Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!
dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah)
Tuhanmu, bersabarlah. (Al Muddatsir Ayat1-7) Urgensi Dakwah Kampus
"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran
dan kalian beriman kepada Allah."
(Ali Imran Ayat 110).
Mengapa Kampus?
Dakwah kampus telah bergulir selama 20 tahun lamanya, dan telah memberikan banyak perubahan untuk perbaikan Indonesia. Berbicara tentang dakwah kampus berarti kita membicarakan tentang masa depan bangsa dan perbaikan bangsa. Dakwah kampus inilah yang nantinya akan menjadi salah satu tonggak peradaban masa depan. Membangun peradaban. Ya, itulah yang akan kita lakukan di kampus ini. Saya akan membuka pembahasan ini dengan peran kampus dalam membangun individu yang kuat serta peran sentral dakwah kampus yang identik dengan dakwah mahasiswa.
Dakwah kampus memiliki keunikan tersendiri, dilihat dari sisi objek dakwahnya. Objek dakwah kampus secara sosio-demografis bersifat homogen. Terdiri dari mahasiswa yang berpendidikan, menggunakan logika dalam berpikir, serta terbuka terhadap segala informasi. Menilik juga kemampuan lain mahasiswa untuk melakukan mobilisasi secara horizontal dan vertikal dalam struktur masyarakat. Kesempatan ini bisa digunakan
39
untuk menyebarkan dakwah Islam secara meluas, serta untuk mencitrakan mahasiswa itu sendiri. Dengan demikian masyarakat bisa menilai apakah mahasiswa kini, yang akan memimpin bangsa di masa yang akan dating, adalah orang-orang yang seimbang ilmu akademik dan ilmu agamanya.
Mengapa Mahasiswa?
Mahasiswa memiliki banyak keunggulan lainnya sebagai objek dakwah utama, selain potensi internalnya. Mahasiswa biasanya belum banyak sibuk dengan urusan dunia dan masih banyak berkutat dalam menuntut ilmu. Masa depan mahasiswa yang relatif panjang juga merupakan sebuah kesempatan tersendiri. Seorang mahasiswa saat ini bahkan bisa mendapat gelar sarjana pada usia 20 tahun. Usia yang sangat muda. Mereka juga mempunyai kesempatan hidup yang relatif panjang untuk merubah diri dan masyarakat. Aifat pemuda yang melekat pada mahasiswa pun menjadi kekuatan yang tidak boleh dilupakan.
Sejarah membuktikan bahwa pemudalah yang nantinya akan mengubah bangsa.
Mahasiswa juga selalu dikenal sebagai pihak yang netral, yang selalu memberi tanpa memihak. Secara dinamis mereka bergerak, berkontribusi, dan terus bekerja sesuai naluri memberikan waktu, tenaga, serta pikirannya demi perubahan di lingkungannya. Selain itu mahasiswa juga mampu menjaring kekuatan hingga ke tingkat internasional. Di samping karena jumlah mahasiswa yang cukup banyak, kemajuan teknologi yang dapat mereka manfaatkan kini sangat memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antara mahasiswa beda negara, serta terbentuknya forum-forum aliansi mahasiswa berskala internasional.
Dakwah Kampus bagian integral dari dakwah secara umum Gambar di bawah ini menggambarkan eskalasi perbaikan peradaban, dimulai dari perbaikan individu yang berperan untuk membangun sebuah keluarga. Kumpulan keluarga ini bergabung dalam masyarakat, dan menjadi bagian dalam perbaikan negara. Tahap terakhirnya adalah bagaimana dengan kumpulan negara yang ada dapat dibangun sebuah era baru peradaban dunia. Sedangkan ditinjau dari peran dakwah
40
kampus, dalam tahapan ini, dakwah kampus memiliki peran yang penting dalam perbaikan individu dan masyarakat.
Perbaikan Individu
Individu atau mahasiswa dalam konteks dakwah kampus perlu dibina sejak dini agar sebagai pribadi ia memiliki pemahaman keislaman yang baik. Sebagai seorang pria, ia akan menjadi seorang kepala keluarga yang memimpin keluarganya serta menjadi teladan bagi anak-anaknya. Begitu pula bagi seorang perempuan, ia akan menjadi seorang ibu yang mendidilk putra-putrinya untuk menjadi orang-orang yang berdedikasi terhadap umat.
Selain itu seorang individu juga dituntut untuk mampu mengoptimalkan segala potensinya agar ia dapat menjadi da‘i dimana pun dan kapanpun ia berada. Oleh karena itu seorang kader dakwah yang terlibat dalam dakwah kampus diharapkan mampu memiliki tujuan hidup sejak dini. Dengan menentukan tujuan hidupnya, Ia diharapkan mampu membuat langkah-langkah yang perlu ia tempuh untuk mencapainya. Ia juga diharapkan dapat memikirkan problematika umat yang terjadi, dan menjadi solusi bagi perbaikan umat baik secara parsial maupun integral sesuai dengan potensi yang ia miliki.
Perbaikan Negara
41
Mahasiswa akan terlibat dalam struktur sosial masyarakat dengan bekerja di bidangnya masing-masing setelah lulus. Ada mahasiswa yang nantinya akan berprofesi menjadi seorang dosen, profesional, birokrat, seniman, ataupun profesi lainnya yang berkesempatan memberikan kontribusi dalam perbaikan bangsa. Pada masa pasca kampus, mahasiswa akan memasuki salah satu sektor sosial profesi, yaitu (1) sektor publik yang terdiri dari birokrat, PNS, TNI/Polri, atau diplomat, (2) sektor privat yang biasanya diisi oleh para profesional seperti wirasusahawan, (3) sektor masyarakat yang terdiri dari LSM, social workers, dan yayasan, dan (4) sektor akademik atau perguruan tinggi yang memutar roda perubahan sebuah bangsa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah yang mengisi pos-pos ini, maka secara bertahap mereka akan mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Untuk itu diharapkan agar mahasiswa yang kelak akan menjadi alumni dakwah kampus untuk mampu melakukan kegiatan dakwah secara personal dan profesional pada lingkungan profesi manapun yang ia ambil.
Dengan melihat bahwa mahasiswa berada pada middleclass dalam struktur sosial, terutama dalam aspek pendidikan, tampak bahwa sebenarnya mahasiswa memiliki kesempatan besar dalam gerak dakwahnya.
42
Piramida di atas menggambarkan bahwa kluster pendidikan dari masyarakat Indonesia semakin mengecil seiring dengan kenaikan tingkat pendidikan. Pada piramida di atas, dapat dilihat bahwa hanya sedikit saja bagian dari masyarakat yang mampu meneruskan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Tahapan kampus ini adalah masa peralihan seseorang dari yang masih berstatus pelajar menjadi orang yang mandiri.
Dengan optimalnya perbaikan individu pada mahasiswa, ia diharapkan dapat juga membuat perubahan di lingkungan sosial manapun. Ketika semua perguruan tinggi mampu melakukan perubahan masyarakat kampus secara optimal, maka perbaikan bangsa akan menjadi konsekuensi logisnya. Akan tetapi jika kampus gagal memberikan manfaat bagi mahasiswanya dalam perbaikan diri, maka kegagalan masa depan bangsa tinggal menunggu waktu saja. Ironisnya, memang hasil dakwah kampus terhadap perbaikan bangsa membutuhkan waktu hingga 30 tahun, sehingga kita perlu bersabar terhadap usaha yang kita jalankan ini.
Pemaparan di atas akan saya simpulkan selanjutnya, bahwa dakwah kampus mempunyai urgensi yang sangat besar. Dakwah kampus bukan aktivitas organisasi biasa, ini adalah bagian dari pembangunan peradaban. Dengan demikian Anda perlu serius dalam melaksanakan dakwah di kampus ini. Semakin banyak mahasiswa yang tercerahkan berkat dakwah yang Anda lakukan, maka akan sangat memberikan manfaat untuk perbaikan bangsa ke depan. Untuk itu perlu kiranya kita memahami tujuan dakwah kampus, yakni:
1. Suplai alumni yang berafiliasi terhadap Islam. Bagaimana dakwah kampus mampu mensuplai dan mencetak alumni yang mempunyai afiliasi terhadap Islam? Paramater afiliasi dalam hal ini adalah seseorang tidak menolak kebaikan, menolak kemungkaran, serta tidak menentang ajaran Islam.
2. Transformasi masyarakat menjadi masyarakat madani. Perbaikan masyarakat kampus dengan pembinaan di segala bidang diharapkan dapat membentuk masyarakat yang madani. Untuk membangun masyarakat madani ini di masyarakat luas, kita dapat memulainya dari kampus.
3. Penyedia unsur-unsur perbaikan negara. Dakwah kampus mampu mempersiapkan para mahasiswa untuk masuk ke salah satu dari tiga
43
sektor sosial (publik, swasta, masyarakat). Dalam dakwah kampus, mahasiswa tidak hanya disiapkan kompetensinya, tetapi juga disiapkan pemahamannya dalam berdakwah kepada masyarakat, sehingga perbaikan negara dapat ditunjang dari bawah (bottom-up) yang melibatkan masyarakat dalam perkembangan bangsa ini.
Dengan memahami urgensi dakwah kampus ini, diharapkan setiap aktivis dapat mempunyai gambaran besar tentang dakwah kampus ini.
Dengan berpikir besar ini seseorang akan mempunyai visi masa depan yang akan senantiasa membuat dirinya produktif dan inovatif.
Urgensi dan Lingkup Dakwah Muslimah
―Iman itu 70 cabang lebih atau 60 cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan ―laa ilaaha illallaah‖ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga)
salah satu cabang dari iman.‖ (HR. Muslim).
Sejujurnya jika ditanya pertanyaan ini, saya khawatir tidak dapat menjawab dengan baik, akan tetapi pertanyaan ini beberapa kali ditanyakan kepada saya. Walau memang sebetulnya ada yang lebih berhak untuk menjawab pertanyaan ini, yakni para pemimpin dakwah muslimah di kampus itu sendiri, saya akan mencoba menjawab sejauh pemahaman dan pengalaman serta panduan dari beberapa referensi yang pernah saya baca.
Sesuai yang disabdakan Muhammad Rasulullah bahwa ―Wanita adalah tiang negara!‖, hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya. Seorang penyair bahkan mengatakan, ―Seorang ibu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya‖. Begitu juga, orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan, ―Di balik keberhasilan setiap pembesar, ada wanita!‖
44
Tidak dapat dipungkiri bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang akan meneruskan tongkat estafet peradaban ini.
Tidak heran jika muncul ungkapan, di balik kelembutan seorang wanita, ia bisa mengayunkan buaian di tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya. Namun, kesadaran akan hal tersebut belum dimiliki oleh para perempuan secara umum dan para muslimah khususnya. Untuk itu, dakwah muslimah sebagai bagian dari dakwah semesta memiliki arti penting untuk mengembalikan pemahaman yang benar tentang peran wanita yang sesuai fitrah dan posisinya dalam Islam. Proses perubahan tak akan terjadi seketika tapi dibutuhkan studi yang mapan, terencana, sistematis dan terorganisir secara rapi yang direalisasikan melalui gerakan dakwah yang solid. Karena itu, dakwah muslimah juga harus ditata, dikelola dan diorganisir secara baik dan teratur dengan kepemimpinan yang kokoh dan manajemen yang baik, yang tertuang dalam suatu wadah pergerakan.
Urgensi dari dakwah muslimah sangat diyakini menjadi salah satu bagian penting dalam dakwah. Bahkan seorang bijak mengatakan pembagian porsi dakwah muslimah dengan dakwah keseluruhan, dengan penganalogian jika dakwah itu adalah sebuah lingkaran, maka dakwah muslimah sebesar setengah lingkaran. Pergerakan dakwah muslimah seperti yang kita tahu telah bergulir sejak zaman Nabi Muhammad. Nabi menempatkan istrinya sebagai pemimpin para muslimah. Peran sentral dari muslimah yang juga telah dijelaskan sebelumnya merupakan urgensi yang saya nilai sebagai landasan mendasar mengapa kita perlu menjalankan dakwah khusus muslimah di kampus. Terkait apa peran dari bidang muslimah, khususnya kepala kemuslimahan di sebuah lembaga dakwah. Saya mengamati terdapat tiga peran utama yang bisa dijalankan oleh seorang kepala kemuslimahan.
Wakil ketua lembaga untuk seluruh muslimah. Ia menjadi tangan kanan seorang ketua lembaga. Ketika zaman Rasulullah, Siti Aisyah
45
memerankan peran ini dengan baik. Ia yang memberikan arahan kepada para muslimah, memberikan pembinaan, menyampaikan aspirasi muslimah di syuro dan menjadi panglima dakwah untuk para muslimah itu sendiri. Saya sangat sepakat jika posisi seorang kepala muslimah hanya satu tingkat di bawah seorang kepala lembaga dakwah.
Pemimpin untuk seluruh koordinator akhwat. Jika seorang kepala lembaga mengkoordinir, membina dan memimpin langsung kepala departemen di bawahnya, maka sosok kepala muslimah ini berperan sebagai pengkoordinir, pembina dan pemimpin bagai para koordinator akhwat seluruh departemen. Peran ini diharapkan dapat membuat daya rangkul antara kader pria dan perempuan seimbang.
Sebagai pelakasna bidang dakwah muslimah. Fungsi mendasarnya yang ketiga adalah menjalankan dakwah muslimah itu sendiri, baik itu agenda kaderisasi, syiar maupun jaringan muslimah.
Secara lingkup dakwah, peran muslimah sangat luas dan meliputi seluruh aspek dakwah kampus. Tetapi di sini saya akan menyederhanakannya dalam tiga bidang utama, yakni:
Kaderisasi¸ yang dilakukan khusus untuk para muslimah. Berbagai agenda kaderisasi butuh ditambahkan kepada para muslimah agar dapat menjadi sosok muslimah ideal. Penambahan agenda kaderisasi ini diharapkan dapat membuat para muslimah memahami perannya sebagai individu, anak, istri, ibu dan da‘iyah. Tuntutan peran dalam berbagai bidang kehidupan, baik kehidupan rumah tangga, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan pemerintahan, membutuhkan bekal yang cukup bagi akhwat muslimah untuk menjalankan peran multi dimensi yang ia pikul, dalam rangka mengemban amanah dakwah amar ma‘ruf nahi mungkar. Karena ini, kampus memiliki tanggung jawab berpartisipasi dalam membentuk muslimah shalihah yang syamil dengan kehadiran bidang muslimah pada lembaga dakwah yang melakukan program berupa Pembinaan dan Pengembangan Potensi Muslimah.
Syiar, secara metode variasi syiar muslimah tidak berbeda jauh dengan dakwah pada umumnya, namun mempunyai kekhususan di bidang materi yang akan disampaikan. Karena syiar merupakan bagian dari kaderisasi massal, maka tetap akan mengacu pada pembentukan karakter muslimah yang memahami perannya sebagai individu, anak, istri,
46
ibu, dan da‘iyah. Contoh beberapa materi yang bisa disampaikan antara lain: konsep diri muslimah, kewajiban seorang muslimah, fiqih darah wanita, fiqih thaharah, figur muslimah teladan, urgensi dan peran muslimah dalam dakwah, etika interaksi perempuan dan pria, akhlak seorang muslimah, perawatan diri seorang wanita, career planning, dakwah dan rumah tangga, basic lifeskill bagi muslimah dan muslimah pembelajar.
Jaringan, dalam membangun dakwah kita perlu juga mengembangkan jaringan agar dakwah yang dilakukan lebih kuat dan bermanfaat. Bidang kemuslimahan yang ada diharapkan pula dapat meluaskan jaringannya ke sesama lembaga dakwah lain. Selama lembaga dakwah tersebut masih bertujuan untuk menegakkan Islam, cobalah untuk membangun komunikasi dengan mereka. Untuk lingkup dakwah kampus, saat ini ada jaringan muslimah (JARMUS) FSLDK yang mengoordinasi seluruh bidang kemuslimahan pada seluruh kampus Indonesia yang bernaung di bawah FSLDK.
Untuk mewujudkan dakwah muslimah yang baik dan tepat sasaran diperlukan beberapa langkah. Bidang muslimah di sebuah lembaga dakwah dapat melakukan tiga hal utama sebagai langkah awal. Langkah awal ini diharapkan dapat dijalankan untuk menetralisir segala paradigma tentang muslimah yang salah.
a. Meluruskan paradigma muslimah agar sesuai dengan fitrahnya. Saat ini banyak pandangan yang salah tentang bagaimana sebenarnya seorang muslimah itu, bahkan paradigma tentang perempuan itu sendiri. Ada sebuah pandangan emansipasi wanita secara berlebihan yang membuat peran perempuan sebagai penopang rumah tangga menjadi lemah. Ada pandangan feminisme yang perlu diluruskan dengan koridor Islam. Perlu dijelaskan pula kepada objek dakwah, bahwa Islam tidak memandang perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga, melainkan memiliki peran yang sangat besar.
b. Membudayakan gaya hidup islami kepada para muslimah.
Membudayakan lifestyle yang baik pada muslimah bisa dilakukan melalui dua pendekatan, yakni simbolik dan kebiasaan. Secara simbolik dengan membudayakan penggunan jilbab dan kebiasaan
47
yang baik seperti tutur kata, cara tertawa atau kebiasaan pulang tidak larut malam.
c. Membentuk karakter muslimah yang tawazun. Tawazun ini berarti menyeimbangkan fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah individu. Dapat diupayakan dengan mengajarkan pentingnya keseimbangan peran muslimah sebagai ibu, istri dan anak. Dengan demikian dapat terbentuk sosok muslimah yang memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap perannya.
Paradigma Dakwah Kampus
Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(An Nahl Ayat 125)
Saya akan memapaparkan paradigma untuk memandang apa saja yang berada dalam lingkup dakwah kampus dengan panduan matriks di atas. Secara garis besar ada empat bidang utama yang perlu dipenuhi dalam dakwah kampus, yakni: (1) kaderisasi, (2) syiar dan pelayanan, (3) sosial kemasyarakatan dan (4) akademik dan profesi. Keempat bidang ini perlu dipenuhi secara bersamaan agar dakwah kampus yang dilakukan di kampus Anda dapat berjalan secara optimal.
48
Dakwah kepada mahasiswa memang menjadi sasaran utama dakwah kampus, akan tetapi pada tahap lebih lanjut, dakwah kampus ternyata juga melingkupi keseluruhan civitas akademika pada perguruan tinggi, termasuk masyarakat luas. Peran sentral mahasiswa yang mampu melakukan mobilisasi secara horizontal dan vertikal menjadi alasan utama mengapa dakwah kampus dipandang sebagai dakwah yang berlingkup sangat luas.
Kaderisasi
Pembinaan dan pembentukan seseorang menuju kepribadian Islam adalah lingkup pertama dakwah kampus. Banyak kader yang menganggap lembaga dakwah adalah lembaga kaderisasi. Memang itulah adanya, dan pendapat itu sangat benar. Sebuah lembaga dakwah memang dituntut untuk dapat memberikan asupan ilmu yang cukup bagi kadernya. Dengan berbasiskan profil kader yang diharapkan dapat terbentuk.
Porsi dari kaderisasi dalam sebuah lembaga dakwah sangat besar karena peran kader adalah sebagai sumbu putar bagi roda dakwah.
Semakin solid dan militan seorang kader dakwah, akan berdampak pada lebih kuat dan cepatnya perputaran agenda dakwah yang ada.
Pola pembinaan yang baik akan membentuk manusia unggul.
Manusia yang unggul pun akan dapat memperbaiki pola pembinaan yang ada untuk membentuk manusia lebih unggul lainnya di masa yang akan datang. Berhubung kita juga ingin melihat masa depan dakwah yang lebih cerah dan berkembang, maka kader yang dibentuk ini seharusnya tidak hanya dapat bermanfaat bagi dirinya dan umat di masa kini. Ia juga harus bermanfaat bagi masa depan dirinya dan perbaikan masa depan organisasi dakwah yang membinanya.
Karakter seorang muslim yang ideal bisa menjadi parameter pencapaian proses kaderisasi yang dijalankan. Agenda kaderisasi yang dijalankan dapat berbentuk metode yang variatif dan memiliki koridor kurikulum yang tegas. Basis pembinaan yang dibentuk dalam sebuah Lembaga Dakwah Kampus akan sangat menentukan kemampuan sebuah lembaga dakwah untuk memenuhi lingkup dakwah kampus yang lainnya.
49
Syiar dan Pelayanan
Syiar adalah proses menyampaikan risalah Islam kepada banyak umat manusia. Syiar ini sering pula diartikan sebagai kegiatan menyemarakkan sebuah lingkungan dengan nilai-nilai Islami. Syiar juga bisa diartikan sebagai proses penyampaian pesan kepada objek dakwah.
Sedangkan pelayanan adalah sebuah mekanisme memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang dengan harapan agar ia merasa nyaman dan tenang dalam sebuah lingkungan.
Syiar dan pelayanan yang dilakukan dalam dakwah kampus juga akan berkutat pada definisi yang ada. Maksudnya, syiar Islam yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Kampus diharapkan dapat berperan besar dalam transformasi masyarakat di sebuah kampus. Syiar Islam yang baik adalah ketika syiar tersebut mampu menjadi trendsetter pada sebuah lingkungan. Sebagai contoh, ajakan untuk tilawah rutin di sebuah lingkungan kampus. Parameter keberhasilannya adalah semakin banyak orang dalam lingkungan tersebut yang tilawah serta ada perasaan aneh bagi seseorang dalam lingkungan tersebut jika ia tidak rutin melakukan tilawah. Syiar berperan juga sebagai alat propaganda nilai dan corong opini. Harapannya memang agar syiar yang dilakukan dapat mencerahkan sebanyak mungkin objek dakwah sehingga semakin banyak objek dakwah yang bersedia mendalami Islam lebih lanjut.
Pelayanan dalam bahasa dakwah berarti mencoba memberikan sebuah jasa dengan harapan mendapatkan kepercayaan dari objek dakwah. Bentuk pelayanan di kampus sangat banyak—saya akan memebri contoh yang sederhana—seperti: (1) jadwal imsakiyah, (2) informasi beasiswa, (3) konsultasi karir masa depan, dan (4) pelatihan entrepreneurship. Empat contoh sederhana ini adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai objek dakwah kita.
Memang terkadang pelayanan yang diberikan tidak berhubungan langsung dengan transfer nilai Islam, tetapi meraih kepercayaan objek dakwah adalah sebuah langkah penting yang perlu ditempuh untuk mendapatkan simpati objek dakwah. Ketika seseorang merasa terlayani kebutuhannya oleh lembaga dakwah, bisa jadi ia tercerahkan untuk menghadiri agenda dakwah yang dilakukan.
50
Akademik dan Profesi
Dakwah kampus juga perlu memikirkan kompetensi akademik kader.
Hal ini karena berhubungan langsung dengan tujuan dakwah kampus, yaitu penyuplai alumni yang berafiliasi terhadap Islam. Tentu saja alumni yang akan disuplai bukanlah alumni yang tidak kompeten. Tidak cukup jika ia hanya memiliki afiliasi terhadap Islam. Ia diharapkan juga memiliki kelebihan kompetensi yang memungkinkan dirinya berkontribusi bagi masyarakat. Kompetensi inilah yang perlu ditempa oleh dakwah kampus terhadap kader dan simpatisannya. Pemberian tutorial pelajaran, penjagaan IPK kader, bimbingan karir sejak tingkat 2, persiapan pasca- kampus sejak awal tingkat 4 adalah contoh bentuk aplikasi dari lingkup kompetensi akademik ini.
Selain itu kader dan simpatisan juga dapat diarahkan untuk berkompetisi dalam perlombaan akademik yang ada. Keberhasilan mereka dalam perlombaan akan berdampak pada positifnya citra dari dakwah itu sendiri.
Bagi kampus yang sudah lama bergulir dakwahnya, maka dakwah ke dosen juga bisa menjadi salah satu tujuan. Dengan adanya dosen yang berpengaruh dan mendukung dakwah kampus, akan memberikan keutungan tersendiri bagi dakwah yang Kita lakukan.
Sosial Kemasyarakatan
Dakwah kampus juga harus melatih kadernya untuk peduli kepada masyarakat. Kepedulian ini tidak hanya dalam bentuk bakti sosial yang aksidental, akan tetapi tetap berada pada jalur perjuangan mahasiswa yang selalu bersama rakyat. Perjuangan ini bisa dalam bentuk yang lebih real dan kontinyu, seperti rumah belajar untuk anak miskin, pusat keterampilan kerja, Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) atau koperasi simpan pinjam untuk membantu modal masyarakat dalam berusaha. Lembaga Dakwah juga bisa menjadi corong opini atas keresahan masyarakat, seperti menanggapi isu pornografi, aliran sesat, perjudian, dan isu moral lainnya. Dakwah kampus diharapkan dapat berperan untuk memenuhi peran ini dengan baik. Jangan sampai dakwah kampus hanya berkutat pada permasalahan internal yang tidak kunjung selesai. Keterlibatan