Dinamika PKL Pasca Perda Nomor 2
Tahun 2003
Setelah melewati perjalanan panjang pasca implementasi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2003, maka pada bagian ini penulis melihat kondisi kekinian PKL dan stakeholder dalam hubungan dengan perkembangan kota serta berbagai dinamika terkait eksistensi PKL di Kota Salatiga. Penulis berupaya mengkaji bagaimana pengelolaan PKL serta relasi dengan semua stakeholder inti yang telah terbangun selama kurang lebih lima belas tahun sejak ditetapkannya Perda Nomor 2 Tahun 2003, sehingga pada bagian ini penulis mampu melihat bagaimana proses partisipasi yang terbangun serta harmoni sosial di antara sesama PKL maupun dengan stakeholder tetap terjaga atau telah mengalami perubahan atau mungkin telah hilang.
Perkembangan PKL Kota Salatiga
Pengalaman panjang partisipasi PKL Kota Salatiga bersama stakeholder ternyata menyimpan sejumlah kesan positif dalam perkembangan selanjutnya. Dari hasil penelusuran di lapangan penulis mendapatkan berbagai informasi terbaru tentang eksistensi PKL bersama stakeholder yang tetap saling menopang dan menghargai demi langgengnya kondisi hidup yang harmonis antara sesama PKL maupun dengan stakeholder.
Hubungan dengan pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Salatiga sangat baik karena sampai saat ini semua PKL berada dalam pengawasan, selain itu PKL juga difasilitasi melalui bantuan dari dinas berupa tenda dan
gerobak yang diserahkan untuk menopang usaha PKL (hasil wawancara dengan ibu Jumiaty, PKL aneka makanan tanggal 25 Oktober 20017). Dari penjelasan tersebut penulis melihat bahwa PKL saat ini sangat diperhatikan oleh pemerintah daerah karena saat ini PKL dikendalikan melalui program pembinaan. Hal tersebut dikuatkan dengan penjelasan kepala Dinas Perindagkop Kota Salatiga bapak Drs. Muthoin, M.Si, beliau menjelaskan bahwa pemerintah kota selalu memperhatikan keberadaan PKL di Kota Salatiga dan melakukan pembinaan. Pada dinas Perindagkop terdapat unit kerja yang membawahi PKL dan memiliki program tahunan yaitu program pembinaan PKL. Dari program tersebut maka pemerintahpun berupaya memfasilitasi PKL yang telah eksis dengan memberikan bantuan usaha berupa tenda, gerobak, dan kompor gas. Melalui bantuan tersebut diharapkan para PKL lebih fokus menjalankan usaha mereka agar lebih berkembang sehingga kesejahteraan hidup mereka turut digenjot naik (wawancara dengan kepala dinas tanggal 24 Oktober 2017).
Gambar 6. 1 Shelter PKL di Daerah Margosari
Menilik keberadaan PKL Kota Salatiga dalam beberapa tahun terakhir ternyata mengalami penurunan dari segi jumlah, sebagaimana telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa berdasarkan hasil wawancara dan pengumpulan data di lapangan ternyata jumlah PKL kota Salatiga dari waktu ke waktu mengalami penurunan cukup signifikan. Pada tahun 2003 jumlah PKL di Kota Salatiga adalah 2.750
(FMPS 2003) dan pada tahun 2015 turun menjadi 1.720, data terbaru tahun 2017 jumlah totalnya adalah 1.420 (Disperindagkop Salatiga, 2017). Ketika melihat jumlah PKL yang terus mengalami penurunan maka pasti muncul pertanyaan mengapa berkurang dan tidak bertambah padahal dengan berkembangnya masyarakat di Kota Salatiga dalam lima belas tahun terakhir harusnya bertambah.
Temuan penulis ketika melakukan observasi dan wawancara di lapangan terdapat dua penyebab utama mengapa jumlah PKL mengalami penurunan. Berikut ini penjelasan mengapa sehingga jumlah PKL di Kota Salatiga mengalami penurunan. Pertama, banyak PKL yang telah sukses dalam usaha sehingga status mereka bukan lagi PKL tetapi telah menjadi pedagang eksis bahkan pedagang toko. Bagi PKL yang telah memiliki cukup modal mereka kemudian mengembangkan usahanya sehingga tempat awal tidak dapat menampung barang dagangan mereka. Berikut ini beberapa hasil wawancara dari PKL yang telah sukses dan tetap eksis tetapi telah mengalami peningkatan status dari PKL ke pedagang eksis:
“Pada awalnya saya berjualan pakaian di dekat jalan masuk Pasar Raya I dengan tujuan untuk membiayai biaya sekolah anak-anak saya, dari usaha tersebut saya memperoleh keuntungan yang kemudian dipakai sebagai modal menambah barang dagangan lainnya. Setelah Pasar Raya I direnovasi pemerintah memberi tawaran bagi kami PKL untuk menempati kios hanya dengan membayar retribusi sebesar tiga ribu rupiah perhari, tawaran tersebut saya ambil karena mengingat barang dagangan saya telah bertambah banyak dan saya butuh tempat yang bisa menampung barang sehingga lebih nyaman berjualan” (Wawancara dengan ibu Cahyati tanggal 24 Oktober 2017).
Selanjutnya Cak Hasan pedagang Sate Madura yang pada awalnya mangkal di trotoar Jalan Patimura, beliau menjelaskan tentang pengalamannya sebagai PKL yang kemudian beralih menjadi pedagang eksis:
“Saya memulai usaha sebagai PKL sate Madura yang menjajakan sate pada sore sampai malam hari. Usaha tersebut
kapung halaman, setelah tiga tahun menggeluti usaha sebagai PKL ternyata hasilnya luar biasa dan atas ridho Sang Ilahi maka dagangannya bisa saya tingkatkan pada tahun keempat. Pelangganpun semakin banyak sehingga saya harus memakai karyawan untuk membantu, akhirnya saya harus memanggil isteri dari kampung untuk sama-sama mengelola usaha. Kamipun kemudian mencari tempat tetap untuk menetap dan pada akhirnya saya berhenti menjadi PKL setelah memiliki warung di jalan Patimura” (Wawancara tanggal 25 Oktober 2017).
Seirama dengan pemikiran serta pengalaman Cak Hasan, bapak Budi Haryadi pedagang masakan Padang yang saat ini berjualan di Kridanggo, beliau menuturkan pengalamannya sejak menjadi PKL sampai sukses menjadi pedagang eksis:
“Sebelum menjadi pedagang eksis pada awalnya saya mengikuti abang dan kami menjadi PKL di Jalan Kartini sejak tahun 2003, setelah dibangun selasar di Jalan Kartini abang saya kemudian mempercayakan usahanya kepada saya dan kami pindah ke Kridanggo. Setelah dipercayakan usaha tersebut abang saya kemudian sakit dan meninggal dunia, akhirnya saya meneruskan usaha tersebut sendiri dan dalam waktu dua tahun usaha saya mengalami peningkatan karena banyak pelanggannya. Saya kemudian menempati warung yang disiapkan oleh dinas Perindagkop hanya dengan membayar retribusi perharinya empat ribu rupiah. Usaha saya lumayan maju sehingga saya harus memakai tenaga kerja untuk membantu setiap harinya, saat ini pendapatan perhari rata-rata di atas satu juta rupiah dan jika dibandingkan dengan pendapatan saat masih menjadi PKL di Jalan Kartini justru saat ini jauh lebih tinggi” (Wawancara tanggal 25 Oktober 2017).
Dari temuan tersebut ternyata dengan adanya peningkatan taraf hidup PKL mempengaruhi jumlah PKL di Kota Salatiga, dari pengalaman dimaksud penulis melihat bahwa PKL yang sukses adalah mereka yang tekun menjalankan usahanya sehingga mereka kemudian beralih status menjadi pedagang eksis dan juga pedagang tetap (Toko). Para PKL sendiri ternyata memiliki semangat yang berbeda dalam menjalankan tugas sebagai pedagang kecil yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kedua, penegakkan Perda secara konsisten dan bertanggung jawab oleh pemerintah kota lewat Satpol PP dan dinas Perindagkop yang tidak kompromi dengan daerah larangan sehingga tidak ada PKL liar di luar kontrol. Adapun strategi untuk mengendalikan agar tidak bertambahnya jumlah PKL maka oleh dinas Perindagkop menerapkan strategi dengan memakai ketua paguyuban dan seluruh anggota paguyuban untuk mempertahankan jumlah mereka dalam lokasi yang ditempati. Berikut ini penuturan kepala dinas Peridagkop Kota Salatiga bapak Muthoin:
“Dalam upaya mengendalikan jumlah PKL agar tetap dan tidak bertambah jumlahnya maka strateginya adalah membentuk paguyuban dengan tujuan mereka menjadi perpanjangan tangan pemerintah kota yang ada di lapangan. Ketua paguyuban adalah penanggung jawab utama di lapangan, sehingga ketika ada PKL baru yang tanpa pemberitahuan sebelumnya melakukan aktivitas di sekitar lokasi maka paguyuban tersebut yang bertanggung jawab atas lokasi mereka sehingga tidak ada benturan dengan pemerintah. Selain itu melalui ketua-ketua paguyuban tersebut kami mudah mengontrol mereka ketika ada permasalahan yang muncul di lapangan, karena dinas dengan mudah memanggil ataupun berkoordinasi dengan ketua paguyuban sebagai perpanjangan tangan kami di lapangan”
Selain memanfaatkan ketua-ketua paguyuban di masing-masing paguyuban, pemerintah daerah melalui Satpol PP dan dinas Perindagkop melakukan pendekatan persuasif kepada oknum-oknum PKL untuk terlibat dalam menjaga lingkungan mereka. Menurut penjelasan bapak Dadang salah satu kepala bidang di Disperindagkop yang membidangi pedagang pasar, menjelaskan bahwa apabila ada pedagang yang berjualan di daerah yang tidak diperuntukkan bagi pedagang pasar maupun PKL, mereka tidak ditindak kasar melalui pengusuran tetapi dibina secara bertahap melalui surat teguran atau didatangi langsung oleh tim gabungan (Satpol PP, Disperindagkop, Dinas Perhubungan, dan Polisi) untuk berdiskusi mencari solusi bersama (Wawancara tanggal 23 Oktober 2017).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami mengapa jumlah PKL dari tahun ke tahun mengalami penurunan, penulis melihat strategi pemkot dalam mengendalikan jumlah dengan menggunakan PKL yang telah terdaftar dan memiliki STDU melalui ketua-ketua paguyubannya untuk menjaga dan mempertahankan jumlah anggota komunitasnya adalah sebuah solusi bijak. Melalui strategi tersebut maka benturanpun dapat dihindari sehingga konflik dengan semua pihak tidak terjadi, selain itu kondisi harmonipun tetap terjaga dengan baik karena masing-masing pihak saling menjaga dalam suasana aman dan damai.
Gambar 6. 2 PKL Jam dan Kacamata di Pelataran Pertokoan Tamansari
Peningkatan kesejahteraan PKL juga merupakan salah satu faktor yang memberi kontribusi signifikan terhadap penurunan jumlah PKL di Kota Salatiga, karena itu pemerintah kota sebagai pemegang kendali melalui Dinas Perindagkop diharapkan meningkatkan perhatiannya terhadap para PKL. Dengan perhatian serius melalui pembinaan ataupun program pendampingan lainnya, penulis yakin bahwa masalah peningkatan jumlah PKL dapat dikendalikan dengan baik, sehingga tidak terjadi masalah dalam upaya meredam pertambahan jumlah PKL. Berikut ini jumlah PKL berdasarkan data dari Dinas Perindagkop tahun 2017.
Tabel 6. 1 Data Jumlah PKL Tahun 2017
NO WILAYAH PKL JUMLAH TAMBAHAN TOTAL
1 A. Yani (Kios Buah) 28 1 29
2 Jenderal Sudirman 58 19 77 3 Kemiri Raya 13 0 13 4 Kridanggo 19 9 28 5 Lapangan Pancasila 56 0 56 6 Muwardi 3 6 9 7 Pasar Pagi 712 2 714
8 Pasar Raya 1 Malam 45 0 45
9 Patimura 24 15 39
10 Margosari 1 12 13
11 Pos Tingkir (Salatiga Suruh) 4 9 13
12 Shopping Gerobog Putih 111 0 111
13 Shopping Teras 49 0 49 14 Pasar Raya II 0 15 15 15 Sukowati 6 10 16 16 Brigjen Sudiarto 0 9 9 17 Jl. Pemuda 0 3 3 18 Jl. Senjoyo 0 4 4 19 Pasar Blauran 0 4 4 20 Jl. Merak 0 2 2
21 Taman Makam Pahlawan buah 80 2 82 22 Turen 5 0 5 23 Blok C 70 0 70 24 Kemasan 14 0 14 JUMLAH TOTAL 1298 122 1420
Sumber: Dinas Perindagkop Tahun 2017
Dalam perjalanan sejak tahun 2003 pemerintah Kota Salatiga ternyata sangat memperhatikan eksistensi PKL, hal tersebut dapat dilihat dari regulasi yang dikeluarkan setelah Perda No 2 Tahun 2003 yaitu Perwali Nomor 18 Tahun 2006 yang adalah petunjuk pelaksanaan dari Perda Nomor 2 Tahun 2003, dan Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Penataan, Pengelolaan, dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima. Berdasarkan realita tersebut tidak diragukan lagi bagaimana pemerintah kota memposisikan PKL sebagai entitas kota yang harus diperhatikan serta diberdayaakan.
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Penataan,
Pengelolaan, dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima
Setelah Perda Nomor 2 Tahun 2003 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Salatiga dimplementasikan pada tahun 2003, kondisi Kota Salatiga khususnya konflik PKL dengan seluruh stakeholder tidak terjadi lagi. Semangat kebersamaan yang terbangun melalui partisipasi semua pihak dalam mencari solusi atas masalah yang terjadi akibat eksistensi PKL dengan peningkatan yang tidak terkendali, tetap menjadi bagian dalam praktek hidup berdampingan. Dalam perjalanan selama dua belas tahun sejak Perda Nomor 2 Tahun 2003 diimplementasikan, pemerintah daerah melihat bahwa Perda tersebut perlu ditinjau kembali karena ada hal-hal yang tidak relevan dengan konteks saat ini. Dengan alasan tersebut maka pada tahun 2015 kembali diterbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2015 sebagai wujud kepedulian pemerintah daerah Kota Salatiga terhadap PKL.
Dalam Perda ini sangat jelas dibahas tentang siapa PKL dan bagaimana fungsi serta peran PKL dalam konteks masyarakat di Kota Salatiga yang dibahas secara paripurna bagaimana posisi PKL bagi pemerintah daerah dan masyarakat umum. Sekalipun proses perumusannya berbeda dengan situasi saat Perda Nomor 2 tahun 2003 dirumuskan, tetapi dalam proses perumusan tersebut PKL juga tetap dilibatkan dalam tahapan perencanaan sampai dengan implementasi melalui ketua paguyubannya. Pemerintah daerah tetap menghargai PKL dan stakeholder sehingga dalam perumusan perda dimaksud, semua komponen yang bersentuhan dengan kebijakan tersebut dilibatkan agar mengetahui secara baik maksud serta tujuan dari kebijakan yang ditetapkan.
Pada pembahasan selanjutnya pemerintah daerah menopang PKL untuk membangun kemitraan dengan dunia usaha sehingga PKL diberi bantuan modal usaha yang bersumber dari APBD. Adapun bentuk kemitraan dengan dunia usaha antara lain; peremajaan penataan tempat usaha PKL; peningkatan kemampuan berwira usaha melalui bimbingan, pelatihan dan bantuan permodalan; promosi usaha
lewat event pada lokasi binaan; dan berperan aktif dalam penataan PKL untuk mewujudkan kawasan perkotaan menjadi lebih tertib, bersih, indah dan nyaman. Komitmen pemerintah kota untuk memberdayakan PKLpun dapat dilihat dari pemberian bantuan serta pembinaan dari dinas Perindagkop yang dilakukan setiap tahun sesuai program dari bidang PKL.
Gambar 6. 3 PKL Makanan di Depan Toko dan di Bawah Marka Larangan Berjualan
Melalui pemberdayaan sebagaimana yang telah dipaparkan di atas maka sangat diharapkan PKL di Kota Salatiga menjadi salah satu sektor penggerak ekonomi mikro sehingga tingkat kesejahteraan masyarakatpun mengalami peningkatan. Hak PKL yang harus diterima sesuai Perda Nomor 4 Tahun 2015 adalah mendapatkan pengaturan, penataan, pembinaan, supervisi, dan pendampingan dalam pengembangan usaha. Selain itu PKL juga berhak mendapatkan pelayanan pendaftaran usaha PKL, mendapatkan informasi dan sosialisasi terkait kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah di tempat dimana PKL berjualan, dan berhak mendapatkan pendampingan dalam mendapatkan pinjaman permodalan dengan lembaga keuangan yang telah menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah (Perda Nomor 4
Selain hak yang harus didapatkan oleh PKL tidak terlepas juga kewajiban serta larangan yang diberlakukan bagi PKL itu sendiri. Adapun kewajiban PKL yang tidak terdapat pada perda penataan PKL sebelumnya adalah menyerahkan tempat usaha atau lokasi usaha tanpa menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun, apabila lokasi usaha tidak ditempati selama 1 (satu) bulan atau sewaktu-waktu lokasi berjualannya dibutuhkan oleh pemerintah. Sedangkan larangan yang awalnya tidak ada pada Perda Nomor 2 Tahun 2003 adalah PKL dilarang berpindah tempat atau lokasi dan atau memindahtangankan TDU tanpa sepengetahuan dan seizin Walikota (Perda Nomor 4 tahun 2015: pasal 35 dan pasal 36). Dari kewajiban dan larangan tersebut dapat dipahami, bahwa pemerintah daerah benar-benar fokus serta peduli dengan PKL sebagai wujud peningkatan kesejahteraan warga sekaligus upaya mengendalikan peningkatan jumlah PKL.
Mengkaji Perda Nomor 4 Tahun 2015 sebagian besar konsepnya di adopsi dari Perda Nomor 2 Tahun 2003 terkait retribusi, waktu berjualan, luas lapak, lokasi berjualan serta sanksi-sanksi administrasi atas pelanggaran yang dilakukan. Berdasarkan kajian tersebut maka dapat dibahasakan bahwa Perda Nomor 4 Tahun 2015 adalah wajah baru dari Perda Nomor 2 Tahun 2003 yang disempurnakan sesuai perkembangan daerah. Untuk efektifitas pelaksanaan program penataan dan pemberdayaan PKL maka harus ditunjang dengan penyebaran informasi, penyuluhan dan sosialisasi secara masif dengan tujuan menggerakkan komitmen bersama antara PKL, pemerintah daerah, dunia usaha, serta masyarakat pada umumnya.
Partisipasi sebagai Sebuah Warisan
Seiring dengan penataan ruang kota yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui peraturan daerah Kota Salatiga, harus menyelaraskan kepentingan publik dan privat dan mendayagunakan fungsi ruang yang ada, maka pengaturan mengenai lokasi peruntukkan bagi PKL harus disesuaikan dengan fungsi kawasan yang ada di Kota
Salatiga. Hal tersebut dilakukan mengingat ruang gerak PKL akan dan selalu memunculkan dampak terhadap ganguan arus lalu lintas, terganggunya estetika wajah kota dan kebersihan serta fungsi prasarana kawasan perkotaan. Dengan demikian maka antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain harus jalan dalam keseimbangan, sehingga dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan tidak berbenturan dengan kepentingan publik. karena itu pemerintah Kota Salatiga menggunakan konsep partisipasi dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam tahap perencanaan sebuah program sampai dengan tahap implementasinya.
Partisipasi yang terbangun sejak tahun 2002 ternyata masih memiliki pengaruh dan secara konsisten diterapkan sampai saat ini, hal tersebut dapat dibuktikan melalui hubungan yang harmoni antara sesama PKL maupun dengan stakeholder lainnya. Kondisi usaha PKL yang tidak diwarnai konflik internal maupun eksternal serta situasi daerah kondusif sejak ditetapkannya Perda nomor 2 Tahun 2003 menunjukkan bahwa konsep partisipasi tidak hanya sebatas pada perumusan kebijakan penataan PKL, tetapi telah masuk lebih jauh dalam praktek hidup antar sesama PKL maupun dengan stakeholder. Tanpa adanya pemahaman mendalam mengenai partisipasi yang telah berlangsung lama maka pasti kondisi kota tidak akan kondusif, apalagi dengan dinamika terkini terdapat banyak PKL baru yang tidak terlibat pada proses partisipasi di tahun 2002, namun semangat partisipasi tersebut tetap terlihat dalam aktivitas mereka.
Kondisi saat ini sesuai hasil observasi lapangan dan berdasarkan wawancara dengan PKL dan beberapa stakeholder ditemukan bahwa, pada umumnya PKL di Kota Salatiga hidup dalam suasana harmoni dan mereka saling menopang satu dengan lainnya sebagai wujud kebersamaan yang diwarisi dari proses partisipasi yang terbangun sejak tahun 2002. Mengapa sehingga partisipasi disebut sebagai warisan? Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa partisipasi harus dilihat secara komprehensif melalui pola hidup setiap hari dalam aktivitas yang ditunjukkan oleh masing-masing PKL. Untuk memahami secara detail bagaimana partisipasi aktif semua pihak baik pemerintah daerah
dalam hal ini dinas Perindagkop, PKL, maupun stakeholder maka hal tersebut dapat dilihat dari proses pembinaan ketika ada PKL baru (liar) yang menempati zona larangan bagi PKL ataupun juga masuk dalam paguyuban yang telah terbentuk.
Gambar 6. 4 Deretan PKL Jual Beli Emas di Sepanjang Depan Toko Emas Pasar Raya I
Pengalaman konflik tahun 2002 memberi kesan positif bagi langgengnya harmoni sosial di antara PKL dan stakeholder sehingga penulis melihatnya sebagai warisan partisipasi yang patut diapresiasi dan merupakan ciri khas penataan PKL Kota Salatiga. Berikut ini cuplikan wawancara dengan kepala Dinas Perindagkop Kota Salatiga terkait proses partisipasi yang dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah daerah, PKL, dan stakeholder lainnya dalam menyikapi munculnya PKL baru di zona tertentu.
“Jika ada PKL baru maka strategi kami untuk menghidari konflik dengan warga dan juga pemilik toko ataupun lokasi tempat PKL baru berjualan adalah dengan melibatkan ketua RT, RW, dan pemilik toko ataupun lahan dilibatkan secara bersama untuk membuat surat pernyataan bersama. Melalui rekomendasi bahwa mereka mengijinkan serta tidak terganggu dengan aktivitas PKL baru di sekitar wilayah atau lokasi mereka. Setelah semuanya selesai maka kamipun membina PKL tersebut secara bertahap sampai dengan
bagaimana mereka memperoleh STDU” (Wawancara tangal 24 Oktober 2017).
Selanjutnya bapak Yoga kepala sub bidang PKL dinas Perindagkop Kota Salatiga menegaskan bahwa pembinaan dilakukan bukan hanya pada PKL yang telah terdaftar, tetapi juga terhadap PKL baru (liar) yang telah terpantau ketika mereka melakukan aktivitas di zona larangan dalam waktu tertentu, berikut ini penuturannya:
“Ketika ada PKL baru maka dilakukan pembinaan dengan cara mendatangi mereka dan menjelaskan bahwa daerah yang mereka tempati adalah zona larangan yang sesuai dengan perda karena itu mereka (PKL), jika ingin berjualan maka harus mencari tempat di zona yang diperuntukan bagi PKL. Adapun syaratnya adalah jika PKL tersebut telah mendapat tempat di zona yang diperuntukkan untuk berjualan maka harus ada persetujuan dari para PKL ataupun paguyuban yang telah ada di tempat tersebut, jika ada persetujuan maka pemkot melalui dinas Perindagkop mengeluarkan ijin untuk berjualan. Bagi PKL yang berjualan di zona larangan tetapi ada space luas berupa halaman toko contohnya seperti di area pertokoan Jalan Patimura maka PKL harus mendapat ijin dari pemilik toko melalui rekomendasi tertulis yang diserahkan ke dinas Perindagkop” (Wawancara tanggal 24 Oktober 2017).
Menguatkan fakta partisipasi di lapangan yang masih tetap terjaga sampai saat ini, maka penulis menelusuri dengan mengumpulkan informasi di lapangan terkait keberadaan PKL baru. Wawancara dengan ketua RT 01/RW 02 Margosari bapak Wahyu1,
beliau menguatkan apa yang dijelaskan kepala dinas Perindagkop bahwa mereka selalu dilibatkan dalam penyelesaian masalah PKL ketika ada PKL baru yang mangkal di daerah Margosari. Hal tersebut dilakukan oleh dinas untuk mengantisipasi muncul masalah dengan warga di sekitar lingkungan, karena itu ketua RT dan RW harus dihadirkan untuk bersama mencari solusi bagi PKL baru. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa mereka tidak tega melihat PKL yang mencari nafkah di daerah mereka di usir atau diperlakukan tidak
manusiawi karena merekapun harus menghidupi keluarga di rumah. Karena itu maka mereka kemudian berupaya sebaik mungkin untuk menjaga lingkungan tetap aman di satu pihak dan di lain pihak membantu PKL untuk dapat berjualan tanpa masalah.
Selanjutnya bapak Mustamin2 pemilik toko di Jalan Pattimura
menjelaskan bahwa mereka memberi ijin untuk halaman depan toko mereka dipakai sebagai lokasi berjualan bagi PKL ada dua hal yang mendasarinya: pertama, dengan adanya aktivitas PKL di depan toko mereka maka lokasi tersebut akan menjadi ramai karena para pengunjung akan berdatangan ke lokasi tersebut. Dengan demikian maka lokasi mereka akan dikenal oleh masyarakat luas sehingga barang dagangan yang dijual di toko juga akan diketahui orang banyak. Kedua, pemilik toko tidak keberatan dengan aktivitas PKL karena ketika malam hari pemilik toko merasa aman karena toko mereka ada yang menjaganya. Para PKL yang berjualan sampai larut malam telah membantu menjaga keamanan di daerah pertokoan sehingga pemilik toko tidak kuatir dengan pencurian ataupun pembobolan pintu toko.
Pengalaman lain dalam hubungan dengan eksistensi PKL Kota Salatiga serta pengalaman konflik dan partisipasi yang terbangun sejak tahun 2002, bapak Tris penjual ronde yang mangkal sejak tahun 1992 di daerah Kaloka. Beliau menuturkan pengalamannya selama menjadi PKL sudah 25 tahun ada bagitu banyak pahit manis perjalanan hidup sebagai orang kecil yang menyambung hidup dari hasil jualan di jalan:
“Pada akhir tahun sembilan puluan kami mengalami masalah di lapangan karena pada waktu itu jumlah PKL bertambah drastis sehingga kami berebutan lahan, alasan kenapa tiba-tiba banyak yang menjadi PKL sampai saat ini secara pribadi saya tidak tahu. Dengan bertambahnya jumlah PKL maka banyak masalah yang terjadi dan kami sebagai PKL terlibat konflik dengan Satpol PP ketika melakukan operasi, selain itu dengan sesama kami juga terjadi konflik karena banyak PKL pendatang saat itu sehingga kami tidak saling kenal. Banyaknya PKL serta belum terorganisir secara baik memunculkan
persaingan yang tidak sehat. Kondisi tersebut berlangsung kurang lebih dua tahun tetapi saya secara pribadi tetap bertahan karena kami sekeluarga bergantung dari penghasilan saya sebagai PKL, dengan demikian risiko apapun harus siap dihadapi demi mencukupi kebutuhan kami. Pada tahun 2002 kami mulai terorganisir dan terlibat dalam berbagai pertemuan baik sesama PKL mapun dengan pihak pemerintah, dari pertemuan tersebut maka kami dapat diorganisr secara baik dan konflikpun sampai saat ini tidak lagi terjadi” (Wawancara tanggal 25 Okober 2017).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa untuk menjadi PKL saat ini harus melalui proses yang kompleks karena warisan partisipasinya tetap kental dijunjung oleh semua pihak. Dinas Perindagkop sendiri sebagai instansi berwenang tidak serta merta mengambil keputusan terhadap permasalahan PKL tanpa melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan, dengan demikian maka penulis melihat bahwa partisipasi yang terbangun pada tahun 2002 serta Harmoni sosialnya tetap dijunjung demi kabaikan barsama.
Kesimpulan
Sekalipun proses partisipasi yang terbangun sejak tahun 2002 telah lama berlangsung bahkan para aktor partisipasipun telah tiada namun bangunan partisipasinya masih tetap bertahan sampai saat ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dinamika PKL telah mengalami perubahan seiring berlalunya waktu karena dari kondisi yang telah penulis paparkan di atas, bahwa PKL sendiri ada yang telah berubah status dan ada pula PKL baru yang tidak mengetahui proses awal partisipasi dibangun. Tetapi kondisi di lapangan menunjukkan bagaimana partisipasi dan harmoni sosial tetap terjaga dengan baik oleh masing-masing pihak.
Keterlibatan pemerintah, PKL dan stakeholder lainnya dalam menyikapi permasalahan PKL adalah wujud partisipasi yang tetap langgeng demi menjaga harmoni sosial dalam kehidupan bersama yang saling peduli. Pemerintah daerah dalam perumusan Perda nomor 4
Tahun 2015 tidak berjalan sendiri tetapi melibatkan PKL dan stakeholder, hal tersebut merupakan implementasi dari partisipasi yang terbangun selama ini sehingga semua pihak merasa memiliki terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah. Dengan perda tersebut PKL semakin diperhatikan oleh pemerintah daerah yang memposisikan PKL sebagai mitra dalam peningkatan ekonomi masyarakat sehingga tidak ada kesan bahwa PKL adalah entitas yang harus disingkirkan dari wajah kota karena dampak negatif selalu ditimbulkan lewat aktivitas mereka pada ruang publik.
Pemberdayaan PKL yang ditetapkan oleh pemerintah daerah melalui Perda Nomor 4 Tahun 2015, menunjukkan bahwa partisipasi telah menjadi bagian dari kelangsungan hubungan antara pemerintah daerah, PKL dan seluruh stakeholder. Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam sebuah kebijakan ataupun program-program pemerintah maka hal tersebut akan memberi dampak positif bagi masyarakat umum, sehingga akan terwujud harmoni sosial di antara semua pihak. Dari pengalaman konflik dan resolusi konflik PKL dan stakeholder Kota Salatiga tahun 2002, ternyata membawa dampak posisitif bagi kelangsungan partisipasi dan harmoni sosial sampai saat ini.