• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Medan Ligan Laporan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kekuatan Medan Ligan Laporan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KEKUATAN MEDAN LIGAN

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan dengan tema “Kekuatan Medan Ligan” yang bertujuan agar praktikan dapat memahami teori medan kristal dan mampu membedakan kekuatan medan antara ligan ammonia dan air.

Pada percobaan dilakukan 4 variasi larutan yang akan dianalisis dengan

menggunakan spektrometer spectronic, 4 variasi larutan tesebut terdiri dari larutan pertama terdiri dari ion Cu2+, larutan kedua dan ketiga merupakan campuran larutan ion Cu2+, larutan ammonia dan air, tetapi volume air dan ammonia pada larutan kedua dan ketiga berbeda. Sedangkan, untuk larutan keempat hanya mengandung larutan Cu2+ dan larutan ammonia saja. Setelah semua larutan variasi dibentuk selanjutnya dimasukakn dalam kuvet dan dianalisi dengan spektrometer spectronic untuk diukur absorbansinya pada panjang gelombang 510-700 nm, dengan interval 10 nm. Dari data tersebut, dapat dibentuk grafik dan diperoleh panjang gelombang maksimumnya.

Dari percobaan ini diperoleh panjang gelombang pada larutan I (larutan Cu2+ + air) adalah 700 nm dengan energi 10 Dq = 40,8455 kkal/mol, larutan II (larutan Cu2+ + 2,5 mL ammonia + air) adalah 610 nm dengan energi 10 Dq = 46,8719 kkal/mol, larutan III (larutan Cu2+ + 5 mL ammonia + air) adalah 610 nm dengan energi 10 Dq = 46,8719 kkal/mol, larutan IV (larutan Cu2+ + ammonia) adalah 610 nm dengan energi 10 Dq = 46,8719 kkal/mol.

I. TUJUAN PERCOBAAN

1. Memahami teori medan kristal;

2. Mampu membedakan kekuatan medan antara ligan ammonia dan air.

II. DASAR TEORI

Metode analisis spektrometri adalah metode analisis yang paling banyak dipakai di dalam Kimia analisis, khususnya pada spektra elektromagnetik daerah ultraviolet dan tampak. Aplikasinya meliputi bidang Kimia Klinik, Kimia Lingkungan dan bidang-bidang

lain. Keuntungan dari metode analisis spektrometri adalah peralatannya yang mudah didapat dan biasanya cukup mudah dioperasikan. Prinsip metode analisis spektrometri adalah larutan sampel menyerap radiasi elektromagnetik dan jumlah intensitas radiasi yang diserap oleh

(2)

larutan sampel dihubungkan dengan konsentrasi analit (zat/unsur yang akan dianalisis) dalam larutan sampel.

(Wahyuni, 2007)

daerah warna panjang gelombang (nm)

ungu 380 - 435 biru 435 - 500 sian (biru-pucat) 500 - 520 hijau 520 - 565 kuning 565 - 590 oranye 590 - 625 merah 625 - 740

Pada metode analisis spektrometri terdapat komplementer warna. Warna-warna yang saling berlawanan satu sama lain pada roda warna dikatakan sebagai warna-warna komplementer. Biru dan kuning adalah warna komplementer; merah dan sian adalah komplementer;

demikian juga hijau dan magenta (merah muda). Warna kompleks adalah komplemen warna cahaya yang diserap oleh sample dalam spektrometri. (chem-is-try.org, diakses 1 juni 2009)

Senyawa koordinasi merupakan senyawa yang tersusun atas atom pusat dan ligan (sejumlah anion atau molekul netral yang mengelilingi atom atau kelompok atom pusat tersebut) dimana keduanya diikat dengan ikatan koordinasi. Ditinjau dari konsep asam-basa Lewis, atom pusat dalam senyawa koordinasi berperan sebagai asam Lewis (akseptor

(3)

penerima pasangan elektron), sedangkan ligan sebagai basa Lewis (donor pasangan elektron). (Nuryono,2003)

Kemagnetan senyawa kompleks misalnya, ditentukan dari banyaknya elektron tak berapsangan pada orbital d atom pusat, akibat dari kekuatan ligan yang mendesaknya, apakah ligan tersebut kuat atau lemah. Jika ligan tsb kuat elektron cenderung untuk berpasangan (spin rendah), jika ligan tsb lemah elekton lebih suka untuk tidak berpasangan (spin tinggi).

Senyawa kompleks dapat berupa non-ion, kation atau anion, bergantung pada muatan penyusunnya. Muatan senyawa kompleks merupakan penjumlahan muatan ion pusat dan ligannya. Jika senyawa kompleks bermuatan disebut ion kompleks/spesies kompleks. Bilangan koordinasi pada senyawa kompleks menyatakan banyaknya ligan yang mengelilingi atom atau sekelompok atom pusat sehingga membentuk kompleks yang stabil. (Vogel, 1990).

Bilangan koordinasi 6, berarti banyaknya ligan yang mengelilingi berjumlah 6. Bilangan koordinasi setiap atom pusat bersifat khas dan karateristik bergantung pada sifat alamiah logam, keadaan oksidasi, dan ligan-ligan lain dalam molekul.

Antara atom pusat dengan ligannya terhubung oleh ikatan koordinasi, hanya salah satu pihak yaitu ligan yang menyumbangkan pasangan elektron untuk digunakan bersama, perpindahan kerapatan elektron pun terjadi dari ligan ke atom pusat. Namun, jika kerapatan elektron tersebar merata diaantara keduanya, maka ikatan kovalen sejatipun akan terbentuk.

Reaksi pembentukan senyawa kompleks dapat dirumuskan sebagai berikut : M + nL MLn

dimana, M = ion logam

L = ligan yang mempunyai pasangan elektron bebas

n = bilangan koordinasi senyawa kompleks yang terbentuk (biasanya 2, 4, dan 6).

Berdasarkan banyaknya pasangan elektron yang didonorkan, ligan dapat dikelompokkan menjadi,

a. Ligan Monodentat yaitu ligan yang hanya mampu memberikan satu pasang elektron

kepada satu ion logam pusat dalam senyawa koordinasi. Misalnya : ion halida, H2O dan

NH3.

b. Ligan Bidentat yaitu ligan yang mempunyai dua atom donor sehingga mampu

memberikan dua pasang elektron. Dalam pembentukan ikatan koordinasi, ligan bidentat akan menghasilkan struktur cincin dengan ion logamnya (sering disebut cincin kelat). Ligan bidentat dapat berupa molekul netral (seperti diamin, difosfin, disulfit) atau anion (C2O42-, SO42-, O22-).

(4)

c. Ligan Polidentat yaitu ligan-ligan yang memiliki lebih dari dua atom donor. Ligan ini

dapat disebut tri, tetra, penta, atau heksadentat, bergantung pada jumlah atom donor yang ada. Ligan polidentat tidak selalu menggunakan semua atom donornya untuk membentuk ikatan koordinasi. Misalnya : EDTA sebagai heksadentat mungkin hanya menggunakan 4 atau 5 atom donornya bergantung pada ukuran dan stereokimia kompleks.

Berdasarkan jenis ikatan koordinasi yang terbentuk, ligan dapat dikelompokkan sebagai berikut.

a. Ligan yang tidak mempunyai elektron sesuai untuk ikatan π dan orbital kosong sehingga

ikatan yang terbentuk hanya ikatan σ, seperti H

-, NH3, SO32-, atau RNH2.

b. Ligan yang mempunyai dua atau tiga pasang elektron bebas yang selain membentuk

ikatan σ, juga dapat membentuk ikatan π dengan ion logam, seperti N

3-, O2-, OH-, S2-, NH2-, R2S, R2O, NH2, dan ion benzena.

c. Ligan yang memiliki orbital π-antiikatan kosong dengan tingkatan benzen rendah yang

dapat menerima elektron yang orientasinya sesuai dari logam, seperti CO, R3P, CN-, py,

dan acac.

d. Ligan yang tidak ada pasangan elektron bebasnya, tetapi memiliki elektron ikatan-π,

seperti alkena, alkuna, benzena, dan anion siklopentadienil.

e. Ligan yang membentuk dua ikatan σ dengan dua atom logam terpisah dan kemudian

membentuk jembatan. Sebagai contoh, OH-, O2-, CO. (Nuryono, 2003)

Teori medan kristal mengganggap bahwa ikatan antar ion logam dan ligan adalah sepenuhnya ionik. Dengan kata lain, interaksi antara ligan dan ion logam adalah interaksi elektrostatik. Ion logam dianggap bermuatan positif sedangkan ligan merupakan partikel bermuatan negatif.

(5)

Gambar B.1 Kelima orbital d

Jika ligan (yang diasumsikan bermuatan negatif) mendekat, maka akan terjadi kenaikan tingkat energi orbital d ion logam akibat tolakan antara medan negatif ligan dan elektron orbital d, tetapi tingkat energi kelima orbital d masih degenerate. Karena orientasi ligan terhadap logam berbeda beda (seperti orientasi ke arah oktahedral, tetrahedral), maka gaya yang dialami oleh tiap orbital tidak selalu sama. Hal inilah yang menyebabkan pola pembelahan tingkat energi orbital d yang berbeda-beda untuk tiap bentuk geometri.

1. Oktahedral

Pada oktahedral, orbital dan berhadapan langsung dengan ligan, sedangkan orbital tidak berhadapan langsung. Akibatnya, energi potensial dan

akan naik akibat tolakan dengan ligan dan energi akan berkurang karena

kurangnua tolakan dengan ligan. Orbital dan yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dinamakan orbital eg sedangkan orbital yang memiliki energi yang lebih

rendah dinamakan orbital t2g.

(6)

Gambar B.2.(a) orientasi orbital d dan ligan pada kompleks oktahedral; (b) pola pembelahan pada oktahedral (Kunarti,2007)

2. Tetrahedral

Pada tetrahedral, orbital lebih berinteraksi langsung dibandingkan dengan dan sehingga energi orbital akan naik sedangkan energi dan akan turun.

(7)

Gambar B.3.(a) orientasi orbital d dan ligan pada kompleks tetrahedral; (b) pola pembelahan pada tetrahedral 3. Bujur sangkar

Gambar B.4.(a) orientasi orbital d dan ligan pada kompleks bujur sangkar; (b) pola pembelahan pada bujur sangkar (Kunarti,2007)

Harga 10 dq dapat besar atau kecil. Jika 10 dq kecil, maka dibutuhkan sedikit energi untuk mengisi elektron ke orbital eg. Akibatnya elektron cenderung mengisi orbital eg dibandingkan berpasangan terlebih dahulu. Kondisi ini dinamakan medan lemah. Jika 10 dq besar, maka selisih energi juga besar atau dibutuhkan banyak energi untuk mengisi elektron ke orbital eg. Elektron cenderung berpasangan terlebih dahulu sebelum mengisi orbital eg. Kondisi seperti ini dinamakan meda kuat.

Harga 10 dq dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya. 1. Muatan ion logam

Makin banyak muatan ion,makin besar pula harga 10 Dq nya,karena makin banyak muatan ion logam maka makin besar pula untuk menarik ligan lebih dekat.

Akibatnya pengaruh ligan makin kuat sehingga pembelahan orbital makin besar. 2. Jenis Ion pusat

Logam logam yang terletak pada satu periode, harga 10 dqnya tidak terlalu berbeda. Untuk satu golongan, Semakin kebawah, harganya akan semakin besar.

Mn2+< Ni2+< Co2+< Fe2+< V2+< Fe3+< Co3+< Mn3+< Co3+< Rh3+< Ru3+< Pd4+< Ir3+< Pt4+ 3. Ligan

(8)

Berikut adalah deret spektrokimia.

I-< Br-< SCN-~ Cl-< F-< OH-~ NO-< C2O42-< H2O<CS-< EDTA4-< NH3~ pyr~ en< phen < CN- ~

CO

Semakin kuat ligannya, maka 10 dq juga akan semakin besar. Jika 10 dq kecil, maka ligannya adalah ligan lemah. Ligan yang kuat dapat menggantikan ligan yang lebih lemah. (Kunarti, 2007)

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat Dan Bahan

Pada percobaan Kekuatan Medan Ligan kali ini dipergunakan alat percobaan sebagai berikut : Labu ukur 10 mL, pipet gondok 5 mL, gelas beker 50 mL, pipet, kuvet, dan

spektrometer spectronic 20.

Pada percobaan Kekuatan Medan Ligan kali ini dipergunakan bahan percobaan sebagai berikut : Larutan Cu2+ 0,1M, larutan ammonia, dan akuades.

B. Skema Alat Utama

C. Prosedur Percobaan

Dibuat empat larutan dengan komposisi yang berbeda. Larutan pertama, diambil 2 mL larutan ion Cu2+ 0,1 M dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan dengan air sampai tanda. Larutan kedua, diambil 2 mL larutan Cu2+dimasukkan dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan 2,5 mL larutan ammonia, kemudian ditambahkan akuades sampai tanda batas. Larutan ketiga, diambil 2 mL larutan Cu2+ dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL,

(9)

ditambahkan 5 mL larutan ammonia dan diberi air sampai tanda batas. Sedangkan untuk larutan keempat, diambil 2 mL larutam Cu2+, dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan larutan ammonia sampai tanda batas.

Setelah semua larutan dibuat, kemudian keempat larutan tersebut dimasukkan dalam kuvet untuk diukur absorbansinya menggunakan spektrometer spectronic 20 pada panjang gelombang 510-700 nm dengan interval 10 nm. Sebelumnya, alat diset pada panjang gelombang yang akan diukur, kemudian akuades yang sudah disiapkan dalam kuvet dimasukkan ke dalam alat tersebut dan dibuat absorbansinya menjadi nol. Setelah itu, akuades diambil kembali dan diganti dengan larutan yang akan diuji.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan λ A NH3 ( 0 mL ) (Larutan A) NH3 ( 2.5 mL ) (Larutan B) NH3 ( 5 mL ) (Larutan C) NH3 ( 8 mL ) (Larutan D) 510 0.014 0.348 0.114 0.097 520 0.015 0.442 0.152 0.116 530 0.027 0.546 0.178 0.135 540 0.028 0.633 0.196 0.154 550 0.012 0.708 0.204 0.167 560 0.011 0.785 0.221 0.183 570 0.018 0.850 0.237 0.199 580 0.021 0.899 0.248 0.207 590 0.029 0.927 0.257 0.218 600 0.031 0.940 0.259 0.223 610 0.038 0.941 0.261 0.224 620 0.041 0.926 0.256 0.223 630 0.050 0.901 0.252 0.217 640 0.064 0.871 0.248 0.213 650 0.074 0.833 0.239 0.203 660 0.083 0.796 0.226 0.198 670 0.102 0.745 0.220 0.191 680 0.120 0.703 0.207 0.179 690 0.138 0.649 0.194 0.169

(10)

700 0.154 0.594 0.180 0.157

Panjang Gelombang Maksimal Energi 10 dq

1. Larutan A : 700 nm 1. 10 dq : 40.845 kkal/mol 2. Larutan B : 600 nm 2. 10 dq : 46,871 kkal/mol 3. Larutan C : 600 nm 3. 10 dq : 46,871 kkal/mol 4. Larutan D : 610 nm 4. 10 dq : 46,871kkal/mol B. Pembahasan

Pada percobaan “Kekuatan Medan Ligan” kali ini bertujuan agar praktikan

mengetahui dan memahamiteori medan kristal dan mampu membedakan kekuatan medan antara ligan ammonia dan air. Pada percobaan kali ni dilakukan 4 variasi larutan yang akan dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer dengan range panjang gelombang 510-700 nm dan interval yang digunakan untuk masing-masing variasi adalah sama 10 nm. Variasi yang dibedakan adalah kadar ammonia (NH3) dalam larutan, untuk larutan A terdiri dari

larutan Cu2+ 2 mL dan air sebanyak 8 mL, larutan B terdiri dari larutan Cu2+ 2 mL, ammonia 2.5 mL, dan air sebanyak 5.5 mL, larutan C terdiri dari larutan Cu2+ 2 mL, ammonia 5 mL, dan air sebanyak 7 mL dan untuk larutan D terdiri dari larutan Cu2+ 2 mL dan ammonia 8 mL. Larutan ammonia (NH3) dan Cu2+ digunakan sebagai bahan utama percobaan karena

akan membentuk senyawa kompleks.

Setelah terbentuk variasi larutan, tiap-tiap larutan kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer dan kemudian diperoleh data nilai absorbansi untuk masing-masing interval. Dari data tersebut dibuat grafik Panjang Gelombang Versus Absorbansi dan

diperoleh panjang gelombang maksimum yang menghasilkan absorbansi maksimum. Dari panjang gelombang maksimum nilai 10 dq dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Dari nilai dq tersebut dapat ditentukan kekuatan ligan dari air dan ammonia.

Pada percobaan ini mengunakan kuvet dari plasik, kuvet ini sebagai tempat sample untuk dianalisis dengan spektroforometer, kuvet ini harus selalu dalam keadaan bersih sehingga harus selalu dibersihkan dengan tissue pada lapisan luarnya, dan pada saat penggantian variasi sample kuvet dicuci dengan aquades dan dibiarkan kering. Karena spektrofotometer sangat sensitive, bila kuvet dalam keadaan kotor maka penyerapan sinar oleh sample tidak maksimal sehingga data yang diperoleh juga kurang baik. Untuk larutan blanko, larutan blangko adalah larutan yang komposisinya sama seperti larutan yang dianalisis namun tanpa sampel yang dianalisis. Untuk percobaan ini larutan blankonya adalah air. Sebelum sampel

(11)

diukur absorbansinya, perlu diukur terlebih dahulu absorbansi larutan blanko. Larutan blanko dengan absorbansi nol dan transmittansi 100% (tidak menyerap radiasi), digunakan sebagai standar untuk mengukur absorbansi kompleks.

Pada Larutan A

Pada larutan A, langkah pertama adalah mengencerkan 2 mL larutan Cu2+ 0,1 M dengan 10 ml aquades sehingga terbentuk Cu2+ 0,02 M. Warna yang terbentuk dalam larutan adalah hijau yang kurang pekat (hampir semua kompleks besarnya harga dq sama dengan energi yang frekuensi terletak pada spectra daerah tampak, karena ada kaitan antara warna dengan frekuensi maka warna suatu kompleks bergantung pada frekuensi yang diserap. Warna kompleks adalah komplemen warna cahaya yang diserap. Sehingga ketika kompleks

berwarna hijau maka kompleks tersebut menyerap wana komplemennya adalah merah ungu dengan panjang gelombang sekitar 720 nm).

λ Warna yang diserap Warna yang teramati λ Warna yang diserap Warna yang teramati

410 violet kuning-hijau 560 kuning-hijau violet

430 biru-violet kuning 580 kuning biru-violet

480 biru jingga 610 jingga biru

500 hijau-biru merah 680 merah hijau-biru

530 hijau merah ungu 720 merah ungu hijau

Tabel. B.1 Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007)

Sehingga terbentuk senyawa kompleks atau heksaquotembaga(II) dimana atom pusatnya adalah ion Cu2+ dan ligannya adalah air. Dari nama senyawa tersebut dapat diketahui bahwa bilangan koordinasi untuk Cu2+ adalah 6 sesuai dengan banyaknya ligan yang diikat ,dengan reaksi sebagai berikut:

Konfigurasi elektron dari tembaga dan ion tembaga adalah

(12)

Jika terdapat 6 ligan H2O, maka

3d 4s 4p 4d

Hibridisasi yang terjadi adalah sp3d2. Bentuk geometri untuk hibridisasi jenis ini adalah oktahedral. Pada larutan A panjang gelombang yang diperoleh adalah 700 nm (sesuai dengan table Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007)) dan didapat energi 10 Dq adalah 40,8455 kkal/mol.

Pada Larutan B

Pada larutan B, langkah pertama mencampurkan 2 mL Cu2+, 2,5 mL ammonia dan air dalam labu ukur 10 mL. Larutan ini menghasilkan warna biru. Warna yang terbentuk dalam larutan adalah biru (kompleks berwarna biru maka kompleks tersebut menyerap wana

komplemennya adalah jingga dengan panjang gelombang sekitar 610 nm). λ Warna yang diserap Warna yang teramati λ Warna yang diserap Warna yang teramati

410 violet kuning-hijau 560 kuning-hijau violet

430 biru-violet kuning 580 kuning biru-violet

480 biru jingga 610 jingga biru

500 hijau-biru merah 680 merah hijau-biru

530 hijau merah ungu 720 merah ungu hijau

Tabel. B.1 Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007)

Pada larutan ini, ammonia dan air adalah ligannya. Senyawa kompleks yang terbentuk adalah [Cu(H2O)2(NH3)4]2+ , tetradiaquotembaga(II) . Reaksi yang terjadi adalah :

karena terdapat 2 ligan H2O dan 4 ligan NH3, maka

3d 4s 4p 4d

Dari orbital di atas, diketahui hibridisasi [Cu(H2O)2(NH3)4]2+ adalah sp3d2 dengan geometri

oktahedral. Perbedaan dengan larutan pertama adalah pada larutan B ini, energi 10 Dq akan lebih besar yaitu 46,8719 kkal/mol. Panjang gelombangnya lebih kecil yaitu 610 nm sesuai

(13)

table Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007) nilai panjang gelombangnya maksimum 610 karena warna yag diserap pada lartan II ini adalah jingga sehingga pada panjang

gelombang ini sample menyerap maksimal sinar yang ditembakan dari spektrofotometer.

Larutan C

Larutan C hamper sama dengan larutan B, yang membedakan hanyalah kadar larutan

ammonia lebih banyak dibandingkan air. Penambahan kadar ammonia yang berlebih ini akan meningkatkan besarnya nilai absorbansi (dilihat pada hasil percobaan). Panjang gelombang maksimum yang diperoleh adalah 610 nm. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh besar energi 10 Dq adalah 46,8719 kkal/mol. Warna yang terbentuk pada larutan C ini adalah biru, berarti warna yang diserap adalah jingga. (kompleks berwarna biru maka kompleks tersebut menyerap wana komplemennya adalah jingga dengan panjang gelombang sekitar 610 nm). λ Warna yang diserap Warna yang teramati λ Warna yang diserap Warna yang teramati

410 violet kuning-hijau 560 kuning-hijau violet

430 biru-violet kuning 580 kuning biru-violet

480 biru jingga 610 jingga biru

500 hijau-biru merah 680 merah hijau-biru

530 hijau merah ungu 720 merah ungu hijau

Tabel. B.1 Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007)

Oleh karena itu panjang gelombang antara larutan B dan larutan C adalah sama yaitu 610 nm, jika dijelaskan melalui konfigurasi electron dan hibridisasi maka ketika penambahan kadar ammonia sehingga terjadi pengantian ligan pada senyawa kompleks. Karena pengantian adalah sama-sama ligan netral (H2O dan NH3) maka tidak akan merubah sifat dari senyawa kompleks, sehingga tidak akan mempengaruhi nilai panjang gelombang maksimum.

Larutan D

Pada larutan D pada larutan ini hampir sama dengan larutan B dan C hanya kadar ammonia sangat tinggi dan tidak ada air sebagai pelarut. Langkah pertama adalah dengan

mengencerkan 2 mL Cu2+ dengan ammonia sampai volume 10 mL. Pada larutan D hanya ada ligan ammonia, warna kompleks yang terbentuk adalah biru pekat. dari pengukuran dengan spektrometer UV-Vis, diperoleh panjang gelombang maksimumnya adalah 610 nm, sehingga melalui perhitungan diperoleh energi 10 Dq sebesar 46,8719 kkal/mol.

Sehingg pada percobaan ini diperoleh energi dq sebagai berikut : Panjang Gelombang Maksimal Energi 10 dq

(14)

1. Larutan A : 700 nm 1. 10 dq : 40.845 kkal/mol 2. Larutan B : 600 nm 2. 10 dq : 46,871 kkal/mol 3. Larutan C : 600 nm 3. 10 dq : 46,871 kkal/mol 4. Larutan D : 610 nm 4. 10 dq : 46,871kkal/mol

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar panjang gelombang maksimumnya, berarti energinya 10 Dq juga kecil, sehingga ligan tersebut adalah ligan lemah. Dari keempat larutan yang ada, panjang gelombang terbesar adalah pada larutan A, sehingga memiliki nilai energi 10 Dq paling kecil dari ke3 variasi lainya. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa ligan ammonia lebih uat daripada ligan air. Karena pada larutan yang mengandung ammonia panjang gelombangnya akan lebih kecil dan energi 10 Dq akan

semakin besar yang berarti ligan ammonia lebih besar. Sedangkan pada larutan A yang hanya mengandung air, memilki panjang gelombang maksimum yang besar dan energi 10 Dq yang kecil, yang berarti ligan air lebih lemah daripada ligan ammonia.

(15)

V. KESIMPULAN

Ammonia merupakan ligan yang lebih kuat dibandingkan air (10 dq NH3> 10 dq air);

Hasil Percobaan

Panjang Gelombang Maksimal Energi 10 dq

1. Larutan A : 700 nm 1. 10 dq : 40.845 kkal/mol 2. Larutan B : 600 nm 2. 10 dq : 46,871 kkal/mol 3. Larutan C : 600 nm 3. 10 dq : 46,871 kkal/mol 4. Larutan D : 610 nm 4. 10 dq : 46,871kkal/mol

VI. DAFTAR PUSTAKA

1. Kunarti, Eko Sri, 2007, Handout Kimia Koordinasi “Week 5b Crystal Field Theory”;

2. Nuryono, 2003, Kimia Koordinasi, Lab Kimia Anorganik Jurusan Kimia

FMIPA UGM, Yogyakarta, 42-55;68-69;

3. Wahyuni, Endang Tri, 2007, Handout Analisis Instrumental I, “Spectrophotometer

UV-Vis”.

1. Vogel, 1990, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Jilid 2, Cetakan ke 2, Kalman Media Pusaka, Jakarta,95-98;102-105;

5. www. Chem.-is-try.org, diakses 1 Juni 2009

VII. LAMPIRAN A. Grafik Percobaan Untuk Larutan A

(16)

Untuk Larutan B

Grafik Absorbansi VS Panjang Gelombang

Untuk Larutan C

(17)

Untuk Larutan D

B. Perhitungan

Penentuan 10 Dq

Larutan A ( larutan Cu2+ + air) λmaks = 700 nm

= 40,8455 kkal/mol

Larutan B ( larutan Cu2+ + 2,5 mL ammonia + air) λmaks = 610 nm

= 46,8719 kkal/mol

Larutan C ( laruatn Cu2+ + 5 mL ammonia + air) λmaks = 610 nm

(18)

= 46,8719 kkal/mol

Larutan D ( larutan Cu2+ + ammonia) λmaks = 610 nm

Gambar

Gambar B.1 Kelima orbital d
Gambar B.3.(a) orientasi orbital d dan ligan pada kompleks tetrahedral; (b) pola pembelahan  pada tetrahedral     3
table Pembagian daerah UV-Visibel (Wahyuni,2007) nilai panjang gelombangnya maksimum  610 karena warna yag diserap pada lartan II ini adalah jingga sehingga pada panjang
Grafik Absorbansi VS Panjang Gelombang

Referensi

Dokumen terkait

Nilai intensitas maksimum untuk larutan standar besi (Fe) pada panjang gelombang maksimum 447,8 nm warna biru, sehingga dalam penelitian penentuan kadar besi (Fe)

minimum, sehingga dilakukan pengukuran kembali pada larutan metil dengan konsentrasi 5 ppm (kuning ++) pada rentang panjang gelombang 300 – 600 nm didapatkan panjang gelombang

Teori medan kristal menyediakan cara penentuan melalui tinjauan elektrostatik yang sederhana, bagaimana energi dari orbital-orbital ion logam akan dipengaruhi oleh set

 Dari hasil pengolahan data dapat diketahui bahwa panjang gelombang maksimum dari larutan Fe berada pada angka 475 nm, hal ini menunjukan bahwa warna yang diserap oleh larutan Fe

Untuk memperoleh panjang gelombang serapan maksimum, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada

Untuk itu, dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum dengan membuat konsentrasi larutan paracetamol yang memberikan absorbansi 0,434 karena pada absorbansi ini

Setelah didapat larutan 1 – klorobutana, dilakukan pemisahan pada larutan 1 – klorobutana yang masih mengandung air dengan cara larutan 1 – klorobutana dimasukka kedalam corong pisah

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan penentuan panjang gelombang maksimum dari larutan baku standar paracetamol, pembuatan kurva kalibrasi dan melakukan esktraksi