• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab Lima: Nash-nash Tentang Tidak Mu’tabarnya Pondok Pendidikan Wanita

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 160-167)

Bab Lima: Nash-nash Tentang Tidak

“Barangsiapa mengada-adakan di dalam urusan agama kami perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka dia itu tertolak.” (HR. Al Bukhariy (2697) dan Muslim (1718)).

Al Imam Asy Syaukaniy الله همحر berkata setelah menyebutkan hadits “Setiap perkara yang mana tidak ada di atasnya ajaran Nabi maka dia itu tertolak”: “Maka tidak tersisa satu individu kasuspun kecuali dalam keadaan memungkinkan untuk dimaskkan ke dalam kaidah umum tadi, dengan mendatangkan kasus kecil yang mudah di dapatkan.

Misalkan engkau berkata: “Perkara ini tidaklah ada di atasnya ajaran Nabi ﷺ. Dan setiap perkara yang mana tidak ada di atasnya ajaran Nabi maka dia itu tertolak. Maka perkara tadi tertolak. Kemudian: tidaklah tersisa perbuatan, ucapan ataupun akidah yang tidak didatangkan oleh syariat kecuali memungkinkan untuk berdalilkan dengan hadits shahih tadi untuk menolak perkara tadi.” (“Adabuth Thalab”/hal. 190/

cet. Darul Kutubil Ilmiyah).

Maka ini adalah nash-nash yang jelas –wahai orang yang menuntut nash-; yaitu: wajibnya meninggalkan perkara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak dinashkan oleh Sahabat, dan bahwasanya yang demikian itu adalah termasuk dari kebid’ahan, dan dia itu adalah kesesatan dan tertolak.

Dan ini termasuk dari prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal jama’ah –wahai orang yang memandang dirinya termasuk dari mereka-.

Al Imam Ahmad Bin Hanbal الله همحر berkata: “Prinsip- prinsip Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh

dengan perkara yang dahulunya para Sahabat Rasulullah ﷺ ada di atasnya, meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah-bid’ah, dan setiap kebid’ahan merupakan kesesatan, dan juga meninggalkan persengketaan-persengketaan di dalam agama ini.” (“Ushulus Sunnah”/Ahmad Bin Hanbal/hal.

14).

Al Imam Al Barbahariy الله همحر berkata: “Maka hindarilah perkara-perkara yang diada-adakan di dalam urusan agama ini, karena setiapa perkara yang muhdats adalah kebid’ahan, dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan.

Dan kesesatan beserta ahlinya adalah di dalam Neraka. Dan hindarilah perkara muhdats yang kecil-kecil, karena sungguh bid’ah-bid’ah yang kecil itu akan kembali sehingga menjadi besar.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 37).

Al Imam Al Lalikaiy الله همحر berkata tentang perkara yang wajib dilakukan: “... kemudian menjauhi bid’ah-bid’ah dan menjauh dari mendengarkannya, dari perkara-perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang yang menyesatkan.”

(“Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal jama’ah”/Al Lalikaiy/1/

hal. 2).

Maka ini adalah nash: wajibnya meninggalkan kebid’ahan-kebid’ahan.

Kemudian sungguh setiap perkara yang tidak menjadi bagian dari agama ini pada masa Rasulullah ﷺ dan para Sahabat beliau مهنع الله يضر, maka sungguh dia itu termasuk dari bid’ah-bid’ah.

Al Imam Abu Syamah Asy Syafi’iy الله همحر berkata:

“Bid’ah itu adalah sesuatu yang tidak terjadi pada zaman Nabi

dari perbuatan beliau atau persetujuan beliau atau diketahui adanya idzin untuk itu yang diketahui dengan ketentuan- ketentuan syari’at beliau dan yang tidak beliau ingkari, seperti apa yang akan kami jelaskan di dalam pasal yang akan datang setelah pasal ini. Dan masuk dalam makna ini (ketentuan yang menunjukkan disyariatkannya suatu perkara) adalah apa yang ada pada zaman para Shahabat مهنع الله يضر yang mereka menyepakatinya baik berupa ucapan atau perbuatan atau persetujuan.” (“Al Ba’its”/hal. 20).

Maka Ahlussunnah Wal jama’ah itu mengikuti Rasulullah ﷺ dan para Sahabat beliau مهنع الله يضر, dari sisi apa yang dilakukan dan apa yang ditinggalkan.

Al Imam As Sam’aniy الله همحر berkata: “Jika Nabi ﷺ meninggalkan suatu perkara; kita wajib untuk mengikuti beliau di dalamnya.” (“Qawathi’ul Adillah Fil Ushul”/As Sam’aniy/1 /hal. 287).

Al Allamah Az Zarkasyiy الله همحر berkata: “... karena mutaba’ah (sikap mengikuti Nabi ﷺ -pen) itu sebagaimana berlaku pada perbuatan-perbuatan, juga berlaku pada perkara-perkara yang beliau tinggalkan.” (“Al Bahrul Muhith”/Az Zarkasyiy/5/hal. 169).

Al Hafizh Ibnu Hajar الله همحر berkata: “Kita mengikuti Sunnah dari sisi melakukan sesuai ataupun meninggalkan sesuatu.” (“Fathul Bariy”/3/hal. 475).

Al Imam Asy Syaukaniy الله همحر berkata: “Sikap Nabi ﷺ yang meninggalkan sesuatu itu seperti sikap beliau saat melakukan sesuatu, dari sisi bahwasanya beliau adalah

teladan di dalamnya.” (“Irsyadul Fuhul”/Asy Syaukaniy/1/hal.

88).

Maka ditinggalkannya pendirian pondok wanita –yang mana di situ tempat tinggal mereka dipisahkan dari para wali mereka- adalah terhitung bagian dari Sunnah Tarkiyyah, yang mana Nabi ﷺ meninggalkannya padahal faktor yang menuntut dia didirikan di zaman itu ada, bersamaan dengan tidak adanya faktor penghalang.

Para wanita itu banyak, dan mereka semuanya memerlukan pendidikan, akan tetapi Nabi ﷺ tidak mendirikan pondok asrama wanita baik itu di masa periode Mekkah yang mana kerusakan umat di saat itu sangat merata, maupun di awal periode Madinah yang mana pengaruh Yahudi terhadap masyarakat sangatlah kuat, ataupun juga pada masa-masa setelah itu.

Syaikhul Islam الله همحر berkata di dalam membantah orang yang memperbolehkan ziarah yang bersifat syirik:

“Kemudian semua hujjah-hujjah tadi beredar di antara penukilan yang mana syariat tidak boleh ditetapkan dengan penukilan semacam tadi, atau qiyas yang mana peribadatan itu tidak boleh dimustahabkan dengan qiyas semacam tadi, padahal telah diketahui bahwasanya Rasul ﷺ tidak mensyariatkannya. Padahal sikap beliau yang meninggalkan amalan tadi disertai dengan adanya faktor penuntut dilakukannya amalan tadi itu bagaikan amalan Nabi (yaitu:

wajib diteladani –pen).

Ibadah-ibadah semacam tadi (ziarah yang bersifat syirik –pen) hanyalah ditetapkan oleh orang-orang Nashara

dan semisal mereka, dengan cerita-cerita dan qiyas-qiyas – tanpa menukil dari para Nabi-.

Yang berhak diikuti di dalam penetapan hukum- hukum Allah hanyalah: Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya , dan jalan para Sabiqinal Awwalin (orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama masuk Islam –pen). Dan hukum syariat itu tidak boleh ditetapkan tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istinbath (pengambilan faidah –pen) sama sekali.”

(Selesai dari “Iqtidhaush Shirathil Mustaqim”/2/hal. 171).

Diambillah faidah dari perkataan beliau tadi:

bahwasanya perbuatan-perbuatan yang dinisbatkan kepada keagamaan yang sengaja ditinggalkan oleh Nabi , padahal faktor yang menuntut dilakukannya amalan tadi ada, dan faktor penghalangnya tidak ada; maka sesungguhnya yang demikian itu bukan bagian dari syariat ini.

Dan kita telah mengetahui bahwasanya sunnah- sunnah yang dinukilkan dari Nabi itu ada empat atau lima jenis Sunnah.

Al Imam Ibnul Qayyim الله همحر berkata: “Penukilan syariat itu dimulai dari arah Nabi , dan itu ada empat jenis:

Pertama: penukilan ucapan beliau, yang kedua: penukilan perbuatan beliau, yang ketiga: penukilan persetujuan beliau atas amalan mereka yang mana beliau menyaksikan mereka melakukannya, atau beliau mengabari mereka dengan itu, yang keempat: penukilan mereka bahwasanya beliau meninggalkan sesuatu padahal sebab terwujudnya amalan

tadi itu ada hanya saja beliau tidak melakukannya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/4/hal. 249).

Selanjutnya Al Imam Ibnul Qayyim الله همحر berkata:

“Adapun penukilan mereka bahwasanya Nabi meninggalkan sesuatu itu terbagi menjadi dua jenis, dan kedua-duanya adalah Sunnah:

Yang pertama: mereka terang-terangan menyatakan bahwasanya beliau meninggalkan ini dan itu, beliau tidak mengerjakannya, seperti ucapan Sahabat tentang para Syuhada Uhud:

َو ( َْلَ ُي ِّس َغ ُه ْل ْم َْلَ َو َصُي َع ِّل َل ْي ْم ِه .)

“Dan beliau tidak memandikan mereka dan tidak pula menyolatkan mereka.” (44)

(44) Abu Fairuz الله هللللقللللفو berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhariy (1347) dari Jabir Bin Abdillah امهنع الله يضر yang bercerita:

ناك يبنلا ُعم يَ ﷺ ينب ِينل ُج رلا نِم ٍد ُحُألىتق في ٍبوث

، ٍدحاو مث ُلوقي : م هيُّأ« ُرثكَأ ًاذخَأ

؟ِنآرقلل

»

، ف ِإ يرشُأ ذا ُهل لَإ اهُ ِدحأ ه م دق في ِدحللا اقو ل :

« ديهشانأ لع ِءلَؤه َموي

ِةمايقلا

» . رم أو مِهنفدب في

،مهِئامد .اول سغُيلَو

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ dahulunya mengumpulkan di antara dua orang lelaki dari orang-orang yang terbunuh di Uhud, di dalam satu pakaian, lalu beliau bertanya: “Siapakah dari mereka yang paling banyak menghapal Al Qur’an?” Lalu jika ditunjukkan kepada beliau salah satunya, beliaupun mendahulukannya di dalam

Dan ucapan Sahabat tentang shalat Hari Raya:

َْلَ َي ( ْن ُك َأ َذ َو نا َلَ

ِإ

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 160-167)