• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bimbingan dan Konseling

Dalam dokumen TESIS Oleh: M. Fahli Zatra Hadi - ADOC.PUB (Halaman 43-62)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

3. Bimbingan dan Konseling

Sedangkan Burks dan Steffre mendefenisikan Konseling (dalam John Mcleod, 2003:5) merupakan hubungan profesional antara konselor dengan klien, hubungan ini biasanya bersifat individu, walaupun terkadang melibatkan lebih dari satu yang di desain untuk menolong klien untuk memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal.

Sejalan dengan yang diatas Fenti Hikmawati (2010:1) bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk siswa secara perorangan maupun kelompok agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Lebih jelasnya Arthur mengemukakan pengertian bimbingan dan konseling (dalam Sofyan S. Willis, 2004:11) adalah suatu proses di mana terdapat dua orang yang terlibat yakni pembimbing dan yang dibimbing, dimana pembimbing membantu si terbimbing sehingga si terbimbing mampu membuat pilihan-pilihan, menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah- masalah yang dihadapinya.

Sedangkan Miftahuddin (2011:3) mengungkapkan, bimbingan dan konseling adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat

interprestasi-interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana, atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.

Dengan demikian peneliti dapat mendefenisikan, bahwa bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu untuk menyelesaikan dan memahami diri sendiri, yang menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma- norma yang berlaku.

b. Tujuan BK

Pelayanan BK di sekolah diarahkan pada ketercapaian tujuan pendidikan dan tujuan pelaksanaan konseling. Sebagai salah satu lembaga pendidikan, sekolah membutuhkan pelayanan BK dalam penyelenggaraan dan peningkatan kondisi kehidupan di sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan yang berjalan seiring dengan visi profesi konseling yaitu:

Terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia. (Prayitno dan Erman Amti, 2004: 13)

Pendidikan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Winkel (2005: 32) bahwa tujuan pelayanan BK yaitu supaya orang-perorangan atau kelompok orang yang dilayani menjadi mampu menghadapi tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas mewujudkan kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana serta mengambil beraneka tindakan penyesuaian diri secara memadai.

Sedangkan Prayitno dan Erman Amti (2004:114) mengemukakan bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti: kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti: latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi) serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam hidupnya yang memiliki wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.

Pada intinya siswa diharapkan akan menjadi individu yang mandiri dengan ciri-ciri: (1) mengenal diri dan lingkungan secara tepat dan objektif, (2) menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (3) mampu mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana, (4) mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil dan (5) mampu mengaktualisasikan diri secara optimal.

4. Layanan dalam Bimbingan dan Konseling

Menurut Ridwan (2008: 136) mengungkapkan, “Pengelolaan bimbingan dan konseling telah dibagi atas pemenuhan ke dalam bidang- bidang bimbingan dan konseling yakni:

1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami, menilai bakat dan minat,

2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.

3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.

4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

a. Jenis Layanan

Lebih lanjut Daniel J. Delaney (1972: 92) menjelaskan, “an infite variety of personality construct dimensions may be invoked in the assessment of clients, one inmportant construct is the dimension of openness vs closedness”.

Daniel J. Delaney menyaratkan seorang konselor itu harus paham dimensi-dimensi kliennya, hal ini berguna untuk menentukan pertolongan apa yang akan diberikan, serta menentukan apakah klien bersikap tertutup atau terbuka, dengan memahami ini maka konselor sekolah dapat menentukan layanan apa yang akan diberikan dan apakah layanan itu sesuai dengan tugas perkembangan siswa tersebut, sehingga menentukan pula sikap siswa ketika berhadapan dengan konselor.

Sedangkan Prayitno (2004 b) menjelaskan bahwa layanan BK mencakup sembilan jenis layanan, yaitu:

1. Layanan Orientasi

Layanan orientasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien dalam lingkungan baru tersebut.

2. Layanan Informasi

Layanan informasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.

3. Layanan Penempatan dan Penyaluran

Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memperoleh penempatan dan penyaluran yang sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.

4. Layanan Penguasaan Konten

Layanan penguasaan konten yakni layanan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

5. Layanan Konseling Individual

Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara seorang konselor dan seorang konseli/klien. Konseli/klien mengalami kesukaran pribadi yang tidak dapat dipecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor sebagai petugas yang profesional dalam jabatannya dengan pengetahuan dan keterampilan psikologi. Konseling ditujukan pada individu yang normal, yang menghadapi kesukaran dalam mengalami masalah pendidikan, pekerjaan dan sosial dimana ia tidak dapat memilih dan memutuskan sendiri. Dapat disimpulkan bahwa konseling hanya ditujukan pada individu-individu yang sudah menyadari kehidupan pribadinya.

6. Layanan Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri konseli/klien. Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang

berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran.

7. Layanan Konseling Kelompok

Strategi berikutnya dalam melaksanakan program BK adalah konseling kelompok. Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada siswa dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.

8. Layanan Mediasi

Layanan mediasi yakni layanan konseling yang memungkinkan permasalahan atau perselisihan yang dialami klien dengan pihak lain dapat terentaskan dengan konselor sebagai mediator.

9. Layanan Konsultasi

Pengertian konsultasi dalam program BK adalah sebagai suatu proses penyediaan bantuan teknis untuk konselor, orang tua, administrator dan konselor lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas siswa atau sekolah.

Konseling atau psikoterapi sebab konsultasi tidak merupakan layanan yang langsung ditujukan kepada klien, tetapi secara tidak langsung melayani klien melalui bantuan yang diberikan orang lain.

b. Kegiatan Pendukung

Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 315) menyebutkan kegiatan pendukung yaitu:

1 Aplikasi instrumentasi konseling, kegiatan pendukung layanan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang klien, keterangan tentang lingkungan yang lebih luas, pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen baik dengan tes maupun non tes. Dikenal dengan istilah (P.1)

2 Penyelenggaraan himpunan data, kegiatan pendukung layanan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan klien. (P.2)

3 Konfrensi kasus, kegiatan pendukung layanan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami klien dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang dapat diharapkan memberikan bahan, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya masalah tersebut. (P.3)

4 Kunjungan rumah, kegiatan pendukung layanan konseling untuk memperoleh data, keterangan. Kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien melalui kunjungan rumah. (P.4) 5 Alih tangan kasus, kegiatan pendukung layanan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. (P.6)

Kelima Satkung tersebut disempurnakan menjadi enam Satkung yaitu dengan memuat unsur tampilan kepustakanan.

6 Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan siswa dalam pengembangan diri, kemampuan sosial, kegiatan belajar dan karir/jabatan. (P.5) Setelah penyempurnaan tersebut alih tangan kasus yang semulanya P.5 menjadi P.6 dan tampilan kepustakaan menjadi P.5.

Melalui hal yang ada di atas maka di buatlah program pelayanan yang di jelaskan dalam Depdiknas (2006: 9) menyatakan bahwa perencanaan kegiatan konseling memenuhi ketentuan sebagai berikut, yaitu:

a. Jenis Program

1 Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah.

2 Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.

3 Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

4 Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.

5 Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) konseling.

b. Penyusunan Program

1 Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan siswa (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.

2 Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

c. Perencanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Dalam Depdiknas (2006: 9) menyatakan bahwa perencanaan kegiatan konseling memenuhi ketentuan sebagai berikut, yaitu:

a) Perencanaan kegiatan pelayanan konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan.

b) Perencanaan kegiatan pelayanan konseling harian yang merupakan jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:

(1) Sasaran layanan/ kegiatan pendukung (2) Substansi layanan/ kegiatan pendukung

(3) Jenis layanan/ kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan (4) Pelaksana layanan/ kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat (5) Waktu dan tempat

c) Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas siswa yang menjadi tanggung jawab konselor.

d) Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.

e) Volume keseluruhan kegiatan pelayanan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah.

d. Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling (pelayanan) dalam Depdiknas (2006: 9) memaparkan bahwa pelaksanaan kegiatan konseling sebagai berikut, yaitu:

a) Di dalam jam pembelajaran sekolah:

(1) Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan siswa untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.

(2) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal

(3) Kegiatan tidak tatap muka dengan siswa untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.

b) Di luar jam pembelajaran sekolah:

(1) Kegiatan tatap muka dengan siswa untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

(2) Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.

(3) Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah.

Pelayanan BK di sekolah yang dilaksanakan oleh konselor sekolah hendaknya juga melakukan hal-hal sebagai berikut :

1) Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG).

2) Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah.

3) Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antar jenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah (Depdiknas, 2006: 9).

e. Penilaian Kegiatan

Aspek penilaian dalam pelayanan bimbingan dan konseling terdiri dari beberapa hal. Depdiknas (2006: 10) menyatakan bahwa penilaian kegiatan konseling meliputi hal sebagai berikut, yaitu:

a) Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:

(1) Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan siswa yang dilayani.

(2) Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap siswa.

(3) Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap siswa.

b) Penilaian proses kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG, untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.

c) Hasil penilaian kegiatan pelayanan konseling dicantumkan dalam LAPELPROG

d) Hasil kegiatan pelayanan konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap siswa dilaporkan secara kualitatif.

Yang kesemuanya berlandaskan pada kebutuhan siswa, dengan begitu konselor sekolah kiranya harus memahami secara baik dan memiliki kemampuan dalam hal tersebut terhadap kebutuhan siswa yang mengacu kepada tugas perkebangan siswa tersebut.

5. Pemahaman Konselor Sekolah Tentang Tugas Perkembangan Siswa dan Layanan yang Diberikan

Menurut Kathryn dan David Geldard (alih bahasa oleh Eva Hamdiah, 2011: 3) seorang konselor sekolah harus memahami tugas perkembangan siswa nantinya akan dapat mengubah cara pandang mereka terhadap peristiwa-peristiwa atau situasi-situasi dengan cara mengubah kerangka pandang mereka yang dijelaskan oleh konselor sekolah yang juga memiliki kemampuan memahami apa yang dibutuhkan siswa.

Sedangkan A. Muri Yusuf (2005b: 195) mengatakan “pemahaman (comprehention) merupakan kemampuan memahami hubungan atau menangkap arti dan makna diantara konsep dan fakta-fakta tentang sesuatu hal”.

Karakteristik konselor yang diperlukan dalam pemahaman itu menurut Brammer (1982: 15), mengarah pada efektifitas yang berwujud emphaty, hangat dan penuh perhatian (warmth and caring), terbuka (openess), penghargaan secara positif (positive regard), dan kekongkritan dan kekhususan (concreteness and specifity ).

Menurut Belkin (1976:104) seorang konselor sekolah hendaknya memiliki kemampuan diantaranya category open-mindedness (berfikiran terbuka) kualitas yang dimiliki oleh konselor adalah flexibility, acceptance,

congruence, intelligence, concreteness, cognitive flex, perceptiveness, nonpossessive and nonjudgmental. Dalam layanan konseling mengandung suatu proses antarpribadi yang berlangsung melalui proses komunikasi verbal dan non verbal, dan menciptakan kondisi positif seperti empati, penerimaan serta penghargaan, keikhlasan serta kejujuran, dan perhatian yang tulen (facilitative conditions).

Adapun modal profesional yang perlu dimiliki oleh konselor sekolah yaitu mencakup kemantapan wawasan, pemahaman, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian BK.

Sedangkan Ridwan (2008: 140) menjelaskan, pemahaman konselor sekolah tentang tugas-tugas perkembangan, memegang peranan penting untuk menentukan arah perkembangan yang normal. Apapun yang mengahalangi penguasaan sesuatu dapat dianggap sebagai bahaya potensial, yang harus diwaspadai konselor agar siswa bisa berkembanga secara optimal, adapuan bahaya potensial itu antara lain:

1. Harapan-harapan yang kurang tepat

2. Melangkahi tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas perkembangan tertentu.

3. Ketegangan dan tekanan kondisi-kondisi yang dapat mengarah pada suatu krisis ketika memasuki tugas-tugas perkembangan yang baru.

Lebih lanjut Ahman (dalam Mamat Supriatna, 2011:32) mengatakan bahwa konselor itu seperti spesialis pertumbuhan dan perkembagan siswa, dalam mempelajari dan memahami dunia dalam diri siswa, konselor sekolah

juga bekerja sebagai perancang dan pemegang kuri kulum dalam pengembangan kognitif, afektif, dan perkembangan serta pertumbuhan fisik.

Selanjutnya Blocher (dalam Mamat Supriatna, 2011:35) mengungkapkan bahwa konselor sekolah harus mengupayakan pencapaian penguasaan tugas-tugas perkembangan, menjembatani tugas-tugas perkembangan yang muncul pada saat tertentu, dan meningkatkan sumberdaya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap perkembangan yang optimal dari klien.

Sedangkan Fenti Hikmawati (2010: 9) mengungkapkan bahwa arah dan kegiatan bimbingan konseling diarahkan kepada:

a. Terpenuhinya tugas-tugas perkembangan siswa dalam setiap perkembangan mereka

b. Dalam upaya mewujudkan tugas-tugas perkembangan itu, kegitan bimbingan dan konseling mendorong siswa mengenal diri dan lingkungan, mengembangkan diri dan sikap positif.

Pemahaman konselor sekolah tentang tugas-tugas perkembangan siswa Sekolah Mengah Atas sangat berguna dalam bimbingan dan konseling.

Havighurst (dalam Mamat Supriatna, 2011:36) memberikan alasan dua alasan pentingnya pemahaman terhadap tugas-tugas perkembangan siswa, yaitu:

First, it helps in discovering and stating the purposes of education in school. Education may be conceived as effort of the society, through the school, to help the individual achieve certain of this developmental tasks. The second use of concept is in the timing of educational efforts. When the body is ripe, and society requires, and the self is ready to achieve a certain task, the teachable moment has

come.

Mengacu pada dua alasan Havighurst tersebut, dalam kaca mata bimbingan dan konseling maka konselor sekolah harus memahami tugas- tugas perkembangan siswa SMA, karena ini sangat penting untuk pengembangan bimbingan konseling itu sendiri, yang dapat membantu dalam: (a) menemukan dan menentukan tujuan program bimbingan dan konseling di SMA, (b) menentukan kapan waktu upaya bimbingan dapat dilakukan.

Menurut Bradley (2004) menjelaskan bahwa, “Professional school counselors are respn for school counseling program decisions which effect the development of students on a daily basis. Student development is systemic in nature, and problems may be manifesed as the need for interventions in areas such as personal growth... this concept is the basis for applying outcome research in school counseling program”.

Bradley menjelaskan bahwa, konselor sekolah itu harus membuat program layanan bimbingan dan konseling berdasarkan tugas perkembangan siswa, pemahaman konselor sekolah akan tugas perkembangan akan menjadi landasan dalam pembuatan layanan yang akan diterapkan di sekolah.

Sedangkan Mamat Supriatna (2011: 36) menambahkan bimbingan konseling dengan memahami tugas perkembangan siswa bertolak dari premis bahwa positif regard dan aspek terhadap martabat manusia (human dignity) merupakan aspek yang amat penting dalam masyarakat. Konselor sekolah

harus paham, memiliki tugas untuk mengambangkan potensi dan keunikan individu secara optimal dalam perubahan masyarakat gobal.

Lebih tajam lagi Jhon J. Pietrofesa, (1982:31) menjelaskan, ”The counselor can focus upon the needs of the individual or the self-concept or any of its percepts... while counselee self-actualization and authenticity become the ultimate goal. The counselor is capabel of defining different goals for each counselee”.

Jika mengambil pernyataan Jhon J. Pietrofesa, tersebut maka layanan dalam bimbingan dan konseling itu harus fokus pada kebutuhan siswa, dan bagaimana siswa dapat mengaktualisasikan diri, sehingga konselor sekolah memahami apa yang diharapkan siswa dan layanan bisa tepat guna bagi siswa.

Berkenaan dengan pemahaman konselor John McLeod (2003: 556) mengungkapkan, pendidikan, keterampilan, secara terstruktur dalam konteks memberikan pertolongan atau profesi layanan yang dilakukan oleh guru, pendidikan itu berguna dalam mempelajari keterampilan konseling, dengan tujuan agar mampu menggunakan teori secara aktif untuk memahami klien, dengan arti kata mereka yang terdidik tentu berbeda.

Berkenaan dengan kompetensi S1 BK John McLeod (2006: 540) mengungkapkan, dengan menyelesaikan program strata satu bimbingan dan konseling, konselor sekolah telah mendemonstrasikan kompetensi intelektualnya yang cukup untuk menjadi seorang konselor.

Menurut Halgin (dalam John McLeod, 2003: 556) salah satu isu yang muncul dalam bidang pendidikan konselor adalah lebih memperkenalkan suatu orientasi teoritis secara mendalam, hal ini yang menjadi landasan bahwa tidak hanya pendidikan saja yang menentukan konselor. John McLeod (2003:556) mengungkapkan, pendidikan yang diselenggarakan di perguruan tinggi seperti akademi dan universitas, cenderung dipengaruhi oleh nilai akdemis namun dalam hal ini mempengaruhi pemahaman seseorang.

Berkenaan dengan itu, maka latar belakang pendidikan S1 BK(konselor sekolah) dianggap perlu, Kathryn Geldrad & David Geldrad (alih bahasa Eva Hamdiah, 2011:42) mengatakan bagian mendasar dalam menggunakan keterampilan-keterampilan konseling yaitu, mengamati kegiatan-kegiatan konseling yang diperaktikkan konselor yang dibedakan berdasarkan pengalaman.

Dari pendapat para ahli tersebut menyiratkan bahwa apa yang dipraktekkan konselor sekolah dalam memahami siswa hendaknya dilandasi oleh konsep yang utuh. Dengan begitu berarti konselor sekolah harus memiliki pemahaman tentang tugas perkembangan siswa agar layanan yang diberikan konselor sekolah bisa tepat sasaran.

Secara khusus layanan bimbingan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan berbagai aspek yang sesuai dengan tuntutan lingkungan.

Dalam dokumen TESIS Oleh: M. Fahli Zatra Hadi - ADOC.PUB (Halaman 43-62)

Dokumen terkait