BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.7 Analisis Penelitian
4. Hipotesis 4 (H4) dalam penelitian ini yaitu : proporsi kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Berdasarkan hasil regresi persamaan tabel 4.11 diatas, ditemukan probabilitas INST sebesar 0.0449 atau lebih kecil dari signifikan 5%
dan koefisien regresi sebesar -0.372155. Nilai koefisien yang bernilai negatif menandakan bahwa proporsi kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan (PBV). Sehingga hal tersebut menunjukan proporsi kepemilikan institusional berpengaruh negative signifikan terhadap nilai perusahaan, sehingga dapat dinyatakan bahwa H4 ditolak.
tinggi keuntunggan atau laba didapat perusahaan, hal ini akan mendorong tingginya investor menanmkan modalnya diperusahaan tersebut, sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya yaitu Wijaya dan Wibawa (2010), Afzal (2010) dan Ayem dan Nugroho (2017) yang menyatakan bahwa keputusan investasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini juga mendukung teori sinyal (signalling theory), di mana informasi keputusan investasi yang tinggi memberikan sinyal yang baik kepada investor tentang nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Pengeluaran investasi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan.
4.7.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan
Pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan dengan proksi LN dari total asset seperti pada tabel 4.9 menunjukkan hasil berpengaruh negatif tidak signifikan. Hal ini menunjukan bahwa ukuran perusahaan tidak memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan, artinya ukuran perusahaan tidak mampu meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Martini et al., (2014), Prasetyorini (2013), Ernawati dan
Widyawati (2015) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Tidak sejalannya hasil penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya mungkin dikarenakan ukuran perusahaan sudah bukan menjadi faktor yang penting bagi para investor untuk berinvestasi. Selain itu, investor juga memiliki kecenderungan untuk lebih melihat faktor lain yang dianggap lebih mempengaruhi tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan yang akan lebih menarik minat investor melakukan investasi.
Meidiawati (2015) dan Berliani (2017) mengatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan karena ukuran perusahaan bukan merupakan pertimbangan investor dalam melakukan investasi. Investor tidak melihat besar atau kecilnya perusahaan, namun investor cenderung memperhatikan faktor-faktor lain seperti profitabilitas dan struktur modal yang lebih mempengaruhi tingkat pengembalian investasinya.
4.7.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan
Pengaruh proporsi kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan dengan proksi (MAN) seperti pada tabel 4.9 menunjukkan hasil berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti kepemilikan manajerial yang tinggi akan menurunkan nilai perusahaan. Kondisi ini dapat terjadi karena kepemilikan manajerial perusahaan sampel ada yang konstan setiap tahunnya dan ada yang belum
stabil yaitu mengalami penurunan dan peningkatan. Ketika kepemilikan manajerial mengalami peningkatan, tetapi tidak meningkatkan nilai perusahaan ini diakibatkan oleh kepemilikan manajerial pada perusahaan perbankan go public dari tahun 2013-2017 masih kurang dari seratus persen yaitu secara deskriptif memiliki rata-rata sebesar 1,90% sehingga kepemilikan manajerial tidak direspon oleh investor sebagai sinyal positif dalam meningkatkan nilai perusahaan. Pemegang saham mayoritas berusaha mengawasi dan mempengaruhi pengambilan keputusan manajemen. Penelitian ini tidak mendukung teori agensi (agency theory), bahwa proporsi saham yang dimiliki institusi dapat mengurangi konflik antara principal dan agent dengan mempersatukan kepentingan manajer dengan pemegang saham sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Penelitian Rustendi dan Farid (2008) konsisten dengan penelitian ini yang menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Sugiarto (2011) dan Suastini et al., juga menemukan kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berlawanan dengan hipotesa bahwa adanya kepemilikan manajerial akan meningkatkan nilai perusahaan sebagaimana hasil sebelumnya yang dilakukan oleh Muryati dan Suardikha (2014) dan Solikin et al., (2015) yang menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
4.7.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan Pengaruh proporsi kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan dengan proksi (INST) seperti pada tabel 4.9 menunjukkan hasil berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar jumlah kepemilikan institusional justru akan menurunkan nilai perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kusumanigtyas (2015) dan Wida dan Suartama (2014) yang menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini juga tidak mendukung teori agensi (agency theory), dimana proporsi saham yang dimiliki institusi dapat meminimalisir konflik keagenan dengan meningkatkan kepemilikan institusional. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat kepemilikan institusioanal, semakin kuat tingkat pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan, sehingga agency cost yang terjadi didalam perusahaan dapat diminimalisasi dan nilai perusahaan akan meningkat.
Hal ini mungkin disebabkan ada beberapa sampel dalam penelitian ini tidak semua perusahaan dimiliki oleh institusi. Rendahnya kepemilikan institusi menyebabkan proses monitoring terhadap manajer tidak efektif sehingga institusi sebagai pemilik saham perusahaan belum dapat melaksanakan kontrol dan monitoring terhadap manajemen dengan baik yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini
konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih (2009) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial memiliki pengaruh negatif signifikan. Hal ini dikarenakan karakteristik perusahaan di Indonesia mempunyai pola struktur kepemilikan yang lebih terkonsentrasi (closely held) sehingga pendiri perusahaan juga dapat menempati posisi dalam dewan direksi atau komisaris, sehingga banyak perusahaan di Indonesia mempunyai hubungan yang erat antara pemilik dengan dewan direksi atau dewan komisaris. Menurut penelitian dari The Asian Development Bank Institute, perusahaan di Indonesia hanya 6% yang memiliki struktur kepemilikan yang tersebar dan tidak ada controlling shareholders. Dengan kata lain, perusahaan di Indonesia lebih bersifat owner controlled firm. Dikarenakan manajer diangkat dan diberhentikan oleh pemegang saham mayoritas, maka mereka akan berusaha menunjukkan kinerja mereka dengan mengesampingkan kemungkinan akibat yang ditimbulkan. Hal ini akan merugikan perusahaan dalam jangka panjang.