BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dunia industri saat ini berkembang pesat termasuk di Indonesia.

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia industri saat ini berkembang pesat termasuk di Indonesia. Hal ini tentu berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Persaingan dunia kerja semakin meningkat dan menimbulkan berbagai cara perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, dengan salah satunya meningkatkan produktivitas karyawan. Keberadaan industri yang dalam proses produksinya diiringi oleh semangat kapitalisme justru menimbulkan masalah yang semakin memperlemah keadaan buruh.

Sumber daya manusia merupakan peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan, karena manusia merupakan aset hidup yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Oleh karena itu karyawan harus mendapatkan perhatian yang khusus dari perusahaan. Kenyataan bahwa manusia sebagai aset utama dalam organisasi atau perusahaan, harus mendapatkan perhatian serius dan dikelola dengan sebaik mungkin. Dalam pengelolaan sumber daya manusia inilah diperlukan manajemen yang mampu mengelola sumber daya secara sistematis, terencana, dan efisien.

Gomes (1995:2) menjelaskan “sumber daya manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki akal, perasaan, keinginan, kemampuan, ketrampilan, pengetahuan, dorongan, daya, dan karya. Satu-satunya sumber daya yang memiliki rasio, rasa, dan karsa betapapun majunya teknologi informasi, tersedianya modal dan memadainya bahan.

(2)

2 Akan tetapi jika tanpa sumber daya manusia maka akan sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Betapapun bagusnya perumusan tujuan dan rencana organisasi akan sia-sia jika unsur sumber daya manusianya tidak dipertahankan, apabila kalau ditelantarkan”.

Kegiatan produksi barang atau jasa yang hanya berorentasi pada keuntungan justru akan menimbulkan perselisihan yang memperburuk kualitas hubungan antara buruh dan pengusaha. sesungguhnya pembangunan industrymerupakan salah satu jalur untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di setiap daerah dalam arti memberikan kontribusi pada tingkat hidup yang lebih maju dan bermutu. Namun pada kenyataannya hal tersebut tidak selalu benar karena masih terdapat beberapa permasalahan industrial yang mewarnai keberadaan industri di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang dan kota lainnya.

Buruh dapat diartikan orang yang bekerja dibawah perintah orang lain dengan menerima upah karena telah melakukan pekerjaan di perusahaan. Sebagai pengganti sitilah “buruh” saat ini menggunakan beberapa istilah seperti pekerja, pegawai, karyawan. Istilah “pegawai” lebih banyak digunakan bagi orang yang bekerja bagi pemerintah biasa disebut Pegawai Negeri. Sedangkan “karyawan” bersifat umum dalam masyarakat sehingga di kenal sebagai karyawan pemerintah, karyawan swasta, karyawan RRI, dan lain sebagainya.

Pekerja berfungsi melaksanakan sesuai kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi. Fungsi serikat pekerja (SP),

(3)

3 serikat buruh (SB) adalah menyampaikan aspirasi secara demokrasi, ikut serta memajukan perusahaan, dan memperjuangkan kesejahteraan pekerja dalam melakukan psoses produksi atau jasa. Pekerja dapat diartikan orang yang bekerja dibawah perintah orang lain yang mendapatkan upah karena telah bekerja pada perusahaan.

Gerakan buruh atau pekerja merupakan istilah untuk menjelaskan organisasi kolektif para pekerja atau buruh dalam memperbaiki nasib mereka pada pengusaha (perusahaan) untuk mendapatkan keadilan. Organisasi buruh atau pekerja tidak dapat dipisahkan pada proses industrialisasi.Organisasi ini memperjuangkan kondisi kerja, kebijaksanaan dan praktik manajemen serta kebijakan pemerintah mengenai kondisi, persyaratan kerja dan hubungan kerja.Ciri gerakan buruh dapat diketahui ketika adanya protes pekerja terhadap kondisi kerja mereka, dapat dilihat para pekerja selalu bereaksi dan memprotes terhadap perlakuan dari kaum kapitalis.

Gerakan buruh atau pekerja meliputi berbagai macam asosiasi buruh yang timbul dalam ekonomi industri. Oleh sebab itu pekerja mempunyai kepentingan terhadap kelangsungan perusahaan, dan pekerja harus bekerja keras, berupaya untuk keberhasilan perusahaan. Para pekerja pada dasarnya bekerja untuk mendapatkan penghasilan tetap dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menjelaskan hubungan industrial sebagai sistem hubungan atau perjanjian kerja yang terbentuk para pelaku antara pekerja dan pengusaha dalam

(4)

4 proses produksi barang atau jasa. Didalam hubungan industrial ada hubungan antarapekerja, pengusaha, dan pemerintah yang tidak hanya menjalankan fungsinya untuk mengatur pekerjaan akan tetapi juga dengan fenomena yang ada di dalam maupun diluar tempat kerja.

Serikat pekerja sebagai organisasi masyarakat bukanlah kekecualian. Serikat pekerja juga kerap dikendalikan pemerintah demi menjamin terlaksananya industrialisasi yang dirancangkan. Salah satu pengendalian serikat pekerja yang paling nyata adalah aturan pemerintah bahwa hanya satu serikat saja yang diakui, yaitu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Situasi itu kemudian diperkuat dengan alasan bahwa pembentukan serikat buruh pada dasarnya sangat difasilitasi oleh solidaritas yang muncul karena persamaan nasib, pengalaman dan perjuangan.

Permasalahan buruh di Indonesia sampai saat ini masih terkait dengan sempitnya peluang kerja, tingginya angka pengangguran, rendahnya SDA, tenaga kerja, upah murah dan jaminan sosial yang seadanya. Ada juga perlakuan yang merugikan bagi para pekerja seperti penganiayaan, tindak asusila, penghinaan, intimidasi sampai pelecehan seksual. Permasalahan ini karena kurang adanya perlindungan dan pengawasan dari negara terhadap para tenaga kerja Indonesia tersebut.

Permasalahan tenaga kerja merupakan persoalan sosial yang membutuhkan penyelesaian yang mendasar dan menyeluruh. Persoalan yang sangat erat hubungannya dengan fungsi dan tanggung jawab negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya harus diselesaikan melalui

(5)

5 kebijakan dan pelaksanaan oleh negara bukan diselesaikan oleh pekerja/buruh dan pengusaha. Akan tetapi masih banyak pekerja atau buruh yang bertahan dengan pekerjaannya walaupun mereka diperlakukan distriminasi dan upah yang sangat kecil. Karena sebagian besar buruh berfikir hanya pekerjaan tersebut adalah pekerjaan satu-satunya dan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun sangat terbatas.

Gerakan buruh atau pekerja digunakan secara luas untuk menjelaskan dinamika organisasi kolektif para pekerja atau buruh. Mereka untuk menuntut perbaikan nasib mereka kepada majikan (pengusaha) dan kebijakan perburuhan yang pro-buruh dan adil. Pada dasarnya antara pekerja/buruh dan pengusaha bukan dua kekuatan yang memiliki perbedaan kepentingan yang hrus saling memenangkan. Akan tetapi mereka saling membutuhkan satu sama lain, yang harus bekerja sama, untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan mencapai kesejahteraan bersama. Salah satunya untuk membentuk suatu organisasi para pekerja yaitu serikat buruh atau serikat pekerja

Penyelesaian perselisihan perburuhan dapat diselesaikan dengan adanya badan tripartit diharapkan bahwa dalam akan lebih dapat dipertimbangkan dan diperimbangkan kepentingan buruh, kepentingan majikan, dan kepentingan umum menjadikan sebagai kepentingan bersama, terutama bila perselisihan itu mengenai syarat kerja atau keadaan perburuhan (perselisihan kepentingan). Perundang-undangan Pemerintah membebankan pada majikan atau perusahaan mengenai kesehatan, dan keselamatan kerja sejak karyawan diterima bekerja.

(6)

6 Undang-undang nomor 14 tahun 1969 dan Undang-undang nomor 1 tahun 1970, khususnya pada pasal 9 dan 10 yang berbicara sebagai berikut : “tiap-tiap tenaga kerja mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moril manusia serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama”.

Persaingan industri yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi. Kualitas produk yang dihasilkan tidak terlepas dari peranan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki perusahaan. Faktor-faktor produksi dalam perusahaan seperti modal, mesin, dan material dapat bermanfaat apabila telah diolah oleh SDM. SDM sebagai tenaga kerja tidak terlepas dari masalah-masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatannya sewaktu bekerja.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman dan mencapai tujuan yaitu produktivitas setinggi-tingginya. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sangat penting untuk dilaksanakan pada semua bidang pekerjaan tanpa terkecuali proyek pembangunan gedung seperti apartemen, hotel, pabrik, mall dan lain-lain, karena penerapan K3 dapat mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan kerja.

Fungsi pemeliharaan dititik beratkan pada fisik, mental pada karyawan melalui program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Dikemukakan oleh (Suma’mur,1998:3) :

(7)

7 “Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit, kecelakaan akibat kerja, pemeliharaan, peningkatan kesehatan, dan gizi tenaga kerja. Pemberantasan kelelahan, kerja dan melibatkan gandakan kegairahan dan semangat kerja, perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industri serta memberikan rasa aman kepada para karyawan”.

Prosedur adalah suatu metode untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Menetapkan prosedur adalah tugas managemen yang dilakukan dengan mengembangkan dan mempergunakan metode-metode yang baku untuk melaksanakan pekerjaan tertentu untuk memproduksi barang bermutu tinggi dan dalam jumlah besar dengan biaya efisien serta aman dan sehat, maka perlu suatu prosedur kerja yang standar terlebih dahulu. Namun prosedur kerja tidak akan berarti bila tidak ditaati pekerja. Diperlukan kerjasama dan pengawasan untuk pelaksanaan prosedur kerja tersebut (Sajidi Hadipeotro 2014 : 99).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat pekerja maupun pengusaha sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tujuan dari dibuatnya program K3 adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Memperhatikan hal tersebut, maka program K3 dan produktivitas kerja karyawan menjadi penting untuk dikaji, karena kedua faktor tersebut dapat memengaruhi produktivitas perusahaan dalam tujuannya mencapai visi dan misi perusahaan. Bagi sebuah perusahaan

(8)

8 industri khususnya di PT Weltes Energi Nusantara ini sangat diperhatikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) karyawan karena merupakan perusahaan industri di bidang teknik Kontruksi Bangunan & Pabrik Swasta maupun BUMN.

PT Weltes Energi Nusantara merupakan perusahaan teknik industri yang dilakukan oleh para pekerja yang memiliki keahlian sesuai dengan bidangnya khususnya bidang teknik. Perusahaan ini memiliki lebih dari 1000 karyawan yang meyakinkan klien kami dengan penyelesaian yang kompeten dan baik diantaranya: Senior engineer 22 orang, Insinyur (Staf teknik) 37 orang, Supervisior 55 orang, Kantor 45 orang, Pekerja 980 orang. Lingkungan bisnis perusahaan diantaranya yaitu Pabrik Gula, Mineral, Lingkungan dan Insfrastruktur. Sebagai perusahaan teknik industri tujuan utama perusahaan ini adalah memberikan solusi terbaik bagi clien yang berfokus pada peningkatan efisiensi biaya total tanpa mempengaruhi kualitas produksi. Beberapa proyek yang pernah dibangun seperti, pabrik gula, mineral, infratruktur yang mampu membuat dan merakit pembuatan tenaga dan kapal tekanan yang dibangun secara ketat sesuai dengan penyediaan ASME boiler dan kode kapal bertekanan.

Perusahaan ini mempekerjakan sebagian pekerja atau karyawan yang dipercaya untuk memegang lebih dari satu proyek besar. Adapun pekerja atau karyawan yang mendapatkan tugas proyek diluar kota sehingga harus bolak-balik dari satu proyek ke proyek lainnya. Tetapi tidak semua pekerja yang memegang lebih dari satu proyek, yang sering memegang lebih dari satu proyek yaitu : Project Manager, Project

(9)

9 Control, Supervisor dan Material Control dari 3 Divisi tersebut harus lebih menguasai proyek dan bisa membagi waktunya untuk memegang lebih dari proyek. Maka dari itu beberapa pekerja mendapatkan schedule yang padat yang dapat mempengaruhi mental dan kesehatannya.

Schedule yang padat memang mempengaruhi kesehatan para pekerja selain itu waktu lembur juga dapat mempengaruhi mental dan fisik yang kelelahan akibat lembur yang mengejar deadline proyek. Untuk schedule staff karyawan pada hari senin sampai dengan rabu bekerja di proyek Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mulai pukul 07.30 sampai dengan 21.00 WIB. Pada hari kamis bekerja di Perak Proyek Jalur Piping, hari Jum’at melakukan meeting di Proyek Petro untuk progres dan planning untuk minggu depan, pada hari sabtu Submit Progress di Petro.

Perusahaan ini terdapat shift kerja apabila diperlukan, sebab tidak hanya satu proyek atau bangunan saja yang dijalankan, maka dari itu PT Weltes juga memerlukan shift kerja didalamnya. Hampir 80% setiap proyek PT Weltes selesai dengan tepat waktu walaupun dengan schedule pekerja yang padat. Faktor yang dapat menghambat pembangunan proyek seperti material, personil yang kurang ahli, dan juga disebabkan kelelahan para pekerja.

Berdasarkan hal tersebut penulis melakukan penelitian di Desa Mojotengah, Menganti, Gresik. Sebuah perusahaan pemerintah PT Weltes Energi Nusantara yang membangun proyek besar pada instansi-instansi lain di beberapa Kota. Sehingga penulis berusaha melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Project Schedule Terhadap Keselamatan dan

(10)

10 Kesehatan Kerja (K3) Karyawan Pada Proyek PT Weltes Energi Nusantara Mojotengah Gresik”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini Adalah apakah project schedule mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan pada proyek di PT Weltes Energi Nusantara Gresik ?

C. Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tidak semua masalah diteliti karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, serta biaya. Oleh sebab itu dilakukan pembatasan masalah dalam penelitian ini. Penelitian ini penulis hanya memfokuskan mengenai pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependent.

Variabel independent dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya variabel dependent (terikat). Sedangkan variabel dependent sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. (Sugiono, 2013 : 61).

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah penulis tentukan, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah dapat mengetahui dan mendiskripsikan tentang apakah project schedule mempengaruhi

(11)

11 keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan pada proyek di PT Weltes Energi Nusantara Gresik.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu manfaat penelitian teoritis dan manfaat praktis, adapun rinciannya sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Manfaat penelitian dari penelitian ini diharapkan menjadi referensi dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai project schedule terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan pada proyek di PT Weltes Energi Nusantara Gresik dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait dalam penelitian ini.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada beberapa pihak yang terkait diantaranya :

a. Bagi Jurusan Sosiologi

Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi untuk mahasiswa sosiologi dalam penelitian schedule terhadap keselamatan dan kesehatan kerja karyawan (K3) di PT Weltes Energi Nusantara Gresik.

b. Bagi karyawan

Diharapkan adanya penelitian ini karyawan dapat membagi waktu dengan baik dan mengutamakan safety first pada saat bekerja khususnya yang berada di lapangan.

(12)

12 c. Bagi Perusahaan

Diharapkan adanya penelitian ini perusahaan lebih memperhatikan karyawan dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja. Serta memperhatikan produktivitas kerja sehingga tidak merugikan perusahaan dikemudian hari.

F. Definisi Konseptual

a. Project schedule

Project schedule merupakan waktu dan memasukkan biaya kedalam segala item pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan yang berarti mengatur rencana kerja dari satu bagian atau suatu unit pekerjaan (H.Bachtiar Ibrahim, 1993:28).

Proyek merupakan suatu kegiatan yang berlangsung dalam sementara, dengan alokasi sumber daya tertentu untuk mencapai target yang telah ditentukan. Ada beberapa kategori yang harus dipenuhi oleh suatu proyek, yaitu biaya proyek, mutu pekerjaan, dan waktu penyelesaian.

Kegiatan proyek pembangunan industri mencakup perencanaan atau desain-engineering, pembelian, dan pengadaan material serta peralatan yang dilanjutkan dengan kontruksi fasilitas produksi proyek yang memperhatikan persayaratan teknis maupun ekonomi. (Iman Soerhato, 2002 : 8).

b. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

Keselamatan kerja adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya yang mempelajari tentang tata cara penanggulangan kecelakaan di

(13)

13 tempat kerja, yang tertuju pada kesejahteraan manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya(Budiono, 2004 : 37).

Kesehatan kerja merupakan bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal (Husni, 2005 : 43).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 adalah suatu sistem yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian (Yusra, 2005 : 75).

G. Definisi Operasional

a. Project Schedule

1. Waktu

Waktu merupakan interval antara dua keadaan/kejadian atau bisa lama berlangsungnya dalam menyelesaikan pekerjaan. Menurut Forsyth manajemen waktu adalah cara bagaimana membuat waktu menjadi terkendali sehingga menjamin terciptanya sebuah efektivitas dan efisien juga produktivitas.

2. Biaya

Biaya merupakan modal utama dalam pembiayaan dan pembelian biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional atau

(14)

14 pabrik. Menurut Hendry Simamora biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau masa mendatang bagi organisasi.

3. Tempat

Tempat merupakan salah satu kunci menuju sukses, dimulai dengan memilih komunitas. Keputusan ini sangat bergantung pada potensi pertumbuhan ekonomis dan stabilitas, persaingan, iklim politik, dan sebagainya (Kotler, 2008:51).

4. Unit

Unit merupakan satuan kerja untuk membentuk kesatuan kelompok dalam suatu hal yang dihasilkan seperti memproduksi barang. Menurut Mills (1967) kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih yang bekerja sama atau melakukan kontak untuk mencapai satu tujuan dan mempertimbangkan kerjasama diantara kelompok sebagai satu yang berarti.

b. Keselamatan dan kesehatan kerja

1. Fisik

Fisik merupakan daya tahan tubuh yang sangat penting untuk menjadi perhatian bagi organisasi. Menurut Sugiyanto (1996:221) fisik merupakan kemampuan memfungsikan organ-organ tubuh dalam melakukan aktifitas fisik untuk mendukung mengembangkan aktifitas psikomotor.

(15)

15 2. Mental

Mental merupakan kekuatan daya pikir pekerja yang mempunyai hubungan erat dengan produktivitas kerja karyawan. Menurut Zakiya Daradjat (1983) mental adalah terwjudnya keharmonisan yang memiliki fungsi serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

3. Sosial

Sosial dapat dilihat dari keharmonisan atau tidaknya di suasana kerja, kerjasama dan komunikasi antar tim. Menurut Max Weber ialah tindakan individu selama tindakan tersebut mempunyai makna bagi dirinya dan diarahkan kepada oranglain.

H. Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitif. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang variabel diukur dijabarkan menjadi variabel indikator. Jawaban pertanyaan dalam penelitian ini menggunakan bentuk checklist (Sugiyono, 2013 : 136-137).

(16)

16 TABEL 1.1

PENSKORAN BUTIR PERTANYAAN ANGKET

Keterangan (kategori) Point(skor)

Sangat setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Netral (N) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat tidak setuju (STS) 1 Sumber: Sugiyono (2009:75)

1. Rentang skala

Rentang skala merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui apakah project schedule yang diberikan dan keselamatan dan kesehatan kerja tinggi atau rendah maka digunakan rentang skala (umar 2004: 164) dengan menggunakan rumus:

RS = 𝒏(𝒎−𝟏) 𝒎

Dimana: RS = Rentang Skala n = jumlah sampel

m = jumlah alternative jawaban tiap item

Dari rumus diatas maka didapatkan rentang skala sebagai berikut: RS = 46 (3−1)

3 =

92 3 = 37

Berdasarkan hasil perhitungan diatas diperoleh hasil rentang skala sebesar 37, kemudian hasil tersebut dimasukkan pada kategori rentang skala sebagai berikut:

(17)

17 Tabel 1.2

Pengukuran Data skala likert

Rentang skala Kepuasan Kerja

Motivasi Kinerja

46-83 Sangat buruk Sangat buruk Sangat buruk

84-121 Buruk Buruk Buruk

122-159 Cukup Cukup Cukup

160-197 Baik Baik Baik

198-235 Sangat baik Sangat baik Sangat baik

I. Metode Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Tepatnya di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Peneliti memilih lokasi tersebut karena salah satu proyek yang sedang dibuat oleh PT Weltes dan banyak pekerja proyek yang mendapati schedule padat

2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah karyawan yang mengerjakan proyek di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif karena data dikumpulkan berdasarkan jawaban dari responden atau dari pengukuran variabel yang dianalisis dan kemudian dilakukan pengujian hipotesis untuk memperoleh hasil penelitian.

(18)

18 Metode kuantitatif disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode kuantitatif merupakan metode tradisional, karena cukup lama digunakan untuk penelitian. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian ini barupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. (Sugiyono, 2013: 13) 4. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi menyangkut seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek tersebut (Sugiyono, 2013: 117).

Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah semua karyawan yang bekerja proyek di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

5. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang telah dipelajari dari sampel, kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi. Oleh sebab itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) (Sugiyono, 2013: 118).

(19)

19 Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel dalam penelitian ini dilakukan mengenai Schedule karyawan dengan kriteria sebagai berikut :

- Karyawan yang memegang proyek lebih dari satu - Karyawan yang mendapat kerja lembur

Sampel dalam penelitian ini diambil dari beberapa anggota populasi, karena populasi berjumlah 46 orang, terdiri dari 11 orang yang tersedia di block office Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. 6. Jenis Sumber Data

a. Data Primer

Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data primer, yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi (Sugiyono, 2013). Data primer dapat berupa interview, observasi, maupun menggunakan instrumen pengukuran yang khusus dirancang sesuai dengan tujuan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti dari obyek peneleitian ataupun merupakan data diperoleh dari perantara media tertentu maupun sumber lainnya (Sugiyono, 2013). Data sekunder berupa hasil pengolahan secara lanjut dari data primer yang disajikan dalam bentuk seperti referensi, literatur, dokumentasi, maupun bacaan yang berkaitan dengan penelitian ini.

(20)

20 7. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka penulis menggunakan beberapa metde pengumpulan data yaitu sebagai berikut :

a. Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner dapat digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner juga dapat berupa pertanyaan tertutup atau terbuka. (Sugiyono, 2016:199).

Teknik pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi melalui pertanyaan atau pertanyaan tertulis yang diajukan kepada karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan PT Weltes Energi Nusantara Gresik. Untuk mendapatkan jawaban-jawaban responden, peneliti mendapatkan informan yang bekerja sebagai supervisior yang dapat membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.

b. Observasi

Metode observasi cara paling efektif untuk melengkapi format dalam penelitian, dengan memperoleh suatu petunjuk untuk mencatat situasi yang telah diamati. Observasi sebagai petunjuk untuk pertimbangan dalam penilaian ke dalam suatu skala bertingkat (Arikunto,2013: 272).

(21)

21 Penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti mencari informan untuk mengetahui permasalahan yang ada di perusahaan. Setelah mengetahui permasalahan peneliti mencari faktor-faktor penyebab permasalahan dan memulai menentukan subyek penelitian untuk melakukan penyebaran kuesioner, agar dapat mengolah data dengan baik.

c. Dokumentasi

Dokumen ditujukan untuk memperoleh data secara langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku, relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, dan data yang relevan dalam penelitian (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini data didapat dengan melihat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.

Dokumen yang digunakan oleh peneliti berupa foto, gambar, serta data-data mengenai kondisi karyawan yang berada baik dilapangan maupun di block office. Untuk mendapatkan dokumen tersebut peneliti diantar oleh salah satu informan untuk berkeliling lapangan demi mendapatkan gambar yang dapat meyakinkan bahwa penelitian benar-benar dilakukan.

J. Alat Uji Instrumen

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada

(22)

22 kuesioner mampu untuk mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2011).

Untuk mengetahui tingkat validitas dalam penelitian rumus yang digunakan adalah teknik korelasi Pearson Product Moment.

Rumus korelasi Pearson Product Moment :

r = n Σ xy − (Σ x)(Σ y) √(n Σ x2 − (Σ x2)) (n Σ y2 − (Σ y2)) Keterangan : x : skor item y : skor total xy : skor pertanyaan

n : jumlah responden untuk diuji coba

r : korelasi product moment (koefisien korelasi) b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan bahwa sesuatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2013:221). Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang konsisten terhadap pertanyaan, stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011).

Reliabel atau tidaknya suatu instrumen penelitian atau yang menggunakan angket dapat menggunakan alat ukur koefisien cronbach’s alpha pada software SPSS versi 21. Interpretasi dari

(23)

23 nilai cronbach’s alpha untuk mengetahui reliabel yaitu sebgaia berikut :

1. Nilai Alpha Cronbach 0,00 – 0,20 = kurang reliabel 2. Nilai Alpha Cronbach 0,21 – 0,40 = agak reliabel 3. Nilai Alpha Cronbach 0,41 – 0,60 = cukup reliabel 4. Nilai Alpha Cronbach 0,61 – 0,80 = reliabel

5. Nilai Alpha Cronbach 0,81 – 1,00 = sangat reliabel

Kriteria yang digunakan untuk mengetahui tingkat reliabilitas adalah besarnya nilai Cronbach’s alpha. Maka untuk uji instrumen penelitian ini dikatakan reliabel apabila pengujian tersebut alfa >0.60.

1. Alat Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis setelah peneliti mengumpulkan dan mengelola data, maka akan sampai pada penarikan kesimpulan menerima atau menolak hipotesis tersebut. Dalam menentukan penerimaan dan penolakan hipotesis maka hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi hipotesis nol (Ho) (Arikunto, 2013:116).

Metode analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Analisis Regresi Linier Sederhana

Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan sebab akibat. Analisis regresi merupakan teknik yang digunakan untuk mempelajari hubungan antar dua variabel atau lebih yaitu variabel dependent, dengan variabel independent. Dari hubungan tersebut dapat memprediksi besarnya dampak kuantitatif

(24)

24 yang terjadi suatu kejadian terhadap kejadian lainnya. (Wijaya, 2013).

Bentuk umum dari regresi linear sederhana yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan dengan model :

Keterangan :

Y = Variabel dependen (keselamatan dan kesehatan kerja) a = nilai konstanta

b = koefisien garis regresi

𝑥 = variabel independen (project schedule)

Untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung dan memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas. Diharapkan dengan analisis regresi sederhana dapat ditemukan hasil yang valid dan membuktikan pengaruh yang diberikan variabel independent kepada variabel dependent.

1. Variabel independent (X)

Variabel independent adalah variabel yang disebut stimulus (Sugiyono, 2013:64). Stimulus dapat diartikan sebagai suatu

Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( Y ) Project Schedule ( X ) Y = a + b 𝑥

(25)

25 rangsangan dan bagian dari serpon yang berhubungan dengan kelakuan terhadap suatu objek itu sendiri. Variabel independent dari penelitian ini adalah project schedule karyawan.

2. Variabel dependent (Y)

Variabel dependent sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan konsekuen (Sugiyono, 2013:64). Variabel dalam penelitian ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan.

2. Hipotesis

Hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian setelah mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Hipotesis merupakan jawaban yang sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan merupakan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum merupakan fakta-fakta empiris dan belum jawaban empirik dengan data (Suyono, 2013).

Dalam penelitian ini, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

Ho: Tidak ada Pengaruh Project Schedule terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan Pada Proyek PT. Weltes Energi Nusantara Gresik.

Ha : Ada Pengaruh Project Schedule terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3) Karyawan Pada Proyek PT. Weltes Energi Nusantara Gresik.

(26)

26 3. Koefisien Determinan(𝑹𝟐)

Koefisien determinan digunakan untuk mengetahui besarnya distribusi yang di timbulkan oleh variabel X terhadap Y. interprestasi dari pengaruh yang di timbulkan X terhadap Y yaitu 0 sampai 1, dimana semakin mendekati 1 berarti X terhadap Y semakin lemah (Sugian Sugiarto, 2006:259).

K. Penelitian Terdahulu

No Nama dan Judul Penelitian Hasil / Temuan Penelitian Hasil Relevansi Penelitian

1 Saloni Waruru, Ferida Yuanita.

Analisis Faktor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang Signifikan

Mempengaruhi Kecelakaan Kerja Pada Proyek

Pembangunan Apartement Student Castle.

Univerversitas Teknologi Yogyakarta. Jurusan Teknik Industri. Tahun 2016.

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), komitmen top manajemen, tempat kerja, komunikasi pekerja, kesadaran pekerja, peraturan K3, dan

lingkungan kerja. Kecelakaan kerja pada proyek konstruksi yakni pihak manajemen

bertanggungjawab pada suatu pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dan karyawan mempunyai tanggungjawab untuk melindungi keselamatan dan kesehatan diri sendiri.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah sama-sama membicarakan faktor kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang

mempengaruhi kecelakaan kerja. Fokus penelitian sebelumnya adalah “apa faktor yang paling signifikan mempengaruhi kecelakaan kerja pada proyek kontruksi ?”. sedangkan perbedaan penelitian yang akan datang adalah penelitian terdahulu hanya berfokus pada faktor pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang mengakibatkan kecelakaan kerja sedangkan penelitian yang akan datang meneliti motivasi dan dorongan kepada karyawan agar selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan

memprioritaskan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

2 Karina Zain Suyono, Erwin Dyah Nawawinetu.

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa faktor

Persamaan penelitian sebelumnya dengan

(27)

27 Hubungan Antara Faktor

Pembentukan Budaya Keselamatan Kerja dengan Safety Behavior di PT Dok dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Construction.Universitas Airlangga. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tahun 2013 pembentukan budaya keselamatan yang termasuk kategori baik yaitu

komitmen, peraturan dan produser, komunikasi, dan lingkungan sosial pekerja.

penelitian yang akan

dilakukan adalah sama-sama membicarakan faktor pembentukan budaya keselamatan kerja. Sedangkan perbedaan penelitian dahulu dengan penelitian dengan yang akan datang adalah penelitian daulu meneliti tentang faktor pembentukan budaya

keselamatan kerja sedangkan penelitian yang akan datang meneliti tentang lingkungan sosial dan tingginya

intensitas komunikasi antara pekerja dengan pekerja maupun pekerja dengan manajer, maka

mempengaruhi perilaku pekerja terhadap K3 akan semakin baik.

3 M. Hendi Kurniawan, Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (studi kasus di Pabrik Pusri II Palembang). Universitas IBA Palembang. Jurusan Manajemen,

Fakultas Ekonomi. Tahun 2014.

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi

produktivitas kerja karyawan adalah kesehatan dan

keselamatan kerja. Karyawan PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang ini memegang standar profesional yang tinggi.

Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah sama-sama membicarakan faktor K3 terhadap produktivitas kerja karyawan. Sedangkan perbedaan penelitian yang akan datang adalah penelitian berfokus pada perlu

membuat program tambahan yang mampu mendukung pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja sehingga dapat mendorong peningkatan produktivitas kerja karyawapn.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :