BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
4. Produk Pembiayaan Murabahah
Secara literal kata Murabahah bersumber dari bahasa arab yang memiliki dasar kata ribhu yang berarti untung, yang mana secara singkat murabahah berarti salah satu bentuk dari transaksi jual beli yang menyatakan modal pemasar dan laba yang didapatkan pada sebuah akad transaksi tersebut. Sebagian ulama mendefinisikan murabahah merupakan transaksi jual beli barang dengan kelebihan yang telah disepakati bersama.21
Udovitch mengartikan murabahah merupakan salah satu bentuk transaksi jual beli dengan imbalan, melalui seorang perantara pembeli dapat memperoleh barang yang diinginkan dengan cara memesan terlebih dahulu, atau jika pembeli tidak ingin repot dalam pengadaan barang sehingga pembeli dapat memperolehnya dari perantara tersebut. Oleh karena itu, dalam transaksi murabahah pihak perantara harus menginformasikan laba atau keuntungan yang didapati dari transaksi jual beli tersebut.
Jual beli murabahah dalam perspektif ekonomi islam memiliki beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi, terdiri dari22 :
20 Widiyanto bin Mislan Cokrohadisumarto, dkk, BMT Praktek dan Kasus, (Jakarta:
PT. Rajagrafindo Persada, 2016), hlm.53
21 Fasiha, “Akad Murabahah dan Permasalahannya dalam Penerapan di LKS” jurnal muamalah, Vol. 5, No.1, Juni 2015, hlm. 12
22 Mulya E Siregar & Ahmad Buchori, Standar Produk Perbankan Syariah Murabahah, (Jakarta : Otoritas Jasa Keuangan, 2016) , hlm. 07
16 1) Pihak yang berakad (Al-„aqidain)
a) Penjual (Bank) b) Pembeli (Nasabah) c) Pemasok (Supplier)
2) Objek yang diakadkan (Mahallul „aqad)
a) Adanya wujud barang yang diperjualbelikan b) Harga barang
3) Tujuan akad (maudhu‟ul „aqad) 4) Akad (Sighat al-„Aqad)
a) Serah (Ijab) b) Terima (Qabul)
Kecakapan hukum harus dipenuhi oleh para pihak dalam akad murabahah. Sebab pihak yang berakad akan melakukan suatu perbuatan hukum yang melahirkan adanya hak dan kewajiban.
Terkait objek akad dalam hukum positif atau BW disebut dengan
“sebab yang halal” maka dalam prinsip umum objek akad haruslah terbebas dari unsur yang dilarang secara syariah, maupun hukum positif yaitu unsur maghrib (maysir, gharar, dan riba).23
Pada awalnya murabahah tidak berhubungan dengan pembiayaan. Lalu, para ulama perbankan syariah memadukan konsep murabahah dengan konsep lain sehingga membentuk konsep pembiayaan dengan akad murabahah. Secara konsep terdapat perbedaan yang jelas antara pembiayaan berbasis murabahah yang diterapkan oleh bank syariah dan kredit yang dijalankan oleh bank konvensional. Beberapa hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini24 :
23 Ibid., hlm. 08
24 Ibid., hlm. 09
17 Tabel 1.3
Perbedaan Pembiayaan Berbasis Murabahah dan Kredit pada Bank Konvensional
Bank syariah Bank konvensional
Menjual barang pada nasabah Memberi kredit (uang) pada nasabah Hutang nasabah sebesar
harga jual tetap selama jangka waktu murabahah
Hutang nasabah sebesar kredit danbunga (berubah-ubah)
Ada analisa supplier Tidak ada analisa supplier Margin berdasarkan manfaat
atau value added bisnis tersebut.
Bunga berdasarkan rate pasar yang berlaku
Dari akad murabahah pembeli harus diberitahu besar margin yang akan didapati oleh penjual dari barang yang telah dibelinya.
Murabahah berarti suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya, seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu.
berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tertentu atau dalam bentuk persentase dari harga pembeliannya, misalnya 10% atau 20%. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan beberapa required rate of profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh). Karena dalam definisi disebut adanya “keuntungan yang disepakati”, karakteristik murabahah adalah si penjual harus memberitahu si pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut.
b. Macam-macam murabahah 1) Murabahah dengan pesanan
Murabahah dengan pesanan penjual boleh meminta pembayaran Hamish ghadiyah, yaitu uang tanda jadi ketika ijab qabul. Ini dilakukan untuk menunjukkan keseriusan si pembeli yang akan melakukan transaksi. Misalnya jika penjual telah membeli dan memasang berbagai perlengkapan mobil pesanannya, kemudian si pembeli tiba-tiba batalkan pesanannya,
18
Murabahah Taqsith (cicilan, dengan angsur)
Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cash Out
maka Hamish ghadiya dapat berlaku agar dapat menutupi kerugian yang ditanggung oleh penjual. Jika Hamish ghadiya-nya lebih kecil dari pada besaran yang harus dihadapi oleh penjual, maka penjual dapat menuntut kekurangannya. Sebaliknya, jika lebih pembeli berhak mengambi kelebihan tersebut. Dalam murabahah yang didasari dengan pesanan yang bersifat mengikat, pembeli tidak diperbolehkan untuk membatalkan pesanannya tersebut.
2) Murabahah dengan tunai atau cicilan
Pembayaran murabahah dapat dilakukan dengan tunai maupun dengan cicilan. Hal ini juga diperbolehkan dalam perbedaan harga barang untuk cara pembayaran yang dilakukan dengan berbeda. karakteristik Murabahah muajjal dilihat dari adanya pemberian barang diawal akad dan pembayarannya setelah awal akad, baik dalam bentuk cicilan maupun dalam bentuk sekaligus (lump sum).
Gambar 1.1
Contoh Proses Pembiayaan Murabahah Taqsith
Gambar 1.2
Contoh Proses Pembiayaan Murabahah Mu‟ajal
Murabahah Mu‟ajal (lump-sum di akhir)
Rp ,
19
Gambar 1.3
Contoh Proses Pembiayaan Murabahah Naqdan
Pada akad murabahah diperkenankan adanya perbedaan harga jika cara pembayaran dilakukan dengan cara berbeda.
misalkan harga barang untuk tunai (Naqdan) lebih sedikit dibandingkan dengan harga barang dengan model skim murabahah Lump-Sum diakhir (Mu‟ajjal) begitu pula apabila harga skim murabahah dengan cicilan (Taqsith) lebih mahal dibandingkan dengan skim Murabahah Naqdan dan Murabahah Mu‟ajjal. Tetapi dalam hal tersebut terjadi selisih pendapat antara para ulama. Oleh karena itu hal tersebut sering sekali menjadi sebuah ulasan terhadap praktek di lembaga keuangan syariah.
Ditinjau dari berbagai sumber dana yang dihadapi dalam praktek murabahah, terdapat tiga garis besar yang didapati untuk pembiayaan murabahah diantaranya adalah sebagai berikut :
a) Pembiayaan murabahah yang didanai dari URIA (Unrestricted Investment Account = Investasi tidak terikat) b) Pembiayaan murabahah yang didanai dari RIA (Restricted
Investment Account = Investasi terikat)
c) Pembiayaan Murabahah yang didanai modal Bank
Bonus atau potongan dapat diberikan bank pada nasabah dalam aplikasi praktik murabahah ketika nasabah mempercepat pembayaran cicilan atau melunasi piutang murabahahnya sebelum jatuh tempo. Hal ini memberikan kemungkinan berkurangnya jumlah harga jual dari nilai barang, dari awalnya kontrak yang dilakukan. Namun bonus atau potongan tersebut
Murabahah naqdan (tunai)
Rp
20
pada dasarnya bukanlah bagian dari kontrak atau akad dalam transaksi.25
Gambar 1.4
Skema Proses Penyaluran Pembiayaan Murabahah
c. Fatwa dewan syariah nasional- majelis ulama indonesia/IV/2000 tentang pembiayaan murabahah
Pertama : ketentuan umum murabahah dalam bank syari‟ah
1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2) Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syari‟ah islam
3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya
4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
25 Ibid., hlm. 14.
1a 2a
1b 2b
Keterangan :
1a supplier menjual secara tunai 1b bank membeli secara tunai Rpx- 2a bank menjual secara cicilan
2b nasabah menjual secara cicilan Rpx- *keuntungan bank
SUPLIER BANK NASABA
H
21
5) Bank harus menyampaikan semua hal yang harus berkaitan dengan pembelian, contohnya jika pembelian dilakukan secara utang
6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesanan) dengan harga jual senilai harga barang plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan
7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati
8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah
9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.
Kedua : ketentuan murabahah kepada nasabah
1) Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau aset kepada bank.
2) Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah menerima (membeli)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakatinya, karena secara hukum kesepakatan tersebut, mengikat; kemudian kedua belah pihak membuat kontrak jual beli.
4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemasaran.
5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya rill bank harus dibayar oleh uang muka tersebut.
6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugian kepada nasabah.
22
7) Jika uang muka memakai kontrak „urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka;
a) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut ia tinggal membayar sisa harga.
b) Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebu; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Ketiga : jaminan dalam murabahah;
1) Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya.
2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang
Keempat : utang dalam murabahah
1) Secara prinsip penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut.
Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap menyelesaikan utangnya kepada bank.
2) Jika nasabah tersebut menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi angsurannya.
3) Jika penjual barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.
Kelima : penundaan pembayaran dalam murabahah
1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian utang.
2) Jika nasabah menunda-nuda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbiterasi Syari‟ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
23 Keenam : bangkrut dalam murabahah
Jika nasabah telah dinyatakan palit dan gagal menyelesaikan utangnya, bank harus menunda tagihan utang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan.26