• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 15 Sengketa dan Penyelesaian Sengketa

yang buruk, keterlambatan pembayaran, kurangnya dukungan finansial, dan ketidakstabilan pasar finansial.

Penelitian oleh Famiyeh dkk. (2017) di Ghana menunjukkan penyebab keterlambatan pekerjaan antara lain permasalahan finansial, durasi kontrak yang tidak realistis, lingkup pekerjaan yang tidak didefinisikan dengan baik dalam kontrak, banyaknya perubahan pekerjaan yang terjadi, estimasi biaya yang terlalu rendah, dan buruknya inspeksi maupun pengawasan oleh konsultan. Sedangkan di Indonesia sendiri, penelitian serupa telah dilakukan oleh Agritama, Huda dan Rini (2018) yang mengidentifikasi 11 faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di Surabaya dengan lima faktor dominan yaitu perubahan desain, keterlambatan pengiriman material, keterlambatan pembayaran, sistem pembayaran yang tidak sesuai, dan ketidaktersediaan material.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak sekali faktor risiko yang dapat mempengaruhi progres dan penyelesaian pekerjaan konstruksi.

Oleh karena itu, penting bagi para pihak yang terlibat agar dapat mengelola risiko-risiko tersebut dengan tepat melalui manajemen risiko proyek yang baik. Adapun mitigasi yang disarankan antara lain menekankan pentingnya penelitian terkait manajemen arus kas demi meningkatkan praktek pembayaran tepat waktu di industri konstruksi (Abdul-Rahman, Takim & Min 2009), menyediakan sumber daya yang cukup pada tahap perencanaan, dan koordinasi serta komunikasi yang baik dari para pihak.

BAB 15 Sengketa dan Penyelesaian

tingkat kekuasaan, penipuan dan keyakinan juga menjadi penyebabnya konflik di proyek konstruksi.

Sedangkan permasalahan kontraktual mencakup definisi, interpretasi, dan klarifikasi kontrak. Kumaraswamy dan Yogeswaran (1998) dalam studinya menunjukkan bahwa sumber konflik konstruksi sebagian besar terkait dengan masalah kontrak, antara lain variasi, perpanjangan waktu, pembayaran, kualitas spesifikasi teknis, ketersediaan informasi, administrasi dan manajemen, harapan klien yang tidak realistis dan pengakhiran kontrak.

Terakhir konflik terkait permasalahan teknis yang diakibatkan oleh ketidakpastian atau ketidakjelasan informasi, klarifikasi teknis, dan lain sebagainya. Ini biasanya dapat ditemukan pada aspek teknis seperti kekeliruan gambar desain, kekeliruan spesifikasi, kesalahan metode pelaksanaan, dan lain-lain.

15.2 Bagaimana pengaruh konflik terhadap kesuksesan proyek dalam pelaksanaan konstruksi?

Terjadinya konflik tidak dapat dihindari dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Mengingat kompleksitas pekerjaan, banyaknya stakeholder yang terlibat dan beragamnya situasi yang mungkin terjadi selama pelaksanaan pekerjaan, konflik antara para pihak menjadi tidak terhindarkan dan oleh karena itu membutuhkan beberapa penanganan khusus terkait manajemen konflik di proyek.

Dalam sebuah studi oleh Acharya, Dai Lee dan Man Im (2006), ditemukan enam faktor penyebab konflik pada proyek-proyek konstruksi di Korea yaitu perbedaan kondisi lapangan, hambatan orang-orang setempat, perbedaan dalam penilaian perubahan pekerjaan, adanya kesalahan dan pengurangan dalam desain, kelebihan volume pekerjaan dan spesifikasi yang ambigu.

Sedangkan Jaffar, Tharim, dan Shuib (2011) mengklasifikasi penyebab konflik pada proyek konstruksi menjadi tiga jenis faktor, yaitu faktor terkait permasalahan perilaku, faktor terkait permasalahan kontraktual dan faktor terkait permasalahan teknis.

Contoh faktor konflik terkait perilaku antara lain keengganan untuk meminta kejelasan maupun komunikasi yang buruk.

Sedangkan faktor konflik terkait kontrak antara lain keterlambatan penyerahan lapangan, keterlambatan pembayaran progress dan ketidakjelasan ketentuan di dalam kontrak. Sedangkan kegagalan kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik atau instruksi yang terlambat dari konsultan maupun employer merupakan faktor konflik terkait masalah teknis.

Tidak banyak studi yang dilakukan terkait pengaruh konflik terhadap kesuksesan proyek konstruksi. Salah satu studi terbaru dilakukan oleh Irfan dkk. (2019) dengan fokus pada konflik antara para pemangku kepentingan di proyek konstruksi. Mereka menermukan bahwa konflik stakeholder memiliki hubungan positif terhadap waktu, biaya dan sumber daya proyek. Ini berarti bahwa setiap peningkatan atau pengurangan dalam konflik stakeholder akan berdampak langsung terhadap tiga indikator proyek ini. Misalnya, peningkatan konflik menyebabkan pula peningkatan biaya, waktu maupun sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sebaliknya, konflik memiliki hubungan negatif terhadap indikator mutu, produktifitas pekerja, perlindungan terhadap lingkungan dan keselamatan kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap peningkatan konflik akan mengurangi empat indikator ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konflik sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan kesuksesan penyelesaian sebuah proyek konstruksi.

15.3 Permasalahan apa yang paling sering terjadi pada kontrak konstruksi, dan bagaimana memasukkannya ke dalam regulasi agar permasalahan tersebut dapat diminimalkan?

Mengingat kontrak konstruksi merupakan landasan bagi pelaksanaan pekerjaan konstruksi di lapangan, terdapat banyak sekali permasalahan yang dapat terjadi terkait kontrak konstruksi.

Permasalahan kontraktual ini dapat berupa permasalahan saat proses tender, permasalahan terkait desain, permasalahan terkait penyerahan lapangan, permasalahan terkait program kerja, permasalahan terkait keterlambatan, permasalahan terkait pembayaran, permasalahan terkait perpanjangan waktu, permasalahan terkait kualitas pekerjaan, permasalahan terkait perubahan pekerjaan, permasalahan terkait serah terima dan keberterimaan, permasalahan terkait klaim konstruksi, permasalahan terkait keadaan kahar, dan permasalahan lainnya.

Mengidentifikasi dan mengetahui permasalahan ini penting agar dapat diformulasikan langkah-langkah yang tepat untuk memitigasi dampaknya. Disukai atau tidak, permasalahan ini akan

tetap ada dan wajar terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang dilandasi oleh sebuah kontrak konstruksi.

Permasalahan kontraktual ini ada untuk dikelola oleh para pihak yang terlibat. Disini, manajer atau admin kontrak berperan penting untuk mengelola berbagai permasalahan kontraktual yang mungkin maupun akan terjadi dalam pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi.

Beberapa permasalahan ini telah disinggung dan dijelaskan dalam beberapa peraturan yang diterbitkan pemerintah melalui instansi terkait. Namun sepengetahuan penulis, belum ada peraturan yang komprehensif fokus menjawab tantangan ini. Mungkin diperlukan suatu penelitian pendahuluan yang mengidentifikasi permasalahan kontraktual dalam pekerjaan konstruksi dan mengintegrasikannya dengan rekomendasi peraturan untuk menjawab permasalahan tersebut. Buku ini sendiri hadir sebagai salah satu upaya mengidentifikasi dan menjawab berbagai permasalahan kontraktual yang ada dalam praktik konstruksi di Indonesia.

15.4 Bagaimana ketika ada beberapa klausul kontrak yang bersifat ambigu dan terdapat konflik diantara stakeholder?

Bahasa kontrak memiliki risiko terkait interpretasi. Ini merupakan sebuah fakta penting terkait kontrak konstruksi yang menyatakan berbagai kesepakatan antara kedua belah pihak secara tertulis.

Untuk menghindari konflik dan sengketa, para pihak yang terlibat dianjurkan untuk menyusun kontrak konstruksi dengan bahasa yang sederhana, lugas dan tepat menggambarkan ketentuan yang

mereka sepakati bersama. Disini peranan seorang manajer atau admin kontrak menjadi penting untuk menyusun kontrak konstruksi dengan baik dan benar. Manajer kontrak yang kompeten akan memahami istilah-istilah baku yang biasa digunakan dalam kontrak konstruksi sehingga mengurangi terjadinya kesalahpahaman akibat tidak mengertinya salah satu pihak dengan istilah atau bahasa yang digunakan di dalam kontrak.

Biasanya, kita menggunakan kata ‘ambigu’ untuk menggambarkan suatu istilah atau bahasa yang memiliki makna atau interpretasi ganda. Ambiguitas dalam kontrak konstruksi harus diupayakan untuk dihindari. Untuk itu, sebaiknya para pihak menyediakan sumber daya yang memadai selama proses negosiasi dan penyusunan kontrak konstruksi. Sumber daya ini dapat berupa penyediaan manajer kontrak yang kompeten, waktu yang cukup untuk mengkaji dan menyusun kontrak, dan sumber daya lain yang diperlukan mendetailkan ketentuan kontrak, terutama terkait lingkup pekerjaan. Selain itu, permasalahan ambiguitas dalam kontrak konstruksi juga biasanya terkait dengan salah satu atau kombinasi dari perubahan pekerjaan, spesifikasi teknis, maupun ketentuan umum kontrak.

Terkait hal ini, KUH Perdata telah memberikan pengaturan mengenai masalah penafsiran kontrak pada Pasal 1342 hingga Pasal 1351. Pasal 1342 menyebutkan bahwa jika kata-kata dalam suatu kontrak sudah jelas maka tidak lagi diperkenankan untuk menyimpang daripadanya dengan jalan penafsiran. Hal ini mengisyaratkan bahwa apapun kontrak yang dibuat orang, hendaknya jelas isinya sehingga memberikan kepastian sesuai dengan asas sens clair atau kejelasan makna (Sutiyoso, 2013).

Meskipun demikian, adanya perbedaan interpretasi terhadap isi

kontrak disebabkan diantaranya karena tidak semua kata, istilah, kalimat yang menunjukkan suatu kaidah, hubungan atau peristiwa hukum yang dikemukakan secara tertulis dalam suatu kontrak itu sudah jelas dan mudah dipahami sehingga muncul potensi ambiguitas (Sutiyoso, 2013). Atau dengan kata lain, potensi munculnya ambiguitas akan selalu ada dalam kontrak konstruksi.

Selain itu, Pasal 1343 KUH Perdata menyatakan bahwa jika kata- kata suatu perjanjian dapat diberikan berbagai macam penafsiran, maka harus diselidiki maksud kedua belah pihak yang membuat perjanjian. Disini, terlihat bahwa teori kehendak dijadikan sebagai dasar penafsiran perjanjian untuk istilah yang ambigu (Sutiyoso, 2013). Pada Pasal 1344 disebutkan bahwa jika suatu janji dapat diberikan dua macam pengertian, maka harus dipilih pengertian yang memungkinkan janji itu dilaksanakan daripada pengertian yang tidak memungkinkan suatu pelaksanaan. Atau dengan kata lain perjanjian harus ditafsirkan sedekat mungkin dengan maksud para pihak yang paling memungkinkan untuk pelaksanaan perjanjian tersebut (Sutiyoso, 2013). Mirip dengan ini, Pasal 1345 menyebutkan bahwa jika kata-kata dapat diberikan dua macam pengertian, maka harus dipilih pengertian yang paling selaras dengan sifat perjanjian. Sedangkan Pasal 1346 berbunyi hal-hal yang meragukan harus ditafsirkan menurut apa yang menjadi kebiasaan dimana perjanjian itu dibuat. Di sini, masalah ambiguitas dapat ditafsirkan menurut pengertian umum yang dibenarkan dalam kontrak konstruksi secara umum.

Terlepas dari berbagai metode penafsiran yang ada, langkah terbaik untuk menyikapi permasalahan ambiguitas dalam kontrak konstruksi adalah dengan meminimalkan potensi munculnya ambiguitas dalam kontrak konstruksi. Ini dapat dilakukan dengan membuat kontrak konstruksi dengan bahasa yang jelas, sederhana

dan tepat. Hal ini dapat tercapai bila para pihak menyediakan sumber daya yang memadai selama proses negosiasi dan penyusunan kontrak konstruksi.

15.5 Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan sengketa kontrak konstruksi?

Sebelum membahas tentang faktor penyebab sengketa, ada baiknya kita membahas perbedaan konflik dan sengketa terlebih dahulu. Konflik (conflicts) dan sengketa (disputes) seringkali digunakan bersamaan. Dalam kaitannya dengan industri konstruksi, Fenn, Lowe, dan Speck (1997) menjelaskan perbedaan antara keduanya. Konflik muncul manakala terdapat perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak. Konflik dapat dikelola para pihak sehingga dapat dicegah berkembang menjadi sebuah sengketa konstruksi. Sebaliknya, sengketa konstruksi berkaitan dengan isu-isu yang memiliki landasan kontraktual dan membutuhkan resolusi dalam penyelesaiannya. Sengketa dapat dikelola melalui resolusi sengketa yang biasanya memerlukan intervensi pihak ketiga. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konflik dapat berkembang menjadi sengketa konstruksi.

Mengingat keterkaitan antara konflik dan sengketa, maka sewajarnya pula bila faktor penyebab sengketa dapat berasal dari faktor penyebab konflik selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Cakmak dan Cakmak (2014) menganalisis faktor penyebab sengketa yang umum terjadi di industri konstruksi melalui ANP (analytical network process) sebagai berikut.

Kategori Relative Sub-kategori Relative

Utama Importance Importance

Berkaitan dengan employer

0,081163 Perubahan pekerjaan yang

diinisiasi oleh employer 0,011806 Perubahan lingkup 0,018216 Keterlambatan

penyerahan lapangan

0,000382 Instruksi percepatan 0,000171 Harapan yang tidak

realistis 0,002524

Keterlambatan

pembayaran 0,048064

Berkaitan dengan kontraktor

0,301548 Keterlambatan pekerjaan 0,151231 Perpanjangan waktu 0,122495 Ketidakmampuan teknis 0,000127

Proses tender 0,000101

Kualitas pekerjaan 0,027423 Berkaitan

dengan desain

0,253987 Kesalahan desain 0,054377 Spesifikasi yang tidak

memadai 0,119561

Kualitas desain 0,071209 Ketersediaan informasi 0,008840 Berkaitan

dengan kontrak

0,259314 Ambiguitas dalam

dokumen kontrak 0,045363 Perbedaan interpretasi

ketentuan kontrak 0,019974 Alokasi risiko 0,027686 Permasalahan kontraktual

lainnya 0,166291

Berkaitan dengan perilaku manusia

0,026826 Perbedaan budaya 0,003531 Kurangnya komunikasi 0,016504 Kurangnya semangat tim 0,006792 Berkaitan

dengan proyek

0,037032 Kondisi lapangan 0,018516 Perubahan tak terduga 0,018516 Faktor

eksternal 0,040127 Cuaca 0,002434

Faktor hukum dan

ekonomi 0,031776

Sektor yang

terfragmentasi 0,005917

Sebagaimana terlihat pada tabel diatas, sengketa yang berkaitan dengan kontraktor memiliki nilai relative importance tertinggi sebesar 0,301548. Dengan kata lain, sengketa yang berkaitan dengan kontraktor merupakan jenis sengketa paling umum terjadi di industri konstruksi menurut penelitian Cakmak dan Cakmak (2014). Namun demikian, faktor penyebab sengketa dapat berbeda atau memiliki implikasi yang berbeda dengan penelitian ini, tergantung pada konteks waktu dan tempat dimana penelitian tersebut dilakukan.

15.6 Klausul apa yang harus diperhatikan agar sengketa dalam kontrak dapat dihindari?

Kontrak konstruksi memuat seluruh pernyataan, hak, kewajiban dan tanggung jawab para pihak dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Kontrak konstruksi dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi sengketa yang ada, yang selanjutnya dapat diupayakan langkah-langkah untuk menghindari atau meminimalkan dampak dari potensi sengketa tersebut.

Menurut Zimolong (2012), beberapa klausul kontrak konstruksi yang harus diperhatikan untuk mengidentifikasi dan menghindari sengketa konstruksi adalah:

• Klausul terkait lingkup pekerjaan, harga dan waktu;

• Klausul terkait subkontraktor;

• Klausul terkait pembayaran berkondisi;

• Klausul terkait penghentian kontrak secara sepihak oleh employer atas alasan kenyamanan (termination for convenience);

• Klausul terkait tidak adanya ganti rugi atas keterlambatan yang terjadi bagi kontraktor;

• Klausul terkait kinerja dan spesifikasi desain;

• Klausul terkait perubahan pekerjaan;

• Klausul-klausul lain yang patut diperhatikan seperti perbedaan kondisi lapangan, penyelidikan lokasi, dan penyelesaian sengketa.

Meskipun klausul-klausul di atas terkait dengan pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor dan harus diperhatikan oleh kontraktor, pihak lain dapat pula mempelajari klausul-klausul ini untuk menghindari potensi sengketa yang terjadi. Selain itu, disarankan agar para pihak dapat mempelajari keseluruhan dokumen kontrak dan bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan dengan meminimalkan potensi sengketa yang ada.

15.7 Sebelum ke BANI sebaiknya sengketa kontrak dibawa kemana?

Dalam manajemen kontrak konstruksi, terdapat beberapa alternatif penyelesaian sengketa (APS) yang dapat dilakukan oleh para pihak yang sedang mengalami sengketa. Langkah pertama dapat dilakukan negosiasi antara para pihak yang bersengketa. Apabila negosiasi gagal mencapai mufakat, maka para pihak dapat menempuh langkah mediasi dengan mendatangkan seorang mediator yang menengahi para pihak. Meskipun dianjurkan, kedua langkah ini memiliki kelemahan yaitu tidak adanya putusan

final yang mengikat para pihak sehingga memungkinkan salah satu pihak untuk tidak menjalankan hasil putusan negosiasi atau mediasi.

Selain itu, para pihak juga dapat menerapkan ajudikasi. Langkah ini dianjurkan oleh FIDIC sebagaimana dalam FIDIC Red Book (2017) Klausul 21 yang memuat tentang dibentuknya Dispute Avoidance and Adjudication Board (DAAB) atau Dewan Pencegahan dan Ajudikasi Sengketa. DAAB dapat beranggotakan satu atau tiga orang yang ditunjuk oleh kedua belah pihak untuk menengahi dan menyelesaikan sengketa yang terjadi di lapangan.

Putusan DAAB mengikat bagi kedua belah pihak.

Apabila salah satu pihak merasa tidak puas dengan putusan DAAB, maka mereka dapat menerbitkan sebuah Notice of Dissatisfaction (NOD) yang ditujukan kepada DAAB dan Engineer/konsultan MK. NOD ini harus diberikan dalam kurun waktu 28 hari setelah menerima putusan DAAB. Atas NOD yang dilayangkan, para pihak harus berusaha mencari penyelesaian damai sebelum menempuh langkah arbitrasi. Kecuali ditentukan lain berdasarkan kesepakatan bersama, arbitrasi dapat ditempuh pada atau setelah hari ke-28 setelah NOD diberikan, meskipun tanpa upaya penyelesaian damai telah dilakukan.

Adapun kelebihan dari penyelesaian sengketa melalui DAAB antara lain:

• upaya penyelesaian yang cepat dan hemat;

• putusan yang mengikat berdasarkan kontrak;

• tidak menghambat progress pekerjaan di lapangan;

• tidak dipublikasikan secara umum sehingga tidak mempengaruhi nama baik para pihak;

• penyelesaian dilakukan oleh pihak ketiga yang dianggap ahli sesuai dengan bidang konstruksi.

Daftar Pustaka

Abdul-Rahman, H., Takim, R., & Min, W.S. (2009). Financial-related causes contributing to project delays. Journal of Retail &

Leisure Property, 8, 225-238.

Acharya, N.K., Dai Lee, Y., & Man Im, H. (2006). Conflicting factors in construction projects: Korean perspective. Engineering, Construction and Architectural Management, 13(6), 543-566.

Agritama, R..P, Huda, M., & Rini, T.S. (2018). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi di Surabaya.

Axial: Jurnal Rekayasa dan Manajemen Konstruksi, 6(1), 25- 32.

Amin, M., & Susanto, A. (2015) Kajian Quantity Surveyor pada Tahap Pre Contract dan Post Contract: Studi Kasus Proyek Ad- Premier Office – Jakarta. Rekayasa Sipil, 4(1), 27-38.

Apanian, M.C., , Abdulazia, Grossbart, & Rudman. (2016). Practical Tips on Drafting Construction Contracts. Retrieved from https://caphcc.org/wp-content/uploads/2016/06/Drafting- Construction-Contracts-by-Milene-Apanian-AGR.pdf Ariani, V., Roza, F., Ayu, E.S. (2019). Peringkat Faktor Penyebab

yang Mempengaruhi Terjadinya Klaim dari Kontraktor ke Owner pada Proyek Konstruksi di Kota Padang. Rang Teknik Journal, 2(1), 157-167.

As’adi, E. (2011). Hukum Proyek Konstruksi Bangunan dalam Perspektif Pelayanan Publik yang Baik di Indonesia.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Augenblick, M., & Rousseau, A.B. (2012). Force majeure in tumultuous times: Impracticability as the new impossibility.

The Journal of World Investment & Trade, 13(1), 59-75.

Badan Pembinaan Konstruksi dan SDM. (2005). Buku Pelatihan Pengendali Biaya Pekerjaan (Cost Controller) Pekerjaan Sumber Daya Air, CCE-05 Analisa Harga Satuan. Jakarta:

Departemen Pekerjaan Umum (Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi).

Ballesteros-Pérez, P., Kabiri, S., Smith, S.T., & Hughes, W. (2016).

Dealing with Weather-related Claims in Construction Contracts: A New Approach. Dalam: Pellicer, E, Adam, JM, Yepes, V, Singh, A. (Eds.) Resilient Structures and Sustainable Construction. ISEC.

Bates, A., & Coles, A.J. (2012). Audit Provisions in Private Construction Contracts: Which Costs are Subject to Audit, Who Bears the Expense of the Audit, and Who has the Burden of Proof on Audit Claims? Journal of the American College of Construction Lawyers, 6(2), 111-141.

BFI Group of Companies Ltd v. DCB Integration Systems Ltd (1987).

Cakmak, E., & Cakmak, PI. (2014). An analysis of causes of disputes in the construction industry using analytical network process.

Procedia Social and Behavioral Sciences, 109, 183-187.

Carausan, M. V. (2017). Conducting and Using Monitoring in Public Procurement Contracts. Journal of Public Administration, Finance and Law, Special Issue 3, 7-16.

Collins, S. A., & Zack Jr, J. G. (2014). Changing trend in risk allocation – differing site conditions. Navigant Construction Forum.

Corrada, S.M.G. (2007). The best laid plans: Force majeure clauses in travel and event contracts. Nova Law Review, 31(3), pp. 409- 421.

Cubic Metre Pty Ltd v C & E Critharis Construction Pty Ltd [2020]

NSWSC 479.

Dei, K.A., Dharmayanti, G. A. P. C., & Jaya, N.M. (2017). Analisis Risiko dalam Aliran Supply Chain pada Proyek Konstruksi Gedung di Bali. Jurnal Spektran, 5(1), 36-46.

Enshassi, A., Mohamed, S., & El-Ghandour, S. (2009). Problems Associated with the Process of Claim Management in Palestine:

Contractors’ Perspective. Engineering, Construction and Architecture Management, 16(1), 61-72.

Essing, S. A., Saerang, D. P. E,. & Lambey, L. (2017). Analisis Pelaksanaan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah di Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal Riset Akuntansi dan Auditing Goodwill, 8(1), 118-128.

Ezeldin, A. S. & Helw, A. A. (2018). Proposed Force Majeure Clause for Construction Contracts under Civil and Common Laws.

Journal of Legal Affairs and Dispute Resolution in Engineering and Construction, 10(3), 04518005.

Famiyeh, S., Amoatey, C.T., Adaku, E., & Agbenohevi, C. S. (2017).

Major causes of construction time and cost overruns: A case of

selected educational sector projects in Ghana. Journal of Engineering, Design and Technology, 15(2), 181-198.

Fenice Investments Inc v Jerram Falkus Construction Ltd [2009]

EWHC 3272 (TCC).

Fenn, P., Lowe, D., Speck, C. (1997). Conflict and dispute in construction. Construction Management and Economics, 15, 513-518.

Fertilia, N. C., & Ayuningtias, H. S. (2020). Cause Analysis of Contract Amendment in the X Dry Dam Construction Project in Indonesia. Neutron, 20(1), 33-40.

FIDIC. (2017). Conditions of Contract for Construction, 2nd ed.

FIDIC. Geneva, Switzerland.

FIDIC. (2017). Conditions of Contract for EPC/Turnkey Projects, 2nd ed. FIDIC. Geneva, Switzerland.

FIDIC. (2017). Conditions of Contract for Plant & Design Build, 2nd ed. FIDIC. Geneva, Switzerland.

FIDIC. (2019). The FIDIC Golden Principles. FIDIC. Geneva, Switzerland.

Flanagan, R. & Jewell, C. (2018). CIOB New Code of Estimating Practice. Hoboken (NJ): John Wiley & Sons.

Gashahun, A.D. (2020). Assessment on Impact of Covid-19 on Ethiopian Construction Industry. International Journal of Engineering Science and Computing, 10(7), pp. 26889-26894.

Gunduz, M., & Onder, O. (2012). Fraud and Corruption Risk Assessment in Construction Industry. Proceeding of RICS COBRA, 11-13 September 2012, Las Vegas, Nevada, USA.

Hansen, S. (2015). Formulating Standard Form of Construction Contract in Indonesian Context. The 1st International Joint Conference of Indonesia-Malaysia-Bangladesh-Ireland (IJCIMBI), 27-28 April 2015, Universitas Ubudiyah Indonesia, Aceh.

Hansen, S. (2017a). Manajemen Kontrak Konstruksi: Pedoman Praktis dalam Mengelola Proyek Konstruksi, Edisi 2. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Hansen, S. (2017b). Quantity Surveying: Pengantar Manajemen Biaya dan Kontrak Konstruksi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hansen, S. (2019). Challenging Arbitral Awards in the Construction Industry: Case Study of Infrastructure Disputes. Journal of Legal Affairs and Dispute Resolution in Engineering and Construction, 11(1), 06518004.

Hansen, S. (2020a). Statistik Kompetensi MKK di Indonesia: Tingkat Profisiensi dan Signifikansi. Jakarta: Komunitas Manajemen Kontrak Konstruksi Indonesia.

Hansen, S. (2020b). Does the COVID-19 Outbreak Constitute a Force Majeure Event? A Pandemic Impact on Construction Contracts.

Journal of the Civil Engineering Forum, 6(2), 201-214.

Hansen, S, Rostiyanti, S.F., Rizaldi, & Andjarwati, C. (2021).

Quantity Surveyors’ Response to the COVID-19 Outbreak: A

Mixed Method Approach. Journal of the Civil Engineering Forum, 7(2), 177-186.

HW Neville (Sublest) Ltd v William Press & Son Ltd (1981).

Indramanik, I. B. G. (2017). FIDIC dan Kontrak Konstruksi di Indonesia. Jurnal Teknik Gradien, 9(1), 123-144.

Instruksi Menteri PUPR No. 02/IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 pada Jasa Konstruksi.

Irawan, I. (2014). Studi Kasus Pembebasan Tanah dalam Proyek Normalisasi Waduk Pluit ditinjau dari Perspektif Hukum Agraria. Humaniora, 5(2), 1168-1176.

Irfan, M., Thaheem, M. J., Gabriel, H. F., Malik, M. S. A., & Nasir, A. R. (2019). Effect of stakeholder’s conflicts on project constraints: a tale of the construction industry. International Journal of Conflict Management, 30(4), 538-565.

Jaffar, N., Tharim, A. H. A., & Shuib, M. N. (2011). Factors of Conflict in Construction Industry: A Literature Review.

Procedia Engineering, 20, 193-202.

Kadefors, A. (2005). Fairness in interorganizational project relations:

norms and strategies. Construction Management and Economics, 23, 871-878.

Kartiawan, I., Soenardji, H. N., & Al Katuuk, K. (2014). Ruang Ruang Gelap Jasa Konstruksi Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Keene, D. (2018). Claims for Head Office Overheads and Profit. DGA Group Ebriefing. Retrieved from http://www.dga- group.com/download?file=/assets/the-reading-

room/articles/2018/claims-for-head-office-overheads-and- profit.pdf

Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 88 Tahun 2015 tentang Penetapan SKKNI pada Jabatan Kerja Ahli Kontrak Kerja Konstruksi.

Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 70 Tahun 2016 tentang Penetapan SKKNI Kategori Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis Golongan Pokok Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis Lainnya Bidang Pengadaan Barang/Jasa.

Khekale, C., & Futane, N. (2015). Management of Claims and Disputes in Construction Industry. International Journal of Science and Research, 4(5), 848-856.

Khofiyah, O. L., & Angreni, I. A. A. (2019). Pengaruh Pembebasan Tanah terhadap Keterlambatan Proyek Pembangunan Jalan Tol, Studi Kasus: Jalan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II B. Media Komunikasi Teknik Sipil, 25(2), 191-198.

Kinlan, D. (2016). Fair Contract Conditions and Competition. Terra et Aqua, 142, 25-30.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: t Sinarsindo Utama.

Knowles, R. (2012). 200 Contractual Problems and their Solutions.

West Sussex: John Wiley & Sons.

Kululanga, G. K., Kuotcha, W., McCaffer, R., & Edum-Fotwe, F.

(2001). Construction Contractors’ Claim Process Framework.

Journal of Construction Engineering and Management, 127(4), 309-314.