• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV

antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu jangan-lah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biar-kan yang lain terkatung- katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

71

72

Ayat tersebut dipahami Musdah sebagai penegasan bahwa suami tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-istrinya, terutama dalam bidang immaterial, meskipun ia sangat menginginkan itu. Artinya, Allah telah memastikan bahwa suami tidak akan sanggup adil terhadap istri-istrinya, maka kesempatan dan peluang poligami pun jadi tertutup sama sekali, karena adil adalah syarat poligami. Berdasarkan penafsiran tersebut ia menyimpulkan bahwa Islam tidak membenarkan poligami.66

Menurut Musdah, surah al-Nisā` ayat 3 tidak bisa disimpulkan secara mandiri. Untuk memahaminya harus diakumulasikan dengan ayat 1, 2 dan 129,

Berikut surah al-Nisā` ayat 1 :

Rسِفْنْ نَ*مَ مْكِقْلٰخِ يذَ]]لْا مْكِبٰرُ اوْ]]قْتُا سُا]]نٰلْا ا]]هُPيْا,يْ

ا2رَ]]يَثْكَ 2لَّاا]]جَرُ ا]]مٰهُنٰمَ ثَبٰوَ ا]]هُجَوَزَ اهُنٰمَ قَلٰخِوَ Rةًدَحِاوَ

نْا مَا]]حِرُلَّااوَ هَ]]بٰ نْوْلْءِ سِتُ يذَ]]لْا هَEلٰلْا اوْقْتُاوَ 2ءِ سِنْوَ ۗ اۤ ۚ اۤ

ا2بْيَقَرُ مْكِيَلٰعَ نْاكَ هَEلٰلْا

Artinya: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia mwnciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Berikut surah al-Nisā` ayat 2 :

لَّاوَ بِ*يَطُلْابٰ ثَيَبْخَلْا اوْلْدَبْتٰتُ لَّاوَ مْهُلْاوْمَا ,ىمٰتٰيَلْا اوْتُاوَ ۖ ا2رَيَبْكَ ا2بٰوْحِ نْاكِهُنْا مْكِلْاوْمَا ى,لْا مْهُلْاوْمَا ا,وْلٰكَأَتُ ۗ

Artinya : Berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka Janganlah kamu menukar yang baik dengan

66 Muhammad Iqbal Sabirin, ”Analisis Kritis Konsep Poligami Siti Musdah Mulia dalam Perspektif Fikih”, Jurnal Al-Mizan:Jurnal Hukum Islam Dan Ekonomi Syariah”, Vol.1, No. 1, 2024, h. 50-51

yang buruk dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya (tindakan menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar.

Karena ayat-ayat tersebut saling berkaitan. Ia menjelaskan bahwa substansi ayat 1-3 membicarakan tentang perintah adil, terutama terhadap anak yatim. Pertama-tama dijelaskan tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, dan tidak boleh terjadi penindasan dan harus berlaku adil antara satu sama lain. Lalu Allah menegaskan keharusan mengurus harta anak yatim dengan adil dan mengancam perilaku ketidakadilan para wali dalam mengurus harta mereka.

Kemudian Allah memberikan solusi agar para wali terhindar dari perilaku tidak adil terhadap anak yatim di bawah asuhannya, dengan tidak mengawini mereka, tapi mengawini wanita lain. Dan Allah memberi peluang poligami hingga empat orang wanita, tapi Allah menetapkan syarat untuk itu, yaitu harus adil di antara semua istri. Bila tidak mampu adil, maka hanya dibolehkan mengawini satu saja. Terkait sikap adil tersebut Allah telah menegaskan dalam surah al-Nisā` ayat 129 bahwa suami tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-istrinya, meskipun ia sangat menginginkan itu.

Hanya Nabi yang mampu berlaku adil di antara istri-istrinya.67

Musdah menambahkan bahwa seseorang yang melakukan poligami, sementara ia yakin tidak akan mampu berlaku adil di antara istri- istrinya sebagaimana klaim al-Nisā` ayat 129, maka ia telah melakukan dosa besar. Dan Nabi mengecam perilaku tersebut lewat sabdanya: “Apabila ada

67 Muhammad Iqbal Sabirin, Ibid., h. 51-52

74

seorang suami mempunyai dua istri dan dia tidak berlaku adil di antara keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan bentuk badan yang miring”. Selain ayat dan hadis di atas, Musdah juga mengidentifikasi beberapa hadis lain dalam menetapkan hukum poligami. Di antaranya hadis riwayat Mālik Ibn Anas tentang perintah Nabi SAW. kepada Ghailan bin Salamah al-Tsaqafī ketika ia masuk Islam untuk menceraikan istrinya yang lebih dari empat orang. Rasul bersabda: “Pilihlah dari mereka (istri-istrimu) empat orang dan ceraikan yang selebihnya”.

Siti Musdah menyatakan bahwa hadis tersebut bermaksud membatasi jumlah poligami yang dibolehkan hanya sampai empat orang istri, sekaligus melarang praktik poligami yang biasa dilakukan masyarakat jahiliah yang tidak memiliki batas bilangan.

Musdah juga berpijak pada hadis tentang larangan Nabi terhadap Ali bin Abi Thalib untuk memadu puterinya Fāthimah al-Zahra. Beliau bersabda:

مْهُنٰبٰااوْ]]حُكِنٰيْ نْا نْوَذٰأَتٰسَا ةِيْرَغلٰمَا نَبٰ مَاشْهَ نَبٰ نْا ثَمَ مْلٰهَ نْذٰأَ لَ ثَمَ مْلٰهَ نْذٰلأفَ بِلْاطَ بِىأَ نَبٰ يلٰعَ

ا]]نٰمَافَ مْهُنٰبٰا حكِتٰيْ وَ تْىنٰ]]بٰا قَلٰطُيْ نْا لَا مْلٰهَ نْذٰأَ لَ

اهَاذٰا امَ نْذٰؤيْوَ ابْهَارُ امَ نَبْيْرَيْ نَمَ ةِعْضَبٰ تْىنٰبٰا

Artinya: “Sesungguhnya Bani Hisyam bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan puteri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, tapi tidak aku izinkan mereka, tidak aku izinkan mereka, tidak aku izinkan mereka, kecuali Ali menceraikan puteriku lalu menikahi puteri mereka, sesungguhnya puteriku adalah sepotong daging dariku, mendustakanku orang yang mendustakannya dan menyakitiku orang yang menyaktinya.” (H.R. Muslim)

Siti Musdah membaca hadis ini sebagai dalil nyata pelarangan poligami. Larangan itu terbaca jelas dari teks hadis, di mana Nabi

mempertegas larangannya dengan mengulang-ulang sampai tiga kali.

Menurut Musdah, larangan Nabi itu sangat logis, karena seorang ayah tidak akan rela putrinya dimadu. Secara naluriah, semua orang tua pasti mengharapkan anak perempuannya jadi satu-satunya istri suaminya. Karena menurutnya, yang menjanjikan terciptanya tujuan perkawinan hakiki hanyalah perkawinan monogami.

Hadis ini dipahami oleh Siti Musdah sebagai larangan Nabi kepada Ali bin Thalib untuk berpoligami sekalipun beliau sendiri melakukannya.

Karena Nabi mampu memenuhi syarat adil yang ditetapkan, sedangkan menantunya, Ali bin Thalib, Nabi tidak yakin ia akan menyanggupinya.

Artinya, menurut Siti Musdah, jika berpijak pada pernyataan Nabi dalam hadis ini, maka bisa dipastikan bahwa justru tidak melakukan poligami yang merupakan perbuatan sunah, karena poligami itu tidak dikehendaki Nabi.

Dan Ali bin Abi Thalib pun tetap bermonogami sampai Fāthimah wafat. Siti Musdah Mulia berkesimpulan bahwa pada prinsip Islam hendaknya menghapuskan poligami, namun dilakukan secara bertahap, sesuai dengan prinsip hukum Islam yang tidak memberatkan dan menetapkan hukum secara gradual. 68

Menurut Mahmud Syaltut (w.1963), ulama besar asal Mesir, secara tegas menolak poligami sebagai bagian dari ajaran Islam dan juga menolak bahwa poligami ditetapkan oleh syari’ah. Dan menurut Al-Aqqad ulama asal mesir menyimpulkan Islam tidak mengajarkan poligami, tidak mewajibkan

68 Muhammad Iqbal Sabirin, ”Analisis Kritis Konsep Poligami Siti Musdah Mulia dalam Perspektif Fikih”, Jurnal Al-Mizan:Jurnal Hukum Islam Dan Ekonomi Syariah”, Vol.1, No. 1, 2024, h. 52-54

76

poligami, Islam hanya membolehkan poligami dengan syarat yang sangat ketat. Sangat disesalkan dalam prakteknya dimasyarakat, mayoritas umat Islam hanya terpaku pada kebolehan poligami, namun mengabaikan syarat yang ketat bagi kebolehannya itu yaitu adil.69

Menurut Musdah, legalitas poligami yang ditetapkan dalam Al- Qur`an hanya bersifat tentatif, di mana Al-Qur`an memerlukan waktu yang cukup untuk sampai pada hukum sebenarnya, yaitu melarang poligami.70 B. Hukum Poligami Haram Lighairihi

Dalam bukunya, Islam Menggugat Poligami, Musdah Mulia menyebut: “Islam tidak menganjurkan poligami apalagi mewajibkannya.”

Istilah “haram lighairihi” memang tidak popoler dalam kehidupan keseharian umat Islam. Namun dalam kajian teori hukum Islam, istilah tersebut ditemukan ketika membicarakan tentang pembagian jenis hukum taklifi.

Hukum taklifi, sebagaimana didefenisikan oleh ulama ahli hukum Islam adalah ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang berhubungan langsung dengan perbuatan orang mukallaf, baik dalam bentuk perintah, anjuran untuk melakukan, larangan dan anjuran untuk tidak melakukan, atau dalam bentuk memberi kebebasan memilih untuk berbuat atau tidak berbuat Jumhur ulama ushul fiqh, secara umum membagi hukum taklifi pada lima

69 Ita Masithoh Alhumaedah, Muhammad Romli, “Hukum Poligami: Studi Analisa Pemikiran Siti Musdah Mulia”, Saintifika Islamica: Jurnal Kajian Keislaman, vol.

9, No. 2, 2022, h. 167

70 Muhammad Iqbal Sabirin, Op.cit., h. 54

jenis, yaitu Wajib, sunnat, haram, makruh dan mubah. Dalam kaitan ini menurut Muhammad Abu Zahra dan ulama ushul fiqh lainnya, hukum haram terbagi kepada dua, yaitu haram lidzatihi ( مَارَحِ هَتُاذَلْ

مَارَحِ هُرَيَغلْ) Haram lizatihi adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah, karena esensi bahaya (kemudharatan)nya terdapat dalam perbuatan itu sendiri seperti larangan makan bangkai, minum khamr, berzina, mencuri.

Sedangkan haram lighairihi adalah perbuatan yang dilarang oleh syara’, bukan karena esensinya, namun dalam kondisi tertentu, sesuatu itu dilarang karena ada pertimbangan eksternal yang akan membawa kepada sesuatu yang dilarang secara esensial (dzatihi).

Dalam istilah dan pengertian lain, Abd. Wahhab Khallaf menyebutnya dengan “haram li’ardhihi” yaitu suatu perbuatan yang hukum syar’inya pada mulanya wajib, nadab atau mubah, akan tetapi ada sesuatu hal baru yang menyertainya yang menjadikannya sebagai yang diharamkan.

Misalnya, larangan melakukan jual beli pada waktu adzan jum’at. Jual beli pada dasarnya hukumnya adalah mubah (boleh), tapi kalau ia dilakukan pada waktu adzan sholat jum’at, maka hukumnya menjadi haram lighairi. Contoh lainnya, melakukan sholat dengan pakaian hasil rampasan (curian), puasa wishal, menjual sesuatu yang mengandung penipuan, perkawinan yang semata hanya untuk menghalalkan si istri yang telah diceraikannya tiga kali dan lain sebagainya.

Adapun alasan Musdah Mulia, kenapa hukum poligami untuk saat ini adalah “haram lighirihi”, berubah dari hukum asalnya boleh,

78

sebagaimana terlihat di atas adalah karena ekses (dampak) negatif (mafsadat/kemudharatan) poligami lebih besar dari dampak positif (manfaat/maslahat)nya.

Ini artinya, Musdah Mulia mengkaji hukum poligami dalam Islam menggunakan pendekatan analisis maqashid syari’ah, yaitu suatu metode istinbath yang menggunakan pendekatan analisis maksud (tujuan) yang terdalam dari ditetapkan (syari’atkan) nya suatu hukum. Sebagaimana diketahui, ada tiga model bentuk pendekatan analisis yang dikembangkan oleh para ulama ushul dalam melakukan istinbath hukum, yaitu: (a) pendekatan tekstual yaitu melalui kaedah kaedah kebahasaan (qawâ’id allughawiyah), (b) pendekatan analilis ‘illat hukum (causa legis), dan; (b) pendekatan melalui pengenalan makna atau maksud syari’at (maqâshid al- syarî’at).71

C. Praktik Poligami Nabi Muhammad SAW

Menurut Musdah Mulia, bahwa dalam masyarakat Islam dijumpai setidaknya lima alasan yang kerap menjadi pembenaran poligami, yaitu:

karena merupakan Sunah Nabi; karena ada ayat poligami dalam al-Qur`an;

karena jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki-laki; karena keinginan seksual laki-laki lebih tinggi sehingga dikhawatirkan terjebak dalam dosa

71 usefri, “Hukum Poligami Menurut Siti Musdah Mulia (Suatu Tinjauan Metodologis)”, Mizan: Jurnal Ilmu Syariah, FAI Universitas Ibn Khaldun Bogor, Vol.3, No. 2 2015, h. 229-232

selingkuh dan zina; dan istri mengalami gangguan atau kekurangan. Diantara lima alasan tersebut, menurutnya, alasan paling mengemukan bagi maraknya poligami di masyarakat adalah bahwa poligami merupakan Sunnah Nabi.

Karena itu, diantara argumen kelompok pro poligami adalah bahwa melarang poligami berarti mendustakan Sunnah Nabi, melarang hal mubah atau dibolehkan oleh Allah yang berarti menentang Allah dan rasul-Nya.

Anggapan bahwa praktik poligami Nabi merupakan sunnah yang dapat dijadikan hujjah, bagi Musdah Mulia adalah sebuah kekeliruan. Bahwa poligami yang dilakukan Nabi harus dipahami secara baik dan benar.

Menurut Musdah praktik poligami yang dilakukan oleh Nabi SAW, sama sekali tidak didasarkan pada kepentingan biologis atau untuk mendapatkan keturunan. Demikian pula, Nabi melakukan poligami bukan dalam situasi dan kondisi kehidupan yang normal, melainkan dalam kondisi dan suasana kehidupan yang penuh diliputi aktivitas pengabdian dan perjuangan demi menegakkan syiar Islam menuju terbentuknya masyarakat madani yang didambakan.72

Sepanjang hayatnya Rasul selalu menbicarakan kebaikan dan keluhuran budi perempuan yang amat dicintainya itu. Tiga tahun berlalu dari wafatnya Khadijah, Rasul dihadapkan pada tanggung jawab besar mengembangkan syiar Islam ke Yastrib (madinah) dan juga keluar dari Jazirah Arab.

Kondisi masyarakat yang bersuku-suku kala itu memaksa Rasul

72 Yusefri, Ibid., h. 221

80

harus menjalin komunikasi yang luas dengan berbagai suku agar dapat mendukung perjuangannya, dan perkawinan menjadi alat komunikasi yang strategis. Demikianlah, Rasul kemudian menikahi beberapa perempuan demi terlaksananya syiar Islam. Perempuan pertama yang dinikahi Rasul setelah wafatnya Khadijah, bernama Saudah binti Zam’ah berumur 65 tahun, sebagian riwayat menyebutkan 72 tahun yang pasti sudah menopause sedangkan Rasul berusia 54 tahun. Rasul mengawini Saudah demi melindungi perempuan tua itu dari keterlantaran dan tekanan keluarganya yang masih musyrik. Atau mungkin juga sebagai balas budi atas jasa suaminya, Sakran ibn Amar, sahabat yang menyertai Rasul dalam perjalanan hijrah ke Abessinia. Setelah Saudah, Rasul menikahi Aisyah Binti Abu Bakar, satu-satunaya istri yang perawan dan masih muda, bahkan terlalu muda. Setelah Aisyah, Rasul SAW berturut-turut mengawini Hafsah Binti Umar ibn al-Khathtab, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab Binti Jahsyi, Zainab Binti Khuzaimah, Juwairiyyah Binti Haris, Shafiyyah Binti Huyai, Raihanah Binti Zaid, dan yang terakhir dengan Maimunah Binti Harits terjadi pada tahun ke-7 hijriah. Semua perkawinan Rasul ini berlangsung di madinah dan terjadi dalam rentang waktu yang telatif pendek, hanya 5 atau 6 tahun.

Musdah Mulia menambahkan, bahwa meskipun Rasul menikahi lebih dari satu perempuan, namun tetap saja beliau tidak setuju anak perempuannya, Fatimah al-Zahra, dimadu. Rasul marah dan mengecam menantunya, Ali ibn Thalib yang berniat melakukan poligami.

Sejumlah riwayat hadis yang menceritakan hal itu, antara lain sebagai berikut. Telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami al-Laits, dari Ibn Abi Mulaikah, dari al-Miswarah bin Makhramah berkata; aku mendengar Rasulullah SAW bersabda (berpidato) di atas mimbar: “Sesungguhnya keluarga Hisyam ibn Mughirah memintak izin untuk menikahkan putrinya dengan Ali, maka Aku tidak mengizinkannya, Aku tidak mengizinkannya, Aku tidak mengizinkannya, kecuali jika Ali bersedia menceraikan putriku, baru menikahi anak mereka.

Ketahuilah, dia (Fatimah) adalah belahan jiwaku, barang siapa membahagiakan Fatimah berarti membahagiakanku. Sebaliknya, barang siapa menyakitinya berarti ia menyakitiku.

Terhadap hadis di atas, Musdah Mulia menyatakan: Hadist itu membuktikan betapa Rasul tidak setuju poligami. Beliau bahkan mengulangi sampai tiga kali pernyataan ketidak setujuannya terhadap niat Ali berpoligami. Sejarah pun mencatat, Ali baru menikah lagi setelah Fatimah wafat. Sebagai Rasul, tentu saja beliau sadar bahwa pembelaan terhadap anak perempuan dan penolakannya yang keras terhadap poligami akan diteladani para ayah dari umatnya. Keberatan Rasul sangat logis dan bahkan sangat manusiawi. Mana ada ayah yang waras rela melihat anak perempuannya dimadu? Sebab, hanya perkawinan monogami yang menjanjikan terwujudnya mawaddah wa rahmah (cinta kasi yang tak bertepi), mu’asyarah bi al-ma’ruf (kesantunan dan kesopanan) sa’adah

82

(kebahagiaan) dan sakinah (ketenteraman dan kedamaian).73

Perilaku Nabi SAW yang melakukan poligami dengan berbagai dasar pertimbangan, dan terikat dengan setting historis saat itu sebagaimana dikemukakan Musdah Mulia di atas, sejauh ini tampaknya merupakan kenyataan sejarah yang tak mungkin diingkari.

Tidak seorang Muslim pun, mungkin yang membantah bahwa Nabi SAW berpoligami bukan dorongan biologis, syahwat dan keturunan, tetapi karena kepentingan dakwah, syi’ar Islam. Hanya saja persoalannya adalah, apakah “perilaku (perbuatan) poligami Nabi SAW itu” menjadi ketatapan (sunnah fi’liyyah) Nabi yang harus diikuti serta menjadi dalil kebolehan poligami?

Bagi Musdah Mulia, yang sejak awal lebih menekankan kajian historis dan kontekstual dari pada tekstual, praktik poligami Nabi bukan merupakan sunnah Nabi, sebagaimana yang dipahami secara leterlik dan tekstual oleh sebagian kalangan untuk pembenaran kebolehan poligami secara mutlak.

Demikianlah pandangan Musdah Mulia tentang poligami yang dilakukan oleh Nabi SAW. Melalui kajian historis yang dilakukannya terhadap poligami Nabi SAW, paling tidak, ada empat hal penting yang disoroti Musdah Mulia, yang sepertinya dijadikan sebagai dasar argumentasi bahwa perilaku poligami Nabi Muhammad SAW bukan merupakan sunnah Nabi atau bagian dari ajaran agama (sunnah) yang harus dilaksanakan dan

73 Yusefri, Ibid, h. 222-224

karenanya tidak dapat dijadikan dalil pembenaran keboleh poligami.

Keempat hal tersebut adalah

1. Masa hidup berumah tangga Nabi SAW dengan monogami jauh lebih lama (28 tahun) ketimbang berumah tangga dengan poligami yang hanya 5 atau 6 tahun

2. Poligami yang dilakukan Nabi SAW tidak didasarkan pada kepentingan biologis atau syahwat;

3. Poligami Nabi SAW dilakukan pada situasi dan kondisi kehidupan yang penuh diliputi aktivitas pengabdian dan perjuangan demi menegakkan syiar Islam, dana

4. Adanya larangan Nabi SAW terhadap menantunya Ali bin Abi Thalib berpoligami atau memadu Fatimah, putri Rasulullah SAW.74 D. Argumen Empiris Menurut Siti Musdah Mulia

Undang-undang perkawinan No.1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) membolehkan poligami bagi suami, meskipun terbatas hanya sampai pada empat isteri. Ketentuan itu termaktub dalam pasal 3 dan 4 Undang-Undang perkawinan dan Bab IX pasal 55 s/d 59 KHI. Dalam KHI antara lain disebutkan: syarat utama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya ( pasal 55, ayat 2 ). Selain syarat utama tersebut, ada lagi syarat lain yang harus dipenuhi sebagaimana termaktub dalam pasal 5 UU No.1 tahun 1974, yaitu adanya

74 Yusefri, “Hukum Poligami Menurut Siti Musdah Mulia (Suatu Tinjauan Metodologis)”, Mizan: Jurnal Ilmu Syariah, FAI Universitas Ibn Khaldun Bogor, Vol.3, No. 2 2015, h. 224-225

84

persetujuan isteri dan adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Ironisnya, pada pasal 59 dinyatakan: dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat 2 dan 57, pengadilan agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan pengadilan agama, dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. Dalam pandangan Musdah Mulia, pasal 59 ini secara jelas mengindikasikan betapa lemahnya posisi isteri. Sebab manakala isteri menolak memberikan persetujuannya, Pengadilan Agama dengan serta merta mengambil alih kedudukannya sebagai pemberi izin, meskipun diakhir pasal tersebut ada klausul yang memberikan kesempatan kepada isteri untuk mengajukan banding. Namun dalam realitas, umumnya para isteri merasa malu dan berat hati mengajukan banding terhadap keputusan Pengadilan menyangkut perkara poligami. Ada beberapa alasan yang dipakai oleh Pengadilan Agama dalam memberikan izin kepada suami berpoligami, yaitu isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri;

isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

dan isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Tiga alasan yang diberikan oleh Pengadilan Agama itu tertuang dalam pasal 57 Bab IX KHI. Menurut Musdah Mulia secara teologi sama sekali tidak mewadahi tuntunan Allah Swt. Dalam Surat An-Nisa ayat 19:

ا2هَرَكَ ءِ سِ*نٰلْا اوْثُرَتُ نْا مْكِلْ Pلِحُيْ لَّا اوْنٰمَا نَيْذَلْا اهُPيْا,يْ

ۗ اۤ

نْا لَّآا نَهَوْ]]مٰتٰيَتُا آ]]مَ ضِعْبْبٰ اوْبْهَذَ]]تٰلْ نَهَوْلٰ]]ضَعْتُ لَّاوَ

نْا]]فَ فِوَرَعْمٰلْا]]بٰ نَهَوَرَشِاعَوَ Rةِنٰ*يَبْPمَ Rةِشْحِافْبٰ نَيَتُأَيْ ۚ ۚ هَيَفَ هَEلٰلْا لِعْجَيْوَ ا2q]يَشِ اوْهَرَكِتُ نْا ى,سِعْفَ نَهَوْمٰتٰهَرَكَ

ا2رَيَثْكَ ا2رَيَخِ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai seseuatu, padahal allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”.75

Sebab, ayat ini memperlihatkan dengan tegas bahwa semua alasan yang dikemukakan dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang membolehkan suami berpoligami hanya dilihat dari kepentingan suami, sama sekali tidak mempertimbangkan perspektif kepentingan isteri. Tidak pernah dipertimbangkan, misalnya andaikata suami tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai suami, atau suami mendapat cacat badan atau penyakit, atau suami mandul, ketentuan KHI tentang poligami ini jelas menunjukkan posisi ketidakberdayaan perempuan di hadapan suami. Lagi pula, lanjut Siti Musdah Mulia kalau dihayati dengan hati yang jernih, mau tidak mau harus diakui bahwa kondisi isteri yang mandul atau berpenyakit bukanlah kondisi yang disengaja.

Kondisi itu lebih merupakan takdir dari Tuhan, karena tidak ada isteri yang menginginkan dirinya mandul atau berpenyakit. Semua

75 Risno Baputungan, Sopyan AP, Kau, “Argumen Kaum Feminis Terhadap Penolakan Poligami di Indonesia”, As-Syams: Jurnal Hukum Islam, Vol. 1, No. 1, 2020, h.

140-141

86

perempuan tentunya menginginkan dirinya sehat, tetapi tidak semua keinginan manusia terwujud sesuai harapan. Menghadapi kenyataan pahit yang demikian, apakah wajar kalau suami mementingkan diri sendiri dengan mengabaikan atau bahkan menyakiti hati isterinya dengan mencari perempuan lain? Apakah suami tega mereguk kebahagiaan dibalik penderitaan isterinya? tidakkah suami membayangkan andaikata kondisi tersebut terjadi pada dirinya? Apakah dia juga bisa menerima kenyataan isterinya bersenang-senang dengan laki-laki lain? disinilah agama berperan memberikan tuntunan agar suami memiliki muru’ah ( rasa malu ) dan tenggang rasa agar suami rela menerima seburuk apapun kondisi isterinya.

Boleh jadi kondisi buruk yang tidak disukainya itu, tersimpan sejumlah hikmah kebaikan bagi dirinya.76

Hidup ini penuh misteri Ilahi. Manusia umumnya tidak tahu seperti apa jalan takdirnya. Siapa pernah menduga tiba-tiba suatu hari pasangan kita (suami atau isteri) mengalami kecelakaan, sakit, atau apa saja yang mengakibatkan cacat, mandul, lumpuh, masuk penjara dan seterusnya.

Kondisi kekurangan dalam diri pasangan harusnya kian mengekalkan cinta dan kasih sayang di antara mereka, kian memperkuat tali perkawinan yang sudah diikrarkan, bukan sebaliknya.

Lalu, bagaimana solusi yang diberikan Al-Qur’an manakala salah satu pihak dari suami-isteri mengalami kekurangan? dengan sangat elegan Allah melalui ayat 19 surat An-Nisa, menjelaskan solusi bagi suami yang

76 Risno Baputungan, Ibid., h. 141-143

Dalam dokumen Skripsi institut agama islam darul ulum (Halaman 71-94)

Dokumen terkait