ا ًري ِرَطْمَق
I. Adab dan Etika Petugas Zakat (Amil)
Petugas zakat adalah wakil pemimpin dalam menunaikan dan mengelola kewajiban zakat, oleh karena itu harus membekali diri dengan adab dan sopan santun agar para calon muzaki tidak takut dan menjauh. Begitu juga agar para mustahik zakat merasa nyaman dengan keberadaannya.
Berikut beberapa adab dan tatakrama yang diajarkan Islam kepada para petugas zakat.
1) Bersikap amanah, jujur dan profesional
Seorang petugas yang mengambil dan mengelola zakat hendaknya amanah, jujur dan professional, agar pengelolaan zakat bisa berjalan baik dan berdampak besar dalam ekonomi umat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. an-Nisa ayat ke 58;
ْلاِب اوُمُكْحَت نَأ ِساَّنلا َنْيَب مُتْمَكَح اَذِإ َو اَهِلْهَأ َٰىَلِإ ِتاَناَمَ ْلأا اوُّدَؤُت نَأ ْمُك ُرُمْأَي َهَّللا َّنِإ َّنِإ ِلْدَع
ا ًري ِصَب اًعيِمَس َناَك َهَّللا َّنِإ ِهِب مُكُظِعَي اَّمِعِن َهَّللا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
2) Murah senyum dan tidak berlaku dzalim dalam melaksanakan tugas
Petugas zakat bukan untuk menakut-nakuti orang kaya, tapi menyadarkan mereka dalam pembayaran zakat. Sebagaimana petugas zakat adalah orang yang selalu berinteraksi dengan kaum dhuafa yang hidup dalam kesulitan. Oleh karena itu hendaknya petugas zakat berlaku murah
90 Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, Fiqhul Islam wa Adillatuhu ,jil 3,hlm. 1995
senyum dan menemui para muzaki dan mustahik dengan wajah berseri. Rasulullah saw Dalam sebuah hadis, Jarir meriwayatkan:
ِهَّللا ِدْبَع ِنْب ِري ِرَج ْنَع َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ِلوُس َر ىَلِإ ِبا َرْعَ ْلأا ْنِم ٌساَن َءاَج َلاَق
ْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُس َر َلاَقَف َلاَق اَنَنوُمِلْظَيَف اَنَنوُتْأَي َنيِقِ دَصُمْلا ْنِم اًساَن َّنِإ اوُلاَقَف َمَّلَس َو ِه
َق ْمُكيِقِ دَصُم اوُض ْرَأ ىَّلَص ِهَّللا ِلوُس َر ْنِم اَذَه ُتْعِمَس ُذْنُم ٌقِ دَصُم يِ نَع َرَدَص اَم ٌري ِرَج َلا
ٍضا َر يِ نَع َوُه َو َّلَِإ َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهَّللا
Dari Jarir bin Abdullah ia berkata; Beberapa orang Arab kampung datang mengadu Rasulullah saw. Mereka berkata, “Beberapa petugas zakat mendatangi kami, lalu mereka bertindak aniaya terhadap kami.” Rasulullah saw berkata (kepada para petugas zakat): “Jadikan para pembayar zakat ridha.” Jarir berkata,
“Aku tidak pernah lagi mendengar para petugas zakat pulang semenjak saya mendengar ini dari Rasulullah saw. melainkan dia ridha kepadaku”. (HR. Muslim.
Hadis nomor 989).
Imam al-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa kedzaliman yang dalam hadis itu bukan kedzaliman yang tidak sampai menjadikan pelakunya fasiq,. Kedzaliman terkadang masih dibawah kemaksiatan, karena kedzaliman adalah melampaui batas yang termasuk didalamnya perkara yang dimakruhkan. Al-Nawawi mendasarkan pendapatnya ini dengan realita bahwa para petugas zakat tersebut tidak dipecat, andai kedzaliman yang diadukan tersebut merupakan kemaksiatan tentu dipecat oleh Rasulullah saw.91
3). Mengambil zakat dari setiap harta yang bernilai sedang
Zakat bukan berupa harta yang bagus, demi hak dan kepentingan pemilik harta. Bukan pula yang jelek, demi hak dan kepentingan fakir miskin serta ahli zakat lainnya. Oleh karena itu, pemilik zakat tidak boleh mengeluarkan yang jelek dan petugas zakat pun tidak boleh memungut yang bagus. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini di antaranya hadits Ibn ‘Abbas yang menyebutkan kisah Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman. Beliau bersabda kepadanya:
ٌباَج ِح ِهللا َنْيَب َو ُهَنْيَب َسْيَل ُهَّنِإَف ، ِموُلْظَمْلا َة َوْعَد ِقَّتا َو ْمِهِلا َوْمَأ َمِئاَرَك َو َكاَّيِإَف
“Berhati-hatilah, jangan sampai engkau mengambil harta mereka yang istimewa.
Jagalah dirimu dari doa pihak yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dan Allah (untuk dikabulkan).” (Muttafaqun ‘alaih)
Berdasarkan dalil-dalil ini, zakat yang wajib dibayarkan adalah yang bernilai sedang, bukan yang jelek dan bukan pula yang bagus. Harta sendiri dikelompokkan menjadi tiga bagian: sepertiga yang
91 Muhyi al-Din bin Sharaf al-Nawawi, Sahih Muslim Bisharh al-Nawawi, Vol. 4 ( Kairo: Dar al-Fajr li al-Turath, 1999), 93
bagus, sepertiga yang sedang, dan sepertiga yang jelek. Zakat dikeluarkan dari sepertiga yang sedang itu. Namun, jika pemilik harta secara sukarela menyerahkan yang terbaik dari hartanya, zakat itu sah dan pahalanya lebih besar, karena hal itu adalah haknya dan dia rela menyerahkannya.
4). Tidak menfungsikan harta zakat kecuali sesuai dengan ketentuan syare’at.
Zakat merupakan kewajiban yang sudah ada aturannya dalam syareat, baik pembayaran maupun pendistribusiannya. Oleh karena itu, petugas zakat tidak boleh menfungsikan atau menyalurkan harta zakat kecuali sesuai dengan aturan syareat. Firman-Nya dalam QS. at-Taubah: 60
ا اَمَّنِإ ِم ِراَغْلا َو ِباَق ِ رلا يِف َو ْمُهُبوُلُق ِةَفَّلَؤُمْلا َو اَهْيَلَع َنيِلِماَعْلا َو ِنيِكاَسَمْلا َو ِءا َرَقُفْلِل ُتاَقَدَّصل َني
ٌميِكَح ٌميِلَع ُهَّللا َو ِهَّللا َنِم ًةَضي ِرَف ِليِبَّسلا ِنْبا َو ِهَّللا ِليِبَس يِف َو
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
5) Mendoakan para muzakki
Petugas zakat (amil) merupakan perantara antara muzaki dan mustahik zakat. Ketika mengambil zakat dari para orang kaya hendaknya mendoakan mereka. Sebagaimana firman Allah dalam QS.
At-Taubah:103
ُهَّللا َو ْمُهَل ٌنَكَس َكَت َلََص َّنِإ ْمِهْيَلَع ِ لَص َو اَهِب ْمِهيِ ك َزُت َو ْمُه ُرِ هَطُت ًةَقَدَص ْمِهِلا َوْمَأ ْنِم ْذُخ ٌعيِمَس
ٌميِلَع
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dalam ayat di atas, diperintahkan kepada para pengambil zakat (petugas zakat) untuk mendoakan muzaki. Ulama berbeda pendapat dalam masalah perintah mendoakan ini, apakah wajib atau sunnah. Menurut madzhab Syafii dan Dhahiri, petugas zakat wajib mendoakan muzaki, sedang ulama’ yang lainnya mengatakan bahwa perintah tersebut tidak sapai kepada derajat wajib, namun hanya sunnah saja.92
Doa ini tidak dibatasi dengan lafaz-lafaz tertentu, tetapi semua doa yang berisi kebaikan kepada muzaki dibolehkan. Namun ada beberapa redaksi doa petugas zakat yang ma’thur dari Rasulullah saw adalah sebagaimana dalam hadis-hadis berikut:
92 Yusuf al-Qardhawi, Fiqh zakah, Vol. 2, 844
َقَدَصِب ٌم ْوَق ُهاَتَأ اَذِإ َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ُّيِبَّنلا َناَك َلاَق ىَف ْوَأ يِبَأ ِنْب ِهَّللا ِدْبَع ْنَع َلاَق ْمِهِت
َص َّمُهَّللا َلاَقَف ِهِتَقَدَصِب يِبَأ ُهاَتَأَف ٍن َلَُف ِلآ ىَلَع ِ لَص َّمُهَّللا ىَف ْوَأ يِبَأ ِلآ ىَلَع ِ ل
Dari ‘Abdullah bin Abi Aufaa berkata; adalah Nabi saw. apabila suatu kaum datang kepadanya dengan membawa shadaqah mereka, Beliau mendo’akannya:
“Allahumma shalli ‘alaa aali fulan” (Ya Allah berilah rahmat kepada keluarga fulan”). Maka ayahku mendatangi Beliau dengan membawa zakatnya. maka Beliau mendo’akanya: “Allahumma shalli ‘alaa aalii Abi Aufaa”. (Ya Allah, berilah rahmat kepada keluarga Abi Aufaa”).(HR. Bukhari hadis nomor 1497 dan Imam Ahmad hadis nomor 19416).
Dalam hadis lain terdapat doa yang diucapkan pada saat menerima zakat, yaitu: