• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apa Itu Karya Relief?

BAGIAN II BAGIAN II

1. Apa Itu Karya Relief?

Relief adalah karya, baik yang dibangun melalui pa- hatan maupun yang dibentuk di atas bahan kayu, batu, dan sebagainya. Kehadirannya memberikan nilai tambah dan menandai sebuah peristiwa tertentu. Umumnya, re- lief ditempatkan pada dinding sebuah bangunan rumah, museum, tempat ibadah, dan tempat lain yang dianggap penting serta bersejarah. Bentuknya hampir menyerupai patung karena memiliki permukaan tinggi, panjang, dan lebar sehingga kadang-kadang disebut sebagai patung relief. Pembuat relief akan mengawali gagasannya dengan tema atau narasi/cerita/pesan/ajaran tertentu ke dalam sketsa gagasan untuk diwujudkan, seperti gerak tubuh manusia, satwa, tetumbuhan, alam semesta, dan alam benda ke dalam berbagai ukuran. Karena terbatasnya ukuran bidang material yang dapat dipahatkan, karya seni relief dapat diwujudkan ke dalam beberapa buah panil yang dijajarkan, dan setelah selesai baru disusun dan dipasang berdasarkan urutan cerita di atas dinding sebuah bangunan. Ukuran besar atau kecil, serta panjang

dan pendeknya medium relief merupakan konsekuensi atas tema yang ingin diwujudkannya.

Penampilan sebuah karya relief akan sangat bergantung pada keterampilan memahat sang Perupa. Berdasarkan sketsa tertentu, perupa menganggitkan pahatan tertentu sehingga membentuk sesuatu yang timbul-tenggelam rupa trimatra. Relief berasal dari kosakata Italia, yaitu rilievo.

Di negara Italia itulah paling banyak ditemukan karya- karya relief yang bercerita, antara lain, tentang kehidupan, kepercayaan, dan kekuasaan. Akan tetapi, tradisi relief sendiri sudah ada pada masa sebelumnya, baik di Yunani, Mesir, Mesopotamia, maupun di kota-kota dengan peradaban kuno lainnya. Meskipun demikian, Italia pada masa lalu merupakan kota yang penemuan-penemuannya dalam berbagai peradaban dari negara lain dapat berkembang lebih jauh dan mengalami pencanggihan.

Misalnya, pilar-pilar kuil bergaya Doric dan Ionic bermula dari Mesir, kemudian beralih ke Yunani, dan berkembang hingga puncaknya di Italia.

Perkembangan pesat dalam bentuk-bentuk relief, baik dari segi teknik maupun gaya, membuat para ahli Italia memilah satu sama lain agar lebih mudah dipelajari, dipahami, dan dikerjakan. Dalam tradisi

KARYA SENI RELIEF

Italia, relief dibagi ke dalam tiga k ategori, yaitu 1) alto-rilievo (relief tinggi), 2) mezzo-rilievo (relief tengah), d a n 3 ) b a s s o - r i l i e v o ( r e l i e f d a s a r ) ( C u r l , 1 9 9 9 ) . Dikatakan sebagai relief tinggi jika bentuk yang menonjol ke arah luar memiliki dimensi lebih dari 50 persen. Di sini dikesankan bahwa seolah-olah patung menempel pada dasar permukaan dinding. Bertalian dengan itu, dalam beberapa penjelasan, relief juga sering dimaknai sebagai lukisan yang menonjol, atau lukisan yang ditigadimensikan. Karya relief serupa ini banyak dijumpai pada bangunan-bangunan klasik, seperti museum, gereja, istana, dan rumah pembesar hampir di seluruh Eropa. Di Prancis, secara khusus relief tinggi dapat dilihat di museum arsitektur Cité de l’architecture et du patrimoine, Paris. Dalam bentuk lain, arca pemujaan pada candi pada era Hindu dan Buddha di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, kurang lebih masuk dalam katagori relief ini. Arca atau patung digambarkan bersandar pada stela atau sandaran.

Relief tengah merupakan pahatan atau ukiran yang kurang menonjol dari dasar permukaan dinding. Di Museum Vatikan di kota Roma dapat dilihat sejumlah sarkopagus dari sekitar abad kedua yang sekelilingnya dipenuhi oleh karya-karya relief tengah ini. Begitu juga, sarkopagus yang dikoleksi oleh Museum Louvre di kota Paris memperlihatkan gejala serupa. Di tanah air karya seperti itu dapat dilihat pada relief candi-candi di Jawa, terutama Borobudur. Kedalaman pahatan atau ukirannya beragam, lazimnya beberapa sentimeter, tetapi kurang dari separuh. Sementara itu, relief dasar memiliki latar permukaan dinding yang dibiarkan rata, dan karya yang dipahatkan digambarkan tenggelam, seolah-olah dicukil dalam permukaan dinding. Ukiran di atas meja di Jepara

dan Kudus dapat digolongkan dalam relief jenis ini.

Keserupaan karya relief yang terdapat di berbagai belahan dunia merupakan bukti universalitas dalam bidang seni rupa. Secara langsung, gaya ornamen relief pada panil-panil batu dinding candi Hindu- Buddha di Jawa dan Bali tidak berhubungan dengan kebudayaan di Eropa, tetapi besar kemungkinan memiliki keterhubungan dengan kebudayaan candi di India dan Thailand. Di sejumlah candi di wilayah India, seni ditemukan di semua tipe, baik relief tinggi, relief tengah, maupun relief dasar. Apabila ditelusuri, karya seni relief tertua di dunia ditemukan di kebudayaan Mesir kuno yang jauh lebih awal dari peradaban di India.

Pada situs Hapsepsut, Karnak, serta Bendungan Aswan ditemui karya relief sejenis ini, dan menjadi sandingan seni rupa dua dimensi lainnya.

Dari Mesir, relief terus berkembang di kebudayaan Yunani, sebagai bentuk pemujaan pada Dewa-Dewa.

Tinggalan relief gaya Yunani pada umumnya masuk kategori relief tinggi. Karya relief di wilayah Yunani yang mampu menonjolkan bentuk tiga dimensi itu sangat memukau publik karena beberapa hal menyangkut kesan estetik serta cara pengerjaannya. Secara estetik, relief di Yunani menarasikan kehidupan para Dewa Yunani. Jika dipandang dari teknik pengerjaannya, karya relief tinggi itu 1) memiliki pengerjaan secara detail, seperti lekuk tubuh, gestur, ekspresi wajah dipahatkan dengan hampir sempurna atau idealistik, 2) memiliki permukaan bidangnya sangat halus sehingga secara gestur menyerupai bentuk atau morfologis tubuh manusia, flora, atau fauna yang dimaksudkan, 3) memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dalam pengerjaannya karena menggunakan medium marmer atau pualam,

Gambar 27.

Relief sebagai Gerbang di Museum Vatican di Roma (Dok. Yuke Ardhiati, 2019)

Gambar 29.

Relief Tinggi di Museum Arsitektur Cite de l’Architecture et du Patrimoine, Paris.

(Dok. Asikin Hasan, 2015) Gambar 28.

Relief Tinggi di University of Melbourne Australia (Dok. Yuke Ardhiati, 2014)

Gambar 30.

Relief Tinggi

di Museum of Vatican Roma

Gambar 31.

Relief Tinggi, Tengah dan Dasar di Gunung Kawi, didirikan masa Raja Anak Wungsu (Abad XI) di Bali (Dok. Yuke Ardhiati, 2015)

dan 4) perwujudan relief tiga dimensinya melampaui skala manusia. Dengan penampilan seni relief yang sedemikian rupa, pemirsa merasakan keterpukauannya.

Relief tinggi tinggalan Romawi di Roma, Italia, tidak kalah elok dari Yunani. Ada perbedaan signifikan pada narasi yang disajikan. Roma mengusung relief dan patung dalam napas religi kristiani, ditujukan pada pemuliaan, terutama terhadap Yesus dan Maria. Hampir setiap gereja

atau basilika di negara tersebut tidak pernah luput dari relief, baik tinggi, menengah, maupun dasar.

Relief dengan gaya yang agak berbeda ditemukan di Sangrada Familia di Barcelona. Gereja Katolik yang terbesar serta terindah di dunia abad ke-19 ini dirancang oleh Anthony Gaudy. Karya relief yang menghiasi seluruh permukaan gereja ini, selain memvisualkan kehidupan Maria dan Yesus, juga mengeksplorasi keindahan alam

Gambar 32.

Relief Tengah

di Gerbang Goa Gajah, Ubud Bali (Dok. Yuke Ardhiati, 2015)

Gambar 33.

Relief Tengah pada paras bangunan di Kota Amsterdam (Dok. Yuke Ardhiati, 2015)

Gambar 34.

Relief Tengah di Citée de l’Architecture et du Patrimoine di Paris

(Dok. Yuke Ardhiati, 2015)

Gambar 35.

Relief Tengah saat proses pemahatan relief desain Sudjojono yang bertema

`Manusia Indonesia` pada Dinding Ruang VIP eks Bandara Kemayoran Jakarta (Dok. IVAA Collection, 2019) Gambar 36.

Relief Tengah pada ceiling di Citée de l’Architecture et du Patrimoine Paris (Dok. Yuke Ardhiati, 2015)

Gambar 38.

Relief Tengah

di Museum Citée de l'Architecture et du Patrimoine, Paris.

(Dok. Asikin Hasan, 2015) Gambar 37.

Relief of Parthenon Temple at New Acropolis Museum of Athen (Dok.Yuke Ardhiati, 2015)

Gambar 40.

Relief Tengah di langit-Langit Museum Vatikan, Roma.

(Dok. Asikin Hasan, 2019) Gambar 39.

Relief Sedang pada Ceiling Museum Louvre Museum Paris (Dok. Yuke Ardhiati 2015)

Gambar 41.

Relief Tengah dan Dasar di The Arch Constantine, Roma (Dok. Asikin Hasan, 2019)

melakukan lawatan ke Negara Amerika dan Uni Soviet.

Ketika mengunjungi ibu kota Amerika Serikat di Washington DC, beliau mengunjungi kawasan Monumen Washington, Gedung Lincoln Memorial, Museum Seni Rupa, dan sebagainya (Danoeasmoro, 1956).

Di Lincoln Memorial itu sepenuh dindingnya terdapat semacam relief dasar yang berupa tulisan grafir di atas batu alam. Demikian juga, ketika melakukan lawatan ke Uni Soviet, Presiden Soekarno mengunjungi sejumlah tempat penting, seperti Kremlin, Lapangan Merah, Gereja St. Basil, dan Museum Seni Rupa Hermitage (Danoeasmoro, 1956). Keindahan bangunan serta tata ruang kota, baik di Amerika Serikan maupun di Uni Soviet tentu saja menggoda jiwa arsitek Presiden Soekarno untuk kelak dapat memiliki hal serupa di Indonesia dalam menata ibu kota Jakarta.

Jauh hari sebelum Soekarno berkunjung ke negeri

Gambar 43.

Relief Dasar pada Bebatur atau undakan Candi Prabu Boko, Jawa Tengah (Dok. Yuke Ardhiati, 2015) Gambar 42.

Relief Dasar koleksi Colosseum di Roma (Dok. Asikin Hasan, 2019)

semesta dengan demikian canggih dan memukau. Relief yang dipahatkan beraliran semi kubisme. Gestur manusia ditafsir secara sederhana, tetapi memiliki kedalaman yang sedemikian rupa sehingga berefek pada gelap dan terang cahaya yang menyorotnya. Arsitek maestro, Anthony Gaudy, telah menyumbangkan ide-ide relief yang tidak lazim karena ia mencoba memvisualkan dedaunan suci, seperti palma dan berbagai buah yang dikatakan sakral sebagai sumber inspirasi. Sementara itu, di negara yang mayoritas penduduknya muslim seperti di Turki, karya seni relief dan patung masih dapat dijumpai, terutama melintas menuju tepi wilayah Turki yang berdekatan dengan kepulauan Chios di Yunani.

2. Seni Relief dan Arsitektur di