Beberapa kampus yang pernah saya kunjungi relatif punya cara tersendiri dalam mengaplikasikan hijab dalam sebuah rapat. Ada yang membatasi pria dan perempuan dengan batas permanen seperti tembok, ada yang membedakan ruangan, ada yang dalam bentuk papan setinggi dua meter, ada pula yang cukup dengan memberikan jarak 2 meter antara ikhwan dan akhwat. Semua tergantung kebutuhan dan budaya di masing-masing kampus. Bagaimanapun bentuk hijab-nya, ada beberapa hal yang perlu dipenuhi, yakni:
1. Jelasnya perkataan setiap anggota rapat.
2. Tidak membuat ikhwan dan akhwat terkesan rapat sendiri.
3. Pemimpin rapat bisa melihat semua peserta rapat (ikhwan dan akhwat).
4. Kondisi peserta harus tetap kondusif, jangan sampai karena terpisah oleh tembok atau papan besar membuat peserta rapat tidur-tiduran karena tidak tampak oleh lawan jenis.
5. Ada media penghubung informasi yang bisa dilihat oleh semua peserta, seperti papan tulis, agar tidak terjadi assymetric information 6. Tidak menimbulkan kesan ‗angker‘ atau eksklusif bagi orang selain
kader yang melihat proses rapat Proses Komunikasi yang Efisien
Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefisienkan sedemikan rupa agar tidak terjadi fitnah yang mungkin muncul. Saya akan mengambil contoh SMS seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokkan waktu untuk rapat.
Versi 1
Ikhwan : Assalamu‘alaikum ukhti, bagaimana kabarnya? Hasil UAS sudah ada?
Akhwat : Wa‘alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do‘a akhie juga, hehehe, UAS belum nih. Uhh, deg-degan nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah!!
75
Ikhwan : Iya insya Allah didoakan. Oh ya ukhti, kira-kira kapan yah bisa rapat untuk bahas tentang acara?
Akhwat : Hmhmhm... Kapan yah? Akhie bisanya kapan? Kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa
Ikhwan : Okay, besok sore aja dech. Ba‘da ashar di koridor timur masjid. Jarkomin akhwat yang lain yah
Akhwat : Siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum Ikhwan : Sip sip, makasih yahukhti, GANBATTE!! Wassalamu‘alaikum Akhwat : Wa‘alaikum salam.
Versi 2
Ikhwan : Assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa? Untuk bahas acara
Akhwat : Afwan, kebetulan ada quis, gimanakalo besok siang aja? Ikhwan : Insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur
masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu‘alaikum.
Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar‘i. Pada versi 1 kita melihat sebuah percapakan singkat via SMS antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit lebai (baca: berlebihan), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efisien dan ‗secukupnya‘.
Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis ) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalisir kesempatan khilaf.
Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia-sia.
76
Selain itu perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat bekerja bersama dalam waktu dan tempat yang sama pula. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama-sama melakukan sebuah aktivitas. Contohnya ikhwan dan akhwat bersama-sama menimbang gula; ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik. Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi karena memungkinkan adanya kesempatanuntuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal-hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos ini, bisa saja menjadi ikhwan bekerja di bagian pengepakkan beras dan gula, sedangkan akhwat bekerja di bagian pengepakkan susu dan minyak.
Regulasi tidak tertulis
Sebaiknya diadakan regulasi tidak tertulis, atau mungkin bisa tertulis jika memang cocok dengan budaya di LDK masing-masing. Namun demikian saya merekomendasikan kepada Anda agar regulasi terkait hubungan ikhwan dan akhwat bersifat tidak tertulis saja. Regulasi ini adalah ketentuan yang ‗memaksa‘ para kader untuk mengikutinya. Bentuk sangsi yang diberikan berupa sangsi moral saja. Bentuk regulasi ini seperti etika ketika rapat yang bisa dimaktubkan dalam mekanisme rapat. Salah satu contohnya dengan membuat beberapa ketentuan rapat, yakni terkait posisi dan waktu rapat yang diperbolehkan, seperti hijab dengan jarak 2-3 meter antara ikhwan dan akhwat, rapat antara ikhwan dan akhwat tidak boleh dilakukan setelah maghrib, dan sebagainya. Regulasi lainnya terkait pembatasan hubungan ikhwan akhwat melalui pertemuan tatap muka, SMS, maupun telepon di atas pukul 21.00 hingga subuh, kecuali dalam keadaan darurat, dan lain-lain.
Bentuk dan penerapan regulasi ini perlu disesuaikan dengan kondisi kader di lembaga dakwah. Saya memang sedikit moderat terkait hal ini.
Para kader baru yang jumlahnya semakin membludak memang butuh waktu untuk memahami persoalan ini, jadi setidaknya masih bisa
77
dimaklumi, akan tetapi bagi kader inti tentunya harus diterapkan ketentuan khusus.
Pemanfaatan media terbuka bersama
Media bersama yang dimaksud ini seperti mailing list (milis), papan komunikasi (pakom), yahoo! conference, dan lainnya. Media ini bersifat terbuka, bisa digunakan dan diakses bersama sehingga pembicaraan yang dilakukan akan seputar pada inti permasalahan. Sebutlah pembicaraan pemimpin ikhwan dan akhwat seputar IP kader. Dengan media terbuka bersama ini akan membuat mereka dapat membahas hanya tentang IP kader dan solusinya. Akan tetapi jika pembicaraan tanpa media pembatasnya, maka bisa jadi pembicaraan antara dua pemimpin ini menjadi curhatmasalah IP mereka masing-masing.
Penyesuaian dengan iklim Lembaga Dakwah
Dari semua kebijakan dan tata etika komunikasi ikhwan dan akhwat ini diperlukan adanya kebijaksanaan dari pihak pemimpin untuk menyesuaikannya dengan kondisi masa kampus dan kader di lembaga dakwah. Jangan sampai komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat justru membuat objek dakwah menjadi takut untuk bergabung bersama kita. Ini justru memunculkan demarketisasi dari lembaga dakwah kita. Kebijakan yang diterapkan di kampus kami memang moderat dan tidak terlalu rigid terkait hal ini. Pertimbangan yang dilakukan mengingat LDK di kampus sedang membangun pendekatan dan kepercayaan secara masif kepada objek dakwah. Hal ini memang sedikit menuntut kami menjadi moderat akan beberapa hal yang bisa ditolerir. Seperti rapat yang tanpa hijab fisik, lalu ikhwan dan akhwat jika bertemu tidak selamanya harus saling membelakangi, cukup tidak bertatapan, dan lain-lain.
Memang ini menjadi tantangan tersendiri untuk memastikan kemoderatan ini tidak berdampak pada rusaknya keberkahan dakwah, akan tetapi kami berhasil membangun image bahwa Lembaga Dakwah tidak angkerdan eksklusif.