• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Bivariat

Dalam dokumen hubungan tingkat kecemasan berdasarkan (Halaman 64-70)

BAB V HASIL PENELITIAN

2. Analisa Bivariat

4 Berat 0 0

5 Sangat Berat 0 0

Total 42 100

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukan bahwa kecemasan ibu hamil terbanyak memiliki kecemasan ringan 47,6%.

<20 1 2,4 0 0 1 2,4 4.8%

20-35 9 21,4 20 47,6 11 26,2 95.2%

Total 10 23,8 20 47,6 12 28,6 100%

Berdasarkan hasil tabel 5.7 dapat dlihat bahwa responden dengan usia

<20 tahun mengalami kecemasan normal sebanyak 2,4%, responden dengan usia 20-35 tahun sebanyak 26,2% mengalami kecemasan sedang.

Dari hasil analisa spearman rho didapatkan bahwa p value sebesar 0.950 dimana (P >0,05) tidak terdapat hubunga antara usia dengan tingkat kecemasan. Selain itu hasil analisa spearman rho juga meunjukkan angka korelasi sebesar 0.010 yang artinya korelasi itu sangat rendah sehingga dianggap tidak ada.

Tabel 5.8

Distribusi Tingkat Kecemasan Berdasarkan Status Perkawinan Ibu Hamil Primigravida Trimester

III Status

Perkawinan

Tingkat Kecemasan Total P Value

R

Normal Ringan Sedang

N % N % N %

Menikah 10 23,8 20 47,6 12 28,6 100%

Total 10 23,8 20 47,6 12 28,6 100%

Berdasarkan hasil tabel 5.8 dapat dlihat bahwa responden dengan status perkawinan menikah mengalami kecemasan sedang sebanyak 28,6%.

Tabel 5.9

Distribusi tingkat kecemasan berdasarkan pendidikan ibu hamil primigravida trimester III

Pendidikan Tingkat Kecemasan Total P

Value R

Normal Ringan Sedang 0.513 0.104

N % N % N %

Tamatan SD

0 0 0 0 1 2,4 2.4%

Tamatan SLTP

4 9,5 7 16,7 2 4,8 31%

Tamatan SLTA

5 11,9 11 26,2 7 16,7 54.8%

Perguruan Tinggi

1 2,4 2 4,8 2 4,8 11.9%

Total 10 23,8 20 47,6 12 28,6 100.0%

Berdasarkan hasil tabel 5.9 dapat dlihat bahwa responden dengan pendidikan tamatan SLTP mengalami kecemasan normal sebanyak 9,5%, responden dengan pendidikan perguruan tinggi mengalami kecemasan sedang sebanyak 4,8%.

Dari hasil analisa spearman rho didapatkan bahwa p value sebesar 0.513 dimana (P >0,05) tidak terdapat hubunga antara pendidikan dengan tingkat kecemasan. Selain itu hasil analisa spearman rho juga menunjukkan angka korelasi sebesar 0.104 yang artinya korelasi itu sangat rendah sehingga dianggap tidak ada.

Tabel 5.10

Distribusi tingkat kecemasan berdasarkan pekerjaan ibu hamil primigravida trimester III

Pekerjaan Tingkat Kecemasan Total P

Value R

Normal Ringan Sedang 0.233 -0.188

N % N % N %

IRT 6 14.3 15 35.7 10 23.8 73.8%

PNS 1 2.4 1 2.4 0 0.0 4.8%

Karyawan Swatsa

2 4.8 4 9.5 2 4.8 19.0%

Wiraswasta/

pedagang

1 2.4 0 0.0 0 0.0 2.4%

Total 10 23.8 20 47.6 12 28.6 100.0

Berdasarkan hasil tabel 5.10 dapat dlihat bahwa responden dengan pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT) mengalami kecemasan sedang 23,8%%, responden dengan pekerjaan karyawan swasta megalami kecemasan normal sebanyak 2,4%,

Dari hasil analisa spearman rho didapatkan bahwa p value sebesar 0.233 dimana (P >0,05) tidak terdapat hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan. Selain itu hasil analisa spearman rho juga menunjukkan angka korelasi sebesar -0.188 yang artinya korelasi itu sangat rendah sehingga dianggap tidak ada.

Tabel 5.11

Distribusi tingkat kecemasan berdasarkan penghasilan ibu hamil primigravida trimester III

Penghasilan Tingkat Kecemasan Total P

Value r

Normal Ringan Sedang 0.815 -0.037

N % N % N %

500.000- 1.000.000

1 2.4 4 9.5 2 4.8 16.7%

>1.000.000- 3.000.000

4 9,5 10 23.8 5 11.9 45.2%

> 3.000.000- 5.000.000

5 11,9 6 14.3 4 9.5 35.7%

>5.000.000 0 0.0 0 0 1 2.4 2.4%

Total 10 23,8 20 47,6 12 28,6 100.0%

Berdasarkan hasil tabel 5.11 dapat dlihat bahwa responden dengan penghasilan 500.000-1.000.000 mengalami kecemasan normal 2,4%,

responden dengan penghasilan >1.000.000-3.000.000 mengalami kecemasan sedang sebanyak 11,9%.

Dari hasil analisa spearman rho didapatkan bahwa p value sebesar 0.815 dimana (P >0,05) tidak terdapat hubungan antara penghasilan dengan tingkat kecemasan. Selain itu hasil analisa spearman rho juga menunjukkan angka korelasi sebesar -0.037 yang artinya korelasi itu sangat rendah sehingga dianggap tidak ada.

52 BAB VI PEMBAHASAN

Bab ini merupakan pembahasan dari hasil penelitian tentang hubungan tigkat kecemasan berdasarkan karakteristik demografi pada ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur. Pengambilan data dilakukan 8 April – 8 Mei 2019 di Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur. Responden dalam penelitian ini yaitu ibu hamil primigravida trimester III.

6.1 Analisa Univariat

Dalam penelitian ini analisa univariat digunakan untuk menggambarkan hasil distribusi frekuensi pada masing-masing variabel yaitu karakteristik demografi dan tingkat kecemasan.

6.1.1 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Usia

Hasil penelitian ini mendapatkan 95,2% ibu hamil primigravida trimester III yang berusia 20-35 tahun. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Handayani (2015), yaitu responden dengan usia tidak beresiko sebanyak 87,5%. Penelitian yang dilakukan oleh Yonne (2009) menunjukkan responden dengan usia tidak beresiko yaitu 84,2%. Penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2013) didapatkan responden dengan usia tidak beresiko sebanyak 85,7%. Penelitian yang dilakukan oleh Yonne (2009) didapatkan hasil usia tidak beresiko sebesar 84,2% dan usia beresiko sebesar 15,8%. Penelitian yang dilakukan oleh Alibasjah (2014) didapatkan hasil bahwa usia tidak beresiko masih mendominasi dibandingkan usia beresiko dengan nilai usia tidak beresiko 55,2%

dan usia beresiko 44,8%.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan ibu hamil trimester III menjelang proses persalinan diantaranya yaitu usia, paritas, pendidikan, dan dukungan keluarga atau suami. Susanti (2008) menyatakan, bahwa usia ibu < 20 tahun dan ≥ 35 akan memberikan dampak terhadap perasaan takut dan cemas menjelang proses persalinan. Karena apabila ibu hamil pada usia tersebut, kehamilannya termasuk dalam kategori kehamilan berisiko tinggi dan seorang ibu yang berusia lebih lanjut akan berpotensi tinggi untuk melahirkan bayi cacat lahir.

Usia yang aman untuk kehamilan dikenal juga dengan istilah reproduksi sehat yaitu dan antara 20 hingga 35 tahun, dikatakan aman karna kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada rentang usia tersebut ternyata 2 sampai 5 kali lebih rendah daripada kematian maternal yang terjadi di rentang usia kurang dari 20 atau pun lebih dari 35 (Prawirohardjo, 2012). Usia ibu saat hamil sangat berkaitan erat dengan kesiapan rahim ibu, psikis ibu, dan juga kesehatan ibu maupun bayi yang dikandung (Setyaningrum, 2013). Wiknjosastro (2005) menyatakan di rentang usia 20 – 35 tahun ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan, mental pun siap untuk merawat dan menjaga kehamilannya secara hati- hati.

Penelitian-penelitian diatas sesuai dengan konsep teori, dapat disimpulkan bahwa usia yang optimal bagi seorang ibu hamil adalah usia 20-35 tahun karena pada usia tersebut rahim matang dan mampu menerima kehamilan baik ditinjau dari segi psikologi dan fisik. Usia 20-35 tahun merupakan usia yang dianggap aman untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Karena pada usia <20 tahun kondisi fisik terutama organ reproduksi dan psikologis belum sepenuhnya siap menjalani masa kehamilan dan persalinan. Sedangkan usia <35 tahun merupakan

keadaan yang dikategorikan dalam resiko tinggi terhadap kelainan bawaan serta adanya penyulit selama masa kehamilan dan persalinan.

6.1.2 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Status Perkawinan Hasil penelitian ini mendapatkan 100% ibu hamil primigravida trimester III yang menikah. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Frincia (2018) didapatkan responden dengan status perkawinan menikah sebanyak 90,6%.

Kehamilan yang terjadi sebelum pernikahan akan menyebabkan seseorang merasa bersalah, sehingga ia sulit menerima kehamilannya. Hal ini akan menambah perasaan cemas dalam menghadapi persalinan bayinya. Sebaliknya, kehamilan yang terjadi setelah pernikahan pada umumnya merupakan kehamilan yang dikehendaki oleh pasangan suami dan istri, sehingga ibu hamil mempunyai persepsi positif terhadap kehamilan dan persalinannya (Kusumajati, 2012).

Spielberger (1982) menyatakan, kehamilan dari anak yang tidak dikehendaki; adanya penolakan terhadap anak yang dikandung karena kehamilan yang tidak direncanakan akan berpengaruh terhadap perlakuan dan emosi ibu selama hamil. Kehamilan dari anak tidak sah atau anak diluar nikah; adanya penolakan terhadap bayi dalam kandungan karena rasa malu terhadap anak tidak sah akan mempengaruhi emosi ibu hamil dan menimbulkan kecemasan- kecemasan tertentu.

Hasil penelitian ini mendapatkan 0% responden yang memiliki status perkawinan tidak menikah. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Adewuya (2007) responden dengan status perkawinan tidak menikah atau single didapatkan 6,7%. Indonesia adalah negara berdasarkan pancasila, sila nya yang pertama adalah tentang ketuhanan yang maha esa. Sila pertama identik dengan

kehidupan beragama yang mengutamakan seluruh perilaku dan kegiatan hidup di Indonesia ini berdasarkan agama dan kepercayaanya masing-masing. Agama apapun mengatur hubungan seks dan mempunyai anak harus melalui ikatan suci pernikahan. Dibeberapa negara diluar indonesia ada beberapa yang mempunyai paham sekuler sehingga tidak mementingkan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka mereka tidak masalah apabila hamil diluar pernikahan. Di negara barat tinggal dalam satu atap tanpa ikatan menikah dilegalkan oleh pemerintahnya karena negara tersebut negara bebas. Anak usia 18 tahun sudah bukan sepenuhnya tanggung jawab orang tua, anak tersebut diharuskan untuk mandiri untuk membiayai hidupnya maupun sekolahnya namun orang tua juga tetap masih memantau. Berbeda dengan Indonesia, kebanyakan orang barat menganggap masa tua tidak digantungkan dengan anak. Menurut orang barat anak bukanlah merupakan hal penting dalam hidup melainkan hanya karunia atau hadiah dari Tuhan. Di barat kebanyakan tidak memeluk agama apapun atau atheis yang mana menurut mereka segala sesuatu yang dilakukan seperti berhubungan dengan siapapun tanpa ikatan pernikahan termasuk bebas.

Penelitian-penelitian diatas sesuai dengan konsep teori, dapat disimpulkan bahwa adaptasi fisiologis kehamilan itu akan sangat terbantu menjadi positif apabila ada dalam pernikahan, dan memiliki pasangan. Kehamilan yang terjadi pada setelah pernikahan dengan pendampingan dan dukungan suami mempunyai efek yang lebih kecil terhadap terjadinya kecemasan dibandingkan persalinan yang tidak mendapat dukungan suami. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi bahwa wanita yang mengalami gejala depresi pada masa antenatal lebih cenderung tidak menikah, lajang atau memiliki pasangan yang tidak tinggal di

rumah yang sama. Kehadiran pasangan suportif bertindak sebagai penyangga terhadap kesulitan yang dialami dalam transisi menjadi orang tua, melindungi kesehatan mental ibu (Justin, 2008). Hubungan bermasalah dengan pasangan, sebaliknya, menyebabkan tekanan tambahan pada wanita, membuatnya lebih sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan kehamilan dan menjadi ibu (Carlo, 2009).

6.1.3 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Pendidikan

Hasil penelitian ini mendapatkan 55% ibu hamil primigravida trimester III yang memiliki pendidikan tamatan SLTA. Menurut Depdiknas (2003) pendidikan tamatan SLTA masuk pada kategori pendidikan menengah. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Iqbal (2015), didapatkan responden dengan pendidikan menengah sebanyak 42,8%. Penelitian yang dilakukan oleh Asri (2014) didapatkan responden pendidikan menengah yaitu 57,5%. Penelitian yang dilakukan oleh Astiwi (2013) didapatkan responden pendidikan menengah sebanyak 26,7%.

Tingkat pendidikan seseorang yang tinggi akan semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Asri, 2014).

Notoatmodjo (2007) menyatakan orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang tidak berpendidikan tidak mampu menghadapi suatu tantangan dengan rasional.

Penelitian-penelitian diatas sesuai dengan konsep teori dan penelitian terkait, dapat disimpulkan bahwa pendidikan seseorang turut menentukan mudah tidaknya menyerap dan memahami pengetahuan tentang proses persalinan yang mereka peroleh, dengan demikian semakin bertambahnya usia kehamilan

mendekati proses persalinan ibu dapat mempersiapkan psikologi yang matang sehingga dapat mengurangi beban fikiran ibu. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin berkualitas pengetahuannya dan semakin matang intelektualnya. Mereka cenderung lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan keluarganya

6.1.4 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan ibu hamil dikelompokkan menjadi 2, berdasarkan hasil penelitian terdapat 73.8 ibu hamil primigravida trimester III yang tidak bekerja (IRT). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yonne (2009), pada hasil penelitian tersebut didapatkan responden yang tidak bekerja (IRT) sebanyak 58,9%. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Iqbal (2015) yang menunjukkan responden ibu hamil yang tidak bekerja yaitu 66,6%. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ni’mah (2015) yang menunjukkan responden ibu hamil yang tidak bekerja yaitu 77,5%.

Bekerja dapat mengalihkan perasaan cemas bagi ibu hamil, karena bekerja adalah aktivitas menyita waktu dan ibu hamil akan fokus ke pekerjaannya. Ibu hamil yang bekerja dapat berinteraksi dengan masyarakat sehingga dapat menambah pengetahuan, selain itu bekerja dapat menambah penghasilan keluarga untuk mencukupi kebutuhan selama kehamilan (Ni’mah, 2015). Ibu hamil yang bekerja mempunyai uang sendiri sehingga bisa membeli segala sesuatu yang di inginkan, memenuhi kebutuhan pribadinya baik kebutuhan yang bersifat primer maupun sekunder dan tersier sehingga tidak perlu meminta kepada suaminya.

Pekerjaan ibu berkaitan dengan aktifitas yang berkaitan dengan ibu hamil.

Aktifitas yang berat membuat resiko keguguran dan kelahiran prematur lebih

tinggi karena kurang asupan oksigen pada plasenta dan mungkin terjadi kontraksi dini, ibu hamil yang melakukan aktifitas ringan terbukti menurunkan resiko bayi lahir prematur (Bobak, 2009).

Penelitian-penelitian diatas sesuai dengan konsep teori dan penelitian terkait, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan pada ibu hamil yang tidak bekerja akan lebih banyak mengalami kecemasan karena tidak memiliki penghasilan sendiri, kurang mendapatkan pengetahuan tentang kehamilan nya dibandingkan dengan ibu hamil yang bekerja. Ibu hamil bekerja akan sering bertemu dengan orang lain diluar rumahnya, sehingga akan lebih banyak mendapatkan informasi atau pengetahuan lebih banyak dari pengalaman orang lain mengenai kehamilannya dan membuatnya merasa lebih tenang.

6.1.4 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Penghasilan

Berdasarkan penggolongannya BPS (Badan Pusat Statistik), 2014 membedakan pendapatan penduduk menjadi 4 golongan yaitu: Golongan pendapatan sangat tinggi lebih dari Rp. 3.500.000 per bulan, golongan pendapatan tinggi rata-rata antara Rp. 2.500.000 s/d Rp. 3.500.000 per bulan, golongan pendapatan sedang rata-rata dibawah antara Rp. 1.500.000 s/d 2.500.000 per bulan, golongan pendapatan rendah rata-rata Rp. 1.500.000 per bulan.

Hasil penelitian ini mendapatkan 45,2% ibu hamil primigravida trimester III yang berada pada golongan pendapatan sedang >1.000.000 s/d 3.000.000. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh Iqbal (2014) di RSUD Majalaya didapatkan mayoritas responden berpenghasilan <1.000.000 yaitu 52,3%. Penelitian yang dilakukan oleh Astiwi (2013) sebagian besar memiliki pendapatan <800.000 yaitu 23,3%. Tingkat pendapatan yang rendah ini akan

sangat mempengaruhi kondisi psikologi ibu hamil, terutama pada trimester III karena berkaitan dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi (Astiwi, 2013). Sari (2010) menyatakan jika dukungan sosial dan ekonomi yang kurang, maka akan mengganggu kondisi psikologis ibu dan tingkat kecemasan akan bertambah. Pada ibu hamil primigravida memungkinkan seorang ibu belum memiliki kebutuhan yang akan diperlukan menjelang persalinan. Terkait dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi akan membutuhkan biaya yang akan dikeluarkan. Bila kedua hal ini belum disiapkan secara matang akan menimbulkan rasa khawatir pada ibu hamil.

Penelitian-penelitian diatas sesuai dengan konsep teori dan penelitian terkait, dapat disimpulkan penghasilan didapatkan dari suami yang bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai. Berdasarkan data BPS rata-trata gaji bulanan buruh/karyawan/pegawai secara nasional pada Februari 2019 2,79 juta per bulan.

Ibu hamil dengan keluarga penghasilan lebih tinggi kemungkinan cemasnya berkurang karena mereka bisa membeli sesuatu dari penghasilan keluarga tersebut.

6.1.6 Gambaran Karakteristik Demografi Berdasarkan Kecemasan

Hasil penelitian ini mendapatkan 47.6% ibu hamil primigravida trimester III memiliki kecemasan ringan. Penelitian yang dilakukan oleh Rosyidah (2017), didapatkan responden terbanyak dengan kecemasan sedang 65% karena kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.

Pada ibu hamil primigravida Trisemester III dalam menghadapi persalinan kecemasan timbul karena ketakukan kehilangan bayi yang dilahirkannya, seperti ketakukan bahwa bayi yang dilahirkannya meninggal, atau lahir cacat / tidak normal. Kadang-kadang disebabkan oleh munculnya perasaan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan bayi yang dilahirkan, seperti ketidakmampuan memberikan pendidikan dan penghidupan yang layak. Disamping itu kecemasan pada ibu hamil primigravida disebabkan oleh munculnya dugaan bahwa melahirkan akan mematikan aktivitas sehari-hari, seperti menghambat rutinitas kerja karena tuntutan untuk memberikan perhatian kepada bayi yang dilahirkan (Rosyidah, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Deni (2010) menunjukkan responden terbanyak dengan kecemasan sedang yaitu 46,7% karena responden yang mengalami kecemasan sedang memungkinkan untuk memusatkan responden pada hal yang nyata dan mengesampingkan yang lain, sehingga mengetahui perhatian yang sedikit namun dapat melakukan sesuatu yang terarah.

Penelitian-penelitian diatas tidak sejalan dengan hasil penelitian ini, dimana kecemasan ringan memiliki presentase yang tinggi dibandingkan dengan kecemasan normal dan sedang karena kecemasan ringan dalam menghadapi persalinan yang dialami ibu hamil primigravida trimester III dapat disebabkan karena adanya dukungan dari keluarga terutama suami. Seluruh responden dalam penelitian ini memiliki status perkawinan sudah menikah yang memungkinkan adanya dukungan dari suami. Adanya dukungan suami terhadap istrinya yang sedang hamil dan merupakan kehamilan yang diinginkan melalui perkawinan yang sah lebih mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dari suami istri dan

keluarga yang lain. Hal tersebut dapat meringankan kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester III.

Kehamilan dari anak yang tidak dikehendaki; adanya penolakan terhadap anak yang dikandung karena kehamilan yang tidak direncanakan akan berpengaruh terhadap perlakuan dan emosi ibu selama hamil. Kehamilan dari anak tidak sah atau anak diluar nikah; adanya penolakan terhadap bayi dalam kandungan karena rasa malu terhadap anak tidak sah akan mempengaruhi emosi ibu hamil dan menimbulkan kecemasan-kecemasan tertentu (Spielberg, 1982).

Ibu hamil yang mengalami kecemasan tetapi mendapat dukungan emosional dan fisik dari suaminya sebagaimana yang diharapkan, akan kecil kemungkinannya mengalami komplikasi psikologis akibat kehamilan. Dukungan keluarga terutama dukungan yang didapat dari suami akan menimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri (Handayani, 2015).

Menurut Alessandra (2016) faktor-faktor seperti status perkawinan atau lamanya hubungan, juga dapat memengaruhi jumlah dukungan yang diterima ibu baru dan dapat dianggap sebagai faktor risiko kecemasan dan depresi selama kehamilan. Sebuah penelitian menemukan tingkat depresi lebih tinggi pada wanita yang hidup dengan teman atau di komunitas dibandingkan dengan yang hidup bersama dengan pasangan.

6.2 Analisa Bivariat

6.2.1 Hubungan Tingkat Kecemasan Berdasarkan Usia Pada Ibu Hamil Primmigravida Trimester III

Hasil penelitian tingkat kecemasan berdasarkan usia didapatkan usia

<20 tahun mengalami kecemasan normal sebanyak 2,4%, responden

dengan usia 20-35 tahun sebanyak 26,2% yang mengalami kecemasan sedang.

Uji kemaknaan terhadap hubungan kedua variabel ini didapatkan nilai P value > 0,05 dan angka korelasi sebesar 0,010 yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan tingkat kecemasan ibu primigravida dengan kekuatan korelasi rendah.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Alibasjah (2014) tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu primigravida trimester III dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja Puskesmas Kepuh. Kaplan dan Sadock 1997 mengugkapkan gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sedangkan besar kecemasan terjadi pada usia 21-45 tahun. pada iu yang berusia 20-35 tahun mengalami kecemasan ringan sampai sedang. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya beberapa gejala klinis seperti kelelehan/irritable, motivasi menigkat dan tingkah laku sesuai situasi. Kecemasan sedang juga akan muncul pada rentang usia ini maniestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dan volume tinggi, lahan persepsi menyempit dan kemampuan konsetrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada ragsangan yang tidak menambah

nsietas, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis (Stuart, 2007)

Penelitian ini juga mempunyai hasil yang sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Setyaningrum (2013) dimana tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu primigravida dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja Pustu Kandangan Bawen, karena calon ibu sudah baik dalam memandang, dan menyikapi status kesehatan reproduksinya dalam merencanakan usia pernikahan dan kehamilan.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Asri (2014) menunjukkan ada hubungan usia dengan tigkat kecemasan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas tuminting. Menurut Badudu (2012) wanita berusia 20-35 tahun secara fisik sudah siap hamil Karena organ reproduksinya sudah terbentuk sempurna, dibandingkan wanita yang usianya <20 tahun organ reproduksinya masih dalam tahap perkembangan, sehingga tingkat kecemasan lebih berat (panik), sedangkan wanita yang usianya >35 sebagian digolongkan pada kehamilan beresiko tinggi terhadap kelainan bawaan dan penyulit pada persalinan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Alibasjah (2014) dengan nilai korelasi sebesar -0,309 yang bermakna bahwa kekuatan hubungan rendah dan nilai signifikansi p-value 0,018 dimana tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu primigravida

trimester III dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja Puskesmas Kepuh.

Hasil penelitian lain yang dilakukan Setyaningrum (2013) juga sejalan degan penelitian ini dengan nilai korelasi sebesar -0,395 yang bermakna bahwa kekuatan hubungan rendah dan nilai signifikansi p-value 0,033 dimana tidak ada hubungan yang signifikan antara usia ibu primigravida dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di wilayah kerja Pustu Kandangan Bawen.

Berdasarkan uraian diatas didukung dengan penelitian terkait dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan yang sedang dan searah antara tingkat kecemasan berdasarkan usia pada ibu hamil. Ibu hamil usia 20-35 tahun secara fisik sudah siap hamil karena organ reproduksinya sudah terbentuk sempurna, di bandingkan dengan wanita yang usianya >20 organ reproduksinya masih dalam tahap perkembangan, sehingga tingkat kecemasan lebih berat. Penelitian ini didapatkan hasil ibu yang berusia >20 tahun masih ada yang mengalami kecemasan normal dan usia ibu dengan usia 20-35 tahun masih mengalami kecemasan sedang. Hal ini bisa terjadi karena pada usia tersebut responden yang ditemui belum siap utuk hamil, serta status kehamilan seperti kehamilan pertama sangat mempengaruhi tingkat kecemasan. Ibu dengan usia 20-35 tahun seharusnya sudah siap menghadapi kehamilan dimana pola pikir ibu sudah lebih matang.

Dalam dokumen hubungan tingkat kecemasan berdasarkan (Halaman 64-70)