• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Analisis Data

4.3 Analisis Hasil Penelitian secara Menyeluruh

Berdasarkan hasi wawancara dengan ketiga informan, peneliti menemukan beberapa kesamaan hasil temuan antara ketiga informan, antara lain:

1. Wajib Pajak memiliki kecenderungan untuk membayar pajak sekecil mungkin.

Ketiga informan mengatakan hal yang sama, bahwa kecenderungan Wajib Pajak adalah berusaha membayar pajak sekecil mungkin. Jika dikaitkan dengan perilaku Wajib Pajak sebagai seorang individu, kecenderungan perilaku seorang individu adalah lebih mementingkan hak dibandingkan kewajiban, pemenuhan kebutuhan diri dan keluarga (Hoftstede, 1980). Disisi lain, pajak adalah iuran kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum [Soemitro, 1990 dalam Waluyo (2010:3)]. Banyaknya kebutuhan diri yang harus dipenuhi membuat seorang Wajib Pajak tidak akan sempat berpikir tentang pajak, terlebih lagi untuk membayarkannya.

2. Menyikapi sifat dasar Wajib Pajak sebagai seorang individu, pemberian edukasi kepada Wajib Pajak dilakukan untuk menyadarkan Wajib Pajak tentang kewajiban perpajakannya.

Dalam proses pemberian edukasi kepada Wajib Pajak, informan satu lebih mencoba mengerti keinginan dan kesulitan Wajib Pajak. Menurut informan satu, masalah perpajakan yang dialami oleh Wajib Pajak tidak akan jauh dari masalah peraturan.

Setelah mengetahui kesulitan Wajib Pajak, informan satu mulai menjawab kesulitan Wajib Pajak dengan menjelaskan intisari peraturan yang terkait. Temuan ini serupa dengan temuan Budi (2007) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor Wajib Pajak tidak patuh adalah kejelasan undang-undang.

Proses edukasi yang dilakukan oleh informan dua lebih kepada memberikan alternatif penerapan peraturan beserta konsekuensinya untuk kemudian dipilih oleh Wajib Pajak. Dengan menjelaskan konsekuensi dari penerapan suatu alternatif keputusan pajak, Wajib Pajak akan memperoleh gambaran agar memilih cara yang tidak melanggar undang-undang. Bagi Wajib Pajak yang masih menggunakan cara menghemat pajak yang melanggar undang-undang, kebanyakan Wajib Pajak baru menyadari konsekuensinya ketika ada Wajib Pajak lain yang diperiksa oleh pihak fiskus karena melakukan hal yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa ketegasan sanksi akan mempengaruhi perilaku Wajib Pajak untuk patuh melaksanakan kewajibannya, serupa dengan temuan Najib (2013). Pemberian edukasi juga diberikan dengan cara menyiapkan Wajib Pajak agar bisa mandiri dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Informan tiga menekankan pada proses persuasif yang coba dirancang agar Wajib Pajak mau melaksanakan kewajiban perpajakannya. Proses ini bebarengan dengan proses edukasi. Proses edukasi terkait dengan aturan mulai menyasar pada objek tertentu. Langkah persuasif akan berbeda sesuai dengan ranah perpajakan yang dihadapi Wajib Pajak. Proses persuasif ini sebagai bentuk pengawasan dari pihak fiskus kepada Wajib Pajak. Pengawasan ini bertujuan untuk mengajak, membimbing, atau memaksa masyarakat untuk mematuhi kaidah yang berlaku (Ahmadi, 1985).

Dalam kaitannya dengan masalah pajak, pegawai pajak akan berusaha membuat Wajib Pajak untuk mematuhi kewajiban perpajakannya.

3. Karakteristik daerah dan budaya mempengaruhi perilaku Wajib Pajak.

Menurut Ralph Linton, kebudayaan merupakan warisan sosial dari anggota suatu masyarakat. Kebudayaan masyarakat akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Sesuai dengan teori tersebut, temuan penelitian juga menunjukkan indikasi hal yang serupa. Informan satu menghadapi Wajib Pajak yang disiplin pada aturan ketika bertugas di daerah Indonesia bagian tengah agak ke timur.

Perilaku tersebut dipengaruhi oleh budaya Belanda yang pernah menjajah daerah tersebut. Informan tiga menyebutkan karakter masyarakat Jawa Timur bagian selatan yang berbeda dengan karakter masyarakat daerah pantai utara.

4. Industri dan bisnis Wajib Pajak mempengaruhi perilaku Wajib Pajak.

Beberapa pengusaha dengan industri sejenis terkadang membentuk paguyuban atau asosiasi. Berdasarkan hasil wawancara, penyampaian edukasi bagi informan satu dan dua menjadi lebih mudah karena adanya perkumpulan tersebut. Kemudahan juga diperoleh secara langsung oleh Wajib Pajak yang bernaung. Wajib Pajak menjadi lebih mudah melaksanakan kewajiban perpajakannya. Proses tersebut menunjukkan adanya kerjasama yang menguntungkan. Menurut Charles H. Cooley, kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama, pada saat yang bersamaan dan mereka mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut. Dalam hal ini, pegawai pajak dan konsultan pajak memiliki kepentingan untuk menyampaikan informasi dan mengedukasi Wajib Pajak, di lain sisi, Wajib Pajak memiliki kepentingan untuk menunaikan kewajiban perpajakannya. Kedua pihak sama-sama dimudahkan dengan adanya hubungan kerja sama ini.

Informan tiga memiliki penjelasan yang berbeda terkait dengan pengaruh jenis industri terhadap perilaku Wajib Pajak. Informan tiga yang bertugas di KPP Madya, banyak menangani Wajib Pajak badan di berbagai tingkatan, mulai dari yang sederhana hingga sangat kompleks. Untuk perusahaan dengan skala menengah ke bawah, penghindaran pajaknya mudah ditebak oleh pegawai pajak. Sebaliknya, perusahaan yang berskala nasional dan multi nasional, penghindaran pajaknya sudah bagus, dalam hal ini mereka juga menggunakan aspek-aspek pelaporan akuntansi untuk melakukan penghindaran pajak, seperti perataan laba, manajemen laba, dan transfer pricing.

5. Karakteristik Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan cenderung sama.

Menurut informan satu dan dua, pada dasarnya karakteristik Wajib Pajak orang pribadi dan badan cenderung sama, karena keduanya sama-sama berposisi sebagai Wajib Pajak. Hal yang membedakan keduanya adalah ketentuan yang mengikatnya.

Informan tiga juga berpendapat demikian. Lebih lanjut dijelaskan oleh informan tiga, terkait dengan ranah pemaksaan, perlakuan keduanya sudah mulai berbeda. Wajib Pajak orang pribadi relatif lebih mudah dilacak penanggung pajaknya, sedangkan Wajib Pajak badan lebih sulit untuk melacak penanggung pajaknya, mengingat pemiliknya yang sangat banyak. Pegawai pajak harus memahami isi akta pendirian badan.

6. Wajib Pajak akan secara sadar mematuhi kewajiban perpajakan yang secara langsung memberikan keuntungan bagi mereka.

Seperti yang dikaji sebelumnya pada bab 2, salah satu penyebab orang tidak tertarik membayar pajak adalah karena tidak adanya manfaat secara langsung yang mereka

dapatkan (Field dan Frey, 2007). Namun, khusus untuk kewajiban ber-NPWP dan ber- NPKP, Wajib Pajak sudah sadar untuk memenuhinya. Berdasarkan pengungkapan informan satu terkait dengan kewajiban memiliki NPWP dan NPKP, kebanyakan Wajib Pajak sudah memiliki kesadaran untuk memenuhinya. Hal ini disebabkan karena keharusan masyarakat memiliki NPWP untuk emngurus keperluan tertentu, seperti mengurus perijinan usaha, pengajuan kredit usaha, hingga kewajiban formal sebagai seorang pegawai untuk memiliki NPWP.

7. Wajib Pajak akan taat pada peraturan ketika mereka dikenai sanksi, seperti mengalami pemeriksaan.

Beberapa hasil temuan dari pengungkapan informan adalah terkait dengan perilaku Wajib Pajak dipengaruhi oleh sanksi. Wajib Pajak yang cenderung melaksanakan kewajiban pajaknya dengan ala kadarnya akan mulai menumbuhkan kesadarannya ketika sudah ada sanksi yang diterimanya, atau Wajib Pajak lain yang melakukan pelanggaran sama telah memperoleh sanksi terlebih dahulu. Hal ini membuktikan bahwa sanksi yang tegas sangat mempengaruhi perilaku patuh Wajib Pajak (Najib, 2013).

8. Usaha penghindaran pajak tetap tidak bisa dipisahkan dalam perilaku patuh Wajib Pajak.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 telah menetapkan kriteria kepatuhan Wajib Pajak. Menurut peraturan tersebut, Wajib Pajak dimasukkan dalam kategori Wajib Pajak patuh apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan;

b. tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak;

c. Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut; dan

d. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.

Secara kepatuhan administrasi, kebanyakan Wajib Pajak sudah melaksanakan kewajibannya secara patuh. Namun kembali lagi ke penerapan self assessment system di Indonesia, bahwa kebenaran data dan tanggung jawab pelaksanaan kewajiban perpajakan sepenuhnya berada di tangan Wajib Pajak. Berdaasarkan hasil penemuan tidak dapat dipungkiri bahwa dibalik perilaku patuh Wajib Pajak, terdapat upaya penghindaran pajak, khususnya bagi Wajib Pajak badan. Informan dua sebagai konsultan pajak mengajarkan upaya perencanaan pajak dengan pendekatan tax avoidance untuk menghemat pajak. Meskipun penghematan yang dilakukan dengan cara ini tidak terlalu signifikan, akan tetapi upaya penghindaran pajak tetap saja dilakukan. Lebih luas lagi, di ranah Kantor Direktorat Jenderal Pajak, khususnya KPP Madya yang menangani Wajib Pajak badan, informan tiga mengungkapkan bahwa penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan skala besar sudah melibatkan aspek akuntansi, seperti earning management, dan transfer pricing. Hal ini juga membuktikan bahwa penerapan metode akuntansi tertentu yang tercermin dari perilaku manajemen laba dilakukan dengan tujuan meminimalkan pajak (Scott, 2003).

Selain penemuan tersebut, peneliti juga menemukan perilaku Wajib Pajak sebagai konsumen. Hal ini berkaitan dengan hubungan Wajib Pajak dengan konsultan pajak.

Konsultan pajak adalah setiap orang yang dalam lingkungan pekerjaannya secara bebas memberikan jasa profesional kepada Wajib Pajak dalam menyelesaikan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam

hubungan tersebut, konsultan pajak adalah pihak yang memberikan jasa dan Wajib Pajak adalah konsumen. Ditemukan bahwa kepuasan Wajib Pajak terhadap kinerja konsultan pajak menyebabkan ketergantungan kepada konsultan pajak. Ketergantungan yang dimaksud adalah Wajib Pajak akan menggunakan jasa konsultan pajak terus menerus dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Hal ini sesuai dengan teori perilaku konsumen dari sisi ekonomi mikro, yang menyebutkan bahwa konsumen akan meneruskan pembeliannya apabila merasa puas dengan produk yang dibelinya. Selain menimbulkan ketergantungan, kepuasan yang didapat oleh Wajib Pajak juga berdampak pada bertambahnya jumlah klien yang ditangani oleh konsultan pajak. Wajib Pajak yang puas dengan kinerja konsultan secara sadar akan mengajak Wajib Pajak lain untuk menggunakan konsultan yang menanganinya.

Penelitian ini menyadarkan kita tentang peran pegawai DJP dan konsultan pajak dalam menyadarkan Wajib Pajak agar melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan aturan yang ada. Wajib Pajak dengan sifat alaminya yang enggan membayar pajak, tentu harus diberikan edukasi sebanyak mungkin agar mereka mau menunaikan kewajiban perpajakannya. Terlebih lagi, dalam penerapan self assessment system, undang-undang tidak mentolerir ketidaktahuan Wajib Pajak. Bisa dibayangkan apabila Wajib Pajak yang tidak tahu kewajiban pajaknya tiba-tiba diharuskan membayar pajak dalam jumlah besar, maka akan langsung mati sumber kelangsungan usahanya karena pajak tersebut. Ketidaktahuan bukanlah alasan bagi Wajib Pajak untuk tidak patuh. Ketidaktahuan Wajib Pajak adalah tantangan besar bagi pegawai DJP maupun konsultan pajak untuk memberikan edukasi kepada Wajib Pajak agar mengerti akan kewajiban perpajakannya.

5. Kesimpulan, dan Keterbatasan

Dokumen terkait