BAB II LANDASAN TEORI
6. Batas Akhir Hadhanah
Tidak terdapat ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan dengan tegas tentang masa hadhanah, hanya terdapat isyarat-isyarat yang menerangkan ayat tersebut. Karena itu para ulama berijtihad
sendiri-34 Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqih Muslimah: Ibadat Mu’amalat, (Jakarta: Pustaka Amini,1999), h. 346
sendiri dalam menetapkannya dengan berpedoman kepada isyarat-isyarat itu, seperti menurut mazhab Hanafi: hadhanah anak laki-laki berakhir pada saat anak itu tidak lagi memerlukan penjagaan dan telah dapat mengurus keperluannya sehari-hari seperti makan, minum, mengatur pakaian, membersihkan tempatnya dan sebagainya. Sedangkan masa hadhanah wanita berakhir apabila ia telah baligh, atau telah datang masa haid pertamanya.
Pengikut mazhab Hanafi yang terakhir ada yang menetapkan bahwa masa hadhanah itu berakhir umur 19 tahun bagi laki-laki dan umur 11 tahun bagi wanita. Undang-undang Mesir tidak menetapkan batas akhir masa hadhaanh dengan tegas, tetapi melihat keadaan kehidupan bapak dan ibu dari anak itu. Jika kedua bapak dan ibunya masih terikat dalam tali perkawinan, maka dianggap tidak ada persoalan hadhanah. Persoalan dianggap ada jika telah terjadi perceraian antara kedua ibu bapak dari anak dan keduanya berbeda pendapat dalam melaksanakan hadhanah. Jika terjadi perbedaan pendapat antara ibu dan bapak tentang hadhanah maka Undang-undang menyerahkannya kepada kebijaksanaan dan keputusan hakim dengan ketentuan bahwa masa hadhanah anak, minimal tujuh tahun dan maksimal Sembilan tahun. Namun demikian diserahkanjuga kepada kebijaksanaan hakim dengan pedoman bahwa kemaslahatan anak harus diutamakan. Mazhab Syaf’i berpendapat masa hadhanah itu berakhir setelah anak mumayyiz, yakni berumur antara lima dan enam tahun.36
Menurut Abdurrahman Ghazali dalam buku fiqh munakahatnya menjelaskan tentang periode hak asuh anak (hadhanah)itu adalah:
a. Periode sebelum mumayyiz
Periode ini ketika anak baru lahir sampai menjelang umur tujuhatau delapan tahun. Pada masa ini anak seorang anak belum lagimumayyiz atau belum bisa membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya bagi dirinya.37
Seorang anak pada permulaan hidupnya sampai pada umur tertentumemerlukan orang lain untuk membantunya dalam kehidupannya, seperti makan, pakaian, membersikan diri, bahkan sampai kepada pengaturan bangun dan tidur, karena itu, orang yang menjaganya perlu mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran dan mempunyai keinginan agar anak itu baik (saleh) di kemudian hari. Yang memiliki syarat-syarat seperti ini adalah wanita.Konkritnya ulama menunjukkan bahwa dari pihak ibu lebih berhak terhadap anak, untuk selanjutnya melakukan hadhanah.38
Disamping itu ibu lebih mengerti kebutuhan anak dalam masa tersebut dan lebih bisa memperhatikan kasih sayangnya. Demikian juga anak sangat membutuhkan kehadiran sang ibu didekatnya.
b. Periode Mumayyiz
Masa mumayyizadalah dari umur 7 tahun sampai menjelang balig berakal. Pada masa ini seorang anak secara sederhana telah
37 Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Pranada Media Gruop, 2003),h. 185
mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk yang menimpa dirinya, dan anak kondisi telahtumbuh akalnya secara sederhana.39 7. Kelalaian Orang Tua dalam Pelaksanaan Hadhanah Pasca Bercerai
Anak dapat dikatakan terlantar apabila anak tersebut tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial, anak yang dikatakan terlantar bukan disebabkan karena salah satu dari orang tua anak tersebut telah tiada. Terlantar dapat dimaksudkan apabila hak-hak yang dimiliki anak seperti mendapatkan kasih sayang, mendapatkan kehidupan layak, mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan tidak terpenuhi karena suatu alasan dari kedua orang tua tersebut seperti kelalaian, ketidak mengertian orang tua, karena ketidak mampuan ataupun karena permasalahan ekonomi keluarga.
Pasal 304 KUHP dapat diartikan bahwa orang tua yang dengan sengaja menelantarkan anaknya, sedangkan orang tua tersebut wajib memenuhi hak-hak asasi yang didapatnya dan diberikan oleh Negara dan dijamin oleh hukum dan berlaku bagi wali anak asunhya.40
Penulis mengamati ada empat hal yang menyebabkan faktor kelalaian orang tua dalam pelaksanaan hadhanah pasca perceraian yaitu: a. Faktor Ekonomi
Seharusnya seorang ayah tetap berusaha untuk mencari nafkahuntuk anaknya. Disamping itu ayah juga mempunyai kewajiban memberi upah penyusuhandan pengasuhan atas anaknya. Ayah juga
39 Ibid
40 Putu Sarasita Kismadewi, PertanggunJawaban Pidana OrangTua yang Menelantarkan
wajib membayar sewa rumah apabila si ibu tidak mempunyai rumah. Hal ini juga belum termasuk dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan anak kecil, seperti makan, minum, tempat tidur, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya yang memang dibutuhkan oleh anak.41 Seluruh biaya yang dibutuhkan anak wajib dikeluarkan oleh sang ayah pada saat pengasuhan anak berlangsung.
b. Faktor kurang FahamnyaAgama
Faktor yang menyebabkan kelalaian member nafkah pasca hadhanah adalah salah satunya adalah mengenai agama dan ibadah antara suami dalam beragama masih kurang, dalam beribadah masih kurang, sering meninggalkan solat bahkan tidak menjalankan solat 5 waktu.
c. Faktor Komunikasi
Hal yang harus dipertahankan setelah terjadinya perceraian antara kedua orang tua adalah untuk tetap menjaga komunikasi dan tidakmengurangi sekecil apapun hak yang harus diberikan kepada anaknya, agar seorang anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibat terjadinya perceraian, secara tidak langsung anaklah yang akan menjadi korbannya, secara otomatis anak akan berpisah dengan salah satu orang tuanya dan tidak akan lagi tinggal bersama. Akibatnya rawan sekali kelalaian terhadap kewajiban yang semestinya diberikan untuk menunjang tumbuh kembang si anak secara wajar.
41Sabiq Sayyid, Fiqh Sunnah 4, Terjemah: Abdur Rahim dan Masruhin, Jakarta: Cakrawala Publising, 2009, h. 149
d. Tanggung Jawab
Pasca terjadinya perceraian antara suami istri tanggung jawab hadhanah pasca perceraian enderung lebih di bebankan pada siapa anak itu turut setelah perceraian. Sebagian besar bahkan seluruh tanggung jawab mulaiari biaya kehidupan sehari-hari seperti makanan, pakaian, dan biaya pendidikan ditanggung oleh orang tua yang anaknya ikut kepadanya yang dimana karena usia anak yang masih kecil sehingga ia pasti ikut bersama ibunya dan juga konflik yang menjadi sebab terjadinya perceraian menyebabkan pihak yang memelihara anak menaggung semua tanggung jawab atas pemberian terhadap hadhanah pasca percerain.
Demikian sebaliknya ketika tingkat keimanan seseorang pada tingkat tinggi maka problematika serumit apapun akan dapat terselesaikan dengan baik. Adapun salah satu cara untuk mengokohkan keimanan untuk diaplikasikan dalam keluarga adalah dengan menyimak sirah (pejalanan hidup) Rasulullah SAW dan meneladani beliau, maka kehidupan rumah tangga yang bahagia dengan baik.
Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan dia wajib member kehidupan, perawata, atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.