• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis hasil penelitian

BAB I PENDAHULUAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

4.2. Analisis hasil penelitian

bidang loyalitas pelanggan; Kriya Pranala Award dari Bank Indonesia atas partisipasi aktif Bank Syariah Mandiri dalam Linkage Program; The Best Islamic Bank in Indonesia dari Islamic Finance News, Kuala Lumpur bekerja sama dengan Redmoney; The Best Islamic-Fully Pledged Bank dari Karim Business Consulting dalam Islamic Finance Award and Cup (IFAC) 2008; Banking Efficiency Award dari harian Bisnis Indonesia bekerja sama dengan Management Research Centre dan Fakultas Pasca Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI); The Best Islamic Financial Institution in Indonesia dari Global Finance Magazine, New York dalam The World Best Islamic Financial Institution 2008; Golden Trophy Award dari majalah InfoBank kepada bank yang memenuhi kriteria kinerja keuangan “Sangat Bagus” selama lima tahun berturut-turut;

The Best Brand Award dari majalah SWAsembada kepada perusahaan yang memiliki brand sangat kuat di masyarakat untuk kategori bank syariah di Indonesia; dan Bank Syariah Terbaik dari majalah Investor bekerja sama dengan Karim Business Consulting (KBC).

(MR) yang kemudian akan dikalikan dengan bobotnya masing-masing dan diakumulasikan untuk mendapatkan suatu peringkat total yang akan mencerminkan kinerja keuangan suatu bank dengan prinsip syariah.

A. Rasio Permodalan

Modal bank selain sebagai sumber penting dalam memenuhi kebutuhan dana bank juga akan mempengaruhi keputusan-keputusan manajemen bank. Selain itu, perhitungan aspek permodalan bank bertujuan untuk menanggung risiko kerugian yang mungkin timbul dari pembiayaan yang diberikan bank kepada pihak lain.

Menurut PBI No. 9/1/PBI/200 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, permodalan bank syariah dapat diukur dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dengan rumus sebagai berikut:

Berikut adalah perhitungan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) untuk Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) seperti yang ditunjukkan pada tabel-tabel berikut ini:

Tabel 4.1. Perhitungan Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) (Dalam jutaan rupiah)

Pos-pos

Tahun

Rata-rata

2007 2008

BMI BSM BMI BSM BMI BSM

M tier1 859.513 743.841 861.239 1.098.014 860.376 920.928

M tier2 207.994 329.991 415.529 336.363 311.762 333.177

M tier3

Penyertaan

ATMR 8.906.132 8.635.674 11.402.270 11.344.224 9.522.224 9.978.947

KPMM 12% 12% 11% 13% 12% 13%

Peringkat 1 1 1 1 1 1

*Data laporan keuangan M tier 3 dan Penyertaan kosong.

*Detail setiap poin dalam Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 untuk setiap bank tercantum dalam Lampiran 10 sampai dengan Lampiran 13.

Sumber data:

- Bank Syariah Mandiri: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

- Bank Muamalat Indonesia: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

Tabel 4.2. Detail Perhitungan Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tiap Bank Berikut Rata-rata

(Dalam jutaan rupiah)

Tahun Bank Detail Perhitungan

2007

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

2008

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Rata- rata

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.1. dan 4.2. di atas dapat diketahui bahwa secara umum KPMM Bank Syariah Mandiri maupun Bank Muamalat Indonesia sama-sama menunjukkan hasil yang baik dengan mendapatkan peringkat 1 secara keseluruhan (KPMM ≥ 12%). Rata-rata KPMM setiap bank dalam kurun waktu dua tahun ini juga menunjukkan hasil yang sangat baik karena dari rata-ratanya 12% untuk

BMI dan 13% untuk BSM dari ketentuan minimal yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga memperoleh peringkat pertama. Hal ini menunjukkan bahwa modal kedua bank mampu untuk mengcover risiko yang mungkin terjadi pada bank.

Untuk Bank Muamalat Indonesia, tahun 2007 dan 2008 menunjukkan kinerja permodalan yang cukup konstan dengan peningkatan hampir 100% dalam Tier 2.

Dengan tetap mempertahankan peringkat pertama dalam permodalannya, Bank Muamalat Indonesia telah menunjukkan kekonsistenan kinerja suatu bank syariah yang telah sekitar 19 tahun berdiri. Meskipun kinerja permodalan Bank Muamalat Indonesia mengalami penurunan sebesar 1% dari tahun 2007 ke 2008, namun jika dilihat secara nominal, baik modal inti, modal pelengkap, maupun ATMR mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun dikarenakan peningkatan ATMR jauh lebih besar dibandingkan akumulasi peningkatan modal inti dan modal pelengkap, hal tersebut akan menyebabkan beban Bank Muamalat Indonesia untuk menanggung kerugian yang mungkin terjadi akan semakin besar. Namun dengan stabilnya nilai KPMM Bank Muamalat Indonesia sebesar 12% selama dua periode ini juga akan semakin meminimalisir banyaknya dana yang menganggur sehingga dana-dana tersebut dapat menjadi lebih produktif.

Bank Syariah Mandiri memperoleh peringkat 1 yang konstan dalam periode dua tahun ini, namun meskipun peringkat yang diperoleh Bank Syariah Mandiri tidak berubah, terdapat adanya peningkatan dari tahun 2007 ke 2008 dari yang semula hanya 12% menjadi 13%. ATMR Bank Syariah Mandiri menunjukkan peningkatan dalam jumlah yang luar biasa, hal ini mengindikasikan bahwa Bank Syariah Mandiri lebih produktif dalam menggunakan dana-dananya yang selama ini masih menganggur.

Jumlah modal Bank Syariah Mandiri pun mengalami peningkatan meski jumlahnya tidak

sebesar peningkatan yang terjadi dalam ATMR Bank Syariah Mandiri. Nilai rata-rata KPMM Bank Syariah Mandiri untuk periode dua tahun ini adalah 13% yang juga memperoleh peringkat pertama untuk perhitungan kinerja permodalan perbankan berbasis syariah berdasarkan PBI No. 9/1/PBI/2007.

Di antara Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri berdasarkan tabel 4.1. di atas, melalui perhitungan KPMM dapat disimpulkan bahwa Bank Syariah Mandiri menunjukkan kinerja permodalan bank yang lebih baik dibandingkan dengan Bank Muamalat Indonesia dalam periode tahun 2007-2008. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rasio KPMM oleh Bank Syariah Mandiri dari 12% menjadi 13% sementara Bank Muamalat Indonesia justru mengalami penurunan persentase rasio KPMM mereka dari angka 12% di tahun 2007 menjadi 11% di tahun 2008. Selain itu, berdasarkan rata- rata KPMM untuk tahun 2007-2008, Bank Syariah Mandiri mencapai angka 13%, sementara Bank Muamalat Indonesia berada pada angka 12%. Hal ini semakin menegaskan bahwa dalam periode 2007-2008 ini Bank Syariah Mandiri secara rata-rata memiliki kinerja keuangan di bidang permodalan yang lebih baik dibandingkan dengan Bank Muamalat Indonesia menurut perhitungan rasio KPMM berdasarkan PBI No.

9/1/PBI/2007.

B. Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP)

Aktiva produktif adalah penanaman dana bank dalam bentuk rupiah maupun valuta asing, kredit yang diberikan, surat berharga yang diterbitkan, serta penempatan pada bank lain.

Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) sangat berguna untuk mengetahui bagaimana pihak bank dapat mengelola aktiva yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menghasilkan pendapatan atau keuntungan semaksimal mungkin. Selain

itu, penilaian Kualitas Aktiva Produktif ini dapat digunakan pula untuk menilai kemampuan antisipasi bank atas risiko gagal bayar dari pembiayaan (credit risk) yang muncul.

Menurut PBI No. 9/1/PBI/200 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, kualitas aktiva produktif dapat diukur dengan rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dengan rumus sebagai berikut:

Berikut adalah perhitungan rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) untuk Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.3. berikut:

Tabel 4.3. Perhitungan Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) (Dalam jutaan rupiah)

Pos-pos

Tahun

Rata-rata

2007 2008

BMI BSM BMI BSM BMI BSM

APYD

DPK 243.476 1.350.763 366.777 945.335 305.126 1.148.049

KL 81.801 186.041 290.172 253.559 185.986 219.800

Diragukan 35.128 507.714 28.871 397.017 31.999 452.365

Macet 162.363 463.466 143.512 863.582 152.937 663.524 Aktiva

Produktif

10.208.899 22.401.832 11.642.598 30.107.351 10.925.748 26.254.591

KAP 0.97 0.94 0.97 0.95 0.97 0.95

Peringkat 2 3 2 3 2 3

Sumber data:

- Bank Syariah Mandiri: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

- Bank Muamalat Indonesia: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

Tabel 4.4. Detail Perhitungan Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) Tiap Bank Berikut Rata-rata

(Dalam jutaan rupiah)

Thn Bank Detail Perhitungan

2007 Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

2008

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Rata -rata

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Dari perhitungan pada tabel 4.3. dan 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa secara umum Kualitas Aktiva Produktif Bank Muamalat Indonesia dan Bank Mandiri Syariah menunjukkan hasil yang cukup baik karena berada di peringkat kedua dan ketiga.

Bank Muamalat Indonesia mengungguli Bank Syariah Mandiri dengan rating yang setingkat lebih tinggi jika dilihat dari perhitungan rata-rata. Hal ini membuktikan bahwa Bank Muamalat Indonesia telah memiliki kualitas aset yang baik namun terdapat kelemahan yang tidak signifikan. Kebijakan dan prosedur pemberian pembiayaan dan pengelolaan risiko dari pembiayaan tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan skala usaha Bank Muamalat Indonesia, serta mendukung kegiatan operasional yang aman dan sehat dan telah didokumentasikan dan diadministrasikan dengan baik.

Peringkat ketiga yang diperoleh Bank Syariah Mandiri ini mencerminkan bahwa kualitas aset Bank Syariah Mandiri cukup baik, namun diperkirakan akan mengalami penurunan apabila tidak dilakukan perbaikan. Kebijakan dan prosedur pemberian pembiayaan dan pengelolaan risiko dari pembiayaan telah dilaksanakan dengan cukup baik dan sesuai dengan skala usaha Bank Syariah Mandiri, namun masih terdapat kelemahan yang tidak signifikan dan atau didokumentasikan dan diadministrasikan dengan cukup baik. Namun, meskipun tetap konstan pada peringkat ketiga, Bank Syariah Mandiri menunjukkan adanya peningkatan rasio dari tahun 2007 ke 2008 dari yang sebelumnya hanya 0.94 pada tahun 2007 menjadi 0.95 pada tahun 2008. Peningkatan rasio ini menunjukkan adanya suatu perbaikan Kualitas Aktiva Produktif Bank Syariah Mandiri dan hal ini diperkirakan akan terus membaik di tahun-tahun berikutnya.

Sedangkan, Bank Muamalat Indonesia berhasil mempertahankan Kualitas Aktiva Produktif mereka di angka 0.97 sehingga mereka juga berhasil mempertahankan peringkat mereka di peringkat 2. Dengan peringkat yang persis konstan di tahun 2007 dan 2008, menunjukkan bahwa Bank Muamalat Indonesia telah berhasil menemukan

sistem pengelolaan dan pengontrolan aktiva produktif yang tepat untuk mempertahankan kinerja Kualitas Aktiva Produktif mereka. Namun, Bank Muamalat Indonesia harus terus melakukan perbaikan dan peningkatan Kualitas Aktiva Produktif mereka agar dapat memperoleh peringkat tertinggi.

Jika menilik kepada Peraturan Bank Indonesia yang menyebutkan bahwa batas maksimum kredit bermasalah bagi perbankan adalah sebesar 5%, maka baik Bank Muamalat Indonesia maupun Bank Syariah Mandiri masih melebihi batas maksimum Peraturan Bank Indonesia tersebut. Bank Muamalat Indonesia mengalami kredit bermasalah sebesar 5,12% pada tahun 2007 dan justru meningkat menjadi sebesar 7,11%

pada tahun 2008, sedangkan Bank Syariah Mandiri mengalami kredit bermasalah sebesar 11,20% pada tahun 2007 dan mengalami penurunan yang cukup baik menjadi 8,17%

pada tahun 2008. Masalah terbesar yang menyebabkan Kualitas Aktiva Produktif Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri tidak menempati peringkat pertama dan juga tidak dapat memenuhi batas maksimum kredit bermasalah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah besarnya jumlah mismatch pembayaran dalam kedua bank tersebut. Hal ini dapat diketahui berdasarkan persentase masing-masing Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan setiap bank seperti yang terlampir dalam Lampiran 18 dan 19 bahwa persentase Aktiva Produktif yang berada dalam status Dalam Perhatian Khusus menempati persentase terbesar dibandingkan Aktiva Produktif dengan status Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet. Permasalahan ini cukup mengganggu karena kredit Dalam Perhatian Khusus juga sangat berpengaruh dalam pencapaian kredit bermasalah sebesar 5% tersebut. Oleh karena itulah masalah mismatch pembayaran ini patut mendapatkan perhatian dan penanganan khusus dari bank itu sendiri.

Selain itu, bagi Bank Syariah Mandiri meskipun mengalami peningkatan Kualitas Aktiva Produktif dari 0,94 pada tahun 2007 menjadi 0,95 pada tahun 2008, namun dapat

terlihat adanya lonjakan kredit macet BSM sebesar 86% dalam dua tahun tersebut.

Lonjakan kredit macet yang diiringi dengan penurunan Aktiva Produktif yang berstatus Diragukan dapat disimpulkan sebagai penurunan kualitas aktiva produktif BSM dari Diragukan menjadi Macet.

Meskipun demikian, dengan menduduki peringkat kedua dan ketiga, Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia cukup dapat dikatakan memenuhi tujuan dari PBI No. 9/1/PBI/2007. PBI No. 9/1/PBI/2007 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral Republik Indonesia mengharapkan perbankan syariah di Indonesia dapat berada dalam kondisi kinerja keuangan yang baik menurut kelima aspeknya yang diukur berdasarkan rasio-rasio keuangan yang telah ditentukan, karena kesehatan suatu bank berdasarkan prinsip syariah merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, bank pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan bank. Berdasarkan peringkat itu pula, dapat diketahui bahwa Bank Muamalat Indonesia lebih baik dari Bank Syariah Mandiri menurut perhitungan rasio Kualitas Aktiva Produktif berdasarkan PBI No. 9/1/PBI/2007 untuk periode 2007- 2008.

C. Rasio Rentabilitas (earning)

Rentabilitas menunjukkan kemampuan bank untuk menghasilkan laba yang merupakan tujuan jangka panjang dari setiap usaha. Rasio yang digunakan untuk mengukur rentabilitas dalam penelitian ini didasarkan pada PBI No. 9/1/PBI/2007 adalah Net Operational Margin (NOM) dengan rumus sebagai berikut:

Kemampuan rentabilitas juga dapat mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal perusahaan. Semakin besar laba yang dapat dihasilkan oleh perusahaan akan dapat dialokasikan untuk menambah modal perusahaan. Selain itu, apabila perusahaan menderita kerugian yang besar dan harus mengganti kerugian tersebut, maka laba yang diperoleh dan modal yang dimiliki oleh perusahaan adalah dana yang dapat digunakan untuk menutup kerugian tersebut. Oleh karena itulah kemampuan rentabilitas bank sangat berkaitan dengan kemampuan bank dalam mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal perusahaan.

Berikut adalah perhitungan rasio Rentabilitas (earning) untuk Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.5. ini:

Tabel 4.5. Perhitungan Rasio Rentabilitas (earning) (Dalam jutaan rupiah)

Pos-pos

Tahun

Rata-rata

2007 2008

BMI BSM BMI BSM BMI BSM

Pendapatan Operasional

926.965 1.407.193 1.468.034 2.098.398 1.197.495 1.752.796

Distribusi Bagi Hasil

370.661 511.873 515.423 793.049 443.042 652.461

Biaya Operasional

204.369 728.253 643.513 1.026.117 423.941 877.185

Rata-rata Aktiva Produktif

9,724,604 2,157,558 10,881,309 2,516,418 10,302,956 2,336,988

NOM 4% 8% 3% 11% 3% 10%

Peringkat 1 1 2 1 2 1

Sumber data:

- Bank Syariah Mandiri: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

- Bank Muamalat Indonesia: Laporan keuangan yang dipublikasi, 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2008.

Tabel 4.6. Detail Perhitungan Net Operational Margin (NOM) Tiap Bank Berikut Rata-rata (Dalam jutaan rupiah)

Thn Bank Detail Perhitungan

2007 Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

2008

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Rata -rata

Bank Muamalat Indonesia

Bank Syariah Mandiri

Berdasarkan perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.5. dan 4.6. di atas, dapat diketahui bahwa secara umum NOM Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri telah baik dengan Bank Syariah Mandiri berada di peringkat pertama dan Bank Muamalat Indonesia menempati peringkat kedua.

Dengan peringkat pertama, hal ini mencerminkan bahwa kemampuan rentabilitas Bank Syariah Mandiri sangat tinggi untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Penerapan prinsip akuntansi, pengakuan pendapatan, pengakuan biaya dan pembagian keuntungan (profit distribution) telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan meningkatnya NOM, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan Bank Syariah Mandiri dalam memperoleh laba.

Sementara, dengan peringkat kedua, hal ini mencerminkan bahwa kemampuan rentabilitas Bank Muamalat Indonesia tergolong tinggi untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Penerapan prinsip akuntansi, pengakuan pendapatan, pengakuan biaya dan pembagian keuntungan (profit distribution) telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jika dilihat perkembangannya dalam tabel di atas, meskipun tetap berada dalam peringkat pertama dan menunjukkan persentasi Net Operating Margin yang mengagumkan, Bank Muamalat Indonesia mengalami penurunan dari periode 2007 ke 2008, dari angka 4% di tahun 2007 menjadi 3% di tahun 2008. Hal ini disebabkan oleh laba operasional mereka yang mengalami penurunan di tahun 2008 meskipun rata-rata Aktiva Produktif mereka mengalami peningkatan yang cukup baik. Penurunan kinerja NOM ini berarti bahwa kemampuan BMI dalam memperoleh laba mengalami penurunan. Dampak dari penurunan kinerja NOM akan membuat nasabah, pemilik saham, dan pihak lainnya merasa kurang puas terhadap efisiensi Bank Muamalat Indonesia dalam menghasilkan laba karena pendapatan untuk masing-masing pihak

tersebut akan berkurang sekalipun Bank Muamalat Indonesia telah menunjukkan persentase NOM yang sangat mengagumkan.

Bank Syariah Mandiri menunjukkan kinerja yang stabil dalam periode dua tahun ini. NOM Bank Syariah Mandiri menunjukkan peningkatan yang perlahan namun pasti dari 8% di tahun 2007 menjadi 11% di tahun 2008. Peningkatan yang dramatis ini disebabkan oleh prosentase peningkatan pendapatan operasional Bank Syariah Mandiri yang jauh lebih besar dibandingkan dengan prosentase peningkatan distribusi bagi hasil dan biaya operasional. Kinerja aktiva produktif Bank Syariah Mandiri pun menunjukkan peningkatan dari tahun 2007 ke 2008 dan hal ini semakin mempertegas kualitas kinerja Bank Mandiri dalam memperoleh laba. Peningkatan kinerja NOM akan semakin memperkuat kepercayaan nasabah terhadap bank tersebut, pemilik saham, dan pihak lainnya, karena peningkatan kinerja tersebut akan memberikan mereka pendapatan yang lebih besar.

Jika dilihat berdasarkan peringkat, Bank Muamalat Indonesia berada satu tingkat di bawah peringkat yang diperoleh Bank Syariah Mandiri. Sebaiknya Bank Muamalat Indonesia melakukan suatu perbaikan kinerja untuk meningkatkan efisiensi rentabilitas mereka sekalipun mereka tetap berada dalam peringkat pertama. Bank Syariah Mandiri yang telah menunjukkan kinerja yang stabil dalam periode dua tahun penelitian ini sebaiknya mempertahankan kinerja rentabilitas mereka yang akan memperkuat kepercayaan nasabah, pemilik saham, dan pihak lainnya, karena hal tersebut membuktikan bahwa Bank Syariah Mandiri dapat memberikan mereka pendapatan yang lebih besar.

Dokumen terkait