BAB III PEMBAHASAN
B. Analisis Alternatif Solusi Terhadap Permasalahan
beda kasta. Berpedoman pada Undang-Undang Dasar 1945 dan pancasila mengenai kedudukan orang yang melakukan perkawinan beda kasta tetap mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum baik itu mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Begitupun dari sudut pandang agama, Secara nyata, Islam menolak segala bentuk stratifikasi dan perbedaan sosial serta ketidak setaraan hak-hak manusia atas dasar perbedaan fisik, kekayaan, profesi, keturunan, kesukuan, ras, dan sebagainya. Hak-hak asasi manusia yang merupakan hak-hak yang di miliki manusia karena kemanusiaannya adalah hak-hak dasar yang diletakkan islam bagi seluruh manusia. Selanjutnya hal ini menimbulkan keniscayaan adanya egalitarian dan hak-hak alamiah dalam hukum perkawinan Islam, terutama hak untuk membangun hubungan perkawinan.
Orang melakukan pernikahan tidak jauh dari tujuan utama pernikahan tersebut antara lain, Pertama: perkawinan bertujuan untuk menyalurkan kebutuhan seksualitas manusia dengan jalan yang dibenarkan oleh Allah. Kedua: mengangkat harkat dan martabat perempuan. Ketiga: memproduksi keturunan, agar manusia tidak punah dan memperbanyak umat manusia.
B. Analisis Alternatif Solusi Terhadap Permasalahan Perwalian Nikah
disebut agama Islam itu, mewarnai corak adat dan budaya yang dihasilkan oleh manusia-manusia yang memeluknya.
Sebagai agama yang diyakini oleh mayoritas masyarakat Lombok tidak mengenal adanya perbedaan status sosial dan sanksi-sanksi hukum adat seperti yang disebutkan pada pembahasan sebelumnya. Manusia memiliki persamaan hak dan kewajiban di hadapan tuhan, yang membedakannya hanyalah prestasi, dan konsistensi dalam pelaksanaan kewajibannya sebagai hamba Allah, sehingga tidak ada sanksi hukum apabila seseorang menikahi orang bangsawan atau pejabat, yang ada dalam Islam itu sanksi dalam bentuk hudud, qisas, jarimah, dan lain sebagainya yang telah di tetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.
Sedangkan penyebab larangan menikah yang di benarkan dalam hukum islam bahwasanya ketika diketahui bahwa di antara mereka terdapat hubungan saudara sesusuan. Sejak di ketahuinya hal tersebut maka hubungan mereka jadi batal atau adanya pertentangan. Demikian pula apabila suami istri semula non muslim, tiba-tiba masuk islam dan istri menolak masuk islam, maka perkawinan akan di batalkan, sebab laki-laki muslim hanya di izinkan kawin dengn perempuan non muslim apabila termasuk ahli kitab.80
Adanya larangan perkawinan antar strata sosial biasanya membawa akibat yang lebih jauh, tidak hanya suami istri tetapi juga terhadap, keluarga, masyarakat di sekitarnya, dan pihak-pihak yang berkepentingan hukum terhadap perkawinan mereka, maka masalah perwalian nikah yang diwakilkan terhadap orang lain dengan alsan-alasan yang di terima oleh hukum Islam misalnya: Muwakil (orang yang berwakil) disyaratkan bahwa yang berwakil itu sah atau diperbolehkan melakukan perbuatan yang di wakilkan.
Maka tidak sah perbuatan yang dilaksanakan oleh orang yang terhalang melakukan perbuatan seperti: orang gila, anak kecil yang masih dibawah pengasuhan orang tua, dan orang gila yang tidak sempurna akal pikiranya. Sedangkan wakil, sebagai wakil harus memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan yang di limpahkan muwakil kepadanya dan wakil harus orang tertentu, maksudnya orang yang sudah di tunjuk oleh
80 Ahmad Azhar Basyir, hokum perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2000), hlm.86
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
muwakil. Adapun persyaratan lain yang harus di penuhi oleh wakil adalah, Beragama Islam, Baligh, Laki-laki, dan Adil (tidak fasik), mampu menjalankan agama dengan baik dan syarat ini berlaku bagi wakil wali dan bukan wakil untuk mempelai laki-laki. Oleh karena itu, menurut peneliti alasan masyarakat Adat Sasak yang ada di Desa Suradadi bukan alasan di atas yang melatar belakangi penyerahan wali terhadap orang lain melainkan aturan adat yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang sudah berjalan begitu lama.
Dalam masyarakat hukum adat Lombok khususnya di Desa Suradadi sebagian masih menganut hukum adat yang kental akan aturan-aturan tentang adat pernikahan, di mana dalam hukum adat tersebut membatasi hak-hak dari seorang perempuan bangsawan ketika menikah dengan laki- laki bangsawan. Hal ini tidak sejalan dengan perintah nabi Muhammad ﷺ. Yang artinya: nikah adalah sunahku, barang siapa yang mengikuti sunahku berarti dia termasuk golonganku dan barang siapa yang membenci sunahku maka ia bukan golonganku.81
Dalam persfektif Musdah Mulia menjelaskan bahwa prinsip perkawinan tersebut ada 4 yang di dasarkan pada ayat-ayat al-Qur‟an,82 1. Prinsip Kebebasan dalam memilih jodoh, prinsip ini sebenarnya kritik
terhadap tradisi bangsa Arab yang menempatkan posisi perempuan Arab yang lemah, sehingga untuk dirinya sendiri saja ia tidak dapat memilih kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.
Oleh sebab itu kebebasan dalam memilih jodoh adalah hak dan kebebasan bagi laki-laki dan perempuan sepanjang tidak bertentangan dengan syari‟at Islam.
2. Prinsip Mawaddah-Warahmah, Mawaddah warahmah adalah karakter manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Jika binatang melakukan hubungan seksual semata-mata untuk melakukan hubungan sex itu sendiri juga dimaksudkan untuk berkembang biak. Sedangkan perkawinan manusia bertujuan untu ridha Allah di samping tujuan yang bersifat biologis.
81HR. Bukhori Muslim.
82 Musdah Mulia, Pandangan Islam Tentang Poligami, (Jakarta: Lembaga kajian agama dan gender, 1999), hlm 11-17
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
3. Prinsip saling melengkapi dan melindungi, prinsif ini maksudnya yaitu istri-istri adalah pakaian sebagaimana layaknya dengan laki-laki juga sebagai pakaian untuk wanita seperti yang ada di Surah Al-Baqarah ayat 187. Perkawinan laki-laki dan perempuan dimaksudkan untuk saling membantu dan melengkapi, karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan.
4. Prinsip mu’asarah bi al-ma’ruf , untuk memerintahkan laki-laki untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang ma‟ruf di dalam prinsif ini sebenarnya pesan utamanya adalah pengayoman dan penghargaan kepada wanita.
Sanksi hukum adat tidak memiliki implikasi terhadaat keagamaan seseorang karena hukum adat merupakan produk manusia yang apabila di langgar tidak akan mendapat dosa bagi pelakunya, hanya akan terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Perkawinan beda kasta yang terjadi di Suradadi tidak memiliki implikasi terhadap tujuan yang ingin membangun hubungan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam berumah tangga. Untuk mewujudkan tujuan tersebut tidak di sebabkan oleh faktor pasangan apakah ia berasal dari golongan bangsawan atau tidak, tetapi murni di sebabkan oleh faktor agama dan komunikasi yang baik antar kedua belah pihak.
Sebagaimana yang terjadi di masyarakat desa Suradadi Kecamatan Terara, yang memperlihatkan banyaknya masyarakat yang mewakilkan akad nikah putrinya kepada orang lain. Hal tersebut bisa dikenal oleh masyarakat dengan istilah Taukkil wali merupakan perwakilan wali atau kebiasaan wali mewakilkan akad nikah kepada orang lain. Dengan cara seorang ayah dari pihak perempuan memberikan wewenang kepada orang lain untuk melakukan akad nikah dengan laki-laki calon suami putrinya.
Wali nasab beralasan ingin menyerahkan hak perwaliannya karena ingin meneruskan tradisi nenek moyang, mendapatkan keberkahan kyai, dan alasan-alasan lain merupakan faktor penyebab wali mewalikan haknya kepada orang lain yang dianggap pantas. Dengan tujuan untuk menggugurkan kewajibannya untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki sebagai calon suaminya.
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
Pada dasarnya wali nikah dalam perundang-undangan perkawinan di Indonesia adalah wali nasab. Namun, dalam kondisi tertentu posisi wali nikah dapat digantikan menjadi wali hakim, yakni:
1. Apabila tidak ada wali nasab.
2. Apabila tidak mungkin menghadirkan wali nasab.
3. Apabila tidak mengetahui tempat tinggal wali nasab.
4. Apabila wali nasab gaib.
5. Apabila wali nasab enggan menikahkan.83
Adapun 5 kondisi di atas merupakan penyebab perpindahan dari wali nasab menjadi wali hakim. Disinilah penulis melihat perbedaan antara alasan yang dikemukakan oleh masyarakat desa Suradadi Kecamatan Terara dengan alasan yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam terkait wali yang tidak mau menikahkan anak perempuannya.
Berkaitan dengan masalah di atas, pada dasarnya telah dijelaskan dalam Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa dalam hal wali Adhal atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah setelah adanya putusan pengadilan Agama tentang wali tersebut.
Apabila dalam kondisi tertentu misalnya dalam ketidak mampuan wali dalam mengucapkan shigat akad nikah atau alasan lain seperti ta’im kepada kyai, maka dalam posisi tersebut wali nasab telah mewakilkan haknya kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali. Dengan demikian orang yang mendapatkan amanat sebagai wakil berhak menjadi wali dalam pernikahan.84
Wali nasab yang telah mewalikan kepada orang lain yang dipercaya mampu untuk menggantikan posisinya. Terlebih dahulu petugas KUA menyarankan agar wali sendiri yang menikahkan putrinya. Namun kenyataannya wali tetap enggan atau tidak mau menikahkan putrinya sendiri dengan berbagai alasan seperti yang penulis paparkan di BAB II.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka sebagaimana yang di paparkan dalam pasal 5 ayat (1) dan (2) peraturan mentri Agama Nomor 30 Tahun 2005 tentang wali hakim yang berbunyi:
83 Pasal 23 ayat (1) inpres. Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
84 A. Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Perkawinan: Nikah Talak, Cerai, dan Rujuk, cet. ke-2, (Bandung: Al-Bayan, 1995), hlm 63.
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
1. Sebelum akad nikah dilangsungkan wali hakim meminta kembali kepada wali nasabnya untuk menikahkan calon mempelai wanita, sekalipun sudah ada penetapan Pengadilan Agama tentang adhalnya wali.
2. Apabila wali nasabnya tetap adhal, maka akad nikah akan dilangsungkan dengan wali hakim.
Berdasarkan peraturan Mentri Agama di atas dapat disimpulkan bahwa, alasan yang digunakan masyarakat desa Suradadi Kecamatan Terara ketidaksanggupan mengucap Shigat ijab dengan mempelai laki-laki karena wali nasab tidak memenuhi syarat menjadi wali. Yakni wali sebenarnya memiliki pengetahuan mengenai hukum munakahat, dari hasil wawancara dengan masyarakat desa Suradadi Kecamatan Terara, biasanya yang mendapat amanat sebagai wakil wali ialah hyai atau orang terpadang di desa tersebut yang menurut masyarakat dipandang memenuhi syarat sebagai pengganti atas dirinya untuk menikahkan anak perempuannya.
Alasan yang digunakan oleh masyarakat desa Suradadi berkaitan penyerahan hak kekuasaan perwalian kepada kyai disebabkan adhalnya wali. Dalam artian, bukan karena wali benar-benar enggan menikahkan anak perempuannya atau alasan wali tidak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum munakahat, melainkan karena ingin meneruskan kebiasaan nenek moyang mereka, tidak mau mendapat gunjingan dari masyarakat sekitar dan untuk mendapat barokah pada kyai yang menikahkan putrinya.
Menyimak dari peraturan mentri Agama Nomor 11 Tahun 2007 tentang pencatatan nikah menjelaskan bahwa untuk melaksanakan pernikahan wali nasab dapat mewakilkan kepada Pegawai Pencatat Nikah (PPN), Penghulu, Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (PPPN/P3N) atau orang lain yang memenuhi syarat.85 Dari penjelasan tersebut, terlihat terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh wali nasab di desa Suradadi Kecamatan Terara tidak sesuai dengan peraturan yang ada, yakni wali nasab tidak langsung memberikan perwalian akad nikahnya kepada naib atau petugas KUA melainkan kepada kyai ketika wali nasab enggan menikahkan putrinya.
85 Pasal 18 ayat (3) Peraturan Mentri Agama Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
Dapat disimpulkan bahwa perbuatan yang dilakukan masyarakat desa Suradadi kecamatan Terara, tidak sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang ada di Indonesia, sehingga perbuatan tersebut masih menjadi problematika ditengah masyarakat. Oleh karena itu dari pihak KUA lebih sleksi dalam mencatatkan kasus pernikahan sehingga semua berjalan sesuai dengan perintah Agama maupun Negara. Sehingga menjadikan praktek tersebut diperbolehkan untuk dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan tujuan untuk menutupi kekurangan atau kekosongan orang lain dan kemudian memudahkan urusan-urusannya serta tidak terjebak dalam kesulitan.
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan paparan data yang telah dilakukan peneliti di atas tentang Problematika perwalian Nikah antar Strata Sosial di Desa Suradadi kecamatan Lombok Timur, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Praktik perwalian nikah pasangan bangsawan dengan non bangsawan di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.
Praktik penyerahan hak kekuasaan perwalian nikah atau taukil wali sudah berjalan sejak lama sehingga menjadi kebiasaan bagi masyarakat yang ada di Desa Suradadi yang secara garis besar di sebabkan karena praktik ini mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka dulu, dan pandangan masyarakat ketika Keluarga perempuan Bangsawan menikah dengan non Bangsawan itu melanggar aturan adat. Sehingga itu yang membuat mereka sulit mendapat wali dari pihak perempuan sampai ada yang tidak mendapat restu dari orang tua ketika ingin menikah. Berbeda halnya dengan laki-laki bangsawan menikah dengan yang non bangsawan itu tidak melanggar aturan adat, disamping itu supaya mereka tidak terlihat terlalu gembira atau mengharapkan untuk mempunyai besan. Oleh karena itu, taukil wali di pilih sebagai pilihan mereka lebih baik supaya tidak mendapat gunjingan dari masyarakat.
2. Alternatif solusi terhadap problematika perwalian nikah antar strata sosial di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.
Fenomena taukil wali dalam akad nikah yang terjadi di Desa Suradadi Kecamatan Terara yakni sah-sah saja apabila sesuai dengan aturan Agama ataupun Negara keduanya sudah diatur sedemikian rupa karena keduanya akan memberikan manfaat kepada masyarakat selama itu tidak keluar dari aturan hukum Islam dan Hukum positif Indonesia.
Akan tetapi dilihat dari alasan-alasan masyarakat bertaukkil wali tidak sesuai dengan Syari‟at yakni dengan alasan meneruskan kebiasaan nenek moyang, menghindari gunjingan masyarakat, dan untuk memberikan barokah kepada pernikahan anaknya. Padahal taukil wali diperbolehkan dalam hukum Islam, bahkan dianjurkan bagi mereka yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Sebab setiap PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR
STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga dengan taukil ini akan memberikan kemudahan bagi mereka yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian taukil merupakan salah satu bentuk tolong menolong dalam bentuk kebajikan dan ketakwaan. Adapun taukil wali menurut hukum positifnya yaitu sangan memberikan manfaat kepada sesame manusia, khusunya bagi para wali nasab yang tidak bisa atau berhalangan menjalankan kewajibannya sebagai wali yang lebih berhak menikahkan putrinya sendiri dengan mempelai laki-laki.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang di lakukan, perlu kiranya peneliti memberikan saran atas permasalahan yang terjadi pada masyarakat desa Suradadi.
1. Bagi masyarakat yang masih memegang teguh aturan adat diharapkan mau membuka diri untuk menerima perubahan, tidak perlu memandang buruk pasangan yang menikah beda kasta, bukan karena alasan gengsi dan alasan-alasan lain, karena di dalam Islam tidak ada syarat harus mempunyai kasta sama-sama bangsawan harus nikah dengan yang bangsawan pula. Akan tetapi yang menjadi pembeda di mata Allah hanya ketakwaannya sebagai hamba.
2. Untuk tokoh adat sebagai orang yang disegani di masyarakat perlu kiranya ada penyesuaian nilai-nilai adat istiadat yang ada pada masyarakat agar tidak terjadi benturan dengan aturan agama dan perkembangan kehidupan yang terjadi dalam masyarakat.
3. Bagi orang tua di desa Suradadi hendaknya mengetahui tahu bagaimana aturan Agama bahwa diwalikan oleh wali nasab sendiri khususnya ayah lebih utama dibandingkan diwakilkan perwaliannya kepada orang lain dan tidak membatasi pernikahan anak mereka selama calon yang dipilihnya baik secara akhlak dan agama walaupun dia bukan dari kalangan bangsawan.
4. Bagi lembaga yang mengurus dan mencatat pernikahan di desa Suradadi yakni KUA Kecamatan Terara perlu menggiatkan sosialisasi kepada tokoh masyarakat dan tokoh adat, melalui pertemuan- pertemuan, khotib jum‟at, ceramah-ceramah agama dan lain sebagainya. Agar masyarakat tahu betul bahwa di dalam hukum Islam PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR
STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
dinikahkan oleh wali nasab (orang tua) lebih utama di banding menyerahkannya kepada orang lain.
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
DAFTAR PUSTAKA
Al-Zuhailiy Wahbah, Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, Bandung: Gema Insani Press, Beirut, 2007
Al Hamdani, Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Pustaka Amani, 2011
Ali Zainuddin, Sosiologi Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2015.
Arikanto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta, 2013.
Assegaf Hasyim, Kafa’ahSyarifah,Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Basriadi, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perkawinan Beda Kelas Muslim Sasak Di Lombok, studi keislaman, Vol 1, Nomor 2, Maret 2015.
Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih, Jakarta: Kencana, 2009.
Ghozali Abdul Rahman, Fiqih Munakahat, Jakarta: Kencana, 2010.
Harifin Zuhdi Muhammad, Praktek Merariq, LPPM, IAIN Mataram, 2012.
Hadikusuma H.Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut: Perundangan Hukum Adat Hukum Agama, Bandung, Mandar Maju, 1990.
H. Sainun, Tradisi merari’ Mataram: Sanabil Creative, 2016.
J. MoleongLexy, Metodologi Pendekatan Kualitatif, Bandung, PT Remaja Rosdar, 2008.
KuswanaDadang, Metode Penelitian Sosial, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Nasution Kharudin, Stane Kafaah Dalam Perkauman, Yogyakarta: UIN Suka Press, 2014
Nor Juliansyah, Metodologi Penalitian,Jakarta: Prenada Media, 2012.
Ramulyo Idris, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis Dari Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam Jakarta, Bumi Aksara, 1996.
SaebaniBeni Ahmad , Fiqih Munakahat 1, Bandung: pustaka setia, 2009.
SaebaniBeni Ahmad , Fiqih Munakahat Buku ke-2, Bandung: CV Pustka Setia, 2011.
Siddiqui Mona, Menyingkap Tabir Perempuan Islam, Bandung: Nuansa, 2007.
SiregarIr. Syofian, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta, Kencana, 2017.
Sukanto Seorjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali pers,2010.
Supriyadi Dedy, Fiqih Munakahat Perbandingan, Bandung: Pustaka Setia, 2011.
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021
SuyantoBagong, Sutinah, Metode Penelitiana Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan, Jakarta : Kencana, 2007.
Syarifuddin Amir, Hukum Perkawinan Islam Di Indonedia, Jakarta: Kencana, 2010.
Thalib Muhammad, Terjemah Fiqqih Sunnah Jilid 7, Bandung: PT Al-Ma‟rif, 1987.
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi UIN Mataram. Matatam: UIN Mataram, 2019.
Wardatun Atun dan Hamdan, Kontektualisasi Hukum Keluarga Di Dunia Islam, Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2014.
Wirabakti Lalu, Prosesi Titi Tata Adat Sasak: Dalam Aji Krama, Mataram:
Pustaka Widya, 2010.
Zuriah Nurul, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan Teori-Aplikasi, (Jakarta: Pt Bumi Aksara, 2006.
Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Perkawinan: Nikah Talak, Cerai, dan Rujuk, cet. ke-2, Bandung: Al-Bayan, 1995
https://rahma.id>bloglimaAsasmembangunKeluargaSakinah- InspirasiMuslimah
http://www.suradadi.net/index.php/artikel/2021/9/16/sejarah-desa https://brainly.co.id/tugas/1276952
PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL
(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)
Oleh :
MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM
2021