BAB III FIQIH MUAMALAH
E. Ar-Rahn (Gadai)
52
memberatkan salah satu pihak, dan agama Islam melarang hal semacam ini.
Sedangkan tambahan atau laba dalam jual beli yang disahkan adalah dengan cara yang telah ditentukan syara’.143
53
ن ۡݗُܢݜُݒ ٰ َ َ
ٖܱ َݍَܴ
ۡݗَ َو ْاوُܯِ ݵ َ ٗܞِܡ َߣ َٰ ِܱ َ ܛ ٞݚ ۡݐ܅ݘ ۖٞܟ َܽݠُܞ ۡنِܗَ
َݚِݘ َ أ َۡ݇
ݗُ ُܾ
َۡ݇
ܾٗ
ܛ ۡݖَ
ِّدَܖُݤ ٱ يِ ܅ ٱ َݚِݙُܡ ۡؤ
َٰ َ أ ُݝَܢَݜ َۡ َو ۥ ِݎ܅ܢ ٱ َ ܅ܒ ُݝ܅ َر
َ ۗۥ ݫَو ۡ َܡ ْاݠُݙُܢ ٱ َٰ ܅ܸ
َۚةَܯ ݚَݘَو ۡ َݣ ۡݙُܢ ُݝ܅ݛِܗَ ܛَݟ ٓۥ ٞݗِܤاَء ۡݖَݏ ُݝُܞ ۗۥ َوٱ ُ ܅ܒ ܛَݙِܝ َۡ݇
َنݠُݖَݙ
ٞݗݤِݖَ݆
ةܱݐ ا ) ٢٨٣ :
(
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya;
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah, 2:283) Para Ulama Fiqih sepakat bahwa ar-rahn boleh dilakukan dalam perjalanan dan dalam keadaan hadir di tempat, asal barang jaminan itu bisa langsung dipegang/dikuasai secara hukum oleh si piutang. Maksudnya, karena tidak semua barang jaminan bisa dipegang/dikuasai oleh si pemberi piutang secara langsung, maka paling tidak ada semacam pegangan yang dapat menjamin bahwa barang dalam status al-Marhun (menjadi jaminan hutang). Misalnya, apabila barang jaminan itu berbentuk sebidang tanah, maka yang dikuasai adalah surah jaminan tanah itu.
Haditst Nabi Muhammad ﷺ:
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin 'Isa telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Ibrahim dari Al aswad dari 'Aisyah ra. berkata: "Rasulullah ﷺ membeli makanan dari orang Yahudi secara angsuran dan menjaminnya dengan menggadaikan baju besi Beliau".
Menurut kesepakatan pakar hukum Islam, peristiwa Rasul ﷺ menggadaikan baju besinya itu, adalah kasus ar-rahn pertama dalam Islam dan dilakukan sendiri oleh Rasulullah ﷺ. Berdasarkan ayat dan hadits di atas, para Ulama Fiqih sepakat mengatakan bahwa akad ar-rahn itu dibolehkan, karena banyak kemaslahatan yang terkandung di dalamnya dalam rangka hubungan antar sesama manusia.149
3.Rukun dan Syarat ar-Rahn
Menurut kesepakatan para ahli Fiqih, rukun ar-rahn itu ada empat, yaitu:150 a. Sighat (lafal ijab dan qabul)
Syarat-syarat Sighat menurut ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sighat rahn tidak boleh memakai syarat atau dikaitkan dengan sesuatu. Hal ini karena sebab rahn jual beli, jika memakai syarat tertentu, syarat tersebut batal dan rahn tetap sah.
b. ar-Rahin (orang yang hutang) dan al-Murtahin (pemberi hutang) Syarat seorang ar Rahin dan al Murtahin yaitu:
1) tidak gila, mabuk, tidak dalam pengampuan dan anak kecil.
2) Dewasa 3) Berakal 4) Mumayyis
5) Cakap dalam melakukan hukum c. al-Marhun (harta yang dijadikan jaminan)
149 Ibnu Qudamah, Al-Mugni, Jilid IV, (Riyadh: Maktabah ar-Riyadh al-Haditsah), hlm. 337.
150 Al-Bahuti, Kasysyaf al-Qina’, Jilid III, hlm. 304.
54
Para Ulama Fiqih sepakat mensyaratkan marhun sebagaimana persyaratan barang dalam jual beli. Menurut ulama Hanafiyah mensyaratkan marhun sebagai berikut:
1) dapat diperjualbelikan
2) bermanfaat dan dapat diperjualbelikan 3) bermanfaat, jelas
4) milik rahin
5) dipegang (dikuasai) oleh rahin 6) bisa diserahkan
7) tidak bersatu dengan harta lain
8) harta yang tetap atau dapat dipindahkan d. al-Marhun bih (hutang)
Ulama Hanafiyah memberikan syarat yaitu:151
1) Marhun bih hendaklah barang yang wajib dikembalikan 2) Marhun bih memungkinkan dapat dibayarkan
3) Hak atas marhun bih harus jelas
Ulama Hanabilah dan Syafi’iyah memberikan tiga syarat yaitu:
1) Berupa hutang yang tetap dan dapat dimanfaatkan 2) Hutang harus lazim pada waktu akad
3) Hutang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin 4.Jenis-jenis ar-Rahn
Berdasarkan prinsip syariah, gadai dikenal dengan istilah rahn, yang diatur menurut prinsip syariah, dibedakan atas 2 macam, yaitu:
a. Rahn ‘Iqar. Merupakan bentuk gadai, di mana barang yang digadaikan hanya dipindahkan kepemilikannya. Namun, barangnya sendiri masih tetap dikuasai dan dipergunakan oleh pemberi gadai.
b. Rahn Hiyazi. Konsep ini hampir sama dengan konsep Gadai. Pada Rahn Hiyazi barangnya pun dikuasai dengan kreditur.
5.Hukum Memanfaatkan Barang Jaminan (ar-Rahn)
Para Ulama Fiqih sepakat menyatakan bahwa segala biaya yang dibutuhkan untuk pemeliharaan barang-barang jaminan itu menjadi tanggung jawab pemiliknya, yaitu orang yang berhutang.
Hadits Nabi Muhammad ﷺ:
Artinya:”… pemilik barang jaminan (agunan) berhak atas segala hasil barang jaminan dan ia juga bertanggung jawab atas segala biaya barang jaminan itu”. (HR.
asy-Syafi’i dan ad-Daruquthni)
Para Ulama Fiqih juga sepakat mengatakan bahwa barang yang dijadikan barang jaminan itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tanpa menghasilkan tanpa sekali, karena tindakan itu termasuk menyia-nyiakan harta yang dilarang Rasulullah ﷺ. Jumhur Ulama Fiqih,152 selain ulama Hanabilah, berpendapat bahwa pemegang barang jaminan tidak boleh memanfaatkan barang jaminan itu, karena barang itu bukan miliknya secara penuh. Hak pemegang barang jaminan terhadap barang itu hanyalah sebagai jaminan piutang yang ia berikan, dan apabila orang yang berhutang tidak mampu melunasi hutangnya, barulah ia boleh menjual barang itu untuk melunasi hutangnya itu. Alasan jumhur ulama adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ:
151 Rachmat Syafe’i, Op. cit, hlm. 163-164.
152 Ibnu Rusd, Op. cit, hlm. 272.
55
Artinya: “Barang jaminan disembunyikan dari pemiliknya, karena hasil dari barang jaminan dan resiko yang timbul atas barang itu menjadi tanggung jawabnya.” (HR. al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ibn Hibban dari Abu Hurairah)
Akan tetapi, apabila pemilik barang mengizinkan pemegang barang jaminan memanfaatkan barang itu selama di tangannya, maka sebagian ulama Hanafiyah membolehkan, 153 karena dengan danya izin, maka tidak ada halangan bagi pemegang barang jaminan untuk memanfaatkan barang itu. Akan tetapi sebagian ulama Hanafiyah,154 Malikiyah155 dan Syafi’iyah156 berpendapat, sekalipun pemilik barang itu mengizinkannnya, pemegang barang jaminan tidak boleh memanfaatkan barang jaminan itu.