6.1 Dukungan Psikologis untuk Ibu
Kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta serta selaput ketuban berlansung kurang lebih 30 menit. Terdapat Tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu perubahan bentuk dan tinggi fundus uterus, tali pusat menjulur keluar didepan vulva dan semburan darah tiba-tiba. Dan terdapat Manajemen Aktif Kala III yaitu:
pemberian suntikan oksitosin 1 menit pertama setelah bayi lahir, melakukan penegangan tali pusat terkendali, dan masase fundus uteri.
1. Perubahan Psikologis Kala III
a) Ibu senang, gembira dan bangga akan dirinya, ia juga merasa lelah.
b) Ibu ingin melihat anaknya, menyentuh, dan memeluknya.
c) Ia juga ingin segera plasenta atau ari-ari segera lahir.
d) Ibu ingin cepat melihat, memegang dan memberikan pelukan terhadap bayinya.
e) Perasaan bahagia, lega, dan merasa bangga terhadap dirinya, ibu juga akan merasakan kelelahan
f) Memusatkan diri dan bahkan bertanya- pada perineum g) Menaruh perhatian terhadap plasenta
2. Dukungan Psikologis
a) Menjaga Privasi dan Kenyamanan : Ibu perlu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan, termasuk kala III. Menjaga privasi ibu dan membantu ibu untuk mengatur posisi yang nyaman dapat meningkatkan rasa aman dan mengurangi kecemasan.
b) Komunikasi yang Baik: Komunikasi yang jelas dan terbuka tentang proses persalinan dan prosedur yang akan dilakukan dapat membantu ibu untuk merasa lebih terlibat dan memahami apa yang terjadi.
c) Memberikan Informasi: Jelaskan kepada ibu tentang proses pengeluaran plasenta dan prosedur yang akan dilakukan. Ini dapat membantu ibu untuk mengurangi rasa khawatir dan meningkatkan rasa percaya diri.
28
d) Memberikan Kesempatan untuk Berinteraksi dengan Bayinya: Setelah bayi lahir, berikan kesempatan kepada ibu untuk melihat, menyentuh, dan memeluk bayinya.
Ini dapat membantu ibu untuk membentuk ikatan dengan bayinya dan meningkatkan rasa bahagia dan lega.
e) Mencari Tahu Kebutuhan Ibu: Sesuaikan dukungan yang diberikan dengan kebutuhan individu ibu. Beberapa ibu mungkin merasa lelah dan ingin beristirahat, sementara yang lain mungkin ingin segera memulai interaksi dengan bayinya.
f) Menawarkan Dukungan Emosional: Ibu mungkin mengalami berbagai emosi setelah persalinan, termasuk rasa lega, bahagia, dan juga lelah. Dukungan emosional yang diberikan oleh petugas kesehatan atau keluarga dapat membantu ibu untuk mengatasi emosi tersebut.
g) Mengajarkan Teknik Relaksasi: Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi dapat membantu ibu untuk mengurangi kecemasan dan stres selama persalinan.
h) Mengajak Ibu untuk Berpartisipasi: Ibu dapat berpartisipasi dalam proses persalinan dengan cara yang sesuai dengan kondisinya. Ini dapat membantu ibu untuk merasa lebih terlibat dan memiliki kontrol atas proses persalinannya.
i) Mengajak Ibu untuk Membicarakan Perasaannya: Berikan kesempatan kepada ibu untuk membicarakan perasaannya dan memberikan dukungan emosional yang sesuai.
j) Menjaga Kondisi Fisik Ibu: Setelah persalinan, ibu mungkin mengalami kelelahan. Dukungan psikologis juga dapat meliputi dukungan fisik seperti menjaga kebersihan ibu, membantu ibu untuk makan dan minum, dan memastikan ibu istirahat yang cukup.
k) Menyediakan Ruangan yang Nyaman: Ruangan tempat ibu bersalin harus nyaman dan aman. Ruangan yang bersih dan memiliki pengaturan pencahayaan yang baik dapat meningkatkan kenyamanan ibu.
l) Membantu Ibu Mengatasi Rasa Nyeri: Ibu mungkin merasakan nyeri setelah persalinan, terutama setelah pengeluaran plasenta. Dukungan psikologis dapat membantu ibu untuk mengatasi rasa nyeri dengan memberikan informasi tentang nyeri yang dialami dan memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang rasa nyeri tersebut.
m) Dukungan psikologis yang efektif dapat membantu ibu bersalin kala III untuk beradaptasi dengan perubahan emosi dan fisik yang terjadi setelah persalinan. Ibu
29
yang merasa nyaman, aman, dan mendapatkan dukungan emosional akan lebih siap untuk memulai perjalanan keibuan mereka.
6.2 Peran Keluarga dan Lingkungan Peran Keluarga
a) Dukungan emosional, seperti kepedulian dan perhatian terhadap istri. Menjaga keadaan emosi, ekspresi atau afeksi. Keluarga memberikan rasa kasih sayang dan dukungan yang membantu ibu merasa aman dan nyaman dalam masa pemulihan.
b) Dukungan penghargaan, yang bisa disampaikan melalui ungkapan penghargaan atau persetujuan terhadap apa yang dirasakan oleh istri.
c) Dukungan instrumental/Fisik, yaitu memberi bantuan langsung untuk menolong istri.
Bantuan yang dimaksud bisa dalam bentuk materi, pekerjaan ataupun waktu. Keluarga dapat membantu ibu dalam berbagai tugas domestik, seperti memasak, membersihkan rumah, dan merawat bayi, sehingga ibu bisa fokus pada pemulihan diri.
d) Dukungan informatif, mencakup memberi nasihat atau saran.
Peran Lingkungan :
a) Dukungan Sosial: Lingkungan yang mendukung memberikan rasa aman dan nyaman bagi ibu, sehingga ibu dapat fokus pada pemulihan dan merawat bayi.
b) Pendidikan: Lingkungan yang mendukung dapat memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir, menyusui, dan perawatan diri setelah melahirkan.
c) Dukungan Informasi: Lingkungan yang mendukung dapat memberikan informasi yang tepat mengenai perawatan pasca persalinan, termasuk perawatan bayi dan menyusui.
d) Pentingnya Lingkungan yang Suportif, Dukungan lingkungan yang kuat dapat membantu ibu untuk mencegah atau mengatasi depresi pasca persalinan.
6.3 Edukasi dan Konseling Pasca Persalinan
Beberapa minggu pertama dengan bayi baru lahir sangat menuntut, baik secara fisik maupun emosional. Wanita perlu beristirahat dan merawat diri mereka sendiri saat mereka pulih dari persalinan dan melahirkan. Ini sering kali mengharuskan anggota keluarga dan teman-teman lainnya untuk membantu. Bekerjasamalah dengan keluarga untuk
30
memastikan semua orang menyadari perawatan yang dibutuhkan seorang ibu. Gunakan keterampilan bertanya Anda untuk mencari tahu apakah wanita tersebut merawat diri mereka sendiri dan mencari tahu tingkat dukungan yang mereka dapatkan dari keluarga mereka. Cari tahu apakah dia mendapatkan cukup istirahat dan dukungan. Bekerjasamalah dengannya untuk mengidentifikasi cara-cara agar hal ini dapat ditingkatkan. Periode pascanatal adalah waktu ketika Anda mungkin harus membahas masalah dengan seluruh keluarga untuk membantu mereka mengidentifikasi solusi atas masalah yang mungkin muncul sejak kelahiran. Beberapa wanita kewalahan setelah kelahiran seorang anak, tetapi meskipun demikian mereka merasa bahwa mereka harus kembali ke rutinitas mereka yang biasa secepat mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka dapat mengatasinya. Sebagai seorang petugas kesehatan, Anda harus dapat mengidentifikasi wanita yang dapat mengatasinya, dari wanita yang mengalami kesulitan mengatasinya.
a. Konseling Gizi
Anjurkan wanita untuk mengonsumsi makanan sehat dalam jumlah dan variasi yang lebih banyak, seperti daging, ikan, minyak, kacang-kacangan, biji-bijian, sereal, buncis, sayur-sayuran, keju, dan susu untuk membantunya merasa kuat dan sehat (berikan contoh seberapa banyak yang harus dimakan). Yakinkan ibu bahwa ia dapat mengonsumsi makanan normal apa saja - makanan tersebut tidak akan membahayakan bayi yang disusui. Diskusikan tentang tabu-tabu yang ada mengenai makanan yang menyehatkan secara gizi. Bicaralah dengan pasangannya atau anggota keluarga lainnya untuk mendorong mereka memastikan bahwa wanita tersebut makan cukup dan menghindari pekerjaan fisik yang berat.
b. Memberikan perawatan yang memadai di rumah
Dalam minggu-minggu setelah melahirkan, wanita membutuhkan perawatan ekstra, termasuk dukungan dari pasangan dan keluarga. Proses persalinan dan melahirkan membutuhkan banyak tenaga fisik, seperti halnya menyusui dan merawat bayi yang baru lahir. Oleh karena itu, sangat penting bagi wanita untuk memulihkan kekuatan dan menjaga kesehatan mereka saat mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan bersama bayi mereka.
Wanita pascanatal perlu menjaga pola makan seimbang, sama seperti yang mereka lakukan selama kehamilan. Suplemen zat besi dan asam folat juga harus dilanjutkan selama 3 bulan setelah melahirkan. Wanita yang sedang menyusui memerlukan makanan tambahan dan harus minum air bersih yang cukup
31
Diskusikan tentang pemberian makanan bayi dan perawatan payudara dan pentingnya hanya mengonsumsi obat yang diresepkan saat menyusui.
Bahas pentingnya lingkungan rumah untuk meningkatkan kesehatan bayi dan pemulihan ibu. Misalnya, bahas perlunya kehangatan, ventilasi yang baik, dan kebersihan bagi ibu dan bayi.
c. Masalah seksualitas
Waktu kapan pasangan melanjutkan hubungan seksual setelah melahirkan sering kali dipandu oleh praktik seksual setempat. Berbagai komunitas dan kelompok agama memiliki periode pantang yang disarankan berbeda setelah melahirkan. Akan berguna untuk menyadari hal ini dan menghormati praktik-praktik ini. Seorang wanita sering kali malu untuk bertanya kapan dia dapat melanjutkan hubungan seksual dan mungkin sudah ditekan oleh suami atau pasangannya. Dalam beberapa kasus, pasangan mungkin telah melakukan hubungan seksual di luar hubungan selama periode pantang setelah melahirkan dan karenanya wanita tersebut mungkin berisiko tertular IMS dan HIV.
Penting untuk memberi tahu wanita tentang perubahan pada tubuhnya setelah melahirkan yang dapat memengaruhi hubungan seksual. Rasa lelah yang dirasakan banyak wanita setelah melahirkan berarti mereka sering kali tidak memiliki keinginan untuk berhubungan seksual. Pertama kali berhubungan seksual mungkin terasa menyakitkan, terutama jika ada jahitan di perineum. Kerusakan dan ketegangan pada otot panggul bagian dalam yang terjadi selama melahirkan akan berarti bahwa hubungan seksual mungkin 'terasa berbeda'. Banyak wanita akan membutuhkan informasi tentang perubahan normal ini dan beberapa keyakinan bahwa hal-hal ini biasanya membaik seiring berjalannya waktu.
32