Pedoman Updating Peta Lahan Baku Sawah menggunakan GPS.

55  28  Download (2)

Teks penuh

(1)
(2)

Updating Peta Lahan Baku Sawah

Menggunakan GPS

(3)

Updating Peta Lahan Baku Sawah

Menggunakan GPS

Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5) Jumlah Halaman : 86 halaman

Penasehat : Ir. M. Tassim Billah, MSc

Penyunting :

Ir. Dewa N. Cakrabawa, MM DR. M. Luthful Hakim

Penyusun : Ir. Noviati, MSi Ir. Efi Respati, MSi

Drs. Paulus Basuki KS., MSi Ir. Jaka Surasa

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian

2011

(4)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan

rahmat-Nya sehingga telah diselesaikannya penyusunan buku Pedoman Updating Peta

Lahan Baku Sawah menggunakan GPS.

Buku Pedoman ini disusun guna menjadi acuan bagi petugas pengelola

data di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat dalam rangka

melakukan updating Peta Lahan Baku Sawah secara cepat dan akurat.

Buku pedoman ini menjelaskan mengenai konsep definisi, organisasi

pelaksana survei, pengukuran di lapangan dengan receiver GPS dan

pengolahan data dengan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) lahan

baku sawah.

Akhirnya, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh

tim penyusun atas kontribusinya dalam penyusunan buku pedoman ini.

Jakarta, Mei 2011

Kepala Pusat Data dan Sistem

Informasi Pertanian,

(5)
(6)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI iii

2.4. Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 8

BAB III. ORGANISASI PELAKSANA SURVEI ... 11

3.1. Pelaksana Survei ... . 11

3.2. Tugas dan Tanggung Jawab ... . 11

BAB IV. PENGENALAN ALAT RECEIVER GPS ... 13

4.1. Bentuk dan Tampilan Alat GPS Merk Getac PS535F ... 13

4.2. Menghidupkan GPS... ... 14

BAB V. PENGUKURAN LUAS LAHAN DENGAN GPS GETAC PS535F ... . 15

5.1. Instalasi Software ActiveSync ... 15

5.2. Menjalankan Software Superpad 3 ... 17

5.3. Memasukan Data Citra... 18

5.4. Setting Software SuperPad 3 ... 20

5.5. Pengukuran ... 20

BAB VI. HAL-HAL PENTING DALAM PENGUKURAN ... .. 33

6.1. Persiapan Sebelum Pengukuran ... . 33

(7)

iv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

BAB VII. Pengolahan Data Hasil Updating... 35

(8)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Segmen GPS ... 4

Gambar 2.2. Segmen Kontrol ... 5

Gambar 2.3. Segmen Angkasa ... 5

Gambar 2.4. Jarak pandang langsung ... 6

Gambar 2.5. Obstruksi ... 7

Gambar 2.6. Multipath ... 7

Gambar 2.7. Data Vektor ... 9

Gambar 2.8. Data Raster ... 10

Gambar 4.1. Tampak Depan dan Belakang ... 13

Gambar 4.2. Tampak Samping Kiri, Atas dan Bawah ... 14

Gambar 4.3. Switch On/OFF ... 14

Gambar 5.1. Langka 1 Instalasi ActiveSync ... 15

Gambar 5.2. Langka 2 Instalasi ActiveSync ... 15

Gambar 5.3. Jendela pilihan instalasi ... 16

Gambar 5.4. Jendela proses instalisasi ... 16

Gambar 5.5. Software SuperPad 3 ... 17

Gambar 5.6. Halaman startup ... 17

Gambar 5.7. Tampilan Software Superpad ... 17

Gambar 5.8. Jendela Window Explorer ... 18

Gambar 5.9. Copy Data Citra ... 18

Gambar 5.10. Paste Data Citra di Storage Card GPS ... 19

Gambar 5.11. Proses Copy ... 19

Gambar 5.12. Ikon Add layers ... 19

Gambar 5.13. Background Data Citra ... 20

Gambar 5.14. Halaman GPS options ... 20

Gambar 5.15. Jendela New Layer ... 21

Gambar 5.16. Pilihan Type File ... 21

Gambar 5.17. Nama File ... 22

Gambar 5.18. Ikon Tambah Atribut... 22

Gambar 5.19. Nama Atribut ... 23

Gambar 5.20. Atribut yang sudah dibuat ... 23

Gambar 5.21. Jendela Map Properties ... 23

Gambar 5.22. Tab Spatial Reference ... 24

Gambar 5.23. Folder Coordinate Systems... 24

(9)

vi Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 5.25. Folder UTM ...25

Gambar 5.26. Folder WGS 1984 ...25

Gambar 5.27. Pilihan Zona UTM...25

Gambar 5.28. Pembagian zona UTM seluruh dunia ...26

Gambar 5.29. Pembagian zona UTM untuk wilayah Indonesia ...26

Gambar 5.30. UTM Zone 48S ...26

Gambar 5.31. Spatial Reference dengan koordinat UTM...27

Gambar 5.32. Turn ON/TurnOFF ...27

Gambar 5.33. Akurasi Receiver GPS ...28

Gambar 5.34. Ikon Perekaman ...28

Gambar 5.35. Ikon Perekaman Area ...28

Gambar 5.36. Ikon Perekaman Add GPS Vertex dan Add GPS Vertices Continously ...29

Gambar 5.37. Ikon perekaman dengan menggunakan Add GPS Vertex ...29

Gambar 5.38. Ikon Penyimpanan Hasil Perekaman ...29

Gambar 5.39. Pengisian atribut ...30

Gambar 5.40. Polygon hasil pengukuran...30

Gambar 5.41. Ikon Query ...31

Gambar 5.42. Jendela Measure Result ...31

Gambar 5.43. Ikon untuk memperbesar tampilan ...31

Gambar 5.44. Ikon untuk menampilkan gambar secara utuh ...32

Gambar 7.1. Shapefile di software ArcMap ...35

Gambar 7.2. Shapefile hasil pengukuran ...36

Gambar 7.3. Tool Editor ...36

Gambar 7.4. Select dua Polygon ...36

Gambar 7.5. Intersect ...37

Gambar 7.6. Hasil Intersect ...37

Gambar 7.7. Jendela Clip ...38

Gambar 7.8. Delete Polygon ...38

Gambar 7.9. Polygon yang sudah dilakukan pengurangan ...39

Gambar 7.10. Menu Open Attribute Table ...39

Gambar 7.11. Menu Calculate Geometry ...40

Gambar 7.12. Jendela Calculate Geometry ...40

Gambar 7.13. Jendela Statistics ...40

Gambar 7.14. Shapefile di ArcMap ...41

Gambar 7.15. Overlay dengan shapefile sawah baru ...41

Gambar 7.16. Target yang dipilih ...42

Gambar 7.17. Copy Polygon ...42

Gambar 7.18. Target yang dipilih ...42

(10)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI vii

(11)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia (laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,43% per tahun) dan diperkirakan jumlah penduduk tahun 2035 adalah 338,6 juta, maka permintaan terhadap bahan pangan khususnya beras juga mengalami peningkatan. Disisi lain, alih fungsi lahan (konversi) dari lahan sawah ke non sawah makin meningkat di seluruh wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Menurut data dari BPN (2010) selama 10 tahun (2000-2010) telah terjadi alih fungsi lahan dari lahan sawah non sawah di Pulau Jawa sebesar 65.961 Ha dan Luar Jawa 64.300 Ha. Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pertanian pada tahun 2010 melakukan penyusunan peta lahan baku sawah yang lebih akurat dan cepat dengan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi (QuickBird, GeoEye, WorldView 1, WorldView 2, dan Ikonos) dan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) serta aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis). Data citra satelit yang digunakan tersebut memiliki tahun perekaman (akusisi) antara tahun 2008-2010.

Data lahan baku sawah hasil dari pemetaan tersebut bermanfaat dalam meningkatkan akurasi estimasi produksi padi. Namun demikian, akibat makin meningkatnya alih fungsi lahan sawah ke non sawah di Pulau Jawa, maka perlu dilakukan updating peta lahan baku sawah dengan menggunakan alat GPS (Global Positioning System). Alat GPS yang digunakan adalah alat GPS yang dapat dimasukkan dan menampilkan data citra satelit dan vektor lahan sawah. Selain itu, alat GPS tersebut dapat digunakan untuk mendigitasi bidang fisik lahan.

Kegiatan updating peta lahan baku sawah dengan menggunakan alat GPS tersebut akan dilaksanakan oleh para mantri tani (KCD) di setiap kecamatan. Hasil pemetaan oleh mantri tani akan dikumpulkan menjadi database lahan baku sawah di kabupaten, provinsi dan Pusdatin Kementerian Pertanian. Manfaat updating peta lahan baku sawah untuk memantau secara periodik kondisi lahan sawah secara cepat dan akurat.

1.2. Tujuan

Buku panduan Updating Peta Lahan Baku Sawah Menggunakan GPS bertujuan : 1. Memberikan pemahaman peta lahan baku sawah;

(12)

2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

3. Menjadi acuan untuk melaksanakan updating peta lahan bagi petugas pengelola data.

1.3. Sasaran

Sasaran yang diharapkan dari buku Panduan Updating Peta Lahan Baku Sawah Menggunakan GPS adalah:

1. Dipahaminya konsep tentang peta lahan baku sawah;

2. Dipahaminya tahapan-tahapan kegiatan updating peta lahan baku sawah menggunakan GPS;

(13)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 3

BAB II

KONSEP DAN DEFINISI

2.1. Lahan Sawah

Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh

pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya

ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah

tersebut. Lahan sawah yang dimaksud disini adalah lahan sawah yang termasuk

juga lahan yang terdaftar di Pajak Hasil Bumi, Iuran Pembangunan Daerah, lahan

bengkok, lahan serobotan, lahan rawa yang ditanami padi dan lahan bekas

tanaman tahunan yang telah dijadikan sawah, baik yang ditanami padi maupun

palawija.

Berdasarkan pengairannya lahan sawah dibedakan menjadi :

a) Lahan Sawah Berpengairan (Irigasi).

Yaitu lahan sawah yang memperoleh pengairan dari sistem irigasi, baik yang

bangunan penyadap dan jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas

pengairan PU maupun dikelola sendiri oleh masyarakat.

Lahan sawah irigasi terdiri atas :

(1) Lahan sawah irigasi teknis.

(2) Lahan sawah irigasi setengah teknis.

(3) Lahan sawah irigasi sederhana.

(4) Lahan sawah irigasi desa/non PU.

b) Lahan Sawah Tak Berpengairan (Non Irigasi)

Lahan sawah non irigasi adalah lahan sawah yang tidak memperoleh pengairan

dari sistem irigasi tetapi tergantung pada air alam seperti : air hujan, pasang

surutnya air sungai/laut, dan air rembesan.

Lahan sawah non irigasi meliputi :

(1) Lahan sawah tadah hujan.

(2) Lahan sawah pasang surut.

(14)

4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI pekarangan, ladang/huma, tegal/kebun, lahan perkebunan, kolam, tambak, danau, rawa, dan lainnya. Lahan yang berstatus lahan sawah yang sudah tidak berfungsi sebagai lahan sawah lagi, dimasukkan dalam lahan bukan sawah.

2.3. GPS

a. Segmen GPS

Global Positioning System (GPS) merupakan suatu konstelasi yang terdiri dari 24 satelit atau lebih yang menyediakan informasi posisi koordinat. GPS dapat dipergunakan secara global di manapun dan oleh siapapun dimuka bumi ini secara gratis. Secara garis besar GPS dibagi menjadi tiga segmen : kontrol, angkasa, dan pengguna.

Gambar 2.1. Segmen GPS

1) Segmen Kontrol

(15)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 5

Gambar 2.2. Segmen Kontrol

2) Segmen Angkasa

Segmen angkasa merupakan konstelasi Navigation Satellite Timing And Ranging (NAVSTAR) dari satelit-satelit yang memancarkan sinyal GPS. Orbit satelit berada pada ketinggian sekitar 20.200 km di atas bumi dan melakukan revolusi terhadap bumi setiap 12 jam.

Gambar 2.3. Segmen Angkasa

3) Segmen Pengguna

Berbagai sektor menggunakan GPS untuk penentuan posisi, baik dari kalangan sipil maupun militer. Aplikasinya meliputi pertanian, penerbangan, pelayanan darurat, rekreasi, dan pemantauan kendaraan.

Menerima Informasi, Mentransmisikan Informasi

(16)

6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI b. Satelit

Gambar 2.4. Jarak pandang langsung

c. Sumber Kesalahan

Secara umum, akurasi posisi GPS bergantung dari beberapa sumber kesalahan yang ada. Terdapat beberapa sumber kesalahan yang mempengaruhi hasil pengambilan data GPS, sebagai berikut :

1) Selective Availability

Selective Availability (SA) merupakan kesalahan acak dari sinyal GPS yang ditentukan oleh United State Department of Defenses (DoD) untuk menurunkan kualitas akurasi posisi GPS. Pada saat SA dihilangkan, akurasi posisi horizontal dari posisi autonomous berkisar antara 10-15 meter. Akan tetapi pada saat SA diaktifkan, akurasi autonomous dapat berubah menjadi diatas 100 meter. Selective Availability telah dimatikan pada waktu Mei 2000.

2) Obstruksi

Obstruksi adalah munculnya penghalang sinyal GPS yang diakibatkan oleh awan, gedung, pepohonan, dll. Penerimaan sinyal GPS akan lebih baik pada area terbuka dibandingkan dengan area yang tertutup. Jika receiver GPS melakukan pemantauan terhadap empat satelit dan seketika kehilangan pemantauan terhadap salah satu satelit dikarenakan terhalang oleh obstruksi, maka pengguna harus menunggu sampai terhubung kembali dengan satelit untuk dapat melakukan perekaman data posisi 3D.

(17)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 7

Gambar 2.5. Obstruksi

3) Multipath

Kesalahan multipath terjadi pada saat sinyal GPS terpantul terlebih dahulu pada sebuah objek sebelum mencapai antena receiver GPS. Kesalahan ini dapat terjadi tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Nilai kesalahan yang terjadi bisa sangat kecil akan tetapi bisa juga menyebabkan penurunan akurasi hingga beberapa meter. Sampai saat ini, belum ada cara untuk menghindari kesalahan tersebut.

(18)

8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 2.4. SIG (Sistem Informasi Geografis)

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis (Aronoff, 1989).

Dalam pembahasan selanjutnya, SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial, sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.

a. Data Spasial

Data spasial merupakan sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (atribut) yang dijelaskan berikut ini :

1) Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.

2) Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya: jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.

b. Format Data Spasial

(19)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 9

1) Data Vektor

Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (titik perpotongan antara dua buah garis).

Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan/menggambarkan fitur titik, area dan garis. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas kadastral. Kelemahan data vektor adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.

Gambar 2.7. Data Vektor

2) Data Raster

Data raster (pixel) adalah data yang dihasilkan dari foto udara maupun foto satelit. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element).

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra atau foto. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti vegetasi, dan lainnya. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia.

(20)

10 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

komputasi matematik. Sedangkan data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara matematis. Contoh data raster disajikan pada gambar dibawah.

(21)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 11

BAB III

ORGANISASI PELAKSANA SURVEI

3.1. Pelaksana Survei

Pelaksana survei Pengukuran Updating Peta Lahan Baku Sawah Menggunakan GPS terdiri dari:

1. Tim Pengukur

Adalah tim yang terdiri dari beberapa petugas kecamatan yang ditunjuk dan dikoordinir oleh Mantri Tani/PPL.

2. Tim Kabupaten

Adalah petugas kabupaten yang bertanggung jawab terhadap kegiatan Pengukuran Updating Peta Lahan Baku Sawah Menggunakan GPS di wilayahnya dan melakukan pengumpulan, pengolahan, pemetaan data updating lahan sawah.

3. Tim Provinsi

Adalah petugas provinsi yang bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan pengawasan pelaksanaan survei secara keseluruhan.

4. Tim Pusat

Adalah petugas pusat yang bertanggung jawab terhadap pengembangan metode, pelatihan dan pengolahan data.

3.2. Tugas dan Tanggung Jawab

1. Tim Pengukur

 Mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh instruktur.

 Melakukan identifikasi lahan di wilayahnya guna mengetahui batas-batas wilayah yang akan diukur.

 Melakukan kegiatan pengukuran dengan receiver GPS di wilayah kerjanya dengan berpedoman kepada buku panduan yang ada.

 Menyerahkan data hasil ukur beserta peralatan (GPS) dalam kondisi baik dan lengkap kepada pengawas kabupaten.

 Melakukan koordinasi dengan aparat desa atau pihak terkait lainnya terutama dalam menetapkan batas wilayah administratif desa.

(22)

12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

2. Tim Kabupaten

 Mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh instruktur.

 Melakukan rekruitment tim pengukur dan menunjuk Mantri Tani/PPL sebagai koordinator tim pengukur.

 Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengukuran yang berada di

wilayah kerjanya.

 Melakukan download data dari receiver GPS dengan cara mengunjungi tim pengukur sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.

 Melakukan verifikasi dan kompilasi hasil ukur tingkat kecamatan.  Melakukan pengolahan dan pemetaan data updating lahan sawah.

 Melakukan koordinasi dengan tim provinsi atas segala permasalahan yang timbul pada pelaksanaan survei.

 Melakukan validasi data pengukuran yang dilakukan oleh tim pengukur.

3. Tim Provinsi

 Mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh instruktur

 Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengukuran yang berada di

wilayah kerjanya.

 Mengkoordinasikan pelaksanaan survei secara keseluruhan bersama tim kabupaten di wilayahnya.

 Melakukan kompilasi dan pengolahan data updating lahan sawah dari tingkat kabupaten

 Melakukan koordinasi dengan tim pusat atas segala permasalahan yang timbul pada pelaksanaan survei.

4. Tim Pusat

 Menyusun buku panduan, melakukan pelatihan untuk mensosialisasikan penggunaan GPS dan pengolahan data updating lahan sawah dengan software ArcGIS serta menyamakan pengertian akan konsep pengukuran updating lahan sawah.

 Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan survei secara keseluruhan.  Memberikan arahan atas permasalahan yang timbul pada pelaksanaan

survei.

(23)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 13

BAB IV

PENGENALAN ALAT RECEIVER GPS

4.1. Bentuk dan Tampilan Alat GPS Merk Getac PS535F

a. Tampak Depan

b. Tampak Belakang

(24)

14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI c. Tampak Samping Kiri

d. Tampak Atas

e. Tampak Bawah

Gambar4.2. Tampak Samping Kiri, Atas dan Bawah

4.2. Menghidupkan GPS

Geser switch ON/OFF ke posisi ON.

Gambar 4.3. Switch On/OFF

Keterangan 1. SD/MMC Slot

2. Headphone Connector

Keterangan 1. GPS Antenna

Keterangan

(25)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 15

BAB V

PENGUKURAN LUAS LAHAN DENGAN GPS GETAC PS535F

5.1. Instalasi Software ActiveSync

Menghubungkan receiver GPS dengan komputer diperlukan beberapa peralatan

yaitu ka el data ya g sudah tersedia da driver ya g terdapat dalam CD driver. Cara instalasi :

1. Masukkan CD driver ke dalam CD Room pada komputer yang akan diinstall, tunggu beberapa saat sampai muncul gambar seperti berikut:

Gambar 5.1. Langkah 1 Instalasi Activesync

2. “orot piliha ahasa English ke udian klik tombol Next, sampai muncul

ga ar seperti erikut, ke udia Klik Setup and Installation .

Gambar 5.2. Langkah 2 Instalasi Activesync

(26)

16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 5.3. Jendela pilihan instalasi

4. Klik tombol Install, tunggu beberapa saat sampai instalasi berhasil dengan sempurna seperti gambar berikut :

Gambar 5.4. Jendela proses instalisasi

(27)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 17 5.2. Menjalankan Software Superpad 3

Pengukuran luas lahan menggunakan Receiver GPS Getac PS535F membutuhkan software SuperPad 3 yang sudah terinstal di dalam Receiver GPS tersebut. Langkah-langkah pengukuran tersebut diuraikan secara rinci di bawah ini:

1. Buka Software SuperPad 3 di PDA, Klik Start kemudian pilih SuperPad 3

Gambar 5.5. Software SuperPad 3

2. Kemudian Klik Cancel

Gambar 5.6. Halaman startup

3. Software SuperPad 3 tampak pada gambar di bawah

Gambar 5.7. Tampilan Software Superpad Pan

Zoom In

Zoom Out

(28)

18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 5.3. Memasukan Data Citra

GPS merk Getac seri PS535F dengan software SuperPad 3 bisa menampilkan data citra sebagai background image. Jenis file data citra yang bisa dimasukan antara lain: *.jpeg, *.ecw, *.MrSID, dan lain-lain.

Cara untuk memasukan data citra dengan cara copy and paste, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Koneksikan GPS receiver dengan laptop/PC menggunakan software ActiveSync.

2. Buka windows explorer pada laptop/PC, kemudian browse file data citra di direktori mana file disimpan, seperti pada gambar di bawah.

Gambar 5.8. Jendela Window Explorer

3. Pilih file citra yang akan dimasukan ke receiver GPS, kemudian copy (Ctrl + C) atau klik kanan pada file tersebut pilih copy.

Gambar 5.9. Copy Data Citra

(29)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 19

5. Paste (Ctrl + V) di dalam folder Storage Card atau klik kanan pada folder Storage Card pilih Paste.

Gambar 5.10. Paste Data Citra di Storage Card GPS

6. Proses copy data citra berlangsung seperti pada gambar di bawah.

Gambar 5.11. Proses Copy

7. Setelah file data citra ada di GPS Receiver, selanjutnya buka software SuperPad 3

8. Tap ikon , kemudian tap icon Add Layers

(30)

20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

9. Tampak window Add Layers, secara default path yang terbuka pada folder Storage Card, kemudian checklist nama file data citra yang tadi sudah dicopykan di GPS receiver, kemudian klik OK.

Gambar 5.13. Background Data Citra

5.4. Setting Software SuperPad 3

Klik ikon . Kemudian klik GPS Option. Pada tab GPS, pilihan untuk Port dipilih COM2.

Gambar 5.14. Halaman GPS options

5.5. Pengukuran

A. Membuat Layer

(31)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 21

1. Klik New Layer

Gambar 5.15. Jendela New Layer

2. Beberapa type data harus disesuaikan dengan pilihan yang ada. Untuk membuat layer area pilihlah Shapefile – Polygonpada baris Type.

(Shapefile – Line untuk membuat layer garis, dan Shapefile – Point untuk membuat layer point/titik).

Gambar 5.16. Pilihan Type File

3. Pemberian nama file

(32)

22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 5.17. Nama File

5. Pemberian nama atribut

Untuk menyertakan atribut dalam layer data klik icon + plus.

Gambar 5.18. Ikon Tambah Atribut

6. Sehingga muncul gambar seperti di bawah ini, kemudian isi baris Name dengan nama Pengurang (untuk perubahan lahan sawah menjadi lahan bukan sawah).

Apabila terdapat penambahan polygon lahan sawah isi baris Name dengan nama Penambah (untuk perubahan lahan bukan sawah menjadi lahan sawah).

(33)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 23

Gambar 5.19. Nama Atribut

7. Atribut Pengurang sudah dibuat seperti gambar dibawah. Jika atribut selesai dibuat kemudian klik OK.

Gambar 5.20. Atribut yang sudah dibuat

B. Setting Koordinat

1. Klik icon Map Properties.

(34)

24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

2. Kemudian klik pada tab Spatial Reference lalu klik ikon bola dunia untuk memilih Coordinate Systems.

Gambar 5.22. Tab Spatial Reference

4. Pada halaman Coordinate Systems, klik i o + (plus)

Gambar 5.23. Folder Coordinate Systems

5. Muncul sub folder Geographic Coordinate Systems dan Projected Coordinate Systems. Ke udia klik lagi i o + untuk Projected Coordinate Systems.

(35)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 25

6. Klik lagi i o + u tuk UTM.

Gambar 5.25. Folder UTM

7. Klik lagi i o + u tuk Wgs 1984

Gambar 5.26. Folder WGS 1984

8. Di bawah folder WGS 1984 pilih zona utm yang sesuai. Contohnya wilayah Jawa Barat masuk dalam zona utm 48S.

(36)

26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 5.28. Pembagian zona UTM seluruh dunia

Gambar 5.29. Pembagian zona UTM untuk wilayah Indonesia

9. Klik WGS 1984 UTM Zone 48S untuk wilayah Jawa Barat. Kemudian klik OK

(37)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 27

10. Tampak pilihan zona UTM yang sudah dipilih pada isian Name. Kemudian klik OK

Gambar 5.31. Spatial Reference dengan koordinat UTM

C. Mengaktifkan Receiver GPS

1. Setelah memilih Coordinate Systems, langkah berikutnya yaitu aktifkan receiver GPS dengan menekan icon Turn On/Turn OFF GPS. Jika icon tersebut berwarna merah berarti receiver GPS dalam posisi OFF, dan untuk mengaktifkan klik pada icon tersebut dan akan berwarna hijau yang berarti receiver GPS pada posisi ON.

Gambar 5.32. Turn ON/TurnOFF

(38)

28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 5.33. Akurasi Receiver GPS

D. Melakukan Perekaman/Pengukuran

1. Klik ikon drop down yang ditunjukan oleh tanda panah di bawah ini.

Gambar 5.34. Ikon Perekaman

2. Pada pilihan drop down, klik Polygon.

Gambar 5.35. Ikon Perekaman Area

(39)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 29 Gambar 5.36. Ikon Perekaman Add GPS Vertex dan Add GPS Vertices Continously

4. Pengukuran dengan pengambilan titik pada setiap sudut bisa dilakukan dengan cara klik ikon Add GPS Vertex disetiap sudut bidang area pengukuran seperti gambar di bawah.

Gambar 5.37. Ikon perekaman dengan menggunakan Add GPS Vertex

Selain itu pengukuran dapat juga dilakukan dengan cara tracking. Cara tracking dengan klik icon Add GPS Vertices Continously.

6. Setelah selesai pengukuran area bidang lahan kemudian klik icon polygon kembali. Setelah itu muncul window yang menanyakan Are you sure to add

this feature? klik Yes.

(40)

30 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

7. Kemudian akan muncul isian seperti gambar di bawah.

Pengurang diisi apabila ada konversi atau alih fungsi lahan sawah menjadi bukan sawah, contoh: pemukiman, jalan, salah digitasi dan lainnya.

Penambah diisi apabila ada perubahan dari lahan bukan sawah menjadi sawah, contoh: pencetakan lahan sawah baru, belum terdigit, tertutup awan, lainnya.

Kemudian klik OK

Gambar 5.39. Pengisian atribut

8. Tampak polygon yang sudah dibuat.

Gambar 5.40. Polygon hasil pengukuran

9. Mengetahui luas polygon dengan cara klik ikon query. Kemudian klik pada polygon, maka akan muncul window seperti gambar di bawah.

(41)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 31

Gambar 5.41. Ikon Query

10. Kemudian klik pada feature yang akan dilihat luasannya, selanjutnya klik ikon Measure dan akan muncul halaman hasil pengukuran yang berisi informasi seperti gambar di bawah.

Gambar 5.42. Jendela Measure Result

13. Zoom In

Gambar 5.43. Ikon untuk memperbesar tampilan

Klik pada icon Zoom In

icon Zoom In berubah

warna merah Klik dan Drag pada polygonnya

(42)

32 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

14. Full Extend

Gambar 5.44. Ikon untuk menampilkan gambar secara utuh

Klik pada icon Bola Dunia

(43)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 33

BAB VI

HAL-HAL PENTING DALAM PENGUKURAN

6.1. Persiapan Sebelum Pengukuran

Kegiatan updating peta lahan baku sawah merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengupdate data lahan baku sawah yang telah mengalami alih fungsi khususnya di Pulau Jawa. Persiapan yang harus di lakukan yakni mempelajari kondisi lahan saat ini dengan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi (QuickBird, GeoEye, Ikonos, WorldView) dengan akuisisi tahun 2008 sampai dengan 2010 dan peta lahan baku sawah tahun 2010. Kegiatan updating peta lahan baku sawah juga menggunakan alat GPS yang dapat menampilkan data citra dan vektor sawah sehingga pelaksanaan updating ini dapat dilakukan secara akurat dan cepat.

6.2. Alat

a. Persiapan

Charge battery sampai penuh

 Bawa perlengkapan charging battery.

 Lindungi reciever GPS dengan plastik tipis (khususnya apabila musim hujan).

 Reciever GPS dimasukan dalam casing pelindung.

b. Pelaksanaan

 Gunakan stylus sesuai dengan standar dan jangan menggunakan alat lain.

 Tempatkan stylus pada tempat yang disediakan .

 Untuk penghematan battery maka selama survei sebaiknya tidak menggunakan program-program lain yang tidak perlu.

 Pastikan bahwa satelite telah diterima dengan baik (angka akurasi dibawah 5).

 Pegang GPS secara konsisten dan jangan sampai tertutup dengan badan/tubuh pengguna.

 Jangan banyak melakukan sentuhan pada layar saat pengukuran.

(44)

34 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI c. Sesudah Perekaman Data

 Lakukan transfer data dari receiver GPS ke komputer sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan file data hasil perekaman di lapang.

 Buat back-up data hasil pengukuran di external hard disk.

 Setelah data dipastikan sudah ditransfer dengan baik, maka sebaiknya file di receiver GPS dihapus kecuali bila pengukuran masih akan dilanjutkan.

 Pastikan seluruh asesoris lengkap dan simpan di tempat yang aman dan kering/tidak lembab.

(45)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 35

BAB VII

PENGOLAHAN DATA HASIL UPDATING

Data yang sudah siap untuk diolah adalah data dalam format *.shp. Pengolahan data hasil updating dengan menggunakan software ArcMap. Pengolahan Data Hasil Updating terdiri dari pengurangan dan penambahan lahan baku sawah.

Sebelum melakukan pengolahan data hasil pengukuran, pindahkan atau copy data hasil pengukuran dari receiver GPS ke komputer dengan cara Copy dan Paste pada folder yang telah dibuat.

7.1. Pengurangan Data Lahan Baku Sawah

Pengurangan data lahan baku sawah dilakukan jika lahan sawah pada daerah tertentu mengalami alih fungsi menjadi lahan bukan sawah.

Langkah-langkah pengurangan data lahan baku sawah adalah sebagai berikut: 1. Pada software ArcMap, buka file *.shp lahan sawah (contoh: desa

poncosari.shp)

Gambar 7.1. Shapefile di software ArcMap Di polygon ini ada

(46)

36 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

2. Buka file *.shp hasil pengukuran yang sudah menjadi bukan sawah (contoh: bukan sawah lagi.shp)

Gambar 7.2. Shapefile hasil pengukuran

3. Klik editor pilih start editing, target pilih file Poncosari.shp

Gambar 7.3. Tool Editor

4. Pilih polygon yang akan dikurangi dengan polygon yang bukan sawah (gunakan tombol shift)

Gambar 7.4. Select dua Polygon Polygon yang

(47)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 37

5. Klik tombol editor pilih Intersect

Gambar 7.5. Intersect

6. Bagian yang overlap akan terpilih menjadi polygon tersendiri.

(48)

38 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

7. Klik Editor pilih Clip, kemudian keluar jendela Clip dan pilih OK

Gambar 7.7. Jendela Clip

8. Pada hasil clip yang masih terpilih, lakukan penghapusan dengan tekan tombol delete pada keyboard atau klik kanan mouse pada polygon hasil clip dan pilih Delete.

(49)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 39

9. Tampak hasil pengurangan

Gambar 7.9. Polygon yang sudah dilakukan pengurangan

10. Untuk mengetahui luas setelah dilakukan pengurangan, selanjutnya klik kanan mouse pada layer Poncosari.shp pilih Open Attribute Table

Gambar 7.10. Menu Open Attribute Table

(50)

40 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

Gambar 7.11. Menu Calculate Geometry

12. Pada jendela Calculate Geometry, pilih unit satuan Hectare kemudian klik OK

Gambar 7.12. Jendela Calculate Geometry

13. Untuk mengetahui luas akhir setelah pengurangan dalam satu wilayah, klik kanan mouse pada kolom luas kemudian klik Statistics. Informasi luasan terlihat di item

Sum .

(51)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 41 7.2. Penambahan Data Lahan sawah

Penambahan data lahan baku sawah dilakukan jika lahan bukan sawah pada daerah tertentu mengalami alih fungsi menjadi lahan sawah.

Langkah-langkah penambahan data lahan baku sawah adalah sebagai berikut: a. Buka software ArcMap

b. Masukkan data .shp desa lahan baku sawah, seperti pada gambar.

Gambar 7.14. Shapefile di ArcMap

c. Masukkan data sawah yang baru yang akan digabungkan (contoh di sini dengan nama file sawah baru)

Gambar 7.15. Overlay dengan shapefile sawah baru Polygon

(52)

42 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

d. Klik tombol editor, pilih start editing. Target editing pilih Sawah Baru

Gambar 7.16. Target yang dipilih

e. Klik kanan pada polygon sawah baru, pilih copy. (jika polygon lebih dari satu, gunakan tombol Shift untuk select polygon yang lainnya, kemudian baru klik kanan pada salah satu polygon dan pilih Copy)

Gambar 7.17. Copy Polygon

f. Ganti target editing dengan file .shp desa. (contoh disini yaitu poncosari)

Gambar 7.18. Target yang dipilih

g. Klik kanan pada area window map pilih Paste

(53)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 43

h. Klik Editor, pilih Save Editing, kemudian klik Editor lagi pilih Stop Editing.

Gambar 7.20. Save Editing

i. Remove layer .shp sawah baru.

Gambar 7.21. Remove Layer

j. Polygon dari file sawah baru sudah masuk dalam file .shp desa.

Gambar 7.22. Shapefile yang sudah ditambahkan area baru Polygon sawah

(54)

44 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI

k. Lakukan editing jika ada polygon yang baru dengan polygon yang lama ada overlap.

l. Hasil penggabungan sudah selesai

m. Untuk mengetahui luas setelah dilakukan penambahan, selanjutnya klik kanan mouse pada layer Poncosari.shp pilih Open attribute table

n. Klik kanan pada kolom luas, kemudian klik Calculate Geometry

o. Pilih unit satuan hektar kemudian klik OK

p. Untuk mengetahui luas akhir setelah penambahan dalam satu wilayah, klik kanan mouse pada kolom luas kemudian klik Statistics. Informasi luasan

(55)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

|

Kementerian Pertanian RI 45

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian. 2007. Buku Pedoman Pengumpulan Data Tanaman Pangan. Jakarta.

GIS Konsorsium Aceh Nias. 2007. Modul Pelatihan ArcGIS tingkat Dasar bagi staf Pemerintah Kota Banda Aceh. [terhubung berkala]. http://mbojo.files. wordpress.com/2008/12/modul-pelatihan-arcgis-tingkat-dasar.pdf. (1 April 2011).

Getac. Product. [terhubung berkala].

http://apac.getac.com/products/PS535F/

PS535F_overview.html

. (30 Maret 2011)

Figur

Gambar 5.15. Jendela New Layer

Gambar 5.15.

Jendela New Layer p.31
Gambar 5.18. Ikon Tambah Atribut

Gambar 5.18.

Ikon Tambah Atribut p.32
Gambar 5.21. Jendela Map Properties

Gambar 5.21.

Jendela Map Properties p.33
Gambar 5.24. Folder Projected Coordinate Systems

Gambar 5.24.

Folder Projected Coordinate Systems p.34
Gambar 5.22. Tab Spatial Reference

Gambar 5.22.

Tab Spatial Reference p.34
Gambar 5.27. Pilihan Zona UTM

Gambar 5.27.

Pilihan Zona UTM p.35
Gambar 5.30. UTM Zone 48S

Gambar 5.30.

UTM Zone 48S p.36
Gambar 5.32. Turn ON/TurnOFF

Gambar 5.32.

Turn ON/TurnOFF p.37
Gambar 5.34. Ikon Perekaman

Gambar 5.34.

Ikon Perekaman p.38
Gambar 5.39. Pengisian atribut

Gambar 5.39.

Pengisian atribut p.40
Gambar 5.44. Ikon untuk menampilkan gambar secara utuh

Gambar 5.44.

Ikon untuk menampilkan gambar secara utuh p.42
Gambar 7.1. Shapefile di software ArcMap

Gambar 7.1.

Shapefile di software ArcMap p.45
Gambar 7.3. Tool Editor

Gambar 7.3.

Tool Editor p.46
Gambar 7.4. Select dua Polygon

Gambar 7.4.

Select dua Polygon p.46
Gambar 7.2. Shapefile hasil pengukuran

Gambar 7.2.

Shapefile hasil pengukuran p.46
Gambar 7.5. Intersect

Gambar 7.5.

Intersect p.47
Gambar 7.6. Hasil Intersect

Gambar 7.6.

Hasil Intersect p.47
Gambar 7.8. Delete Polygon

Gambar 7.8.

Delete Polygon p.48
Gambar 7.7. Jendela Clip

Gambar 7.7.

Jendela Clip p.48
Gambar 7.9. Polygon yang sudah dilakukan pengurangan

Gambar 7.9.

Polygon yang sudah dilakukan pengurangan p.49
Gambar 7.10. Menu Open Attribute Table

Gambar 7.10.

Menu Open Attribute Table p.49
Gambar 7.13. Jendela Statistics

Gambar 7.13.

Jendela Statistics p.50
Gambar 7.11. Menu Calculate Geometry

Gambar 7.11.

Menu Calculate Geometry p.50
Gambar 7.14. Shapefile di ArcMap

Gambar 7.14.

Shapefile di ArcMap p.51
Gambar 7.15. Overlay dengan shapefile sawah baru

Gambar 7.15.

Overlay dengan shapefile sawah baru p.51
Gambar 7.17. Copy Polygon

Gambar 7.17.

Copy Polygon p.52
Gambar 7.19. Paste Polygon

Gambar 7.19.

Paste Polygon p.52
Gambar 7.16. Target yang dipilih

Gambar 7.16.

Target yang dipilih p.52
Gambar 7.22. Shapefile yang sudah ditambahkan area baru

Gambar 7.22.

Shapefile yang sudah ditambahkan area baru p.53
Gambar 7.20. Save Editing

Gambar 7.20.

Save Editing p.53

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Citra Satelit Resolusi Tinggi
Outline : Alat