• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Rasio Keuangan

2.3.1 Analisis Rasio Keuangan

Menurut Kasmir (2012:104) operasi yang memisahkan satu angka dengan angka lainnya untuk menyamakan angka-angka dalam laporan keuangan dapat dikatakan sebagai rasio keuangan. Dalam suatu laporan keuangan dapat dibuat

perbedaan antara satu unsur dan komponen atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan.

Menurut Irawati (2005 : 22), teknik analisis dalam bidang manajemen keuangan yang membandingkan dua variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan lalu digunakan sebagai alat ukur situasi keuangan perusahaan pada periode tertentu atau hasil suatu operasi perusahaan dalam periode tertentu dapat dikatakan sebagai rasio keuangan.

Menurut Munawir (2004:37), Analisis rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.

Yeh Q.-J (1996) menyatakan bahwa kinerja bank dan strategi operasional dapat dinilai melalui perbandingan analisis rasio keuangan bank. Berbagai macam analisis rasio keuangan biasanya dihitung untuk menilai karakteristik kinerja bank.

Secara umum, rasio utama yang digunakan oleh analis bank meliputi profitabilitas, permodalan, kesetaraan aset, efisiensi operasi, likuiditas, dan sensitivitas bunga.

a. Return on Asset (ROA)

Untuk menghitung laba (profitabilitas) digunakannya rasio ini. Rasio ini mencerminkan kemampuan bank untuk menghitung dengan menggunakan asetnya sebagai keberhasilan perusahaan dalam memperoleh pendapatan.

Profitabilitas kerap digunakan dalam mengukur efisiensi suatu perusahaan dengan membandingkan laba dan sumber daya yang digunakan dalam operasi, laba yang tinggi tidak menjamin ukuran profitabilitas bagi bisnis. Oleh

27

karena itu, profitabilitas tinggi lebih penting daripada pendapatan besar bagi manajemen perusahaan.

Horne dan Wachowicz (2005) menyatakan konsep pengembalian aset merupakan alat hitung untuk menentukan tingkat efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan aset (aset) yang tersedia. ROA merupakan rasio menurut Tandelilin (2010) yang menggambarkan sejauh mana pendapatan dapat dihasilkan oleh aset yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan menurut Dendawijaya (2005) semakin tinggi ROA perusahaan, maka semakin tinggi pula tingkat keuntungan yang dapat tercapai oleh perusahaan hal ini dapat dilihat dari segi penggunaan asset. Dengan tercapainya laba yang tinggi, investor mengharapkan keuntungan dari dividen karena pada hakekatnya dalam ekonomi adalah memperoleh laba yang tinggi, apabila suatu saham menghasilkan dividen yang tinggi maka investor akan tertarik untuk memarkirkan dananya pada saham tersebut, sehingga kondisi tersebut akan berdampak pada peningkatan harga saham.

Berikut ketentuan tingkat ROA dari Bank Indonesia yang terangkum dalam tabel 2.1

Tabel 2. 1 Tingkat Return On Assets

Rasio Peringkat

Di atas 1,22% Sehat

0,99% - 1,22% Cukup Sehat

0,77% - 0,99% Kurang Sehat

Di bawah 0,77% Tidak Sehat

Sumber: www.bi.go.id

b. Non Performing Loan (NPL)

Rasio ini menggambarkan bahwa kemampuan manajemen bank yang didukung oleh bank dalam menangani kredit bermasalah. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendah kualitas kredit bank, yang menyebabkan semakin banyak kredit bermasalah sehingga bank menghadapi masalah yang lebih besar..

Menurut Fahmi (2014:101) risiko kredit adalah jenis kegagalan perusahaan, entitas, lembaga atau individu dalam menyelesaikan kewajibannya secara tepat waktu, baik pada saat jatuh tempo maupun setelah jatuh tempo, sesuai dengan peraturan dan perjanjian yang berlaku. Dalam hal ini kredit adalah pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga, tidak termasuk pinjaman kepada bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah kurang dari 5 persen (PBI No. 17/11 / PBI / 2015) dengan rasio dibawah 5 persen, Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) harus dilakukan oleh bank untuk menutup kerugian yang ditimbulkan oleh aset produktif tidak lancar. (kredit macet dalam kasus ini) menjadi minimal. NPL tersebut mencerminkan besarnya risiko kredit suatu bank, dimana semakin rendah NPL tersebut maka semakin rendah pula risiko kredit bank tersebut. Bank harus menganalisis kesediaan debitur untuk melunasi kewajibannya sebelum memberikan kredit. Setelah pinjaman diberikan, bank dapat mengontrol penggunaan pinjaman, serta kemauan dan kepatuhan debitur untuk memenuhi kewajibannya. Menurut Ali (2004) bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit.

Oleh karena itu, apabila suatu bank memiliki Non Performing Loan (NPL) yang

29

tinggi, baik biaya cadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya akan meningkat, yang selanjutnya akan mempengaruhi profitabilitas bank tersebut sehingga harga saham akan turun.

c. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan kesesuaian permodalan suatu bank. Menurut Siamat (2005), setelah ditentukan margin risiko (risk growth) dari konsekuensi berisiko (ATMR), CAR adalah rasio modal sendiri bank terhadap kebutuhan modal yang tersedia. Modal tidak hanya sebagai salah satu sumber penting dalam memenuhi kebutuhan dana bank, tetapi juga posisi modal akan mempengaruhi keputusan-keputusan manajemen dalam pencapaian laba dan kemungkinan timbulnya risiko. Jika bank memiliki modal terlalu banyak maka volume keuntungan bank akan terpengaruh, sedangkan jika bank memiliki modal yang terlalu kecil, selain membatasi kapasitas untuk mengembangkan bank, penilaian khusus terhadap deposan, debitur dan pemegang saham bank juga akan terpengaruh. Dengan kata lain menurut Siamat (2005) tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan keuangan bank yang bersangkutan akan dipengaruhi oleh besar kecilnya permodalan bank tersebut.

Kesesuaian permodalan merupakan pertimbangan penting bagi bank dalam arti pertumbuhan bisnis dan risiko kerugian. Bank Indonesia menggambarkan CAR sebagai kondisi kecukupan modal minimum yang harus dipertahankan sebagai proporsi tertentu dari Aktiva Tertimbang Menurut

Risiko (ATMR) oleh masing-masing bank. Setelah dikalikan dengan bobot risiko masing-masing untuk properti ini, ATMR adalah nilai total aset bank. SK BI No. 30/11/KEP/DIR/Tgl. 30 April 1997 serta Bank for International Setlement (BIS) menentukan nilai rasio kecukupan modal minumum sebesar 8%. Berikut ketentuan CAR dari Bank Indonesia.

Berikut ketentuan Capital Adequacy Ratio (CAR) dari Bank Indonesia yang terangkum dalam tabel 2.2

Tabel 2. 2 Tingkat Capital Adequacy Ratio

Rasio Peringkat

8% ke atas Sehat

6,4% - 8% Kurang Sehat

Di bawah 6,4% Tidak Sehat

Semakin besar CAR yang dimiliki suatu bank maka kinerja bank tersebut akan semakin baik. Menurut Siamat (2005) secara umum permasalahan permodalan adalah seberapa besar modal yang harus diberikan oleh pemiliknya agar kestabilan pihak ketiga dapat terjaga, dengan CAR yang tinggi mengimplikasikan bahwa bank lebih solvable, yaitu bank mempunyai modal yang cukup untuk menjalankan usahanya. sehingga pendapatan yang diperoleh bisa meningkat sehingga harga saham bisa naik.

d. Loan to Funding Ratio (LFR)

Bank sentral melonggarkan ketentuan mengenai rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR). Pertama,

31

mengikutsertakan surat-surat berharga (SSB) yang diterbitkan bank ke dalam perhitungan LDR, yaitu kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM)-LDR. Efek yang diterbitkan dalam bentuk medium term notes (MTN), floating rate notes (FRN) dan obligasi selain obligasi subordinasi tunduk pada beberapa persyaratan.

Kriteria lainnya, melalui penawaran umum, saham tersebut dijual ke publik.

Peringkat sekuritas ini harus sama dengan peringkat investasi sebelumnya;

Dana pihak ketiga (DPK) harus diartikan sebagai simpanan dalam bentuk giro, investasi, dan deposito. Rumus penghitungan LDR dalam kredit dibagi dengan penjumlahan DPK dan SSB, dengan memasukkan porsi SSB. Bank tidak hanya bergantung pada DPK sebagai tabungan, tetapi juga SSB. Kedua, dari 92% menjadi 94%, BI juga melonggarkan batas atas LFR. Sedangkan batas bawahnya 78 persen. Dengan begitu, meski jumlah simpanan tidak bertambah, bank bisa lebih meningkatkan kredit. Melonggarkan LDR sebagaimana diatur dalam Peraturan (PBI) No 17/11/PBI/2015 Bank Indonesia.

Menurut Kasmir (2016:225), LFR (Loan to Funding Ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan ditambah dengan surat berharga. Semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah likuiditas pada bank. Namun sebaliknya, jika semakin rendah rasio Loan to Funding Ratio maka semakin tinggi likuiditas bank yang bersangkutan.Rasio ini juga merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank.

Menurut Buchory (2006) LFR is ratio reflects the ability of banks to extend credit and collect public funds. The higher this ratio is, the better it means that the bank could carry out intermediation function optimally. Hal ini berarti bahwa LFR mencerminkan kemampuan bank untuk memberikan kredit dan mengumpulkan dana masyarakat. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik artinya dia bisa melakukan fungsi intermediasi secara optimal. Menurut Riyadi (2015:201) padahal saat ini Loan to Funding Ratio (LFR) sama dengan LDR, hanya surat berharga yang diterbitkan yang dijadikan bahan pembanding.

Saat ini rasio LFR yang diperbolehkan Bank Indonesia adalah >78 persen -94 persen.

Dengan menggunakan rasio-rasio salah satunya Loan to Funding Ratio (LFR) maka rasio likuiditas dapat dihitung. Kemampuan untuk membayar kembali penarikan yang dilakukan oleh deposan dengan mengontrol kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditas ditentukan oleh LFR.

Menurut Siamat (2005) semakin tinggi rasio LDR semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank sehingga risiko dalam berinvestasi menjadi tinggi karena perusahaan perbankan tidak memiliki kemampuan untuk membayar kembali kewajiban atas dana nasabah atau pihak ketiga. LFR yang tinggi berarti risiko dalam berinvestasi menjadi tinggi karena perusahaan dalam keadaan tidak liquid serta perusahaan dianggap tidak memiliki kemampuan untuk membayar kewajibannya atas dana dari pihak ketiga dalam operasionalnya. Dengan likuiditas bank yang rendah, maka hal tersebut akan berdampak pada hilangnya kepercayaan investor pada bank tersebut. Apabila

33

masyarakat sudah kehilangan kepercayaan pada suatu bank, maka investor pun juga enggan untuk membeli saham perusahaan yang bersangkutan.

Dengan terjadinya hal tersebut maka akan berdampak pada menurunnya harga saham perusahaan tersebut.

e. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional

Menurut Pandia (2012:72), BOPO / Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional atau dapat disebut sebagai rasio efisiensi digunakan untuk menghitung kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terkait dengan keuntungan operasional. Semakin rendah nilai BOPO berarti dengan adanya efisiensi biaya maka semakin efektif bank dalam mengelola biaya operasionalnya maka semakin besar pula pendapatan yang dapat diperoleh bank tersebut. BOPO termasuk rasio rentabilitas (earnings).

Menurut Dendawijaya (2000) biaya operasional merupakan perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional.

Pengukuran profitabilitas bank secara kuantitatif didasarkan pada keberhasilan bank menurut Kuncoro dan Suhardjono (2002) yang dapat dihitung dengan menggunakan rasio biaya operasi terhadap laba operasi.

Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dapat disebut rasio efisiensi menurut Almilia dan Herdiningtyas (2005) yang digunakan dalam menghitung kemampuan manajemen dalam menjaga dan memantau biaya operasional atas pendapatan operasional. Semakin rendah rasio ini berarti semakin efektif biaya operasional bank.

Biaya operasional diukur berdasarkan jumlah pengeluaran bunga bruto dan total pengeluaran operasional lainnya. Besarnya total pendapatan bunga dan total pendapatan finansial lainnya merupakan pendapatan operasional.

Berikut ketentuan BUKU dari Bank Indonesia yang terangkum dalam tabel 2.3

Tabel 2. 3 Tingkat Bank Umum Kelompok Usaha

Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) Rasio

BUKU I 85%

BUKU II 78%-80%

BUKU III 70%-75%

BUKU IV 60%-65%

Dokumen terkait