• Tidak ada hasil yang ditemukan

122514_contoh Kasus Beserta Analisisnya_cici

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "122514_contoh Kasus Beserta Analisisnya_cici"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

CONTOH KASUS BESERTA ANALISISNYA

CONTOH KASUS BESERTA ANALISISNYA

KASUS 1

KASUS 1

PERSENGKETAAN BEA MASUK ANTI-DUMPING PADA KERTAS IMPOR

PERSENGKETAAN BEA MASUK ANTI-DUMPING PADA KERTAS IMPOR

INDONESIA

INDONESIA

(www.tempo.co)

(www.tempo.co)

Indonesia sebagai negara berkembang pada umumnya akan memilih suatu

Indonesia sebagai negara berkembang pada umumnya akan memilih suatu

perusahaan domestik untuk disubsidi khususnya industri yang benar-benar

perusahaan domestik untuk disubsidi khususnya industri yang benar-benar

menjadi ekspor Indonesia. Dan selain itu, Indonesia juga mengambil kebijakan

menjadi ekspor Indonesia. Dan selain itu, Indonesia juga mengambil kebijakan

ekonomi seperti penetapan batasan impor, hambatan tarif dan non tarif dan

ekonomi seperti penetapan batasan impor, hambatan tarif dan non tarif dan

kebijakan lainnya. Sama seperti negara lainnya, Korea juga menetapkan kebijakan

kebijakan lainnya. Sama seperti negara lainnya, Korea juga menetapkan kebijakan

ekonomi anti dumping untuk melindungi industri domestiknya. Kali i

ekonomi anti dumping untuk melindungi industri domestiknya. Kali i

ni yang menjadi

ni yang menjadi

sasaran negara yang melakukan dumping adalah Indonesia.

sasaran negara yang melakukan dumping adalah Indonesia.

Salah satu kasus yang terjadi antar anggota WTO yaitu kasus antara Korea

Salah satu kasus yang terjadi antar anggota WTO yaitu kasus antara Korea

Selatan dan Indonesia, dimana Korsel menuduh Indonesia melakukan

Selatan dan Indonesia, dimana Korsel menuduh Indonesia melakukan

dumping

dumping

Woodfree Copy Paper 

Woodfree Copy Paper 

 ke Korsel sehingga Indonesia mengalami kerugian

 ke Korsel sehingga Indonesia mengalami kerugian

 yang cukup besar.

 yang cukup besar.

Pada mulanya harga produk kertas Korsel tinggi dan juga produsen kertas Korsel

Pada mulanya harga produk kertas Korsel tinggi dan juga produsen kertas Korsel

tidak dapat memenuhi beberapa permintaan pasar. Pada saat itulah masuk produk

tidak dapat memenuhi beberapa permintaan pasar. Pada saat itulah masuk produk

kertas Indonesia dengan harga yang lebih murah (termasuk jika dibandingkan

kertas Indonesia dengan harga yang lebih murah (termasuk jika dibandingkan

dengan harga di pasar Indonesia) dan juga dengan produk yang memiliki

dengan harga di pasar Indonesia) dan juga dengan produk yang memiliki

fungsi/nilai substitusi atas produk kertas yang tidak dapat dipenuhi produsen

fungsi/nilai substitusi atas produk kertas yang tidak dapat dipenuhi produsen

kertas Korsel, hal ini disebu

kertas Korsel, hal ini disebu

t juga dengan “

t juga dengan “Like Product 

Like Product 

”. Karena hal inilah maka

”. Karena hal inilah maka

produk kertas Indonesia lebih banyak diminati oleh pasar di Korsel, sedangkan

produk kertas Indonesia lebih banyak diminati oleh pasar di Korsel, sedangkan

kertas produk Korsel sendiri menurun penjualannya. Itulah mengapa Korsel

kertas produk Korsel sendiri menurun penjualannya. Itulah mengapa Korsel

menetapkan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk kertas yang masuk

menetapkan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk kertas yang masuk

dari Indonesia, untuk melindungi produk dalam negeri nya.

dari Indonesia, untuk melindungi produk dalam negeri nya.

Produk kertas Indonesia yang dikenai tuduhan d

Produk kertas Indonesia yang dikenai tuduhan d

umping mencakup 16 jenis produk,

umping mencakup 16 jenis produk,

tergolong dalam kelompok

tergolong dalam kelompok

uncoated paper and paper board used for

uncoated paper and paper board used for

writing 

writing 

,

,

printing, or other graphic purpose

printing, or other graphic purpose

 serta

 serta

carbon paper, self copy paper

carbon paper, self copy paper

and other copying 

and other copying 

 atau

 atau

transfer paper 

transfer paper 

.

.

Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi

Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi

anti-dumping

terhadap

produk

kertas

Indonesia

kepada

dumping

terhadap

produk

kertas

Indonesia

kepada

Korean

Korean

Trade

Trade

Commission

(2)

Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS) dengan besaran untuk PT Pabrik

Kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar 51,61%, PT Pindo Deli 11,65%, PT Indah Kiat

0,52%, April Pine dan lainnya sebesar 2,80%. Namun, pada 7 November 2003 KTC

menurunkan BMAD terhadap produk kertas Indonesia ke Korsel dengan ketentuan

PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat diturunkan

sebesar 8,22% dan untuk April Pine dan lainnya 2,80%.

Dan akibat adanya tuduhan dumping itu ekspor produk itu mengalami kerugian.

Ekspor

Woodfree Copy Paper 

 Indonesia ke Korsel yang pada tahun 2002 mencapai

102 juta dolar AS, turun menjadi 67 juta dolar pada tahun 2003. Dan Indonesia

mengadukan masalah ini ke WTO tanggal 4 Juni 2004 dan meminta diadakan

konsultasi bilateral, namun konsultasi yang dilakukan pada 7 Juli 2004 gagal

mencapai kesepakatan.

1.Tindakan apa yang seharusnya dilakukan indonesia agar terlepas dari hukum anti dumping? 2. Bagaimana cara indonesia menyikapi hubunhan bisnis yang hampir rusak karna isu tersebut? 3. Bagaimana sikap WTO dalam menangani permasalahan tersebut?

PENYELESAIAN KASUS

Dumping 

 merupakan suatu tindakan menjual produk-produk impor dengan harga

 yang lebih murah dari harga negara ekspor dan ini merupakan pelanggaran

terhadap kesepakatan WTO.

Berikut langkah-langkah penyelesaian kasus dumping ini.

Indonesia meminta bantuan kepada Badan Penyelesaian Sengketa (

Dispute

Settlement Body 

(DSB) WTO dan melalui Panel meminta agar kebijakan anti

dumping yang dilakukan Korea ditinjau kembali karena tidak konsisten dengan

beberapa point artikel kesepakatan seperti artikel 6.8 yang paling banyak

diabaikan dan artikel lainnya dan Indonesia juga meminta Panel terkait dengan

artikel 19.1 dari

Understanding on Rules and Procedures Governing the

Settlement of Disputes

(DSU) untuk meminta Korea bertindak sesuai dengan

kesepakatan GATT

(General Agreement on Tariffs and Trade) 

 dan membatalkan

kebijakan anti dumping impor kertas yang dikeluarkan oleh menteri keuangan dan

ekonomi nya pada tanggal 7 November 2003. Yang menjadi aspek legal disini adalah

adanya pelanggaran terhadap artikel kesepakatan WTO khususnya dalam

kesepakatan perdagangan dan penentuan tarif seperti yang tercakup dalam GATT.

Sifat legal atau hukumnya terlihat juga dengan adanya tindakan

Retaliasi 

 oleh

pemerintah Indonesia karena Korea dinilai telah bertindak “curang” dengan tidak

(3)

kertas tersebut yang memenangkan Indonesia dimana retaliasi diijinkan dalam

WTO.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional

Departemen Perdagangan mengatakan dalam putusan Panel DSB pada November

2005 menyatakan Korsel harus melakukan rekalkulasi atau menghitung ulang

margin dumping untuk produk kertas asal Indonesia. Untuk itu, Korsel diberikan

waktu untuk melaksanakan paling lama delapan bulan setelah keluarnya putusan

atau berakhir pada Juli 2006. Panel DSB menilai Korsel telah melakukan kesalahan

dalam upaya membuktikan adanya praktik dumping kertas dari Indonesia.

Pengenaan tuduhan dumping kertas melanggar ketentuan anti dumping

WTO. Korea harus menghitung ulang margin dumping sesuai dengan hasil panel

maka ekspor kertas Indonesia ke Korsel kurang dari dua persen

atau

deminimis 

sehingga tidak bisa dikenakan Bea Masuk Anti Dumping.

Panel

Permanen merupakan panel tertinggi di WTO jika putusan Panel Permanen juga

tidak ditaati oleh Korsel, Indonesia dapat melakukan

retaliasi

, yaitu upaya

pembalasan atas kerugian yang diderita. Dalam retaliasi, Indonesia dapat

mengenakan bea masuk atas produk tertentu dari Korsel dengan nilai kerugian yang

sama selama pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD). Korean Trade

Commision yang merupakan otoritas dumping Korsel mengenakan BMAD 2,8 - 8,22

% terhadap empat perusahaan kertas, seperti yang telah disebutkan diatas yaitu

PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills, PT Indah Kiat Pulp

& Paper, dan PT April Fine sejak 7 November 2003. Dalam membuat tuduhan

dumping, KTC menetapkan margin dumping kertas dari Indonesia mencapai 47,7

persen.

Produk

kertas

yang

dikenakan

BMAD

adalah

plain

paper

copier 

 dan

undercoated wood free printing paper.

Dalam kasus ini, Indonesia telah melakukan upaya pendekatan sesuai

prosedur terhadap Korsel.Pada 26 Oktober 2006 Indonesia juga mengirim surat

pengajuan konsultasi. Selanjutnya, konsultasi dilakukan pada 15 November 2006

namun gagal. Korea masih belum melaksanakan rekalkulasi dan dalam pertemuan

Korea mengulur-ulur waktu. Tindakan Korsel tersebut sangat merugikan industri

kertas Indonesia. Ekspor kertas ke Korsel anjlok hingga 50 persen dari US$ 120

 juta. Kerugian tersebut akan berkepanjangan sebab Panel juga menyita waktu

cukup lama, paling cepat tiga bulan dan paling lama enam bulan.

Kasus

dumping

Korea-Indonesia

pada

akhirnya dimenangkan oleh Indonesia. Namun untuk menghadapi kasus kasus

dumping yang belum terselesaikan sekarang maka Indonesia perlu melakukan

antisipasi dengan pembuatan Undang-Undang (UU) Anti Dumping untuk melindungi

industri dalam negeri dari kerugian akibat melonjaknya barang impor. Selain itu,

diperlukan penetapkan

Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS)

 dalam

rangka proses investigasi praktek dumping (ekspor dengan harga lebih murah dari

harga di dalam negeri) yang diajukan industri dalam negeri.

(4)

Pemerintah harus mengefektifkan

Komite Anti Dumping Indonesia

(KADI)

yang merupakan institusi yang bertugas melaksanakan penyelidikan,

pengumpulan bukti, penelitian dan pengolahan bukti dan informasi mengenai barang

impor dumping, barang impor bersubsidi dan lonjakan impor.

TANGGAPAN:

Korea terlalu cepat menilai Indonesia melakukan praktek dumping tanpa berfikir

panjang dengan tidak berusaha menghitung ulang margin dumping pada produk

kertas Indonesia dan tidak meneliti kembali kesepakatan perdagangan antara

Korea dan Indonesia.

SARAN:

Setiap negara yang melakukan ekspor impor sebaiknya menghitung margin

dumping dengan teliti dan berusaha menyepakati perjanjian-perjanjian yang ada

dengan baik.

Setiap negara yang melakukan ekspor impor perlu melakukan antisipasi

dengan pembuatan Undang-Undang (UU) Anti Dumping untuk melindungi industri

dalam negeri dari kerugian akibat melonjaknya barang impor. Selain itu, diperlukan

penetapkan

Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS)

 dalam rangka proses

investigasi praktek dumping (ekspor dengan harga lebih murah dari harga di dalam

negeri) yang diajukan industri dalam negeri.

REFERENSI

Anindika, Ratya & Reed, R. Michael.

Bisnis dan Perdagangan

Internasional.

 2008. Andi: Yogyakarta

Griffin, Ricky W & Pustay, Michael W.

Bisnis Internasional Edisi Keempat

Jilid 2.

2006. Indeks: Jakarta.

Tambunan, Tulus T H.

Globalisasi dan Perdagangan Internasional.

2004.

Ghalia Indonesia: Jakarta.

http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/01/eko09.htm

http://www.tempo.co/read/news/2010/10/25/090286990/Penghentian-Kasus-Dumping-Kertas-Belum-Direspons-Pengusaha-Korea

https://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/cases_e/ds312_e.htm

(5)

Pengertian Dumping dalam Perdagangan Internasional

Publikasi Jumat, 19 Februari 2016 oleh Achmad Maulidi,

Pengertian Dumping adalah praktek menjual barang di pasar luar negeri dengan

harga yang lebih rendah dari harga di pasar dalam negeri (harga normal). Praktek

dumping dilakukan sejak adanya perdagangan internasional yang merupakan salah satu

 bentuk dari kebijakan diskriminasi harga dalam rangka mengoptimalkan

keuntungannya.

Dengan kebijakan dumping keuntungan akan dioptimalkan karena pasarnya semakin

luas sampai di luar negeri, penumpukan stok barang yang tidak terjual dapat diatasi,

monopoli dalam negeri dapat dipertahankan, dan hal-hal lain yang dapat meningkatkan

keuntungannya.

Dalam makalah yang diterbitkan KADI (Komite Anti Dumping Indonesia) diuraikan

 beberapa alasan eksportir melakukan praktek dumping yakni untuk memperbesar

pangsa pasar ( Market Expansion dumping), menyingkirkan saingan agar dapat

memonopoli pasar ( predatory dumping), melepaskan persediaan karena kelebihan

kapasitas (cycling dumping), dan mendapatkan mata uang asing (state trading

dumping).

(6)

Goods tidak menyatakan praktek dumping sebagai praktek yang tidak sehat / tidak adil

sehingga perlu dilakukan pelarangan atau tidak membolehkan praktek dumping.

 Akan tetapi mereka sepakat untuk melakukan upaya menanggulangi praktek dumping

 yaitu dengan menggunakan instrumen Bea Masuk Anti Dumping, jika efeknya merusak

pasar dan merugikan produsen pesaing di negara pengimpor. Jika tidak mempunyai

efek yang merugikan bagi industri di negara pengimpor maka praktek dumping dengan

sendirinya tidak dapat digolongkan dilarang/tidak dibolehkan.

Dumping dalam Perdagangan Internasional

Dari pengertian dumping di atas maka untuk bisa mengenakan tindakan anti dumping

 berupa pengenaan Bea Masuk Anti Dumping dalam rangka menanggulangi praktek

dumping tersebut harus dipenuhi tiga kriteria yakni:

1. Produk suatu negara yang diekspor dengan dengan harga dumping.

2. Industri dalam negeri negara pengimpor mengalami kerugian (Injury)

3.  Adanya hubungan kausal (causal link) antara barang impor dumping dengan

kerugian (Injury) yang dialami oleh industri dalam negeri pengimpor.

Perdagangan internasional sendiri, berdasarkan buku-buku literatur tentang Ekonomi

Internasional, diperkirakan mulai marak dilakukan sejak abad 18.

Pada periode tersebut Adam Smith (1873) seorang pemikir ekonomi aliran klasik

melahirkan pemikirannya bahwa melalui perdagangan internasional yang bebas dari

campur tangan pemerintah (free trade) maka sumber daya bisa didayagunakan secara

efisien dan dapat memaksimumkan kesejahteraan dunia.

Pemikiran tentang pasar bebas (free trade) tersebut membuat Adam Simth diberi

predikat tokoh yang melahirkan paham pasar bebas. Paham pasar bebas sebagaimana

diketahui menjadi filosofi dasar dari WTO.

Untuk menanggulangi praktek perdagangan internasional yang merugikan negara lain

 yaitu dumping, subsidi dan lonjakan impor, maka negara-negara anggota WTO

menyepakati penggunaan instrumen Bea Masuk Anti Dumping untuk menanggulangi

praktek dumping sebagaimana tertuang pada Article VI of General Agreement on

Tariffs and Trade (GATT) dan Article XVI of GATT (ADA).

Penggunaan instrumen Bea Masuk Imbalan untuk menanggulangi barang impor

mengandung subsidi sebagaimana tertuang pada A greement on Subsidy and

Countervailling Measures (ASCM), dan penggunaan tindakan safeguard untuk

menanggulangi adanya lonjakan impor.

(7)

KASUS 2

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatannya melampaui batas suatu Negara. Banyak cara yang dilakukan untuk dapat berbisnis secara internasional. Mulai dari kegiatan perdagangan/trading (ekspor, subcontracting, counter trade), transfer (turnkey project, licencing, franchising), dan Foreign Direct Investment (joint venture,contract manufacturing, management contract, aliansi bisnis, dll). Karena bisnis ini menjanjikan dengan mampu meraih pasar yang luas, maka bisnis ini juga memiliki risiko yang cukup tinggi karena melibatkan banyak pihak-pihak dengan berbagai kepentingan yang  juga berbeda. Salah satu risiko tersebut dapat berbentuk pencekalan atau penarikkan peredaran

barang di pasar luar negeri seperti kasus yang akan kita bahas di makalah ini. Alangkah baiknya jika kita mampu menganalisis kasus berikut dan mengambil pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

1.2 Tujuan

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas pribadi sebagai salah satu kategori penilaian mata kuliah Bisnis Internasional. Selai n itu, juga bertujuan agar penyusun dapat memahami contoh kasus bisnis internasional serta menganalisisnya dengan baik.

1.3 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah contoh kasus Bisnis Internasional ?

2. Apa analisis dan solusi kasus Bisnis Internasional ?

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Kutipan Kasus

SENIN, 11 OKTOBER 2010 | 11:45 WIB

(8)

TEMPO Interaktif , Taiwan – Dua jaringan supermarket terbesar di Taiwan berhenti menjual produk mi instan merek Indomie setelah pemerintah Taiwan menemukan bahan pengawet yang dilarang di produk asal Indonesia. Pusat Keamanan Makanan Taiwan telah menguji mi tersebut dan bakal menanyakannya terhadap insiden tersebut ke para importir dan distributor. Importir dari Hong Kong mengatakan mi-mi tersebut diperkirakan dibawa ke Thailand secara ilegal. Beberapa warga Taiwan mengatakan mereka akan membeli mi merek la in. Sementara, para tenaga kerja Indonesia di Taiwan mengaku akan tetap memakan Indomie karena rasanya enak dan harganya murah.

Pemerintah Taiwan mengumumkan menarik mi instan Indomie, Jumat. Penarikan itu dilakukan setelah dua bahan pengawet terlarang, methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid, ditemukan di dalam Indomie. Bahan pengawet tersebut hanya dibolehkan untuk kosmetik. Bahan pengawet tersebut dilarang digunakan di makanan-makanan di Taiwan, Kanada, dan Eropa. Jika bahan pengawet tersebut dikonsumsi, bisa menyebabkan orang muntah. Bahkan, kalau bahan pengawet tersebut dimakan untuk jangka waktu yang cukup lama atau dalam jumlah yang banyak, itu bisa menyebabkan metabolic acidosis, sebuah kondisi akibat terlalu banyak mengkonsumsi asam.

Jaringan toko ParknShop dan Wellcome menarik semua produk Indomie dari supermarket-supermarket milik mereka. Importir Indomie di Taiwan, Fok Hing (HK) Trading, mengatakan mi produk Indomie sudah memenuhi standar keamanan makanan di Hong Ko ng maupun Badan Kesehatan Dunia (WHO). Fok Hing (HK) Trading mengutip penilaian kualitas Indomie pada Juni yang menyatakan tidak menemukan kandungan pengawet terlarang di Indomie.

"Mi Indomie aman dimakan dan mereka masuk ke Hong Kong melalui saluran impor resmi," tulis Fok Hing (HK) Trading. "Produk yang mengandung racun dan ditemukan di Taiwan diduga diimpor secara ilegal."

Sebuah supermarket Indonesia di Taiwan, East-Southern Cuisine Express, di Causeway Bay mengatakan bahwa produk Indomie mereka bukan barang selundupan dan aman dimakan. Satu paket berisi lima bungkus Indomie di Taiwan dijual 10 dolar Hong Kong (Rp 11. 500) Sementara, merek lainnya seharga 15 dolar Hong Kong (Rp 17.200) sampai 20 dolar Hong Kong (Rp 23.000). Indomie diminati di Hong Kong setelah sebuah iklan menunjukkan seorang bayi menari dan terbang setelah minum satu mangkuk Indomie.

Sementara itu, produsen Indomie di Indonesia, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), mengatakan produk-produk mereka sudah memenuhi standar internasional. (Baca: Produknya Ditarik di Taiwan, Ini Jawaban Indofood).

"ICBP menegaskan bahwa produk-produknya telah sesuai dengan petunjuk global yang dibuat CODEX Alimentarius Commission, badan standar makanan internasional. Kami sedang mengkaji situasi di Taiwan terkait beberapa laporan tersebut dan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk

(9)

melindungi konsumen kami di negara itu dan negara lainnya," ujar Direktur ICBP Taufik Wiraatmadja dalam siaran pers di situs Indofood, Senin (11/10).

2.1 Analisis Kasus

Kasus ini melibatkan beberapa pemeran bisnis internasional, yaitu pemerintahan Taiwan melalui FDA & DOH (Food and Drugs Administration Department Of Health)-nya, para importir melalui Fok Hing (HK) Trading, dua jaringan distributor dan retailer besar Taiwan melalui ParknShop dan Wellcome, perusahaan asal Indonesia melalui PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan (Marie Elka Pangestu). Masalah utamanya terletak pada temuan dua bahan pengawet terlarang, methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid, yang notabene sangat dilarang untuk pemakaian dalam bahan makanan di negara Taiwan. Tapi, Indofood berdalih bahwa produknya sudah memenuhi standar Internasional yang dibuat oleh badan standar makanan internasional, Codex Alimentarius Commision (CAC). Pembelaan pun datang dari importir resmi Indomie di Taiwan, Fok Hing (HK) Trading, mengatakan bahwa mi produk Indomie sudah memenuhi standar keamanan makanan di Hong Kong maupun Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut saya, masalah ini muncul disebabkan karena kesalahan interpretasi standar Internasional oleh otoritas negara Taiwan, yang memang bukan anggota CAC. Langkah penarikkan peredaran mi tersebut bisa dinilai wajar, karena tugas negara memang harus melindungi r akyatnya/konsumen dari potensi keracunan. Mengingat hubungan perdagangan antara Taiwan-Indonesia selama ini saling menguntungkan, sudah selayaknya segera dilakukan rekonsiliasi antara pihak-pihak terkait. Musyawarah untuk mufakat adalah pilihan yang tepat untuk menemukan titik kesepahaman antara interpretasi otoritas Taiwan dan Indonesia.

Isu-isu yang berkembang seiring adanya dugaan jalur ilegal peredaran mi Indomie harus segera ditanggapi dan diusut. Hal tersebut (mi illegal, red) bisa memperparah citra Indofood yang selama ini dikenal baik oleh warga Taiwan.

Apapun hasil perundingan nantinya, harus ditaati para pihak yang berunding. Dan langkah selanjutnya adalah segera melakukan klarifikasi untuk memberitahu masyarakat tentang hasil perundingan dan akar masalahnya. Upaya itu dapat mereduksi keresahan/kekhawatiran masyarakat terhadap produk Indomie yang ditarik massal sebelumnya.

BAB III PENUTUP

(10)

Berdasarkan apa yang sudah dipaparkan pada makalah ini, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Kasus Indomie di Taiwan melibatkan beberapa pemeran bisnis internasional, yaitu pemerintahan Taiwan melalui FDA & DOH (Food and Drugs Administration Department Of Health)-nya, para importir melalui Fok Hing (HK) Trading, dua jaringan distributor dan retailer besar Taiwan melalui ParknShop dan Wellcome, perusahaan asal Indonesia melalui PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan

2. Masalah utamanya terletak pada temuan dua bahan pengawet terlarang, methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid, yang notabene sangat dilarang untuk pemakaian dalam bahan makanan di negara Taiwan yang bukan anggota CAC. Temuan itu menimbulkan perbedaan interpretasi antara otoritas Taiwan terhadap Indofood yang memakai standar dari CAC.

3. Upaya yang harus dilakukan adalah perundingan untuk menemukan titik kesepahaman standar. Apapun hasil perundingan tersebut, harus ditaati dan dipublikasikan agar menjadi edukasi terhadap masyarakat/konsumen di Taiwan

3.2 Saran

Saran yang dapat saya berikan atas kasus ini adalah sebagai berikut :

1. Calon pelaku bisnis Internasional harus mengkomunikasikan dengan jelas tentang produknya kepada Negara tujuan ekspor. Segala dokumentasi dan standar yang m elekat pada produk dijelaskan dengan baik untuk menghindari kesalahpahaman

2. Akan lebih baik jika perusahaan juga menyesuaikan standar produk internasional yang dianut suatu Negara tujuan, dibandingkan hanya menggunakan satu standar asal saja. Hal ini akan memperkuat keyakinan calon konsumen untuk memakai produk perusahaan tanpa khawatir terjadi masalah di kemudian hari

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tempo.co/read/news/2010/10/11/118283832/Mengandung-Pengawet-Terlarang-Indomie-Ditarik-di-TaiwanKASUS 2

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul "Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar dan Kerja Keras pada Mata Pelajaran IPA Materi Energi Alternatif dengan Model Pembelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ochratoksin A yang diberikan pada mencit bunting selama periode organogenesis menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jumlah sel

Peubah yang diamati ádalah Jumlah buah per tanaman, Rata-rata berat buah, Berat buah per tanaman, Panjang buah, Lingkar buah, Tebal daging buah, Kadar gula terlarut.. Kombinasi 30

Suhu perairan yang cocok untuk kehidupan makroalga yaitu antara 27–30 0 C, sehingga suhu air pada perairan pantai Pulau Dofamuel masih dalam kisaran yang dapat

Dalam penelitian teknik pengumpulan data menggunakan metode Angket.Metodeangketyaitu sejumlah pertanyaan tertulis tentang hal–hal yang diteliti yang digunakan

“Ini bermakna penubuhan muzium adalah untuk menempatkan segala penulisan- penulisan hasil kajian dan rekod-rekod bahan pensejarahan tersebut,” ujarnya pada majlis

Deis dan Groux (1992) dalam Nurul (2015) mengemukakan 4 hal yang memiliki hubungan dengan kualitas audit yaitu: (1) lama waktu auditor melakukan pemeriksaan terhadap suatu

Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji dan membuktikan serta mengetahui pengaruh signifikan faktor intrinsik, gaji, pelatihan profesional, pengakuan profesional, nilai-nilai