• Tidak ada hasil yang ditemukan

Erni Khumaidah 1, Achmad Djumlani 2, Enos Paselle 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Erni Khumaidah 1, Achmad Djumlani 2, Enos Paselle 3"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2338-7637, ar.mian.fisip-unmul.ac.id © Copyright 2017

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN MENTERI

PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI

BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2012

TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KINERJA UNIT PELAYANAN

PUBLIK PADA BADAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

DAN PENANAMAN MODAL DAERAH

KABUPATEN KUTAI TIMUR

Erni Khumaidah

1

, Achmad Djumlani

2

, Enos Paselle

3

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi kebijakan

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik pada Badan

Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai

Timur beserta faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat. Jenis

penelitian deskriftif kualitatif, dengan teknik analisis data menggunakan model

interaktif Miles & Huberman (1998). Hasil penelitian menunjukkan komunikasi

pelayanan dalam pelayanan perijinan IMB, HO, SIUP, TDP, dan IUJK kepada

masyarakat Kabupaten Kutai Timur telah sesuai Standard Operating Procedure

(SOP) dengan waktu penyelesaian sampai diterbitkan ijin adalah 7 hari kerja.

Sumberdaya manusia relatif masih berada pada peringkat bawah, dengan nilai

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada pada urutan ke-8 (delapan) dari 10

(sepuluh) Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur dibandingkan kabupaten/kota

lainnya di Kalimantan Timur.

Kata Kunci: Implementasi Kebijakan, Pelayanan Publik, BPTSPPMD Kabupaten

Kutai Timur.

Abstract

The purpose of this study was to analizing the Implementation of Law No.

25 of 2009 on Public Services In One Door Integrated Service Agency and the

Regional Investment and its East Kutai Regency factors supporting and

inhibiting. Type a descriptive qualitative research. Data were analyzed using an

interactive model of Miles & Huberman (1998).

The results showed the

communication Ministry in the service of licensing to IMB, HO, SIUP, TDP, and

IUJK to the people of East Kutai Regency has according to the Standard

Operating Procedure (SOP) by the time of completion until the issued permit is 7

1

Mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Negara, Fisip – Unmul Samarinda.

(2)

working days.

The relative human resources are still at the bottom of the

rankings, with the value of the human development index

(HDI) is on the order

of 8 (eight) of the 10 (ten) Regency/City in East Kalimantan compared to other

districts/cities in East Kalimantan

Keywords:

Implementation of policies,

public service

,

BPTSPPMD Kabupaten

Kutai Timur.

Pendahuluan

Dalam menghadapi era globaisasi yang penuh tantangan dan peluang,

Pemerintah Daerah harus mampu untuk melakukan inovasi dalam peningkatan

kualitas pelayanan publik sehingga kesan birokrasi pemerinah yang lamban,

berbelit-belit, kurang ramah dapat dihapuskan. Dengan ditetapkanya Keputusan

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik merupakan landasan untuk

menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan

penerima pelayanan perijinan.

Sebagai salah satu bagian dari Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Timur,

Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten

Kutai Timur berkewajiban untuk memberikan pelayanan publik yang maksimal,

apalagi perannya yang mengurusi bidang sosial kemasyarakatan dan pembinaan

masyarakat maka pelayanan publik yang diberikan berhubungan langsung kepada

masyarakat. Dengan memberikan pelayanan publik yang baik maka akan

berimbas pada penilaian dan persepsi publik terhadap kinerja Pemerintahan

Kabupaten Kutai Timur secara keseluruhan.

Berangkat permasalahan tersebut di atas sebagai salah satu gambaran

proyektif kegiatan daerah yang terangkum dalam salah satu perspektif

penyelenggara good government. Bahwa penyelenggara kegiatan instansi yang

dilakukan dalam setahun dengan berbagai kegiatan terintegrasi antara satu

instansi dengan instansi lainnya sebagai prasyarat bagi setiap pemerintah melalui

instansi teknis untuk mewujudkan aspirasi pelayanan yang baik kepada

masyarakat dalam mencapai tujuan. Kinerja Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

dan Penanaman Modal Daerah merupakan implementasi hasil kegiatan yang

terangkum sebagai tolok ukur kinerja keberhasilan program yang dijalankan.

Proses ini dimaksudkan untuk menilai pencapaian setiap indikator kinerja

pelayanan guna memberikan gambaran tentang keberhasilan dan hambatan tujuan

dan sasaran, yang selanjutnya akan meningkatkan kinerja pelayanan yang

menggambarkan keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dengan program dan

kebijakan dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi.

Konsep Kebijakan Publik

Untuk dapat memperluas cakrawala pandang mengenai konsep kebijakan

ini, maka penting memperhatikan beberapa pernyataan para pakar, antara lain :

(3)

Dye (1978) mendefinisikan kebijaksanaan negara sebagai; is whatever

governments choose to do or not to do (apapun yang dipilih oleh pemerintah

untuk dilakukan atau tidak dilakukan).

Apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuai maka harus ada

tujuannya (obyektifnya) dan kebijaksanaan negara itu harus meliputi semua

tindakan pemerintah. Jadi bukan semata-mata merupakan pernyataan keinginan

pemerintah atau pejabat pemerintah saja. Disamping itu sesuatu yang tidak

dilaksanakan oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh (dampak) yang sama

besarnya dengan sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah (Islamy, 2001:19)

Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa kebijakan negara sebagai

serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah, baik

yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan

tertentu yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat.

Konsep Implementasi Kebijakan Publik

Dalam kamus Webser (dalam Abdul Wahab, 2003:64), implementasi

kebijaksanaan sebagai “to implement (mengimplementasikan) berarti to provide

the means force carrying out (menyediakan sarana untuk melakukan sesuatu), to

give pratical effect to (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu), jika

pandangan ini diikuti, maka implementasi kebijakan dapat diartikan sebagai suatu

proses melaksanakan keputusan kebijakan (kebijakan dalam bentuk

Undang-Undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan atau dekrit presiden).

Sedangkan Van Meter dan Van Horn (dalam Abdul Wahab, 2003:65),

menjelaskan tentang pengertian implementasi sebagai ; those action by public

order reliefs provide individual-individual (or group) that are directed at the

achievement of objectives set forth in prior policy decisions” (tindakan-tindakan

yang dilakukan oleh individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok

pemerintah atau swasta yang diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan yang telah

digariskan dalam keputusan kebijakan).

Mazmanian dan Sabatier (dalam Abdul Wahab, 1997:65), memberikan

penjelasan tentang makna implementasi sebagai ; memahami apa yang senyatanya

terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan meruakan

fokus perhatian implementasi kebijakan yakni kejadian-kejadian dan

kegiatan-kegiatan yang tumbul sesudah dishkannya pedoman-pedoman kebijakan negara

yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk

menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.

Pelayanan Publik

Pelayanan merupakan upaya pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang

lain secara langsung. Pada hakekatnya pelayanan adalah serangkaian, karena itu ia

merupakan proses dan sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan

berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan organisasi dalam masyarakat,

(Moenir, 2001:27).

(4)

Secara umum kata pelayanan akibat adanya pelayan yang melayani

kegiatan yang dilakukan oleh pelayan tersebut dinamakan pelayanan. Dengan

demikian, ada dua istilah yang saling terkait yaitu pelayanan dan melayani. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia pelayanan diartikan sebagai usaha melayani,

sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang di

perlukan seseorang (dalam Saiful Deni, 2006). Pelayanan merupakan upaya

pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung. Pada

hakekatnya pelayanan adalah serangkaian, karena itu ia merupakan proses dan

sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan

meliputi seluruh kehidupan organisasi dalam masyarakat (Moenir, dalam Abner

2008).

Gronross (dalam Ratminto, 2005:4), lebih lanjut memberikan definisi yang

lebih rinci tentang pelayanan yaitu ; ”suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas

yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat

adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang

disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk

memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan”.

Standar Pelayanan Publik

Pemahaman di atas tentunya memberikan arahan tersendiri terhadap

kualifikasi pemberian pelayanan. Disinilah perbedaan makna antara publik dan

non publik. Stahl (1984), sebagaimana dikutip Zauhar (2006:13), membedakan

antara administrasi publik dan non-publik (private) dari wacana pelayanan, yaitu :

1. Pelayanan yang diberikan oleh administrasi publik lebih bersifat urgent atau

mendesak daripada yang dilaksanakan privat.

2. Pelayanan yang ditangani oleh administrasi publik pada umumnya bersifat

monopoli atau semi monopoli.

3. Kegiatan administrasi publik terikat oleh hubungan hukum formal.

4. Perbuatan administrasi publik berada di bawah pengamatan masyarakat.

5. Pelayanan yang diberikan oleh administrasi publik tidak terikat harga pasar.

Pelayanan Perijinan sebagai Bagian Pelayanan Publik

Konsep dasar dari pelayanan perijinan sesungguhnya adalah pelayanan

publik. Pelayanan publik sebagai segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan

oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan

penerima layanan maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan

perundang-undangan (Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009), dikelompokkan

dalam tiga jenis berdasarkan penyelenggaranya, yaitu instansi pemerintah dan

BUMN/BUMD, yaitu (1) pelayanan admnistratif, (2) pelayanan barang, dan

(3) pelayanan jasa.

Jenis pelayanan administratif adalah jenis pelayanan yang diberikan oleh

unit pelayanan berupa pencatatan, penelitian, pengambilan keputusan,

(5)

dokumentasi dan kegiatan tata usaha lainnya yang secara keseluruhan

menghasilkan produk akhir berupa dokumen, misalnya sertifikat, ijin-ijin,

rekomendasi, keterangan, dan lain-lain (Pasolong, 2007:129). Maka pelayanan

perijinan termasuk dalam pelayanan administratif tersebut. Berdasarkan

pengertian tersebut, maka pelayanan perijinan dapat didefinisikan sebagai segala

kegiatan pelayanan yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik

yang berkaitan dengan pemberian ijin atas sesuatu hal kepada penerima layanan.

Pembahasan

Dalam sebuah implementasi dikatakan telah bekerja dengan baik apabila

telah melalui proses penyampaian sebuah peraturan dengan tepat sasaran,

kemudian melaksanakan peraturan tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi

dari aktor yang berperan langsung untuk melaksanakan sebuah peraturan. Suatu

kebijakan yang telah dirumuskan tentunya memiliki tujuan atau target tertentu

yang ingin dicapai. Pencapaian target baru akan terealisasi jika kebijakan tersebut

telah diimplementasikan. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui apakah tujuan

kebijakan yang telah dirumuskan tersebut dapat tercapai atau tidak, maka

kebijakan tersebut harus diimplementasikan. Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam

proses kebijakan. George C. Edwards III mengungkapkan ada empat faktor yang

mempengaruhi implementasi suatu kebijakan publik yaitu, komunikasi,

sumberdaya, sikap (disposisi), dan struktur birokrasi.

Komunikasi

Komunikasi kebijakan mencakup dimensi transmisi (transmission),

transformasi (transformation) dan kejelasan (clarity). Dimensi transformasi

menghendaki agar kebijakan publik dapat ditransformasikan kepada para

pelaksana, kelompok sasaran dan pihak lain yang terkait dengan kebijakan.

Dimensi kejelasan menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada para

pelaksana, dan pihak lain yang berpentingan baik secara langsung maupun tidak

langsung terhadap kebijakan dapat diterima dengan jelas, sehingga diantara

mereka mengetahui apa yang menjadi maksud, tujuan dan sasaran serta substansi

dari kebijakan tersebut. Jika mereka tidak jelas, maka mereka tidak akan tahu apa

yang seharusnya dipersiapkan dan dilaksanakan agar apa yang menjadi tujuan

kebijakan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Transmisi

Dimensi transformasi menghendaki agar informasi tidak hanya disampaikan

kepada pelaksana kebijakan tetapi juga kepada kelompok sasaran dan pihak yang

terkait. Pada tahap ini pengalaman-pengalaman subyektivitas individu memegang

peran yang sangat besar. Van Meter dan Van Horn berpendapat bahwa setiap

komponen dari model yang dibicarakan sebelumnya harus disaring melaui

persepsi-persepsi pelaksana dalam yurisdiksi di mana kebijakan tersebut

(6)

dihasilkan. Mereka kemudian mengidentifikasi tiga unsur tanggapan pelaksana

yang mungkin mempengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk

melaksanakan kebijakan, yakni ; kognisi (komprehensi, pemahaman) tentang

kebijakan, macam tanggapan terhadapnya(penerimaan, netralitas, penolakan) dan

intensitas tanggapan itu.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keberhasilan suatu

implementasi kebijakan, membutuhkan adanya pemahaman standar dan tujuan

kebijakan

dari

masing-masing

individu

yang

bertanggung

jawab

melaksanakannya. Oleh karena itu standar dari tujuan kebijakan harus

dikomunikasikan dengan jelas agar tidak menimbulkan distorsi implementasi atau

ketidak sempurnaan implementasi. Disamping itu komunikasi dalam rangka

sosialisasi sudah berulang kali disampaikan kepada masyarakat, dimana

implementator sangat memahami bahwa keberhasilan sebuah kebijakan

diperlukan proses penyampaian informasi dari Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur kepada masyarakat

(stakeholders) sebagai user dalam pelayanan berbagai perijinan di Kabupaten

Kutai Timur. Hal ini merupakan bagian dari komunikasi kebijakan yang berarti

merupakan proses penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan

dalam hal ini Badan Nasional Penanaman Modal kepada pelaksana kebijakan,

yakni pegawai Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal

Daerah Kabupaten Kutai Timur.

Kejelasan Informasi

Kejelasan informasi pelaksana menghendaki agar informasi yang jelas dan

mudah dipahami, selain itu untuk menghindari kesalahan interpretasi dari

pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun pihak yang terkait dalam

implementasi kebijakan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman

Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik pada Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur, yaitu tentang

bagaimana implementasi kebijakan pelayanan perijinan kepada masyarakat/publik

Kabupaten Kutai Timur tersebut dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh

masyarakat/publik maupun pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten

Kutai Timur.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kejelasan informasi dalam

komunikasi baik sesama pelaksana kebijakan pemerintah ini sudah berjalan

sebagaimana mestinya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antara Kantor

Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten

Kutai Timur dan masyarakat Kabupaten Kutai Timur ternyata sangat

mempengaruhi terhadap pencapaian visi yang telah ditetapkan. Selain itu

ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan pada Kantor Badan Pelayanan Terpadu

Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur telah sesuai

dengan ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan Kantor Badan

(7)

Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai

Timur.

Konsistensi Informasi

Berdasarkan hasil oservasi disimpulkan bahwa prosedur operasi pelayanan

dari sisi konsistensi informasi sudah memenuhi standar pelayanan perijinan

apabila dikomparasikan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012

tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik pada Badan Pelayanan

Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timuryang

menyebutkan bahwa jangka waktu penyelesaian pelayanan perijinan dan

non-perijinan ditetapkan selama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya

berkas permohonan beserta seluruh kelengkapannya. Kemudian pemohon masih

harus meminta rekomendasi peruntukan lahan dari Dinas Tata Kota dan

Permukiman Kabupaten Kutai Timur. Jika melihat alur birokrasi Pelayanan

Terpadu Satu Pintu yang sudah dilaksanakan di Kabupaten/Kota lain, biasanya

pemohon hanya berurusan dengan badan pelayanan terpadu dan tidak perlu

mendatangi dinas teknis. Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang akan

mengurus segala hal yang berkaitan dengan pemberian perijinan tersebut.

Dalam hal pelayanan perijinan IMB, HO, SIUP, TDP, dan IUJK pada

Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah

Kabupaten Kutai Timur memang membutuhkan waktu yang bervariasi dalam hal

penyelesaian sampai dikeluarkannya ijin tersebut. Untuk IMB sesuai Standard

Operating Procedure (SOP) yang dimiliki Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur waktu

penyelesaiannya sampai diterbitkannya IMB terkadang hingga mencapai 7 hari

kerja.

Sumberdaya

Sumberdaya Manusia

Kualitas sumberdaya manusia Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu

dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur relatif masih berada pada

papan bawah kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur. Indikasinya adalah

nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang hanya berada pada urutan ke-8

(delapan) dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur. Masih

rendahnya nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Kutai Timur

menunjukkan kondisi pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang juga masih

rendah. Sikap mental masyarakat, di sisi lain berperan penting dalam upaya

peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Penyediaan infrastruktur dan

suprastruktur dasar pendidikan, kesehatan dan ekonomi hanya dapat menstimulan

peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Artinya sikap mental masyarakat,

yang merupakan cerminan kepatuhan kepada nilai dan norma spiritual keagamaan

(8)

menjadi pondasi bagi perubahan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia di

Kabupaten Kutai Timur.

Berdasarkan Hasil penelitian disimpulkan bahwa jumlah pegawai Badan

Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai

Timur masih didominasi oleh pegawai berkualifikasi lulusan SLTA. Hal ini ke

depannya perlu diperbaiki dengan cara meningkatkan kualifikasi pendidikan

pegawai melalui pendidikan lanjut. Sementara itu terkait dengan kecepatan

pelayanan ataupun waktu penyelesaian pelayanan perijinan, berdasarkan hasil

observasi dan wawancara dengan masyarakat yang mengajukan permohonan

perijinan diketahui bahwa layanan di Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur sudah sesuai dengan Standar

Pelayanan Minimal (SPM).

Kemampuan Aparatur

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa aparatur yang mengikuti

diklat/kursus teknis dan non teknis Penanaman Modal Daerah adalah dalam

rangka meningkatkan kompetensi aparatur Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur terutama untuk

memenuhi kebutuhan aparatur, namun karena keterbatasan anggaran hanya

sebagian kecil dari staf yang dapat mengikuti kegiatan ini sebanyak 18 orang,

yaitu Bimtek Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual pada

Pemerintah Daerah berdasarkan Permendagri Nomor 64 Tahun 2013 dan

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 sebanyak 5 (lima) orang, Bimtek

Sistem Administrasi Keuangan dan Strategi Perencanaan bagi Pengguna

Anggaran, PPTK, PPK dan Bendahara sebagai Peningkatan Kapasitas Kinerja

Aparatur Pemerintah dalam Penatausahaan, Pertanggungjawaban Keuangan

sebanyak 5 (lima) orang; Bimtek Perpajakan sebanyak 3 (tiga) orang; Diklat

Character Building sebanyak 3 (tiga) orang; Diklat Penyusunan Rancangan

Teknokratik RPJMD sebanyak 2 (dua) orang.

Selain itu Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman

Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur dalam rangka meningkatkan kualitas

aparatur, sarana dan prasarana penunjang, dan dukungan manajemen penunjang,

terdapat 5 (lima) program pendukung yang diterapkan, yaitu : 1. Program

Pelayanan Administrasi Perkantoran; 2. Program Peningkatan sarana dan

prasarana Aparatur; 3.Program Peningkatan disiplin Aparatur; 4. Program

Peningkatan Kapasitas Sumber daya aparatur; 5. Program Peningkatan

Pengembangan Sistem Pelaporan Kinerja dan Keuangan.

Sumberdaya Anggaran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa seluruh pembiayaan

bagi pelaksanaan kegiatan di Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur dilakukan melalui Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sesuai dengan RKA/DPA Tahun

(9)

Anggaran 2015. Untuk penyiapan penatausahaan keuangan melalui sistem

SIMDA pada kegiatan Penyediaan Administrasi Keuangan dimana telah tersusun

berkas SPJ yang terdiri dari 22 kegiatan dengan realisasi lebih dari 96,84%,

laporan semesteran dan prognosis, laporan koordinasi terkait penatausahaan

keuangan, kegiatan bimtek keuangan, terlaksananya pembayaran TK2D dan

tenaga perbantuan lainnya.

Sedangkan capaian nilai realisasi penanaman modal sampai dengan Tahun

2015 terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat bahwa pada Tahun 2010

realisasi investasi mencapai Rp 1,60 Triliun, dan pada Tahun 2011 terjadi

peningkatan realisasi investasi sebesar 53,77% menjadi Rp. 2,46 Triliun. Nilai

realisasi investasi terus meningkat pada Tahun 2012 mencapai Rp. 4,95 Triliun

atau 100,76% dan tahun 2013 sebesar Rp 6,14 atau naik sebesar 24,12% dan

untuk tahun 2015 sebesar Rp. 6,87 Triliun atau naik sebesar 11,95%. Secara

akumulatif total realisasi investasi sampai dengan tahun 2015 adalah sebesar

Rp. 22,37 Triliun atau telah mencapai capaian kinerja 101,97% dari target sampai

dengan akhir periode 2011-2015.

Struktur Birokrasi

Dari hasil penelitian, terlihat bahwa struktur organisasi Badan Pelayanan

Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur

berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian

Kinerja Unit Pelayanan Publik pada Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur memerlukan pemberian

kewenangan yang lebih besar kepada Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur dalam melayani masalah

perijinan, memperlihatkan bahwa Bupati Kabupaten Kutai Timur mendukung

langkah-langkah inovatif dalam memberikan perbaikan pelayanan publik yang

prima, disamping sudah menjadi komitmen untuk menciptakan good governance

dan rangkaian reformasi birokrasi di Kabupaten Kutai Timur.

Selain itu, komitmen peningkatan pelayanan dengan melimpahkan

kewenangan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu untuk menghindari terjadinya

banyak pungutan liar di bidang perijinan. Proses perijinan yang terlalu banyak

melewati meja dan prosedur adalah awal dari berbagai penyimpangan

mal-administrasi maupun praktek korupsi yang sering terjadi di birokrasi. Melalui

Pelayanan Terpadu Satu Pintu maka berbagai penyimpangan diharpkan dapat

diminimalisir.

Dalam prakteknya di Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman

Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur saat ini sesuai Peraturan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia

Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik

pada Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah

Kabupaten Kutai Timur sudah tidak ada lagi pelayanan perijinan yang melebihi 7

(10)

hari kerja. Penyelesaian layanan perijinan maksimal 7 hari kerja sudah sejalan

dengan aturan yang termaktub pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012

tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit Pelayanan Publik pada Badan Pelayanan

Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur, yakni

; “Jangka waktu penyelesaian pelayanan perijinan dan non perijinan ditetapkan

paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung mulai sejak diterimanya berkas

permohonan beserta seluruh kelengkapannya”.

Sikap (Disposisi)

Sikap/disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh

implementor. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka

implementor tersebut dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang

diinginkan oleh pembuat kebijakan.

Berdasarkan hasi penelitian disimpulkan bahwa kurangnya fungsi

koordinasi Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah

Kabupaten Kutai Timur terhadap tim teknis tersebut memang disadari diakibatkan

kurangnya kompetensi SDM yang menguasai bidang pekerjaannya di Kabupaten

Kutai Timur. Hal ini menunjukkan bahwa disposisi yang tinggi berpengaruh pada

tingkat keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Pemahaman tentang maksud umum

dari suatu standar dan tujuan kebijakan adalah sangat penting. Implementasi

kebijakan yang berhasil bisa gagal ketika para pelaksana tidak sepenuhnya

menyadari terhadap standar dan tujuan kebijakan. Arah disposisi para pelaksana

terhadap standar dan tujuan kebijakan juga merupakan hal yang penting.

Implementor mungkin bisa jadi gagal dalam melaksanakan kebijakan karena

mereka menolak apa yang menjadi tujuan dari suatu kebijakan.

Selain itu,dari hasil penelitian menunjukkan bahwa disposisi pada Kantor

Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten

Kutai Timur adalah watak atau sikap para pelaksana untuk mengimplementasikan

kebijakan, jika ingin berhasil secara efektif dan efisien, para implementor tidak

hanya harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan mempunyai

kemampuan untuk implementasi kebijakan tersebut, tetapi mereka juga harus

mempunyai kesepakatan dan kemauan untuk mengimplementasikan kebijakan

tersebut untuk sesuai dengan tujuan dan standar kebijakan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Komunikasi pelayanan Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur dalam pelayanan

perijinan IMB, HO, SIUP, TDP, dan IUJK kepada masyarakat Kabupaten

Kutai Timur telah sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dengan

waktu penyelesaian sampai diterbitkan ijin adalah 7 hari kerja.

(11)

2. Sumberdaya manusia Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur relatif masih berada pada

peringkat bawah, dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada

pada urutan ke-8 (delapan) dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di Kalimantan

Timur dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur..

3. Struktur Organisasi pada Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan

Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur perlu diberikan

kewenangan yang lebih besar dalam melayani masalah perijinan, untuk

menghindari terjadinya pungutan liar di bidang perijinan dengan

langkah-langkah inovatif dalam memberikan perbaikan pelayanan publik yang prima,

untuk menciptakan good governance dan rangkaian reformasi birokrasi di

Kabupaten Kutai Timur.

4. Sikap/disposisi yang menyebabkan kurangnya koordinasi antar SKPD yang

memang berhubungan langsung dalam pelayanan perijinan pada Kantor

Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah

Kabupaten Kutai Timur terutama kendala di lapangan ketika tim teknis turun

ke lapangan terkait permohonan perijinan yang masuk ke Kantor Badan

Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten

Kutai Timur.

Saran-saran

Berdasarkan hasi penelitian ini, penulis dapat memberikan beberapa saran

sebagai berikut :

1. Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah

Kabupaten Kutai Timur harus konsisten dalam penyusunan Standard

Operational Procedure (SOP) dalam pelayanan penanaman modal yang

sesuai dengan regulasi yang ada.

2. Sumberdaya manusia Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman

Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur memiliki peranan penting dalam

implementasi kebijakan sehingga aparatur diharapkan dapat mengikuti

diklat/kursus teknis dan non teknis Penanaman Modal Daerah Dalam rangka

meningkatkan kompetensi aparatur Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur.

3. Penyediaan sarana dan prasarana Kantor Badan Pelayanan Terpadu Satu

Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur untuk

menunjang

perlengkapan

sarana

dan

prasarana

penunjang

kerja,

meningkatnya fungsi sarana gedung secara optimal di lingkungan kantor dan

terciptanya kondisi lingkungan kerja yang baik dan nyaman serta aman.

4. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada Badan Pelayanan Terpadu

Satu Pintu dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Kutai Timur dalam

melayani masalah perijinan, sehingga dalam proses perijinan dapat

mengurangi penyimpangan/mal-administrasi maupun praktek korupsi.

(12)

Daftar Pustaka

Abdul Wahab, Solichin. 1997. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke

Implementasi Kebijaksanaan Negara. Edisi Kedua. Bumi Aksara: Jakarta.

_____. 1998. Reformasi Pelayanan Publik Menuju Sistem Pelayanan Yang

Responsif dan Berkualitas. PPS Unibraw: Malang.

Islamy, M. Irfan. 2000. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Bumi

Aksara: Jakarta.

Moenir, H.A. S. 1992. Pendekatan manusiawi dan Organisasi Terhadap

Pembinaan Kepegawaian. Gunung Agung: Jakarta.

Peraturan Perundang-undangan :

Keputusan

Menteri

Pendayagunaan

Aparatur

Negara

Nomor:

63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan

Pelayanan Publik.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 25 Tahun 2004

tentang Pelayanan Prima.

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, dan Keputusan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 25 Tahun 2004 tentang

Pelayanan Prima.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian

Kinerja Unit Pelayanan Publik

Referensi

Dokumen terkait

Tidak bisa menanggapi tugas; pembahasan tidak lengkap dan tidak konsisten; informasi sering tidak relevan/tidak tepat; interpretasi tidak konsisten

2 Informasi tentang penggunaan internet banking dapat dipercaya 3 Informasi yang diberikan mudah dipahami untuk proses transaksi menggunakan Internet Banking 4 Informasi

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang administrasi kependudukan di Dinas

Kelompok tani (Poktan) dan Gabungan kelompok tani (Gapoktan) dalam rantai pasok melakukan proses pembibitan, pemeliharaan, serta proses panen. Petani/Mitra

Batik Sriwedari di Surakarta sebaiknya meninjau kembali kebijakan dalam sistem produksi yang selama ini telah diterapkan, karena dengan hasil penelitian ditemukan bahwa perhitungan

mereka(rakyat) terpaksa meluaskan aksi dengan People's Injunction danmencegah berlanjutnya dengar pendapat. Tuntutan sederhana dan strategi yang mudah dipahami itu memudahkan

1.. Walikota Bontang Nomor 39 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan fasilitasi partisipasi masyarakat dalam percepatan pembangunan. Diharapkan dengan kebijakan

Semakin tinggi tingkat pendidikan formal ibu, maka semakin mudah ia menyerap informasi mengenai MP-ASI, gizi dan kesehatan, sehingga apabila ibu mudah menyerap