n. Sebuah lukisan dinding dari kuburan Mesir, bertarikh sekitar 3.500 tabun lalu, menggambarkan pemandangan-pemandangan
khas pertanian.
5
Kecurangan Terbesar Sejarah
Selama 2,5 juta tahun manusia menghidupi diri dengan mengumpulkan tumbuhan dan memburu binatang yang hidup dan jenisnya tanpa intervensi mereka. Homo erectus, Homo ergaster, dan Neanderthal memetik ara liar dan memburu domba-domba liar tanpa memutuskan di mana pohon-pohon ara harus tumbuh, di padang rumput mana kawanan domba harus merumput, atau kambing-kambing bandot mana yang harus kawin dengan kambing betina yang mana. Homo sapiens menyebar dari Afrika Timur ke Timur Tengah, ke Eropa dan Asia, dan akhirnya ke Australia dan Amerika—tetapi ke mana pun mereka pergi, Sapiens terus hidup dengan mengumpulkan tumbuhan-tumbuhan liar dan memburu binatang-binatang liar.
Mengapa pula harus mencari cara lain kalau gaya hidupmu memberi kecukupan dan menopang dunia yang kaya dengan struktur sosial, keyakinan agama, dan dinamika politik?
Semua ini berubah sekitar 10.000 tahun lalu, ketika Sapiens mulai menghabiskan seluruh waktu dan usaha mereka untuk memanipulasi kehidupan beberapa spesies binatang dan tumbuhan. Dari fajar sampai terbenamnya Matahari, manusia menabur benih, menyirami tanaman, menyiangi rumput dari tanah, dan menggiring domba-domba ke padang rumput terbaik.
Pekerjaan ini, mereka pikir akan menyediakan lebih banyak buah, biji-bijian, dan daging. Itulah revolusi dalam cara hidup manusia—Revolusi Agrikultur.
Transisi ke pertanian dimulai sekitar 9500-8500 SM di negeri perbukitan Turki bagian tenggara, Iran barat, dan Levant.
Transisi itu dimulai pelan-pelan dan di area geografis terbatas.
Gandum dan kambing didomestikasi kira-kira 9000 SM; kacang
? Area-area tempal revolusi agrikultur independen mungkin terjadi
Peta 2
.
Lokasi-lokasi dan larikh-larikh revolusi agrikultur. L)aia ini masih menjadi objek perdebatan dan petanya masih terus digambar ulang untuk menyesuaikan dengan penemuan-penemuan arkeologis mutakhir.polong dan kacang-kacangan sekitar 8000 SM; pohon zaitun pada 5000 SM; kuda pada 4000 SM; dan anggur pada 3500 SM. Sebagian binatang dan tumbuhan, seperti unta dan kacang mede, didomestikasi belakangan, tetapi sampai dengan 3500 SM, gelombang utama domestikasi selesai. Bahkan hari ini, dengan segala kemajuan teknologi kita, lebih dari 90 persen kalori yang menghidupi manusia datang dari segelintir tumbuhan yang didomestikasi leluhur kita antara 9500 dan 3500 SM—gandum, padi, jagung, kentang, jewawut, dan jelai. Tak ada tumbuhan atau binatang yang didomestikasi yang patut dicatat dalam 2.000 tahun terakhir. Jika pikiran kita seperti para pemburu-penjelajah, santapan kita pun sama seperti para petani kuno itu.
Para ahli dulu percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia. Kini, para ahli sepakat bahwa pertanian menyeruak di berbagai bagian lain dunia, bukan oleh aksi para petani Timur Tengah yang mengekspor revolusi mereka, melainkan seluruhnya secara independen. Orang- orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan biji-bijian tanpa mengetahui apa pun rentang penanaman gandum dan
9?
Kecurangan terbesar Sejarah
kacang polong di Timur Tengah. Orang-orang Amerika Selatan belajar cara menumbuhkan kentang dan mengembangbiakkan llama, tanpa tabu apa yang terjadi di Meksiko atau Levant. Kaum revolusioner pertama China mendomestikasi padi, jewawut, dan babi. Para pekebun pertama Amerika Utara kelelahan menyisir semak-semak mencari umbi-umbian yang bisa dimakan dan memutuskan untuk menanam labu kuning. Orang-orang New Guinea mendomestikasi tebu dan pisang, sementara para petani Afrika Barat memanfaatkan jewawut Afrika, padi Afrika, sorgum dan gandum untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dari titik-titik pusat awal inilah pertanian menyebar jauh dan meluas. Sampai dengan abad ke-1 M, mayoritas penduduk di sebagian besar wilayah dunia adalah agrikulturalis.
Mengapa revolusi agrikultur meletup di Timur Tengah, China, dan Amerika Tengah, tetapi tidak di Australia, Alaska, atau Afrika Selatan? Penyebabnya sederhana: sebagian besar spesies tumbuhan dan binatang tak bisa didomestikasi. Sapiens bisa menggali jamur-jamur besar yang lezat dan memburu marnut- mamut berbulu, tetapi mendomestikasi spesies mana pun tak ada dalam pikiran mereka. Jamur-jamur sangat sulit dicari, dan binatang-binatang buas raksasa terlalu menakutkan. Dari ribuan spesies yang diburu dan dikumpulkan para leluhur kita, hanya beberapa yang bisa menjadi kandidat cocok untuk pertanian dan piaraan. Spesies yang sedikit itu hidup di tempat-tempat tertentu, dan di tempat-tempat itulah revolusi agrikultur terjadi.
Dulu para ahli mengklaim bahwa revolusi agrikultur adalah sebuah lompatan besar menuju kemanusiaan. Mereka mendongengkan cerita kemajuan yang didorong oleh kekuatan otak manusia. Evolusi pelan-pelan menghasilkan orang-orang yang lebih pintar. Akhirnya, orang-orang begitu pintar sehingga mereka mampu menyibak rahasia-rahasia alam, memungkinkan mereka untuk mendomestikasi domba dan menanam gandum. Segera setelah semua ini terjadi, mereka dengan riang meninggalkan kehidupan yang melelahkan, berbahaya, dan sering spartan, sebagai pemburu-penjelajah, dengan tinggal menetap untuk menikmati kehidupan menyenangkan lagi memuaskan sebagai petani.
Dongeng itu adalah fantasi. Tak ada bukti bahwa orang-orang menjadi lebih pintar seiring berjalannya waktu. Para pengembara tahu rahasia-rahasia alam jauh sebelum Revolusi Agrikultur karena kehidupan mereka bergantung pada pengetahuan mendalam tentang binatang yang mereka buru dan tumbuhan yang mereka kumpulkan. Bukan menjadi penanda kehadiran era baru kehidupan yang mudah, Revolusi Agrikultur menghadirkan kehidupan yang secara umum malah lebih sulit bagi para petani dan lebih tidak memuaskan ketimbang yang dinikmati para pengembara. Para pemburu-penjelajah menghabiskan waktu mereka dengan cara yang lebih menstimulasi dan lebih beragam, dan lebih kecil ancaman bahaya kelaparan serta penyakit. Revolusi Agrikultur jelas memperbesar jumlah total makanan yang dimiliki manusia. Namun, makanan ekstra tidak bisa diterjemahkan sebagai menu yang lebih baik atau waktu luang yang lebih banyak. Yang sesungguhnya terjadi adalah ledakan populasi dan elite yang manja. Rata-rata petani bekerja lebih keras ketimbang rata-rata pengembara, dan mendapatkan menu makanan yang lebih buruk sebagai imbalannya. Revolusi Agrikultur adalah kecurangan terbesar dalam sejarah.
Siapa yang bertanggung jawab? Bukan raja, bukan pendeta, bukan pula pedagang. Pelakunya adalah segelintir spesies tumbuhan, termasuk gandum, padi, dan kentang. Tumbuhan- tumbuhan ini mendomestikasi Homo sapiens, bukan sebaliknya.
Pikirkan sejenak tentang Revolusi Agrikultur dari sudut pandang gandum. Sepuluh ribu tahun lalu gandum hanya satu jenis rumput liar, salah satu dari banyak, terkurung dalam rentang kecil di Timur Tengah. Tiba-tiba, hanya dalam beberapa milenium pendek, rumput itu tumbuh di seluruh dunia. Menurut kriteria evolusi dasar survival dan reproduksi, gandum menjadi salah satu tumbuhan yang paling sukses dalam sejarah di muka Bumi. Di area-area seperti Great Palins, Amerika Utara, di mana tak sebatang pun tangkai gandum tumbuh 10.000 tahun lalu, kini Anda bisa berjalan beratus-ratus kilometer tanpa menjumpai tumbuhan lain. Di seluruh dunia, gandum menutupi sekitar 2,25 juta kilometer persegi permukaan Bumi, hampir sepuluh kali
•w
hmiraiKjan lert)esar Sejarah
luas Inggris. Bagaimana rumput ini berubah dari tidak signifikan menjadi ada di mana-mana?
Gandum melakukannya dengan memanipulasi Homo sapiens untuk keuntungannya sendiri. Kera ini telah hidup cukup nyaman berburu dan mengumpulkan sampai sekitar 10.000 tahun lalu, tetapi kemudian mulai menginvestasikan lebih banyak dan lebih banyak lagi upaya menanam gandum. Dalam beberapa milenium, manusia di banyak bagian dunia merawat tumbuhan gandum. Itu tidak mudah. Gandum meminta banyak dari mereka. Gandum tidak suka bebatuan dan kerikil, jadi Sapiens meremukkan punggung mereka untuk membersihkan lahan. Gandum tidak suka berbagi ruang, air, dan nutrisi dengan tumbuhan lain, jadi laki-laki dan perempuan bekerja sepanjang hari menyemai di bawah sengatan Matahari. Gandum sakit, jadi Sapiens harus terus mengawasinya dari serangan ulat dan kutu. Gandum tak punya pertahanan melawan organisme lain yang suka memakannya, dari kelinci sampai kawanan belalang, maka para petani harus menjaga dan melindunginya. Gandum kehausan, maka manusia mengalirkan air dari mata air dan sungai-sungai untuk mengairinya. Gandum yang kelaparan bahkan mendorong manusia mengumpulkan kotoran binatang untuk menyuburkan tanah yang menjadi tempat tumbuh gandum.
Tubuh Homo sapiens belum berevolusi untuk tugas semacam itu. Ia teradaptasi untuk memanjat pohon-pohon apel dan memburu rusa-rusa, bukan untuk membersihkan batu-batu dan membawa kantong-kantong air. Tulang belakang manusia, lutut, leher, dan lekuk tubuh membayar atas itu. Studi-studi atas tulang belulang kuno menunjukkan bahwa transisi menuju pertanian membawa banyak penyakit, seperti terkilir, radang sendi, dan hernia. Lebih dari itu, tugas-tugas baru pertanian menuntut banyak waktu yang menyebabkan manusia dipaksa menetap secara permanen dekat dengan ladang-ladang gandum mereka. Ini mengubah sepenuhnya cara hidup mereka. Kita tidak mendomestikasi gandum. Gandum yang mendomestikasi kita. Kata “domestikasi” berasal dari bahasa Latin domus, yang berarti ‘rumah’. Siapa yang hidup di rumah? Bukan gandum.
Sapicns-Iah yang hidup dalam rumah.
9S
12. Perang suku di Papua Nugini antara dua komunitas pertanian (1960). Pemandangan semacam itu mungkin menyebar dalam ribuan tahun setelah Revolusi Agrikultur.
Bagaimana gandum meyakinkan Homo sapiens untuk menukar kehidupan yang sedikit bagus untuk keberadaan yang lebih menderita? Apa imbalan yang ditawarkannya? Ia tidak memberi makanan yang lebih bagus. Ingat, manusia adalah kera omnivora yang tumbuh dengan ragam luas makanan. Biji- bijian hanya menyumbang bagian kecil dari makanan manusia sebelum Revolusi Agrikultur. Makanan berbasis sereal miskin akan mineral dan vitamin, sulit ditumbuhkan, dan benar-benar buruk untuk gigi dan gusi.
Gandum tidak memberi orang keamanan ekonomi. Kehidupan seorang petani lebih tidak aman ketimbang kehidupan pemburu- penjelajah. Para pengembara bergantung pada puluhan spesies untuk bertahan hidup, dan karena itu bisa menghadapi tahun- tahun sulit, bahkan tanpa persediaan makanan yang disimpan. Jika ketersediaan satu spesies berkurang, mereka bisa mengumpulkan dan memburu lebih banyak dari spesies-spesies lain. Masyarakat bertani, sampai masa yang sangat mutakhir, menggantungkan banyak sekali kebutuhan kalori mereka pada ragam sangat kecil tumbuhan yang didomestikasi. Di banyak arca, mereka hanya bergantung pada persediaan makanan tunggal, seperti gandum, kentang, atau beras. Jika tak ada hujan, awan belalang datang,
Kecurangan lerbesar Sejarah
atau jamur menulari spesies makanan itu, petani-petani mati dalam angka ribuan dan jutaan.
Gandum juga tidak bisa menawarkan keamanan dari kekerasan manusia. Para petani awal sekurang-kurangnya sama ganasnya dengan leluhur penjelajah mereka, kalau bukan lebih ganas. Para petani memiliki lebih banyak hak milik dan membutuhkan lahan untuk menanam. Hilangnya lahan-lahan padang rumput untuk menyerbu tetangga bisa berarti ketimpangan antara kehidupan dan kelaparan, jadi semakin sempit ruang untuk kompromi.
Ketika satu kawanan pengembara terdesak oleh rival yang lebih kuat, kawanan itu biasanya bergerak. Itu sulit dan berbahaya, tetapi masih layak. Ketika satu musuh yang kuat mengancam satu desa pertanian, mundur berarti menyerahkan ladang, rumah, dan lumbung. Dalam banyak kasus, ini mengantarkan para pengungsi menuju kelaparan. Oleh karena itu, para petani cenderung bertahan dan berperang sampai titik darah penghabisan.
Banyak studi antropologis dan arkeologis menunjukkan bahwa dalam masyarakat-masyarakat agrikultur sederhana tanpa kerangka politik yang melingkupi desa dan suku, kekerasan manusia bertanggung jawab atas sekitar 15 persen kematian, termasuk 25 persen kematian laki-laki. Dalam masyarakat kontemporer Papua Nugini, kekerasan menyumbang 30 persen kematian laki-laki di satu masyarakat suku pertanian, Dani, dan 35 persen di suku lain, Enga. Di Ekuador, mungkin 50 persen orang Waorani dewasa mati akibat kekerasan di tangan manusia lain!12 Pada waktunya, kekerasan manusia bisa diatasi melalui pengembangan kerangka sosial yang lebih besar—kota- kota, kerajaan, dan negara. Namun, butuh ribuan tahun untuk membangun struktur politik yang demikian besar dan efektif.
Kehidupan desa jelas membawa sejumlah manfaat langsung bagi para petani awal, seperti proteksi yang lebih baik dari binatang buas, hujan, dan cuaca dingin. Namun, untuk rata-rata orang, kerugiannya mungkin melebihi keuntungannya. Sulit bagi orang dalam masyarakat makmur saat ini untuk menghargainya.
Karena kita menikmati kemakmuran dan keamanan, dan karena kemakmuran serta keamanan kita dibangun di atas fondasi yang dibuat oleh Revolusi Agrikultur, kita berasumsi bahwa
«>/
Revolusi Agrikultur adalah sebuah perbaikan yang luar biasa.
Meskipun demikian, salah juga jika menilai ribuan tahun sejarah dari perspektif masa kini. Satu sudut pandang yang jauh lebih representatif adalah sudut pandang seorang gadis berusia 3 tahun yang sekarat akibat malnutrisi pada abad ke-1 di China gara-gara panen ayahnya gagal. Akankah dia mangatakan, “Saya sekarat akibat malnutrisi, tetapi dalam 2.000 tahun, orang-orang akan punya banyak makanan dan hidup di rumah-rumah besar ber- AC, jadi penderitaan saya adalah pengorbanan yang berarti”?
Lalu, apa yang ditawarkan gandum kepada agrikulturalis, termasuk gadis China yang mati kurang gizi itu? Tak ada yang diberikan gandum untuk orang-orang sebagai individu.
Akan tetapi, gandum menganugerahkan sesuatu bagi Homo sapiens sebagai spesies. Menanam gandum memberi lebih banyak
makanan per saruan teritorial, dan karena itu memungkinkan Homo sapiens berbiak secara eksponensial. Sekitar 13.000 tahun SM, ketika orang-orang menghidupi diri dengan mengumpulkan tumbuhan liar dan memburu binatang-binatang liar, area di sekitar oase Jericho di Palestina, bisa menopang paling banyak satu kawanan pengembara yang terdiri atas sekitar seratus orang yang relatif sehat dan tercukupi gizinya. Sekitar 8500 SM, ketika tumbuhan-tumbuhan liar menyerah kepada ladang- ladang gandum, oase itu menopang desa besar tetapi ringkih berisi 1.000 orang, yang jauh lebih menderita akibat penyakit dan kekurangan gizi.
Mata uang evolusi bukanlah kelaparan dan penderitaan, melainkan salinan spiral DNA. Sebagaimana sukses ekonomi sebuah perusahaan diukur hanya dengan jumlah dolarnya di rekening bank, bukan dari kebahagiaan para pegawainya, jadi sukses evolusi dari sebuah spesies diukur dengan jumlah salinan DNA-nya. Jika tidak ada lagi salinan DNA yang tersisa, spesies itu punah, sebagaimana sebuah perusahaan yang tak punya uang berarti bangkrut. Jika satu spesies menggaungkan banyak salinan DNA, ia sukses dan spesies itu subur. Dari perspektif semacam itu, 1.000 salinan selalu lebih baik dari 100 salinan. Inilah esensi dari Revolusi Agrikultur: kemampuan untuk mempertahankan
9«
Kecurangan lerbesar Sejarah
lebih banyak orang hidup di bawah kondisi lebih buruk.
Meskipun demikian, mengapa pula seseorang harus peduli dengan kalkulus evolusi ini? Mengapa pula satu orang yang sama menurunkan standar hidupnya hanya untuk menggandakan jumlah salinan gen Homo sapiens? Tak seorang pun setuju dengan kenyataan ini: Revolusi Agrikultur adalah sebuah perangkap.
Perangkap Mewah
Peningkatan pertanian adalah perkembangan yang sangat perlahan, menyebar selama berabad-abad dan beberapa milenium.
Satu kawanan Homo sapiens yang mengumpulkan jamur dan kacang serta berburu rusa dan kelinci tidak tiba-tiba mendiami sebuah desa permanen, membajak tanah, menyemai gandum dan mengangkut air dari sungai. Perubahan itu berjalan tahap demi tahap, masing-masing disertai hanya perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Homo sapiens mencapai Timur Tengah sekitar 70.000 tahun lalu. Selama 50.000 tahun kemudian para leluhur kita tumbuh subur di sana tanpa pertanian. Sumber daya alam area itu cukup untuk menopang populasi manusianya. Pada satu masa subur banyak orang punya anak, dan pada masa sulit lebih sedikit yang punya anak. Manusia, seperti mamalia pada umumnya, memiliki mekanisme hormonal dan genetik yang membantu mengendalikan perkembangbiakan. Pada masa yang baik, perempuan mencapai pubertas lebih awal, dan peluang mereka untuk hamil sedikit lebih tinggi. Pada masa buruk, pubertas datang lebih lambat dan kesuburan menurun.
Selain kendali populasi alamiah ini, datang pula mekanisme kultural. Bayi-bayi dan anak-anak kecil, yang bergerak lamban dan menuntut perhatian lebih besar, menjadi beban bagi para pengembara nomaden. Orang-orang berusaha menjarangkan kelahiran anak tiga sampai empat tahun. Perempuan melakukan itu dengan mengasuh anak sepanjang waktu dan sampai usia anak lebih tua (penyusuan sepanjang waktu secara signifikan menurunkan peluang untuk hamil). Metode-metode lain adalah
«w
pantangan seks penuh atau sebagian (didukung mungkin oleh tahu-tahu kultural), aborsi, dan kadang-kadang pembunuhan bayi.
Selama milenium-milenium panjang ini orang terkadang makan biji gandum, tetapi ini bagian yang sangat marginal dari menu makanan mereka. Sekitar 18.000 tahun lalu, zaman es terakhir membuka jalan bagi periode pemanasan global. Ketika suhu naik, demikian pula curah hujan. Iklim baru menjadi ideal bagi gandum Timur Tengah dan sereal lain, yang berbiak dan menyebar. Orang-orang mulai memakan lebih banyak gandum, dan sebagai gantinya mereka secara tak sengaja menyebarkan pertumbuhannya. Karena tidak mungkin makan biji-bijian liar tanpa menampinya dulu, menggiling, dan memasaknya, orang- orang harus mengumpulkan biji-bijian ini di tempat-tempat tinggal sementara untuk memprosesnya. Biji-biji gandum cukup kecil dan banyak sehingga tak terelakkan sebagian jatuh dalam perjalanan ke tempat tinggal dan hilang. Dari waktu ke waktu semakin banyak gandum tumbuh di sepanjang jalur favorit manusia dan dekat tempat tinggal mereka.
Ketika manusia membakar hutan dan semak-semak, ini juga membantu gandum. Api melenyapkan pohon-pohon dan semak belukar, memungkinkan gandum dan rumput-rumut lain memonopoli sinar Matahari, air, dan nutrisi. Di tempat-tempat yang tersedia gandum melimpah, binatang serta sumber-sumber makanan lain juga banyak, kawanan manusia pun pelan-pelan meninggalkan gaya hidup nomaden serta tinggal di kamp-kamp musiman, bahkan permanen.
Mula-mula mereka mungkin tinggal selama empat pekan pada musim panen. Satu generasi kemudian, ketika tumbuhan gandum berbiak dan menyebar, kamp panen bertahan sampai lima pekan, kemudian enam pekan, dan akhirnya menjadi sebuah desa permanen. Bukti permukiman semacam itu telah ditemukan di seluruh Timur Tengah, terutama di Levant, di mana kultur Natufian tumbuh subur dari 12.500 SM sampai 9500 SM.
Orang-orang Natufian adalah pemburu-penjelajah yang hidup dengan puluhan spesies liar, tetapi mereka hidup di desa-desa permanen dan menghabiskan banyak waktu untuk pengumpulan dan pemrosesan secara intensif sereal liar. Mereka membangun
too
heniraiMjan I ertx*sar Sejarah
rumah-rumah batu dan lumbung. Mereka menyimpan biji-bijian untuk masa-masa sulit. Mereka menemukan alat-alat baru seperti sabit batu untuk memanen gandum, dan penumbuk serta mortir dari batu untuk menghaluskannya.
Pada tahun-tahun setelah 9500 SM, para keturunan Natufian terus mengumpulkan dan memproses sereal, tetapi mereka juga mulai menanamnya dengan cara yang semakin teliti. Ketika mengumpulkan biji-bijian liar, mereka menyisihkan sebagian dari hasil panen untuk disemai di ladang musim berikutnya. Mereka menemukan bahwa dengan menyemai biji-bijian ke dalam tanah, mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dibandingkan menaburnya secara asal-asalan di permukaan tanah. Jadi, mereka mulai mencangkul dan membajak. Pelan-pelan mereka juga mulai menyemai di ladang, menjaganya dari parasit, dan mengairi serta menyuburkannya. Dengan semakin banyak upaya dilakukan untuk menanam sereal, semakin sedikit waktu untuk mengumpulkan dan memburu spesies liar. Pengembara pun menjadi petani.
Tak ada satu pun jejak yang membedakan perempuan pengumpul gandum liar dengan perempuan yang bercocok- tanam gandum domestikasi sehingga sulit untuk menyatakan secara pasti kapan transisi menentukan ke agrikultur itu terjadi. Namun, sampai dengan 8500 SM, Timur Tengah dipadati desa-desa permanen seperti Jericho, yang penghuninya menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menanam beberapa sepesies domestikasi.Dengan pergerakan ke desa- desa permanen dan naiknya pasokan makanan, populasi mulai menanam. Meninggalkan gaya hidup nomaden memungkinkan kaum perempuan memiliki anak setiap tahun. Bayi-bayi disapih lebih awal—mereka bisa disuapi bubur dan adonan. Tenaga ekstra sangat dibutuhkan di ladang. Namun, mulut-mulut ekstra dengan cepat menyapu bersih surplus makanan sehingga bahkan semakin banyak ladang harus ditanami. Ketika orang mulai hidup di permukiman-permukiman yang dipenuhi penyakit, ketika anak- anak lebih banyak disuapi sereal dan lebih sedikit susu ibu, dan ketika setiap anak bersaing untuk mendapatkan bubur dengan lebih banyak saudara-saudaranya, tingkat kematian anak pun mencuat. Di banyak masyarakat agrikultur sedikitnya satu dari
K)l
setiap tiga anak sebelum mencapai usia 20 tahun.4 Meskipun demikian, kenaikan angka kelahiran masih di atas naiknya angka kematian; manusia tetap punya anak yang jumlahnya lebih besar.
Seiring waktu, “daya tawar gandum” menjadi beban yang semakin berat dan semakin berat. Anak-anak mati berbondong- bondong, dan orang dewasa makan dengan keringat bercucuran di kening. Rata-rata orang di Jericho pada 8500 SM hidup lebih sulit ketimbang rata-rata orang di Jericho pada 9500 SM atau 13.000 SM. Namun, tak seorang pun menyadari apa yang sedang terjadi. Setiap generasi terus hidup seperti generasi sebelumnya, hanya membuat perbaikan-perbaikan kecil di sana sini dan dalam cara mengerjakan sesuatu. Secara paradoks, serangkaian
“perbaikan”, yang masing-masing berarti menjadikan hidup lebih mudah, menambahkan satu batu gerinda di leher para petani ini.
Mengapa orang membuat kalkulasi fatal semacam itu?
Penyebabnya sama dengan miskalkulasi yang dilakukan orang- orang sepanjang sejarah. Orang tidak mampu memahami sepenuhnya konsekuensi-konsekuensi dari keputusan-keputusan mereka. Setiap kali mereka memutuskan untuk mengerjakan sedikit pekerjaan ekstra—taruhlah untuk mencangkul ladang, bukan menabur benih di permukaan—orang mengira “Ya, kita harus bekerja lebih keras, tetapi panen akan berlimpah! Kita tidak perlu khawatir dengan tahun-tahun mendatang. Anak-anak tidak akan pernah lagi tidur kelaparan”. Masuk akal. Jika Anda bekerja lebih keras. Anda akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Itulah rencananya.
Bagian pertama dari rencana itu berjalan mulus. Orang- orang benar-benar bekerja lebih keras. Namun, orang-orang tidak bisa melihat bahwa jumlah anak akan bertambah, yang berarti bahwa ekstra gandum akan dibagi dengan lebih banyak anak. Para petani awal itu juga tidak mengerti bahwa menyuapi anak-anak dengan lebih banyak bubur dan lebih sedikit susu ibu akan memperlemah sistem kekebalan mereka, dan bahwa permukiman-permukiman permanen akan menjadi sarang bagi penyakit-penyakit menular. Mereka tidak melihat bahwa dengan menaikkan ketergantungan pada saru sumber makanan tunggal, mereka sesungguhnya memapar diri dengan ancaman bahaya
102