• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KRITIS TERHADAP 13 PASAL AJARAN TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

Dalam dokumen metodologi - keilmuan - repo uinsa (Halaman 145-150)

هبيترتو )

D. ANALISIS KRITIS TERHADAP 13 PASAL AJARAN TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

104

menyandarkan niatnya kepada Allah, maka ia tidak akan mencium bau surga di hari kiamat.

Maka dari itu, seseorang haruslah bertakwa kepada Allah SWT baik dalam keadaan sendiri atau berbaur dengan orang lain dan senantias berdoa agar apa yang dicita-citakan bisa tercapai, sekaligus kontiniu dalam menjalankan ibadah di malam hari. Seorang pelajar dituntut pula untuk senantiasa menghormati ilmu dan gurunya dan mengamalkan apa yang diperoleh, karena itu menjadi sebab bertambah dan berkahnya ilmu.

D. ANALISIS KRITIS TERHADAP 13 PASAL AJARAN

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

105

kontekstual yang saling berkaitan dalam penerapannya oleh para penuntut ilmu (Siswa yang berjiwa ta’lim). Tidak dipahami secara terpotong-potong atau berdiri sendiri.

Melainkan saling kuat menguatkan. Inilah yang unik dan spesifik di antaranya apa yang terdapat di dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim itu.

3. Aspek-Aspek Ajaran Ta’lim al-Muta’alim

Apabila dicermati secara jeli dan sikap kritis ketiga belas bab atau pasal, dengan sebanyak 112 butir rangkuman dan ikhtisarnya menjadi 63 butir sari ajarannya yang dirumuskan secara sistematik dan terinci untuk tiap pasalnya, maka keseluruhan ajaran Ta’lim al-Muta’alim itu jika dipelajari dari bidang ilmu (disiplin dan sub disiplin ilmu) agama Islam, hususnya dari ilmu kependidikan &

kepengajaran Islam; ternyata mencakup banyak segi, antara lain:

a. Falsafah bagi tujuan pengajaran/pendidikan yang Islami (strategi pendidikan Islam, jangka panjang), seperti tecantum dalam pasal 2; niat/tujuan/motivasi dalam menuntut ilmu dengan 5 (lima) tujuan itu, menentukan kriteria pilihan guru atau tempat belajar (pasal 2) sebagaimana tersebut dalam ikhtisarnya.

b. Metodologi dalam memproses atau mencari ilmu itu sehingga bisa berjalan baik tanpa halangan yang berarti, karena itulah diperhitungkan tata caranya, yakni: teknik-teknik yang harus diketahui dalam menuntut ilmu atau belajarnya. Mulai dari cara menghafal pelajaran, bermusyawarah, berdebat/

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

106

diskusi, dan sebagainya, bagaimana urutan tata langkah yang baik dan jitu dalam menentukan waktu/saat belajar yang baik itu (misalnya: pagi hari atau saat malam hari yang tenang). (Pasal 5 dan 6) c. Akhlaq, yakni etika/sopan santun bagi penuntut

ilmu, baik saat berhadapan dengan guru atau pengajarnya maupun saat bergaulnya dengan sesama teman atau orang lain, itu semua menunjukkan bahwa dalam mencapai derajat ilmiah yang Islami faktor ‘Etika Moralitas’ perlu menjadi perhatiannya. Tidak asal pintar tanpa bermoral.

Atau asal lulus tetapi dengan cara yang tak terpuji (misalnya: nyontek, curang dalam ujian dsb). Tiap pasalnya mengandung bimbingan ‘Akhlaq’.

d. Tadzkiyah (ke-suci-an/ke-bersih-an hati/pikiran dan prilaku) bagi seorang penuntut ilmu (yang berjiwa Islami, ala ta’lim al-muta’alim; antaa lain ditunjukkan ajarannya pada hampir semua pasalnya diselipkan unsur-unsur pembersihan hati (=tadzkiyah al-qalbi).

Ini berarti masalah hati/mental memegang peranan penting dalam prosesi menuntut ilmu yang Islami.

Sebab, akan berpengaruh pula pada bobot nilai (value) atau keberhasilan dan prestasi belajar pada akhirnya. Capailah prestasi itu dengan cara yang terhormat dan bersih dari kotoran lahir dan batin.

Itulah pentingnya: agar para siswa, santri, mahasiswa atau para pencari ilmu, tidak melupakan: akhlaq berilmu baca al-qur’anul karim, bermunajat mendekatkan diri kepada Allah secara

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

107

beristiqamah (terus menerus) sebagaimana tersebut pada pasal: 5,6,7,12.

e. Sosial (kemasyarakatan), yakni: tiap penuntut ilmu (yang berjiwa Islami ala ta’lim al muta’alim senantiasa perlu membekali dirinya dalam hal menjaga tata hubungan persaudaraan antara sesama (teman khususnya) karenanya, berprasangka buruk kepada orang lain atau su’udzan perlu dihindari, juga berlaku dermawan terhadap orang lain merupakan salah satu pendidikan sosial kemasyarakatan, sebagaimana tersebut dalam pasal 9-11.

f. Amalaiyah ibadah (aktivitas ubudiyah) yakni tiap penuntut ilmu selama dalam proses perjalanan untuk studi, hendaknya berbagi amalan ibadah (al mahdiah mulai yang wajib sampai sunnahnya), dikerjakannya, misalnya: shalat tahajjud, membantu kelancaran proses studi serta menjadi perisai ruhaniyah dan moralitas atas kebersihan ilmu dan hasil prestasinya, (hampir di semua pasalnya tedapat ajaran tentang amaliyah ibadah).

Atau dalam rumusan spesifik disebut:

“Menuntut Ilmu Dengan Jiwa Nur Iman Taqwa Dan Islami (NUR-IMTAQI)”.

Demikian beberapa kesan atas berbagai ajaran ta’lim al muta’allim mulai dari pasal I s/d XIII, yang secara khusus dikaji dari beberapa aspek disiplin ilmu agama Islam tentunya masih ada yang lain, jika digali atau dicermati secara kritis.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

108

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka kesimpulannya ialah:

1. Ajaran kitab Ta’lim al-Muta’alim itu memang lengkap dan luas. Mencakup berbagai aspek pendidikan/

pengajaran yang Islami.

2. Ajaran Ta’lim al-Muta’alim secara keseluruhan bersifat pendidikan keilmuan yang komprehensip dalam hal wawasan pandang untuk bimbingan amaliyahnya dalam kehidupan para penuntut ilmu (yang Islami).

3. Ajaran Ta’lim al-Muta’alim memberikan arahan tiga hal prinsip dalam sistem kependidikan/kepengajarannya di bidang keilmuannya secara aqli, indrawi dan qalbi serta memperhatikan:

a. Pentingnya: memahami arti dan tujuan ilmu atau tiap vak/bidang studi/sekolah sebelum mulai belajar atau memilih sekolah.

b. Pentingnya: niat dan motivasi belajar dan arah pencapain cita-cita luhur sesuai bakat dan minat.

c. Pentingnya keterpaduan dalam proses antara metodologi dengan etika atau akhlak berilmu secara islami.

Setelah anda mengetahui tentang 13 pasal dan kandungannya yang terdapat pada kitab Ta’lim al- Muta’allim, selanjutnya intisari dari pasal-pasal tersebut akan dikupas secara kritis metodologis pada pembahasan berikut ini.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

109

BAB V

KAJIAN TEORITIS

TERHADAP KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

A. TINJAUAN DARI ASPEK TEKSIOLOGIS, SEMANTIK

Dalam dokumen metodologi - keilmuan - repo uinsa (Halaman 145-150)