BAB I PENDAHULUAN
C. AnalisisPendapat Imam Malik dan Imam Syafi`itentangMahar
Nabí Saw dan mahar anak-anak perempuannya reHerns 500 Dirham lebih berdasar dijadikan qiyas dari pada penetapan kadar minimal ¼ dinar.
Bagi Imam Syafi`i, prinsip utama dalam menentukan kadar mahar adalah kerelaan, bukan jumlah nominal yang diberikan. Sama halnya dengan jual beli dimana diperbolehkan sedikit kerugian bila ada keridhaan dari kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi. Wanita yang layak diberi mahar tinggi, tetapi rela untuk diberi mahar yang rendah, maka pemberian mahar yang rendah tersebut diperbolehkan, walaupun tidak sesuai dengan status sosialnya di masyarakat. Demikian pula wanita yang status sosialnya rendah, tetapi suami rela memberi mahar yang tinggi, maka hal tersebut juga diperbolehkan. Jika demikian maka selayaknya tidak ada batasan terendah dalam mahar, karena kerelaan tidak bisa diukur dengan materi, terlebih lagi dalam masalah perkawinan.
56
a. Analisis dari Sudut Pandang Imam Malik
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa minimal sesuatu yang layak dijadikan mahar adalah seperempat dinar emas atau tiga dirham perak.
Knsean AHdtssnPmna Hua ‘Atf meauknP nunr emnr reHesnu Huiu ktsmn,
yaitu seperempat dinar dan ukuran itulah nishab pencurian menurut mereka. Artinya, harta seukuran itu mempunyai arti nilal dan kehormatan berdasarkan dipotong tangan pencurinya dan tidak dipotong tangan di bawah ukuran itu, maka itulah batas ukuran minimal mahar.51
Malikiyah lebih memilih qiyas dengan nishab potong sebagai dasar penentuan kadar terendah mahar, yaitu ¼ dinar karena Abdurrahman bin
‘AtfmeauknPnunremnrreHesnuHuiuktsmn, ynuutrepesempnuduansdna
ukuran itulah nishab pencurian menurut Malikiyah. Dalam hal ini, malikiyah lebih memilih qiyas dengan potong tangandibandingkan menggunakan dhahirnya hadis yang menjelaskan tentang kadar nafkah, seperti Hadis Sahl yang menceritakan bahwa Nabi memerintahkan seorang laki-laki untuk mencari mas kawin walaupun sekedar cincin dari besi .Dari sudut pandang Imam Malik dan pengikutnya (Malikiyah) Hadis Sahal tersebut tidak dipahami sebagai dhahirnya Hadis yang membolehkan mahar seharga cincin dari besi, tetapi lebih dipahami dari segi meminimalkan kadar mahar. Hal ini disebutkan dalam kitab al- Masalik fi Syarh Muwathoi Malik sebagai berikut:
51Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat, h.
182
انُؤاملع لاق ؛ يقادَّصلا يبوُجُو ىلع ٌليلد اذه دعَس نب لهَس يثيدح فِ :
َّبيَّنلا ّنلْ
ملسو هيلع للها ىّلص - يهينيييعت ىلع ُّلدي اذهف ،قيرط نم ُهَبَلَط -
ًَتَاخ َبَلط َيْح يهيمازلإو قادَّصلا ىَقبيو ،هب َنَّيزتيلو َحاكِّنلا َلَّجعتيل ديدح نم ا
هنع ُطقسي قادَّصلا ّنأ ىلع ُّلدي ام يثيدلْا فِ سيلو ،يهيتَّميذ فِ
نِّاّثلا ُهجولاو . :
َّبيّنلا ّنأ ملسو هيلع للها ىّلص -
- هلوقك ، يليلقَّتلا يهجو ىلع كلذ هل لاق
" : ْنَم
لثم ْوَلَو اًديجْسَم َنََ ب ةاَطَق يصَحْفَم
ةَّنَلجا فِ اًرصَق ُهَل للها َنََ ب
"
ّنأ ُّحيصي لاو ،
كلذك يرغِّصلا فِ ُدجسلما َنوكي .
Ulama kami (Malikiyah) mengatakan: Dalam Hadis Sahal ibn Sa`ad terdapat petunjuk tentang wajibnya mahar, karena Nabi Saw, menuntut adanya mahar. Hal ini menunjukkan penentuan dan keharusan mahar ketika Nabi memerintahkan sesorang mencari cincin dari besi (untuk dijadikan mahar) agar ia menyegerakan menikah dan agar ia berhias dengan cincin itu, dan mahar tetap menjadi dzimah (tanggungannya). Dalam Hadis tidak ada petunjuk gugurnya mahar. Segi kedua, Nabi Saw mengatakan demikian (cincin dari besi untuk mahar) sebagai bentuk taqlil (meminimalkan) mahar, sebagaimana Sabda Beliau:
“Hnsnaa runpn ynaa memHnaata mnriud anant repesuu Pnayn repesuu
tempat bertenggernya burung, maka Allah akan membangun baginya urunandurtsan”.TudnkHeansmemnPnmuHernsaynmnriudrekecuauempnu
bertenggernya burung.54
52Sejenis burung Tekukur yang mengais permukaan tanah, https://www.almaany.com/ar/, dikases tanggal 5 Desember 2017
53Abu Bakar Muhammad ibn Abdullah, al-Masaalik fi Syarh Muawathoi Malik, Jilid 5, (Beirut: Dar al-Ghorb al-Islami, 2007), h. 454
54Diterjmahkan dari teks asli kitab al-Masaalik fi Syarh Muawathoi Malikoleh Asyifuddin, Ustadz Pondok Pesantren Riyadlatul `Ulum Bumiharjo Batanghari Lampung Timur
58
Berdasarkan kutipan di atas, bagi Malikiyah Hadis tentang cincin dari besi yang dijadikan mas kawin tidak dipahami secara tekstual sebagaimana makna yang tertulis. Bagi Malikiyah penunjukan makna Hadis tersebut seperti Hadis yang mengatakan barang siapa yang membangun masjid walau seperti halnya tempat bertenggernya burung, maka Allah akan membangun baginya istana di surga. Bagi Malikiyah tidak benar memahami besarnya masjid sekecil tempat bertenggernya burung.
Permasalahan tentang cara memahami nash dari perspektif fiqh muqaran merupakan bagian dari sebab terjadinya perbedaan pendapat tanmn. “anrP-anrP rynsn’, Hnuk Aa-Quran ataupun Hadits yang otentisitasnya telah terjarnin dan pasti, namun para ulama sangat boleh jadi berbeda pendapat dalam memahami dan memetik hukum dari pndnayn.”55
Implikasi dari cara memahami nash di atas, menjadai dasar Imam Malik untuk mencaari sumber lain sebagai dasar penetapan hukum dalam penetapan kadar terendah mahar. Dalam hal ini, Imam Malik lebih memilih qiyas sebagaimana Imam Abu Hanifah yang mengqiyaskan kadar terendah mahar dengan nishab potong tangan sebesar 10 dirham.
Hanya saja dalam hal ini Imam Malik berbeda dengan Imam Abu Hanifah karena lebih memilih nishab potong tangan sebesar ¼ dinar.
55Muslim Ibrahim, Pengantar Fiqh Muqaaran, h. 23
Dengan demikian Imam Malik menertapkan kadar mahar sebesar ¼ dinar.
Berkaitan dengan penentuan kadar mahar, Al-Quran dan Hadis sebagai sumber utama hukum Islam tidak memberi ketentuan yang jelas (qot`i, sehingga ulama sumber lain untuk dijadikan dasar hukum.
b. Analisis dari Sudut Pandang Imam Syafi`i
Berdasarkan uraian tentang pendapat Imam Syafi`i di atas, dapat dikemukakan bahwa menurut Imam Syafi`i penetapan kadar mahar membutuhkan penunjukan nash syara`, sedangkan dalam hal ini tidak ada dalil nash yang menunjukkan penetapan kadar mahar, baik untuk kadar tertinggi, maupun kadar terendah. Dalil-dalil syara` yang ada secara umum menunjukkan mahar tanpa penetapan kadarnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid Sabiq: Segalanash yang memberikan keterangan tentangmahar tidaklah dimaksudkan keculi untuk menunjukkan pentingnya nilai mahartersebut, tanpa melihat besar kecilnyajumlah. Jadi, boleh memberi mahar,misalnya, dengan cincin yang terbuat besiatau segantang kurma atau mengajarkanbeberapa ayat Al-Qts’na, dna rebagainva,dengan syarat sudah disetujui oleh keduabelah pihak yang melakukan akad.56
Adapun penggunaan qiyas nishab potong tangan oleh Imam Malik
untuk penetapan kadar terendah mahar sebesar ¼ dinar, menurut Imam
Syafi`i tidak tepat. Bagi Imam Syafi`i, jika penetapan kadar mahar
56Sayyid Sabiq, Fiqh sunnah, Jilid 3, Penerjemah Nor Hasanuddin, dkk, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), h. 41
60
didasarkan pada qiyas, lebih tepat jika diqiyaskan dengan mahar Nabi
dan putri-putri Nabi, yaitu sebesar 500 Dirham, atau diqiyaskan dengan
nishab zakat sebesar 200 dirham. Bagi Imam Syafi`i, prinsip utama
dalam mahar adalah kerelaan sebagaimana dalam jual beli, bukan jumlah
nominal yang diberikan. Jika penjual dan pembeli saling ridha, maka
keduanya dapat bertransaksi dengan harga yang tidak sesuai dengan nilai
barang pada umumnya. Wanita yang layak diberi mahar tinggi, tetapi rela
untuk diberi mahar yang rendah, maka pemberian mahar yang rendah
tersebut diperbolehkan, walaupun tidak sesuai dengan status sosialnya di
masyarakat. Bagi Imam Syafi`i, ketika tidak ada nash yang menjekaskan
tentang kadar mahar, bahkan makna umum dari nash-nash yang ada
menganjurkan pemberian mahar yang mudah, maka hal tersebut
menunjukkan kebolehan memberi mahar sesuai keridhaan suami istri,
tanpa menentukan besar kecilnya mahar. Menurut Imam Syafi`i, penetapan mahar sebesar ¼ Dinar berdasarkan qiyas potong tangan bertentangan dengan Sunnah dan praktik pendudukMadinah, karena Umar bin Khattab membolehkan mahar dengan tiga genggam anggur kering (kurmur)dnaSn’udHuaAa-Musayyib membolehkan mahar berupa cambuk atau ynaa aeHuP dnsu uut. Demukuna ptan RnHu’nP Hua AHt
Abdirrahman memperbolehkan memperbolehkan pernikahan dengan mahar ½ Dirham.
Pendapat Imam Syafi`i tentang tidak ada ketentuan kadar terendah mahar mendapat persetujuan dari beberapa ulama pengikut Imam Malik sendiri, diantaranya oleh Imam Al-Qurtubi yang mengatakan sebagai berikut:
َلَاَعَ ت يهيلْوَ ق يموُمُعيب ُّييعيفاَّشلا َقَّلَعَ تَ ف ،َكيلَذ يرْدَق يفِ َكيلَذيب َلاَق ْنَم َفَلَ تْخا :
ْمُكيلاوْمَأيب ( يهْيَلَع ُهُلْوَ ق ُهُدِّضَعُ يَو ،ُحييحَّصلا َوُهَو ، يريثَكَو لييلَقيب يقاَدَّصلا يزاَوَج يفِ )
يةَبوُهْوَمْلا يثييدَح يفِ ُم َلَّسلا دييدَح ْنيم اًَتَاَخ ْوَلَو (
...) ُّييعيفاَّشلا َلاَق اَم ُّلُك :
ْوَأ ، ءْيَشيل اًنََثَ َنوُكَي ْنَأ َزاَج اَذَهَو ،اًقاَدَص َنوُكَي ْنَأ َزاَج ًةَرْجُأ َنوُكَي ْنَأ َزاَج
يمْليعْلا يلْهَأ يروُهُْجُ ُلْوَ ق ْمُهُّلُك ،اَهيْيرَغَو يةَنييدَمْلا يلْهَأ ْنيم يثييدَْلْا يلْهَأ ُةَعاََجَُو .
لا يدْبَع ُلْوَ ق َوُهَو ،يهييريثَكَو يلاَمْلا يلييلَقيب َقاَدَّصلا اوُزاَجَأ يبيحاَص بْهَو ينْب يهَّل
ُهُرْ يَغَو يريذْنُمْلا ُنْبا ُهَراَتْخاَو ، كيلاَم
.
Ulama berbeda pendapat tentang kadar mahar dengan harta. Imam Syafi`i mengaitkannya dengan makna umum dari firman Allah Swt
(مُكِلاوْمَأِب) dalam hal diperbolehkannya mahar dengan harta yang sedikit dan
banyak. Pendapat tersebut adalah pendapat yang shahih dan dikuatkan dengan Sabda Rasul dalam Hadis yang menjelaskan tentang perempuan yang menyerahkan diri untuk dinikahi Nabi (yang di dalamnya terdapat perintah Nabi kepada laki-laki yang hendak menikahi wanita tersebut) ( ديِد َح ْنِم اًمَتاَخ ْوَل َو/carilah mahar walaupuan cincin dari besi).58
57Abu Abdillah bin Ahmad al-Qurtubi, al-Jami` li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurtubi), Juz 5, (Kairo: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1964), h. 128
58Diterjmahkan dari teks asli kitab al-Jami` li Ahkam al-Quranoleh Asyifuddin, Ustadz Pondok Pesantren Riyadlatul `Ulum Bumiharjo Batanghari Lampung Timur
62
Berdasarkan kutipan di atas, pendapat Imam Syafi`i yang tidak menentukan kadar terendah mahar mendapat dukungan dari sebagian ulama Malikiyah sendiri, seperti Imam al-Qurtubi. Menurut Imam al- Qurtubi pendapat Imam Syafi`i lebih shahih karena didasarkan pada keumuman makna ayat yang menjelaskan tentang mahar dan dikuatkan dengan Hadis Sahal yang menjelaskan cincin dari besi sebagai mahar.
BAB IV PENUTUP