BAB V PEMBAHASAN. Sendiri (SADARI) yang diberikan dalam dua metode berbeda. Penelitian ini. kelompok kontrol diberikan ceramah saja.

Teks penuh

(1)

commit to user

38 BAB V PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden

Penyuluhan kesehatan merupakan proses belajar untuk mengembangkan pengertian yang benar dan keterampilan yang positif mengenai hidup sehat. Penyuluhan kesehatan dalam penelitian ini tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang diberikan dalam dua metode berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan membagi responden sebanyak 60 orang menjadi 2 kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan intervensi berupa ceramah dan diskusi, sedangkan pada kelompok kontrol diberikan ceramah saja.

Karakteristik responden pada penelitian ini dilihat dari umur. Mayoritas umur responden yakni 17 tahun baik dari kelompok eksperimen (60%) maupun kelompok kontrol (70%). Responden yang berumur 16 tahun sebanyak 36,67% pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 30%. Responden yang berumur 15 tahun hanya satu orang (3,33%) yang berada pada kelompok eksperimen. Usia tersebut termasuk dalam masa remaja pertengahan (15-18 tahun), masa berkembangnya kemampuan berpikir yang baru, dimana seorang individu mencapai puncak perkembangan aspek intelektual. Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah. Selain itu mulai munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis, serta memikirkan masa depan, perencanaan,

(2)

commit to user

dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya. Hal ini mempengaruhi pengetahuan sehingga berpengaruh terhadap praktik atau keterampilan seseorang (Syaodih, 2008; Agustiani, 2006).

Karakteristik responden yang lain adalah keterpaparan informasi terhadap pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Mayoritas responden baik dari kelompok eksperimen (70%) maupun kelompok kontrol (73,33%) belum pernah mengetahui tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Salah satu penyebabnya adalah belum adanya informasi dan penyuluhan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Bagian yang terkait adalah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SMA N 1 Sewon. Berdasarkan wawancara dengan penanggung jawab UKS SMA N 1 Sewon, program-program UKS diantaranya adalah cek kesehatan dan penyuluhan yang dilakukan pada awal tahun ajaran baru bagi siswa baru. Penyuluhan yang terkait dengan kesehatan remaja sendiri biasanya dilakukan insidental jika ada instansi yang meminta partisipasi dari sekolah. Instansi yang biasanya melaksanakan penyuluhan setiap tahunnya adalah BBKBN tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Peserta penyuluhan juga bukan seluruh siswa, melainkan hanya 1-3 perwakilan saja, dan biasanya diambilkan dari perwakilan organisasi PMR di SMA N 1 Sewon. Sementara itu dalam materi tersebut tidak terdapat materi tentang pemeriksaan payudara sendiri informasi akan dibagikan pada hanya pada anggota PMR.

Pihak UKS SMA N 1 Sewon sendiri belum memiliki program penyuluhan tentang kesehatan remaja yang diprakarsai sendiri dengan

(3)

commit to user

melakukan kerja sama dengan pihak puskesmas ataupun instansi kesehatan lainnya. Kondisi banyaknya siswi yang belum tahu tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) ini juga ditunjukkan dalam penelitian Ariyaty (2012) bahwa 90% siswi SMA N 1 Pajangan, Bantul belum pernah

mengetahui tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Karayurt

(2008) menyebutkan bahwa pengetahuan yang baik tentang prosedur SADARI sangat penting dimiliki oleh remaja putri karena tahu tentang prosedur SADARI merupakan salah satu alasan yang menyebabkan remaja putri mengaplikasikan SADARI.

B. Keterampilan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) pada

Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen

Keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada kelompok eksperimen didominasi oleh kategori cukup sebesar 53,33%. Kategori baik sebesar 40% dan hanya 6,67% yang memiliki keterampilan dengan kategori kurang. Keterampilan kelompok kontrol didominasi oleh kategori cukup sebesar 46,67%. Kategori baik sebesar 10% dan kategori kurang sebesar 43,33%. Mean atau rata-rata skor keterampilan pada kelompok eksperimen yakni 70,55 sedangkan pada kelompok kontrol yakni 56,11. Selain itu terlihat pula skor tertinggi pada kelompok eksperimen yakni 88,89 dan skor terendah 50,00. Sedangkan pada kelompok kontrol dengan skor tertinggi 72,22 dan skor terendah 33,33. Secara keseluruhan hasil penelitian menujukkan bahwa

mean/rata-rata nilai keterampilan pemeriksaan payudara sendiri antara

(4)

commit to user

tersebut menunjukkan pada kelompok eksperimen memiliki mean atau rata-rata skor keterampilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Nilai tertinggi dan terendah pada kelompok eksperimen juga lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.

Hasil penelitian tersebut sesuai dengan hasil penelitian oleh Tarigan (2010) yang berjudul “Efektivitas Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok Terhadap Pengetahuan dan Sikap tentang Kesehatan Reproduksi pada Remaja di Yayasan Pendidikan Harapan Mekar Medan”, menyebutkan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus dari luar, salah satunya yakni respons terbuka berupa praktik atau tindakan. Perlakuan berupa penyuluhan pada penelitian ini adalah suatu stimulus yang diberikan dengan dua cara yang berbeda, yaitu dengan metode diskusi dan metode ceramah, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan stimulus yang berbeda akan menimbulkan hasil atau respon yang berbeda. Metode diskusi memberikan dampak pada nilai yang meningkat pada kelompok eksperimen. Metode diskusi memanfaatkan komunikasi dua arah (two way method) serta interaksi antarindividu untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu materi (Notoatmodjo, 2014; Syafrudin, 2009). Metode ceramah wajar dilakukan bila ingin mengajarkan topik baru. Eggen & Kauchak (2012) bahkan menyebutkan bahwa individu harus memiliki pengetahuan yang mendalam sebelum memulai diskusi. Tidak ada seorang pun yang bisa membahas atau mendiskusikan suatu topik jika tidak tahu apa pun tentang topik tersebut.

(5)

commit to user

Notoatmodjo (2014) menyebutkan bahwa pendidikan kesehatan termasuk juga penyuluhan akan berpengaruh terhadap keterampilan. Proses belajar yang terjadi yakni pada metode ceramah, peserta mendapat informasi melalui indera pendengaran dan penglihatan dengan menggunakan media slide/powerpoint. Saat itu informasi mulai disadari, dipersepsi dan diketahui oleh peserta (awareness). Responden memiliki retensi pengetahuan sebesar 5%. Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi. Proses yang terjadi dalam tahap ini yang pertama adalah fase perkenalan yang akan mengaktifkan kembali pengetahuan yang telah diberikan melalui metode ceramah. Fase kedua adalah eksplorasi, dimana responden didorong untuk memahami materi secara mendalam, terlibat aktif dengan saling tukar-menukar informasi melalui interaksinya dengan fasilitator maupun dengan peserta yang lain. Hal ini akan menyebabkan informasi yang didapat lebih banyak, meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap topik, mengembangkan pemikiran kritis serta perkembangan sosial. Fase selanjutnya yakni penutup dimana fasilitator meringkaskan poin-poin utama diskusi (Eggen & Kauchak, 2012; Jacobsen, 2009; Emilia, 2008). Retensi pengetahuan pada metode diskusi sebesar 50%.

Retensi pengetahuan yang tinggi akan membentuk motivasi yang lebih baik seperti dalam penelitian oleh Iqbal (2011) yang berjudul “Hubungan antara Pengetahuan tentang Kanker Payudara dengan Motivasi untuk Melakukan Sadari pada Mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”, menyebutkan bahwa semakin baik

(6)

commit to user

pengetahuan responden tentang kanker payudara maka akan semakin tinggi juga motivasi responden untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dengan p-value 0,000. Penelitian Melina (2014) yang berjudul “Perbedaan Media Pembelajaran (Leaflet dan Video) terhadap Keterampilan SADARI Ditinjau dari Motivasi”, menyebutkan bahwa individu yang memiliki motivasi tinggi memiliki tingkat keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi rendah (p-value 0,011).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Qiftiyah (2012) yang didapatkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada perilaku merokok siswa laki-laki kelas XI IPS SMA Negeri 4 Tuban setelah diberikan penyuluhan dengan menggunakan metode diskusi. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal yaitu dalam diskusi kelompok ada hubungan yang kuat antara pengetahuan dengan praktek sehari-hari, yang biasanya tidak terdapat dalam metode lain seperti ceramah atau media massa, bahasa yang digunakan dalam diskusi lebih akrab bagi peserta, sehingga memungkinkan peserta tidak malu untuk berbicara, peserta dapat memberikan pertanyaan, menyampaikan gagasan atau memperbaiki pernyataan yang pernah diungkapkannya terdahulu, peserta diskusi berkesempatan untuk menemukan aspek masalah yang tidak diketahuinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan pada kelompok eksperimen didominasi dengan kategori cukup dan terdapat 2 responden (6,67%) yang memiliki kategori kurang hal ini dapat disebabkan karena berbagai faktor yang mempengaruhi seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan,

(7)

commit to user

nilai, tradisi serta hubungan sosial responden. Motivasi dapat berpengaruh terhadap keterampilan seperti yang disebutkan dalam penelitian Melina (2014) bahwa individu yang memiliki motivasi tinggi memiliki tingkat keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi rendah. Fasilitas pelayanan kesehatan, serta sikap dan perilaku tenaga kesehatan dan tokoh masyarakat juga berpengaruh terhadap keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) (Notoatmodjo, 2014). Faktor-faktor tersebut tidak dikendalikan sehingga dapat berpengaruh terhadap keterampilan responden.

Metode ceramah saja yang dilakukan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa keterampilan juga didominasi oleh kategori cukup sebesar 46,67%, disusul 43,33% dengan kategori kurang dan terdapat pula responden yang memiliki keterampilan baik sebesar 10%. Sementara itu

mean/ rata-rata skor keterampilan lebih rendah dibandingkan pada kelompok

eksperimen. Banyaknya responden yang memiliki keterampilan dalam kategori kurang dapat disebabkan karena kurangnya penguasaan materi oleh siswa. Hal tersebut dapat disebabkan karena ceramah hanya memiliki retensi pengetahuan sebesar 5% (Emilia, 2008), yang memungkinkan responden lupa dengan langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), sehingga berpengaruh pada keterampilan dalam memperagakan pemeriksaan tersebut. Pada metode ceramah, penyuluh lebih aktif, dan komunikasi hanya terjadi satu arah. Hal ini menyebabkan informasi tidak lama mengendap atau diingat hanya untuk jangka pendek (Susilo, 2011).

(8)

commit to user

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Wulandari (2013) yang berjudul “Perbedaan Penyuluhan Kesehatan Metode Ceramah dan Diskusi terhadap Sikap tentang SADARI ditinjau dari Pengetahuan”, menyebutkan bahwa komunikasi dalam ceramah hanya satu arah (one way communication) sehingga kemungkinan belajar lebih sedikit karena tidak ada umpan balik. Ceramah tidak sesuai untuk mempelajari keterampilan yang rumit, penyaji harus menguasai semua materi dan cepat membosankan bila ceramah kurang menarik bahkan bisa terjadi timbulnya pengertian lain apabila sasaran kurang memperhatikan. Hal itu senada dengan yang disampaikan dalam penelitian Tarigan (2010) yang menyebutkan bahwa komunikasi bersifat satu arah sehingga informasi yang didapat hanya dari fasilitator saja.

Analisis data menunjukkan adanya perbedaan penyuluhan metode ceramah dibandingkan dengan metode diskusi terhadap keterampilan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dengan nilai significancy atau

p-value 0,000 dan mean difference sebesar 14,44533. P-p-value < 0,05

menunjukkan adanya perbedaan antara metode ceramah dan metode diskusi.

Mean difference yang bernilai positif menunjukkan bahwa mean pada metode

diskusi lebih tinggi dari metode ceramah. Hasil analisis ini sejalan dengan penelitian Tarigan (2010) yang menyebutkan bahwa penyuluhan dengan metode diskusi kelompok memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan penyuluhan dengan metode ceramah, dikarenakan metode diskusi kelompok lebih memungkinkan siswa untuk saling bertukar informasi dan mengungkapkan pendapat serta pengalaman sehingga masing-masing siswa

(9)

commit to user

lebih banyak mendapat sumber informasi dibanding dengan metode ceramah, dimana pada metode ceramah, komunikasi bersifat satu arah sehingga informasi yang didapat hanya dari fasilitator saja. Kusumawardani (2012) menambahkan bahwa adanya pemberian penyuluhan kesehatan maka pengetahuan akan bertambah sehingga praktik juga akan lebih baik.

Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) siswi setelah diberikan penyuluhan dengan metode ceramah dan penyuluhan dengan metode diskusi. Metode diskusi lebih meningkatkan enyuluhan dengan metode diskusi dapat meningkatkan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada siswi SMA N 1 Sewon. Penyebabnya adalah pada penyuluhan metode diskusi terdapat keterlibatan siswi berupa interaksi antarpeserta maupun dengan fasilitator, adanya asesmen dan umpan balik dan adanya kesempatan untuk memperdalam materi dikarenakan sebelumnya sudah ada dasar pengetahuan dari metode ceramah. Penelitian ini didukung oleh penelitian Green dalam Emilia (2008) yang menyebutkan bahwa metode diskusi kelompok lebih efektif dibandingkan metode ceramah kelompok bila diperlukan adanya perubahan sikap, atau keterampilan problem solving atau penjelasan tentang keterampilan.

Keterbatasan penelitian ini adalah tidak adanya pretest sehingga tidak dapat diketahui besarnya peningkatan keterampilan sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan. Selain itu peneliti tidak mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan seperti pengetahuan, sikap, dan motivasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :