BAB III IMPLEMENTASI PASAL 32 KOMPILASI HUKUM
A. Analisis Praktek Pemberian Mahar Terhadap Calon
A. Analisis Praktek Pemberian Mahar Terhadap Calon Mempelai Wanita di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa.
Dari hasil temuan yang peneliti lakukan di Desa Lantung Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa. Sistem pemberian mahar yang berlaku adalah, mahar yang telah disebutkan jenis dan bentuknya akan diberikan langsung kepada calon mempelai wanita tanpa perantara siapapun dan mahar yang diberikan tadi tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun karena telah resmi menjadi milik calon mempelai wanita. Akan tetapi terdapat segelintir orang ditengah masyarakat yang justru melakukan hal sebaliknya, yaitu memanfaatkan mahar yang telah diberikan tanpa izin dari istri sebagai pemilik mahar tersebut.
Mahar (maskawin) sudah dikenal pada jaman jahiliah, mahar yang diberikan bukan untuk calon pengantin wanita akan tetapi diberikan kepada keluarganya. Misalnya ayah, atau kerabat dekat laki-laki dari pihak istri.
Perkawinan pada saat itu tidak ada bedanya dengan jual beli antara calon pengantin laki-laki dengan ayah atau kakek dari calon pengantin wanita, tergantung siapa yang membesarkannya dan yang menjadi walinya.
Ketika Al-Qur’an diturunkan maka konsep mahar dari jaman jahiliah diganti dengan syariat Islam yang mempunyai sistemnya sendiri dalam
pemberian mahar. Mengembalikan jati diri perempuan sebagai manusia, yang membedakannya hanyalah fungsi dan fisik. Salah satu upaya Islam mengangkat harkat dan martabat wanita adalah pengakuan terhadap segala sesuatu yang menjadi hak nya hak yang pertama diterima ialah dengan cara mewajibkan seorang laki-laki membayar mahar kepada wanita yang hendak ia jadikan istri.
Mahar menjadi hak calon pengantin wanita dan bukan menjadi hak walinya. Seperti yang terdapat didalam Al-qur’an surat an-nisa ayat 4 Allah berfirman:
أًـْۤيِّنَه ُه ْوُلُكَف اًسْفَن ُهْنِّ م ٍءْيَش ْنَع ْمُكَل َنْبِّط ْنِّاَف ۗ ةَلْحِّن َّنِّهِّتٰقُدَص َءۤاَسِّ نلا اوُتٰاَو ِّرَّم أًـْۤي
Artinya: dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (QS. An- Nisa 4:4).83
Imam Abu daud dan lain-lainnya telah mengetengahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Barang siapa yang mengawini seorang wanita lalu ia berniat tidak akan memberi maharnya sedikitpun, lalu ia mati di hari kematiannya maka ia adalah seorang pezina.”84
Menurut khalbi dan lain-lain, ayat ini diperuntukan bagi wali yang menikahkan anak perempuan yang berada dalam kekuasaannya. Menurut Abu
83 QS. An-Nisa [4]:4.
84Al-Imam Muhammad usman Abdullah Al-Migrani, Mahkota Tafsir, terj. Bahrun Abu Bakar, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2009), hlm. 549
Shalih, laki-laki jika telah mengawinkan perempuan yang berada dalam kekuasaannya, mengambil semua mahar perempuan itu, dan tidak diserahkannya sedikit pun. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai larangan atas perbuatan itu.85
Berangkat dari ayat ini para ulama telah menetapkan bahwa mahar itu hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan Ijma. Para ulama menjadikan mahar sebagai syarat sahnya perkawinan, seperti yang dijelaskan oleh Ibn Rusyd di dalam bidayah al-mujtahidah. 86
Imam Syafi’i mengatakan bahwa mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan untuk dapat menguasai seluruh anggota badannya87
Imam Hanafi mengatakan harta yang diwajibkan suami ketika berlangsungnya akad nikah sebagai imbalan dari kenikmatan seksual yang diterimanya.
Imam Maliki berpendapat bahwa sesuatu yang menjadikan istri halal untuk digauli.
Imam Hambali memberi penjelasan bahwa mahar sebagai imbalan dalam akad nikah. 88
85 Syeh Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 195.
` 86 Amiur Nuridin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata islam di Indonesia, (Jakarta: kencana, 2014), hlm. 65.
87 Tihami, Fikih Munakahat, (Jakarta: Kharisma Putra Utama Offset, 2012), hlm. 37.
88Kaumi Adi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tatacara Penetapan dan Penyerahan Mahar dalam Adat Perkawinan Simuelue Barat”, (skripsi, FSH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Banda Aceh, 2020, hlm. 46-48.
Mahar menurut Ibnu Qudamah misalnya dari kalangan mazhab hambali berpendapat dalam qitab al-Mudawwanah al-kubra merupakan hak pertama istri dari seorang suami yang merupakan kewajiban dari suami. 89
Besar kecilnya jumlah mahar perlu ditetapkan, atas persetujuan kedua belah pihak. Karena pemberiannya harus penuh dengan keikhlasan. Kemudian apabila istri memberikan mahar tersebut dengan penuh kerelaan dan senang hati maka terimalah mahar tersebut.
Selain suatu pemberian yang wajib, pemberian mahar juga untuk menghormatinya, namun demikian mahar yang diterima tidak boleh dijadikan alat untuk menggeser potensi calon suami atau menghalangi pelaksanaan kewajiban dari isti terhadap suami.
Praktek pemberian mahar yang terjadi di Desa Lantung, para mertua merasa masih mempunyai hak untuk mengatur, menggunakan dan memanfaatkan mahar tersebut sesuai dengan kehendak mereka serta waktu penyerahan tersebut. Sehingga menantu merasa keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh mertua mereka karena merasa mempunyai hak atas mahar tersebut lebih dari siapapun, akan tetapi karena rasa menghargai menantu tidak berani protes langsung kepada mertuanya.
Mahar merupakan hak istri secara individual, bukan termasuk hak dari suami, mertua ataupun keluarga. karena sebelumnya telah ditetapkan sebagai mahar dan diberikan sebagai simbul keseriusan dan kasih sayang dari seorang laki-laki kepada perempuan dalam ikatan pernikahan.
89 Atun Wardatun dan Hamdan, Kontekstualisasi Hukum Keluarga di Dunia Islam, (Mataram: Lembaga Pengkajian Publikasi Islam dan Masyarakat (LEPPIMDI IAIN Matarm, 2014), hlm. 70.
Seperti yang terdapat didalam surat An-Nisa ayat 4 Allah berfirman:
أًـْْۤي ِرَّم أًـْْۤيِنَه ُه ْوُلُكَف اًسْفَن ُهْنِ م ٍء ْيَش ْنَع ْمُكَل َنْبِط ْنِاَف ۗ
Artinya: Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (QS. An-Nisa 4:4).90
Al-Maraghi (1883-1952) menyatakan bahwa maksud potongan ayat ini, jika mereka (istri-istri) itu sendiri rela memberikan kepada para suami sebahagian dari mahar itu tanpa ada kesulitan, tipu daya, dan paksaan, maka suami boleh makan dengan riang gembira, tidak dianggap berdosa dan tidak pula berdosa jika para suami mengambilnya. Namun suami tidak boleh makan sedikitpun dari harta (mahar) istrinya, kecuali apabila suami mengetahui bahwa istri itu sendiri rela menyerahkan mahar itu kepada suami. Dan apabila suami itu minta sebahagian kepada istrinya tetapi istri itu diliputi rasa takut dan cemas terhadap pemberian apa yang diminta suami, maka mahar itu tidak halal bagi suami.
Sejalan dengan Al-Thabari (224-310 H.) berpendapat makna potongan ayat ini adalah jika istri-istrimu menyerahkan kepadamu wahai para suami, sebahagian dari mahar mereka, karena kebaikan hati mereka atas hal itu, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap dan baik akibatnya.
Hal senada diungkapkan Wahbah al-Zuhayli (1932) bagi istri boleh memberikan sebagian maharnya kepada suaminya, sama adanya dipegang
90 QS. An-Nisa [4]:4.
sendiri atau berada dalam tanggungan, maka termasuklah hibah dan ibra’, akan tetapi sepantasnya bagi para suami waspada tehadap apa yang diberikan oleh para istri, karena syaratnya adalah dengan penuh kerelaan (dari lubuk hati yang paling dalam). Allah berfirman (fain thibna) dan tidak mengatakan (fain wahabna) mengandung pengertian bahwa kerelaan dalam pengguguran mahar adalah dirinya rela memberikan kepada suaminya tanpa ada paksaan atau pendidikan, sama adanya (mu‘asyarah), kebersamaan memperlakukan dengan baik atau dengan khadi’ah.91
Praktek penyerahan mahar yang terjadi di Desa Lantung, Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa. Mahar yang seharusnya menjadi milik menantu (istri) secara pribadi, dikuasai oleh mertua. Adapun alasan-alasan yang mempengaruhi para mertua menguasai mahar tersebut adalah:
1. Kurangnya Pengetahuan Agama
Kurangnya pengetahuan agama pada masyarakat terutama mengenai perkawinan menyebabkan masyarakat tidak mengetahui dampak dari perbuatan mereka, sehingga pihak mertua merasa masih berhak mengatur harta yang dimiliki oleh anak-anak mereka termasuk mahar.
Sesuatu sebelumnya dijadikan mahar dimanfaatkan.
Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam sebab menguasai mahar baik sebagian ataupun seluruhnya tanpa seizin dari istri sebagai pemilik mahar tersebut, karena pemberian mahar merupakan pemberian wajib
91 Halimah. B, “Konsep Mahar (Maskawin) dalam Tafsir Kontemporer”, Al-Daulah, Vol.
6. Nomor 2, Desember 2017, hlm. 324.
seorang suami kepada istri yang harus diperhatikan pelunasannya.
Rasulullah SAW bersabda:
َج ْوُرُفْلا ِّهِّب مُتْلَلْحَتْسااَم ِّهِّبا ْوُف ْوُي ْنَا ِّط ْوُرُّشلا َّقَحَا َّنِّإ
Sesungguhnya syarat yang paling penting dipenuhi ialah syarat untuk menghalalkan kamu bersetubuh. (HR. Buhkhari dan Muslim). 92
Lebih jauh dari itu, Syeh Muhammad Abduh, dalam tafsirnya mengungkapkan:
Hendaknya diperhatikan dalam pemberian (mahar) ini suatu arti yang lebih tinggi dari arti yang diperhatikan oleh ahli fikih, bawa mahar (maskawin) memiliki arti pengganti (iwad) atas kelamin dan harganya.
Tidak demikian, sesungguhnya hubungan suami istri lebih tinggi dan mulia daripada seorang laki-laki dan teman tidurnya (seks) atau budak sahaya. Oleh sebab itu, disebutkan nihlah (pemberian dengan penuh kerelaan). Maka hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemberian ini merupakan salah satu tanda cinta dan hubungan kekerabatan serta pengikat tali cinta kasih dan rahmat, serta merupakan hal yang benar-benar wajib dan tak ada pilihan terhadapnya. Seperti halnya pembeli atau penyewa memilih (sesuatu). 93
Mahar yang telah ditentukan jenis dan bentuknya kemudian disebutkan dalam akad nikah telah resmi menjadi milik calon mempelai wanita semenjak saat itu tidak seorang pun yang berhak mengambilnya dan apabila tidak terdapat perjanjian untuk ditangguhkan maka
92Dedi Junaedi, Bimbingan Perkawinan, (Jakarta:Akademika Pressindoo,2010), hlm. 108.
93 Ibid,.
penyerahannya secara tunai. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam pasal 34 ayat 1 disebutkan bahwa:
Penyerahan mahar dilakukan secara tunai. 94 2. Keterbatasan Ekonomi.
Pada zaman dahulu di Desa Lantung, mertua terbiasa memberikan mahar kepada menantunya berupa rumah, sawah dan hewan ternak hal ini terjadi karena mereka menjodohkan anak-anak mereka. Kebiasaan masyarakat yang menjadikan mahar berupa tanah dan hewan ternak, berjalan sampai sekarang. Namun kemudian kebiasaan ini menjadi sebuah masalah karena Penundaan dalam penyerahan mahar disebabkan oleh kondisi ekonomi dari mertua, sehingga mereka memutuskan untuk menggunakan dan memanfaatkan mahar yang telah diberikan tersebut.
Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena tidak ada batasan minimal dalam pemberian mahar maka sebaiknya mahar tersebut sederhana akan tetapi terpenuhi dan diberikan kepada calon mempelai wanita. Sehingga seorang wanita mendapatkan hak yang seharusnya ia terima. Berdasarkan pendapat para ulama mengenai batasan pemberian mahar.
Imam Hanafi mengatakan batas minimal dalam pemberian mahar sebesar 10 dirham atau seharga 30,2 gram perak. Adapun yang dijadikan hujjah oleh mazhab ini adalah qiyas. Ia meng-qiyaskan kepada batas
94 Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 10.
minimal pencurian dikenakan hukum potong tangan. Ia juga berhujjah pada sabda nabi yang diterima dari jabir, yaitu sebagai berikut.
َرَد ِّةَرْشَع َن ْوُد َقاَد ِّص َلَ
َمِّه
Tidak ada mahar kurang dari 10 dirham. (HR. Ad-Daruqutnhi)
Imam Malik mengatakan maskawin itu minimal ¼ dinar (1,25 gram emas) atau 3 dirham. Imam malik juga berhujjah dengan qiyas, yaitu meng-qiyas-kannya kepada batas minimal harta yang dicuri yang menyebabkan pencurunya dikenakan hukuman potong tangan. Imam malik berhujjah dengan hadis umar sebagai berikut.
ُةَث َلََث ُهُنْمَث ٍنْجَم ْيِف َعَطَق َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله يَّلص ُالله َل ْوُسَر َّنأرَمُع ِنْب ا ْنَع َمِهَرَد
Diterima dari umar, bahwa Rasulullah, memotong (tangan pencuri) majan yang berharga tiga dirham. 95
Menurut Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hambal sepakat bahwa tidak ada ketentuan dalam batas minimal mahar. Setiap sesuatu yang mempunyai harga dan sah diperjual belikan maka sah pula dijadikan mas kawin. Mereka berhujjah pada surat An-Nisa ayat 4.
لا اوُتٰا َو ًةَلْحِّن َّنِّهِّتٰقُدَص َءۤاَسِّ ن
ۗۗ
Artinya: maka berikanlan kepada wanita itu maskawin mereka sebagai suatu pemberian yang penuh kerelaan.. (QS. An-Nisa 4:4)96
95 Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam, (Jakarta: Paragonatama Tama Jaya, 2013), hlm.
228.
96 QS. An-Nisa [4]:4.
3. Kesengajaan
Penundaan penyerahan mahar disebabkan karena kesengajaan dari pihak mertua yang ingin menggunakan mahar tersebut secara pribadi untuk keperluan mereka, baik menggunakan sebagian atau seluruhnya tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu dengan menantu, dengan kata lain mertua tidak meminta izin dan mendapat izin dalam penggunaan dan pemanfaatan mahar tersebut
Perilaku semacam ini meyebabkan tidak rukunnya rumah tangga antara istri dan suami dan berentangan dengan ajaran-ajaran Islam mengenai penyerahan mahar. Mahar seharusnya menjadi hak pribadi istri dan apabila istri tidak menyerahkannya secara suka rela dan ikhlas maka tidak ada yang berhak mengambilnya, serta menggunakannya adalah suatu keharaman, hal ini sebagaimana yang terdapat didalam surat An-Nisa ayat 20 Allah berfirman:
ُمُّتْدَرَا ْنِا َو ا ْوُذُخْأَت َلََف اًراَطْنِق َّنُهى ٰدْحِا ْمُتْيَتٰا َّو ٍٍۙج ْوَز َناَكَّم ٍج ْوَز َلاَدْبِتْسا
اًنْيِبُّم اًمْثِا َّو اًناَتْهُب ٗهَن ْوُذُخْأَتَا أًـْيَش ُهْنِم
Artinya: dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?. (QS. An-Nisa 4:20)97
Mertua yang sengaja mengambil kembali mahar yang diberikan kepada menantunya menganggap bahwa mahar yang diberikan tidak
97 QS An-Nisa [4]:20.
sesuai dengan apa yang mereka janjikan sebelumnya. Sehingga mereka (mertua) mengambil kembali mahar tersebut tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu dengan pihak wanita dan tidak menggantikannya dengan mahar yang lain. Istri yang diperlakukan seperti itu oleh mertuannya hanya bisa pasra dan tidak berani protes apapun kepada mertua. Dalam KHI pasal 38 ayat 2 dijelaskan bahwa:
Apabila istri menolak menerima mahar karena cacat, suami harus menggantinya dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama penggantiannya belum diserahkan, mahar dianggap masih belum lunas. 98
B. Analisis Implementasi Pasal 32 Kompilasi Hukum Islam dalam Praktek