maupun kesulitan yang dihadapi. Presiden SBY menegaskan bahwa demokrasi itu bukan sesuatu yang mudah, melainkan harus diperjuangkan terus-menerus dan banyak sekali hambatan-hambatan yang harus dihadapi.

Di dalam sesi interaktif, kita lebih banyak lagi mengajak pertukaran pendapat tentang bagaimana caranya negara tidak lagi represif dan menghambat demokrasi dan secara sistematis membuka diri melalui institusi-institusi dan Undang-Undang yang lebih terbuka sehingga memungkinkan demokratisasi lebih

Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, MA

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden/Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI

F O K U S

(10)

Diplomasi

10

F O K U S

negara-negara tersebut. Ini penting, karena bisa jadi mereka malah tidak akan menjadi negara yang demokratis jika kita tidak menyertakan mereka. Dengan mendengar barbagai macam pengalaman demokrasi melalui forum ini, maka pada akhirnya mereka mulai menemukan bentuk demokrasi yang sesuai bagi negara mereka.

Disinilah peran BDF yang sangat strategis dengan pendekatan yang inklusif, dimana Indonesia melakukan ini dalam bentuk yang tidak menggurui, melainkan dengan rendah hati dan sederhana, sehingga ada yang mengatakan bahwa Indonesia sudah berada dalam posisi melakukan “ekspor demokrasi”. Tapi kita tidak mau menggunakan istilah itu, kita mengatakannya dengan “tukar-menukar pengalaman dan informasi”. Itulah yang membuat negara-negara yang belum demokrasi sedikit banyaknya mulai berpartisipasi, kita berupaya mendorong perubahan sedikit demi sedikit di dalam cara berpikir mereka, dan sehingga sedikit banyaknya BDF telah berperan didalam menciptakan perubahan tersebut.

Selain prinsip-prinsip demokrasi yang universal, saya kira demokrasi itu harus diperkuat secara individu. Semakin kita bisa berasimilasi dengan demokrasi, maka demokrasi itu akan semakin kuat. Kalau tidak, maka

demokrasi akan dianggap sebagai sesuatu yang asing atau imported, oleh karena itu tugas kita di Indonesia adalah misalnya menguatkan wacana mengenai demokrasi yang Islami. Apa yang sebenarnya menjadi akar-akar teologis bagi demokrasi dilihat dari bangsa Indonesia.

Kalau perlu kita cari juga culture

groups of democracy di Indonesia,

misalnya dalam tradisi di Bali, masyarakat Bali itu memiliki ‘Subak’, dan mungkin memiliki hal-hal yang bisa memuat demokrasi. Kalau di kampung saya di Sumatera Barat, disana bisa ditemukan transfer values of

democracy, misalnya apa yang disebut

dengan ‘Demokrasi Palaka’. Palaka adalah tempat duduk di warung kopi, dimana setiap orang bisa dengan bebas mengungkapkan aspirasinya.

Kalau hal ini bisa kita kembangkan, maka demokrasi kita akan semakin kuat dan menjadi semacam identitas dan menjadi perekat antara nilai-nilai agama dan budaya, dan hal tersebut harus diupayakan secara terus menerus.

Indonesia memang luar biasa, dan demokrasi di Indonesia memang harus kita perjuangkan terus. Bahwa demokrasi itu bukan hanya untuk demokrasi itu sendiri tetapi untuk pembangunan. Jadi sekarang ini di tingkat internasional, sebagai

international idea misalnya, demokrasi

itu harus menciptakan kesejahteraan. Asumsinya sekarang ini adalah bahwa demokrasi itu tidak bisa berdaya sepenuhnya jika masyarakat masih miskin, oleh karena itulah maka masalah kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat perlu mendapat perhatian.

Itulah yang menjadi tema pokok sejak dua tahun lalu, yaitu democracy

and development, dan development for democracy. Sekarang ini yang menjadi

program-program utama adalah program perbaikan kesehatan, sanitasi, gizi dan sebagainya. Selanjutnya adalah peran dari lembaga-lembaga iptek/think

tank yang menurun sejak era reformasi

ini, karena masing-masing politikus mendirikan lembaga sendiri-sendiri yang saya kira tidak terlalu serius dan lebih kepada kepentingan elit politik dibanding kepentingan masyarakat dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Kedepan saya kira lembaga-lembaga iptek/think tank kita perlu diberdayakan kembali dalam konteks development for democracy.[] HAL yang menarik terkait demokrasi adalah inklusifisme demokrasi, jadi meskipun

demokrasi itu memiliki prinsip-prinsip yang universal, tetapi tidak ada satu negarapun yang bisa mengklaim bahwa dialah negara yang paling demokratis. Karena itulah pada penyelenggaraan BDF pertama kita juga mengundang negara seperti China, Myanmar, Brunei dan Singapura, dan karenanya ada negara-negara yang memprotes, karena negara-negara-negara-negara tersebut dianggap bukan negara-negara demokrasi. Saya katakan kepada mereka, bahwa tujuan dari forum ini adalah untuk saling tukar-menukar pengalaman, informasi dan best practices mengenai demokrasi.

Perkembangan demokrasi yang terjadi di Myanmar saat ini, sedikit banyaknya juga ada kontribusi dari BDF ini. jadi kita harus inklusif dan tidak menyingkirkan

Peran BDF Sangat Strategis

IPD Akan Memberi Dukungan Negara-Negara Yang

Pemerintahnya Ingin Perubahan

Prof. Dr. Azyumardi Azra

Direktur Pascssarjana UIN Syarif Hidayatullah, jakarta

Ekspektasi terhadap BDF ini sangat tinggi, oleh karena itu maka untuk tahun depan kita harus bekerja dengan lebih solid lagi, terutama interaksi antara IPD dengan Kemlu dan berbagai institusi lainnya, baik di pemerintahan ataupun yang di luar pemerintah. Kita perlu menata ulang kinerja kita supaya dapat menjadi lebih baik lagi dan mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Pastinya sebagai lembaga implementasi dari BDF,

Istitute for Peace and Democracy (IPD), akan membantu

proses demokratisasi di berbagai negara sepanjang ada

signal dari negara bersangkutan, bahwa ada keinginan dari

mereka untuk kita bantu. Kita selalu siap untuk itu, karena memang merupakan tugas utama kita untuk membantu negara-negara yang membutuhkan skill, pengetahuan dan kapasitas di bidang demokrasi dan hal-hal lainnya yang terkait dengan demokrasi, apalagi untuk negara-negara ASEAN yang berada di kawasan.

Dukungan utama untuk dapat terbentuknya Komunitas ASEAN, adalah pelaksanaan demokrasi itu sendiri, dan ini perlu dukugan dari IPD, apalagi ekspektasinya memang sangat tinggi sekali. jadi, pekerjaan IPD sekarang ini sudah sampai kepada tahap bagaimana ide-ide yang ada selama ini dapat kita ubah menjadi suatu program yang bagus. Disamping itu IPD juga akan memberikan dukungan kepada negara-negara yang memerlukan, seperti misalnya Myanmar dan sebagainya.

IPD hanya akan memberikan dukungan terhadap negara-negara yang pemerintahnya memiliki keinginan untuk suatu perubahan. Karena akan sangat sulit dan banyak sekali kompleksitasnya, jika misalnya keinginan perubahan itu hanya dari elemen masyarakat, sementara pemerintahnya sama sekali tidak mau berubah.

Prof. Dr. I Ketut Putra Erawan

Direktur Eksekutif IPD

Dok. Diplomasi

(11)

F O K U S

11

Diplomasi

DENGAN tulus hati saya sampaikan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya sebagai Co-Chair pada penyelenggaraan Bali Democracy

Forum (BDF) yang pada tahun ini

bertema “Enhancing Democratic

Participation in a Changing World: Responding to Democratic Voices”.

Tema ini sangat tepat pada saat semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia yang menuntut demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang mereka sukai. Sementara itu perubahan positif sedang berlangsung, juga penting untuk terus memikirkan cara yang lebih baik guna menjaga pemerintahan yang sudah demokratis benar-benar mewakili harapan rakyat mereka.

Dalam kehidupan kita dunia telah berubah. jarak telah semakin menyusut, dan yang dahulunya adalah negara yang jauh sekarang telah berubah menjadi tetangga sebelah. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengubah dunia kita, terutama melalui peningkatan arus informasi dan kemampuan komunikasi. Proses yang disebut globalisasi tidak hanya menghubungkan negara-negara

terhadap tantangan yang dibawa dari penyatuan dunia kita, telah ditempa dengan semakin eratnya kerjasama antar negara melalui berbagai forum dan organisasi regional, multilateral dan internasional. Entitas baru ini telah membuka saluran bagi negara-negara anggota untuk menyuarakan

concerns mereka terhadap isu-isu yang

mengganggu, dan berbagi pengalaman antara satu negara dengan negara lainnya, mengenai praktek demokrasi yang mengemuka di banyak kasus untuk kemudian di adopsi mana yang paling cocok dengan kebutuhan masing-masing. Pembentukan SAARC telah menyebabkan partisipasi demokratis negara-negara anggotanya menjadi lebih bersatu dalam hal hubungan internasional dan mempromosikan kawasan sebagai global player. Saya yakin negara-negara di Asia Tenggara memiliki pengalaman yang serupa dengan ASEAN.

Jalan menuju demokrasi bagi Bangladesh dimulai pada tahun lima puluhan, ketika Bangabandhu Sheikh Mujibur Rahman, Bapak Bangsa, dan masyarakat menjadi semakin

dekat, tetapi juga menempa saling ketergantungan ekonomi global dan meningkatnya arus migrasi tenaga kerja. Di luar aspek-aspek positif, globalisasi juga mendatangkan aspek negatif, termasuk perubahan iklim, konflik etnis dan pelanggaran HAM, perdagangan manusia, terorisme dan sengketa air bersih.

Globalisasi tentu saja juga telah melepaskan kekuatan demokrasi dan kebebasan yang didorong oleh kehendak mayoritas seluruh bagian dunia, mencabut rezim yang menindas dan menggantinya dengan yang demokratis. Sudah saatnya bagi negara untuk membuang praktek lama mereka, dan menyambut suara baru kebebasan, demokrasi dan HAM.

Proses ini juga membuka kesempatan bagi semua negara, terlepas dari ukuran populasi dan status ekonomi, agar suara mereka didengar dalam menghadapi tantangan baru dalam dunia globalisasi kita. Kebutuhan partisipasi demokratis yang efektif dalam diskursus global

menyadari bahwa emansipasi ekonomi rakyat kita terletak pada kebebasan politik dan partisipasi demokratis akar rumput. Visinya tersebut segera menggembleng rakyat menjadi sebuah kekuatan yang tak tertahankan, dan Bangladesh lahir sebagai bangsa yang berdaulat pada tahun 1971. Sayangnya, mimpi beliau tentang rakyat yang hidup makmur dalam sebuah “Golden Bangladesh” dipotong oleh pembunuhan terhadap beliau dan 18 anggota keluarga terdekatnya pada 15 Agustus 1975. Hanya adik saya, Syekh Rehana dan saya yang selamat, karena pada saat itu kami berada di luar negeri. Segera setelah itu, sebagai yang tertua dari dua bersaudara, saya berjanji pada diri sendiri untuk dapat memenuhi impian ayah saya.

Menjadikan Bangladesh sebagai negara demokratis yang kokoh dengan berbagai peluang ekonomi yang baik memerlukan sebuah perjuangan yang berat melawan militer dan penguasa militer. Selain itu untuk jangka pendek di tahun 90-an, negara ini telah menderita di bawah pemerintahan otokratis, tidak ada pengaturan kembali agenda pembangunan tahunan dan terkadang hingga satu dekade. Pada satu tahap, saya dikirim paksa ke pengasingan, tetapi keinginan rakyat kita dan

goodwill dari masyarakat internasional

memastikan saya untuk kembali, bertepatan dengan pemilihan nasional pada 29 Desember 2008. Diakui sebagai pemilihan yang bebas dan adil oleh PBB dan pengamat internasional, pemilu membawa demokrasi ke Bangladesh setelah dua tahun kekuasaan militer. Kemenangan partai kami, Liga Awami mencerminkan keinginan rakyat untuk demokrasi, sekularisme dan “Digital

Bangladesh” guna menjawab tantangan

masa depan.

Di Bangladesh, kita mendengarkan suara rakyat untuk memperkuat demokrasi melalui kemampuan berpartisipasi yang lebih besar. Membangun “Digital Bangladesh” dan mensintesis nilai-nilai demokrasi dengan tujuan ekonomi melalui penggunaan teknologi modern, memungkinkan kita untuk berusaha menjadi negara berpenghasilan menengah pada tahun 2012, bertepatan dengan peringatan lima puluh tahun kemerdekaan kita.[] (Sumber : Paparan BDF IV, Nusa Dua, Bali 8-9 /12)

Membangun “Digital Bangladesh” Dan Mensintesis

Nilai-Nilai Demokrasi Dengan Kemajuan

Sheikh Hasina

Perdana Menteri Republik Rakyat Bangladesh

(12)

12

Diplomasi

B I N G K A I

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Wakil Presiden Boediono, pada hari Rabu, 21 Desember 2011 pukul 11.00 WIB, melantik 26 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (LBBP) untuk sejumlah negara sahabat, di Istana Negara, jakarta. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan para Duta Besar LBBP tersebut dilaksanakan berdasarkan Keppres No.74/P/Tahun 2011.

Usai pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara secara berturut-turut oleh ke-26 Dubes tersebut. Hadir dalam acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan tersebut para menteri KIB II, diantaranya Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Menlu Marty Natalegawa, Menhuk dan HAM Amir Syamsudin, Menteri ESDM jero Wacik, dan Mendikbud M Nuh.

Para Duta Besar LBBP yang dilantik tersebut adalah: (1). Retno Lestari Priansari Marsudi, Dubes RI untuk negara Kerajaan Belanda, berkedudukan di Den Haag; (2). Desra Percaya, Perwakilan Tetap RI untuk PBB dan

Organisasi Internasional lainnya di New York, AS; (3). Prianti Gagarin Djatmiko Singgih, Dubes RI untuk Republik Bolivar Venezuela, merangkap Republik Trinidad dan Tobago, Grenada, Saint Vincent and Grenadines, Persemakmuran Dominika dan Saint Lucia, berkedudukan di Caracas, Republik Bolivar Venezuela;

(4). Deddy Saiful Hadi, Dubes RI untuk Qatar berkedudukan di Doha; (5). Saut Maruli Tua Gultom, Dubes RI untuk Republik Ekuador berkedudukan di Quito; (6). Andradjati, Dubes RI untuk Senegal merangkap Republik Pantai Gading, Republik Gambia, Republik Guinea Bissau, Republik Gabon, Republik Demokratik Kongo, Republik Guinea, Republik Mali, dan Republik Sierra Leone, berkedudukan di Dakar; (7). Mayerfas, Dubes RI untuk Republik Sosialis Vietnam berkedudukan di Hanoi;

(8). Budiarman, Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan, Italia; (9). Elias Ginting, Dubes RI untuk Republik Finlandia merangkap Republik Estonia berkedudukan di Helsinki; (10). Teiseran Foun Cornelis, Dubes RI untuk Republik Kuba merangkap negara

persemakmuran Bahama dan Republik Jamaika berkedudukan di Havana; (11). Subijaksono Sujono, Dubes RI untuk Bosnia dan Herzegovina berkedudukan di Sarajevo; (12). R. Prayono Atiyanto, Dubes RI untuk Republik Azerbaijan berkedudukan di Baku;

(13). Andri Hadi, Dubes RI untuk Singapura berkedudukan di Singapura; (14). Sukanto, Dubes RI untuk Kesultanan Oman berkedudukan di Muscat; (15). Djauhari Oratmangun, Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus berkedudukan di Moskow; (16). Agus Sarjana, Dubes RI untuk Republik Kroasia berkedudukan di Zagreb; (17). Harbangun Napitulu, Dubes RI untuk Republik Mozambique berkedudukan di Maputo; (18). Dewa Made Juniata Sastrawan, Dubes RI untuk Kerajaan Swedia merangkap Republik Latvia, berkedudukan di Stockholm;

(19). Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Nurfaizi, Dubes RI untuk Republik Arab Mesir berkedudukan di Kairo; (20). Teuku Mohammad Hamzah Thayeb, Dubes RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Republik Irlandia dan

IMO, berkedudukan di London; (21). Agustinus Sumartono, Dubes RI untuk Republik Namibia merangkap Republik Angola, berkedudukan di Windhoek; (22). Dwi Ayu Arimami, Dubes RI untuk Panama berkedudukan di Panama City;

(23). Dian Wirengjurit, Dubes RI untuk Republik Islam Iran merangkap Turkmenistan berkedudukan di Teheran; (24). Lutfi Rauf, Dubes RI untuk Kerajaan Thailand berkedudukan di Bangkok; (25). Ahmad Ni’am Salim, Dubes RI untuk Republik Demokrasi Rakyat Aljazair, berkedudukan di Alger; dan (26). Bomer Pasaribu, Dubes RI untuk Kerajaan Denmark merangkap Republik Lithuania, berkedudukan di Kopenhagen.

Sementara itu, pada hari yang sama, Menlu Marty M. Natalegawa juga melantik pejabat Eselon I dan II serta Konjen dan Konsul pada 9 Perwakilan RI, di Gedung Pancasila, jakarta. Para pejabat Eselon I dan II yang dilantik adalah: (1). Drs. Yuri Octavian Thamrin, M.A., sebagai Direktur jenderal Asia Pasifik dan Afrika; (2). Alfred Tanduk Palembangan, sebagai Sekretaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan; (3). Philemon Arobaya, sebagai Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan pada

Organisasi Internasional; (4). Pipien Lenggono Eka Priatna, sebagai Direktur Informasi dan Media; serta (5). Anita Luhulima, sebagai Pelaksana Tugas Kepala Biro Administrasi Kementerian dan Perwakilan.

Sementara itu, Konsul Jenderal dan Konsul yang dilantik adalah: (1). Ade Padmo Sarwono, Konsul RI di Darwin, Australia; (2). Adriana Hermin Mala, Konsul jenderal RI di Marseille, Perancis; (3). Eko Hartono, Konsul jenderal RI di Davao City, Filipina; (4). Ghafur Akbar Dharmaputra, Konsul Jenderal RI di New York, AS; (5). Irmawan Emir Wisnandar, Konsul jenderal RI di Melbourne, Australia; (6). jahar Goeltom, Konsul RI di Vanimo, Papua Nugini; (7). Djoko Harjanto, Konsul jenderal RI di Kuching, Malaysia;

(8). julang Pujianto, Konsul jenderal RI di Toronto, Kanada; (9). Muhammad Soleh, Konsul RI di Tawau, Malaysia.[]

Dubes dan Konsul baru

Dok. presidensby.info

(13)

B I N G K A I

13

Diplomasi

MENLU Marty M. Natalegawa menggarisbawahi perlunya mencari peluang dan kinerja yang lebih baik. “Enough is not good enough,” kata Marty saat melantik 2 pejabat Protokol dan Konsuler Kemlu di Gedung Pancasila, Kemlu hari ini (05/01). Diharapkan, apa yang telah dicapai dapat menjadi ‘benchmark’ atau rujukan dalam penyelenggaraan keprotokolan.

Duta Besar Ahmad Rusdi dilantik sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler merangkap Kepala Protokol Negara menggantikan Duta Besar Lutfi Rauf yang akan segera menempati tugas

baru sebagai Duta Besar di Bangkok. Sedangkan Ardi Hermawan dilantik sebagai Direktur Protokol menggantikan Hari Kandou yang direncanakan menjadi Wakil Duta Besar di London.

Pada kesempatan itu, Marty tegaskan tantangan bagi pejabat yang baru dilantik. Tantangannya, pungkasnya, tidak hanya di bidang keprotokolan saja. Namun ada masalah-masalah lain yang menyangkut interaksi dengan masyarakat luas. Hal tersebut meliputi fasilitas diplomasi dan kekonsuleran.

Marty juga menyampaikan prioritas tugas, yaitu perlindungan

WNI. “Beragamnya permasalah perlindungan WNI di luar negeri menuntut adanya kecepatan dalam bertindak dan komunikasi yang baik dengan satuan tugas dan Perwakilan terkait.” (sumber: Dit. Infomed/Yo2k)

Lantik 2 Pejabat, Menlu Tekankan Motto

‘Enough is not Good Enough’

Dok. infomed

Dok. 01 web1

Dok. infomed

(14)

14

Diplomasi

S O r O t

ABAD 21 disebut sebagai “Era Asia,” dan saya menekankan point ini dengan konsisten. Di Asia inilah, yang merupakan pusat pertumbuhan global, kelas menengah berkembang sebagai konsekuensi natural dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi yang semakin mengakar.

Ini adalah sebuah fakta yang signifikan dimana Indonesia telah mengambil inisiatif untuk berbagi pengalaman dalam hal pembangunan dan demokratisasi dengan masyarakat internasional. Indonesia, sebagai core

member ASEAN, dan negara dengan

populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi yang besar untuk memberikan kontribusi substansial bagi demokratisasi, tidak hanya di Asia tetapi juga di kawasan Arab.

Dalam rangka mencapai pembangunan regional di kawasan, perlu untuk membangun kemakmuran dan stabilitas berdasarkan nilai-nilai demokrasi. Untuk itu, jepang akan mendorong secara penuh upaya-upaya yang dilakukan oleh Indonesia dalam mempromosikan demokratisasi yang lebih luas di Asia.

Gerakan menuju demokratisasi telah menyebar di Asia, ke Bhutan, Timor-Leste, Kirgistan, Maladewa, Myanmar, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Gelombang demokratisasi yang bersejarah ini tidak terbendung, dan kita harus menjaga momentum kecenderungan ini.

Perubahan terakhir di Myanmar harus dilihat sebagai hal yang positif, dan Pemerintah Jepang sangat menghargai serangkaian langkah-langkah ke arah demokratisasi dan rekonsiliasi nasional yang diambil oleh Pemerintah Myanmar berikut transisi kekuasaan kepada masyarakat sipil, setelah pemilihan umum tahun lalu. Secara khusus, kami menyambut pendaftaran ulang National League

for Democracy (NLD), yang dipimpin

oleh Aung San Suu Kyi, sebagai partai politik, dimana ini merupakan langkah kongkrit menuju rekonsiliasi nasional. Pemerintah jepang, bersama-sama dengan masyarakat internasional, akan mendorong Pemerintah Myanmar untuk membuat kemajuan dalam demokratisasi dan upaya rekonsiliasi nasional, termasuk kelanjutan pembebasan tahanan politik.

Perubahan substansial juga terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam proses ini, adalah sangat penting bagi Indonesia dan negara-negara Asia lainnya untuk berbagi pengalaman mengenai demokratisasi dengan negara-negara Arab. Salah satu contoh penting dari dukungan tersebut adalah berupa berbagai proyek yang dapat membantu proses demokratisasi di Mesir yang dilaksanakan dalam kerangka Bali

Democracy Forum. Jepang akan bekerja

bersama-sama dengan negara-negara demokratis di Asia dalam mendukung upaya demokratisasi di Timur Tengah, yang saat ini tengah mengalami transformasi dramatis yang dikenal sebagai “Arab Spring.”

Jepang telah secara konsisten mempertahankan perdamaian dengan negara-negara lainya selama 60 tahun sejak berakhirnya Perang Dunia II dan terus berada di jalur negara demokratis. Oleh karena itu Jepang telah mencapai kemakmuran ekonomi dan membangun masyarakat yang makmur, serta sepenuhnya mendedikasikan kapabilitas nasionalnya untuk merealisasikan perdamaian dan stabilitas internasional. Jalan yang ditempuh untuk sampai pada titik ini tentunya tidak mulus. jepang mampu mencapai kondisi seperti sekarang ini dengan tetap bertahan terhadap berbagai tantangan dan begitu banyak trial and error, setelah pengalaman pahit runtuhnya demokrasi sebelum dan sesedah perang dunia.

Berdasarkan pengalaman Jepang

tersebut, saya ingin menawarkan beberapa pemikiran tentang apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan demokrasi.

Pertama, adalah penting bagi individu untuk dapat menikmati hak-hak demokratis secara luas, termasuk kebebasan berekspresi, berbicara, dan berpikir sesuai kata hati. Dalam masyarakat demokratis, individu yang mandiri harus menghormati sistem nilai masing-masing. Dengan kata lain, anggota masyarakat demokratis harus menghormati keberagaman. Sebuah

kombinasi antara hak-hak dan sistem yang demokratis akan menjamin tercapainya demokratisasi yang sesungguhnya. Saya tekankan, bahwa bagaimanapun, pelajaran yang berharga dapat dipetik dari proses demokratisasi di Asia. Pengalaman kami yang bervariasi telah mengajarkan kita bahwa tidak ada alasan sama sekali bahwa demokratisasi harus diwujudkan dalam suatu sistem yang seragam. Adalah penting bagi setiap negara untuk bergerak maju atas inisiatif sendiri sambil belajar dari pengalaman demokratisasi di negara-negara lain.

Hal lainnya adalah, bahwa kita harus ingat tentang kecepatan dari demokratisasi. Kuncinya adalah menciptakan suatu lingkungan

demokratisasi pada setiap tahapan. Saya

negara juga perlu toleran terhadap hak individu dan diversifikasi sistem nilai rakyatnya.

Kedua, demokratisasi itu harus dilembagakan melalui pembentukan sistem-sistem pendukung. Partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan merupakan dasar dari demokrasi, dan ini sangat penting untuk membangun sistem demokrasi yang secara wajar merefleksikan suara warga negara yang menuntut partisipasi politik didalam memutuskan kebijakan nasional. Secara konkritnya, langkah pertama untuk memantapkan kemajuan demokratisasi adalah dengan mewujudkan good governance, seperti misalnya; sistem pemilu yang adil, sistem parlementer yang mencerminkan opini publik, supremasi hukum, kontrol sipil terhadap militer, dan institusi-institusi administrasi yang efektif dan efisien.

Saya yakin bahwa membangun

perlu menegaskan bahwa beberapa keterlambatan dalam demokratisasi itu tidak diinginkan. Pada saat yang sama, kita semua akrab dengan pepatah yang mengatakan, “more haste, less speed”.

Abad ke-21 memang merupakan Era Asia. Saya telah katakan hal ini diatas, dimana standar hidup di Asia telah meningkat dengan pesat. Langkah penting berikutnya bagi negara-negara Asia yang telah mencapai pembangunan ekonomi adalah membuat kemajuan demokratisasi ala Asia. Dan penting bagi mereka yang telah mencapai demokrasi untuk berkontribusi terhadap upaya demokratisasi negara-negara lain, berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Jepang akan mengerahkan segala upaya, dan bekerjasama dengan Anda semua, untuk kemajuan demokratisasi lebih lanjut di Asia.[]

(Sumber : Paparan BDF IV, Nusa Dua, Bali 8-9 /12)

Indonesia Dapat Memberikan

Kontribusi Bagi Demokratisasi Global

Katsuya Okada

Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang

Dok. state.gov Dok. Diplomasi

Delegasi peserta Bali Demokrasi Forum IV menyimak dengan seksama pidato pembukaan BDF IV yang disampaikan oleh Presiden SBY.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :