Langkah 1 Perkembangan Teater”
E. Bahan Bacaan Siswa 1.1
PERKEMBANGAN TEATER
Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Perkembangan adalah proses berkembangnya sesuatu. Jika dikaitkan dengan judul pembelajaran di atas, Sejarah dan Perkembangan Teater, maka pengertiannya menjadi “peristiwa teater yang terjadi di masa lalu dan proses berkembangnya hingga saat ini.” Mengetahui apa dan bagaimana teater di masa lalu dimaksudkan untuk mengenal dan memahami teater sejak mula tercipta, proses berkembangnya yang melahirkan banyak jenis dan bentuk, sampai ke perubahan-perubahan konvensi dari zaman ke zaman.
Kata ‘teater’ berasal dari kata theatron, bahasa Yunani, yang berarti tempat tontonan (seeing place) atau gedung pertunjukan. Bentuk Theatron pada saat itu terdiri dari panggung (stage) juga ada tempat duduk penonton yang terbuat dari batu berposisi setengah lingkaran.
Unit 1 | Selisik Teater | 29
Melalui ritual menari dan menyanyi, masyarakat Yunani purba (sekitar tahun 600 SM) melakukan persembahan terhadap Dewa Anggur dan Dewa Kesuburan, yang bernama Dewa Dionysus. Menurut keyakinan masyarakat Yunani purba, upacara ini dilakukan sebagai permohonan kepada Dewa Dionysus agar berkenan menurunkan kesuburan dan kemakmuran kehidupan mereka.
Gambar 1.7 Infografis Perkembangan Teater.
Upacara sesembahan dilakukan dalam setengah hari yaitu sejak pagi sampai berakhir menjelang sore hari. Di atas panggung yang ada di theatron itu, para tetua adat melakukan ritual tarian dengan menggunakan topeng yang diiringi nyanyian-nyanyian pemujaan. Aksi tarian ritual yang diiringi nyanyian tersebut dinamai Dram atau Draomai.
Tempat pertunjukan di Yunani, tempatnya di bukit Acropolis memuat penonton sekitar 14 ribu orang.
Aktor teater Yunani selalu menggunakan topeng yang bagian mulutnya terbuka fungsingnya sebagai corong suara.
Naskah berbentuk tragedy yang bersumber dari bentuk upacara ritual.
Diakhir kisah, tokoh utama biasanya selalu mengalami kematian.
Kelahiran seni teater bermula ritual/persembahan kepada Dewa kesuburan, yang disebut Dewa Anggur yaitu
Dewa Dionysus.
30 | Buku Panduan Guru Seni Teater | SMA/SMK Kelas X
Dari asal kata Dram atau Draomai itulah istilah ‘Drama’ dikenal.
Ada lima fase penting dalam perkembangan teater di dunia, yaitu:
1. Teater Primitif/Klasik (1000 SM – Abad ke-6 M)
Teater Primitif atau Teater Klasik sangat erat kaitannya dengan upacara ritual keagamaan masyarakat pada saat itu.
Sebuah upacara keagamaan yang berupa tarian, nyanyian dan pujian-pujian dari potongan naskah kitab suci. Tokoh- tokoh yang ditampilkan dalam teater klasik seringkali berhubungan dengan pemimpin agama atau representasi dewa-dewa yang mereka sembah. Pada fase ini, bukan saja teater primitif dan zaman Yunani kuno, juga ada Teater Romawi yang berbeda dengan Teater Yunani. Misalnya pada Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Peran musik menjadi dominan karena pelengkap ilustrasi setiap pengadeganan. Lakon cenderung mengusung kesenjangan hidup kelas menengah.
Gambar 1.8 Theatron Zaman Yunani Kuno.
Sumber: Toughco.com/ Ventura Carmona (2019)
Unit 1 | Selisik Teater | 31
Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a. Bagian dari ritual keagamaan b. Menggunakan topeng
c. Kisah Tragedi dan Komedia
d. Panggung terbuka dan tinggi berbentuk amphitheater e. Dimainkan para pria
f. Ada kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator 2. Teater Abad Pertengahan (Abad ke-14 – Abad ke-16) Pentas-pentas teater di abad pertengahan memang masih berorientasi pada perayaan keagamaan (terutama Kristen). Pentas teater banyak dilakukan di gereja-gereja.
Namun sejak ada pelarangan pentas teater di dalam gereja, panggung berpindah ke jalan-jalan dan berkeliling karena panggung dibuat di atas kereta yang bergerak dinamis.
Para pemain (aktor) teater banyak belajar di universitas.
Tema-tema lakon tentang pengetahuan, kebajikan, kebodohan, kehidupan kaya-miskin, dan sebagainya.
Pentas teater di zaman ini acap disebut drama moral karena cenderung mengusung pertarungan kebaikan melawan keburukan atau kejahatan.
Pada sekitaran abad ini, selain Teater Renaissance, ada juga Teater Neo Klasik, Teater Zaman Elizabethan, dan Teater Restorasi. Bentuk pertunjukan merupakan paduan teater keliling dengan teater akademi yang cenderung klasik. Pada akhir abad ke-16 tumbuh Teater Romantik dan Melodrama.
32 | Buku Panduan Guru Seni Teater | SMA/SMK Kelas X
Terbagi dua aliran: realisme sosial dan realisme psikologis
Lakon tentang kehidupan sehari-hari Pemeran utama biasanya rakyat jelata
Aktingnya bersifat wajar, tidak berlebihan, seperti kehidupan sehari-hari
Aspek pendukung dan visual disesuaikan dengan keadaan sehari-hari
Aliran realisme psikologis lebih menonjolkan aspek kejiwaan tokoh
Suasana ditampilkan secara simbolis untuk mendukung aspek psikologis tokoh.
Lebih mementingkan pembinaan konflik kejiwaan tokoh.
Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Teater Realis (Mulai dari Abad 18 dan 19 )
Zaman Realisme ini menjadi konvensi baru yang menandai perubahan teater ke arah seni drama modern. Lakon-lakon teater pada zaman ini tidak lagi berkisah tentang hal- hal yang khayali tetapi lebih banyak mengangkat realita kehidupan sehari-hari. Pola permainan (akting) tidak berorientasi pada keindahan bentuk dengan dialog yang puitis, tetapi merupakan gambaran kenyataan kehidupan masyarakat dalam keseharian atau apa adanya.
3.
Panggung di atas kereta yang berkeliling Dekor sederhana dan simbolis
Lirik dialog berdialek dengan dialog yang puitis Dimainkan di tempat umum dan memungut bayaran Tidak ada nama pengarang untuk lakon yang dimainkan Lakon dikaitkan dengan filsafat dan agama
a.
b.
c.
d.
e.
Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
Unit 1 | Selisik Teater | 33
Kreasi artistik bersifat spontan dan agresif Cenderung berbenturan dengan selera masyarakat.
Tidak lazim karena menyimpang dari bentuk Alamiah Karya yang merdeka karena lahir dari karakter penciptanya
Pertunjukan menggunakan berbagai variasi materi (film, tari, puisi, musik, dsb.)
Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a.
b.
c.
d.
Teater Baru / Avant Garde (Mulai Abad 19)
Yang menonjol pada fase Teater Baru atau Teater Avant Garde yaitu munculnya elemen efek-efek khusus dengan teknologi elektronik baru pada tatanan pencahayaan, dekor panggung, dan musik pengiring atau ilustrasi.
Bentuk permainan banyak bersifat eksperimentatif yang tidak mengikuti selera masyarakat. Para dramawan di fase abad ini banyak melahirkan bentuk- bentuk pertunjukan yang menggunakan pendekatan simbolisme, surealisme, epik, dan absurd. Sehingga di zaman ini muncul keanekaragaman bentuk ekspresi dan makna keindahan dari pentas teater.
Teater Post-Modern (Mulai tahun 1970)
Aliran teater yang berkembang setelah modern ini relatif baru, dimulai sekitar tahun 1970-an.
Para penganut aliran post-modern mengibaratkan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara yang terpisah-pisah. Teater menjadi pilihan bentuk untuk menggambarkan tragedi kehidupan itu. Teater post- modern menjadi penolakan atas kehidupan modern.
Teater Post-Modern mengurangi penggunaan naskah atau teks lakon untuk mendapatkan penampilan yang bersifat unik dan langsung atau spontan.
4.
5.
34 | Buku Panduan Guru Seni Teater | SMA/SMK Kelas X
Bahan bacaan siswa yang dianjurkan:
Asul Wiyanto. 2002. Terampil Bermain Drama.
Jakarta: Grasindo.
Iswadi Pratama, dkk. 2010. Teater Asyik, Asyik Teater.
Lampung: Teater Satu.
1.
2.
Bersifat depolitisasi seni
Menitikberatkan pada aktivitas teori
Tak dapat dijelaskan dengan struktur yang jelas Cerita yang tidak beraturan alurnya.
Melahirkan ragam sudut pandang/resepsi Membuat jaringan antara teori dan praktik Penuh dengan eksperimen gaya
Pemain dianggap bukan aktor tetapi penanda Properti panggung mudah diubah bentuknya Ciri-ciri dan bentuk pentasnya:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
Unit 1 | Selisik Teater | 35
Contoh: Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Hasil Diskusi Kelompok
36 | Buku Panduan Guru Seni Teater | SMA/SMK Kelas X
Contoh:
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Daftar Pertanyaan Wawancara
Unit 1 | Selisik Teater | 37
Contoh:
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Catatan Hasil Obeservasi / Wawancara
38 | Buku Panduan Guru Seni Teater | SMA/SMK Kelas X
Contoh:
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Foto-foto Hasil Observasi/Wawancara Lembar Kerja Siswa (LKS)
"Foto-foto Hasil Observasi/Wawancara"
Deskripsi Foto 1:
Foto 1
Foto 2
Foto 3
Deskripsi Foto 2:
Deskripsi Foto 3:
Unit 1 | Selisik Teater | 39