• Tidak ada hasil yang ditemukan

رللا

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 169-186)

رم ُه ْها ِد َن ِف ا ْي َم ْن َد ْي َه َت

»

“Ya Allah, berilah saya petunjuk di kalangan orang yang Engkau beri petunjuk.”

Bahwasanya beliau mengeraskannya, dan para makmum semuanya mengatakan: “Amin.” (47)

(47) Abu Fairuz الله هقفو berkata: hadits yang meniadakan itu adalah shahih, diriwayatkan oleh At Tirmidziy (402), Ibnu Majah (1241), Ath Thabariy dalam “Tahdzibul Atsar” (2623), dan Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (2178), semuanya dari Abu Malik Al Asyja’iy yang berkata:

ُق ل ُت ِلأ ي : ِب أ ا ب ِة ِإ ! ن ك د ق ص ل ي ت خ ل ف ِلوسر

ِللها و ،ﷺ أ ب ِب ك و ، ٍر م ُع ر و ، ُع ث ما و ، ن ِلِّ ع

ب ِن أ ِب ط ِلا ه ٍب ُه ن ِب ا لا و ف ُك ن ِة ح ِم ا ًو ن خ ين ِس س ن ًة أ . ُنا ك و ي ا ق ُن ُت و ن ق ؟ لا : ْي َأ ُب َن ري ُْم، َد ث .

Saya berkata kepada ayahku: “Wahai Ayah, sungguh Anda telah shalat di belakang Rasulullah , Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali Bin Abi Thalib di sini di Kufah kurang lebih selama lima puluh tahun.

Apakah mereka itu dahulunya melakukan qunut?” Ayahku menjawab: “Wahai anakku, itu adalah muhdats (perkara yang dibuat-buat).”

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Abdurrazzaq dalam “Mushannaf” beliau (4964), Ahmad dalam

“Musnad” (12657), Ath Thahawiy dalam “Syarhu Ma’anil Atsar”

(1354), Ad Daruquthniy dalam “Sunan” (9-11), dan Al Baihaqiy dalam “Al Kubra” (2926), dari jalur Abu Ja’far Ar Raziy: dari Ar Rabi’

Bin Anas: dari Anas:

( رن َأ رنلا ري ِب َق َن ﷺ َت ْه َش ًر َي ا ُع ْد َع و َل ْي ْم ِه

، رم ُث َت َر ُه. َك َأ رم َف ِف ا هصلا ْب ِح َف ْم َل َي َز ْل َي ْق ُن َح ُت رت َف ى َرا َق

هدلا ْن َي .

“Bahwasanya Nabi berqunut sebulan, mendoakan kecelakaan pada mereka (Bani Lahyan dan lainnya), lalu beliau meninggalkannya. Adapun di waktu subuh maka beliau senantiasa berqunut sampai beliau meninggal dunia.”

Maka sanadnya itu lemah, dan isinya itu mungkar.

Abu Ja’far Ar Raziy adalah Isa Bin Abi Isa Mahan, hapalannya buruk. (Rujuk “Tahdzibut Tahdzib”/12/hal. 59).

Tambahan ini: “Adapun di waktu subuh maka beliau senantiasa berqunut sampai beliau meninggal dunia,”

didatangkan oleh Abu Ja’far Ar Raziy.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hanbaliy الله هللللمللللحر berkata: “Jawaban kami adalah: bahwasanya seluruh hadits-hadits yang lafazhnya terang itu adalah lemah. Adapun empat yang pertama maka rawinya adalah Abu Ja’far Raziy, dan namanya adalah Isa Bin Mahan. Ali Ibnul Madiniy berkata tentangnya: “Dia sering mencampurkan hadits.”

Yahya berkata: “Dia sering keliru.”

Ahmad Bin Hanbal berkata: “Dia bukanlah orang yang kuat dalam hadits.”

Abu Zur’ah berkata: “Dia banyak keliru.”

Ibnu Hibban berkata: “Dia sering menyendiri dengan hadits-hadits mungkar dari para guru yang terkenal.”

(Selesailah penukilan yang diinginkan dari “Tanqihut Tahqiq”/Ibnu Abdil Hadi/4/hal. 3).

Kemudian di sana ada riwayat yang lain:

Dari Amr Bin Ubaid: dari Al Hasan: dari Anas. (Diriwayatkan oleh Ad Daruquthniy no. (12-13) dan Ath Thahawiy dalam “Syarhu Ma’anil Atsar” (1/hal. 243)).

Amr Bin Ubaid adalah Abu Utsman Amr Bin Ubaid Bin Bab Al Mishriy Al Mu’taziliy Al Qadariy, bersamaan dengan kezuhudannya dan ibadahnya. (Rujuk “Mizanul I’tidal”/3/hal. 273).

Akan tetapi riwayat Amr Bin Ubaid dari Al Hasan itu tidak ada harganya karena dia berdusta, dan karena kerasnya tadlis dia terhadap Al Hasan.

Asy Syafi’iy meriwayatkan dari Sufyan yang berkata:

“Sesungguhnya Amr Bin Ubaid pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu dia menjawab di dalamnya dan berkata: “Ini termasuk pendapat Al Hasan.” Maka seseorang berkata kepadanya:

“Sesungguhnya mereka meriwayatkan dari Al Hasan menyelisihi ini.” Dia menjawab: “Aku hanyalah berkata: ini termasuk pendapat Orang Yang Baik.” Yaitu: dirinya sendiri.”

Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Haditsnya jangan ditulis.”

An Nasaiy berkata: “Dia itu matrukul hadits (haditsnya wajib ditinggalkan).”

Ayyub dan Yunus berkata: “Dia itu berdusta.”

Humaid berkata: “Dia sering berdusta atas nama Al Hasan.”

(Rujuk “Mizanul I’tidal”/3/hal. 273-274).

Al Hafizh Al Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hanbaliy الله هللللمللللحر berkata: “Adapun hadits Amr Bin Ubaid, maka Ayyub As Sakhtiyaniy dan Yunus berkata: “Amr itu sering berdusta di dalam hadits.” Ali Ibnul Madiniy berkata: “Dia itu tidak ada apa-apanya.” An Nasaiy

berkata: “Dia itu matruk (wajib ditinggalkan).” (“Tanqihut Tahqiq”/Ibnu Abdil Hadi/4/hal. 3-4).

Maka riwayat Amr Bin Ubaid tidak menambahkan kekuatan sama sekali.

Kemudian di sana ada riwayat yang lain:

Dari Isma’il Al Makkiy: dari Al Hasan: dari Anas.

(Diriwayatkan oleh Ad Daruquthniy no. (14-15)).

Isma’il Al Makkiy adalah Abu Ishaq Isma’il Bin Muslim Al Bashriy, tinggal di Mekkah, karena sering bertetangga dengan Mekkah maka dipanggil sebagai Al Makkiy. Pendapat para huffazh tentangnya berlainan, ada yang melemahkannya dengan keras sampai pada batasan untuk orang ini ditinggalkan, dan ada yang membolehkan hadits dia ditulis sekalipun dia tetap dihukumi lemah. (Rujuk “Tahdzibut Tahdzib”/1/hal. 289).

Maka yang seperti ini haditsnya tidak tegak sebagai hujjah.

Ya memang di sana beberapa riwayat yang menguatkan periwayatan dari Al Hasan dari Anas, dalam bab ini.

Akan tetapi kalaupun itu pasti ada dalam riwayat Al Hasan;

maka bukanlah qunut tadi bermakna doa, akan tetapi bermakna:

ketaatan, kekhusyu’an, tidak mengeraskan suara, panjangnya berdiri, dan sebagainya.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hanbaliy الله هللللمللللحر berkata: “Kalaupun hadits ini shahih, maka dia dibawa kepada

makna: bahwasanya Nabi senantiasa memperpanjang shalat subuh. Itu karena qunut adalah lafazh yang diperserikatkan antara ketaatan, berdiri, diam, kekhusyu’an, dan yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

ِلله اًتِناَق ًةرمُأ َناَك َميِها َرْبِإ رنِإ﴿

:لحنلا[

230

،]

“Sesungguhnya Ibrahim adalah pemimpin yang taat kepada Allah.”

Dan Allah ta’ala berfirman:

َوُه ْنرمَأ﴿

﴾ِلْيرللا َءاَنآ تِناَق :رمزلا[

7 ]

“Ataukah orang yang dia itu berdiri di waktu-waktu malam.”

Dan Allah ta’ala berfirman:

ِلله رنُكنِم ْتُنْقَي نَمَو﴿

﴾ِهِلو ُسَرَو :بازحلأا[ ةي لاا

22

،]

“Dan barangsiapa dari kalian (para istri Nabi –pen) taat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Dan Allah ta’ala berfirman:

يِد ُج ْساَو ِكِّب َرِل يِتُنْقا ُمَي ْرَم اَي﴿

﴾ َيِعِكا ررلا َعَم يِعَكْراَو :نارمع لآ[

52

،]

“Wahai Maryam, patuhlah engkau pada Rabbmu, dan sujudlah, serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.”

Dan Allah ta’ala berfirman:

﴾ َيِتِناَق لله اوُموُقَو﴿

:ةرقبلا[

321

،]

“Dan berdirilah kalian untuk Allah dengan diam, tidak berbicara.”

Dan Allah ta’ala berfirman:

﴾َنوُتِناَق ُهرل ٌّلُك﴿

:ةرقبلا[

224

،]

“Semuanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Dan Nabi ﷺ bersabda:

«

تونقلا لوط ةلَ رصلا لضفأ

» .

“Shalat yang paling utama adalah panjangnya berdiri.”

(Selesai dari “Tanqihut Tahqiq”/Ibnu Abdil Hadi/2/hal. 446-447).

Bagaimana, sementara yang selain Al Hasanul Bashriy dari kalangan para murid Anas هللنع الله يلللللللضر yang tsiqah-tsiqah tidak meriwayatkan tambahan tadi?! Termasuk dari mereka adalah:

1- Ashim Al Ahwal (Riwayat Al Bukhariy (1002) (1300) (4096), dan Muslim (677)).

2- Abu Mijlaz (Riwayat Al Bukhariy (1003) (4094-4095), dan Muslim (677)).

3- Qatadah (Riwayat Al Bukhariy (3064-3065) (4089-4090), dan Muslim (677)).

4- Abdul Aziz (Riwayat Al Bukhariy (4088).

5- Muhammad Bin Sirin (Riwayat Muslim (677)).

6- Anas Bin Sirin (Riwayat Muslim (677)).

7- Musa Bin Anas (Riwayat Muslim (677)).

8- Ishaq Bin Abdillah Bin Abi Thalhah (Riwayat Al Bukhariy (2081) (2814) (4091), dan Muslim (677)).

9- Marwan Al Ashfar (Riwayat Ath Thahawiy dalam “Syarh Ma’anil Atsar” (1355)).

10- Humaid Ath Thawil (Riwayat Ath Thahawiy dalam “Syarh Ma’anil Atsar” (1356) dan Al Baihaqiy dalam “As Sunanul Kubra” (2917)).

11-Hanzhalah As Sadusiy (Riwayat Ath Thahawiy dalam “Syarh Ma’anil Atsar” (1357)).

Dan di sana ada riwayat Dinar Bin Abdillah: dari Anas يضر هنع الله tentang ditetapkannya qunut.

Itu dinukilkan oleh Al Hafizh Ibnul Jauziy هل الله رفغ dari kitab Al Khathib Al Baghdadiy الله هللللمللللحر “Al Qunut”. Al Khathib berkata:

Anbaana Muhammad Bin Ahmad Bin Rizq: anbaana Ahmad Bin Kamil Al Qadhi: haddatsana Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Bin Ghalib: haddatsana Dinar Bin Abdillah pembantu Anas Bin Malik: dari Anas yang berkata:

َم( َز ا َلا ُلوسر

ِللها َي ْق ﷺ ُن ُت َص ِف َلَ

هصلا ِة ْب َح ِح َم ى رت َتا .)

Senantiasa Rasulullah berqunut di dalam shalat subuh sampai beliau meninggal dunia.”

(Selesai dari “At Tahqiq Fi Masailil Khilaf”/Ibnul Jauziy/no. (695)).

Akan tetapi riwayat tadi adalah palsu, dibuat-buat, dan diada-adakan.

Itu karena Dinar Bin Abdillah ini adalah matrukul hadits, mungkarul hadits, dan telah menyelisihi para rawi tsiqah dari murid-murid Anas Bin Malik هنع الله يضر.

Al Hafizh Ibnu Hibban الله هللللمحرberkata tentangnya: “Dia meriwayatkan dari Anas hadits-hadits palsu. Tidak halal menyebutkannya di dalam kitab-kitab, dan tidak halal menulis apa yang dia riwayatkan kecuali dalam bentuk celaan terhadapnya.”

(“Al Majruhin”/Ibnu Hibban/1/hal. 295).

Al Hafizh Abu Nu’aim Al Ashbahaniy الله همحر berkata: “Dinar Bin Abdillah meriwayatkan dari Anas satu naskah yang mungkar semuanya, tidak ada apa-apanya.” (“Adh Dhu’afa”/Al Ashbahaniy/hal. 79).

Al Hafizh Ibnu Adi الله هللللمللحر berkata tentangnya: “Dia itu mungkarul hadits.” (“Al Kamil Fidh Dhu’afa”/3/hal. 109).

Al Hafizh Abu Sa’d As Sam’aniy الله هلللمحر berkata tentang naskah Dinar dari Anas: “Dia adalah naskah yang batil, sedikitpun darinya tidak layak menjadi hujjah.” (“Al Ansab”/As Sam’aniy/4/hal. 282).

Maka dari itu Al Hafizh Al Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hanbaliy الله هلللمحر berkata: “Adapun hadits Dinar; maka disebutkannya dia oleh Al Khathib sebagai hujjah, disertai dengan diamnya dia dari

mencela hadits tadi merupakan suatu sikap kurang rasa malunya menurut para ulama hadits, dan fanatisme yang dingin, serta menunjukkan lemahnya agamanya; karena dia tahu batilnya riwayat tadi.

Abu Hatim Ibnu Hibban berkata: “Dinar meriwayatkan dari Anas hadits-hadits palsu. Tidak halal menyebutkannya di dalam kitab-kitab kecuali dalam bentuk celaan terhadapnya.”

Maka sungguh mengherankan Si Khathib tadi! Apakah dia tidak mendengar hadits shahih dari Rasulullah :

َم« ْن َح َث رد َع َح يِّن ْي ِد َي اًث َر َأ ى ُهرن َك َف ، ب ِذ َو ُه َح َأ ُد ْلا َك َب ِذا ِ ْي

».

“Barangsiapa menyampaikan dariku satu hadits yang dia sendiri memandangnya sebagai kedustaan, maka dia adalah salah satu dari dua pendusta.”

Tidaklah perumpamaan untuknya itu kecuali bagaikan orang yang melariskan barang yang buruk dan menyamarkannya, karena mayoritas manusia tidak mengetahui hadits dusta dan hadits shahih. Dan apabila seorang Muhaddits Hafizh mendatangkan hadits tadi; akan terbentuklah di dalam jiwa orag- orang bahwasanya si Muhaddits tadi tidak berhujjah dengan hadits tersebut kecuali karena hadits tadi shahih.

Akan tetapi fanatisme Al Khathib memang telah diketahui.

Dan barangsiapa dari para ulama hadits yang merenungkan kitabnya yang dia susun dalam masalah Qunut, dan kitabnya yang dia susun dalam masalah mengeraskan bacaan Bismillah, juga

Dan termasuk yang mustahil adalah: bahwasanya Nabi melakukan amalan tadi, namun tidak dinukilkan dari beliau oleh seorangpun dari Sahabat yang kecil maupun yang besar, yang lelaki ataupun yang perempuan sama sekali, padahal beliau tekun terus-menerus menjalankannya dan tidak meluputkannya satu haripun.

masalah mendung, dan berhujjahnya dia dengan hadits-hadits yang dia sendiri tahu betapa sangat lemahnya hadits tadi; si peneliti akan mengetahui parahnya fanatisme Al Khathib.”

(Selesai dari “Tanqihut Tahqiq”/Ibnu Abdil Hadi/2/hal. 442).

Sampai bahkan kalaupun ditetapkan bahwasanya riwayat tambahan tadi memang pasti adanya di dalam hadits Anas الله يضر هللللللنللللللع, maka dia dibawa kepada makna yang telah berlalu penyebutannya, atau bahwasanya Nabi tidak meninggalkan doa tatkala terjadi bencana-bencana.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hanbaliy الله هللللمللللحر berkata: “Kemudian semua hadits tadi dibawa kepada makna bahwasanya Nabi tidak meninggalkan doa tatkala ada bencana- bencana, sementara pembicaraan kita adalah qunut yang di luar bencana.” (Selesai dari “Tanqihut Tahqiq”/Ibnu Abdil Hadi/2/hal.

443).

Pembahasan ini memiliki pelengkap lagi, dari hadits-hadits yang lain. Maka Allah Paling tahu tentang yang benar, dan Dialah Yang memberikan taufik kepada jalan yang paling lurus.

Demikian pula tentang tidak mandinya beliau untuk bermalam di Muzdalifah, dan untuk lempar Jumrah, juga untuk Thawah Ziarah, serta untuk shalat Istisqa dan Gerhana.

Dan dari sini diketahui bahwasanya pendapat yang mengatakan tentang mustahabnya mandi tadi adalah menyelisihi sunnah, karena sikap Nabi yang meninggalkan sesuatu itu merupakan Sunnah, sebagai sikap beliau jika melakukan sesuatu itu merupakan Sunnah (sama-sama wajib dijadikan sebagai teladan –pen).

Maka jika kita memustahabkan mengerjakan perkara yang beliau tinggalkan, maka hal itu adalah seperti kita memustahabkan meninggalkan perkara yang beliau kerjakan, dan tidak ada bedanya.

Kemudian jika ditanyakan: “Dari mana kalian tahu bahwasanya beliau tidak mengerjakannya, sementara tidak adanya penukilan itu tidak mewajibkan dinukilkannya ketiadaan?”

Maka pertanyaan ini jauh sekali dari mengetahui jalan beliau, Sunnah beliau dan keadaan beliau. Seandainya pertanyaan semacam tadi adalah benar dan layak diterima;

niscaya kita akan disuruh untuk memustahabkan adanya adzan untuk shalat Tarawih oleh orang yang memustahabkannya, dan dia berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya adzan Tarawih itu tidak dinukilkan?”

Dan niscaya kita akan disuruh untuk memustahabkan adanya mandi untuk setiap shalat oleh orang lain yang memustahabkannya, dan dia berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya mandi setiap shalat itu tidak dinukilkan?”

Dan niscaya kita akan disuruh untuk memustahabkan adanya panggilan setelah selesai adzan untuk shalat dengan mengatakan: “Yarhamukumullah” sambil mengeraskan suaranya oleh orang lain yang memustahabkannya, dan dia berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya panggilan selesai adzan itu tidak dinukilkan?”

Dan niscaya kita akan disuruh untuk memustahabkan bahwasanya khathib itu memakai pakaian hitam dan kain tertentu untuk diletakkan di pundak, dan dia keluar beserta seorang pengawas yang berseru di hadapannya, lalu para petugas adzan mengeraskan suara mereka setiap kali nama Allah dan nama Rasul-Nya disebutkan secara berjamaah dan sendiri-sendiri, oleh orang lain yang memustahabkannya, dan dia berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya hal itu tidak dinukilkan?”

Dan niscaya kita akan disuruh untuk memustahabkan adanya shalat malam nishfu Sya’ban, atau malam Jum’at pertama dari Rajab oleh orang lain yang memustahabkannya, dan dia berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya menghidupkan malam-malam tadi tidak dinukilkan?”

Dan terbukalah pintu bid’ah, dan setiap orang yang mengajak kepada kebid’ahan akan berkata: “Dari mana kalian tahu bahwasanya amalan ini tidak dinukilkan?”

Dan termasuk di dalam Sunnah Tarkiyyah ini adalah:

Nabi tidak mengambil zakat dari sayuran, dan jenis-jenis labu, dalam keadaan para Sahabat menanam itu di dekat beliau di Madinah, setiap tahunnya. Maka beliau tidak menuntut

mereka membayarkan zakat benda-benda tadi, dan mereka juga tidak membayarkan zakat tadi kepada beliau.”

(Selesailah penukilan dari “I’lamul Muwaqqi’in”/4/hal. 264- 265).

Dan Sunnah Tarkiyyah itu juga terhitung sebagai Sunnah Fi’liyyah juga, karena meninggalkan sesuatu itu juga teranggap sebagai suatu perbuatan, sebagaimana di dalam firman Allah ta’ala:

﴾َنوُلَعْفَي اوُناَك اَم َسْئِبَل ُهوُلَعَف ٍرَكْنُم ْنَع َنْوَهاَنَتَي َلَ اوُناَك﴿

:ةدئالما[

.] 79

“Mereka dahulunya tidak saling mengingkari dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh alangkah buruknya sesuatu yang mereka lakukan itu.”

Al Imam Ibnu Najjar Al Futuhiy Al Hanbaliy الله همحر berkata: “Dan termasuk dari perbuatan juga adalah: amalan hati, dan meninggalkan sesuatu, karena dia itu termasuk menahan jiwa. Dan telah berlalu pembahasan bahwasanya tidak ada pembebanan kecuali dengan perbuatan. Maka jika dinukilkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau itu ingin melakukan sesuatu, jadilah itu Sunnah Fi’liyyah.” (“Kaukabul Munir Syarh Raudhatin Nazhir”/1/hal. 370).

Beliau الله همحر juga berkata: “Dan jika dinukilkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau itu meninggalkan sesuatu, jadilah itu juga Sunnah Fi’liyyah.” (“Kaukabul Munir Syarh Raudhatin Nazhir”/1/hal. 371).

Maka kesimpulan: bahwasanya segala amalan yang tidak disyariatkan oleh Nabi ﷺ padahal faktor yang menuntut dilakukannya amalan tadi ada, dan faktor penghalangnya tidak ada; maka sesungguhnya amalan tadi adalah terlarang, dan jadilah bahayanya itu lebih banyak daripada manfaatnya, baik kita mengetahuinya ataupun kita tidak mengetahuinya.

Syaikhul Islam الله هييمحر berkata: “Dan segala perkara dari ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan padahal faktor yang menuntut dilakukannya amalan tadi ada, tanpa ada penghalang; maka sesungguhnya dia itu termasuk dari perkara yang terlarang.” (“Iqtidhaush Shirathil Mustaqim”/2/hal. 209).

Syaikhul Islam الله همحر berkata: “Adapun perkara yang mana faktor yang menuntut dilakukannya amalan tadi ada, seandainya ada maslahatnya, dan bersamaan dengan itu Nabi tidak mensyariatkannya, maka mengadakan amalan tadi merupakan usaha untuk merubah agama Allah. Dan hanyalah yang masuk ke dalam perbuatan tadi orang yang tertuduh merubah agama, dari kalangan para raja, para ulama dan ahli ibadah, atau orang yang tergelincir dengan ijtihadnya dari kalangan mereka.” (“Iqtidhaush Shirathil Mustaqim”/2/hal. 57).

Maka dengan penjelasan ini menjadi sangat teranglah untuk kita bahwasanya mendirikan ma’had pendidikan wanita dengan cara memisahkan para wanita dari para wali mereka dalam masalah tempat tinggal mereka merupakan Sunnah Tarkiyyah, maka kita tidak boleh untuk melakukannya karena yang demikian itu termasuk membuka pintu kebid’ahan.

Kemudian jika telah jelas untuk kita nash-nash di dalam masalah ini; maka bukanlah penyelisihan seorang alim –atau faqih, atau mufti, atau ustadz dan sebagainya- di dalamnya itu termasuk dari maslaah-masalah ijtihadiyyah, siapapun orang yang menyelisihi tadi.

Maka tidak layak bagi seseorang yang mendakwakan dirinya sebagai Salafiy untuk bersikeras memegang pendapatnya atau pendapat orang yang tidak ma’shum padahal telah jelas bahwasanya Sunnah Tarkiyyah menuntut tidak didirikannya pondok tersebut.

Maka dengan itu batallah ucapan Abdul A’la الله هاده pada halaman (22) saat membela kawan-kawannya: “Bahkan itu karena mereka merasa yakin (atau puas) dengan apa yang mereka pandang benar dengan hujjah-hujjahnya dan bukti-buktinya.”

Maka bagaimana dia berhujjah dengan pendapat orang yang tidak ma’shum di dalam Sunnah Tarkiyyah ini?

Justru yang lebih layak adalah kita mengambil cahaya dari ucapan Al Allamah Ibnu Hazm الله همحر: “...

َو ﴿ َم َك ا َر َنا هب َك َن ًّيا ِس

] :ميرم ةروس [64

.

“Dan Rabbmu sama sekali tidak lupa.”

Sungguh agama ini telah sempurna. Dan hanya milik Allah semata semua pujian. Dan kita tidak memerlukan pendapat Abu Hanifah dan tokoh lainnya. Dan hanya dengan pertolongan Allah ta’ala sajalah taufik itu.”

(Selesai dari “Al Muhalla”/6/hal. 375).

Bab Enam: Termasuk Dari Karakter Ahli

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 169-186)