• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PNELITIAN

4.2 Analisa Bivariat

4.2.1 Hubungan Pengetahuan dengan Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric

Tabel 4.2 Hubungan Pengetahuan dengan Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric (n=30)

Self Efficacy

Koef Cor 0,613

Pengetahuan p 0,000

Jumlah 30

Hasil analisa bivariat menggunakan uji Spearman’s rho menunjukan bahwa 0,000 (p<0,05) maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara Pengetahuan dengan Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric. Hasil koefisien corelasi didapatkan 0,613, artinya kekuatan hubungan kuat.

Nilai hubungan bernilai positif maka hubungan kedua variabel searah.

BAB V PEMBAHASAN

Pembahasan dalam penelitian ini berdasarkan hasil yang telah diperoleh berdasarkan karakteristik meliputi umur responden, anak keberapa, pendidikan terakhir, istri responden pernah keguguran atau tidak, pekerjaan responden, nilai tingkat pengetahuan, nilai self efficacy kegawatdaruratan obstetric dan hasil analisa hubungan pengetahuan dengan nilai self efficacy kegawatdaruratan obstetric.

5.1 Hasil Analisa Univariat

5.1.1Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan hasil pengumpulan data menunjukan bahwa responden yang berada pada umur 17-25 tahun atau remaja akhir ada 8 responden (26,5%), umur 26-35 tahun atau dewasa awal 14 responden (47%), dan umur 36-45 tahun atau dewasa akhir 8 responden (26,5%). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Rohmah & Ismarwati, (2017) yang menunjukan hasil umur responden rata-rata adalah 30-40 tahun lalu yang termuda adalah 20 tahun dan yang tertua adalah 60 tahun. Penelitian yang serupa juga dikemukakan oleh Rahmi (2011), yang menyatakan didalam penelitiannya tentang usia responden suami rata-rata berusia 35 tahun.

Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Umur 60 tahun menunjukkan masa dimana fungsi tubuh yang dimiliki oleh manusia semakin menurun (Istianah, 2012).

55

Memasuki umur dewasa awal merupakan umur yang sudah cukup siap sebagai kepala keluarga dalam membina dan menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga dalam bersikap (Slamet, 2018). Umur sangat penting dalam pengetahuan manusia karena berhubungan dengan sikap dan perilaku, dua sikap tradisional mengenai jalannya perkembangan selama hidup yaitu semakin tua semakin bijaksana, semakin banyakin formasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga dapat menambah pengetahuannya.

Menurut WHO dan departemen kesehatan, umur 26-45 tahun adalah tergolong dalam usia dewasa awal hingga dewasa akhir. Pada usia dewasa awal seseorang sudah harus berkembang secara mandiri untuk mencari jati diri yang akan menentukan masa depannya. Umur di posisi ini sudah dewasa dalam menghadapi suatu permasalahan. Pada masa dewasa akhir adalah masa seseorang sedang dalam baik dan buruk menjalani kehidupan. Munculnya banyak masalah dan bagaimana seseorang itu menyelesaikan (Depkes, 2021). Menurut UU No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, menikah baru dibolehkan jika sudah berusia 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk perempuan. Namun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berpendapat bahwa umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20 sampai 25 tahun bagi wanita, kemudian umur 25 sampai 30 tahun bagi pria. Usia tersebut dianggap masa yang paling baik untuk berumah tangga, karena sudah matang dan bisa berpikir dewasa secara rata-rata (BKKBN, 2021).

58

Menurut peneliti, umur responden yang mayoritas masih berada pada rentang kategori dewasa awal menunjukkan masa dimana fungsi tubuh yang dimiliki oleh manusia berada pada masa yang masih sangat kuat. Umur tersebut merupakan cukup mumpuni sebagai kepala keluarga dalam membina dan menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga dalam bersikap. Usia sangat penting dalam pengetahuan manusia karena berhubungan dengan sikap dan perilaku, dua sikap tradisional mengenai jalannya perkembangan selama hidup yaitu semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga dapat menambah pengetahuannya (Slamet, 2018).

5.1.2Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas

Berdasarkan hasil analisa data menyatakan bahwa paritas atau kehamilan anak pertama ada 10 responden (33,3%), kehamilan anak kedua 11 responden (36,7%), kehamilan anak ketiga 6 responden (20%), dan kehamilan yang ke-empat ada 3 responden (10%). Hasil penelitian Al Riyami et al., (2018) menyatakan berdasarkan hasil analisis bivariat didapatkan nilai p value 0,024, maka yang berarti ada pengaruh paritas yang tinggi terhadap kejadian kegawatdaruratan obstetrik di RSUD Dr. H. Abdoel Moeloek pada tahun 2018.

Berdasarkan Notoadmodjo (2011), tingkat paritas akan mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki mengenai memberikan motivasi. Seorang

suami yang telah mempunyai anak lebih berpengalaman dalam menghadapi kehamilan istri berikutnya dibanding dengan suami yang baru pertama kali istrinya hamil. Menurut pendapat Dagun, (2012), jumlah paritas atau persalinan yang dialami istri lebih dari satu kali akan membuat suami lebih mempunyai sikap dan pengetahuan yang lebih terampil dalam merawat istri dan anak yang baru lahir, hal tersebut disebabkan karena pengalaman serta sifat naluriah seorang suami saat menghadapi persalinan istrinya yang sebelumnya.

Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak sebagai respon atas stimulus yang ia terima. Sehingga sikap belum dapat dilihat secara nyata (Ningsih, 2015). Salah satu upaya untuk mengarahkan suami yang memiliki istri yang sedang hamil agar memiliki sikap dan pengetahuan yang baik tentang kegawatdaruratan obstetric adalah melalui pemberian edukasi atau pendidikan kesehatan. Hal ini merupakan penyampaian pesan kesehatan kepada individu ataupun kelompok. Untuk memaksimalkan pemahaman audiens, disarankan pendidikan kesehatan menggunakan berbagai media yang mampu menstimulus sebanyak mungkin indera, dengan melalui tahapan pembelajaran yaitu pemberian penjelasan, demonstrasi dan redemonstrasi (Sari, 2018). Sikap terbagi atas sikap positif dan sikap negatif; sikap positif apabila saat menemukan tanda bahaya kehamilan, suami cenderung tanggap untuk melakukan tindakan antisipasi, antara lain segera memeriksakan istri ke tenaga kesehatan terdekat, dan sikap negatif apabila saat menemukan tanda bahaya

60

kehamilan suami cenderung lamban untuk melakukan tindakan antisipasi, misalnya panik, cemas dan kebingungan (WHO, 2017).

Menurut peneliti apabila suami yang memiliki istri yang sedang hamil yang sudah pernah melakukan persalinan sebelumnya atau mempunyai anak sebelum persalinan selanjutnya, maka suami tersebut akan mempunyai sikap yang lebih siap jika menghadapi suatu kegawatdaruratan obstetri. Hal tersebut terjadi karena suami sudah mempunyai pengalaman merawat istri yang mengalami kehamilan sebelumnya, hal inilah yang membedakan kesiapan sikap seorang suami yang baru pertama kali menghadapi istri yang baru mengalami kehamilan dan suami yang mempunyai pengalaman memiliki istri yang sudah pernah melakukan persalinan sebelumnya atau paritas. Pengalaman melahirkan atau paritas adalah salah satu penentu kesejahteraan ibu dan janin baik selama hamil dan bersalin (Pertiwi, 2017). Suami-istri dengan pengalaman memiliki bayi sebelumnya lebih banyak mempunyai pengetahuan lebih tinggi dibandingkan pasangan suami-istri yang mempunyai anak pertama kali. Kenyataan ini dihubungkan dengan semakin banyaknya permasalahan kehamilan dan persalinan yang dialami seseorang akan mengasah kemampuan seorang dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.

Pasangan suami istri dengan pengalaman memiliki anak sebelumnya lebih banyak dipastikan memiliki pengalaman menyelesaikan berbagai permasalahan pada saat istri mengalami kehamilan, kemungkinan juga lebih terpapar dengan pelayanan kesehatan selama hamil dan pengetahuan

tentang tanda bahaya kehamilan (Kurniawati et al, 2017).

5.1.3Karakteristik Responden Berdasarkan Riwayat Abortus

Berdasarkan hasil pengumpulan data, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden istrinya belum pernah keguguran yaitu 28 orang (93,3%), dan yang tidak pernah mengalami abortus atau keguguran sebanyak 2 orang (6,7%). Riwayat abortus pada penderita abortus merupakan predisposisi terjadinya abortus berulang. Kejadiannya sekitar 3- 5%. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus pasangan punya risiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali maka risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi menyatakan risiko abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah 30-45% (Amirudin 2014).

Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau kurang dari dua tahun juga akan memberikan resiko bagi ibu diantaranya adalah kejadian anemia berat dalam kehamilan, hal ini sesuai dengan pendapat Amirudin bahwa jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia pada saat kehamilan yang berulang pada waktu singkat dan akan menguras cadangan zat besi ibu. Pengetahuan ibu tentang jarak kehamilan yang baik minimal dua tahun menjadi penting untuk diperhatikan sehingga fisik ibu lebih siap untuk menerima janin kembali tanpa harus menghasilkan cadangan zat besi ( Amirudin 2014). Hasil penelitian dari Arvina Devi Whidihastuti = et

62

al.,(2020), didapatkan hasil bahwa ibu yang pernah memiliki riwayat abortus sebanyak 35 responden (20,2%) sedangkan ibu yang tidak pernah memiliki abortus dan mengalami kejadian abortus sebanyak 138 responden (79,8%). Hasil Uji ChiSquare didapatkan nilai p value = 0,000 (p< 0,05).

Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus.

Dukungan emosional suami terhadap istri, dapat memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri dan istri akhirnya menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dalam situasi terjadinya kegawatdaruratan obstetri. Suami adalah orang pertama yang memberi dorongan atau dukungan kepada istri sebelum pihak lain memberi dorongan (Dagun, 2012). Hal ini sesuai dengan motivasi suami yang dikemukakan oleh Mahdi (2018) yang menyatakan bahwa suami berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan memberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya yang mana dibutuhkan oleh istri, terutama untuk memotivasi istri dalam menghadapi kegawatdaruratan obstetri.

Menurut pendapat peneliti suami yang mempunyai istri dengan riwayat abortus pada kategori pernah, mempunyai sikap yang lebih baik dalam mendukung dan merawat istrinya karena pengalamannya sebelumnya sehingga suami akan lebih berusaha merawat istrinya agar tidak mengalami kejadian abortus selanjutnya. Sedangkan suami yang

memiliki istri yang tidak memiliki riwayat abortus, lebih besar mengalami kejadian abortus dan kegawatdaruratan obstetric. Karena suami baru pertama kali merawat dan menjaga istris yang sedang hamil.Suami yang mempunyai istri dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun, sebaiknya menjaga kondisi kehamilannya agar kehamilan ibu saat ini tidak beresiko terhadap kondisi ibu baik pada saat hamil maupun melahirkan. Selain itu juga harus memeriksakan kehamilannya secara rutin agar teredeksi secara dini jika terdapat kelainan atau masalah kesehatan pada ibu ketika hamil.

5.1.4Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Hasil dari pengumpulan data berdasarkan tingkat pendidikan responden didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA/sederajat yaitu 16 orang (53,3%), Diploma 3 yaitu 5 orang (16,7%), dan Sarjana/D4 yaitu 9 orang (30%). Hasil ini hampir mirip dengan penelitian (Mindarsih, ( 2017) yang menunjukan mayoritas dari responden berpendidikan SMA/sederajat, hal ini mengindikasikan cukupnya tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang cukup berdampak pada sikap dan perilaku yang memadai. Namun didalam penelitian ini masih terdapat 6 responden (30%) yang berpendidikan menengah namun mempunyai sikap yang negatif, dan terdapat 2 responden (50%) yang berpendidikan tinggi mempunyai sikap yang negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan bukan merupakan satu-satunya indikator dalam menentukan sikap seseorang yang mempengaruhi pengetahuan dan self efficacy kegawatdaruratan obstetri.

64

Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo, (2010), pendidikan akan mempengaruhi kognitif seseorang dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap. Pengetahuan dan sikap tidak hanya dibentuk oleh pendidikan saja namun akan ada bidang yang lain. Misalnya pengalaman, informasi, dan kepribadian seseorang. Menurut Notoadmodjo (2012), tingkat pendidikan dapat dibedakan berdasarkan tingkatan-tingkatan yakni pendidikan dasar awal selama 9 tahun meliputi SD/sederajat, SLTP/sederajat, pendidikan lanjut meliputi pendidikan menengah minimal 3 tahun meliputi SMA/sederajat dan pendidikan tinggi meliputi diploma, sarjana, magister, doktor dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Keluarga dengan istri belum pernah mengalami kegawatdaruratan obstetrik cenderung kurang memiliki pengalaman sehingga sikap keluarga dalam menangani kegawatdaruratan obstetri masih kurang.

Pengetahuan dan self efficacy suami dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, faktor emosional, kebudayaan, media massa dan pendidikan serta agama. Pendidikan dan agama juga mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap tersebut, karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu, pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dilakukan diperoleh dari pusat keagamaan dan ajaran-ajarannya. Suami dengan pendidikan tinggi dan memegang teguh agama yang dianut dapat mendukung dalam

membentuk sikap positif terutama berkaitan dengan kesehatan istri. Hal tersebut menunjukkan keterkaitan bahwa semakin tinggi pengetahuan suami maka akan mendukung sikap positif begitu juga sebaliknya. Bagi seorang suami, pengetahuan dan sikap tentang penanganan kegawatdaruratan obstetri sangat diperlukan guna mendukung pencegahan, pemeriksaan dan penyembuhan bila terdapat kegawatdaruratan obstetri.

Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi pengetahuan dan keterampilan. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuan dan keterampilan yang di dapatkan (Nursalam, 2011).

5.1.5Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden Berdasarkan pengumpulan dan analisa data, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pekerjaannya adalah wiraswasta yaitu 20 orang (66,7%), PNS yaitu 4 orang (13,3%), Karyawan Swasta yaitu 6 orang (20%). Hasil penelitian ini mirip dengan hasil penelitian Mindarsih, (2018) yang berjudul Karakteristik suami yang berhubungan dengan sikap dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal, menunjukkan hasil bahwa paling dominan responden bekerja sebagai Wirraswasta.

Pekerjaan seseorang umumnya memiliki dampak yang sangat penting dalam sikap seseorang. Pekerjaan petani umumnaya identik dengan pekerjaan yang cukup berat dan melelahkan, dan banyak

66

menggunakan otot daripada pemikiran. Pada keluarga kebanyakan, penghasilannya dipergunakan untuk membiayai keperluan hidupnya.

Sehingga pada akhirnya keluarga tidak mempunyai kemampuan untuk membayar. Secara konkrit dapat dikemukakan bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan tidak memperhatikan kesehatan istrinya (Bobak, 2012). Pekerjaan merupakan suatu hal yang dilakukan secara berulang untuk meningkatkan kualitas hidup, Pengetahuan yang baik, dapat dipengeruhi oleh pekerjaan seseorang yang melibatkan faktor lingkungan yang merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan dapat berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku orang atau kelompok karena adanya timbal balik yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. Hal ini sesuai desuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wawan dan Dewi (2011) yang menyatakan bahwa bekerja akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

Menurut pendapat peneliti pekerjaan merupakan kegiatan utama yang dilakukan untuk mencari nafkah.

Lingkungan pekerjaan dapat berpengharuh dalam bertukar pikiran dan informasi antara teman-teman dilingkungan kerja. Informasi yang didapatkan dari rekan kerja akan membentuk pengetahuan yang akan menimbulkan respon pada penerima dan respon ini dilihat sebagai sikap (Wawan

& Dewi, 2011). Hal ini mengindikasikan bahwa bekerja

sebagai apapun yang dapat terus berkumpul bersama keluarga. Pekerjaan sebagai wiraswasta tidak harus meninggalkan keluarga dengan jarak yang jauh dan suami dapat terus memantau keadaan istri dan keluarganya.

5.1.6Pengetahuan Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric

Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan penanganan kegawatdaruratan obstetri menunjukan bahwa responden yang mempunyai pengetahuan tinggi sebanyak 27 reponden (90,0%), dan responden yang mempunyai pengetahuan sedang sebanyak 3 orang (10,0%). Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Indihiang, (2016) dari hasil analisis hubungan antara pengetahuan dan sikap suami dapat dilihat bahwa suami dengan pengetahuan yang baik seluruhnya (100%) mempunyai sikap yang baik dalam penanganan kegawatdaruratan obstetri. Sedangkan pada suami dengan pengetahuan kurang dan cukup terdapat masing-masing satu orang responden yang mempunyai sikap yang kurang baik. Hasil statistik diperoleh nilai p=0,000 yang berarti Ha diterima yang berarti ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap suami tentang kegawatdaruratan obstetri.

Pengetahuan merupakan hasil seseorang setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pendidikan, pengalaman terhadap suatu kejadian dan

68

fasilitas, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi tingkat pengetahuannya (Notoadmojo 2011). Pengetahuan seseorang berperan penting dalam menerima informasi, sehingga dengan adanya pengetahuan yang dimiliki seseorang membuat mereka bisa dengan mudah mencari dan menerima informasi yang dibutukan sehingga bisa mengubah pola pikir dan membuat cara pandang yang luas dalam menghadapi masalah yang terjadi disekitarnya (Notoadmojo 2011).

Menurut peneliti pengetahuan suami tentang kegawatdaruratn obstetri sangat dibutuhkan pada saat masa-masa kehamilan, dan apalagi jika sang istri sedang melalui kehamilan pertama. Hal tersebut menjadi sangat penting karena istri akan sangat tergantung kepada suaminya. Dengan adanya pengetahuan yang luas akan menimbulkan keinginan pada diri seseorang untuk mengembangkan potensi pada diri seseorang tersebut, yang akan terus menerus mendorongnya untuk menjadi lebih baik dan terampil (Aristarini, dkk. 2014).

5.1.7 Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric

Berdasarkan hasil penelitian Self Efficacy penanganan kegawatdaruratan obstetri menunjukan bahwa responden yang memiliki penilaian kurang baik sebanyak 4 responden

(13,3%), dan responden yang mempunyai penilaian baik sebanyak 26 orang (86,7%). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Rohmah &

Ismarwati, (2017) yang hasilnya dari 32 responden suami didapatkan hasil 24 orang memiliki penilaian efikasi diri baik (75%), dan 8 orang memiliki penilaian kurang baik(25%).

Menurut Bandura (2014) Efikasi adalah keyakinan seorang individu mengenai kemampuannya dalam mengorganisasi dan menyelesaikan suatu tugas yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Efikasi diri yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan mendapatkan hasil positif. Efikasi diri berpengaruh besar terhadap perilaku. Bandura mengemukakan bahwa efikasi diri mengacu pada keyakinan sejauh mana individu memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau melakukan suatu tugas yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu (Mawanti, 2011:31).

Keyakinan akan seluruh kemampuan ini meliputi kepercayaan diri, kemampuan menyesuaikan diri, kapasitas kognitif, kecerdasan dan kapasitas bertindak pada situasi yang penuh tekanan.

Menurut peneliti efikasi diri adalah keyakinan dan kemantapan individu, memperkirakan kemampuan yang ada yang menghasilkan perilaku yang diusahakan sehingga

70

tercapai tujuan yang diinginkan. Efikasi diri memiliki keefektifan yaitu individu mampu menilai dirinya memiliki kekuatan untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan.

Tingginya efikasi diri yang dipersepsikan akan memotivasi individu secara kognitif untuk bertindak secara tepat dan terarah, terutama apabila tujuan yang hendak dicapai merupakan tujuan yang jelas. Efikasi diri selalu berhubungan dan berdampak pada pemilihan perilaku, motivasi dan keteguhan individu dalam menghadapi setiap persoalan. Efikasi diri akan berkembang berangsur-angsur secara terus menerus sering meningkatkan kemampuan dan bertambahnya pengalaman-pengalaman yang berkaitan (Bandura, 2014).

5.2 Hasil Analisa Bivariat

5.2.1Hubungan Pengetahuan dengan Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji Spearman rank hubungan pengetahuan dengan self efficacy penanganan kegawatdaruratan obstetri didapatkan hasil bahwa nilai p value 0,000 (p<0,05) maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara Pengetahuan dengan Self Efficacy Penanganan Kegawatdaruratan Obstetric. Hasil koefisien

corelasi didapatkan 0,613 yang artinya mempunyai kekuatan corelasi yang kuat. Nilai corelasi bernilai positif maka hubungan kedua variabel searah, yang berarti variabel pengetahuan mempunyai kekuatan yang baik terhadap self efficacy. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rohmah & Ismarwati, (2017) dari penelitian ini didapatkan hasil uji statistik menggunakan chisquare diperoleh nilai Sig (2-tiled) atau ρ value sebesar 0,038 yaitu ρ value < 0,05 sehingga Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara dukungan suami dengan efikasi diri pada perempuan.

Pengetahuan yang luas tentang ilmu kegawatdaruratan obstetri sangatlah penting bagi seorang suami, dengan pengetahuan kegawatdaruratan obstetri suami akan mampu melakukan pertolongan pads istri jika terjadi gangguan pada ibu hamil agar lebih efektif dan efisien terutama dalam kasus gawat darurat obstetrik.

Dalam pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu Pendidikan; adalah suatu usaha mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah berlangsung seumur hidup, sehingga suami yang mempunyai pendidikan diharapkan mampu dalam penanganan kasus rujukan gawat darurat obstetrik

72

begitu pula dengan pengalaman akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah yang bertolak dari masalah nyata seperti pada kasus gawat darurat obstetrik. Dengan pengalamannya suami dapat mengambil keputusan secara tepat dan cepat untuk menyelamatkan ibu dan bayinya, serta umur sangat mempengaruhi seseorang, semakin bertambah umur maka semakin banyak pengetahuan yang didapatkan seseorang (Masniah et al.,2011).

Efikasi diri adalah keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu menjalankan tugas tertentu atau meraih sasaran tertentu. Singkatnya bahwa efikasi diri itu sendiri merupakan komponen dari keseluruhan perasaan diri seseorang, self-efficacy atau efikasi diri juga dapat diartikan sebagai perasaan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan tugas-tugas secara efektif . Bandura mengemukakan bahwa efikasi diri mengacu pada keyakinan sejauh mana individu memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau melakukan suatu tugas yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu (Mawanti, 2011:31). Keyakinan akan seluruh kemampuan ini meliputi kepercayaan diri,

kemampuan menyesuaikan diri, kapasitas kognitif, kecerdasan dan kapasitas bertindak pada situasi yang penuh tekanan.

Berdasarkan hasil penelitian dan pendapat para ahli diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dan self effiicacy mempunyai hubungan yang signifikan.

Dilihat dari hasil analisis bivariat, arah hubunngan mempunyai nilai yang posistif. Yang berarti jika

pengetahuan suami tentang penanganan

kegawatdaruratan obstetri meningkat maka self efficacy atau efikasi diri suami juga akan mengalami peningkatan.

Pengetahuan seseorang berperan penting dalam menerima informasi, sehingga dengan adanya pengetahuan yang dimiliki seseorang membuat mereka bisa dengan mudah mencari dan menerima informasi yang dibutukan sehingga bisa mengubah pola pikir dan membuat cara pandang yang luas dalam menghadapi masalah yang terjadi disekitarnya (Notoadmojo 2011). Menurut Locke dkk. (1984), dikutip oleh Suseno (2014) mengatakan bahwa efikasi diri yang tinggi akan menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuan dirinya dalam melaksanakan suatu tugas pada saat yang penting. Efikasi diri adalah keyakinan diri seseorang akan kemampuan- kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu hal,

Dokumen terkait